Anda di halaman 1dari 17

TUGAS INDIVIDU

TEKNOLOGI KONSERVASI SBL


ERODIBILITAS, EROSIVITAS, DAN PERAN PENTING TANAMAN DALAM
EROSI

Disusun Oleh:
Nama

: SHOLIKAH W R

NIM

: 135040200111000

Kelas

:I

PROGAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

A. Faktor tanah dan lahan


1. Erodibilitas tanah
Erodibilitas Tanah adalah tingkat kepekaan suatu jenis tanah
terhadap erosi. Kepekaan tanah terhadap erosi (erodibilitas) tanah
didefinisikan oleh Hudson (1978) sebagai mudah tidaknya suatu
tanah tererosi. Secara lebih spesifik, Young et al. dalam veiche
(2002) mendefinisikan erodibilitas tanah sebagai mudah tidaknya
tanah untuk dihancurkan oleh kekuatan jatuhnya butir-butir hujan
atau oleh kekuatan aliran permukaan. Sementara Wischmeier dan
Mannering (1969) menyatakan bahwa erodibilitas alami tanah
merupakan sifat kompleks yang tergantung pada laju infiltrasi tanah
dan kapasitas tanah untuk bertahan terhadap penghancuran
agregat (detachment) serta pengangkutan oleh hujan dan aliran
permukaan.
Erodibilitas tanah dipengaruhi oleh banyak sifat-sifat tanah,
yakni sifat fisik, mekanik, hidrologi, kimia, reologi / litologi,
mineralogi dan biologi, termasuk karakteristik profil tanah seperti
kedalaman tanah dan sifat-sifat dari lapisan tanah (Veiche, 2002).
Poesen (1983) menyatakan bahwa erodibilitas bukan hanya
ditentukan oleh sifat-sifat tanah, namun ditentukan pula oleh faktorfaktor erosi lainnya yakni erosivitas, topografi, vegetasi, fauna dan
aktivitas manusia. Suatu tanah yang memiliki erodibilitas rendah
mungkin akan mengalami erosi yang berat jika tanah tersebut
terdapat pada lereng yang curam dan panjang, serta curah hujan
dengan intensitas yang tinggi. Sebaliknya tanah yang memiliki
erodibilitas tinggi, kemungkinan akan memperlihatkan gejala erosi
ringan atau bahkan tidak sama sekali bila terdapat pada pada
lereng yang landai, dengan penutupan vegetasi baik, dan curah
hujan dengan intensitas rendah. Hudson (1978) juga menyatakan
bahwa selain fisik tanah, faktor pengelolaan / perlakuan terhadap
tanah sangat berpengaruh terhadap tingkat erodibilitas suatu
tanah. Hal ini berhubungan dengan adanya pengaruh dari faktor
pengolalaan tanah terhadap sifat-sifat tanah. Seperti yang
ditunjukkan oleh hasil penelitian Rachman et al. (2003), bahwa
pengelolaan tanah dan tanaman yang mengakumulasi sisa-sisa
tanaman berpengaruh baik terhadap kualitas tanah, yaitu terjadinya
perbaikan stabilitas agregat tanah, ketahanan tanah (shear
strength), dan resistensi / daya tahan tanah terhadap daya hancur
curah hujan (splash detachment).
Meskipun erodibilitas tanah tidak hanya ditentukan oleh sifatsifat tanah, namun untuk membuat konsep erodibilitas tanah
menjadi tidak terlalu kompleks, maka beberapa peneliti
menggambarkan erodibilitas tanah sebagai pernyataan keseluruhan
pengaruh sifat-sifat tanah dan bebas dari faktor penyebab erosi
lainnya (Arsyad, 2000).
Kepekaan tanah terhadap erosi dipengaruhi oleh tekstur
tanah (terutama kadar debu +pasir halus), bahan organik, struktur
dan permeabilitas tanah (Hardjowigeno, 2003).

Erodibilitas tanah (ketahanan tanah) dapat ditentukan


dengan aturan rumus menurut, perhitungan nilai K dapat dihitung
dengan persamaan Weischmeier, et all, (1971)
K = 1,292{ 2,1 M 1,14 (10 -4) (12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (c-3)}
/100
Dimana :
M = ukuran partikel (% pasir sangat halus+ % debu x (100-%
liat)
% pasir sangat halus = 30 % dari pasir (Sinukaban dalam
Sinulingga,1990)
a = kandungan bahan organik (% C x 1,724)
b = harkat struktur tanah
c = harkat permeabilitas tanah
Menurut Morgan (1986) tekstur berperan dalam erodibilitas
tanah, partikel berukuran besar tahan terhadap daya angkut karena
ukurannya sedangkan partikel halus tahan terhadap daya
penghancur karena daya kohesifitasnya. Partikel yang kurang tahan
terhadap keduanya adalah debu dan pasir sangat halus.
Wischmeier dan Smith (1978) telah mengembangkan konsep
erodibilitas tanah yang cukup populer, dalam hal ini faktor
erodibilitas tanah (K) didefinisikan sebagai besarnya erosi persatuan
indeks erosi hujan untuk suatu tanah dalam keadaan standar, yakni
tanah terus-menerus diberakan (fallow) terletak pada lereng
sepanjang 22 m, berlereng 9% dengan bentuk lereng seragam. Dari
hasil percobaan sistem petak kecil/standar tersebut, nilai
erodibilitas tanah dapat dihitung dengan persamaan :
K = A/R
Dimana :
K = faktor erodibilitas tanah
A = erosi tanah (t ha-1 tahun-1)
R = faktor erosifitas curah hujan
Tinggi rendahnya tingkat erodibilitas tanah ( dapat disebut
sebagai kelas erodibilitas tanah), berdasarkan rekomendasi USDASCS (1973, dalam Danger dan El-Swaify, 1976) dibagi kedalam
enam kelas erodibilitas tanah sebagai berikut :

