Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN
Trauma merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami cedera oleh salah satu
sebab. Penyebab yang paling sering adalah kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, olah raga
dan rumah tangga. Setiap tahun 60 juta penduduk Amerika Serikat mengalami trauma dan 50%
memerlukan tindakan medis. 3,6 juta membutuhkan perawatan di Rumah Sakit. Banyak dari
korban trauma tersebut mengalami cedera musculoskeletal berupa fraktur, dislokasi, dan cedera
jaringan lunak. Cedera sistem musculoskeletal cenderung meningkat dan terus meningkat dan
akan mengancam kehidupan kita (Rasjad C,2003).
Salah satu cedera musculoskeletal yang sering terjadi adalah fraktur. Berdasarkan hasil
Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes RI
tahun 2007 di Indonesia terjadi kasus fraktur yang disebabkan oleh cedera antara lain karena
jatuh, kecelakaan lalu lintas dan trauma benda tajam/ tumpul. Dari 45.987 peristiwa terjatuh yang
mengalami fraktur sebanyak 1.775 orang(3,8%), dari 20.829 kasus kecelakaan lalu lintas, yang
mengalami fraktur sebanyak 1.770 orang (8,5%), dari 14.127 trauma benda tajam/ tumpul, yang
mengalami fraktur sebanyak 236 orang (1,7%).
Gejala klasik fraktur adalah adanya riwayat trauma, rasa nyeri dan bengkak di bagian
tulang yang patah, deformitas, gangguan fungsi muskuloskeletal, putusnya kontinuitas tulang,
dan gangguan neurovaskuler (Sjamsuhidajat, De Jong, 2011). Namun tidak semua tanda dan
gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur kebanyakan justru tidak ada pada fraktur linear, fisur
atau fraktur impaksi (permukaan patahan saling terdesak satu sama lain) sedangkan diagnosis
fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik dan pemeriksaan sinar-x (radiologis) pasien. Maka
dari itu penting bagi seorang klinisi untuk mengetahui bagaimana gambaran radiologi pada
fraktur untuk menentukan suatu diagnosis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. DEFINISI
Menurut Mansjoer (2000), fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan rudapaksa. Rusaknya kontinuitas tulang ini dapat
disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi
tulang seperti osteoporosis. Menurut Sjamsuhidayat (2011), fraktur atau patah tulang adalah
terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh
rudapaksa. Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat total
maupun sebagian (Chairudin Rasjad, 1998).

Fraktur dikenal dengan istilah patah tulang,

biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan, sudut, tenaga, keadaan tulang, dan
jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi disebut lengkap
atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur tidak
lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang (Sylvia, 2005).
2.2. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Tulang terbagi dalam 4 kategori yaitu tulang panjang, tulang pendek, tulang pipih dan
tulang tidak teratur. Tulang tersusun oleh jaringan tulang konselus (trabekular/spongius) atau
kortikel, tulang panjang. Ujung tulang panjang ditutupi oleh kartilago artikular pada sendisendinya. Tulang panjang disusun untuk menyangga berat badan dan gerakan.
Tulang pendek terdiri dari tulang konselus ditutupi selapis tulang kortikel. Tulang pipih
merupakan tempat penting untuk hematopoiesis dan sering memberikan perlindungan bagi
oragan vital. Tulang tak teratur mempunyai bentuk yang unik sesuai dengan fungsinya.
Ositeoblas berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresikan matrik tulang.
Osteosis adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam
osteon. Osteoklas adalah sel multinuklea (berinti banyak) yang berperan dalam penghancuran
dan resorbsi tulang. Endosteum adalah membran vaskuler tipis yang menutupi rongga sumsum
tulang panjang dan rongga-rongga tulang konselus (Rasjad, 2003).

