Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1
Latar belakang
Globalisasi merupakan bagian tak terpisahkan dari perkembangan dunia saat
ini. Masyarakat di seluruh dunia menjadi saling tergantung pada semua aspek
kehidupan, baik secara budaya, ekonomi, maupun politik. Terutama dalam
aspek budaya, batasannya kini telah kabur. Budaya global ditandai dengan
adanya integrasi budaya lokal ke dalam suatu tatanan global. Nilai-nilai
kebudayaan lokal dengan kebebasan-kebebasan berekspresi.
Proses integrasi masyarakat ke suatu tatanan global yang dianggap tidak
terelakkan telah menciptakan suatu jaringan komunikasi internasional yang
luas dengan batas-batasyang tidak jelas. Secara spesifik, tulisan ini akan
membahas tiga hal pokok, yaitu: (1) posisi umat islam di era globalisasi; (2)
pandangan islam terhadap globalisasi; (3) dampak globalisasi budaya
terhadap generasi muda.
1.2
Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui tentang posisi umat islam di era globalisasi
2. Mahasiswa dapat mengetahui tentang pandangan umat islam terhadap
globalisasi
3. Mahasiswa dapat mengetahui tentang dampak globalisasi terhadap
generasi muda
1.3Rumusan masalah
1. Bagaimana posisi dan peran umat islam di era globalisasi saat ini?
2. Bagaimana pandangan umat islam terhadap globalisasi yang terjadi pada
saat ini?
3. Apa dampak globalisasi terhadap generasi muda saat ini?

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Posisi dan Peran Umat Islam di Era Globalisasi
Secara garis besar ada tiga polarisasi Umat islam dalam menyikapai budaya
global dan modernisasi sekarang ini:
1. Menentang dan Apatis
Termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang merasa apatis, pesimis dan
tidak percaya dengan modernisasi dan globalisasi. Reaksi ektrimnya dalah
menentang segala sesuatu yang berbau modern dan global, termasuk reluctant
terhadap kemajuan Iptek.
2. Kebablasan
Yaitu golongan masyarakat yang Utopistik. Sangat memuja modernisasi, memiliki
optimisme yang berlebihan terhadap Iptek sehingga bersikap cendrung sekuler
dan menjaga jarak terhadap islam itu sendiri.
3. Moderat
Yaitu masyarakat yang mampu melihat persoalan global secara utuh dan
komprehensif. Sangat terbuka dengan kemajuan Iptek, tetapi tetap berpegang
teguh terhadap nilai-nilai islam.
Sikap ketiga merupakan sikap yang paling dianjurkan dalam islam, karena setiap
pribadi telah di noibatkan Allah menjadi Pengatur (Khalifah) minimal bagi dirinya
sendiri, untuk kemashlahatan dunia sebagaimana tertulis didalam Al-quran surat
Shaad ayat 26:
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka
bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari
jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan
mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan..
Peran dan Posisi Umat Islam dalam Budaya Global yang Positif
1. Dalam bidang teknologi
Teknologi Sebagai Media Dakwah Masa Kini
Sekarang ini kita sudah memasuki abad ke-21, di mana globalisasi akan
mencapai puncaknya pada saat ini, dan menuntut kita agar meningkatkan
sumber daya manusia dalam semua aspeknya, maka secara detail umat Islam
tidak boleh ketinggalan dengan perkembangan yang terjadi di masa modern ini.
Kita menyadari bahwa abad sekarang adalah abad teknologi dan informasi, AlQuran dan sunnah mengajarkan kepada setiap muslim untuk menguasai ilmu

