Anda di halaman 1dari 14

REFERAT

Obat-Obatan dan Tindakan pada Kegawatan


Neonatus

PEMBIMBING :
dr. Zuhriah Hidajati, Sp. A, Msi Med
dr. Slamet Widi Saptadi, Sp.A
dr. Lilia Dewiyanti, Sp.A, Msi Med
dr. Neni Sumarni, SpA
Disusun oleh :
Okky Nafiriana (030.10.214)
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD KOTA SEMARANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
10 AGUSTUS 2015 17 OKTOBER 2015
DAFTAR ISI

Pendahuluan2
Bab I

Asfiksia dan Resusitasi Bayi Baru Lahir..3

Bab II

Kejang Neonatus.10

Bab III Sepsis pada Bayi Baru Lahir


Bab IV

Gangguan Termoregulasi pada Neonatus

Bab V

Syok pada Bayi Baru Lahir

Bab VI

Hiperbilirubinemia

Bab VII Trauma Lahir


Bab VIII Kelainan Kongenital
Kesimpulan
Daftar Pustaka

PENDAHULUAN

BAB I
Asfiksia dan Resusitasi Bayi Baru Lahir
2

DEFINISI
Asfiksia pada BBL menjadi penyebab kematian 19% dari 5 juta kematian BBL setiap
tahun. Kebutuhan resusitasi dapat diantisipasi pada sejumlah besar BBL. Oleh karena itu,
tempat dan peralatan untuk melakukan resusitasi harus memadai, dan petugas yang sudah
dilatih dan terampil harus tersedia setiap saat dan di semua tempat kelahiran bayi. Resusitasi
BBL ialah prosedur yang diaplikasikan pada BBL yang tidak dapat bernapas secara spontan
dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir. Asfiksia pada BBL ditandai
dengan keadaan hipoksemia, hiperkarbia, dan asidosis.
PATOFISIOLOGI
BBL mempunyai karakteristik yang unik. Transisi dari kehidupan janin intrauterine ke
kehidupan bayi ekstrauterin, menunjukkan perubahan sebagai berikut. Alveoli paru janin
dalam uterus berisi cairan paru. Pada saat lahir dan bayi mengambil napas pertama, udara
memasuki alveoli paru dan cairan paru diabsorpsi oleh jaringan paru. Pada napas kedua dan
berikutnya, udara yang masuk alveoli bertambah banyak dan cairan paru diabsorpsi sehingga
kemudian seluruh alveoli berisi udara yang mengandung oksigen. Aliran darah paru
meningkat dramatis. Hal ini disebabkan ekspansi paru yang membutuhkan tekanan puncak
inspirasi dan tekanan akhir ekspirasi yang lebih tinggi. Ekspansi paru dan peningkatan
tekanan oksigen alveoli, keduanya menyebabkan penurunan resistensi vaskuler paru dan
peningkatan aliran darah paru setelah lahir. Aliran intrakardial dan ekstrakardial mulai beralih
arah yang kemudian diikuti penutupan duktus arteriosus. Kegagalan penurunan resistensi
vaskuler paru menyebabkan hipertensi pulmonal persisten pada BBL, dengan aliran darah
paru yang inadekuat menyebabkan gagal napas.

