Anda di halaman 1dari 61

SEKOR dan VARIANS BUTIR TES

Data hasil pengukuran yang digunakan dalam penilaian pendidikan


dapat dikumpulkan dengan tipe bervariasi dari berbagai metode dasar sebagai
tes, kuesioner, atau yang lainnya. Suatu pengukuran dapat memilki beberapa
bentuk: miasalnya, suatu jawaban benar atau salah pada sebuah butir tes.
Bentuk data yang diperoleh digunakan untuk menentukan posisi individu pada
dalam berbagai hubungannya antara individu-individu.
Penilaian yang diberikan didasarkan pada asumsi bahwa sekor individu
dapat dinyatakan dengan lambang 1 atau 0, di mana sekor 1 untuk jawaban
benar, sekor 0 untuk jawaban salah.
MATRIKS SEKOR
Penulisan data statistik data sekor baris ditempatkan di dalam sebuah
matriks sekor. Terdapat hanya angka satu dan nol dalam sel dari matriks sekor,
danmmasing-masing jawaban ditempatkan di dalam satu kategori.
Individ
u
1
2
.
.
.

Butir
1
X11
X21

J
.
.
.
N

Xj1
XN1

2
X12
X22

Xj2 . . .
XN2 . . .

fi

X
j 1

. . .
. . .
. . .

j1

X j2
j 1

i
X1i
X2i

. . .
. . .
. . .

Xji . . .
XNi . . .

n
X1n
X2n

tj
X1i
X2i
Xji
XNi

Xjn
XNn

X ji
j 1

j 1i 1

ji

X
j 1

jn

Tabel di atas menunjukkan notasi umum yang digunakan untuk


penulisan butir tes yang biasanya menuliskan sebuah baris untuk setiap individu
dan sebuah kolom untuk masing-masing butir tes. Penggunaan sistem subskrip
(indeks) pertama menggambarkan posisi baris yang diberikan dan posisi kolom
untuk mengidentifikasi sekor baris. Notasi umum X ji untuk sekor baris individu ke
j diperoleh untuk jawaban butir ke i. Notasi X65menyatakan sekor individu ke 6
pada butir ke 5.
Sekor diperoleh dari individu ke i pada tes j dinyatakan dengan tij , cukup
untuk menghindarkan salah-pemahaman. Nilai tjj diperoleh dengan
menjumlahkan sekor-sekor baris dalam satu baris pada matriks sekor tersebut.

Pejumlahan untuk seorang individu di luar butir-butir tersebut dapat ditulis dalam
n

bentuk lengkap dengan cara berikit: t j X ji


i 1

Masing-masing jawaban ditulis dengan angka1 atau 0, maka total sekor


untuk individu j diperoleh dengan menghitung jumlah jawaban yang benar butir
tes tersebut.
Frekuensi jawaban benar butir i dinyatakan dengan f. di mana frekuensi
jawaban benar fi didapat dengan mejumlahkansekor-sekor baris di dalam satu
kolom dari matriks sekor itu. Hal ini merumuskan penjumlahan butir dari
N

sejumlah individu dinyatan dengan: f i X ji ................................

(2)

i 1

Selama sekor matriks mengandung hanya satu dan nol, frekuensi jawaban benar
tersebut diperoleh dengan menjumlahkan sejumlah individu-individu yang
menjawab butir itu dengan benar.
VARIANS BUTIR
Varians menyatakan perbedaan-perbedaan total sekor individu-yang
ditunjukkan dengan rusmus s x2

, di mana x,

, dan N masing-

masing menyatakan sekor butir tes, rereata butir tes dan Jumlah total peserta
tes. Kita dapat menjelaskan distribusi beberapa individu yang menjawab
benar/salah sejumlah butir tes. Variasi dari suatu distribusi tes menyatakan
perbedaan pengukuran beberapa sekor butir, seperti kisaran, semi-interkuartil
range, dan simpangan baku, dan varians. Varians butir sekor tes dinyatakan
sebagai kuadrat simpangan baku (s2) yang dimaknai sebagai variasi kemampuan
individu-individu yang diukur. Variasi naik turunnya sekor tes secara sederhana
dipertimbangkan melalui pengukuran, kemudian pengukuran-pengukuran
tersebut dinilai variansnya. Artinya, varians sekor adalah kuadrat simpangan
baku dari suatu distribusi, kita peroleh dengan persamaan di atas.
Simpangan terhadap rerata distribusi tes dihitung dari setiap individu
siswa. Pengkuadratan sebuah simpangan baku adalah varians. Atau varians
merupakan daerah sebuah simpangan baku. Varians sekor butir tes adalah
suatu bentuk penyajian data yang membedakan individu-individu. Jika tidak
terdapat perbedaan , berarti individu-individu adalah sama dan memiliki varias
nol

VARIANS BUTIR TES


Konstruksian sebuah tes dapat dilakukan dengan mempelajari varians
dari sebuah distribusi sekor individual pada sebuah tes. Penelaahan varians
dilakukan pada saat menguji sejumlah individu pada satu butir. Misalnya, nilai
sekor untuk 25 individu yang menjawa 8 butir tes ditunjukkan sebagai berikut.
Tabel 1. Matriks sekor terdiri dari 8 butir dan 25 individu
Individual
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
fi
pi
qi

Butir
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
0
1
0
19
0.76
0.24

2
0
1
0
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
20
0.8
0.2

3
0
1
1
1
1
0
1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
0
1
0
1
17
0.68
0.32

4
0
1
0
1
1
0
1
0
0
1
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
0
0
1
0
1
15
0.6
0.4

5
0
0
0
1
0
0
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
13
0.52
0.48

6
0
0
0
1
0
0
1
0
1
1
1
0
1
0
0
0
0
1
0
0
0
1
1
1
0
10
0.4
0.6

7
0
1
0
1
0
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0
1
7
0.28
0.72

8
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
0
4
0.16
0.84

si2 pi qi

0.18

0.16

0.22

0.24

0.25

0.24

0.20

0.13

Variasi sekor pada seluruh tes didasarkan pada variasi-variasi


kemampuan untuk menyelesaikan setiap butir tes dari individu. Jika sekor
masing-masing butir tes didasarkan pada jawaban benar-salah, maka distribusi
frekuensi jawaban benar yang dilibatkan hanya pada dua kategori nominal (1
dan 0) pada masing-masing butir tes tersebut. Kita dapat melihat dari matriks

ti
1
6
2
6
4
2
5
2
5
6
5
6
6
4
3
4
3
8
4
4
2
5
4
4
4
105

sekor bahwa misalnya butir 5 dijawab benar oleh 11 individu, dan 9 individu
menjawab salah. Distribusi butir tes mengandung 9 individu dalam kategori 0 dan
11 individu dalam kategori 1.
52
11 individu yang menjawab benar butir 5 menghasilkan 13
25 atau 100 dari
total yang mampu menyelesaikan dengan benar butir tes tersebut. Dikatakan
bahwa proporsi 52% individu mampu menyelesaikan benar butir tes tersebut,
atau 48 individu menjawab salah. Hal ini dinyatakan sebagai suatu proporsi
adalah. Proporsi individu yang mampu menyelesaikan setiap butir diperlihatkan
pada baris p dalam matriks sekor di atas.
Jika frekuensi jawaban benar dinyatakan dengan p, proporsi yang
menjawab salah adalah 1 p = q, sehingga p + q = 1. Dengan demikian kita
X
peroleh pi i
N
di mana x, p, dan N masing-masing menyatakan sekor butir, proporsi jawaban
benar, dan jumlah total pesert tes, di mana x hanya bernilai 1 atau 0.
X
Jika rumus rerata aritmatika adalah: M i i , maka pi = Mi
N
Proporsi individu yang menjawab benar butir tes juga menyatakan rerata kinerja
individu terhadap semua individu yang dilibatkan pada butir tes tersebut.
Bila jumlah individu yang diuji adalah sama untuk setiap butir tes, maka
rerata kinerja untuk seluruh individu pada tes tersebut (M t) menjadi jumlah
semua rerata individu butir tes yakni M t = Mi .Akan tetapi Mi = pi, sehingga
Mt = pi . Dari matriks sekor diperoleh bahwa furmula itu benar. Dari persamaan
dapat dicari simpangan baku untuk varians butir tes dengan menggunakan
X Mi 2
rumus si2 i
, di mana M menyatakan rerata butir tes.
N
Namun Mi = pi, sehingga rumus di atas dapat diperluas dengan cara:

pi

2
i

2
i

2 pi X i

.
N
N
N
N
X dinilai dengan angka 1 dan 0.
X i2 X i
2

X
Dalam hal ini i

p.
i , dan
N
N
s

2
i

Kemudian pi memiliki nilai yang sama, sehingga rumus menjadi

p
N

atau

Npi2
pi2 . Akibatnya rumus berubah menjadi
N
si2 pi pi2 2 pi2 pi pi2 pi (1 pi ) pi qi

Varians butir tes merupakan perkalian dari proporsi individu-individu


yang menjawab benar butir tes tersebut dan proporsi yang menjawab salah butir
itu. Bila p = 0,52 dan q = 0,48 bagi butir 5 dalam matriks sekor di atas maka s 2 =
0,52 x 0,48 = 0,2496 dan lain-lainnya.

Contoh yang ditampilkan pada matrik sekor di atas, dapat


menghubungankan antara varians dan frekuensi penyelesaian butir tes yang
diberikan. Varians tes bergantung pada frekuensi penyelesaian, misalnya jumlah
individu yang menjawab benar butir itu. Nilai p = 0, dan varians = 0 terjadi pada
saat tak seorangpun menjawab benar butir tes. Varians butir tes meningkat bila
frekuensi individu yang menjawab benar butir tes juga meningkat, sampai suatu
saat mencapai p = 0,50, q = 0,50, pq = 0,250 yang merupakan nilai varians
maksimum. Varians mencapai nilai tertinggi bila separoh dari jumlah individu
menjawab benar tes itu.
Tabel 2. Matriks sekor terdiri dari 8 butir dan 25 individu
Butir
Individual 1
2
3
4
5
6
1
1
0
0
0
0
0
2
1
1
1
1
0
0
3
1
0
1
0
0
0
4
0
1
1
1
1
1
5
1
1
1
1
0
0
6
1
1
0
0
0
0
7
1
0
1
1
1
1
8
0
1
1
0
0
0
9
1
1
0
0
1
1
10
1
0
1
1
1
1
11
1
1
0
1
1
1
12
1
1
1
1
1
0
13
1
1
1
1
1
1
14
0
1
1
1
1
0
15
1
1
1
0
0
0
16
1
1
1
0
1
0
17
1
1
0
1
0
0
18
1
1
1
1
1
1
19
1
1
1
1
0
0
20
1
1
0
1
1
0
21
0
1
1
0
0
0
22
1
1
0
0
1
1
23
0
0
1
1
0
1
24
1
1
0
0
1
1
25
0
1
1
1
0
0
fi
19
20
17
15
13
10
pi
0.76
0.8
0.68
0.6
0.52
0.4
qi
0.24
0.2
0.32
0.4
0.48
0.6

7
0
1
0
1
0
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0
1
7
0.28
0.72

8
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
0
4
0.16
0.84

si2 pi qi

0.20

0.13

0.18

0.16

0.22

0.24

0.25

0.24

ti
1
6
2
6
4
2
5
2
5
6
5
6
6
4
3
4
3
8
4
4
2
5
4
4
4
105

Pada Tabel 2 tampak bahwa butir-butir tes pada tes pertama secara
relatif mudah. Frekuensi jawaban benar di atas 0,50 Dengan memilih sekor yang
mudah kita memiliki suatu kemiringian negatif dari sekor-sekor seperti itu.
Tabel 3. Matriks sekor untuk tes berbeda terhadap 25 individu
Butir
Individual 1
1
1
2
1
3
1
4
0
5
1
6
1
7
1
8
0
9
1
10
1
11
1
12
1
13
1
14
0
15
1
16
1
17
1
18
1
19
1
20
1
21
0
22
1
23
0
24
1
25
0
fi
19
pi
0.76
qi
0.24

2
0
1
0
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
20
0.8
0.2

3
0
1
1
1
1
0
1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
0
1
0
1
17
0.68
0.32

4
0
1
0
1
1
0
1
0
0
1
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
0
0
1
0
1
15
0.6
0.4

5
0
0
0
1
0
0
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
13
0.52
0.48

6
0
0
0
1
0
0
1
0
1
1
1
0
1
0
0
0
0
1
0
0
0
1
1
1
0
10
0.4
0.6

7
0
1
0
1
0
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0
1
7
0.28
0.72

8
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
0
4
0.16
0.84

9
1
0
0
1
1
1
0
0
0
0
1
0
1
0
1
1
1
0
0
0
0
1
0
1
0
1
0.04
0.96

s i2

0.16

0.22

0.24

0.23

0.24

0.20

0.13

0.04

0.18

ti
2
6
2
7
5
3
5
2
5
6
6
6
7
4
4
5
4
8
4
4
2
6
4
5
4
106

Pada Tabel di atas tampak bahwa butir-butir tes pada tes secara relatif
sukar. Dalam hal ini, frekuensi jawaban benar di atas 0,50 kecuali hanya butir
tes 6 sampai 9. Kesukaran butir juga dilukiskan pada sekor kolom untuk masingmasing individu, di mana sekor-sekor disusun dalam distribusi sekor. Dengan
memilih tingkat kesukaran butir kita memperoleh kemiringan positip atau negatif
pada distribusi sekor tersebut.

