Anda di halaman 1dari 14

Kata Pengantar

Assalamualaikum. Wr. Wb.


Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan tugas kelompok ini
dengan penuh kemudahan dan semangat kerja keras, tanpa izin dan pertolongan-Nya kami tidak
akan sanggup menyelesaikan dengan tepat waktu.
Tugas ini disusun agar kami dan para pembaca dapat mengetahui bentuk, asas, dan akibat hukum
tata pemerrintahan heteronom, selanjutnya sebagai kewajiban kami untuk menyelesaikan tugas
kelompok dari dosen Dra. Nurlina, M.Si.
Tugas ini memuat tentang Bentuk Hukum Tata Pemerintahan Heteronom, Asas Hukum Tata
Pemerintahan Heteronom, dan Akibat Hukum Tata Pemerintahan Heteronom, dengan tugas ini
diharapkan kita dapat memahami dan menjadi landasan dalam mengembangkan keilmuan kami
dalam Ilmu Pemerintahan.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu yang telah mengizinkan kami agar
dapat berfikir analitis dan kritis sehingga dapat menyelesaikan tugas ini.
Semoga tugas ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca walaupun tugas ini
memiliki kelebihan dan kekurangan. Kami menyadari bahwa tugas ini kurang sempurna. Oleh
karena itu, kritik yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan. Terima kasih.
Wassalamualaikum. Wr. Wb.

DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR.................................................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................................
BAB I.........................................................................................................................................
PENDAHULUAN..................................................................................................................
BAB II........................................................................................................................................
PEMBAHASAN....................................................................................................................
BAB III.....................................................................................................................................
PENUTUP............................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hukum tata pemerintahan adalah hukum yang mengkaji hubungan aparatur pemerintah atau
yang bersifat istimewah atau khusus atau menguji hubungan istimewah yang diadakan untuk
memungkinkan para pejabat administrasi negara melakukan tugas mereka yang khusus. Dari sini
kita lihat bahwa hukum tata pemerintah juga merupakan hukum yang bersifat tegas dan memaksa
setiap aparatur pemerintah untuk menaati aturan-aturan yang dibuat oleh atasan maupun setiap
peraturan per-undang-undangan yang berlaku dan bersifat umum maupun khusus dan bersifat
mengikat dan aturan tersebut mempunyai sanksi terhadap pelanggar aturan atau norma tersebut.
Dari sudut pandang hukum tata pemerintahan dan mencirikan hukum tata pemerintahan sebagai
berikut:

Menguji hubungan istimewa

Adanya para pejabat

Melakukan tugas khusus


Hubungan hukum tersebut diatas pada dasarnya menjadi kajian dalam setiap cabang ilmu

hukum. Seperti dalam lapangan hukum privat, hubungan hukum yang dibicarakan adalah antar
orang dengan orang, hubungan hukum yang demikian menurut eutrect adalah hukum biasa.
B. Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan Bentuk Hukum Tata Pemerintahan Heteronom?
Apa yang dimaksud dengan Asas Hukum Tata Pemerintahan Heteronom?
Apa yang dimaksud dengan Akibat Hukum Tata Pemerintahan Heteronom?

C. Tujuan
Untuk mengetahui Bentuk Hukum Tata Pemerintahan Heteronom;

Untuk mengetahui Asas Hukum Tata Pemerintahan Heteronom;


Untuk mengetahui Akibat Hukum Tata Pemerintahan Heteronom.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Bentuk Hukum Tata Pemerintahan Heteronom

Hukum tata pemerintahan heteronom adalah aturan yang karena isinya mengatur hubungan hukum
antara pemerintah dengan rakyat dalam berbagai status dan posisinya (peran) di dalam satu
kesatuan kekuasaan dan pengaturan. Namun, konsep pemerintah dan pemerintahan memiliki arti
yang sempit dan arti yang luas, maka ruang lingkup Hukum Tata Pemerintahan Heteronom
merupakan dalam pengertian yang luas dan dalam pengertian yang sempit.

