Anda di halaman 1dari 10

DEFORMASI PLASTIC DAN DELASTIC

BAB. I
DEFINISI
Sebuah material akan tahan terhadap energi tarik atau tekan jika energi tersebut
tidak melebihi energi karakteristik material tersebut.
Elastic deformation:
Deformasi material tapi masih bisa kembali bentuk semula, struktur mikro masih
bisa kembali ke bentuk semula
Plastic deformation:
Struktur mikro sudah tidak bisa kembali ke bentuk asal sehingga materialnya
sendiri tidak bisa kembali ke bentuknya semula.
Definisi lengkapnya :
Deformasi elastis adalah deformasi atau perubahan bentuk material yang
apabila gaya penyebab deformasi itu dihilangkan maka deformasi kembali ke
bentuk semula. contoh pada uji tarik suatu material. akibat gaya yang di berikan
kepada specimen maka material terdeformasi, berubah bentuk. kalo uji tarik
maka specimen material bertambah panjang yaitu terdapat delta L. apabila gaya
tarik dihilangkan maka material kembali ke bentuk semuala, ke ukuran semula.
delta L hilang.
Sedangkan pada deformasi plastik maka ketika gaya dihilangkan material
tidak kembali ke ukuran, tidak ke bentuk semula. delta L tidak hilang.
Seperti diperlihatkan dalam grafik tegangan-regangan terdapat yang namanya
batas luluh (yield strength) nah untuk deformasi elastis itu berada di bawah
batas luluh sedangkan untuk deformasi plastis berada/melewati batas luluh
suatu material, di mana untuk setiap material mempunyai karakteristik yang
berbeda2, misalnya pipa jenis API 5L X 52 di mana yield strengthnya (SMYS)
adalah 52000 psi yang artinya karakter elastis pada material tersebut adalah <
52000 psi sedangkan plastisnya > 52000 psi.
Mengenai tentang struktur mikro, pada saat di deformasi elastis tidak ada
perubahan perubahan mikro begitu juga ketika deformasi elastis itu hilang.
Secara sederhana deformasi elastis itu dapat kita gambarkan dengan dua buah
atom Fe yang diikat dengan sebuah pegas. Ketika kita deformasi elastis maka
pegas akan berusaha melawan Fe yang kita tarik.
Untuk deformasi plastis struktur mikro sudah berubah. Sebagai inisiasinya
adalah sudah putusnya ikatan antara Fe, kemudian adanya pembentukan ukuran
butir yang baru (biasanya ukuran butir menjadi lebih kecil dan gepeng karena
deformasi plastis akibat tekanan). Pembentukan butir butir baru terbutlah yang

menyebabkan terjadinya perubahan struktur mikro.