Interkorelasi antara butir-butir tes relatif tinggi pada matriks sekor.


Individu-individu yang menjawab benar butir-butir menggambarkan tingkat
kesukaran, dan menjawab butir dengan frekuensi lebih tinggi. Kita menyatakan
2
bahwa
distribusi sekor memiliki varians yang sama ( st 2,74 ). Secara
keseluruhan, setiap butir tes mengukur kemampuan berbeda dividu-individu
yang dites.
KORELASI ANTAR BUTIR TES
Pada sebuah pengukuran, dapat diukur tingkat keeratan hubungan
antara butir-butir tes, yang diukur dengan koefisien korelasi. Korelasi bertujuan
untuk menentukan kekuatan hubungan dua atau lebih butir tes, misalnya
kuatnya hubungan antara butir tes X dengan butir tes Y yang dilambangakan
dengan rxy. Rumus yang diterapkan untuk hubungan ini sebagai berikut:
XY X Y
n
rxy
2
2

X
Y

2
2
X
Y

n
n

Nilai kekuatan hubungan ini dapat bernilai positip atau negatif. Korelasi
antara variabel X dan variabel Y bernilai positip, jika pertambahan X
mengakibatkan pertambahan Y, sebaliknya korelasi itu bernilai negatip bila
pertambahan X mengakibatkan penurunan nilai Y. Misalnya diukur hubungan dua
butir tes yang mengukur nilai mata kuliah differensial dan nilai mata kuliah
Kalkulus. Dalam hal ini dapat ditafsirkan bahwa jika differensial meningkat
mengakibatkan meningkatnya nilai mata kuliah kalkulus karena kedua mata
kuliah ini saling mendukung, atau sebaliknya. Bahkan jika dua mata kuliah tidak
saling berhubungan misalnya mata kuliah PKn dan Matematika dapat saja tidak
memiliki hubungan, ini berarti korelasinya nol.
Dalam hal lain dapat terjadi bila suatu suatu butir tes meningkat,
mengakibatkan butir tes lain akan menurun, atau sebaliknya apabila suatu butir
tes naik maka butir tes lain meningkat pula. Perlu disadari bahwa banyak faktor
yang mempengaruhi investasi, termasuk suasana politik, kondisi keamanan,
kestabilan nilai, perkembangan perkuliahan, dan sebagainya.
Penerapan pengukuran dalam ekonomi, misalnya adanya korelasi
negatif, mengacu pada hukum penawaran yang mengatakan bila harga
meningkat maka produksi meningkat pula.
COVARIANS BUTIR TES
Dalam sebuah pengukuran, perhitungan covarians dua variabel dimaknai
sebagai rasio dari jumlah perkalian-perkalian simpangan dari kedua variabel dari
rerata untuk sejumlah kasus-kasus. Untuk dua variabel X dan Y , maka Rumus
umum kovarians untuk duaa variabet tersebut adalah sebagai berikut:
Cov X , Y

X X Y Y
n 1

(Oslon; 1978: 438)

Demikian juga, korelasi product moment antara dua variabel dimaknai


sebagai rasio covarians untuk kedua variabel untuk yang merupakan kuadrat
akar perkalian varians-varians mereka. Untuk dua variabel X dan Y maka
korelasi mereka adalah:

x
n

rxy

C xy

x2 y2

C xy

x y

X Y Y

i 1

X X Y Y

i 1

i 1

KOEFISIEN DETERMINASI
Koefisien determinasi antara dua variabel adalah kuadrat dari
korelasinya. Untuk dua variabel X dan Y maka koefisien determinasi mereka
2
adalah: rxy . Koefisien r2 mengukur proporsi dari varians bersama untuk dua
variabel ; di mana r2. 100% mengukur persentase varians bersama.
Jika koefisien determinasi dari dua variabel dibakukan (r 2), maka
konsekuensinya, r memiliki batasan difinisi yang lebih sederhana yang juga
harus diberikan. Persentase yang diberikan oleh koefisen determinasi dapat
menjelaskan variansi-varians dari salah satu variabel tersebut, dan ini dapat
dimaknai sebagai kuatnya pengaruh satu variabel terhadap variabel lain yang
dilibatkan. Pembakuan koefisien determinasi dirumuskan sebagai:

r
2
jk

i 1

zij zik
n2

, dan

rjk

z
i 1

ij ik

KOEFISIAN KORELASI PARSIAL BUTIR TES


Jika ada lebih dari dua butir tes yang akan diukur tingkat hubungan antar
dua butir saja dengan cara mengabaikan butir yang lainnya, maka korelasi
demikian disebut korelasi parsial. Artinya, korelasi parsial antara dua dua butir
tes merupakan korelasi produk moment antara kedua butir tes tersebut dengan
menganggap varians dari beberapa butir tes lain adalah konstan.
Notasi: r12.3 = berarti korelasi parsial antara variabel X 1 dan X2, dengan
menganggap X3 konstan.
r12.m-1 = dimaknai sebagai korelasi parsial antara variabel X 1 dan X2,
dengan menganggap variabel lain (m -1) adalah konstan.
Korelasi parsial dua variabel , dengan menganggap yang lain konstan adalah:
r12 r13r23
r12.3
1 r132 1 r232

di mana r12, r13, dan r 23 adalah koefisien-koefisien korelasi produk moment


antara variabel X1, X2, variabel X1 dan X3, serta antar X2 dan X3.
Selanjutnya, untuk empat variabel maka korelasi parsialnya adalah:

r12.4 r13.4 r23.4

r12.34

1 r 1 r
2
13.4

2
23.4

r12.3 r14.3r24.3

1 r 1 r
2
14.3

2
24.3

Koefisien Korelasi Rho-Spearman


Untuk

menghitung korelasi Rho-Spearman, terlebih dahulu ditentukan

apakah ada atau tidak sekor yangg sama. Masing-masing keadaan ini harus
mendapat perhatian agar tidak sampai melakukan kesalahan dalam perhitungan.
Hal itu dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Untuk kasus Peringkat di mana Tidak ada sekor yang sama
Kalau tidak ada sekor yang sama maka data sekor diurutkan lebih dahulu
dari data tertinggi sampai data terendah. Selanjutnya dilakukan perankingan atau
peringkat yang sesuai. Kemudian dihitung korelasi Rho-Spearman dengan
rumus:

S 1

6 d 2

N ( N 2 1)

d = selisih rakning di antara X dan Y


N = Banyak pasangan sekor
Contoh:
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

X
15
16
18
19
20
22
23
25
32
35
36
38
40
43
44
45
47

Y
17
20
25
32
35
38
36
43
41
44
45
47
50
55
57
62
64

d
-2
-4
-7
-13
-15
-16
-15
-18
-9
-9
-9
-9
-10
-12
-13
-17
-17

d2
4
16
49
169
225
256
225
324
81
81
81
81
100
144
169
289
289

18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

50
53
55
57
62
64
66
68
70
75
82
88
90

66
67
68
69
70
73
74
75
77
82
85
88
90

-16
-14
-13
-12
-8
-9
-8
-7
-7
-7
-3
0
0

256
196
169
144
64
81
64
49
49
49
9
0
0
3713

Jadi diperoleh:

S 1

6 d 2

N ( N 2 1)

s 1

, atau

6(3713)
0,1740
30(30 2 1)

b. Untuk kasus Ranking (Peringkat) di mana ada sekor X yang sama


sedang sekor Y tidak sama
Untuk kasus terdapat sekor yg sama, lebih dahulu

dilakukan

perankingan sekor, kemudian dilakukan perhitungan dengan menggunakan


rumus berbeda setelah terlebih dahulu dilakukan sebuah koreksi terhadap rumus
tersebut. Besaran koreksi adalah:
TX

t 3y t y
t x3 t x , dan
TY
12
12

X2

N3 N
T X dan
12

Y 2

N3 N
TY
12

di sini t = banyaknya peringkat sama, dan N = banyaknya sekor.


Kemudian ditentukan pula besaran korelasi dengan:

X
2

Y 2 d 2

X Y
2

Contoh:
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37

X
90
43
74
82
44
50
38
75
88
60
66
32
17
70
70
68
70
63
68
82
38
55
66
62
38
75
88
66
68
32
17
70
76
68
70
60
64

Y
38
32
34
35
86
87
88
90
92
93
64
40
65
66
67
68
69
36
37
50
55
60
44
62
81
82
84
73
74
76
78
80
70
46
72
48
17

X-urut
90
88
88
82
82
82
76
75
75
74
70
70
70
70
70
68
68
68
68
66
66
66
64
63
62
60
60
55
50
44
43
38
38
38
38
32
32

Y-ikut
38
92
84
35
50
20
70
90
82
34
66
67
69
80
72
68
37
74
46
64
44
73
17
36
62
93
48
60
87
86
32
88
55
81
25
40
76

Y-urut
93
92
90
88
87
86
84
82
81
80
78
76
74
73
72
70
69
68
67
66
65
64
62
60
55
50
48
46
44
40
38
37
36
35
34
32
30

RankX
1
2.5
2.5
5
5
5
7
8.5
8.5
10
13
13
13
13
13
17.5
17.5
17.5
17.5
21
21
21
23
24
25
26.5
26.5
28
29
30
31
33.5
33.5
33.5
33.5
36.5
36.5

RankY
31
2
7
34
26
39
16
3
8
35
20
19
17
10
15
18
32
13
28
22
29
14
40
33
23
1
27
24
5
6
36
4
25
9
38
30
12

d = RX-RY
-30
0.5
-4.5
-29
-21
-34
-9
5.5
0.5
-25
-7
-6
-4
3
-2
-0.5
-14.5
4.5
-10.5
-1
-8
7
-17
-9
2
25.5
-0.5
4
24
24
-5
29.5
8.5
24.5
-4.5
6.5
24.5

d2
900
0.25
20.25
841
441
1156
81
30.25
0.25
625
49
36
16
9
4
0.25
210.25
20.25
110.25
1
64
49
289
81
4
650.25
0.25
16
576
576
25
870.25
72.25
600.25
20.25
42.25
600.25

38
39
40

82
38
15
2398

20
17
25
17
30
15
2414

65
78
30

25
20
17

38.5
38.5
40

21
11
37

17.5
27.5
3

306.25
756.25
9
10158.5

Koreksi Peringkat yang sama pada


X
Peringkat
2,5
5
8,5
13
17.5
21
26.5
33.5
36.5
38.5

t3 t
12

t3
8
27
8
125
64
27
8
64
8
8

t
2
3
2
5
4
3
2
4
2
2

0.5
2
0.5
10
5
2
0.5
5
0.5
0.5

TX

26.5

Selanjutnya dihitung nilai :

X2

N3 N
403 40
TX
26,5 5303,5
12
12

Sehingga rumus Rho-Spearman menjadi:


S

Y 2 d 2

X Y
2

5303,5 5330 10158.5


0.04467
2 (5303,5)(5330)

b. Untuk kasus Ranking (Peringkat) di mana ada sekor X dan sekor Y sama
Untuk kasus ini terdapat sekor yang sama utk X dan Y dikerjakan dengan
terlebih dahulu

melakukan perankingan ke dua sekor X dan Y, kemudian

dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus berbeda setelah terlebih


dahulu dilakukan sebuah koreksi data X dan Y.

Contoh.