2.3. ETIOLOGI
Penyebab fraktur adalah trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut
kekuatannya melebihi kekuatan tulang, dan mayoritas fraktur akibat kecelakaan lalu lintas.
Trauma-trauma lain adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja, cidera olah raga. Trauma bisa
terjadi secara langsung dan tidak langsung. Dikatakan langsung apabila terjadi benturan pada
tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu, dan secara tidak langsung apabila titik tumpu
benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan (Rahmad, 1996).
Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada
tulang. Fraktur lebih sering terjadi pada orang laki-laki daripada orang perempuan dengan umur
dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau luka yang
disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Sedangkan pada orang tua, wanita lebih sering
mengalami fraktur daripada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insidensi
osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon pada menopause (Setyono, 2001)
Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir
mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang
lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya (Brunner & Suddart, 2002).
Jadi penyebab fraktur adalah:
a. Trauma tulang dikenai tekanan/ stress yang lebih besar
b. Kecelakaan kendaraan bermotor
c. Kecelakaan karena pekerjaan olahraga
d. Osteoporosis
e. Pukulan langsung
f. Gaya meremuk
g. Gerakan puntir mendadak
h. Kontraksi otot ekstrem
2.4. KLASIFIKASI FRAKTUR
Fraktur untuk alasan praktis dibagi menjadi beberapa kelompok.
A Fraktur komplit
Tulang terbagi menjadi dua atau lebih fragmen. Pola fraktur pada rontgen dapat
membantu memprediksi tindakan setelah reduksi: jika fraktur transversal patahan
biasanya akan tetap pada tempatnya setelah reduksi; jika fraktu oblique atau spiral, tulang
cenderung memendek dan kembali berubah posisi walaupun tulang dibidai. Jia terjadi
fraktur impaksi, fragmen terhimpit bersama dan garis fraktur tidak jelas. Fraktur

kominutif dimana terdapat lebih dari 2 fragmen tulang; karena jeleknya hubungan antara
permukaan tulang, cenderung tidak stabil.
B Faktur inkomplit
Disini tulang tidak secara total terbagi dan periosteum tetap intak. Pada fraktur greenstick
tulang membengkok; hal ini terjadi pada anak-anak yang tulangnya lebih lentur
dibandingkan dewasa. Anak-anak juga dapat bertahan terhadap cedera dimana tulang

berubah bentuk tanpa terlihat retakan jelas pada foto rontgen.


Klasifikasi etiologis
o Fraktur traumatik : terjadi karena trauma yang tiba-tiba
o Fraktur patologis : terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan
patologis di dalam tulang
o Fraktur stres : terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat

tertentu
Klasifikasi klinis
o Fraktur tertutup (simple fracture) : suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan
dengan dunia luar
o Fraktur terbuka (compound fracture) : fraktur yang mempunyai hubungan dengan
dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from
within (dari dalam) atau from without (dari luar).
Fraktur terbuka dibagi berdasarkan klasifikasi Gustilo-Anderson, yang pertama
kali diajukan pada tahun 1976 dan modifikasi pada tahun 1984.5

o Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture) : fraktur yang disertai dengan

komplikasi misalnya malunion, delayed union, nonunion, atau infeksi tulang


Klasifikasi radiologis
Klasifikasi ini berdasarkan atas :

o Lokalisasi
Diafisial
Metafisial
Intra-artikuler
Fraktur dengan dislokasi
o Konfigurasi
Fraktur transversal
Fraktur oblik
Fraktur spiral
Fraktur Z
Fraktur segmental
Fraktur komunitif, fraktur lebih dari dua fragmen
Fraktur baji biasanya pada vertebra karena trauma kompresi
Fraktur avulsi, fragmen kecil tertarik oleh otot atau tendo misalnya fraktur

epikondilus humeri, fraktur trochanter major, fraktur patella


Fraktur depresi, karena trauma langsung misalnya pada tulang tengkorak
Fraktur impaksi
Fraktur pecah (burst) dimana terjadi fragmen kecil yang berpisah misalnya

pada fraktur vertebra, patella, talus, kalkaneus


Fraktur epifisis

o Menurut eksistensi
Fraktur total
Fraktur tidak total (fraktur crack)
Fraktur buckle atau torus
Fraktur garis rambut
Fraktur green stick
o Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya
Tidak bergeser (undisplaced)
Bergeser (displaced) dapat terjadi dalam 6 cara :
Bersampingan