Biasanya daerah elastik itu dibatasi oleh garis proporsioanal antara tegangan n
tegangan, nah ujung dari titik proporsioanl ini disebut sebagai yield point..
setelah keluar dari daerah ini, disebut sebagai daerah plastic yg tidak akan
kembali kebentuk semula. Alasannya karena sudah terjadi perubahan,
sedangkan di daerah elastic tidak terjadi perubahan secara drastis, hal ini
disebabkan ketika masih di daerah elastic, logam dapat menahan beban yg
diberikan yg disebabkan oleh bertemunya dengan batas butir dengan dislokasi..
sehingga menghambat pergerakkan dari dislokasi.. sedangkan ketika sudah
memasuki daerah plastik, dislokasi sudah memotong batas butir.
tapi untuk material lainnya mempunyai sifat yg sedikit aneh, salah satu jenis
polimer, tidak akan kembali ke bentuk semula ketika di berikan beban..
BAB. II
Mengenal Uji Tarik dan Sifat-sifat Mekanik Logam
Untuk mengetahui sifat-sifat suatu bahan, tentu kita harus mengadakan
pengujian terhadap bahan tersebut. Ada empat jenis uji coba yang biasa
dilakukan, yaitu uji tarik (tensile test), uji tekan (compression test), uji torsi
(torsion test), dan uji geser (shear test). Dalam tulisan ini kita akan membahas
tentang uji tarik dan sifat-sifat mekanik logam yang didapatkan dari interpretasi
hasil uji tarik.
Uji tarik mungkin adalah cara pengujian bahan yang paling mendasar. Pengujian
ini sangat sederhana, tidak mahal dan sudah mengalami standarisasi di seluruh
dunia, misalnya di Amerika dengan ASTM E8 dan Jepang dengan JIS 2241.
Dengan menarik suatu bahan kita akan segera mengetahui bagaimana bahan
tersebut bereaksi terhadap tenaga tarikan dan mengetahui sejauh mana
material itu bertambah panjang. Alat eksperimen untuk uji tarik ini harus
memiliki cengkeraman (grip) yang kuat dan kekakuan yang tinggi (highly stiff).
Brand terkenal untuk alat uji tarik antara lain adalah antara lain adalah
Shimadzu, Instron dan Dartec.
1. Mengapa melakukan Uji Tarik?
Banyak hal yang dapat kita pelajari dari hasil uji tarik. Bila kita terus menarik
suatu bahan (dalam hal ini suatu logam) sampai putus, kita akan mendapatkan
profil tarikan yang lengkap yang berupa kurva. Ini menunjukkan hubungan
antara gaya tarikan dengan perubahan panjang. Profil ini sangat diperlukan
dalam desain yang memakai bahan tersebut.
Biasanya yang menjadi fokus perhatian adalah kemampuan maksimum bahan
tersebut dalam menahan beban. Kemampuan ini umumnya disebut Ultimate
Tensile Strength disingkat dengan UTS, dalam bahasa Indonesia disebut
tegangan tarik maksimum.

Hukum Hooke (Hookes Law)


Untuk hampir semua logam, pada tahap sangat awal dari uji tarik, hubungan
antara beban atau gaya yang diberikan berbanding lurus dengan perubahan
panjang bahan tersebut. Ini disebut daerah linier atau linear zone. Di daerah ini,
kurva pertambahan panjang vs beban mengikuti aturan Hooke sebagai berikut:
rasio tegangan (stress) dan regangan (strain) adalah konstan
Stress adalah beban dibagi luas penampang bahan dan strain adalah
pertambahan panjang dibagi panjang awal bahan.
Stress: = F/A F: gaya tarikan, A: luas penampang
Strain: = L/L L: pertambahan panjang, L: panjang awal
Hubungan antara stress dan strain dirumuskan:
E=/
Untuk memudahkan pembahasan, kita modifikasi sedikit dari hubungan antara
gaya tarikan dan pertambahan panjang menjadi hubungan antara tegangan dan
regangan (stress vs strain). Selanjutnya kita dapatkan yang merupakan kurva
standar ketika melakukan eksperimen uji tarik. E adalah gradien kurva dalam
daerah linier, di mana perbandingan tegangan () dan regangan () selalu tetap.
E diberi nama Modulus Elastisitas atau Young Modulus. Kurva yang
menyatakan hubungan antara strain dan stress seperti ini kerap disingkat kurva
SS (SS curve).
Perubahan panjang dari spesimen dideteksi lewat pengukur regangan (strain
gage) yang ditempelkan pada spesimen. Bila pengukur regangan ini mengalami
perubahan panjang dan penampang, terjadi perubahan nilai hambatan listrik
yang dibaca oleh detektor dan kemudian dikonversi menjadi perubahan
regangan.
2. Detail profil uji tarik dan sifat mekanik logam
Sekarang akan kita bahas profil data dari tensile test secara lebih detail. Untuk
keperluan kebanyakan analisa teknik, data yang didapatkan dari uji tarik dapat
digeneralisasi.
Kita akan membahas istilah mengenai sifat-sifat mekanik bahan dengan
berpedoman pada hasil uji tarik seperti pada gambar di atas. Asumsikan bahwa
kita melakukan uji tarik mulai dari titik O sampai D sesuai dengan arah panah
dalam gambar.
Batas elastisE ( elastic limit)
Bila sebuah bahan diberi beban sampai pada satu titik tertentu, kemudian
bebannya dihilangkan, maka bahan tersebut akan kembali ke kondisi semula
(tepatnya hampir kembali ke kondisi semula) yaitu regangan nol pada titik O
(lihat inset dalam gambar). Tetapi bila beban ditarik sampai melewati titik
tersebut, hukum Hooke tidak lagi berlaku dan terdapat perubahan permanen dari
bahan. Terdapat konvensi batas regangan permamen (permanent strain)
sehingga masih disebut perubahan elastis yaitu kurang dari 0.03%, tetapi