Xurut

Yikut

Yurut R-X

R-Y

No

62

135 150

82

25

30.5

88

25

142

82

25

30.5

3
4
5
6

55
116
50
119

112
32
115
45

136
134
130
128

82
128
66
66

32
38
38
43

3
4
5.5
5.5

30.5
44
14
14

68

167 125

75

45

7.5

27

8
9

117 38
35 82

124
122

68 47
136 50

7.5
9

18
48

10
11
12
13

128
130
43
40

68
70
66
128

119
117
116
90

70
74
115
43

55
57
62
66

10
11
12.5
12.5

22.5
25
40.5
6

14
15
16
17

25
44
45
47

82
75
136
74

90
88
88
88

90
112
25
62

66
66
68
68

14
15.5
15.5
17

35.5
38.5
1.5
12

18

50

43

82

135 68

19

46.5

19

53

90

82

88

68

19

33.5

20
21
22
23
24
25
26
27
28
29

55
57
62
66
66
68
70
75
82
88

25
62
88
55
66
50
57
68
47
75

75
75
74
70
70
68
68
68
66
66

112
55
66
75
167
50
68
57
70
70

68
70
70
70
70
74
75
75
75
82

19
22
22
22
25
25
25
27.5
27.5
29

38.5
10
14
27
50
9
18
11
22.5
22.5

RxRy
=d
29.5
28.5
27.5
-40
-8.5
-8.5
19.5
10.5
-39
12.5
-14
-28
6.5
21.5
-23
14
5
27.5
14.5
19.5
12
8
-5
-25
16
7
16.5
5
6.5

d2

tX

ty

t x3 t x
12

t 3y t y
12

870.25
812.25
756.25
1600
72.25
72.25
380.25

0.5

0.5

0.5

0.5

0.5

0.5

110.25
1521
156.25
196
784
42.25
462.25
529
196
25
756.25
210.25
380.25
144
64
25
625
256
49
272.25
25
42.25

0.5
2

0.5

30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

90
68
70
66
17
82
75
44
74
43
90
25
62
88
134
124
142
122
136
150
46

38
68
70
75
82
88
90
68
70
66
132
82
112
115
110
135
125
122
156
68
70

66
62
62
62
57
55
55
53
50
50
47
46
45
44
44
43
43
40
35
25
17

68
90
47
88
25
75
115
38
132
32
38
45
122
135
82
68
70
110
156
125
68

82
82
82
88
88
90
90
110
112
112
115
115
122
125
128
132
135
135
136
156
167

30.5
30.5
32.5
32.5
35
35
35
37.5
37.5
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

18
35.5
8
33.5
1.5
27
40.5
4.5
45
3
4.5
7
42
46.5
30.5
18
22.5
37
49
43
18

12.5
-5
24.5
-1
33.5
8
-5.5
33
-7.5
36
35.5
34
0
-3.5
13.5
27
23.5
10
-1
6
32

156.25
25
600.25
1
1122.25
64
30.25
1089
56.25
1296
1260.25
1156
0
12.25
182.25
729
552.25
100
1
36
1024
20928

0.5

0.5

0.5

10.5

Berdasarkan perhitungan, di atas dihitungan nilai koreksi, dan kofisien korelasi


sebagai berikut:
N3 N
50 3 50
TX
10,5 10402
12
12
N3 N
50 3 50
2
Y

3 10409.5

Y
12
12

X2

Y 2 d 2

X Y
2

10402 10409,5 20928


2 (10402)(10409,5)

-0,000011

Soal 1
Hitung s untuk kasus data X ada yang sama tapi Y tidak sama dari data
dengan berikut dengan mengisi kolom-kolom berikut

No X
1
32
2
17
3
70
4
70
5
68
6
70
7
68
8
68
9
82
10 38
11 55
12 66
13 17
14 70
15 70
16 68
17 70
18 63
19 68
20 68
21 70
22 68
23 68
24 82
25 38
26 55
27 66
28 62
29 82
30 32
31 17
32 70
33 76
34 68
35 70
36 60
37 64
38 82
39 38
40 15
nd^2

Y
38
75
88
60
66
32
17
70
73
68
74
67
68
82
40
55
66
66
32
17
71
72
68
78
68
68
82
38
55
66
62
82
45
45
79
32
44
45
25
35

X-urut

Y-ikut

Rakn- Rank- RX-RY


X
Y
=d

d2

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

X
62
88
55
116
50
119
68
117
35
128
130
43
40
125
44
45
47
50
53
55
57
62
66
66
68
70
75
82
88
90
68
70
66

Y
135
25
112
32
115
45
167
38
82
68
70
66
128
82
75
136
74
43
90
70
75
82
88
90
68
70
66
17
82
75
44
70
75

X- Y- Rank- Rankurut urut X


Y
d

d2

pX

tX t3

pY

tY t3

(t3-t)/12

(t3-t)/12

Soal 2
Hitung s untuk kasus data X ada yang sama tapi Y tidak sama dari data
dengan berikut dengan mengisi kolom-kolom berikut

34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

17
82
75
44
74
43
90
25
62
88
134
124
142
122
136
150
46

66
68
70
75
82
88
90
68
70
66
110
135
125
125
168
168
170

KOEFISIEN KONKORDANSI KENDALL


Untuk data yang terdiri dari m himpunan rank, di mana m > 2, ukuran
yang bersifat konkordansi antara himpunan m ditetapkan dan koefisien
konkordansi W oleh Kendall. Data pada tabel berikut terdiri dari 6 ranking yang
dibuat oleh 4 penilai. Data tersebut diperoleh dari sebuah penelitian dengan
teknik wawancara. Pewawancara diharuskan untuk mewawancarai 6 pelamar
kerja dan mengurutkannya sesuai dengan pekerjaannya.
Tingkatan Rank dari Enam Pelamar dibuat oleh Empat Juri Pelamar
Pelamar
Pewawancara
a
B
c
d
e
A
6
4
1
2
3
B
5
3
1
2
4
C
6
4
2
1
3
D
3
1
4
5
2
Rj
20
12
8
10
12

f
5
6
5
6
22

Jika

persesuaian

yang

sempurna

terdapat

antara

ke

empat

pewawancara, satu pelamar akan ditetapkan sebagai no.1 dari keempatnya.


Jumlah dari rank yang dimiliki oleh rank akan menjadi 4. Pelamar lain akan
ditetapkan sebagai no. 2 oleh 4 pewawancara. Jumlah dari ranknya akan
menjadi 8. Jumlah rank dari keenam pelamar menjadi 4, 8, 12, 16, 20, 24, tidak
perlu berurutan. Secara umum ketika persesuaian yang sempurna ada di antara
sejumlah m penilai untuk N anggota, jumlah ranknya adalah m, 2m, 3m, ... , Nm.
Jumlah total N rank untuk m penilai adalah

adalah

mN N 1
dan rata-rata jumlah rank
2

m N 1
.
2

Derajat persesuaian antara penilai menggambarkan variasi dalam


jumlah

rank.

Ketika

semua

penilai

sepakat,

variasi

ini

maksimum.

Ketidakpersesuaian para penilai menggambarkan penurunan jumlah variasi


jumlah rank. Untuk maksimum ketidakpersesuaian mengenai jumlah rank akan
cenderung lebih atau kurang sama besarnya. Keadaan ini menunjukkan dasar
dari definisi koefisien konkordansi.
Misal : Rj mewakili jumlah rank untuk orang ke-j. Nilai dari jumlah
kuadrat dari jumlah-jumlah rank untuk n adalah :

S Ri

Ri
N

Nilai maksimum dari jumlah kuadrat terjadi saat persesuaian yang

m2 N 3 N
sempurna ada antara penilai dan sama untuk
. Koefisien konkordansi
12

W didefinisikan sebagai perbandingan S dengan nilai maksimum yang mungkin


dari S, yaitu :
W

12 S
m N3 N
2

Persesuaian yang sempurna ada di antara penilai, W = 1.


Ketidaksesuaian maksimum ada, W 0. Itulah sebabnya, W tidak pernah
bernilai negatif. Pada saat nilai W lebih besar dari 2, maka tidak terjadi

ketidaksesuaian penuh. Sebagai contoh, jika

A dan B adalah tidaksesuai

sempurna serta A dan C juga merupakan tidakrsesuai sempurna, maka B dan C


pastilah merupakan ketidaksesuaian sempurna.
Pada contoh tabel di atas total rank adalah 20, 12, 18, 10, 12 dan 22.
Jumlah rank adalah 84. Rata-ra atas, total rank, jumlah rank yang diharapkan
pada kasus tidak terikat adalah

84
14 . Jumlah kuadrat simpangan dari rata6

rata ini adalah :


S 20 14 12 14 8 14 10 14 12 14 22 14 160
2

Pada contoh, m 4 dan N 6 dan koefisien konkordansi adalah


W

12 160
571
42 63 6

Konkordansi antara m himpunan rank dapat dijelaskan melalui


penghitungan koefisien korelasi menurut rank urutan Spearman antara semua
pasangan rank yang mungkin penemuan nilai rata-rata yang dilambangkan
dengan

. Rata-rata ini berkaitan dengan W. Hubungannya didefinisikan

dengan :

mW 1
m 1

Untuk kasus tertentu dimana m = 2, hubungannya adalah 2W 1 .


Untuk W = 0, 1 ; untuk W = 0,5, 0 ; dan untuk W = 1, 1
21.13. KOEFISIEN KONKORDANSI UNTUK RANK YANG SAMA
Saat rank yang terikat terjadi, hasilnya sama seperti yang sebelumnya
di mana masing-masing anggota yang diberi tanda yang ada rata-rata yang
sama. Jika angka yang sama tidak banyak, kita dapat menghitung W secara
langsung tanpa perhitungan yang lebih lanjut. Tetapi jika terdapat banyak angka
yang sama, faktor koreksi dapat dihitung untuk masing-masing himpunan dari
rank. Faktor koreksi tersebut adalah :
T

12

Contohnya, jika rank pada X adalah : 1, 2,5, 2,5, 4, 5, 6, 8, 8, 8, 10 dan


kita memiliki dua grup yang sama, salah satunya dua ranking yang sama dan
yang lain tiga rank yang sama. Faktor koreksi dari kelompok rank untuk X adalah
:
T

2 33 3
2,5
12

Faktor koreksi T dihitung untuk masing-masing m kumpulan rank, dan


ditambahkan dengan himpunan m tersebut hingga diperoleh

T . Kemudian

kita mengaplikasikan rumus W yang mana di dalamnya telah tergabung dengan


faktor koreksi. Rumusnya adalah :
W

1 2
m N 3 N m
12

Penerapan dari koreksi ini cenderung untuk memperbesar nilai W.


Koreksi akan memberikan dampak kecil kecuali jika faktor yang sama cukup
banyak.
21.14. SIGNIFIKANSI KOEFISIEN KONKORDANSI W
Untuk n 7 , nilai W pada taraf signifikansi pada level 5 persen dan 1
persen telah disusun pada tabel oleh Friedman (1940) dan dihasilkan kembali
oleh Kendall (1970) dan Siegel (1956). Penyesuaian yang cukup berguna dari
tabel ini diperkenalkan oleh Edward (1973). Nilai kritis dari W tergantung pada m,
sejumlah himpunan dari rank, dan N, jumlah rank pada masing-masing
himpunan. Untuk N > 7, tes 2 dapat diaplikasikan. Untuk mengitungnya
2 m N 1W

Ini

adalah

distribusi

chi-square

dengan

N-1

sebagai

derajat

kebebasan. Untuk data pada tabel di atas, S = 160, W = 0,571, m = 4 dan N = 6.