Angulasi
Rotasi
Distraksi
Over-riding
Impaksi

Klasifikasi Nicol
Klasifikasi The American Society of Internal Fixation, yang dikembangkan oleh Muller et

al telah diterima di seluruh dunia; klasifikasi ini kemudian dimodifikasi oleh Johner dan Wruhs
dengan menambahkan mekanisme cedera, patahan, dan derajat keparahan cedera jaringan lunak.
Klasifikasi ini digunakan untuk reduksi terbuka dengan fiksasi plate and screw.2

Macam-macam klasifikasi jenis fraktur perlu untuk diketahui dan dipahami, untuk
menentukan treatment dan juga mempermudah evaluasi perbaikan yang terjadi setelah treatment.
Berdasarkan Orthopaedic Trauma Association (OTA) fraktur dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Fraktur Linear
a. Transversal yaitu fraktur sepanjang garis tengah tulang
b. Obliq yaitu fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang
c. Spiral yaitu fraktur memuntir sepanjang batang tulang
d.

2. Fraktur Communited yaitu terdapat lebih dari dua fragmen fraktur yang biasanya terpecah
belah.
a.
b.
c.
d.

Communited <50%
Communited >50%
Butterfly <50%
Butterfly>50%

3. Fraktur Segmental
a. Two level
b. Three or more level
c. Longitudinal split
d. Communited

4. Fraktur Bone Loss


a. Bone loss <50%
b. Bone loss >50%
c. Complete bone loss

Terdapat juga fraktur yang dimana tulang tidak benar-benar patah terbelah yang mana
sering disebut fraktur inkomplit. Jenis fraktur inkomplit adalah
1. Greenstick. Jenis fraktur ini sering ditemukan pada anak-anak, tulang melengkung
disebabkan oleh konsistensinya yang elastis. Periosteumnya tetap utuh. Fraktur ini
biasanya mudah diatasi dan sembuh dengan baik.

Gambar greenstick fraktur pada radius distal seorang anak. Fraktur tidak komplit dan
tidak meluas ke korteks dorsal
2. Fraktur kompresi. Fraktur ini biasanya terjadi pada orang dewasa dan secara khas
mengenai korpus vertebra atau kalkaneus. Reduksi secara sempurna jarang terjadi dan
pasien mungkin akan mengalami deformitas.

Gambar kompresi baji anterior korpus vertebra T12


FRAKTUR INTRA-ARTIKULAR
Fraktur Bennett

Gambar fraktur Bennet pada tulang metakarpal I


Fragmen kecil tulang metakarpal I tetap berartikulasi dengan trapezium, sementara
bagian tulang yang lain mengalami dislokasi ke arah dorsal dan radial akibat tarikan muskulus
abduktor policis longus. Kegagalan mendiagnosis dan mengobati fraktur intraartikular pada
metakarpal dapat menimbulkan rasa nyeri yang lama,kekakuan, dan atritis pascatrauma akibat
permukaan artikular yang tidak rata.
Fraktur Barton
Fraktur ini akibat terjatuh dengan tangan terentang. Fraktur oblik intraartikular mengenai
tepi dorsal radius bagian distal. Terkadang hal ini juga ada kaitannya dengan dislokasi persendian
pergelangan tangan. Bila fraktur mengenai permukaan volar radius bagian distal, fraktur ini
disebut sebagai kebalikan fraktur Barton. Kedua bentuk fraktur ini paling baik dilihat pada
proyeksi lateral oleh karena orientasi koronal dari garis fraktur.
Fraktur plato tibia

Gambar fraktur depresi pada plato tibia lateral


Kebanyakan fraktur ini mengenai plato tibial lateral. Mekanisme cederanya karena
terpelintir. Kadang-kadang fraktur tidak terlihat jelas pada proyeksi AP dan lateral yang standar.
Oleh karena itu, kemungkinan dibutuhkan pandangan oblik, atau tomografi unutk mengenali dan
menilai derajat beratnya fraktur. Sekitar 10% fraktur ini disebabkan oleh cedera ligamentum
sendi lutut.
Fraktur pergelangan kaki