2. Sifat Tanah

Pada prinsipnya sifat-sifat tanah yang mempengaruhi


erodibilitas tanah adalah : Tekstur tanah, struktur tanah, bahan
organik, dan infiltrasi. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi laju
infiltrasi, permeabilitas dan kapasitas tanah menahan air. Sifat-sifat
tanah yang mempengaruhi ketahanan struktur tanah terhadap
dispersi dan pengikisan oleh butir-butir air hujan dan aliran
permukaan.
Sifat-sifat tanah tersebut mencakup tekstur, struktur, bahan
organik, kedalaman tanah dan tingkat kesuburan tanah (Morgan,
1979 ; Arsyad, 2000). Secara umum tanah dan kandungan debu
tinggi, liat rendah dan bahan organik rendah adalah yang paling
mudah tererosi (Wischmeier dan Mannering, 1969). Jenis mineral
liat, kandungan besi dan aluminium oksida, serta ikatan elektrokimia di dalam tanah juga merupakan sifat tanah yang berpengaruh
terhadap erodibilitas tanah (Wischmeier dan Mannering, 1969 ;
Liebenow et al., 1990).
Untuk mengetahui besarnya factor erodibilitas (K) dapat juga
digunakan table erodibilitas berdasarkan jenis tanah dan bahan
induk penyusunnya yang ditetapkan oleh pusat penelitian tanah,
bogor (chay asdak, 2002: 364). Berikut ini adalah angka erodibilitas
menurut jenis tanah dan bahan induk penyusunnya.
Untuk mengetahui erodibilitas tanah menggunakan table
erodibilitas berdasarkan pada jenis tanah yang ada di lapangan.
Table erodibilitas berdasarkan jenis tanah sebagai berikut: Table 3.
perkiraan besarnya nilai K untuk jenis tanah di daerah tangkapan air
jatiluhur, jawa barat (lembaga ekologi, 1979)
i. Tekstur Tanah
Tekstur
tanah
menunjukkan
kasar halusnya tanah,
ditentukan berdasarkan perbandingan butir-butir (fraksi) pasir
(sand), debu (silt) dan liat (caly). Fraksi pasir berukuran 2 mm
50 lebih kasar dibanding debu ( 50 2 ) dan liat ( lebih
kecil dari 2 ). Karena ukurannya yang kasar, maka tanah-tanah
yang didominasi oleh fraksi pasir seperti tanah-tanah yang
tergolong dalam sub-ordo Psamment, akan melalukan air lebih
cepat ( kapasitas infiltrasi dan permeabilitas tinggi)
dibandingkan dengan tanah-tanah yang didominasi oleh fraksi
debu dan liat. Kapasitas infiltrasi dan permeabilitas yang tinggi,
serta ukuran butir yang relatif lebih besar menyebabkan tanahtanah yang didominasi oleh pasir umumnya mempunyai tingkat
erodibilitas yang rendah. Tanah dengan kandungan pasir yang
halus (0,01 mm 50 ) tinggi juga mempunyai kapasitas
infiltrasi cukup tinggi, akan tetapi jika terjadi aliran permukaan,
maka butir-butir halusnya akan mudah terangkut.
Debu merupakan fraksi tanah yang paling mudah tererosi,
karena selai mempunyai ukuran yang relatif halus, fraksi ini juga
tidak mempunyai kemampuan untuk membentuk ikatan ( tanpa
adanya bantuan bahan perekat/pengikat), karena tidak
mempunyai muatan, maka fraksi ini dapat membentuk ikatan.

Meyer dan Harmon (1984) menyatakan bahwa tanah-tanah


bertekstur halus (didominasi liat) umumnya bersifat kohesif dan
sulit untuk dihancurkan. Walaupun demikian, bila kekuatan
curah hujan atau aliran permukaan mampu menghancurkan
ikatan antar partikelnya, maka akan timbul bahan sedimen
tersuspensi yang mudah untuk terangkut atau terbawa aliran
permukaan.
Fraksi halus ( dalam bentuk sedimen tersuspensi) juga dapat
menyumbat poro-pori tanah dilapisan permukaan akan
meningkat. Akan tetapi, jika tanah demikian mempunyai
agregat yang mantap, yakni tidak mudah terdispensi, maka
penyerapan air ke dalam tanah masih cukup besar, sehingga
aliran permukaan dan erosi menjadi relatif tidak berbahaya
(Arsyad, 2000).