Berdasarkan tabel Edward, nilai kritisnya adalah : 0,505 dan 0,621 untuk taraf
signifikansi level 5 persen dan 1 persen. Jika kita gunakan rumus chi-square
untuk data yang sama kita peroleh :
2 4 6 1.0,571 11,42

Untuk df = 6 -1 = 5, dibutuhkan nilai x 2 = 11,07 agar signifikansi pada


taraf 0,05 dan 15,09 pada taraf 1 persen, dan dengan demikian kita menarik
kesimpulan bahwa terdapat signifikansi asosiasi pada level 5 persen. Dan tentu
saja dalam persoalan ini, dengan melihat tabel tidak akan lebih mudah karena N
< 7. Untuk N < 7, tes chi-square akan menimbulkan perhitungan yang lebih sukar
dari kemungkinan yang ada. Ada prosedur lain untuk menguji tingkat signifikansi
dari keberadaan W. Untuk pembahasan yang lebih jauh mengenai hal ini, lihat
tabel Edward (1973).
21.15. KOEFISIEN KONSISTENSI K
Untuk mengetahui suatu rank antara beberapa objek, di mana objekobjek tersebut dapat ditampilkan dua dalam satu ketika dalam semua pasangan
yang mungkin dan seorang juri sangat dibutuhkan untuk membuat suatu pilihan
terhadap setiap pasangan Jadi dibuatlah suatu pilihan antara objek yang satu
dengan objek yang lain. Cara seperti ini dikenal dengan metode perbandingan
berpasangan dan metode ini sudah lazim digunakan pada bidang psikologi.
Metode ini biasanya diasumsikan untuk menghasilkan susunan yang lebih
terpercaya (signifikan) daripada cara yang diperoleh dengan seorang juri untuk
membentuk susunan seluruh grup pada objek secara langsung. Jumlah
pasangan-pasangan yang mungkin adalah jumlah kombinasi dari N yang diambil
dua setiap kali pengambilan atau

N N 1
. Jika N bertambah, jumlah
2

perbandingan juga akan lebih besar dan sebagai akibatnya untuk N yang lebih
besar, metode ini tidak praktis untuk digunakan.
Pada

metode

perbandingan

berpasangan,

kita

menentukan

konsistensi dari pilihan yang kita buat. Misalkan A,B dan C adalah tiga objek.
Jika A lebih baik dari B, dan B lebih baik C maka jika pilihannya konsisten maka
akan diperoleh bahwa A lebih baik dari C. Jika C lebih baik dari A, pilihan ini jelas
tidak konsisten dengan dua pilihan sebelumnya. Apa makna dari ditunjukkannya
pilihan yang tidak konsisten tersebut ? Misalkan A, B, dan C adalah kartu merah,
biru dan kuning dengan masing-masing kebosanan yang berbeda-beda. Seorang

juri mungkin lebih memilih merah dari biru, memilih biru dari kuning, dan mungkin
juga memilih kuning dari merah. Pilihan yang tidak konsisten seperti ini mungkin
saja terjadi karena mungkin juri tidak mampu untuk membedakan objek yang
satu dengan objek yang lain dan mungkin juga indikasi pemilihan tersebut
digunakan dengan cara yang sembarangan. Ada banyak pilihan yang tidak
konsisten pada metode perbandingan pasangan karena dalam hal ini dibutuhkan
kebenaran pembeda-bedaan yang tegas yang sebetulnya di luar kemampuan
juri. Jawaban yang tidak konsisten akan lebih banyak muncul karena dimensi
penilaian juga telah berubah. Kartu merah mungkin lebih baik daripada kartu biru
dan kartu biru lebih baik daripada kartu kuning berdasarkan warna. Kartu kuning
juga mungkin lebih baik daripada kartu merah berdasarkan kemudahbosanan.
Dimensi yang berbeda biasanya digunakan sebagai dasar pilihan dan hal ini
menimbulkan keberadaan dari jawaban yang tidak konsisten tadi. Untuk
mengilustrasikannya secara lebih jauh, jeruk mungkin lebih disukai dari buah
peach karena warnanya, buah peach mungkin lebih disukai dari buah pear
karena rasanya, buah pear juga mungkin lebih disukai dari buah jeruk karena
bentuknya. Jadi dapat diketahui bahwa jawaban yang tidak konsisten tadi akan
lebih banyak terjadi. Pada saat jawaban tidak konsisten tersebut banyak terjadi,
sebuah pertanyaan mungkin akan diberikan untuk mengetahui arti dari susunan
rank pada objek yang diperoleh. Sangat tepat untuk menghadirkan pilihan A lebih
baik daripada B dengan notasi A B dan pilihan B lebih baik daripada A dengan
notasi

B A . Urutan A B C A adalah pilihan yang tidak konsisten dari

urutan

tiga serangkai di atas. Untuk himpunan apapun pada perbandingan

berpasangan antara N objek, sejumlah jawaban tidak konsisten mungkin akan


dihitung dan digunakan untuk menetapkan koefisien konsistensi pada jawaban.
Jawaban-jawaban yang diperoleh dengan metode perbandingan
pasangan tersebut akan ditampilkan dalam bentuk tabel untuk pola jawaban
yang ditunjukkan pada tabel 21.4. Tabel ini menunjukkan perbandingan
pasangan antara sembilan objek yaitu, A, B, C, D, E, F, G, H, I. Objek A lebih
baik daripada B, dan 1 dimasukkan ke dalam tabel sesuai dengan baris A dan
kolom B di atas diagonal utama. 0 dimasukkan dalam kolom A dan baris B di

bawah diagonal utama. Semua pilihan lainnya akan dilakukan dengan cara yang
sama. Kita berharap bahwa jawaban yang tidak konsisten itu tidak ada, semua
entri pada suatu sisi diagonal utama adalah 1 dan yang lain adalah 0. Pada tabel
ini, beberapa angka 0 yang berada di atas diagonal utama dan angka 1 yang
berada di bawah diagonal utama menunjukkan jawaban yang tidak konsisten.
Mari menghitung jumlah baris-baris pada tabel 21.4

Tabel 21.4
Pola jawaban untuk perbandingan pasangan antara sembilan objek dan
perhitungan dari koefisien konsistensi

A
B
C
D
E
F
G
H
I

0
1
1
0
0
0
1
0

1
0
0
0
0
1
0
0

0
1
1
1
0
0
0
0

0
1
0
0
0
0
0
0

1
1
0
1
0
0
0
1

1
1
1
1
1
0
0
0

1
0
1
1
1
1
0
0

0
1
1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
0
1
1
0
-

R R

R 4

12 R R

N N 1
2

Jlh Baris
R
5
6
5
7
4
3
3
1
2
36

(R- R )2
1
4
1
9
0
1
1
9
4
30

30

12 30
0,500
9 92 1

Jika jawaban yang tidak konsisten tidak muncul, jumlah-jumlah baris


seharusnya : 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1, 0. Namun karena ada jawaban yang tidak
konsisten tersebut, maka yang diperoleh pada tabel adalah : 7, 6, 5, 5, 4, 3, 3, 2,
1, walaupun tidak berurutan. Dampak dari jawaban yang tidak konsisten ini akan
mengurangi variabilitas dari jumlah yang diperoleh dengan menambahkan
beberapa baris pada pola jawaban. Notasikan jumlah baris dengan R. Rata-rata

dari baris ini adalah : R

R , yang ditunjukkan dengan persamaan : N 1 .


2

Jumlah kuadrat dari baris ini adalah

R R R
2

N N 1
4

Sangat perlu untuk memperhatikan nilai maksimum dan nilai minimum


dari jumlah kuadrat di atas. Nilai maksimum dari R R terjadi ketika tidak
2

ada jawaban yang tidak konsisten muncul pada pola jawaban dan sama dengan

N N 2 1
2
. Nilai minimum dari R R tergantung pada nilai N yang ganjil
12

atau genap. Bila N ganjil, nilai minimum dari R R adalah 0. bila N genap,
2

dapat ditunjukkan bahwa nilai minimum dari R R adalah


2

0, tetapi

N
.
4

Kemudian kita definisikan koefisien konsistensi K seperti di bawah ini :


K

jumlah kuadrat observasi jumlah kuadrat nilai minimum


jumlah kuadrat nilai maksimum jumlah kuadrat nilai minimum

Substitusi yang lebih sederhana jika N ganjil :


K

12 R R

N N 2 1

Dan jika N genap :


K

12 R R

N N

3N

Ini adalah koefisien konsistensi Kendall. Jawaban akan bernilai K = 0 ketika data
diambil secara acak dan terdapat banyak ketidakkonsistenan, dan K = 1 ketika
tidak ada jawaban yang tidak konsisten muncul.
Perhitungan dari K diilustrasikan pada tabel 21.4. Contohnya N adalah
ganjil, R R = 30 dan K = 0,500.
2

Bagaimana koefisien K ditafsirkan? Sejumlah

rangkaian tidak

konsisten pada A B C A ditunjukkan dengan d yang berhubungan dengan


koefisien K. Ditunjukkan bahwa saat N ganjil

N N 2 11 K
d
24

dan saat N genap


d

N N 2 4 1 K
24

Seperti contoh pada tabel 21.4 sejumlah jawaban tidak konsisten d ditemukan
sebanyak 15. Sementara jumlah maksimum yang mungkin untuk jawaban yang
tidak konsisten adalah 30. Jadi, separuh rangkaian hubungan tiga serangkai
tersebut adalah tidak konsisten dan separuh lagi konsisten dan K = 0,50. K dari
4
1
dari relasi adalah tidak konsisten dan
-nya adalah
5
5

0,20 berarti bahwa


konsisten.

21.16. SIGNIFIKANSI KOEFISIEN KONSISTENSI


Signifikansi koefisien konsistensi dapat dilihat dari distribusi sejumlah
hubungan tiga serangkai yang dipilih secara acak. Kendall (1970) menyediakan
sebuah tabel probabilitas untuk nilai-nilai tertentu d yang akan dicapai atau dilalui
dari N = 2 sampai 7. Untuk N > 7, Kendall menunjukkan bahwa nilai tes 2 yang
tersedia pada tabel probabilitas dapat digunakan. Rumusnya adalah
2

8
N 4

1
4

C3N d

1
2

df

memiliki distribusi 2 dengan derajat kebebasan seperti di bawah ini


df

N N 1 N 2
N 4 2

C 3N artinya besarnya 2 dari banyaknya kombinasi N dari 3 atau


N!
. Dalam penggunaan rumus ini, probabilitas nilai d
3! N 3!

hasil yang

diperoleh di mana pilihannya diberikan secara acak adalah komplemen dari


probabilitas nilai 2 .
Untuk data pada tabel 21.4, N = 9 dan d = 15 diperoleh

df
2

98 7

9 4 2

20,16

8 1
9!
1

15 20,16 28,96
9 4 4 3!6!
2

Probabilitas nilai

berkisar 0,90. Ini berarti bahwa tingkat

signifikansi untuk nilai d kira-kira 0,10, komplemen dari 0,90. Dapat kita
simpulkan bahwa kekonsistensi yang ada pada data tidak lebih besar dari nilai
yang kita peroleh dengan memilih secara acak. Koefisien konsistensi K = 0,50
dapat dikatakan tidak berbeda secara signifikan dari 0.

Catatan:
1) Dalam barisan m, 2m, 3m, ... , Nm, apakah m merupakan beda ? Jawab : m
bukan merupakan beda,, taetapi m adalah banyak himpunan ranking penjenjang
2) Apakah pengaruh faktor koreksi ? Berikan contohnya .
Jawab : faktor koreksi digunakan untuk memperbesar nilai W dan dapat
dijadikan sebagai pembuat suatu koreksi pada suatu hal yang
terdapat pada kasus tertentu.
Contoh :
Jenjang yang diterima oleh sepuluh entity pada tiga variabel
Entiti
variabel
a
b
c
d
e
f
g
X
1
4,5
2
4,5
3
7,5 6
Y
2,5
1
2,5
4,5
4,5
8
9
Z
2
1
4,5
4,5
4,5
4,5 8
Rj
5,5
6,5
9
13,5
12
20
23

h
9
6,5
8
23,5

i
7,5
10
8
25,5

j
10
6,5
10
26,5

Mean Rj adalah 16,5


S 5,5 16,5 6,5 16,5 9 16,5 13,5 16,5 12 16,5 20 16,5
2

23 16,5 2

23,5 16,5 25,5 16,5 23 16,5 26,5 16,5


2

591

TX

TY

TZ

12
3

12
3

12

1
12

2 23 2
1
12

2 23 2 23 2
1,5
12

4 33 3
7
12

S
m N N mT
2

1 2
3
12

591
0,828
10 10 3 9,5

Dari perhitungan tadi, dapat disimpulkan bahwa faktor koreksi (T)


berfungsi untuk memperbesar nilai W.

