Anda di halaman 1dari 6

Intelektual

Intelektual merupakan sebutan bagi seseorang yang kesehariannya


dipenuhi dengan aktivitas keilmuan dan akademik. Dengan kata lain, intelektual
itu adalah orang yang secara kesehariannya dipenuhi dengan wacana - wacana
keilmuan yang sangat luas dan beragam sehingga sangat layak sekali bahwa
idealnya kaum intelektual inilah yang seharusnya memiliki peran yang sangat
penting dalam perubahan dan perkembangan peradaban bangsa. Ali Syariati,
tokoh sosiolog dan salah satu tokoh penting dalam Revolusi Islam Iran
menyebutkan bahwa intelektual (cendikiawan) adalah orang - orang yang
tercerahkan (Raushan Fikrie), yang artinya kaum yang tercerahkan inilah yang
sangat bertanggung jawab secara sosial dan moral dalam membangun perubahan
di negara dan bangsanya. Secara perannya sebagai kaum intelektual, Paul Baran
menyebutkan bahwa seorang Intelektual pada azasnya adalah seorang pengeritik
masyarakat, seorang yang pekerjaannya mengidentifikasi, menganalisis dan
dengan

demikian

membantu

mengatasi

rintangan-rintangan

jalan

yang

menghambat tercapainya susunan-susunan masyarakat yang lebih baik, lebih


berperikemanusiaan dan lebih rasional. Dengan demikian dia menjadi nurani
masyarakat dan menjadi juru bicara dari kekuatan-kekuatan progresif yang
terdapat dalam tiap periode tertentu dari sejarah. Dan dengan demikian mau tidak
mau dianggap pengacau dan seorang yang menjengkelkan bagi penguasa.
Menurut TB. Bottomore (1964),
Kaum intelektual adalah sekelompok kecil dalam suatu masyarakat yang
kehadiran mereka mampu memberikan kontribusi kepada pembangunan,
transmisi, dan kritik gagasan. Kriteria kaum intelektual tidak dibatasi oleh gelargelar akademik atau perolehan ijazah di perguruan tinggi. Mereka bisa berasal
dari berbagai latarbelakang keilmuan dan status sosial. Max Adler dalam
pidatonya menyatakan bahwa yang disebut kaum intelektual bukanlah sebuah
kelompok yang terikat oleh sebuah hukum sejarah, tetapi sebuah strata sosial yang
meliputi semua pekerjaan otak. Bagaimanapun sulitnya untuk menarik garis
demarkasi antara kerja manual dan otak, ciri-ciri sosial umum dari kaum

intelektual cukup jelas, tanpa perlu menuju ke detil-detil. Kaum intelektual adalah
sebuah kelas tersendiri Adler menyebut mereka sebuah kelompok inter-kelas
yang dimaksud disini adalah sebuah kelompok yang tidak terikat pada satu kelas
saja, tetapi pada esensinya tidak ada perbedaan yang eksis di dalam kerangka
masyarakat borjuasi.
Jadi secara argumentatif, sudah jelas bahwa kaum intelektual yang selain
beraktivitas dalam mengembangkan keilmuan, dibalik itu juga dia memiliki
tanggung jawab besar dipundaknya dalam masyarakat. Peran yang dimainkan para
tokoh intelektual ini juga beragam, bisa dalam bentuk tulisan, aksi pendampingan
masyarakat, pembinaan masyarakat, advokasi, partisipasi dalam perencanaan
pembangunan dan lain sebagainya.

KONDISI KAUM INTELEKTUAL SAAT INI


Ketika kita berbicara tentang kaum intelektual, maka hal tersebut tidak
akan terpisahkan dengan yang namanya mahasiswa. Mahasiswa sebagai salah satu
"warga" kampus merupakan tokoh penting yang memang disiapkan secara
pemahaman dan mental untuk menjadi pemimpin bangsa kedepan. Apabila kita
ingin tahu seperti apa cerminan negara ini kedepannya, maka menjadikan
mahasiswa sebagai acuannya adalah suatu tindakan yang tepat, karena ditangan
merekalah masa depan negara ini digantungkan. Bahkan Bung Karno pernah
berkata bahwa dia akan mampu mengubah dunia jika ada 10 pemuda terdidik yg
mendampinginya.
Ucapan itu tidaklah terlalu berlebihan jika kita kembali melihat historis
panjang perkembangan bangsa ini mulai dari masa kebangkitan nasional hingga
sekarang, pemuda mahasiswa selalu menjadi aktor utama dalam setiap fase
perjuangan bangsa ini dalam mewujudkan perubahan. Bahkan ada argumentasi
rasional yang mengatakan bahwa tidak akan merdeka bangsa ini, jika tidak ada
intervensi pemuda mahasiswa dibalik itu semua. Terbukti ketika Golongan Tua
tetap bersikukuh untuk menunggu pihak Jepang memberikan "hadiah" kepada