Gambar fraktur maleolus medialis dengan sebuah fragmen yang terlepas

Gambar fraktur dislokasi pada pergelangan kaki


Fraktur ini disebabkan oleh cedera inversi atau eversi, atau kombinasi kedua meknisme
tersebut. Macam-macam fraktur dapat diklasifikasikan berdasarkan pada jenis cedera atau jenis
fraktur yang terlibat. Jenis fraktur dapat berupa fraktur unimaleolar (maleolus medial atau
lateral), fraktur bimaleolar, fraktur trimaleolar bila tuberkulum posterior tibia distal terkena, atau
fraktur kompleks bila terjadi fraktur komunitif pada bagian distal dan fibula. Fraktur dislokasi
dapat terjadi bila sendi pergelangan kaki (ankle mortse) terganggu akibat cendera tulang dan
ligamentum.
Fraktur kalkaneus

Gambar fraktur kominutif pada kalkaneus


Fraktur ini merupakan fraktur tulang tarsus yang paling sering terjadi. Fraktur terjadi akibat
jatuh dari ketinggian dan biasanya bilateral. Kemungkinan disertai dengan fraktur tulang

belakang, terutama pada vertebra lumbal kedua.fraktur dapat diklasifikasikan sebagai eksrtaartikular atau intraartikular bila fraktur mengenai sendi susbtarsal atau kalkaneokuboid. Pada
fraktur intra artikular, penting untuk menilai derajat depresi pada permukaan posterior sendi
subtalar. Mengukur sudut Bohler dari foto lateral membantu untuk menilai depresi. Walaupun
demikian, CT scan dapatmemperlihatkan posisi fragmen tulang secara tepat dan luas depresi
permukaan posterior sendi subtalar.
FRAKTUR NON ARTI-KULAR
Fraktur Colles

Gambar fraktur colles pada pergelangan tangan dalam foto AP dan lateral

Fraktur ini akibat terjatuh dengan tangan terentang. Fraktur radius terjadi dikorpus distal,
biasanya sekitar 2cm dari permukan artikular. Fragmen distal bergeser ke arah dorsal dan
proksimal, memperlihatkan gambaran deformitas garpu-makan malam. Kemungkinan dapat
disertai dengan fraktur pada proses stiloideus ulna.

Fraktur Smith

Pandangan lateral pergelangan tangan memperlihatkan fraktur smith (kebalikan fraktur colles)
Fraktur ini biasanya akibat terjatuh pada punggung tangan atau pukulan keras secara
langsung pada punggung tangan. Fragmen distal bergeser ke arah ventral dengan deviasi radius
tangan yang memberikan gambaran deformitas sekop kebun.
Fraktur Suprakondiler
Gambar fraktur suprakondiler pada humerus distal seorang anak
Fraktur ini merupakan jenis fraktur siku yang paling sering terjadi pada anak-anak berusia
3-10 tahun. Sebgian besar fraktur akibat terjatuh pada tangan terentang dengan hiperekstensi
siku. Fragmen distal bergeser ke posterior.
Fraktur Jones
Fraktur ini dapat mengenai basis tulang metatarsal V. Garis fraktur berjalan secara
transversal bila dibandingkan dengan pusat osifikasi, yang berjalan secara oblik.
FRAKTUR YANG BERKAITAN DENGAN PENINGKATAN RISIKO NEKROSIS
AVASKULAR (AVN)

Tulang skafoid

Gambar fraktur skafoid dengan pergeseran yang disertai dengan fraktur pada radius distal
Tulang ini adalah tulang karpal yang paling sering mengalami fraktur. Kebanyakan terjadi
dibagian pinggang tulang diikuti dipolus proksimal dan tuberositas. Cedera yang berkaitan
dengan tulang ini antara lain dislokasi perilunatum dan fraktur radius. Komplikasi terjadinya
penyatuan yang lambat (delayed union) atau tidak terjadinya penyatuan (non union)
meningkatkan resiko osteonekrosis, yang sering mengenai fragmen proksimal.