Catatan:
1. Jika semua data konsisten, apa yang menjadi rumus kekonsistenannya ?
Jawab : rumus koefisien konsistensinya tetap sama yaitu
Untuk N ganjil :
K

12 R R

N N 2 1

Untuk N genap
K

12 R R

N N

3N

Untuk data yang konsisten, kita tidak perlu lagi memasukkan angka-angkanya
ke dalam rumus, sebab telah ditetapkan bahwa untuk data yang konsisten
nilai K = 1.
2. Jika N > 7, nilai 2 yang diperoleh dengan rumus
2

8 1 N
1
C3 d df
N 4 4
2

Apakah 2 itu 2 tabel atau 2 hitung? (Farida Yanti)


Jawab : jika N > 7, 2 yang diperoleh merupakan 2 hitung yang nantinya
akan dibandingkan dengan 2 tabel.
Dari analisis di atas, diharapkan mahasiswa menetapkan tujuan pengkajian
analisis koefisien seperti ini yang tujuannya agar dapat mengetahui kalkulasikalkulasi dalam

perangkingan. Secara khusus diharapkan mahasiswa

dapat mengetahui koefisien konkordansi W untuk rangking yang terikat:


mahasiswa mengetahui signifikansi koefisien konkordansi W; mahasiswa
dapat mengetahui koefisen konsistensi K dan cara perhitungannya, dan
mahasiswa mengetahui signifikansi koefisien konsistensi K
Dari materi yang ada, dapat diperoleh kesimpulan, yaitu :
1.

Koefisien konkordansi W merupakan suatu pengukuran deskriptik


untuk himpunan rangking > 2 dengan persetujuan yang sempurna. Dan
koefisien konkordansi W ini diperkenalkan oleh Kendall.

2.

Untuk Rj, jumlah rangking ke-j dan N yang menyatakan banyak


anggota, maka kuadrat jumlah rangking

Rj

3. Koefisien konkordansi W didefinisikan sebagai rasio dari nilai maksimum


dari S, yang didefinisikan
W

12 S
m N3 N
2

4. Konkordansi antara m himpunan rangking dapat dijelaskan melalui


perhitungan koefisien korelasi rangking urutan Spearman untuk semua
pasangan rangking dengan nilai rata-rata yang dilambangkan dengan

yang didefinisikan sebagai berikut :

5. Untuk m = 2,

mW 1
m 1

2w 1

6. Saat rangking yang terikat terjadi, faktor koreksi dari masing-masing


himpunan rangking adalah :

t
T

12

7.

Rumus W untuk rangking yang terikat dengan melibatkan faktor

koreksi adalah :
W

8.

1 2 3
m N N m T
2

Pada signifikansi koefisien konkordansi W, untuk n 7 , telah disusun


sebuah tabel yang diperkenalkan oleh Friedman, dan diperkenalkan
kembali oleh Kendall dan Siegel

9.

Untuk n > 7, signifikansinya dapat diaplikasikan pada tes x 2 dengan


rumus
x 2 m N 1W

10.

Untuk mengetahui hubungan antara beberapa


objek, dibuatlah suatu pilihan antara beberapa objek, dibuatlah suatu
pilihan antara objek yang satu dengan objek yang lain yang dikenal
dengan metode perbandingan pasangan.

11.

Pada metode perbandingan pasangan, jumlah


pasangan yang mungkin adalah kombinasi dari N (kejadian) yang
ditampilkan sekaligus, yaitu :

12.

N(N - 1)
2

Pada metode perbandingan pasangan, akan


muncul beberapa respon (jawaban) yang tidak konsisten dan hal ini terjadi
karena perbedaan dasar perhitungan

13.

Koefisien konsistensi K, didefinisikan seperti di


bawah
K

ini

jumlah kuadrat yang dicari - jumlah kuadrat nilai minimum


jumlah kuadrat nilai maksimum - jumlah kuadrat nilai minimum

atau secara lebih sederhana :


K

12 R R

N N 1
2

dengan N sebagai objek dan R jumlah baris


14.

Untuk menafsirkan koefisien K


dapat ditunjukkan dengan menggunakan sejumlah respon inkonsisten (d),
dengan
- untuk N ganjil
d

N N 2 1 1 K
24

- untuk N genap
d

N N 2 4 1 K
24

15.

Signifikansi koefisien konsistensi


x dapat dilihat dari distribusi sejumlah hubungan tiga serangkai yang
dipilih secara acak

16.

Untuk

signifikansi

koefisien

konsistensi K, Kendall membuat sebuah tabel probabilitas untuk N = 2


sampai 7
rumusnya adalah

x2

8 1 N
C3 d 12 df
N 4 4

dan
df

N N 1 N 2

N 4 2

Korelasi Biserial
Korelasi biserial digunakan untuk data interval dengan data dikotomi murni.
Rumus yang digunakan adalah:
rb

Xp Xq
St

pq

, atau
y

rpbis rbis

pq

di mana:
X p = rerata nilai X dari kelompok variabel dikotomi, di mana sampel dibagi
kedalam dua kelompok
X q = rerata nilai X dari kelompok rendah
p = proporsi kelompok tinggi
q = proporsi kelompok rendah
St = simpangan baku total sampel dalam variabel H yang mengandung data
kontinu.
y = ordinat unit kurva distribusi normal pada titik pembagian antara segmen yang
memuat proporsi-proporsi p dan q (seperti tabel berikut)
Tabel Standard sekor (deviasi-deviasi) dan ordinal yang menghubungkan
deviasi-deviasi terhadap daerah di bawah kurva normal ke dalam suatu proporsi
besar (B) dan proporsi kecil (C) dan juga nilai BC .
B
Daerah
yang lebih
luas
0,500
0,505
0,510
0,515
0,520
0,525
0,530
0,535
0,540
0,545
0,550

z
Sekor
Standard
0,0000
0,0125
0,0251
0,0376
0,0502
0,0627
0,0753
0,0878
0,1004
0,1130
0,1257

y
ordinat

BC

0,3989
0,3989
0,3988
0,3987
0,3984
0,3982
0,3978
0,3974
0,3969
0,3964
0,3958

0,5000
0,5000
0,4999
0,4998
0,4996
0,4994
0,4991
0,4988
0,4984
0,4980
0,4975

C
Daerah
yang lebih
kecil
0,500
0,495
0,490
0,485
0,480
0,475
0,470
0,465
0,460
0,455
0,450

0,555
0,560
0,565
0,570
0,575
0,580
0,585
0,590
0,595
0,600
0,605
0,610
0,615
0,620
0,625
0,630
0,635
0,640
0,645
0,650
0,655
0,660
0,665
0,670
0,675
0,680
0,685
0,690
0,695
0,700
0,705
0,710
0,715
0,720
0,725
0,730
0,735
0,740
0,745
0,750
0,755
0,760
0,765
0,770
0,775
0,780

0,1383
0,1510
0,1637
0,1746
0,1891
0,2019
0,2147
0,2275
0,2404
0,2533
0,2663
0,2793
0,2924
0,3055
0,3186
0,3319
0,3451
0,3585
0,3719
0,3853
0,3989
0,4125
0,4261
0,4399
0,4538
0,4677
0,4817
0,4959
0,5101
0,5244
0,5388
0,5534
0,5681
0,5828
0,5978
0,6128
0,6280
0,6433
0,6588
0,6745
0,6903
0,7063
0,7225
0,7388
0,7554
0,7722

0,3951
0,3944
0,3936
0,3928
0,3919
0,3909
0,3899
0,3887
0,3876
0,3863
0,3850
0,3837
0,3822
0,3808
0,3792
0,3776
0,3759
0,3741
0,3723
0,3704
0,3684
0,3664
0,3643
0,3621
0,3599
0,3576
0,3552
0,3528
0,3503
0,3477
0,3450
0,3423
0,3395
0,3366
0,3337
0,3306
0,3275
0,3244
0,3211
0,3178
0,3144
0,3109
0,3073
0,3036
0,2999
0,2961

0,4970
0,4964
0,4958
0,4951
0,4943
0,4936
0,4927
0,4918
0,4909
0,4899
0,4889
0,4877
0,4867
0,4854
0,4841
0,4828
0,4814
0,4800
0,4785
0,4770
0,4754
0,4737
0,4720
0,4702
0,4684
0,4665
0,4645
0,4625
0,4604
0,4583
0,4560
0,4538
0,4514
0,4490
0,4465
0,4440
0,4413
0,4386
0,4359
0,4330
0,4301
0,4271
0,4240
0,4208
0,4176
0,4142

0,445
0,440
0,435
0,430
0,425
0,420
0,415
0,410
0,405
0,400
0,395
0,390
0,385
0,380
0,375
0,370
0,365
0,360
0,355
0,350
0,345
0,340
0,335
0,330
0,325
0,320
0,315
0,310
0,305
0,300
0,295
0,290
0,285
0,280
0,275
0,270
0,265
0,260
0,255
0,250
0,245
0,240
0,235
0,230
0,225
0,220

0,785
0,790
0,795
0,800
0,805
0,810
0,815
0,820
0,825
0,830
0,835
0,840
0,845
0,850
0,855
0,860
0,865
0,870
0,875
0,880
0,885
0,890
0,895
0,900
0,905
0,910
0,915
0,920
0,925
0,930
0,935
0,940
0,945
0,950
0,955
0,960
0,965
0,970
0,975
0,980
0,985
0,990
0,995
0,996
0,997
0,998

0,7892
0,8064
0,8239
0,8416
0,8596
0,8779
0,8965
0,9154
0,9364
0,9542
0,9741
0,9945
1,0152
1,0364
1,0581
1,0803
1,1031
1,1264
1,1503
1,1750
1,2004
1,2265
1,2536
1,2816
1,3106
1,3408
1,3722
1,4051
1,4395
1,4757
1,5141
1,5548
1,5982
1,6449
1,6954
1,7507
1,8119
1,8808
1,9600
2,0537
2,1701
2,3263
2,5758
2,6521
2,7478
2,8782

0,2922
0,2882
0,2841
0,2800
0,2757
0,2714
0,2669
0,2624
0,2578
0,2531
0,2482
0,2433
0,2383
0,2332
0,2279
0,2226
0,2171
0,2115
0,2059
0,2000
0,1941
0,1808
0,1818
0,1755
0,1690
0,1624
0,1556
0,1487
0,1416
0,1343
0,1268
0,1191
0,1112
0,1031
0,0948
0,0862
0,0773
0,0680
0,0584
0,0484
0,0379
0,0267
0,0145
0,0118
0,0091
0,0063

0,4108
0,4073
0,4037
0,4000
0,3962
0,3923
0,3883
0,3842
0,3800
0,3756
0,3712
0,3666
0,3619
0,3571
0,3521
0,3470
0,3417
0,3363
0,3307
0,3250
0,3190
0,3129
0,3066
0,3000
0,2932
0,2862
0,2789
0,2713
0,2634
0,2551
0,2465
0,2375
0,2280
0,2179
0,2073
0,1960
0,1838
0,1706
0,1561
0,1400
0,1226
0,0995
0,0705
0,0631
0,0547
0,0447

0,215
0,210
0,205
0,200
0,195
0,190
0,185
0,180
0,175
0,170
0,165
0,160
0,155
0,150
0,145
0,140
0,135
0,130
0,125
0,120
0,115
0,110
0,105
0,100
0,095
0,090
0,085
0,080
0,075
0,070
0,065
0,060
0,055
0,050
0,045
0,040
0,035
0,030
0,025
0,020
0,015
0,010
0,005
0,004
0,003
0,002

0,999
0,9995

3,0902
3,2095

0,0034
0,0018

0,0316
0,0224

0,001
0,0005

Sumber: Guilford & Fruchter, Fundamental Statistics in Psychology and


Education, McGraw-Hill Series in Psychology:,1978: 511-513.

Contoh:
Pada Tabel berikut diketahui data dikotomi X dan data kontinu Y dari 25
siswa. Maka korelasi biserial dihitung sebagai berikut
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
Y

X
1
1
1
0
0
0
1
0
1
0
1
0
0
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
0

Y
20
10
15
17
7
9
16
30
40
52
41
22
27
19
10
11
18
17
13
13
15
15
16
16
17
10.87

Y0

Y1
20
10
15

17
7
9
16
30
40
52
41
22
27
19
10
11
18
17
13
13
15
15
16
16
17

Untuk data Yo dan Y1 dihitung sebagai berikut.