ii. Bahan Organik


Bahan organik sangat berperan pada proses pembentukan
dan pengikatan serta menstabilkan agregat tanah. Pengikatan
dan penstabilan agregat tanah oleh bahan organik dapat
dilakukan melalui pengikatan secara fisik butir-butir primer
tanah oleh mycelia jamur, actionmycetes, dan/atau akar-akar
halus tanaman; dan pengikatan secara kimia, yaitu dengan
menggunakan gugus-gugus aktif dari bahan panjang, atau
gugusan positif ( gugus amine, amide, atau amino) pada
senyawa organik berbentuk rantai (polymer).
Bahan organik yang masih dalam bentuk serasah, seperti
daun, ranting, dan sebagainya yang belum hancur yang
menutupi permukaan tanah, merupakan pelindung tanah
terhadap kekuatan perusak butir-butir hujan yang jatuh. Bahan
organik tersebut juga menghambat aliran permukaan, sehingga
kecepatan alirannya lebih lambat dan relatif tidak merusak.
Bahan organik yang sudah mengalami pelapukan mempunyai
kemampuan menyerap dan menahan air yang tinggi, sampai
dua-tiga kali berat keringnya. Akan tetapi, kemampuan
menyerap air ini hanya merupakan faktor kecil dalam
mempengaruhi kecepatan aliran permukaan. Pengaruh utama
bahan organik adalah memperlambat aliran permukaan,

meningkatkan infiltrasi, dan memantapkan agregat tanah


(Arsyad, 2000).
Bahan organik di dalam tanah jumlahnya tidak sama antara
jenis tanah yang satu dengan yang lainnya seperti Histosol yang
mengandung bahan organik > 65 %. Perbedaan kandungan
bahan organik ini tergantung pada jenis tanah dan cara
pengelolaan tanah.

iii. Struktur/Agregasi tanah


Bentuk dan stabilitas agregat, serta persentase tanah yang
teragregasi sangat berperan dalam menentukan tingkat
kepekaan tanah terhadap erosi. Hasil penelitian Meyer dan
Harmon (pooly aggregated). Tanah-tanah dengan tingkat
agregasi tinggi, berstruktur kersai atau granular, serang, tingkat
penyerapan airnya lebih tinggi dari pada tanah yang tidak
berstruktur atau susunan butir-butir primernya lebih rapat.
Selain
dipengaruhi oleh tekstur dan kandungan bahan
organik, pembentukan agregat tanah dipengaruhi jga oleh
jumlah dan jenis kation yang diadsorbsi liat. Pengaruh
kandungan besi dan aluminium oksida terhadap tingkat
erodiilitas tanah, juga erat hubungannya dengan pembentukan
dan penstabilan agregat tanah (Liebenow et al., 1990). Besi dan
aluminium oksida membentuk dan meningkatkan kestabilan
agregat tanah, melalui peningkatan gugus-gugus negatif dari
liat oleh gugus positif dari oksida-oksida tersebut.
Stabilitas agregat tanah sangat berpengaruh terhadap
kematapan pori tanah. Tanah-tanah yang mudah terdispensi
atau agregatnya tidak stabil menyebabkan pori-porinya tanah
juga mudah hancur atau tertutup/tersumbat oleh liat atau debu
(erosi internal), sehingga laju dan kapasitas infiltrasi tanah
mengalami penurunan.
Struktur tanah
merupakan
sifat
fisik
tanah
yang
menggambarkan susunan keruangan partikel-partikel tanah
yang bergabung dengan satu dengan yang lain membentuk
agregat. Dalam tinjauan morfologi, struktur tanah diartikan
sebagai susunan partikel-partikel primer menjadi satu kelompok
(cluster) yang disebut agregat yang dapat dipisah-pisahkan

kembali serta mempunyai sifat yang berbeda dari sekumpulan


partikel primer yang tidak teragregasi. Dalam tinjauan edafologi,
sejumlah faktor yang berkaitan dengan struktur tanah jauh lebih
penting dari sekedar bentuk agregat. Dalam hubungan tanahtanaman, agihan ukuran pori, stabilitas agregat, kemampuan
teragregasi kembali saat kering dan kekerasan (hardness)
agregat jauh lebih penting dari ukuran dan bentuk agregat itu
sendiri (Suci dan Bambang, 2002).
Istilah struktur tanah merujuk cara butiran-butiran tanah
saling mengelompok secara bersama-sama diikat oleh koloida
tanah. Tingkat perkembangan struktur tanah ditentukan
berdasarkan atas kemantapan dan ketahanan bentuk struktur
tanah tersebut terhadap tekanan. Tanah dikatakan tidak
berstruktur bila butir-butir tanah tidak melekat satu sama lain
atau saling melekat menjadi satu satuan yang padu dan disebut
massive atau pejal. Tanah dengan struktur yang baik
mempunyai tata udara yang baik, unsur-unsur hara lebih mudah
tersedia dan mudah diolah (Hardjowigeno, 2003).
Struktur tanah sangat berpengaruh pada pertumbuhan akar
dan bagian tanaman di atas tanah. Apabila tanah padat maka
ruang pori tanah berkurang sehingga pertumbuhan akar
terbatas yang akhirnya produksi menurun. Struktur tanah
berpengaruh kuat terhadap kerapatan isi tanah (Winarso, 2005).
Bentuk dan stabilitas agregat serta persentase tanah yang
teragregasi sangat berperan dalam menetukan tingkat
kepekaan tanah terhadap erosi. Tanah yang peka terhadap erosi
adalah tanah yang paling rendah persentase agregasinya.
Tanah-tanah dengan tingkat agregasi yang tinggi, berstruktur
kersai, atau granular tingkat penyerapan airnya lebih tinggi dari
pada tanah yang tidak berstruktur atau susunan butir-butir
primernya lebih rapat (Meyer dan Harmon, 1984).