Gambar 1. Diagram Alur Resusitasi Neonatus


Sumber : American Heart Association and American Academy of Pediatrics

VENTILASI TEKANAN POSITIF


Setelah dilakukan langkah awal resusitasi, ventilasi tekanan positif harusdimulai bila
bayi tetao apnea setelah stimulasi atau pernapasan tidak adekuat, dan/atau frekuensi jantung
kurang daeu 100x/menit. Bila bayi bernapas adekuat dan frekuensi jantung memadai tetapi
sianosis sentral, bayi diberi oksigen aliran bebas. Bila setelah ini bayi tetap sianosis, dapat
dicoba melakukan ventilasi tekanan positif.
Peralatan yang digunakan untuk ventilasi tekanan positif adalah salah satu dari 3 alat
berikut; balon mengembang sendiri (self inflating bag), balon tidak mengembang sendiri
(flow inflating bag), atau T-piece resuscitation. Bila menggunakan flow inflating bag atau Tpiece resuscitation, tetap harus disiapkan self inflating bag sebagai cadangan bila aliran
oksigen terhenti.
Cara melakukan VTP:
1. Sebelum persalinan berlangsung, pada saat persiapan alat resusitasi, alat yang akan
dipakai untuk ventilasi tekanan positif dipasang dan dirangkai serta dihubungkan
dengan oksigen sehingga dapat memberikan kadar sampai 90-100%. Siapkan
sungkup dengan ukuran yang sesuai berdasarkan antisipasi ukuran/berat bayi.
Ukuran sungkup yang tepat ialah yang dapat menutupi hidung, mulut, dan dagu.
2. Setelah alat dipilih dan dipasang, pastikan bahwa alat dan sungkup berfungsi baik.
3. Operator berdiri di sisi kepala atau samping bayi. Sungkup diletakkan di wajah bayi
dengan lekatan yang baik.
4. Dilakukan pemompaan pada balon resusitasi dengan tekanan awal >30 cmH2O dan
selanjutnya 15-20 cmH2O dengan frekuensi 40-60 kali/menit.
5. VTP dilakukan selama 30 detik sebanyak 20-30 kali, dengan fase ekspirasi lebih
lama dari fase inspirasi.
6. Setelah 30 detik ventilasi, dilakukan penilaian frekuensi jantung.
7. Bila frekuensi jantung <60 kali/menit, resusitasi dilanjutkan dengan kompresi dada
dan VTP tetap dilanjutkan secara terkoordinasi. Bila frekuensi jantung >60
kali/menit , hentikan kompresi dada dan VTP dilanjutkan sampai frekuensi jantung
mencapai 100 kali/menit atau lebih dan bayi bernapas spontan.
KOMPRESI DADA
Apabila setelah tindakan VTP selama 30 detik, frekuensi jantung < 60 detik maka
lakukan kompresi dada yang terkoordinasi dengan ventilasi selama 30 detik dengan
kecepatan 3 kompresi : 1 ventilasi selama 2 detik. Kompresi dilakukan dengan 2 ibu jari atau
jari tengah-telunjuk / jari tengah-jari manis. Lokasi kompresi ditentukan dengan
menggerakkan jari sepanjang tepi iga terbawah menyusur ke atas sampai mendapatkan sifoid,
letakkan ibu jari atau jari-jari pada tulang dada sedikit di atas sifoid. Berikan topangan pada
bagian belakang bayi. Tekan sedalam 1/3 diameter anteroposterior dada.
5

INTUBASI ENDOTRAKEAL
Indikasi:
1. Menghisap meconium dalam trakea bila didapatkan meconium dalam air ketuban dan
bayi tidak bugar
2. Meningkatkan efektifitas ventilasi bila setelah beberapa menit melakukan ventilasi
balon dan sungkup tidak efektif
3. Membantu koordinasi kompresi dada dan ventilasi, serta untuk memaksimalkan
efisiensi pada setiap ventilasi
4. Memberikan obat epinefrin bila diperlukan untuk merangsang jantung sambil
menunggu akses intravena
5. Kelainan bawaan bedah, misalnya hernia diafragmatica
6. Bayi sangat kurang bulan, untuk ventilasi atau pemberian surfactant
Peralatan yang harus disiapkan, yaitu:
Laringoskop dengan daun laringoskop no.00 dan no.0 untuk BKB dan no.1

untuk BCB.
Lampu cadangan dan baterai cadangan untuk laringoskop
Pipa endotrakeal no. 2,5-, 3,0-, 3,5-, 4,0- mm diameter internal
Stilet
Gunting dan plester untuk fiksasi endotrakeal
Kapas alcohol

PEMBERIAN OBAT DAN CAIRAN


Obat dan cairan jarang digunakan pada resusitasi BBL. Bradikardia umumnya
disebabkan karena hipoksia dan ventilasi yang tidak adekuat. Apnea disebabkan oleh
oksigenasi yang tidak cukup pada batang otak. Otot jantung sejumlah kecil bayi (2 per 100
bayi) mungkin kekurangan oksigen dalam jangka panjang yang mengakibatkan berkurangnya
efektifitas kontraksi, meski mendapat perfusi darah yang mengandung banyak oksigen. Bayi
ini memerlukan epinefrin untuk merangsang jantungnya. Bila terjadi kehilangan darah akut,
perlu diberikan cairan penambah volume darah. Karena itu melakukan ventilasi yang adekuat
merupakan langkat yang terpenting untuk meningkatkan laju jantung. Bila laju jantung tetap
kurang dari 60x/menit walaupun telah dilakukan VTP dan kompresi dada secara
terkoordinasi, tindakan pertama ialah memastikan bahwa ventilasi dan kompresi dada
dilakukan secara optimal dan menggunakan oksigen 100%. Setelah hal ini dipastikan dan
frekuensi jantung tetap di bawah 60 kali/menit, obat perlu diberikan. Karena obat diharapkan
mempunyai efek pada jantung, maka secara ideal pemberian obat ialah secara cepat yaitu
melalui kateter vena umbilicalis.
Pemberian obat dapat diberikan melalui beberapa jalan:

Vena umbilical. Cara tercepat untuk memberikan cairan dan dapat digunakan untuk
epinefrin, nalokson, dan/atau natrium bikarbonas. Sebelum memberikan obat, kateter

diisi salin normal terlebih dahulu.