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Y0
17
7
9
30
52
22
27
17
13
15
16
17
20.17

Y1
20
10
15
16
40
41
19
10
11
18
13
15
16
18.77

Dari data pada tabel diperoleh Y = 10,87, Yo

242
244
20,77 , dan Y1
18,77
12
13

13
0,52 , dan banyak yang menjawab salah
25
18,77 20,17 (0,52)(0,48)
12

0,0807
0,48 . Dengan demikian: rb
q=
10,87
0,3984
25

, banyak yang menjawab benar p=

p
q
Y0

Y1

Y
rb

0.52
0.48
20.16667
18.76923
10.86692
-0.0807

Contoh:
Diketahui data sekor ujian dua kelompok yang berhasil dan yang gagal seperti
pada Tabel frekuensi distribusi berikut . Tentukanlah koefisien korelasi biserial.
Sekor
40-49
50-59
60-69
70-79
80-89
90-99
100-109
110-119

f-sukses
1
3
10
27
30
26
21

f-gagal
2
6
4
11
21
16
7
3

ds

fs x ds

-4
-3
-2
-1
0
1
2

-4
-9
-20
-27
0
26
42

dg
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3

fg x dg
-8
-18
-8
-11
0
16
14
9

120-129
130-139

Rerata
p
q

7
3
5
4
130
70
98.26923 83.64286
0.65
0.35

21
20
49

-6

Dari data tabel di atas diperoleh:


Xs

90 99 49
80 89 6
.10
.10
98,1692 , dan X g
83,6429
2
2
130
70

Sekor
40-49
50-59
60-69
70-79
80-89
90-99
100-109
110-119
120-129
130-139

Mean
s

fS
1
3
10
27
30
26
21
7
5

FG
2
6
4
11
21
16
7
3

fTotal
2
7
7
21
48
46
33
24
7
5
200
93.15
17.7271

d
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
5

fTd
-8
-21
-14
-21
0
46
66
72
28
25
173

xi
44.5
54.5
64.5
74.5
84.5
94.5
104.5
114.5
124.5
134.5

xi - x
-48.65
-38.65
-28.65
-18.65
-8.65
1.35
11.35
21.35
31.35
41.35

(xi - x )2
2366.823
1493.823
820.8225
347.8225
74.8225
1.8225
128.8225
455.8225
982.8225
1709.823

fT (xi - x )2
4733.645
10456.76
5745.758
7304.273
3591.48
83.835
4251.143
10939.74
6879.758
8549.113
62535.5

Dari data tabel di atas diperoleh


st

( xi x ) 2
n 1

62535,5
17,7271
200 1

Dengan demikian: rb

98,27 83,64 (0,65(0,35)

0,507
17,73
0,3704

Soal 1.
Disajikan data jawaban tes objektif 20 siswa terhadap 20 butir tes seperti tertera
pada tabel di bawah ini. Tentukan korelasi biserial dari masing-masing butir tes
dari data pada tabel berikut:
1
2
3
4
5

1
0
1
1
0
0

2
0
0
0
0
0

3
1
1
1
0
1

4
1
1
0
1
1

5
0
0
0
0
0

6
1
0
1
0
1

7
0
0
1
0
1

8
1
0
1
1
1

9
1
1
1
1
0

10
0
1
0
1
0

11
1
1
1
1
1

12
0
0
0
0
0

13
0
0
0
0
0

14
0
0
1
1
0

15
0
0
0
0
0

16
0
0
0
0
0

17
1
1
1
1
1

18
0
0
1
0
1

19
1
1
1
1
1

20
0
1
1
0
1

6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

st

1
0
0
1
0
0
1
0
1
0
1
1
1
0
1
10

0
0
0
1
1
0
0
0
0
1
1
1
1
1
0
7

0
0
1
1
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
12

0
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
0
1
0
1
14

0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
1
1
1
1
0
6

0
1
1
0
1
1
0
0
1
1
0
1
0
1
0
11

0
1
1
0
0
1
0
1
1
0
0
1
1
0
1
10

1
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
16

0
1
0
1
0
1
0
1
1
0
0
1
0
1
1
12

1
0
1
0
1
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
12

0
0
0
1
1
0
0
1
0
1
1
1
0
0
0
11

0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
1
0
1
0
4

0
0
0
0
1
0
1
0
0
0
0
1
1
1
1
6

0
1
1
1
0
0
1
1
1
0
1
0
1
0
1
11

0
0
0
1
0
0
0
0
1
1
1
0
1
0
1
6

1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
11

1
1
0
1
1
1
0
1
0
0
0
1
1
1
1
15

0
1
0
0
1
0
1
0
1
0
0
1
0
1
1
9

1
1
0
1
1
1
0
1
0
1
1
0
1
0
1
15

1
1
0
1
1
0
1
0
1
1
1
0
1
0
1
13

Korelasi Biserial Titik


1. Korelasi Biserial Titik (Point Biserial Correlation)
Korelasi antara dua data berbentuk data dikotomi dan data kontinu
dihitung dengan koefisien korelasi biserial titik. Dalam hal ini, jika X menyetakan
data dikotomi maka data tersebut berbentuk (0,1), dan Y data kontinu. Maka
rumus koefisien korelasi biserial titik adalah:

pb

Y1 Y 0
y

pq atau pb

pb

Y1 Y 0
N y

N p N q atau pb

Y1 YY
Y
Y1 YY
Y

p
atau
q
Np
Nq

p = proporsi sekor X = 1 pada data dikotomi


q = proporsi sekor X = 0 pada data dikotomi
Y1 = Rerata Y pada sekor X = 1
Y0 = Rerata Y pada sekor X = 0
Y = Simpangan Baku sekor total Y
Np dan Nq masing-masing menyatakan frekuensi Y1 dan Y0
Dalam hal ini Korelasi Biserial Titik adalah Korelasi Product Moment
Contoh .
Pada Tabel berikut diketahui data dikotomi X dan data kontinu Y dari 25
siswa. Maka korelasi biserial titik dihitung sebagai berikut
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

X
1
1
1
0
0
0
1
0
1
0

Y
20
10
15
17
7
9
16
30
40
52

Y0

Y1
20
10
15

17
7
9
16
30
40
52

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
Y

1
0
0
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
0

41
22
22
27
27
19
10
11
18
17
17
13
13
13
15
15
15
16
16
16
17
17
10.86692

41

19
10
11
18

13
15
16

Untuk data Yo dan Y1 dihitung sebagai berikut.


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Y0
17
7
9
30
52
22
27
17
13
15
16
17

Y1
20
10
15
16
40
41
19
10
11
18
13
15
16
11.99874 10.15836

Dengan demikian:
p
q
Yo
Y1
Y

0.52
0.48
20.16667
18.76923
10.86692

pb

pb

0.0321

Y0 Y1
Y

p.q

20.16667-18.76923
(0.52)(0,48) 0.0321
10.86692

KORELASI RAAANK KENDAL (TAU)


Tau Kendall seringkali digunakan pada tempat rho Spearman. Jika kita
miliki pasangan rakn untuk setiap individu, statistik tau dihitung untuk
menyatakan

tingkat

kekuatan

hubungan

antara

rank-rank

tersebut.

Keisgnifikanan hubungan itu diuji sebagai berikut.


Asumsikan bahwa seorang peneliti ingin menentukan kuat hubungan
antara penilaian seorang juri terhadap sepuluh kontestan pada suatu kontes.
Hasil pengukuran itu ditampilkan berdasarkan rank untuk dua juri yang ditunjuk.
Rumus tau yang digunakan adalah sebagai berikut:

tau

1
2

P-Q
N ( N 1)

di mana P= jumlah total rank yang lebih tinggi, Q= jumlah total rank yang lebih
rendah, dan N = jumlah pasangan-pasangan rank.
Contoh:
Sebuah kasus di mana bebrapa rank ditampilkan seperti pada tabel berikut.
Hitunglah nilai tau pada rank kolom pertama sehingga range disusun dari yang
terendah ke yang tertinggi.
Kontestan
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
Penyelesaian:

Ranking oleh juri A


1
2
3,5
3,5
5
6
8
8
8
10

Ranking oleh juri B


3
5
1,5
4
1,5
6
8
7
10
9

Rank pada kolom pertama disusun dari yang terendahke yang tertinggi.
Rank pada kolom kedua adalah gabungan. Kita harus menentukan
gabunganpada kolom 2. Dalam urutannya dihitung jumlah rank dalam kolom 2
sehingga untuk kontestan A, misalnya jumlah rank yang lebih besar dalam nilai
numerik di mana tujuh bilangan lebih besar dari 3. Bilangan rank yang lebih
besar = 7 (yaitu angka 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10).
Kemudian jumlah rank yang lebih kecil dari 3 adalah 2 (yaitu angka1,5
dan 1,5). Seterusnya, hitung jumlah rank pad kolom 2 yang lebih besar tinggi dari
rank pada kontestan B, misalnya jumlah rank yang lebih tinggi dari 5 ada 5
angka (6, 7, 8, 9, dan 10).
Selanjutnya hitung jumlah rank yang lebih rendah dari 5. Di sini tidak
terkandung rank yang diinginkan (kontestan A). Dengan ranking untuk A didapat
jumlah rank yang lebih kecil = 3
Kemudian hitung jumlah rank yang lebih tinggi dari kontestan C,
misalnya jumlah rank yang lebih besar dari 1,5. Semuarank, kecuali yang lain
dari 1,5 lebih tinggi, tetapi tidak dilibatkan sehingga dipilih angka 3, dan 5 untuk
kontestan A dan B, sehingga diperoleh;
Angka yang merupakan rank lebih tinggi = 6
Jumlah rank yang lebih rendah dari 1,5 = 0
Selanjutnya htung kedua jumlah rankyang lebih tinggi dan jumlah rank
yang lebih rendah dari yang di bawah petimbangan seluruh sisa rank pada kolom
2. Tabel hasilnya adalah sebagai berikut. Catatan: Nilai-nilai untuk kontestan
dasar keduanya nol seperti rank berikut:
Kontestan
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J

No. aRank yg lebih


tinggi
7
5
6
5
5
4
2
2
0
0

No. aRank yg lebih


rendah
2
3
0
1
0
0
1
0
1
0

Jumlahkan angka-angkadalam masing-masing kolom di atas.


7 + 5 +...+ 0 = 36 jumlah kolom 1 (rank yg lebih tinggi)
2 + 3 + ... + 0 = 8 jumlah kolom 1 (rank yg lebih rendah)
Kemudian kurangkan kolom 2 dari jumlah kolom 1. Hati-hatulah apakah hasilnya
positip atau negatip. 36 8 = +28
Selanjutnya dari tabel awal hitung jumlah rank

yang terkait dalam

kolom pertama (rank diberikan oleh juri A). Kategiri setiap kaitan sebagai
himpunan dua, tiga, empat dan seterusnya, sesuai jumlah kontestan yang terkait.
Kemudian hitung x(x -1) untuk setiap kaitan, di mana x merupakan jumlah
kontestan yang dikaitkan penempatan, misalnya 2 ( 2 - 1) = 2, 5 (5 -1) = 20 dan
sebagainya Tambahkan perkalian-perkalian

tersebut, lalu dibagi dengan 2.

Catatan: Angka 2 selalu digunakan. Dalam contoh ini, kontestan C dikaitkan


untuk posisi ketiga, keempat (kedua ditandai untuk rank 3,5) dan kontestan G, H
dan I dikaitkan untuk tempat ketujuh, kedelapan dan kesembilan (ditandai untuk
rank 8). Dalam contoh ini angka-angka itu merupakan kumpulan dua dan satu
2(2 1) 3(3 1)
4
2

himpunan dari tiga, Justru itu:

Ulangi semua perhitungan sebelumnya gunakan rank di dalamkolom


kedua (rank ditandai oleh juri B). Catatlah bahwa kontestan C dikaitkan pada
rank 1,5. Justru Itu Kita miliki satu himpunan dari dua, sehingga:
Hitung

2( 2 1)
1.
2

N ( N 1)
, di mana N mengacu pada jumlah total rank dalam
2

kolom (10 dalam contoh ini).

N ( N 1) 10(10 1)

45
2
2

Kemudian kurangkan hasil tahap sebelumnya yaitu 45-4 = 41


Lalu kurangkan pula 46-1= 44
Kalikan hasil tersebut yaitu 41 (44) =1804, lalu tari akarnya yaitu
28

Terakhir hitung koefisien tau dengan tau 42,474 0,66

1804

= 42,474

Soal 1
Pada Tabel berikut diketahui data dikotomi X dan data kontinu Y dari 50
siswa. Hitung korelasi biserial titiknya.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32

X
1
1
1
0
0
0
1
0
1
0
1
0
0
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1

Y
17
13
13
15
15
16
16
17
25
50
57
47
55
68
70
82
66
75
38
44
66
88
90
16
17
25
50
57
47
55
68
70

Y0

Y1

33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

1
1
0
1
1
0
0
0
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0

82
66
75
38
44
66
88
90
36
17
35
25
44
32
45
43
62
74

Dengan demikian:
p
q
Yo
Y1
Y
pb

pb
...