Kolum femoris

Gambar fraktur dengan pergeseran kolum femoris kiri


Fraktur pada daerah ini termasuk fraktur intrakapsular, yang terjadi subkapital, transservikal atau basiservikal. Tidak terjadinya penyatuan tulang (non-union) merupakan komplikasi
yang sering terjadi pada cedera tersebut, yang dapat menyebabkan osteonekrosis.
FRAKTUR/DISLOKASI
Dislokasi perilunatum transkafoid

Foto AP dan lateral pergelangan tangan menunjukkan fraktur transkafoid yang bergeser dengan
dislokasi periunatum
Fraktur ini merupakan fraktur yang paling sering disebabkan oleh dislokasi karpal.
Proyeksi frontal (AP) memperlihatkan fraktur skafoid dengan jelas, namun pandangan lateral
menunjukan pergeseran tulang kapitatum ke arah dorsal yang berhubung dengan tulang lunatum,
yang tetap berartikulasi dengan radius distal, oleh karena itu, disebut dislokasi periulnar.
Fraktur Maisonneuve
Terjadi fraktur fibula proksimal yang disebabkan oleh robekan pada membrana interoseus
dan sindesmosis tibiofibularis distal. Kemungkinan juga disertai dengan robek ligamentum
deltoid atau fraktur maleolus medialis yang menyebabkan pelebaran kompartemen sendi medial.

Gambar dislokasi fraktur lisfranc kaki


Fraktur Lisfranc
Fraktur ini biasanya terjadi sesudah jatuh dari ketinggian atau saat menuruni tangga
pesawat terbang. Ligamentum Lisfranc yang terletak antara tulang kuneiform I dan basis tulang
metatarsal II terputus atau mengalami avulsi pada tempat insersinya. Terdapat 2 variasi cedera,

yaitu dislokasi homolateral metatarsal I sampai V dan perpindahan lateral divergen metatarsal II
sampai V dengan pergeseran tulang metatarsal I ke medial atau dorsal. Fraktur yang terkait
antara lain fraktur yang terjadi pada basis metatarsal II dan yang lebih jarang, pada tulang
metatarsal III, Kuneiform I atau tulang kuboid.

TRAUMA PADA TULANG BELAKANG


Tulang belakang servikal
Pemeriksaan radiologis bergantung pada keadaan pasien. Pada pasien dengan trauma berat
(tidak sadar, fraktur multipel, dan sebagainya) pemeriksaan harus dilakukan dengan hati-hati dan
semua foto harus dibuat dengan pasien berbaring terlentang dan manipulasi sedikit mungkin.
Foto yang terpenting adalah foto lateral dengan pasien berbaring dan sinar horizontal.
Biasanya segmen bawah tulang leher (CVI-VII) tertutup oleh bahu. Untuk mengatasi hal
ini bahu direndahkan dengan cara menarik lengan penderita ke bawah. Proyeksi oblik dapat
menambah informasi tentang pedikel, foramina intervertebra dan sendi apofiseal.
Bila pasien dalam keadaan baik, sebaiknya dibuat foto AP, termasuk dengan mulut terbuka
untuk melihat CI dan CII, foto lateral dan foto oblik kiri dan kanan.
Trauma servikal diklasifikasikan berdasarkan mekanisme trauma dan derajat kestabilan
(stabil dan tidak stabil).
Berdasarkan mekanisme trauma adalah
a. Hiperfleksi
Subluksasi anterior: terjadi robekan pada sebagian ligamen di posterior tulang leher, ligamen
longitudinal anterior utuh. Termasuk lesi stabil. Tanda penting pada subluksasi anterior adalah
adanya angulasi ke posterior (kifosis) lokal pada tempat kerusakan ligamen. Tanda-tanda
lainnya, jarak melebar antara prosesus spinosus, subluksasi sendi apofiseal.
Bilateral interfacetal dislocation: terjadi robekan pada ligamen longitudinal anterior dan
kumpulan ligamen diposterior tulang leher. Lesi tidak stabil. Tampak dislokasi sekunder
anterior korpus vertebra. Dislokasi total sendi apofiseal.
Flexion tear drop fracture dislocation: tenaga fleksi murni ditambah komponen kompresi
menyebabkan robekan pada ligamen longitudinal anterior dan kumpulan ligamen posterior
disertai fraktur avulsi pada bagian antero-inferior korpus vertebra. Lesi tidak stabil. Tampak
tulang servikal dalam fleksi, fragmen tulang berbentuk segitiga pada bagian antero-inferior
korpus vertebra, pembengkakan jaringan lunak pravertebral.