Hukum tata pemerintahan heteronom dalam artian luas tiak saja mengatur hubungan hukum antara
pemerintah dengan rakyat sebatas pengertian pemerintahan dalam artian yang sempit akan tetapi
mencakupi hubungan hukum pemerintahan dalam pengertian kelembagaan negara (organ negara)
dengan kelembagaan negara dan antara kelembagaan negara dengan warga negara. 1 Semua aturan
hukum berkenaan dengan hukum tata pemerintahan heteronom, kami berpendapat bahwa dalam
konteks peraturan atau hukum tertulis, aturan hukumnya disebut peraturan dasar dari
pemerintahan negara yang dalam bentuknya disebut Undang-Undang Dasar atau Konstitusi.
Di Indonesia, peraturan dasar negara di muat dalam Undang-Undang Dasar NRI 1945, yang terdiri
dari Pembukaan yang memuat empat alinea dan Batang Tubuh yang memuat sejumlah pasal yang
mengatur kelembagaan negara dan hak-hak warga serta di tambah dengan aturan peralihan dan
aturan tambahan. Kemudian, jika aturan hukum tata pemerintahan heteronom dalam arti sempit
yaitu dilihat dari bentuk terjadinya, maka Hukum Tata Pemerintahan heteronom dalam lokus
Pemerintahan

Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat dibagi atas:


1)

Peraturan Pusat

2)

Peraturan Setempat

Peraturan pusat adalah peraturan yang tertulis yang dibuat oleh pemerintah yang berlaku di
seluruh atau sebagian wilayah negara baik dalam berlakunya secara horizontal seperti undangundang yang mengatur kelembagaan eksekutif maupun secara vertikal dan holistik sebagaimana
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, sedangkan yang berlaku
hanya untuk sebagian wilayah, contohnya Undang-Undang Otonomi Khusus Papua dan Aceh.
Peraturan pusat, produk pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakytat adalah mengatur
hubungan hukum antara pemerintah dalam artian sempit dengan rakyat dalam berbagai peran
(status dan posisinya seperti warga negara, penduduk, anggota masyarakat, kelompok
kepentingan), yang dalam bentuknnya disebut Undang-Undang. Untuk kemudian diikuti oleh
1

Prof. Farid Ali dan Nurlina Muhidin, Hukum Tata Pemerintahan Heteronom dan Otonom. Hlm 73

peraturan pusat yang dibuat oleh pemerintah dalam artian yang sempit baik dalam kerangka
implementasi dari undang-undang maupun dalam kerangka yang dibuat sendiri oleh pemerintah
(Presiden bersama para menteri sebagai pembantunya) yang dalam bentuknya disebut Peraturan
Pemerintah. Selain itu, ppada tingkat peraturan pusat, dikenal pula peraturan yang secara khusus
dibuat oleh presiden karena wewenang sebagai kepala eksekutif sekaligus sebagai kepala rumah
tangga negara yang disebut Peraturan Presiden, dan seterusnya ada dalam bentuk peraturan
menteri, peraturan bersama menteri. Peraturan setempat adalah setiap peraturan tertulis yang
dibuat oleh pemerintah setempat dan hanya berlaku di tempat atau di daerah itu saja. Misalnya,
Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Peraturan Daerah Kabupaten X, Peraturan Daerah
Kota Y, dan seterusnya dengan apa yang disebut dalam Peraturan Gubernur, Peraturan Bupati,
Peraturan Walikot yang kesemuanya itu dalam isinya mengatur hubungan pemerintah sebagai
penguasan dengan rakyat dalam berbagai peran (status dan posisinya) sebagai pihak yang dikuasai
dan diatur.
Dengan demikian, bentuk hukum tata pemerintahan heteronom mulai peraturan dasar negara
hingga peraturan setempat secara berturut dapat disebutkan sebagai berikut:
1)