bangsa Indonesia dalam bentuk kemerdekaan, justru pemuda pada saat itu yang
telah mendapat kabar bahwa Jepang baru saja mengalami gejolak di negaranya
melalui radio, langsung mendesak golongan tua untuk mengambil sikap dan
mendeklarasikan

kemerdekaan

Indonesia

melalui

Bung

Karno

sebagai

proklamatornya, sampai - sampai secara frontal mereka nekat menculik bung


Karno ke Rengasdengklok guna mendesak tuntutan mereka tersebut dan pada
akhirnya berbuah kemerdekaan.
Gramsci dalam teori hegemoninya menyebutkan bahwa kaum terdidik
(mahasiswa) termasuk dalam golongan masyarakat sipil (civil society) yang
mampu menyalurkan pemikiran politiknya dan bahkan akan mampu melakukan
dominasi pemikiran yang dapat mempengaruhi suatu kebijakan di dalam negara,
maka dari itu, ilmu yang telah diperolehnya melalui aktivitas intelektualnya dan
kajian analisis yang telah dilakukannya merupakan senjata utamanya dalam
mempengaruhi kebijakan negara, walaupun secara struktural di masyarakat
mereka tidak memiliki wewenang untuk membuat kebijakan, akan tetapi karena
hal tersebut, idealnya seorang tokoh intelektual seharusnya mampu berpartisipasi
dalam menanggapi kebijakan negara dan mempengaruhinya agar sesuai dengan
keinginan masyarakat. Di dalam buku "BOBOS IN PARADISE" disebutkan
bahwa golongan intelektual merupakan orang - orang yang selalu memberontak
dan menentang mainstreem yang ada, hal itu terdapat dalam hal keberanian
mereka untuk menentang yang namanya kemapanan dan budaya pop yang selama
ini mereka anggap sebagai biang kerok matinya kreatifitas dan menyebabkan
apatisme masyarakat terhadap realitas sosialnya, yang hal itu ditunjukkan melalui
gaya hidup glamour dan kenyamanan mereka dalam kemewahan.
Harus kita akui memang, budaya pop yang menyerang masyarakat saat ini
khususnya bagi kaum intelektual muda sekarang sudah mencapai level yang
sangat mengkhawatirkan, artinya dengan kenyamanan yang diciptakan oleh
kondisi seperti ini menyebabkan mulai terdegradasinya kesadaran mahasiswa
dalam mengkritisi realitas masyarakat yang ada di sekelilingnya, bahkan di dalam
lingkungan akademiknya sendiri. Instumen publikasi budaya ini juga banyak
didukung oleh media - media cetak dan elektronik yang memang sangat gencar

menghembuskan pengaruh budaya pop tersebut, motifnya jelas, selain untuk


melenggangkan jalan mereka untuk meraih keuntungan melalui budaya konsumtif
yang mereka ciptakan, hegemoni pengaruh juga sedang dilakukan melalui
budaya-budaya yang diciptakan ini sehingga bisa jadi budaya lokal kita semakin
luntur oleh hegemoni tersebut, tidak hanya dalam bentuk fisik (pakaian, makanan,
trend, dsb), penurunan itu juga terlihat dalam bentuk kultur masyarakat.
Mesti disadari, gerakan mahasiswa pada saat ini mencapai level yang
sangat berat diakibatkan oleh banyaknya faktor - faktor nonfisik yang sangat
mempengaruhi serta membahayakan laju pergerakan mahasiswa pada saat ini.
Musuh bersama mahasiswa pada saat ini tidak hanya rezim yang menindas yang
secara jelas terlihat seperti pada era - era gerakan mahasiswa sebelumnya. Lebih
dari itu perlu kita sadari bahwa medan perang yang dialami mahasiswa lebih
kepada penyerangan non fisik yang sama sekali sangat kurang sekali disadari oleh
mahasiswa itu sendiri dan ini lebih berbahaya dan menghancurkan dibandingkan
pada masa sebelumnya.
Indonesia merupakan negara dunia ketiga yang sangat bergantung kepada
asing dan memang ini sudah menjadi persepsi yang sangat lumrah untuk kita
sadari sebagai realitas yang sebenarnya menjadi batu loncatan penindasan yang
dilakukan oleh pihak asing kepada kita tak terkecuali di dunia mahasiswa. Melalui
hutang dan berbagai macam "budi" pihak asing yang ditanamkan di negeri ini
patut diwaspadai sebagai bentuk awal penguasaan terhadap sumber daya alam di
negeri kita. Seperti yang kita ketahui bersama, atas dasar ketergantungan kita
terhadap asing, kita sangat membuka lebar kedatangan pemodal asing untuk
menanamkan modalnya di negeri ini dan menguasai seluruh sumber daya alam di
negeri kita. Konsekuensi pahitnya memang kita perlahan - lahan akan kehilangan
berbagai macam aset bangsa yang pelan - pelan telah berpindah ke pihak asing
dengan dalih investasi, melalui perusahaan Multi National Coorporation sebagai
"tentara" mereka dalam menjajah kita. Tidak hanya sumber daya alam, kita juga
harus sadar bahwa penguasaan asing di negeri ini telah memasuki ranah politis,
pemerintah beberapa kali membuat UU dan peraturan yang sangat berindikasi
dipengaruhi oleh pihak pemodal. Contohnya saja kebijakan UU Penanaman