iv. Jenis Mineral


Jenis mineral sangat erat hubungannya dengan sifat-sifat
tanah yang dihasilkan. Liat yang mempunyai nisbah silika
terhadap sesquioksida [SiO2/(Fe2O3+Al2 O3 )] lebih besar dari
nilai kritikal (>2), umumnya plastis dan mengembang jika
basah, sedangkan yang mempunyai nisbah <2 umumnya kersai
dan tidak mudah tererosi. Mineral liat smektit (montmorillonit)

mempunyai nisbah silika terhadap sesquioksida yang tinggi, dan


diketahui bahwa tanah-tanah yang banyak mengandung liat ini
bersifat mengembang dan plastis jika basah, sehingga
agregatnya tidak begitu stabil dalam air, dan oleh karenanya
mudah tererosi. Mineral liat kaolinit yang mempunyai nisbah
silika terhadap sesquioksida rendah, bersifat tidak mengembang
dan hanya sedikit plastis jika basah, dan membentuk agregat
yang stabil. Kepekaan erosi tanah dengan mineral liat ilit
berbeda di antara liat smektit ( montmorillonit) dan kaolinit.
Oxisol, yang mengandung sesquioksida tinggi dan silika yang
rendah, membentuk agregat yang stabil dan tahan terhadap
erosi (Arsyad, 2000).
v. Kedalaman dan Sifat Lapisan Tanah
Karakteristik profil tanah yang sangat menentukan tingkat
erodibilitas tanah adalah kedalaman tanah dan sifat lapisan
tanah. Kedalaman tanah sampai lapisan kedepan atau bahan
induk akan menentukan jumlah air yang meresap ke dalam
tanah. Sedangkan sifat lapisan tanah sangat berpengaruh
terhadap laju peresapan air kedalam tanah. Selanjtnya, jumlah
dan laju peresapan air ke dalam tanah sampai lapisan kedap
sangat menentukan besarnya aliran permukaan, dan hal ini
sangat menentukan besarnya aliran permukaan. Tanah-tanah
yang dangkal seperti Etinol, umumnya mempunyai kemampuan
untuk menampung air relatif rendah. Sedangkan pada tanahtanah yang tergolong Ultisol atau Alfisol, keberadaan horizon
bawah permukaan yang tergolong Ultisol, keberadaan horizon
bawah proses peresapan air ke dalam tanah.
Selanjutnya menurut Veiche (2002), karakteristik penampang
tanah, khususnya kedalaman tanah dan sifat-sifat lapisan tanah,
juga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif
tanaman. Pertumbuhan vegetatif tanaman yang cepat akan
memperbesar kebutuhan air untuk proses evapotranspirasi,
sehingga kandungan air di dalam tanah akan cepat menurun,
termasuk air di dalam pori akan menjadi cepat kosong yang
memungkinkan terjadinya penyerapan air dari hujan berikutnya.
vi. Kesuburan Tanah
Pengaruh kesuburan tanah terhadap eridibilitas tanah
berpangkal pada kaitannya dengan pertumbuhan tanaman.
Pada tanah yang relatif lebih subur, pertumbuhan tanaman akan
relatif lebih baik. Hal ini akan berdampak pada tingkat
kemampuan penyerapan air oleh tanah. Pada in situ akan lebih
terjamin. Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa peranan
bahan organik dalam menentukan kepekaan tanah terhadap
erosi sangat penting.
vii. Permeabilitas Tanah
Permeabilitas tanah adalah kecepatan air menembus tanah
pada periode tertentu dan dinyatakan dalam cm/jam (Foth,
1978). Sedangkan menurut Hakim dkk (1986) permeabilitas

tanah adalah menyatakan kemampuan tanah melalukan air


yang bisa diukur dengan menggunakan air dalam waktu
tertentu.
Nilai permeabilitas penting dalam menentukan penggunaan
dan pengelolaan praktis tanah. Permeabilitas mempengaruhi
penetrasi akar, laju penetrasi air, laju absorpsi air, drainase
internal dan pencucian unsur hara (Donahue, 1984).
Faktor-faktor yang mempengaruhi permeabilitas tanah
menurut Hillel (1971) antara lain adalah tekstur tanah, porositas
dan distribusi ukuran pori, stabilitas agregat dan stabilitas
struktur tanah serta kadar bahan organik tanah. Ditegaskan lagi
bahwa hubungan yang lebih utama terhadap permeabilitas
tanah adalah distribusi ukuran pori sedangkan faktor- faktor
yang lain hanya ikut menentukan porositas dan distribusi ukuran
pori. Tekstur kasar menurut Anonimous (2008) mempunyai
permeabilitas yang tinggi dibandingkan dengan tekstur yang
halus karena tekstur kasar mempunyai pori makro dalam jumlah
banyak sehingga umumnya tanah-tanah yang didominasi oleh
tekstur kasar seperti pasir umumnya mempunyai tingkat
erodibilitas tanah yang rendah.
Permeabilitas tanah juga dapat diukur dengan menggunakan
metode Hukum Darcy. Tanah di lapangan pada umumnya
berlapis, pada pasir nilai permeabilitas lapangan dan
laboratorium jelas berbeda akibat proses sedimentasi dalam
pembentukan deposit tanah, struktur tanah di lapangan dapat
berubah atau hilang karena contoh tanah yang tidak terganggu
tidak dapat diuji (Bowles, 1991).
Nilai permeabilitas dapat ditentukan dengan data lapangan
dan data analisis laboratorium berbeda Nilai permeabilitas tanah
ditetapkan dalam keadaan jenuh.