sebagian referensi menyebutkan 0.005% . Tidak ada standarisasi yang universal


mengenai nilai ini. [1]
Batas proporsional p (proportional limit)
Titik sampai di mana penerapan hukum Hook masih bisa ditolerir. Tidak ada
standarisasi tentang nilai ini. Dalam praktek, biasanya batas proporsional sama
dengan batas elastis.
Deformasi plastis (plastic deformation)
Yaitu perubahan bentuk yang tidak kembali ke keadaan semula, yaitu bila bahan
ditarik sampai melewati batas proporsional dan mencapai daerah landing.
Tegangan luluh atas uy (upper yield stress)
Tegangan maksimum sebelum bahan memasuki fase daerah landing peralihan
deformasi elastis ke plastis.
Tegangan luluh bawah ly (lower yield stress)
Tegangan rata-rata daerah landing sebelum benar-benar memasuki fase
deformasi plastis. Bila hanya disebutkan tegangan luluh (yield stress), maka
yang dimaksud adalah tegangan ini.
Regangan luluh y (yield strain)
Regangan permanen saat bahan akan memasuki fase deformasi plastis.
Regangan elastis e (elastic strain)
Regangan yang diakibatkan perubahan elastis bahan. Pada saat beban
dilepaskan regangan ini akan kembali ke posisi semula.
Regangan plastis p (plastic strain)
Regangan yang diakibatkan perubahan plastis. Pada saat beban dilepaskan
regangan ini tetap tinggal sebagai perubahan permanen bahan.
Regangan total (total strain)
Merupakan gabungan regangan plastis dan regangan elastis, T = e+p.. Pada
titik selanjutnya, regangan yang ada adalah regangan total. Ketika beban
dilepaskan, posisi regangan ada pada titik lain dan besar regangan yang tinggal
(OE) adalah regangan plastis.
Tegangan tarik maksimum TTM (UTS, ultimate tensile strength)
Kekuatan patah (breaking strength)
Tegangan luluh pada data tanpa batas jelas antara perubahan elastis dan plastis
Untuk hasil uji tarik yang tidak memiliki daerah linier dan landing yang jelas,
tegangan luluh biasanya didefinisikan sebagai tegangan yang menghasilkan
regangan permanen sebesar 0.2%, regangan ini disebut offset-strain
Perlu untuk diingat bahwa satuan SI untuk tegangan (stress) adalah Pa (Pascal,
N/m2) dan strain adalah besaran tanpa satuan.
3. Istilah lain
Selanjutnya akan kita bahas beberapa istilah lain yang penting seputar
interpretasi hasil uji tarik.
Kelenturan (ductility)
Merupakan sifat mekanik bahan yang menunjukkan derajat deformasi plastis