Undang-Undang Dasar

Undang-Undang Dasar sebagai aturan dasar yang tertinggi, sebagai grund norm, sebagai norma
pokok yang mendasar karena isi dan terjadinya karena isinya memuat asas kerohanian negara
sedangkan terjadinya dikehendaki dan dibentuk oleh pembentuk negara untuk mengatur hubungan
hukum antar kelembagaan negara dan hubungannya dengan warga negara, serta peraturan dasar
lainnya berkenaan dengan hukum peralihan dan tambahan sebagai penyempurna suatu konstitusi
dalam kerangka pendekatan secara holistik.
2)

Undang-Undang

Undang-Undang sebagai aturan yangg karena terjadinya dikehendaki oleh lembaga pembuat
undang-undang yaitu lembaga legislatif, dan karena isinya memuat aturan-aturan yang mengatur
aspek-aspek tertentu dalam penyelenggaraan negara dan pengaturan atas warga negara dan hal itu
sebagai penjabaran dari tuntutan pasal-pasal dalam undang-undang dasar.
3)

Peraturan Pemerintah

Peraturan Pemerintah sebagai aturan yang karena terjadinya dikekendaki dan dibentuk oleh
pemerintah dalam artian yang sempit yaitu dalam artian sebagai lembaga eksekutif dan dari segi
isinya sebagai penjabaran atas isi yang diperintahkan oleh undang-undang.
4)

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagai aturan yang karena terjadinya


dikehendaki oleh pemerintah namun dalam kekuatan berlakunya sama dengan undang-undang dan
dari segi isinnya memuat aturan-aturan yang pada prinsipnya harus diberlakukan melalui undangundang dan karena sifatnya sangat mendesak dan ada karena alasan secara yuridis
membenarkannya dan hanya berlaku dalam waktu tertentu seperti Perppu tentang APBN yang
tidak disetujui oleh DPR sehingga Undang-Undang tentang APBN tahun lalu yang diberlakukan.
5)

Peraturan Menteri

Peraturan menteri sebagai aturan yang karena terjadinya dibentuk oleh Menteri sesuai bidang yang
diatur dan dari segi isinya mengatur hal-hal yang bersifat teknis atas perlakuan seseuatu peraturan
pemerintah.
6)

Peraturan Daerah

Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah (gubernur atau bupati/wali kota)
7)

Peraturan Gubernur/Walikota/Bupati

B.

Asas dalam Hukum Tata Pemerintahan Heteronom


Banyaknya peraturan-peraturan yang diberlakukan dalam rangka mengatur hubungan hukum

antara pemerintah dengan rakyat, memungkinkan terjadinya benturan-benturan hokum yang


berakibat dimungkinkan konflik antara pemerintah dengan rakyat, konflik antar pemerintah dan
bisa mungkin konflik antar rakyat. Untuk mencegah kemungkinan itu terjadi, diberlakukan asas
hukum. Asas dapat diartikan sebagai aksioma yang memberi jalan pemecahannya jika sesuatu
aturan diberlakukan atau aturan yang mana harus diberlakukan bila terjadi bentrokan beberapa
aturan dalam pelaksanaannya.
Asas-asas dimaksud dapat disebut sebagai berikut:

1.
2.
3.
4.
5.

Asas lex special derogate lex generalis


Asas lex posteriori lex priori
Asas undang-undang tidak berlaku surut
Asas undang-undang tidak dapat diganggu gugat
Asas Welvaartstaat