termasuk dalam mempelajari teknologi agar kaum mereka mampu berdiri di


depan dalam perlombaan ilmu teknologi. Misalnya televisi merupakan media
informasi sekaligus media hiburan yang dapat kita jumpai di mana-mana
sehingga dakwah multimedia merupakan terobosan baru untuk dapat melakukan
aktivitas dakwah. Televisi merupakan media audiovisual yang juga sering disebut
media pandang dengar. Ustad Arifin Ilham merupakan salah satu dari sekian
banyak muballigh yang mampu menerobos dunia perfilman dalam
menyampaikan misi dakwahnya. Alangkah indahnya jika setiap film-film yang
ditayangkan itu membawa nilai dakwah. Begitu juga membuka acara dialog
interaktif agama Islam di media elektronik merupakan bentuk dakwah yang
cukup memiliki nilai keterbukaaan, sebagaimana setiap acara yang dilakukan
oleh para muballigh kita di setiap acara buka puasa atau acara santap sahur
pada setiap bulan Ramadhan.
Proses dakwah di media celluler juga merupakan media informasi yang cukup
canggih dan trend di zaman sekarang. Hal ini dapat dilihat dari begitu banyaknya
pemakaian celluler, mulai dari pengusaha sampai yang bukan pengusaha,
bahkan seperti yang kita ketahui para pekerja yang dilihat kekurangan dalam
taraf hidupnya, pelajar yang belum memiliki penghasilan dan pengangguran pun
telah dapat menggunakan celluler, bahkan rata-rata telah memilikinya. Maka
alangkah baik celluler dimanfaatkan sebagai media dakwah, yaitu dengan cara
memanfaatkan fasilitas Multimmedia Messaging Service (MMS) sebagai media
untuk mengirim pesan-pesan normatif.
Dengan ber-SMS kita dapat berdakwah dengan biaya yang murah. Begitu juga
dengan pelatihan Leadership Training mulai menggunakan LCD, OHP, dan
beberapa alat canggih lainnya, dan itu sangat besar manfaatnya dalam
kehidupan kita. Namun, kesemuanya itu akan terjadi jika umat Islam beriman
dan bertaqwa dengan cara menegakan hukum-hukum Allah. Sebaliknya,
keterpurukan dan penderitaan akan muncul jika kita mempertuhankan bendabenda tersebut.
Al-Quran sebagai pedoman hidup, dalam hal ini tidak pernah mencela dan
menghambat umatnya untuk mempertinggi budaya dan kemampuan mereka.
Hanya saja dalam mengejar kebahagiaan dunia jangan sampai melalaikan
kehidupan akhirat dan mengingatkan kita agar tidak menjadi hamba materi
sehingga mengakibatkan umat Islam terperosok terbawa dengan segala tipu
daya barat yang mencengangkan. Kita telah mengetahui perkembangan
teknologi dari negara barat dan itu merupakan peluang yang tidak dapat kita
manfatkan untuk menyiarkan Islam secara modern atau memanfaatkan
informasi teknologi yang berkembang pesat saat ini adalah hal yang wajar-wajar
saja.
Abdus Salam, seorang fisikawan muslim yang meraih hadiah nobel pada tahun
1979 mengemukakan tafakur al bereflaksi, berpikir tentang menemukan hukumhukum alam (sains); taskhir adalah memeperoleh penguasaan atas alam
(teknologi), jelaslah bahwa al-Quran dengan penatah yang berulang kali,

mengandung sunah untuk bertafakur dan bertaskhir atau (mengejar sains dan
teknologi). Inilah yang menjadi peluang terbesar umat Islam, dengan
berkembang pesatnya teknologi masa kini maka akan semakin besar pula
peluang dakwah kita untuk umat. Mengapa? Karena, dengan begitu akan terlihat
keagungan Allah yang Maha Dashyat dan semakin tinggi pula tingkat keimanan
kita di sisi-Nya. Bagaimana kita bisa membangun peradaban Islam pada masa
kini, apabila kelengahan dan kemalasan masih menyelimuti kaum muslimin,
begitu banyak contoh teladan yang ada dalam diri Rasulullah, tak heran ketika
itu pernah dikatakan Aisyah ra. bahwa Rasulullah adalah al-Quran yang berjalan
karena setiap gerak gerik beliau mencerminkan al-Quran, sehingga pada masa
itu beliau berhasil membangun peradaban jahiliyah menjadi peradaban Islam
yang luas.
Jadi dapat disimpulkan dengan berkembangnya teknologi yang merupakan salah
satu dari budaya global yang positif, penyebaran agama islam menjadi lebih
mudah. Peran dan posisi kita sebagai umat islam adalah sebagai pengguna
teknologi dengan tujuan untuk kepentingan agama .
2. Dalam bidang ilmu pengetahuan
Islam sangat menekankan pentingnya ilmu pendidikan bahkan wahyu yang
pertama kali diturunkan langsung memerintahkan umat Islam untuk Iqra
(membaca). Hanya dengan cara itu manusia secara bertahap akan menjadi
masyarakat yang beradab dan berbudaya.
Pada masa ini diletakkan dasar-dasar berbagai cabang ilmu pengetahuan, dari
logika sampai gramatika, dari astronomi sampai fisika. Umat muslimin
melanjutkan tradisi ilmiah peradaban Helenisme, dengan perkembanganperkembangan yang spektakuler menurut kekuatan zamannya. Sebagai contoh,
tokoh ilmuan muslim terkemuka, Harun Yahya telah menulis buku - buku ilmu
pengetahuan yang dikaitkan dengan al-Quran dan hadis. Hasil karyanya tersebut
telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Ini merupakan salah satu bukti
bahwa umat islam juga memberikan peranan terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan.
Peran dan posisi umat islam dalam ilmu pengetahuan ini adalah sebagai seorang
muslim yang selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
3. Dalam bidang ekonomi
Dalam budaya global ini dalam bidang ekonomi ditandai dengan perdagangan
menuju terbentuknya pasar bebas, baik dalam kawasan ASEAN, Asia Pasifik
bahkan akan meliputi seluruh dunia. Terbukanya pasar internasional,
meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan
adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang
menunjang kehidupan nasional bangsa.