Modal, UU Tenaga Kerja yang melegalkan outsourcing dan sangat tidak berpihak
kepada pekerja, UU BHP yang sempat disahkan oleh pemerintah dan akhirnya
berhasil dicabut atas desakan dari masyarakat, yang kemudian pada saat ini
bermetamorfosis menjadi UU PT yang akhirnya berujung pada komersialisasi
pendidikan. Dimana lahirnya kebijakan UKT merupakan salah satu dampak dari
sistem komersialisasi pendidikan tersebut.

GERAKAN INTELEKTUAL SEBAGAI SENJATA PERLAWANAN


Kembali kepada persoalan kondisi kaum intelektual pada saat ini,
penjajahan model baru yang telah dilakukan pihak asing kepada negara kita
merupakan suatu tantangan yang lebih berat ketimbang pada masa sebelumnya.
Jika sebelumnya musuh yang kita hadapi terlihat dalam bentuk nyata, maka pada
saat ini musuh yang kita hadapai lebih bersifat sistem dan telah hadir dalam
bentuk "soft war", jika pada waktu sebelumnya di masa imperialisme mereka
hadir dengan tentara dan perlengkapan militernya maka pada saat ini mereka
hadirkan Multi National Coorporation sebagai "tentara" baru yang siap
memperbudak rakyat kita, dan senjata yang mereka pakai bukan lagi berbentuk
peluru atau perlengkapan perang, melainkan media informasi yang dapat
mempengaruhi persepsi publik dan sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat
pada saat ini, dan modal sebagai senjata ampuh dalam menguasai ekonomi kita.
Disadari atau tidak, kondisi kaum intelektual kita pun pelan - pelan juga
telah terikut arus ini, seperti yang telah kita singgung sebelumnya, media
informasi sangat berperan dalam membangun persepsi publik dan mempengaruhi
pola pikir masyarakat kita tak terkecuali kaum intelektual kita, kampus yang
dahulunya dikenal sebagai sentral kaum intelektual dan berperan dalam
membangun dan mencerahkan kesadaran masyarakat telah berubah fungsi
menjadi pabrik pencetak "robot-robot perusahaan. Maka tak heran, mahasiswa
pada saat ini sudah mulai kehilangan kesadaran kritisnya dalam menyikapi
kondisi pada saat ini dan sudah mulai terjebak pada paradigama tersebut. Tak
hanya itu, media informasi yang diciptakan pada saat ini juga berperan dalam

menghanyutkan mahasiswa pada kondisi yang sangat memprihatinkan, jika kita


dulu melihat mahasiswa dalam kesehariannya dipenuhi dengan aktifitas
intelektual dan turut serta dalam pembangunan di dalam masyarakat sehingga
sangat berpengaruh di masanya, maka hari ini, kondisi tersebut sangat jarang kita
jumpai dan lebih banyak mahasiswa pada saat ini telah terjebak pada budaya
individualistis dan konsumeristis.
Kondisi seperti inilah yang perlu disadari pada saat ini bahwa bergantinya
zaman juga diikuti dengan bergantinya strategi para imperialis untuk menjajah
kita, dan mahasiswa sebagai kaum terdidik dan seharusnya mampu menjadi
elemen penting dalam memainkan peranan intelektualnya dalam menghempang
kondisi tersebut, seperti yang dilakukan oleh mahasiswa terdahulu di masa
kemerdekaan. Namun pada saat ini, perlawanan yang dilakukan bukanlah dalam
bentuk fisik lagi, melainkan dalam bentuk non fisik yang berkaitan dengan
pengaruh terhadap pola pikir masyarakat, penguasaan terhadap kebijakan
legitimasi pemerintah, maupun dalam bentuk sistem pendidikan.