3. Peran lereng
Pada prakteknya, variabel S dan L dapat disatukan, karena
erosi akan bertambah besar dengan bertambah besarnya
kemiringan permukaan medan (lebih banyak percikan air yang
membawa butir-butir tanah, limpasan bertambah besar dengan
kecepatan yang lebih tinggi), dan dengan bertambah panjangnya
kemiringan (lebih banyak limpasan menyebabkan lebih besarnya
kedalaman aliran permukaan oleh karena itu kecepatannya menjadi
lebih tinggi). Gambar 3.8.berikut menunjukkan diagram untuk
memperoleh nilai kombinasi L S, dengan
nilai LS = 1 jika L = 22,13 m dan S = 9%

Faktor panjang lereng (L) didefinisikan secara


matematik sebagai berikut (Schwab et al.,1981) :
rumus : L = (l/22,1) m
dimana :
l = panjang kemiringan lereng (m)
m = angka eksponen yang dipengaruhi oleh interaksi antara
panjang lereng dan kemiringan lereng dan dapat juga oleh
karakteristik tanah, tipe vegetasi
Angka ekssponen tersebut bervariasi dari 0,3 untuk
lereng yang panjang dengan kemiringan lereng kurang dari

0,5
%
sampai
0,6
untuk
lereng
lebih
pendek
dengankemiringan lereng lebih dari 10 %. Angka eksponen
rata-rata yang umumnya dipakai adalah 0,5. Faktor
kemiringan lereng S didefinisikan secara matematis sebagai
berikut (Schwab et al.,1981): rumus : S = (0,43+ 0,30s +
0,04s 2 ) / 6,61
dimana :
s = kemiringan lereng aktual (%)
Seringkali dalam prakiraan erosi menggunakan
persamaan USLE komponen panjang dan kemiringan lereng
(L dan S) diintegrasikan menjadi faktor LS dan dihitung
dengan rumus :
LS = L1 / 2 (0,00138S 2 + 0,00965S + 0,0138)
dimana :
L = panjang lereng (m)
S = kemiringan lereng (%)
Rumus diatas diperoleh dari percobaan dengan
menggunakan plot erosi pada lereng 3 - 18 %, sehingga
kurang memadai untuk topografi dengan kemiringan lereng
yang terjal. Harper (1988) menunjukkan bahwa pada lahan
dengan kemiringan lereng lebih besar dari 20 %, pemakaian
persamaan LS = L1 / 2 (0,00138S 2 + 0,00965S + 0,0138)
akan diperoleh hasil yang over estimate. Untuk lahan
berlereng terjal disarankan untuk menggunakan rumus
berikut ini (Foster and Wischmeier, 1973).
rumus : LS = (l / 22)mC(cos )1,50 [0,5(sin )1,25 +
(sin )2,25 ]
dimana :
m = 0,5 untuk lereng 5 % atau lebih
= 0,4 untuk lereng 3,5 4,9 %
= 0,3 untuk lereng 3,5 %
C = 34,71
= sudut lereng
l = panjang lereng (m)

B. Hujan
1. Sifat Hujan
Sifat Hujan adalah perbandingan antara jumlah curah hujan yang
terjadi selama satu bulan dengan nilai rata-rata atau normalnya pada
bulan tersebut di suatu tempat. Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria,
yaitu:
a. Di Atas Normal (A), jika perbandingan terhadap rata-ratanya lebih
besar dari 115%.
b. Normal (N), jika perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85%115%.
c. Di Bawah Normal (B), jika perbandingan terhadap rata-ratanya
lebih kecil dari 85%.

Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah


hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat
ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun. Normal
Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing
bulan selama 30 tahun berturut turut yang periode waktunya dapat
ditentukan secara bebas. Standar Normal Curah Hujan bulanan adalah
nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama 30 tahun
berturut turut yang periode waktunya sudah ditetapkan, yaitu:
1) 1 Januari 1901 s/d 31 Desember 1930,
2) 1 Januari 1931 s/d 31 Desember 1960,
3) 1 Januari 1961 s/d 31 Desember 1990,
4) 1 Januari 1991 s/d 31 Desember 2020,
dan seterusnya.
2. Erosivitas Hujan
Sifat-sifat curah hujan yang mempengaruhi erosivitas adalah
besarnya butir-butir hujan, dan kecepatan tumbukannya. Jika dikalikan
akan diperoleh :
rumus : M = m v
E=