Peran dan posisi umat islam dalam budaya global ini adalah sebagai seorang
warga negara yang ikut juga mengamalkan pasaran dan perdagangan bebas
tetapi amalan itu berdasarkan nilai-nilai kerohanian dan moral seperti keadilan
dan kemakmuran bersama.
4. Dalam bidang bahasa
Representasi budaya global dunia dewasa ini menunjukkan adanya hubungan
yang kuat antara peran bahasa-bahasa dunia dengan proses munculnya suatu
budaya menjadi budaya global. Uraian-uraian yang disampaikan oleh Alaistar
Pennycook dalam bukunya The Cultural Politics of English as an International
Language mengindikasikan bahwa bahasa, dalam hal ini Bahasa Inggris, telah
menjadi alat yang sangat ampuh untuk menyebarkan budaya penutur bahasa
tersebut ke seluruh dunia. Itulah sebabnya ketika kita telusuri ke belakang kita
akan menemukan bahwa hampir seluruh budaya populer yang sifatnya
mendunia pada hari ini berasal dari negara-negara yang penduduknya
berbahasa Inggris, terutama Amerika Serikat.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peran bahasa Inggris sebagai bahasa internasional
telah tak tersaingi oleh bahasa-bahasa dunia lainnya dalam rentang waktu yang
cukup lama. Fenomena seperti ini bahkan tetap berlangsung ketika dunia berada
dalam perang dingin, dimana sebagian negara di dunia terpolarisasi dalam blok
barat yang dimotori oleh Amerika Serikat dan blok timur yang dimotori oleh Uni
Soviet. Kenyataan bahwa pada waktu itu Uni Soviet merupakan salah satu
negara super power dunia ternyata tidak mampu menempatkan peran bahasa
Rusia sejajar dengan bahasa Inggris dalam percaturan dunia internasional. Sejak
zaman Presiden AS John F. Kennedy sampai Ronald Reagen yang mengakhiri
perang dingin bersama Michael Gorbachev dunia lebih terekspos dengan budaya
populer asal Amerika daripada budaya populer asal Uni Soviet yang hampir sama
sekali tak terdengar gaungnya pada waktu itu. Dengan demikian kita dapat
berargumentasi bahwa status sebuah negara sebagai negara super power dunia
plus kemapanan tekhnologi atau media jurnalistik/komunikasinya tanpa
keunggulan dominasi bahasa tidaklah mencukupi untuk mengantarkan budaya
ataupun gaya hidup yang dimiliki negara tersebut menjadi budaya atau gaya
hidup
global.
Fakta bahwa Amerika adalah sebuah negara super power disertai dengan
keberhasilannya mengelola sumber daya yang dimilkinya secara relatif efektif
menjadi daya tarik yang kuat bagi banyak orang, utamanya kaum muda, di
berbagai negara di dunia untuk mengidentifikasikan dirinya baik secara linguistik
dan
budaya
atau
sekedar
budaya
saja
dengan
Amerika.
Proses pengidentifikasian diri ini pada umumnya cenderung berlangsung secara
tidak sadar dimana tindakan pengidentifikasian diri tersebut diambil lebih karena
tekanan lingkungan yang secara terus menerus mengekspos orang dengan