yang terjadi sebelum suatu bahan putus atau gagal pada uji tarik. Bahan disebut
lentur (ductile) bila regangan plastis yang terjadi sebelum putus lebih dari 5%,
bila kurang dari itu suatu bahan disebut getas (brittle).
Derajat kelentingan (resilience)
Derajat kelentingan didefinisikan sebagai kapasitas suatu bahan menyerap
energi dalam fase perubahan elastis. Sering disebut dengan Modulus Kelentingan
(Modulus of Resilience), dengan satuan strain energy per unit volume (Joule/m3
atau Pa).
Derajat ketangguhan (toughness)
Kapasitas suatu bahan menyerap energi dalam fase plastis sampai bahan
tersebut putus. Sering disebut dengan Modulus Ketangguhan (modulus of
toughness).
Pengerasan regang (strain hardening)
Sifat kebanyakan logam yang ditandai dengan naiknya nilai tegangan
berbanding regangan setelah memasuki fase plastis.
Tegangan sejati , regangan sejati (true stress, true strain)
Dalam beberapa kasus definisi tegangan dan regangan seperti yang telah
dibahas di atas tidak dapat dipakai. Untuk itu dipakai definisi tegangan dan
regangan sejati, yaitu tegangan dan regangan berdasarkan luas penampang
bahan secara real time. Detail definisi tegangan dan regangan sejati ini dapat
dilihat pada gambar berikut ini.
BAB. III
SIFAT MEKANIK LOGAM
Secara umum sifat mekanik dari logam dibagi menjadi :
a). Batas proposionalitas (Proportionality Limit)
Adalah daerah batas dimana tegangan dan regangan mempunyai hubungan
proporsionalitas satu dengan lainnya. Setiap penambahan tegangan akan diikuti
dengan penambahan regangan secara proporsional dalam hubungan linier :
s=Ee
b). Batas elastis (Elastic limit)
Adalah daerah dimana bahan akan kembali kepada panjang semula bila
tegangan luar dihilangkan. Daerah proporsionalitas merupakan bagian dari batas
elastik. Bila beban terus diberikan tegangan maka batas elastis pada akhimya
akan terlampaui sehingga bahan tidak kembali seperti ukuran semula. Maka
batas elastis merupakan titik dimana tegangan yang diberikan akan
menyebabkan terjadinya deformasi plastis untuk pertama kalinya. Kebanyakan
material tenik mempunyai batas elastis yang hampir berhimpitan dengan batas
proporsionalitasnya.

c). Titik Luluh (Yield Point) dan Kekuatan Luluh (Yield Strength)
Adalah batas dimana material akan terus mengalami deformasi tanpa adanya
penambahan beban. Tegangan (stress) yang mengakibatkan bahan menunjukkan
mekanisme luluh ini disebut tegangan luluh (yield stress).
Gejala luluh umumnya hanya ditunjukkan oleh logam-logam ulet dengan struktur
kristal BCC dan FCC yang membentuk interstitial solid solution dari atom-atom
karbon, boron, hidrogen dan oksigen. Interaksi antar dislokasi dan atom-atom
tersebut menyebabkan baja ulet seperti mild steel menunjukan titik luluh bawah
(lower yield point) dan titik luluh atas (upper yield point).
Untuk baja berkekuatan tinggi dan besi tuang yang getas pada umumnya tidak
memperlihatkan batas luluh yang jelas. Sehingga digunakan metode offset untuk
menentukan kekuatan luluh material. Dengan metode ini kekuatan luluh
ditentukan sebagai tegangan dimana bahan memperlihatkan batas
penyimpangan/deviasi tertentu dari keadaan proporsionalitas tegangan dan
regangan.
Kekuatan luluh atau titik luluh merupakan suatu gambaran kemampuan bahan
menahan deformasi permanen bila digunakan dalam penggunaan struktural
yang melibatkan pembebanan mekanik seperti tarik, tekan, bending atau
puntiran. Di sisi lain, batas luluh ini harus dicapai ataupun dilewati bila bahan
dipakai dalam proses manufaktur produk-produk logam seperti proses rolling,
drawing, stretching dan sebagainya. Dapat dikatakan titik luluh adalah suatu
tingkatan tegangan yang tidak boleh dilewati dalam penggunaan struktural (in
service) dan harus dilewati dalam proses manufaktur logam (forming process).
d). Kekuatan Tarik Maksimum (Ultimate Tensile Strength)
Adalah tegangan maksmum yang dapat ditanggung oleh material sebelum
tejadinya perpatahan (fracture). Nilai kekuatan tarik maksimum tarik ditentukan
dari beban maksimum dibagi luas penampang.
e). Kekuatan Putus (Breaking Strength)
Kekuatan putus ditentukan dengan membagi beban pada saat benda uji putus
(Fbreaking) dengan tuas penampang awal (A0). Untuk bahan yang bersifat ulet
pada saat beban maksimum M terlampaui dan bahan terus terdeformasi hingga
titik putus B maka terjadi mekanisme penciutan (necking) sebagai akibat adanya
suatu deformasi yang terlokalisasi.
Pada bahan ulet, kekuatan putus lebih kecil dari kekuatan maksimum, dan pada
bahan getas kekuatan putus sama dengan kekuatan maksimumnya.
f). Keuletan (Ductility)
Adalah sifat yang menggambarkan kemampuan logam menahan deformasi
hingga tejadinya perpatahan. Pengujian tarik memberikan dua metode