1
2

M V2

dimana :
M = momentum (kg.m/s)
m = massa butir hujan (kg)
v = kecepatan butir hujan, yang diambil biasanya kecepatan pada saat
terjadi tumbukan, atau dinamakan kecepatan terminal (m/s)
E = energi kinetik (joule/m 2 )
Momentum dan energi kinetik, keduanya dapat dihubungkan
dengan tumbukan butir-butir air hujan terhadap tanah, tetapi
kebanyakan orang lebih menyukai menggunakan energi kinetik untuk
dihubungkan dengan erosivitas. Energi kinetik curah hujan dapat
diperoleh pertama-tama dengan menganalisis grafik hubungan
intensitas curah hujan dengan waktu (pluviograph). Untuk memperoleh
energi kinetik total, angka energi kinetik per kejadian hujan dikalikan
dengan ketebalan hujan (mm) yang jatuh selama periode pengamatan.
Selanjutnya, hasil perkalian ini dijumlahkan. Untuk mendapatkan angka
R, energi kinetik total tersebut diatas dikalikan dengan dua kali
intensitas hujan maksimum 30 menit ( 30 I ), yaitu merubah satuan
intensitas hujan maksimum per 30 menit menjadi intensitas hujan
maksimum per jam, kemudian dibagi dengan 100. Periode intensitas
curah hujan dan intensitas hujan maksimum 30 menit dapat diperoleh
dari hasil pencatatan curah hujan di lapangan. Pada metode USLE,
prakiraan besarnya erosi dalam kurun waktu per tahun (tahunan), dan
dengan demikian, angka rata-rata faktor R dihitung dari data curah
hujan tahunan sebanyak mungkin dengan menggunakan persamaan :

dimana :

R = erosivitas hujan rata-rata tahunan


n = jumlah kejadian hujan dalam kurun waktu satu tahun (musim
hujan)
X = jumlah tahun atau musim hujan yang digunakan sebagai dasar
Perhitungan
Besarnya EI proporsional dengan curah hujan total untuk kejadian
hujan dikalikan dengan intensitas hujan maksimum 30 menit. Dalam
penelitian Utomo dan Mahmud hubungan erosivitas (R) dengan
besarnya curah hujan tahunan (P) sebagai berikut:
R = 237,4 + 2,61P
Sementara, Bols (1978) dengan menggunakan data curah hujan
bulanan di 47 stasiun penakar hujan di pulau Jawa yang dikumpulkan
selama 38 tahun menentukan bahwa besarnya erosivitas hujan
tahunan rata-rata adalah sebagai berikut :
rumus : 1,21 0,47 0,53
30 EI = 6,12(RAIN) (DAYS) (MAXP)
dimana :
30 EI = erosivitas hujan rata-rata tahunan
RAIN = curah hujan rata-rata tahunan (cm)
DAYS = jumlah hari hujan rata-rata per tahun (hari)
MAXP = curah hujan maksimum rata-rata dalam 24 jam per bulan
untuk kurun waktu satu tahun (cm).
Cara menentukan besarnya indeks erosivitas hujan yang lain adalah
sepeti dikemukakan oleh Lenvain (DHV, 1989). Rumus matematis yang
digunakan oleh Lenvain untuk menentukan faktor R tersebut
didasarkan pada kajian erosivitas hujan dengan menggunakan data
curah hujan beberapa tempat di Jawa.
rumus : R = 2,21P1,36
dimana :
R = indeks erosivitas
P = curah hujan bulanan (cm)
Cara menentukan besarnya indeks erosivitas hujan yang terakhir ini
lebih sederhana karena hanya memanfaatkan data curah hujan
bulanan.
3. Limpasan Permukaan
Limpasan permukaan atau aliran permukaan adalah bagian dari
curah hujan yang mengalir diatas permukaan tanah dan mengangkut
partikel-partikel tanah. Limpasan terjadi karena intensitas hujan yang
jatuh di suatu daerah melebihi kapasitas infiltrasi, setelah laju infiltrasi
terpenuhi air akan mengisi cekungan-cekungan pada permukaan
tanah. Setelah cekungan-cekungan tersebut penuh, selanjutnya air
akan mengalir (melimpas) diatas permukaan tanah (surface run off).
Jika aliran air terjadi di bawah permukaan tanah disebut juga sebagai
aliran di bawah permukaan dan jika yang terjadi adalah aliran yang
berada di lapisan equifer (air tanah), maka disebut aliran air tanah. Air
limpasan permukaan di bedakan menjadi: sheet dan rill surface run-of
akan tetapi jika aliran air tersebut sudah masuk ke sistem saluran air
atau kali, maka disebut sebagai stream flow run-off.
Limpasan permukaan akan terjadi apabila syarat-syarat terjadi
terpenuhinya limpasan permukaan adalah :