budaya hidup yang identik dengan Amerika. Teman sekolah/kuliah, rekan


sekantor, tetangga, tokoh, artis, dan terlebih lagi media elektronik semuanya
memberikan tekanan psikologis yang kuat untuk mengikuti budaya hidup global
ini. Walaupun sebagian besar dari orang yang mengadopsi budaya hidup global
ini sangat mungkin tidak memahami Bahasa Inggris, lapisan pertama dari orangorang ini, terutama dari kalangan media massa dan bisnis lokal (di luar Amerika),
adalah orang-orang yang secara linguisitik dan budaya memahami dengan baik
fenomena
budaya
hidup
global
ini.
Disinilah kita melihat peran Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional menjadi
elemen penting yang memperkokoh keberadaan Amerika sebagai sumber
rujukan
budaya
global
dunia.
Peran dan posisi umat islam adalah sebagai pengguna bahasa inggris tersebut
dan memanfaatkannya untuk mengikuti berbagai perkembangan IPTEK ataupun
aspek aspek lainnya. Umat islam dapat berkomunikasi dengan sesama muslim
di negara lain dengan memanfaatkan bahasa inggris ini. Oleh karena itu, sebagai
umat islam harus mempelajari bahasa inggris, karena bahasa Inggris merupakan
bahasa global, yang digunakan di berbagai Negara. Sehingga penyebaran Islam
ke
Negara-negara
lain
melalui
dakwah
dapat
dilakukan.

e. Dalam bidang politik


Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan
demokratis. Pengutamaan nilai-nilai rasionalitas, kebebasan, humanisme
universal, kolaborasi yang dibawa globalisasi, tak dapat dihindari, dan
menyebabkan semakin kuatnya filosofi globalisme. Sebuah pandangan hidup
yang mengajarkan prinsip-prinsip kesamaan, kebersamaan, dan kebebasan
sebagai warga kampung sejagat.
Kesadaran kebersamaan global yang terjadi di seluruh penjuru dunia ini, secara
politis, pada gilirannya juga mengakibatkan munculnya gagasan-gagasan
transnasional yang justru melemahkan posisi dan peranan suatu negara bangsa.
Masyarakat dunia de facto mulai mempertanyakan "Sejauhmana kontribusi
peran negara bangsa bagi warganya?", "Sejauhmana relevansi nasionalisme
(rasa kebangsaan) bagi sebuah negara?". Dan, ternyata, masyarakat sebaliknya
cenderung tunduk pada otoritas pasar global yang tak kenal batas negara dan
otonomi lokal. Perkembangan kesadaran politik global seperti ini, sudah barang
tentu, di satu sisi memiliki nilai positif karena memungkinkan persoalan yang
dihadapi sebuah negara dipecahkan bersama secara lintas bangsa. Namun di
pihak lain, kondisi politis seperti ini dapat merupakan ancaman bagi lunturnya
rasa kebangsaan (nasionalisme) warga negaranya.

Peran dan posisi umat islam dalam hal ini adalah sebagai warga Negara yang
tetap memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, walaupun berada pada kondisi
politik global yang tak kenal batas Negara seperti sekarang ini.

2.2 Pandangan Umat Islam Terhadap Globalisasi


Sebagian pihak memiliki pandangan yang cukup sederhana tentang globalisasi
yaitu penyamaan lahiriah global. Artinya, globalisasi cukup dengan menyamakan
tampilan lahiriah saja tanpa menyentuh sisi lainnya. Namun terbukti bahwa ide
tersebut tidak berhasil baik pada masa lalu, kini, maupun era mendatang.
Adapun di antara para pendukung makna penyatuan dalam globalisasi terdapat
kelompok yang menyatakan bahwa globalisasi dapat direalisasikan jika didukung
proses dialog antarperadaban.
Fenomena pokok yang menjadi perhatian kehidupan modern di antaranya
adalah globalisasi budaya menyusul berbagai kemajuan yang telah dicapai di
sektor teknologi informasi. Diperkirakan, globalisasi budaya akan menjadi topik
menarik yang terus dikaji lebih mendalam pada era mendatang. Pada era
globalisasi ini, tak satu pun negara yang dapat terbebaskan secara mutlak dari
dampak globalisasi dalam pergolakan internasional.
Lahirnya fasilitas dan sarana informasi, perluasan ide post-modernisme, eskalasi
bahaya lingkungan hidup, dan kian menipisnya batasan perekonomian sebuah
negara, yang terakumulasi dalam globalisasi, kini menjadi topik paling tren
dibahas. Dewasa ini, para cendikiawan dan pengamat berhasil mengungkap