Asas pertama dimaksudkan bahwa undang-undang yang bersifat khusus menyampingkan


undang-undang yang bersifat umum, di mana pembuat undang-undang itu sama. Seperti; undangundang tentang perkawinan dengan Undang-Undang Perikatan dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata.
Undang-undang tentang perkawinan adalah lex spesialis sedangkan undang-undang tentang
perikatan adalah lex generalis. Jika ada peristiwa yang menyangkut hubungan hokum demikian
dan hubungan hokum itu menyangkut perikatan perkawinan, maka lex specialis itu yang harus
diberlakukan.
Berdasarkan contoh terlihat bahwa makna dari asas ini adalah memperlakukan suatu undangundang yang menyebut dengan tegas peristiwa yang diselesaikan. Dengan demikian tidak terjadi
bentrokan hokum di dalam penyelesaian suatu peristiwa. Bagi pembuat aturan perundangundangan asas ini pun perlu diperhatikan sehingga kalau aturan umum yang dikehendaki maka
tidak perlu menyebut dengan tegas peristiwa yang diatur.
Asas kedua dimaksudkan bahwa undang-undang yang berlaku belakangan membatalkan
undang-undan yang berlaku terdahulu, dimana hal yang diatur oleh kedua undang-undang tersebut
mengenai suatu hal yang tertentu walau dengan makna dan tujuan berbeda atau bertentangan
sekalipun. Seperti undang-undang perpajakan nomor 6 tahun 1983 dengan beberapa undangundang mengenai perpajakan sebelumnya seperti Ordonansi Pajak Perseroan 1925; ordonansi
1944; undang-undang No. 8 tahun 1967 tentang perubahan tata cara pemungutan pajak
pendapatan 1944 dan Undang-Undang No. 10 tahun 1970 tentang pajak atas bunga dan devidert.
Pasal ini menyatakan: Apabila terjadi perubahan pada perundang-undangan setelah saat peristiwa
terjadi maka diberlakukan ketentuan yang paling menguntungkan terdakwa. Ini berarti walaupun
lex posterior adalah undang-undang yang belakangan lahir tetapi tidak menguntungkan terdakwa
maka lex priori yang menguntungkan harus diberlakukan. Bagi pembuat peraturan perundangundangan asas ini harus diperhatikan dan perlu diterapkan dalam isi/materi perundang-undangan

pada bagian-bagian tertentu di dalam Vaste Vorm sesuatu aturan perundang-undangan.


Asas ketiga adalah dimaksudkan bahwa undang-undang hanya boleh dipergunakan pada
peristiwa yang disebutkan pada undang-undang tersebut dan peristiwa itu terjadi setelah undangundang itu dinyatakan berlaku. Seperti contoh: Undang-Undang Tentang Narkotika. Ini hanya
berlaku pada peristiwa yang ada sangkut pautnya dengan narkotika dan peristiwa narkotika yang
terjadi setelah undang-undang itu diberlakukan.
Asas ini konsisten dengan dengan pasal 1 ayat 1 kitab undang-undang hokum pidana yang
menyatakan: Tiada suatu perbuatan yang dapat dihukum kecual atas peraturan yang mendahului
perbuatan itu. Asas ini biasa disebut dengan asas Nallum Delictum atau asas legalitas yang artinya
asas yang memperlakukan sesuatu sesuai aturan-aturan hukum yang berlaku. Bagi pembuat aturan
perundang-undangan asas ini pun harus tercermn dalam isi/materi demi kepastian hukumnya.
Berdasarkan itu pula, maka asas ini dapat juga disebut asas legal of security.
Asas keempat tidak berlaku Universal artinya tidak semua Negara menganutnya seperti
amerika serikat. Di Indonesia pernah berlaku saat berlakunya UUDS1950. Bisa dilihat pada pasal
95 ayat 2. Maksuddari asas ini adalah bahwa undang-undang dasar. Hakim sekalipun tidak punya
kewenangan untuk mengujinya. Ini dimaksudkan untuk melindungi hak dan kewenangan pembuat
undang-undang itu.
Asas kelima yaitu asas Welvaartstaat dimaksudkan bahwa undang-undang sebagai sarana
untuk semaksimal mungkin dapat mencapai kesejahteraan spiritual dan material bagi masyarakat
maupun individu melalui pembaharuan atau pelestarian. Bagi pembuat undang-undang asas ini
mencegah kesewenang-wenangan pembuat undang-undang dengan sas membawa suatu undangundang sebagai sesuatu yang merupakan huruf mati sejak diundangkan sehingga bagi suatu
undang-undang perlu dipenuhi beberapa syarat, antara lain: perlunya keterbukaan bagi DPR dalam
persidangannya dan fungsi eksekutif dalam pembuatan undang-undang dengan harapan akan
adanya dari warga masyarakat yang berminat memberikan hak kepada masyarakat untuk
mengajukan usul-usul tertulis kepada penguasa, apakah dengan jalan diundang secara resmi oleh
penguasa ataukah lewat acara dengar pendapat (hearing) di DPR ataukah dengan cara lain yang
dianggap dapat melibatkan masyarakat dalam proses pembuatan undang-undang.