Gambar fraktur teardrop fleksi pada vertebra C5


Wedge fracture: vertebra terjepit sehingga berbentuk baji. Ligamen longitudinal anterior dan
kumpulan ligamen posterior utuh sehingga lesi ini bersifat stabil.
Clay shoveles fracture: fleksi tulang leher dimana terdapat kontraksi ligamen posterior tulang
leher mengakibatkan terjadinya fraktur oblik pada prosesus spinosus, biasanya pada CVICVII atau ThI

b. Fleksi-rotasi
Terjadinya dislokasi interfacetal pada satu sisi. Lesi ini stabil walaupunterjadi kerusakan
pada ligamen posterior termasuk kapsul sendi apofiseal yang bersangkutan. Tampak dislokasi
anterior korpus vertebra. Vertebra yang bersangkutan dan vertebrae proksimalnya dalam posisi
oblik, sedangkan vertebrae distalnya tetap dalam posisi lateral.
c. Hiperekstensi
Fraktur dislokasi hiperekstensi: dapat terjadi fraktur pedikel, prosesus artikularis, lamina dm
prosesus spinosus. Fraktur avulsi korpus vertebrae bagian postero-inferior. Lesi tidak stabil
karena terdapat kerusakan pada elemen posterior tulang leher dan ligamen bersangkutan.
Hangmans fracture: terjadi fraktur arkus bilateral dan dislokasi anterior CII terhadap CIII

Gambar foto lateral vertebra memperlihatkan fraktur hangman


d. Ekstensi-rotasi
Terjadi fraktur pada prsosesu artikularis satu sisi.
e. Kompresi vertikal
Terjadinya fraktur akibat diteruskannya tenaga trauma melalu kepala, kondilus oksipital, ke
tulang leher.
Bursting fracture dari atlas (Jeffersons fracture)
Bursting fracture vertebrae servikal tengah dan bawah.
Tulang belakang Torakal dan Lumbal
Pemeriksaan radiologik rutin untuk trauma tulang belakang torakal dan lumbal adalah
proyeksi AP dan lateral.
Fraktur vertebra torakal bagian atas dan tengah jarang terjadi kecuali kondisi berat
osteoporosis. Karena kanalis spinal di daerah ini sempit, maka sering ada kelainan neurologik.
Mekanisme trauma biasanya bersifat kompresi atau trauma langsung. Pada kompresi terjadi
fraktur kompresi dapat timbul dari fraktur elemen posterior vertebra, korpus dan iga didekatnya.
Pada fraktur kompresi tampak korpus berbentuk baji pada foto lateral.
Pada foto AP adanya pelebaran bayangan mediastinum di daerah yang bersangkutan
menunjukan adanya hematom paravetebral. Pada daerah torakolumbal dan lumbal, mekanisme
trauma dapat bersifat fleksi, rotasi dan kompresi. Trauma fleksi paling sering dan menimbulkan
fraktur kompresi. Trauma rotasi paling sering terjadi pada torakolumbal (TI-LI) dan dapat
menimbulkan fraktur dislokasi disebabkan kerusakan pada elemen psoterior vertebra.

FRAKTUR PADA TULANG PANJANG EKSTREMITAS ATAS


3.1 Fraktur Humerus

Fraktur humerus dapat terjadi mulai dari proksimal (kaput) sampai bagian distal
(kondilus) humerus, berupa :
1 Fraktur leher
2 Fraktur tuberkulum mayus
3 Fraktur diafisis
4 Fraktur suprakondiler
5 Fraktur kondiler
6 Fraktur epikondilus medialis

Fraktur leher humerus


Fraktur leher humerus umumnya terjadi pada wanita tua yang telah mengalami
osteoporosis sehingga terjadi kelemahan pada tulang.
Mekanisme trauma
Biasanya pasien jatuh dan terjadi trauma pada anggota gerak atas
Klasifikasi
Fraktur impaksi dan fraktur tanpa impaksi dengan atau tanpa pergeseran
Pengobatan
Pada fraktur impaksi atau tanpa impaksi yang tidak disertai pergeseran dapat
dilakukan terapi konservatif saja dengan memasang mitela dan mobilisasi segera
pada gerakan sendi bahu. Bila fraktur disertai dengan pergeseran mungkin dapat

dipertimbangkan tindakan operasi.