berbagai dimensi globalisasi. Tak diragukan lagi, pada masa mendatang akan
muncul dimensi baru globalisasi. Saat ini, muncul dua ide yang masih
diperdepatkan yaitu apakah globalisasi berarti penyamaan atau penyatuan.
Sebelum era globalisasi, pemerintah merupakan satu-satunya sarana dalam
proses perpindahan budaya ke sebuah masyarakat lain. Artinya, transfer budaya
pada era dahulu biasanya terjadi melalui kolonialisme atau penjajahan. Namun
kini, kebudayaan setiap masyarakat cenderung didasari pada ideologi dan cara
pandang masyarakat tersebut tentang kehidupan secara keseluruhan.
Masyarakat dewasa ini terdiri atas berbagai golongan dengan kecenderungan
dan idealisme yang plural. Perkembangan teknologi informasi merupakan faktor
utama munculnya fenomena globaslisasi. Beragam ideologi dan pemikiran
dengan sangat mudah dan cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Pengaruhnya pun dapat dirasakan dalam kehidupan masyarakat. Batasan
geografis sudah tidak lagi berfungsi sebagai tameng infiltrasi budaya asing.
Tak diragukan lagi bahwa globalisasi telah merambah ke seluruh elemen dalam
kehidupan bermasyarakat temasuk di bidang sosial dan ekonomi. Dewasa ini,
pemerintah tidak sepenuhnya bertindak secara tunggal, melainkan banyak
faktor yang ikut andil dalam struktur pemerintahan. Di antara unsur yang paling
berpengaruh dalam kebijakan pemerintah adalah investasi, teknologi, dan media
massa. Sebab itu, tidak akan ada satu negara pun yang dapat secara mutlak
terlepas dari dampak globalisasi.
Poin menarik lainnya adalah budaya mana yang akan mendominasi peradaban
umat manusia. Banyak pihak yang berpendapat bahwa budaya Barat akan
mendominasi dunia mengingat Barat memiliki kekuatan ekonomi dan teknologi
yang kuat. Namun pendapat tersebut memiliki kekurangan yang sangat
menonjol, bahwa sejak dahulu hingga kini tidak ada satu kebudayaan pun yang
dapat menghapus kebudayaan masyarakat lain. Keragaman budaya akan terus
terjadi selama terdapat perbedaan ideologi, lokasi, sejarah, dan pengalaman
setiap individu. Kebudayaan lebih bergantung pada karakter setiap individu
daripada tatanan dan sistem global.
Menghadapi fenomena globalisasi, umat Islam lebih dituntut menjaga dua poin
penting yaitu, pengokohan identitas dan reaksi timbal balik dengan fenomena
tersebut. Pengokohan identitas bagi umat Islam ibarat imunisasi terhadap
berbagai unsur buruk dan destruktif dalam gelombang globalisasi. Selain itu,
dunia Islam juga harus menjaga persatuan dan kekompakan guna menjalin
kerjasama erat di berbagai bidang. Hal itu akan sangat diperlukan di saat terjadi
benturan dengan budaya asing. Bagaimanapun juga penolakan terhadap sebuah
kebudayaan akan menuai ketidakpuasan dari pihak terkait dan hal ini telah
terjadi.
Tahap pengokohan identitas itu bukan berarti bahwa dunia Islam harus menutup
seluruh pintu terhadap budaya asing. Karena jika tahap pengokohan identitas
dilakukan dengan baik, umat Islam bahkan tidak perlu menututp satu pintu pun
mengingat mereka terlebih dahulu telah membentengi diri mereka. Adapun poin
kedua adalah reaksi timbal balik dunia Islam menghadapi globalisasi. Pada

hakikatnya globalisasi merupakan sarana terbaik bagi umat Islam untuk


memperkenalkan budaya dan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Seperti
yang telah tercantum dalam Al Quran bahwa tidak ada pemaksaan dalam
agama, umat Islam dapat menawarkan budaya, ideologi, dan gaya hidup Islami,
kepada dunia dengan menampilkan keteladanan Rasulullah dan para nabi
lainnya. Tauhid, kesederhanaan, kejujuran, dan etika, merupakan di antara
hikmah Islami yang saat ini dinanti umat manusia modern. Peluang inilah yang
harus dimanfaatkan dengan baik oleh umat Islam dalam mewujudkan kehidupan
dan masyarakat yang diridhoi oleh Allah.
Merespon globalisasi dan dampaknya terhadap umat islam, Syeikh Al Azhar
Muhammad Al Thanthawi menegaskan bahwa islam menolak globalisasi jika
globalisasi diartikan sebagai penyeragaman pemikiran dan pola perilaku yang
jauh dari nilai agama dan mengarah pada kerusakan (al-azhar:2006)