pengukuran keuletan bahan yaitu :


Persentase perpanjangan (Elongation) :
e (%) = [(Lf-L0)/L0] x 100%
dimana : Lf = panjang akhir benda uji
L0 = panjang awal benda uji
Persentase reduksi penampang (Area Reduction) :
R (%) = [(A1 A0)/A0] x 100%
dimana : Af = luas penampang akhir
A0 = luas penampang awal
g). Modulus Elastisitas (Modulus Young)
Adalah ukuran kekakuan suatu material, semakin besar harga modulus ini maka
semakin kecil regangan elastis yang terjadi, atau semakin kaku.
h). Modulus Kelentingan (Modulus of Resilience)
Adalah kemampuan material untuk menyerap energi dari luar tanpa teiuadinya
kerusakan. Nilai modulus resilience (U) dapat diperoleh dari luas segitiga yang
dibentuk oleh area elastik diagram tegangan-regangan
Perumusannya : U = 0.5se atau U = 0.5se2/E
i). Modulus Ketangguhan (Modulus of Toughness)
Adalah kemampuan material dalam mengabsorb energi hingga terjadinva
perpatahan. Secara kuantitatif dapat ditentukan dari luas area keseluruhan di
bawah kurva tegangan-regangan hasil pengujian tarik
j). Kurva Tegangan-Regangan Rekayasa dan Sesungguhnya
Kurva tegangan-regangan rekayasa (engineering) didasarkan atas dimensi awal
(luas area dan panjang) dari benda uji, sementara untuk mendapatkan kurva
tegangan-regangan sesungguhnya (true) diperlukan luas area dan panjang
aktual pada saat pembebanan setiap saat terukur. Pada kurva teganganregangan rekayasa, dapat diketahui bahwa benda uji secara aktual mampu
menahan turunnya beban karena luas area awal Ao bernilai konstan pada saat
perhitungan tegangan = P/Ao. Sementara pada kurva tegangan-regangan
sesungguhnya luas area aktual adalah selalu turun hingga terjadinya perpatahan
dan benda uji mampu menahan peningkatan tegangan karena = P/A.
Hubungan trae stress-strain dan engineering stress-strain :
sT = s(1 + e) sT = true stress
eT = ln(1 +e) eT = true strain
Batas diantara Plastis & Elastis deformation tersebut ada titik yg biasa disebut
Yield Point.

Material dengan suatu pembebanan berlebih, awalnya akan berada di plastis


area, kemudian akan mencapai yiled pointnya, dan setelah melewati yield point,
kemudian akan memasuki elastis area dimana pada daerah ini material tidak
bisa kembali ke bentuk semula sampai akhirnya mencapai UTS (Ultimate Tensile
Strength) dimana material akan patah/putus.
Yield Point ini yang menjadi referensi pemilihan kekuatan suatu material. Biasa
disebut dengan Ys (Yield Strength).
Elastis adalah area di mana material jika forcenya di release akan kembali ke
bentuk semula. Ini disebut juga area di mana hukum hook berlaku.
Plastis adalah area di mana material akan terbentuk deformasi permanent
karena force yg diberikan.
Utk aplikasi structural steel misalnya, maka daerah elastis yg digunakan, tetapi
force yg dimainkan kebanyakan hanya pada daerah setengahnya dari elastis tsb,
supaya aman.
nergi bisa dihitung dari kurva tegangan-regangan (stress-strain): area di bawah
kurva tersebut menggambarkan energi yg dilepas oleh material ketika
mengalami beban tarik atau tekan (khusus fenomena statik, bukan buckling).
Dalam philosophy design kita selalu membandingkan Stress yang terjadi VS
Kapasitas (Capacity).