Y0 Y1
Y

p.q

Soal 2
Pada Tabel berikut diketahui data dikotomi X dan data kontinu Y dari 75
siswa. Hitung korelasi biserial titiknya
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36

X
1
1
1
0
0
0
1
0
1
0
1
0
0
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
1
0
1

Y
10
11
18
17
13
13
15
15
16
16
17
25
50
57
47
55
18
17
13
13
15
15
16
16
17
25
50
57
47
55
68
70
82
66
75
38

Y0

Y1

37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75

1
0
0
0
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
0

44
66
88
90
36
17
35
25
44
32
45
43
62
74
25
50
57
47
55
68
70
82
66
75
38
44
66
88
90
36
17
35
25
44
32
45
36
17
35

Dengan demikian:

p
q
Yo
Y1
Y
pb

pb

Y0 Y1
Y

p.q

...
Soal 3
Pada Tabel berikut diketahui data dikotomi X dan data kontinu Y dari 100
siswa. Hitung korelasi biserial titiknya
N0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

X
1
1
0
0
1
1
1
1
0
1
1
0
0
0
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0

Y
25
35
25
44
32
45
43
62
74
25
50
57
47
55
68
70
82
66
75
38
44
15
16
16

Y0

Y1

25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66

1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
0
0
1
1
0

17
25
50
57
47
55
68
70
82
66
75
38
44
66
88
90
36
17
35
25
44
32
45
43
62
74
25
50
57
47
55
68
70
82
66
75
38
44
66
88
90
36

67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100

0
1
1
1
0
0
0
1
0
1
1
0
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
0

17
35
25
44
32
45
36
17
35
57
47
55
68
70
82
66
75
38
44
66
88
90
36
17
35
25
44
32
45
43
38
44
66
88

Dengan demikian:
p

q
Yo
Y1
Y
pb

pb

Y0 Y1
Y

p.q

...
Jika sekor butir soal adalah berbentuk data dikotomi yang disekor dengan
nilai 1 atau 0 maka digunakan koefisien korelasi biserial yang dalam hal ini
rumus yang digunakan adalah untuk menghitung besarnya korelasi antara sekor
masing-masing butir dengan sekor totalnya sebagai berikut:
rbis ( i )

Xi Xt
st

pi
qi

rbis(i) = koefisien koelasi biserial antara sekor butir-i dengan sekor total
Xi

= rerata sekor total responden yang menjawab benar butir soal ke-i

Xt

= rerata sekor total seluruh responden

st = simpangan baku sekor total seluruh responden


pi = proporsi jawaban benar butir soal ke-i
qi = proporsi jawaban salah butir soal ke-i
Contoh: Disajikan data jswsbsn dan kunci jawaban dari 20 siswa yang
menjawab tes objektif sebagai berikut:

Kunci
jawab
an
1
2
3
4
5
6

1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0

1
1

1
2

1
3

1
4

1
5

1
6

1
7

1
8

1
9

2
0

A
E
A
A
C
C
A

C
C
C
C
C
C
A

A
B
B
B
C
B
B

A
C
C
C
E
C
C

E
B
B
E
E
B
B

A
B
B
B
B
B
B

A
C
B
C
B
C
A

A
A
A
A
A
A
A

E
D
C
E
A
E
B

B
B
B
B
B
B
B

C
E
C
C
E
C
C

A
B
B
B
E
B
D

C
C
C
C
D
C
D

B
B
B
C
B
B
V

B
E
C
C
A
C
C

C
C
B
C
D
C
D

E
A
A
E
A
E
A

D
D
C
D
D
D
D

E
E
E
E
E
D
A

A
B
A
B
A
B
A

7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

B
D
A
B
C
A
C
A
C
A
A
A
D
A

D
B
A
A
C
D
B
B
A
A
A
A
A
D

D
C
C
B
A
D
D
D
C
C
C
C
C
C

B
B
B
B
B
C
B
B
C
B
D
B
D
B

C
C
C
B
D
D
C
A
B
B
B
B
B
C

C
C
B
C
C
D
D
C
C
B
C
B
C
A

E
E
C
C
E
C
E
E
A
A
E
E
D
E

D
D
D
C
A
A
D
D
D
D
D
D
D
D

E
A
E
D
E
A
E
E
C
A
E
A
E
E

B
A
B
A
B
C
B
A
A
A
A
A
A
A

D
B
C
C
E
D
C
B
C
C
C
B
B
B

B
A
C
C
D
E
B
D
A
B
A
B
A
B

C
C
C
A
C
A
C
D
B
B
A
A
A
A

E
E
E
D
A
E
E
E
A
E
A
E
A
E

B
E
A
B
B
C
B
A
A
A
E
A
E
A

A
A
D
C
A
A
C
C
A
A
A
A
A
A

A
B
A
A
A
E
A
D
C
C
A
A
A
A

E
D
C
E
C
E
C
E
C
C
E
A
E
E

B
C
B
B
B
D
B
A
B
B
A
B
A
B

14
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
1
1
1
0
1
0
1
0
1
11

15
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
1
1
0
1
0
1
6

16
0
0
0
0
0
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
11

17
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
0
0
0
1
1
1
1
15

C
A
C
C
A
C
A
C
C
C
D
C
D
C

Atau setelah diubah ke bentuk data dikotomi menjadi:


No Butir Tes
1
2 3
1
0
0 1
2
1
0 1
3
1
0 1
4
0
0 0
5
0
0 1
6
1
0 0
7
0
0 0
8
0
0 1
9
1
1 1
10 0
1 0
11 0
0 0
12 1
0 0
13 0
0 0
14 1
0 0
15 0
1 1
16 1
1 1
17 1
1 1
18 1
1 1
19 0
1 1
20 1
0 1

10 7 12

4
1
1
0
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0
1
0
1
0
1
14

5
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
1
1
1
1
0
6

6
1
0
1
0
1
0
1
1
0
1
1
0
0
1
1
0
1
0
1
0
11

7
0
0
1
0
1
0
1
1
0
0
1
0
1
1
0
0
1
1
0
1
10

8
1
0
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
16

9
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
0
1
1
0
0
1
0
1
1
12

10
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
12

11
1
1
1
1
1
0
0
0
1
1
0
0
1
0
1
1
1
0
0
0
11

12
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
1
0
1
0
4

13
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
1
0
0
0
0
1
1
1
1
6

st

Selanjutnya
1
1

3
8

4
8

6
8

8
8

9
8

10

18
0
0
1
0
1
0
1
0
0
1
0
1
0
1
0
0
1
0
1
1
9

19
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
0
1
1
0
1
0
1
15

20
0
1
1
0
1
1
1
0
1
1
0
1
0
1
1
1
0
1
0
1
13

Total
8
9
12
8
10
7
11
9
12
11
7
6
8
11
12
13
15
15
12
15
211
10.55
2.692

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

p
X

rbis

9
12

9
12
10

9
8
10

12

12

10

10

7
12

12
11

9
12

11
9
12
11
7

11
9
11

11
7

11
9

12
8
10
7
11
9
12

9
12
8

9
8
7

11
9
12
11

6
8
11

11
12
13
15
15
12

12
13
13
15
15
15
15
12
15
15
115 90
142
10
7
12
11.5 12.86 11.83
0.41 0.45
0.42

13
15
15
147
14
10.5
0.37

12
13
15
15
12

11
12
15

8
11
15
15

12

15
78
118
113
6
11
10
13
10.73 11.3
0.46 0.38
0.40

8
11
12
13
15
15
12
15
178
16
11.13
0.39

8
11

11
12
13
15
15
15
12
12
15
15
128
137
12
12
10.67 11.42
0.38
0.40

sambungan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

P
X

11
8
9
12
8
10

12

13

15

16

12
8
11
9
12

9
12
11

7
11
9
12

11
6

8
12
13
15

14

6
8
11

12
118
48
11
4
10.73 12

15
15
12
15
74
6
12.33

12
11
7

18
12
10
11
11

13
15

15

15
120
11
10.91

15
78
6
13

19
8
9
12
8
10
7
11

20

12
11
7

12
11

6
8

11
12
13

12
15

7
6

17
8
9
12
8
10
7
11

15
15
12
15
160
15
10.67

10
7
11

6
8

11
12
13
15
15
12
15
122
11
11.09

9
12

12
13

11
12
13

15

15

15
158
15
10.53

15
144
13
11.08

15
12
15
103
9
11.44

rbis

0.38

0.42 0.43

0.38

0.46 0.39

0.38

0.40

0.37

0.39

Misalnya: p1 = 10, X 1 = 11,5, X t = 10,55, dan st = 2.692, maka


rbis1

11,50 10,55
2,692

0,5
0,41 ,
0,5

Buktikan yang lainnya.


Soal 1.
Tentukan masing-masing korelasi biserial butir dari data jawaban 30 siswa

Siswa

terhadap 20 butir tes objektif seperti pada tabel berikut:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

1
0
0
0
1
1
0
1
1
0
0
1
0
0
0
0
0
1
0
0
1
1
1
0
1
1
1

2
0
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
1
1
1
0
0
0
0
0
1
0
1

3
0
0
1
0
1
1
1
0
1
1
0
0
0
1
0
0
0
1
1
1
1
1
0
0
0
1

4
0
0
1
0
0
1
0
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
0
1
1

5
1
1
0
0
0
1
0
1
1
0
1
1
0
0
0
0
0
1
1
0
0
0
0
0
0
0

6
1
0
1
0
0
1
0
1
0
0
0
1
1
1
1
1
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0

7
1
0
0
0
1
0
0
1
0
0
1
0
1
0
0
0
1
0
1
1
1
0
0
1
1
1

8
0
0
1
0
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
0
1
1
0
1
1
1
1
1
0
0
0

9
1
0
0
1
0
1
0
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
1
1
1
0
1
1

10
1
1
1
1
1
0
0
0
1
0
1
0
0
1
0
1
0
1
0
0
0
1
1
1
1
0

11
1
0
1
1
1
0
1
1
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0

12
0
0
0
1
1
1
1
0
0
1
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
1
1
0
0
0

13
0
0
0
0
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1

14
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1
0
1
0
1
1
1
0
0
0
0
1
0
1
1
0

15
1
0
0
0
1
1
1
1
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
1
1
0
1
0
0
0
0

16
0
1
0
0
1
0
0
0
1
0
1
0
1
1
0
0
1
1
0
1
0
0
0
0
0
1

17
0
1
0
1
1
1
1
0
1
0
0
0
0
1
0
1
0
1
0
0
0
0
1
0
1
1

18
0
0
0
1
1
1
0
1
1
1
1
0
0
1
0
0
1
1
0
0
1
0
0
1
1
1

19
0
0
0
1
1
0
1
0
0
0
1
0
1
1
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
1
1

20
1
1
1
0
0
0
1
1
1
0
1
0
0
0
0
1
0
0
0
1
1
1
1
0
0
1

27
28
29
30
B
S
p
q

1 1
1 1
0
1
0
0
0
0 0
0
1
1
1 0 0 0
0
0
0 0
0 1
1
1
0
1
0
0 0
1
0
1
1 0 1 0
0
1
1 1
1 1
0
0
0
0
1
1 0
0
1
1
0 1 1 1
0
1
1 1
0 0
1
1
1
1
1
0 0
0
0
1
0 1 1 1
0
0
15 11 15 19 11 14 13 14 14 15 8
10 14 17 12 12 15 16 10 15
15 19 15 11 19 16 17 16 16 15 22
20 16 13 18 18 15 14 20 15
0.5 0.37 0.5 0.63 0.37 0.47 0.43 0.47 0.47 0.5 0.267 0.33 0.47 0.57 0.4 0.4 0.5 0.53 0.33 0.5
0.5 0.63 0.5 0.37 0.63 0.53 0.57 0.53 0.53 0.5 0.733 0.67 0.53 0.43 0.6 0.6 0.5 0.47 0.67 0.5

Soal 2.
Tentukan masing-masing korelasi biserial butir soal dari data jawaban 55 siswa

Siswa

terhadap 12 butir tes objektif seperti pada tabel berikut:

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

Butir
1 2 3

10 11 12

1
1
0
0
0
1
0
1
1
0
1
1
0
0
0
0
0
1
1
0
0
0
0
0
0
0

0
0
1
0
1
1
0
1
0
0
1
0
0
0
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
0

1
0
0
1
0
1
0
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
1
1
1
0
1
1

0
0
0
1
0
1
1
1
1
0
1
0
0
1
0
1
0
1
0
0
0
1
1
1
1
1

1
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
1
1
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
0
0