Pipa endotrakeal. Hanya epinefrin dapat diberikan melalui pipa endotrakeal.
Vena perifer. Pemasangan vena perifer dapat sulit pada BBL yang syok dan

membutuhkan waktu yang lama.


Intramuskuler. Selain melalui intravena, nalokson dapat diberikan secara IM.
Akses intraoseus. Jalan ini dapat dipakai sebagai alternative bila akses vena tidak

didapat.
1. Epinefrin
Merupakan obat pemicu jantung yang meningkatkan kekuatan dan kontraksi otot
jantung dan mengakibatkan vasokonstriksi perifer, sehingga akan mengakibatkan
meningkatnya aliran darah melalui arteria koronata dan aliran darah ke otak. Indikasi
pemberian epinefrin ialah bila frekuensi jantung <60x/menit setelah dilakukan VTP
secara efektif selama 30 detik dan dilanjutkan VTP + kompresi dada secara terkoordinasi
selama 30 detik.
Dosis epinefrin ialah 0,1-0,3 Ml/kgBB (setara dengan 0,01-0,03 mg/kgBB) larutan
1:10.000 diberikan secara intravena. Bila obat diberikan secara IV melalui kateter, harus
diikuti dengan pemberian 0,5-1,0 Ml garam fisiologis untuk membilas obat dan
memastikan dapat mencaoai sirkusi darah. Bila diputuskan untuk memberikan melalui
pipa endotrakeal sementara jalur IV sedang disiapkan, pertimbangkan pemberian dosis
lebih besar (0,3-1 Ml/kgBB atau setara 0,03-0,1 mg/kgBB). Pemberian melalui pipa
endotrakeal lebih cepat, tetapi cara ini mengakibatkan kadar dalam darah lebih rendah
dan tidak dapat diprediksi sehingga mungkin tidak efektif. Beberapa operator
menggunakan kateter agar obat msuk lebih dalam ke dalam pipa kemudian beberapa VTP
diberikan untuk mendistribusikan obat ke paru agar diabsorpsi.
Setelah pemberian epinefrin, diharapkan frekuensi jantung meningkat lebih dari
60x/menit dalam aktu 30 detik setelah pemberian epinefrin. Bila tidak terjadi peningkata,
epinefrin dapat diulang tiap 3-5 menit. Dosis ulangan diberikan melalui IV dan pastikan
bahwa ventilasi dan kompresi dada terjadi efektif.
2. Cairan penambah volume darah
Bila bayi terlihat pucat, ada bukti kehilangan darah dan respons resusitasi baik, harus
dipikirkan kemungkinan kehilangan cairan. Dapat disebaban karena kehilangan darah ke
sirkulasi maternal yang akan menunjukkan tanda-tanda syok tanpa ada bukti kehilangan
darah yang berarti. Bayi yang mengalami syok akan tampak pucat, CRT melambat, nadi
lemah, takikardia atau bradikardia persisten dan sering keadaan sirkulasi tidak membaik.
7