1. Terjadi hujan atau pemberian air ke permukaan.


2. Intensitas hujan lebih besar dari pada laju dan kapasitas infiltrasi
tanah dan Topografi.
3. Topografi dan kelerengan tanah memungkinkan untuk terjadinya
aliran air di atas permukaan tanah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi limpasan permukaan: Limpasan
permukaan sangat berhubungan dengan infiltrasi, oleh karna itu
dengan memahami proses terjadinya limpasan permukaan, factor
yang berpengaruh, akan bisa dilakukan analisias limpasan permukaan
serta kaitanya dengan erosi dan sedimentasi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi infiltrasi juga akan mempengaruhui limpasan
permukaan. Laju infiltrasi dipengaruhi oleh jenis tanah, kondisi
permukaan tanah, tekstur dan struktur tanah, kandungan bahan
organik, kepadatan tanah, kedalaman solum tanah, kadar air awal
tanah dan tipe hujan yang terjadi atau cara pemberian air irigasi,
untuk lahan beririgasi.
Menurut Sosradarsono dan Takeda (1978:135) (dalam Ziliwu
2000:12) mengemukakan bahwa: "Limpasan permukaan terjadi ketika
jumlah curah hujan melampaui laju infiltrasi, setelah laju infiltrasi
terpenuhi, air mulai mengisi cekungan atau depresi pada permukaan
tanah". Setelah pengisian selesai maka air akan mengalir dengan
bebas dipermukaan tanah. Faktor-faktor yang mempengaruhi limpasan
permukaan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu elemen meteorologi
dan elemen sifat fisik daerah pengaliran.
Elemen meteorologi meliputi jenis presipitasi, intensitas hujan,
durasi hujan, dan distribusi hujan dalam daerah pengaliran, sedangkan
elemen sifat fisik daerah pengaliran meliputi tata guna lahan (land use
), jenis tanah dan kondisi topografi daerah pengaliran (catchment ).
Elemen sifat fisik dapat dikategorikan sebagai aspek statis sedangkan
elemen meteorologi merupakan aspek dinamis yang dapat berubah
terhadap waktu, adapun faktor - faktor yang mempengaruhi limpasan
permukaan sebagai berikut :
a. Hujan
Hujan, yang meliputi tipe, lama, intensitas dan sebaran hujan
sangat menentukan limpasan permukaan yang terjadi di suatu
daerah aliran sungai (DAS) jumlah (volume) dan debit limpasan
yang terjadi di suatu DAS sangat berkaitan dengan intensitas dan
lamanya hujan yang terjadi di DAS yang bersangkutan.
b. Laju dan kapasitas Infiltrasi Tanah
Menurut Mawardi (2012:131) Laju dan kapasitas infiltrasi
dapat di tentukan menggunakan metode percobaan lapangan
(langsung) menggunakan infiltrometter, atau dapat di perkirahkan
menurut rumus empiris yang telah ada seperti rumus empiris yang
sudah dikembangkan.
c. Kondisi DAS
Kondisi DAS, meliputi ukuran bentuk DAS ,topografi meliputi
datar (0-8%), landai (0-15%), bergelombang (15-25%), berbukit (2540%), bergunung (> 40%) geologi, dan penggunaan lahan.
Limpasan permukaan akan semakin menurun sebanding dengan

semakin bertambahnya luas DAS, luas DAS ini menentukan musim


atau saat kapan suatu puncak limpasan permukaan akan terjadi.
Suatu DAS yang berbentuk memanjang dan sempit kemungkinan
akan menghasilkan limpasan permukaan yang lebih kecil
dibandingkan dengan DAS yang lebih besar dan kompak untuk luas
DAS yang sama. Hal ini disebabkan DAS yang berbentuk sempit dan
memanjang mempuyai waktu konsentrasi yang lebih lama dan
curah hujanya terutama intensitasnya juga tidak sering merata
sepanjang DAS yang berbentuk memanjang. Bentuk topografi DAS
seperti kelerengan, derajat kemiringan sistem drainase dan
keberadaan cekungan penyimpan air di permukaan berpengaruh
pada volume dan debit limpasan permukaan. Suatu DAS dengan
bentuk permukaan lahan datar dan terdapat cekungan peyimpan air
permukaan yang tak ber-outlet cenderung mempuyai limpasan
permukaan yang lebih kecil di banddingkan dengan topografinya
miring dan mempuyai pola dan sistem drainase (stream) yang
sudah mapan. Sifat geologi tanah berpengaruh terhadap infiltrasi
oleh karena itu berpengaruh pula terhadap limpasan.
d. Distribusi Curah Hujan
Faktor ini mempengaruhi hubungan antara hujan dan derah
pengaliran suatu volume hujan tertetu yang tersebar merata
diseluruh daerah aliran intensitasnya akan berkurang apabila curah
hujan sebagian saja dari daerah aliran, dan menyebabkan
terjadinya aliran permukaan lambat.
e. Kondisi Pengunaan Lahan
Aliran permukaan sangat dipengaruhi oleh kondisi pengunaan
tanah dalam daerah pengaliran. Daerah hutan yang ditutupi
tumbuhan yang lebat adalah sulit terjadi aliran permukaan karna
besarnya intersepsi, evaporasi, transpirasi dan perkolasi. Jika
daerah ini dijadikan derah pembangunan dan dikosongkan, maka
kesempatan untuk infiltrasi semakin kecil sehingga dapat
memperbesar aliran permukaan.
f. Luas Daerah Pengaliran
Luas daerah pengaliran berpengaruh pada aliran permukaan,
makin luas daerah pengaliran maka waktu airan permukaan untuk
mencapai titik pengukuran semakin lama.
Debit aliran air di sungai keduanya merupakan informasi yang
penting untuk analisis dan perencanaan pengolahan DAS. Informasi
debit puncak (debit pada saat puncak banjir) sangat di perlukan untuk
untuk perencaan pengendalian banjir seperti cheek dam, pelimpah,
saluran pembuangan air, waduk dan sebagainya. Salah satu cara untuk
mendapatkan debit sungai adalah dengan melakukan pengukuran
secara langsung dilapangan dengan mengukur penampang sungai dan
kecepatan aliran airnya.
Pengukuran kecepatan aliran bisa di lakukan dengan 2 cara yakni
pelampung atau dengan alat ukur kecepatan propeller (current meter)
Pengukuran
kecepatan
menggunakan
pelampung
memang
memberikan ketelitian yang rendah, karna hanya bisa mengukur