C.

Akibat Hukum Tata Pemerintahan Heteronom


Setiap perlakuan aturan hukum, apapun isi dan bentuknya selalu memiliki akibat hukum dan

akibat hukum yang berlangsung secara positif dan juga berlangsung secara negatif.
Akibat hukum dalam perlakuan hukum tata pemerintahan secara positif adalah :
Terciptanya suasana tertib dan aman. Ketika perlakuan aturan hukum berkenaan dengan
hukum tata pemerintahan heteronom, maka akibat hukum dapat berupa terciptanya tertib
pemerintahan dan dalam konteks hubungan hukum, terjadi hubungan keseimbangan dari
pemerintah dalam berbagai posisinya (penguasaan, jabatan, kelembagaan, atau lingkungan kerja
tertentu seperti departeman, badan dan dinas, daerah dan Negara sekalipun) dengan rakyat dalam
berbagai statusnya (warga Negara, penduduk, anggota masyarakat, kelompok kepentingan). Dapat
di katakan terciptanya tertib subyek hukum dalam hubungan kekuasaaan dan pengaturan
pemerintah. Tertib di artikan di sini adalah suatu kondisi kehidupan di mana segala kegiatan
berjalan seyogianya, berjalan sebagaimana disepakati oleh semua orang, berjalan dalam normanorma yang di berlakukan, berjalan berdasarkan aturan-aturan yang di berlakukan. Aman di
artikan di sini sebagai kondisi kehidupan berjalan dengan tentram tanpa ada gangguan.
Akibat hukum yang terjadi secara positif lainnya adalah terwujudnya keseimbangan dalam
hubungan kekuasaan dan dalam hubungan hak dan kewajiban. Dalam hubungan kekuasaan,
akibat hukum secara positif terjadi ketika terjadi hubungan pemerintah dalam status kelembagaan
Negara, hubungan mana memperlihatkan adanya keseimbangan (Check and Balance) antara tiga
kekuasaan utama dalam organisasi Negara yang di kembangkan oleh tiga kelembagaan Negara,
yaitu kelembagaan legislatif, kelembagaan eksekutif, dan kelembagaan yudikatif.
Keseimbangan sebagai akibat hukum secara positif dalam hukum tata pemerintahan
heteronom dapat terlihat ketika terjadinya kedamaian dalam kehidupan Negara dan warga Negara,
sebab kedamaian adalah suatu kondisi di aman tanpa ada gangguan baik yang di lakukan oleh
individu sebagai human being maupun oleh individu sebagai makhluk social. Kondisi yang
dialamai oleh semua orang, di mana segala dimensi kehidupan berjalan sesuai kaidah hukum yang
berlaku. Kaidah hukum disebut pula sebagai norma hukum dan sebagai norma ia bersumber dari