Cairan yang dianjurkan untuk mengobati hipovolemia akut adalah cairan kristaloid
isotonic, yaitu NaCl 0,9%, RL, atau darah 0-negatif. Dosis awal ialah 10Ml/kg dengan
kecepatan 5-10 menit secara IV. Biala setelah itu menunjukkan perbaikan minimal, dapat
diberikan dosis tambahan 10Ml/kg.
3. Nalokson
Indikasi pemberian nalokson ialah bila bayi tetap mengalami depresi napas setelah
frekuensi jantung dan warna kulit menjadi normal dan ibu mendapat obat narkotika pada
4 jam sebelum persalinan. Tidak dianjurkan diberikan pada bayi dari ibu yang diduga
menggunakan narkotik karena dapat menimbulkan withdrawal sign. Dosisnya ialah
0,1mg/kg secara IV atau IM.
4. Natrium bikarbonat
Tidak terdapat data yang cukup untuk merekomendasikan penggunaan natrium
bikarbonat pada resusitasi neonates. Namun demikian, memperbaikin asidosis
intrakardiak dapat memperbaiki fungsi miokardium dan mendapatkan sirkulasi spontan.
Obat ini hanya diberikan bila ventilasi dan kompresi dada yang adekuat tidak efektif
dalam memperbaiki sirkulasi, penggunaan lebih dari 1 dosis natrium bikarbonat pada
asidosis persisten, bila mungkin digunakan berdasarkan hasil analisis gas darah arteri.
Untuk BBL digunakan natrium bikarbonat 4,2%. Natrium bikarbonat 8,4%
mengandung 1 mmol/L (1 mEq/Ml). cairan ini hyperosmolar dan perlu diencerkan 1:1
dengan air steril untuk membuat 4,2% (0,5 mmol/Ml). dosis 1-2 mEq/kg diberikan setelah
ventilasi dan perfusi adekuat dicapai, diberikan dalam kira-kira 2 menit yaitu 1
mEq/kg/menit.
PENGHENTIAN RESUSITASI
Jika sesudah 10 menit resusitasi yang benar, bayi tidak bernapas dan tidak ada denyut
jantung, pertimbangkan untuk menghentikan resusitasi. Orang tua perlu dilibatkan dalam
pengambilan keputusan, jelaskan keadaan bayi. Persilakan ibu memegang bayinya jika ia
menginginkan. Tidak melakukan resusitasi dapat diterima pada kehamilan <23 m9nggu atau
berat lahir <400 gram, anensefalus, terbukti trisomy 13 dan 18.

BAB II
Kejang Neonatus
DEFINISI
Secara klinis adalah perubahan paroksimal dari fungsi neurologic yang terjadi pada
masa neonates. Kejang merupakan keadaan emergensi atau tanda bahaya yang sering terjadi
pada neonates, karena kejang dapat mengakibatkan hipoksia otak yang cukup berbahaya bagi
kelangsungan hidup bayi atau dapat mengakibatkan sekuele di kemudian hari. Efek jangka
panjang berupa penurunan ambang kejang, gangguan belajar dan daya ingat.
ETIOLOGI
Kejang yang sering terjadi dapat disebabkan oleh:
1. Ensefalopati iskemik hipoksik: Merupakan penyebab tersering (60-65%) kejang pada
BBL, biasanya terjadi dalam waktu 24 jam pertama dan sering dimulai 12 jam pertama.
9

2. Perdarahan intracranial: Perdarahan matriks germinal atau intraventrikel adalah penyebab


kejang tersering pada bayi preterm. Perdarahan intracranial sering sulit disebut sebagai
penyebab tunggal kejang, biasanya berhubungan dengan penyebab lain, yaitu perdarahan
subarachnoid, perdarahan subdural dan perdarahan periventrikuler/intraventrikuler.
3. Metabolik: Penyebab paling sering kejang metabolic adalah hipoglikemia,
hipokalsemia/hipomagnesemia, hiponatremia dan hypernatremia.
4. Infeksi: Terjadi pada sekitar 5-10% dari seluruh penyebab kejang BBL,bakteri, non
bakteri maupun kongenital dapat menyebabkan kejang BBL, biasanya terjadi setelah
minggu pertama kehidupan.
5. Kernicterus/ensefalopati bilirubin: suatu keadaan ensefalopati akut dengan sekuele
neurologis yang disertai meningkatkan kadar serum bilirubin dalah darah. Bilirubin
indirek menyebabkan kerusakan otak pada BCB apabila melebihi 20mg/dl. Pada bayi
premature yang sakit, kadar 10mg/dl sudah berbahaya.
6. Berhubungan dengan obat: Dapat disebabkan oleh drug withdrawal dimana ibu yang
ketagihan dengan obat narkotik selama hamil, bayi yang dilahirkan dalam 24 jam pertama
terdapat gejala gelisah, jitteriness dan kadang-kadang terdapat kejang. Intoksikasi anestesi
local juga dapat menyebabkan kejang pada BBL dimana keadaan itu terjadi akibat
anestesi blok paraservikal, pudendal atau epidural serta anestesi local pada episiotomy
yang tidak tepat sehingga masuk ke dalam sirkulasi janin.
DIAGNOSIS
Diagnosis kejang pada BBL didasarkan pada anamnesis yang lengkap, riwayat yang
berhubungan dengan penyebab penyakit, manifestasi klinis kejang, pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan penunjang.
Melalui anamnesis, dapat diketahui faktor resiko kejang yaitu riwayat kejang dalam
keluarga, kelainan pada riwayat kehamilan seperti infeksi maupun preeklamsia, kelainan
riwayat persalinan seperti asfiksia, trauma maupun ketuban pecah dini dan kelainan pada
riwayat pascanatal seperti infeksi BBL maupun bayi dengan riwayat kuning timbul dini.
Manifestasi klinik kejang pada BBL sangat berbeda dengan kejang pada anak yang
lebih besar. Perbedaan ini karena susunan neuroanatomik, fisiologis dan biokimia pada
berbagai tahap perkembangan otak berlainan. Gambaran klinis kejang terbagi menjadi subtle,
tonik (fokal dan umum), klonik (fokal dan multifocal) dan mioklonik (fokal, multifocal dan
umum). Bentuk kejang subtle lebih sering terjadi disbanding tipe kejang yang lain, hamper
50% dari kejang BBL baik pada BKB maupun BCB. Sering juga timbul kejang klonik yang
berpindah-pindah, kejang pada ekstremitas hemilateral, atau kejang primitip subkortikal
(apnea, gerakan mengunyak, gerakan mata abnormal, perubahan tonus otot periodic). Kejang
tonik-klonik/grand mal jarang terjadi pada BBL.
10

Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium yaitu gula darah, darah


rutin, analisa gas darah, kadar bilirubin dan elektrolit. Pemeriksaan EEG pada kejang dapat
membantu diagnosis, lamanya pengobatan dan prognosis. Pemeriksaan radiologis yang dapat
dilakukan yaitu USG kepala jika dicurigai adanya perdarahan intracranial atau
intraventrikuler.
TATALAKSANA
Penatalaksanaan kejang pada neonates meliputi stabilisasi keadaan uum bayi,
menghentikan kejang dan identifikasi dan pengobatan faktor etiologi serta suportif untuk
mencegah kejang berulang.
a. Terapi suportif:
1. Pengawasan jalan napas bersih dan terbuka, pemberian oksigen
2. Pemantauan ketant : pasang monitor jantung dan pernapasan serta pulse oxymeter
3. Pasang jalur intravena, berikan infus Dextrose
4. Beri bantuan respirasi dan terapi oksigen bila diperlukan
5. Koreksi gangguan metabolic dengan tepat
b. Medikamentosa: pemberian antikonvulsan merupakan indikasi pada manajemen awal.
1. Fenobarbital

Dosis awal (loading dose) 20-40 mg/kgBB IV diberikan mulai dengan 20

mg/kgBB selama 5-10 menit


Pantau depresi pernapasan dan tekanan darah
Dosis rumatan: 3-5 mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis diberikan jika kejang telah
teratasi. Lamanya pemberian dosis rumatan belum pasti, beberapa menghentikan
jika tidak ada kelainan neurologis, sedangkan yang lain menggunakan patokan

gambaran klinis dan gambaran EEG.

Kadar teraupetik dalam darah diukur 1 jam setelah pemberian IV


2. Fenitoin (Dilantin): biasanya diberikan hanya apbila bayi tidak memberi respons yang
adekuat terhadap pemberian fenobarbital.

Dosis awal (loading dose) untuk status epileptikus 15-20 mg/kgBB IV pelan

pelan
Karena efek alami obat yang iritatif dan dapat menyebabkan kristalisasi, maka

beri pembilas larutan garam fisiologis sebelum dan sesudah pemberian obat
Fenitoin hanya boleh diberikan secara IV
Kadar teraupetik dalam darah 12-20 mg/kgBB campur ke dalam 15 Ml NaCl

0,9% dan diberikan dengan kecepatan 0,5 Ml/menit selama 30 menit

Dosis rumatan 5-8 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-3 dosis

Pengawasan gejala bradikardia, aritmia dan hipotensi selama pemberian infus


3. Lorazepam (Ativan): biasanya diberikan pada BBL yang tidak memberi respons
terhadap pemberian fenobarbital dan fenitoin secara berurutan

11

Dosis efektif: 0,05 0,1 mg/kgBB IV secara pelan-pelan dalam beberapa

menit
Obat ini akan masuk ke dalam otak dengan cepat dan membentuk efek

antikonvulsan yang nyata dalam waktu kurang dari 5 menit


Pengawasan terhadap depresi pernapasan dan hipotensi

PROGNOSIS
Kejang pada BBL dapat mengakibatkan kematian, atau jika hidup dapat menderita
gejala sisa atau sekuel. Prognosis jangka panjang sesudah kejadian kejang berhubungan
langsung dengan penyebabnya. Kejang awitan dini biasanya dihubungkan dengan angka
kesakitan dan kematian yang tinggi. Kejang berulang, semakin lama kejang berlangsung
semakin tinggi risiko kerusakan pada otak dan berdampak pada terjadinya kelainan
neurologik lanjut (misalnya cerebral palsy dan retardasi mental).
BAB III
Sepsis Neonatus
DEFINISI

12

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

13