kecepatan aliran di permukaan air. Oleh karna itu cara pelampung ini
disarankan hanya untuk saluran yang tidak terlalu lebar dan dalam,
dengan penampang yang hampir seragam dan aliran airnya tunak
(steady). Untuk saluran atau sungai yang cukup lebar dan dengan
dalam dan dengan bentuk geometri penampang yang tidak teratur,
pengukuran kecepatan aliran dengan alat ukur kecepatan dalam
bentuk propeller.
Pengukuran kecepatan dengan bangun ukur. Untuk saluran air yang
tidak terlalu besar dan dalam, pengukuran debit aliran bisa
menggunakan banguan ukur debit yang dipasang pada pengukuran
yang terpilih. Terdapat dua jenis bangunan ukur yakni tipe bending
(weir) dan tipe saluran atau gorongan terbuka (flume) Pengukuran
debit menggunakan bangunan ukur pada umumnya di lakukan pada
saluran irigasi atau sungai yang tidak terlalu lebar serta mempuyai
kelerengan aliran yang cukup (perbedaan elevansi antara bagian hulu
dan hilir besar) sehingga air yang melewati ambang bendung (crest)
akan berupa aliran terjun.
Jika aliranya yang melewati ambang berupa aliran ukur yang
tenggelam bangunan ukur yang tidak akan bisa berfungsi dengan baik,
karena terjadi kesalahan dan debit terukur tidak menggambarkan debit
ukur air sesungguhnya. Walaupun kelihatanya sederhana karna hanya
dengan mengukur kecepatan aliran dan luas penampang saluran atau
sungai pengukuran debit ini akan menjadi sulit untuk memperoleh data
debit.
Sebaran kecepatan aliran kearah horizontal maupun kedalamnya,
oleh karna itu pengukuran kcepatan di lakukan di beberapa titik
kedalaman dan lebar salutran atau sungai. Debit aliran Limpasan
Permukaan saluran atua sungai yang di ukur merupakan jumlah
perkalian dari kecepatan dan luas penampang aliran masing-masing
segmen.
Volume Dan Laju Limpasan Permukaan (Lp).
Penentuan besarnya (volume) dan laju limpasan permukaan bisa
dilakukan dengan berbagai metode, antara lain :
1. Metode pengukuran langsung di lapangan : menggunakan plot
percobaan dilapangan (berlaku lokal), dan mengamati hasil limpasan
permukaan di outletnya, saluran pembuagan air (SPA)
2. Prediksi laju limpasan permukaan mengunakan rumus atau metode
rasional: metode soil conservation server (SCS) dan metode lainya,
metode-metode tersebut bisa di gunakan untuk prediksi dalam unit
hidrologi yang luas tanpa harus melakukan pengukuran langsung,
menggunakan data hujan dan sifst fisik hidrologi yang tersedia di das
yang bersangkutan.

C. Tanaman: peran tanaman dalam proses erosi

Tumbuh-tumbuhan yang hidup diatas permukaan tanah dapat


memperbaiki kemampuan tanah menyerap air dan memperkecil kekuatan
perusak butir-butir hujan yang jatuh, dan daya dispersi dan angkut aliran
air di atas permukaan tanah. Perlakuan atau tindakan-tindakan yang
diberikan manusia terhadap tanah dan tumbuh-tumbuhan di atasnya akan

menentukan apakah tanah itu akan menjadi baik dan produktif atau
menjadi rusak (Arsad, 1989).

DAFTAR PUSTAKA
Morgan, R.P.C. 2005. Soil erosion and conservation. Blackwell Publishing,
Ltd. UK.
Asdak, C. 2002. Hidrologi dan pengelolaan daerah aliran sungai. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.
Chay Asdak, 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Gajah
Mada University Press, Yogyakarta. Hal.169, 455-459, 463, 472473, 491.
Wischmeier. W.H, 1976, Predicting Reinfall Erosion Losses a Guide
Consevation
Arsyad, S, 1989, Konservasi Tanah dan Air, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Wiscmeier,W.H.danD.D.Smith.
(1978).PredictingRainfallErosionLosses:AGuideToConservationPlan
ning.Agriculture.HandbookNo.282.UnitedStatesDepartmentinCoorp
orationWithPurdueAgriculturalExperimentalStation.
SchmidtF.H.danJ.H.A.Ferguson(1951).RainfallTypesBasedonWetandDryPerio
deRatiosForIndonesiawithWesternNewGuinea.
(cetakulang).Djakarta:KementrianPerhubunganDjawatanMeteorolo
gidanGeofisika.VerhandelingenNo.42.