10

nilai-nilai yang bersangkut paut dangan perilaku manusia. Nilai-nilai yang di sepakati menjadi
norma atau kaidah hukum yang harus di patuhi oleh semua orang tanpa ada perbedaan pada
dasarnya hanya di bagi ke dalam 4 pilar ketika kaidah hukum dilihat sebagai suatu bangunan yang
terkonstruksi di dalam memenuhi tujuannya.
Keempat pilar itu secara berturut-turut dapat di jelaskan sebagai berikut :
1. Kaidah Perintah yaitu kaidah hukum yang dalam isinya mengandung arti: adanya
keharusan, mengikat, dan adanya kewajiban untuk berbuat seperti mengharuskan
orang untuk menaati hukum, memiliki kartu tanda penduduk, mengikat oleh karena
setiap orang warga terikat pada ketentuan ini, dan ada kewajiban untuk melakukan
sesuatu ditentukan.
Contoh konkret dalam hukum pidana: Sebagaimana ketentuan pasal 2 kitab UU
Hukum pidana yang menegaskan bahwa: Ketentuan pidana dalam undang-undang
Indonesia berlaku bagi tiap orang yang dalam Indonesia melakukan sesuatu
perbuatan yang boleh dihukum (Peristiwa pidana ).
2. Kaidah Larangan yaitu kaidah yang isinya menyangkut hal yang tidak dibolehkan
atau yang dilarang untuk dilakukan. Kaidah hukum ini terdapat dalam seluruh aturan
hukum pidana baik menyangkut perbuatan yang digolongkan sebagai kejahatan
maupun sebagai pelaggaran.
Sebagaimana perintah pasal 1 Kitab UU Hukum Pidana yang berbunyi : Tiada suatu
perbuatan boleh dihukum, melainkan atas kekuatan ketentuan pidana dalam undangundang, yang ada terdahulu dari perbuatan itu. Ketentuan ini memperlihatkan
kebelakuan asas nullum delictum atau asas kepastian hukum atau asas legalitas.
3. Kaidah Dispensasi yaitu kaidah hukum yang isnya mengandung pernyataan tidak
berkewajiban untuk dan atau tidak terikat untuk, misalnya suatu aturan hukum
dalam lapangan pidana yang dalam salah satu pasalnya menyatakan bahwa setiap
orang yang melakukan sesuatu perbuatan pidana, maka orang yang tidak
berkewajiban membuktikan sendiri atas perbuatan yang dilakukan kecuali oleh
undang-undang mengharuskan ia untuk memberikan pembuktian atas perbuatan yang
dilakukannya. Hal ini sejalan dengan kaidah perintah yaitu yang berkenaan dengan
perlakuan asas kepastian hukum sebagaimana diisyaratkan oleh pasal 1 Kitab