A. Stress
Stress yang terjadi dalam suatu elemen member diakibatkan oleh 3 jenis
pembebanan.
A.1 Axial Load,
Pembebanan yang searah dengan sumbu utama dari member. Axial load ini
dibagi menjadi dua.
1. Tension
2. Compression
A.2 Bending Momen
A.3 Combine Bending dan Axial
B. Kapasitas
Kapasitas member selalu tetap tergantung dari properties dan dimensi dari
material tersebut, kapasitas member tidak tergantung dari load yang terjadidan
dalam analysis design kapasitas ini dibatasi dengan allowable yang terdapat
dalam standard and code seperti API, AISC, Norsok dll.

B.1 Axial Load


1. Tension,
Kapasitas tension biasanya dinyatakan dalam Yield Strength (Fy), untuk design
allowablenya biasanya dibatasi 0.66 - 0.9 Fy, tergantung dari standard and code
yang digunakan dan metodenya LRFD ato WSD.
2. Compression,
Kapasitas compression dari suatu member sangat ditentukan dari properties dan
dimensi dari member
tersebut. Rumus Euleur biasanya digunakan untuk menyatakan kapasitas
compression dari member tetapi dengan koreksi untuk kelangsingan tertentu.
Lebih dalam lagi kapasitas ini ditentukan juga oleh perletakan dari member hal
ini berpengaruh pada panjang efektif dari member.
B.2 Bending
Kapasitas bending dinyatakan dalam Yield Strength (Fy) dan untuk design
allowablenya biasanya dalam praktis digunakan 0.75 Fy. Untuk Tubular member
perbadingan atara
Diameter dan thickness juga mempengaruhi dari allowable member. Untuk
detailnya bisa dilihat di API.
B.3 Combine Axial dan Bending,
Untuk kapasitas ini bisa dilihat langsung di Standard and Code, yang menjadi
concern dalam Combine Load ini yaitu adanya amplification factor apabila
perbandingan antara compression yang terjadi dengan allowablenya lebih besar
dari 0.16.
Perbandingan antara strees yang terjadi dengan allowablenya dalam uraian
diatas digunakan untuk kondisi elastic analisis. Dalam sistem struktur jika suatu
member telah melebihi batas allowablenya bukan berarti struktur itu akan
collapse. Bayangkan jika kita harus mendesign satu member dalam strukttur
agar dapat menahan beban ship impact, seberapa besar dimensi member yang
akan digunakan.
C. Plastic Analysis
Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan plastic analysis dengan pertimbangan
bahwa material baja setelah mengalami yield akan terus berdeformasi sampai
mencapai ultimate strength baru kemudian runtuh.
Plastic analysis ini digunakan untuk beberapa analysis :
1. Collapse/Pushover analysis untuk mengetahui Reserve Strength Ratio dan
Residual Strength.

2. Analysis terhadap beban2 Accidental seperti ship impact, blast, drop object
dan fire.
D. Fatigue Analysis
Fatigue analysis dilakukan untuk mengetahui daya tahan struktur terhadap
beban berulang. Fatigue analysis bisa dilakuakan dengan metode spektral atau
deterministic analysis. Hasil dari fatigue analysis ini dibandingkan dengan
"service life" dari struktur yang telah ditentukan.
BAB. IV
DAFTAR PUSTAKA
1. Material Testing (Zairyou Shiken). Hajime Shudo. Uchidarokakuho, 1983.
2. Material Science and Engineering: An Introduction. William D. Callister Jr. John
Wiley&Sons, 2004.
3. Strength of Materials. William Nash. Schaums Outlines, 1998.
4. www.migas-indonesia.com/files/.../Elastic&Plastic_Deformation
5. www.eng.umd.edu/~austin/aladdin.../wjlin-mass-spring-input.html