1
0
0
1
0
0
0
1
0
1
0
0
0
0
0
1
0
0
1
0
1
1
1
0
0
0

0
1
0
1
0
1
1
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1

1
0
0
0
0
1
1
0
1
1
1
0
1
0
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
1
0

1
0
1
0
0
1
0
1
0
0
0
1
1
1
1
1
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0

1
0
0
0
1
0
0
1
0
0
1
0
1
0
0
0
1
0
1
1
1
0
0
1
1
1

1
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
1
0
1
0
1
1
0
1
0
0
1
0

1
1
0
0
1
0
0
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
0
0
1

27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
B
S
p
q

0
1
0
1
1
t
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1
0
1
1
0

1
1
0
1
0
t
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1

0
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1
0

0
1
0
1
0
1
0
1
0
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1

0
0
1
1
1
0
0
1
0
0
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1
0
1

1
0
1
0
0
1
0
1
1
0
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1

0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
0
0
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1

0
1
0
0
1
1
0
1
1
0
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1

1
0
1
0
0
0
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1
0
1
1
1

1
1
1
1
0
1
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1

0
1
0
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1

0
0
1
1
0
1
0
1
1
0
0
1
1
0
0
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
1
0

Soal 3.
Tentukan masing-masing korelasi biserial butir dari dari data jawaban 30 siswa
terhadap 13 butir tes objektif seperti pada tabel berikut:
No
Soal
1
2

Kunci Jawaban
B D B A C B C D E D C C D
D D D A A A B C D E D C C
A B B A A C B D E E C C C

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

D
D
B
D
B
D
B
B
B
B
C
E
C
C
C
D
B
A
A
C
C
C
C
A
C
C
C

D
D
C
B
B
A
A
A
A
A
A
A
D
A
B
A
A
D
B
D
A
D
D
B
D
B
D

D
B
D
B
D
D
D
B
D
A
D
D
B
D
B
D
B
B
D
D
B
D
D
C
B
B
A

A
E
A
C
A
A
D
A
B
A
A
A
D
B
D
A
D
D
D
B
D
A
D
D
B
D
B

A
A
C
C
C
C
C
C
E
D
E
B
B
D
D
B
D
D
B
D
D
B
D
D
C
B
B

A
A
A
A
A
C
C
C
C
A
C
C
D
D
B
D
D
B
D
D
B
D
D
B
D
D
C

B
D
D
D
B
D
A
D
D
B
D
B
D
B
B
D
B
D
A
D
D
D
B
D
A
D
D

D
D
D
B
D
D
B
D
D
C
B
B
A
A
A
B
D
D
B
D
D
B
D
D
B
D
D

D
D
D
D
D
B
D
D
B
D
D
C
B
B
B
D
D
B
D
D
B
D
D
B
D
D
B

E
E
C
C
C
C
C
C
E
D
D
D
D
B
D
A
D
D
B
D
A
D
D
B
D
B
D

C
B
B
C
A
C
A
C
C
D
E
A
B
D
D
B
D
B
D
B
D
A
D
D
B
D
B

A
C
C
C
C
B
B
D
B
C
C
C
D
D
B
D
D
D
B
D
D
B
D
D
C
B
B

C
C
B
C
C
D
D
D
B
D
D
B
D
D
C
C
C
D
D
D
B
D
D
B
D
D
C

B
S
p
q
Soal 4.
Tentukan masing-masing korelasi biserial butir dari data jawaban 40 siswa

Siswa

terhadap 24 butir tes objektif seperti pada tabel berikut


Butir ke dan
Kunci Jawaban butir ke
1 2 3 4 5 6 7 8 9
a b d a a a a c a

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
b d a a a a c e a b d d e a d

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
B
S

a
c
b
d
e
b
b
e
b
e
a
c
d
a
c
a
d
d
e
a
e
b
d
e
b
e
c
b
d
a
b
d
a
a
e
b
d
c
a
b

b
e
d
e
a
d
c
b
c
a
D
d
e
a
e
b
b
e
a
c
a
d
d
a
c
a
d
d
e
a
e
b
d
e
b
e
c
b
d
a

c
b
d
a
b
d
e
c
e
b
b
e
a
c
a
d
c
b
a
e
b
d
e
a
e
b
e
d
a
c
a
d
d
a
c
a
d
d
e
a

e
c
e
a
d
e
b
e
a
d
c
b
a
e
b
d
e
c
b
a
d
e
a
c
a
d
b
e
a
e
b
d
e
a
e
b
e
d
a
c

b
e
a
c
d
a
c
a
b
d
e
c
b
a
d
e
b
e
c
b
d
a
a
e
b
d
c
a
b
a
d
e
a
c
a
d
b
e
a
e

c
a
d
d
e
a
e
b
d
e
b
e
c
b
d
d
d
e
a
e
b
d
e
b
e
c
b
d
a
b
d
a
a
e
b
d
c
a
b
a

e
b
b
e
a
c
a
d
d
a
c
a
d
d
e
b
e
a
c
a
d
d
a
c
a
d
d
e
a
d
d
a
c
a
d
e
e
a
c
b

a
d
c
b
a
e
b
d
e
a
e
b
e
d
a
c
b
a
e
b
d
e
a
e
b
e
d
a
c
a
e
a
e
b
d
a
a
b
d
d

b
d
e
c
b
a
d
e
a
c
a
d
b
e
a
e
c
b
a
d
e
a
c
a
d
b
e
a
e
a
b
d
a
a
e
b
d
c
a
b

d
e
b
e
c
b
d
a
a
e
b
d
c
a
b
b
e
c
b
d
a
a
e
b
d
c
a
b
a
b
d
a
a
e
b
d
c
a
b
a

d
a
b
e
a
c
d
a
c
a
d
e
e
a
c
b
e
a
c
d
a
c
a
d
e
e
a
c
b
e
b
d
e
b
e
c
b
d
a
b

e
a
c
a
d
d
e
a
e
b
d
a
a
b
d
c
a
d
d
e
a
e
b
d
a
a
b
d
d
a
d
d
a
c
a
d
d
e
a
d

a
c
e
b
b
d
e
b
b
e
b
e
a
c
d
e
b
b
d
e
b
b
e
b
e
a
c
d
a
b
d
e
a
e
b
e
d
a
c
a

a
e
a
d
d
e
a
d
c
b
c
a
d
d
e
a
d
d
e
a
d
c
b
c
a
D
d
e
a
d
e
a
c
a
d
b
e
a
e
a

b
a
b
d
b
d
e
b
b
e
b
e
a
c
d
b
d
b
d
e
b
b
e
b
e
a
c
d
a
d
a
a
e
b
d
c
a
b
a
a

c
b
d
e
d
e
a
d
c
b
c
a
d
d
e
d
e
d
e
a
d
c
b
c
a
D
d
e
a
d
a
c
a
d
e
e
a
c
b
a

d
d
d
a
d
a
b
d
e
c
e
b
b
e
a
d
a
d
a
b
d
e
c
e
b
b
e
a
c
e
a
e
b
d
a
a
b
d
d
c

e
d
e
a
e
a
d
e
b
e
a
d
c
b
a
e
a
e
a
d
e
b
e
a
d
c
b
a
e
e
b
b
e
b
e
a
c
d
a
e

b
e
a
c
a
c
d
a
c
a
b
d
e
c
b
a
c
a
c
d
a
c
a
b
d
e
c
b
a
a
d
c
b
c
a
e
d
e
a
a

c
a
a
e
d
d
e
a
e
b
d
e
b
e
c
a
e
d
d
e
a
e
b
d
e
b
e
c
b
e
b
b
e
b
e
a
c
d
a
b

e
a
b
a
b
e
a
c
a
d
d
a
c
a
d
b
a
b
e
a
c
a
d
d
a
c
a
d
d
a
d
c
b
c
a
b
d
e
a
d

a
b
c
b
c
b
a
e
b
d
e
a
e
b
e
c
b
c
b
a
e
b
d
e
a
e
b
e
d
b
d
e
c
e
b
b
e
a
c
d

d
e
e
d
e
c
b
a
d
e
a
c
a
d
b
e
d
e
c
b
a
d
e
a
c
a
d
b
e
d
e
b
e
a
d
c
b
a
e
e

e
c
b
e
b
e
c
b
d
a
a
e
b
d
c
b
e
b
e
c
b
d
a
a
e
b
d
c
a
d
a
c
a
b
d
e
c
b
a
a

p
q
pq

LATIHAN
1. Di dalam sebuah tes di mana jawaban benar dinyatakan dengan 1 dan
jawaban salah dinyatakan dengan 0, dan butir-butir tes itu adalah homogen.
Butir 1 memiliki proporsi jawaban benar p = 0,50 dan distribusinya dinyatakan
sebagai berikut:
0,50 0,50
0
1
Butir 2 memiliki p = 0,80. Jika r 12 = 1,00, hal ini diselesaikan dengan semua
50% yang menjawab benar butir 1, dan dengan 30% sisanya. Distribusi sekor
untuk butir 1 dan 2 sebagai berikut:
0,50

0,20

0,30

0
1
2
Gambarkan distribusi tes yang dimasukkan, di mana butir 3 memiliki p = 0,90,
butir 4 dengan p = 0,70, butir 5 dengan p = 0,60, butir 6 dengan p = 0,10, butir 7
dengan p = 0,20, butir 8 dengan p = 0,30, dan butir 9 dengan p = 0,40. Apakah
tipe distribusi yang diperoleh?
2. Gambarkan dan jelaskan distribusi berikut. Bandingkan dengan soal nomor 1
(asumsi sama seperti masalah 1)
p1 = 0,50
p4 = 0,69
p7 = 0,02
p2 = 0,98
p5 = 0,93
p8 = 0,31
p3 = 0,84
p6 = 0,16
p9 = 0,07
3. Sepuluh butir dalam suatu tes memiliki sekor baku sebagai berikut:
Butir 1
Tes
Sekor
baku 1,82

10

1,14

1,00

0,65

0,00

0,48

0,55

0,75

1,52

-1,77

Berikan untuk masing-masing butir frekuensi jawaban benar menyatakan :


a. sebuah proporsi b. persentase
Individ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
u
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
1
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
2
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

2
0

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

1
1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1

1 1 1 1 1 1 1

1 1 1 1 1 1 1
1 1 1
1 1 1 1 1 1 1

1 1 1 1 1 1 1 1 1

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

1 1 1 1 1 1 1 1
1 1 1 1 1 1 1 1
1
1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1

1
1

1
1

1
1

1
1

1
1

1 1 1 1 1 1
1 1
1 1 1 1 1 1

1 1 1 1 1 1
1 1 1 1
1 1 1 1 1 1

4.
a. Gunakan Tabel untuk menentukan luas daerah sebelah kiri dari sekorsekor z berikut: -2,25, -1,75, -1,25, -0,75, -0,25, 0,25, 0,75, 1,25, 1,75,
2,25
b. Gunakan tabel z yang sama, temukan luas daerah antara nilai-nilai sekorsekor z: - dan -2,25; -2,25 dan -1,75; -1,75 dan -1,25; -1,25 dan -0,75;
-0,75 dan dan -0,25; -0,20 dan 0,25; 0,25 dan 0,75; 0,75 dan 1,25; 1,25
dan 1,75; 1,75 dan 2,25; 2,25 dan .
5. Temukanlah sekor z yang menghubungkan nilai p terhadap masing-masing
butir dalam : a. Soal 1 dan b. Soal 2. Bandingkan korelasi antara sekor z
untuk dua himpunan data tersebut.
6. (a) Untuk data matriks data di atas, konstruksilah sebuah distribusi sekorsekor total dengan bobot kelas 2. (b) Hitunglah f, p, dan z padqa masingmasing butir itu. (c) Pilihlah kira-kira 10 butir untuk bentuk suatu tes yang
menhasilkan distribusi normal untuk 20 subjek. (d) Lukislah distribusi
tersebut.
7. Buatlah sel-sel berikut di dalam matriks yang memiliki suatu nilai 1 atau 0: (a)
x3,8, (b) x7,4, (c) x2,19, (d) x10,12, (e) x3,10, (f) x14,6?
8. Hitunglah varians untuk masing-masing butir tes dalam matriks tersebut.
9. Hitunglah vaians dari distribusi pada soal 6 (a).
10. Hitunglah rerata sekor setiap orang yang dites menggunakan (a)
(b) p. Bandingkanlah hasil-hasilnya

X
N

dan