11

Undang-Undang Hukum Pidana. Dalam Lapangan perdata, kaidah sipensasi dapat


dilihat pada kaidah-kaidah hukum yang dalam pasalnya berisi pernyataan sebagai
berikut : bahwa para pihak yang mengikatkan diri dalam suatuperjanjian yang
dibuatnya adalah samadengan undang-undang, kecuali diperlukan karena undangundang.
Contoh dalam lapangan pemerintahan,Kaidah dispensasi kepada Pemerintahan
daerah untuk memberdayakan daerah dan mastarakatnya sesuai adat istiadat atau
budaya dari seluruh daera, kecuali bagi daerah Nanggroe Aceh Darussalam yang
memberlakukan syariat islam sebagai dasar penyelenggaraan pemerintahannya.
4. Kaidah Izin yaitu kaidah yang berisikan pernyataan boleh , mempunyai hak untuk
serta dapat atau berwewenang untuk. Misalnya kaidah hukum yang dalam salah satu
pasalnya menyatakan bahwa setiap warga Negara Indonesia boleh menjadi pegawai
negeri sipil, atau dapa menduduki setiap jabatan atau berwewenang untuk memiliki
hak milik atas sebidang tanah. Contoh kaidah izin ini mudah dipahami pada setiap
kaidah hukum yang dibperlakukan pada berbagai lapangan dan dimensi kehidupan.
Yang jelas subtansi dari kaidah itu adalah pembolehan untuk melakukan sesuatu,
memiliki sesuatu dan seterusnya.
Akibat Hukum dalam perlakuan Hukum Tata Pemerintahan secara negatif adalah :
Akibat hukum yang terjadi secara negatif adalah dapat berupa hilangnya hak dan kewajiban
dari yang melakukan perbuatan hukum, dapat dibatalkannya perlakuan sesuatu aturan hukum atau
satu atau beberapa pasal dalam aturan perundangan yang diberlakukan.
Akibat hukum yang secara negatif diberlakukan jika terjadi sengketa dalam persoalan
perlakuan sesuatu peraturan hukum, yang disebabkan karena penerapan dalam sengketa hubungan
hukum atau kesalahan dalam perlakuan hukum yang tidak berdasarkan pada asas yang berlaku.
Akibat-akibat hukum secara negatif dalam lapangan penerapan hukum tata pemerintahan
heteronom dapat diklasifikasi berdasarkan tingkat perlakuan peraturan sebagaimana berikut :
1. Tingkat perlakuan peraturan dasar. Pada tingkat ini, suatu aturan perundangundangan yang disebut undang-undang dapat dibatalkan untuk seluruhnya atau
untuk sebagiannya jika ternyata isinya bertentangan dengan isi undang-undang

12

dasar. Pembatalan dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi


2. Tingkat perlakuan peraturan pusat. Pada tingkat ini, suatu hasil pelaksanaan dari
suatu undang-undang ternyata merugikan hak asasi manusia baik hak individu
maupun hak social yang diakui oleh undang-undang dasar.
Akibat Hukum lain yang secara negative akan terjadi adalah ketidaktertiban dalam
pemerintah dan ini bisa terjadi ketika pemegang kekuasaan melahirakan pemikiran dalam bentuk
kebijakan yang akan digulirkan tanpa kesepakatan dari pihak yang diperintah yaitu rakyat melalui
perwakilannya.

BAB III
PENUTUP

Bentuk hukum tata pemerintahan secara berurut dapat kita sebutkan mulai dari UndangUndang Dasar NRI 1945 (UUD NRI 1945) sebagai konstitusi tertinggi dalam sistem hukum di
Indonesia, kemudian Undang-Undang (UU), Peraturan Pemerintah, Peraturan Pemerintahan
Pengganti Undang-Undang (Perppu), Peraturan Menteri, Peraturan Daerah, dan Peraturan
Gubernur/Walikota/Bupati.
Asas-Asas Hukum Tata Pemerintahan adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Asas lex special derogate lex generalis


Asas lex posteriori lex priori
Asas undang-undang tidak berlaku surut
Asas undang-undang tidak dapat diganggu gugat
Asas Welvaartstaat
Akibat hukum dalam perlakuan hukum tata pemerintahan dapat dipahami secara positif dan

secara negatif. Secara positif terciptanya suasana tertib dan aman, selain itu juga terwujudnya
keseimbangan dalam hubungan kekuasaan dan dalam hubungan hak dan kewajiban.
Akibat hukum dalam perlakuan hukum tata pemerintahan secara negatif adalah dapat berupa
hilangnya hak dan kewajiban dari yang melakukan perbuatan hukum, dapat dibatalkannya
perlakuan sesuatu aturan hukum atau satu atau beberapa pasal dalam aturan perundangan yang

13

diberlakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Farid Ali dan Dra. Nurlina. Hukum Tata Pemerintahan Heteronom dan Otonom. 2013.
Jakarta : PT RajaGrafindo.
http://stef92yando.blogspot.com/2012/12/objek-hukum-tata-pemerintahan-kajian.html
http://infoartikl.blogspot.com/2013/01/hukum-tata-pemerintahan.html
http://exrura.blog.com/2011/05/16/hukum-tata-pemerintahan/

14