Komplikasi
Kekakuan pada sendi, trauma saraf yaitu nervus aksilaris, dan dislokasi sendi bahu.

Fraktur tuberkulum mayus humerus


Fraktur dapat terjadi bersama dengan dislokasi humerus atau merupakan fraktur tersendiri
akibat trauma langsung di daerah sendi bahu. Biasanya terjadi pada orang tua dan

umumnya tidak mengalami pergeseran.


Pengobatan
Fraktur dengan dislokasi humerus yang telah direposisi, biasanya fraktur juga
tereposisi dengan sendirinya. Pengobatan fraktur tanpa pergeseran fragmen dengan
cara konservatif. Pada fraktur yang disertai pergeseran fragmen sebaiknya dilakukan

operasi dengan memasang screw.


Komplikasi
Painful arc syndrome
Fraktur diafisis humerus
Fraktur diafisis humerus biasanya terjadi pada 1/3 tengah humerus dimana trauma dapat

bersifat memuntir yang menyebabkan fraktur spiral dan bila trauma bersifat langsung
dapat menyebabkan fraktur transversal, oblik pendek, atau komunitif. Fraktur patologis
-

biasanya terjadi pada 1/3 proksimal humerus.


Gambaran klinis
Pada fraktur humerus ditemukan pembengkakan, nyeri tekan serta deformitas pada
daerah humerus. Pada setiap fraktur humerus harus diperiksa adanya lesi nervus

radialis terutama pada daerah 1/3 tengah humerus.


Pemeriksaan radiologis
Dengan pemeriksaan radiologis dapat ditentukan lokalisasi dan konfigurasi fraktur.
Pengobatan
Prinsip pengobatan adalah konservatif karena angulasi dapat tertutup oleh otot dan
secara fungsional tidak terjadi gangguan, disamping itu 1/3 kontak cukup memadai
untuk terjadinya union.
Pengobatan konservatif dibagi atas :

Pemasangan U slab
Pemasangan gips tergantung (hanging cast)
Pengobatan operatif dengan pemasangan plate dan screw atau pin dari Rush atau
pada fraktur terbuka dengan fiksasi eksterna.
Indikasi operasi yaitu :

Fraktur terbuka

Terjadi lesi nervus radialis setelah dilakukan reposisi (jepitan nervus radialis)
Nonunion
Pasien yang segera ingin kembali bekerja secara aktif
Fraktur suprakondiler humerus
Fraktur ini lebih sering terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa. Pengobatannya
seperti pada fraktur diafisis humerus.
Fraktur kondilus humerus
Fraktur ini jarang terjadi pada orang dewasa dan lebih sering pada anak-anak.
- Mekanisme trauma
Biasanya terjadi pada saat tangan dalam posisi out stretched dan sendi siku dalam
posisi fleksi dengan trauma pada bagian lateral atau medial. Fraktur kondilus lateralis
-

lebih sering terjadi daripada kondilus medialis humerus.


Klasifikasi dan pemeriksaan radiologis

1
2
3

Fraktur pada satu kondilus


Fraktur interkondiler (fraktur Y atau T)
Fraktur komunitif
Fraktur kondiler sering bersama-sama dengan fraktur suprakondiler.
Gambaran klinis
Nyeri dan pembengkakan serta pendarahan subkutan pada daerah sendi siku.
Ditemukan nyeri tekan, gangguan pergerakan serta krepitasi pada daerah tersebut.
Pengobatan
Fraktur tanpa pergeseran fragmen tidak memerlukan reposisi, cukup dengan
pemasangan gips sirkuler selama 6 minggu dan dilanjutkan dengan fisioterapi secara
hati-hati.
Fraktur kondiler adalah fraktur yang mengenai permukaan sendi sehingga
memerlukan reduksi dengan operasi segera, akurat dan rigid sehingga mobilisasi

dapat dilakukan secepatnya.


Fraktur lengan bawah
Fraktur kepala dan leher radius

Fraktur ini terjadi pada saat seseorang jatuh dengan posisi tangan dalam out stretched.
Klasifikasi dibagi dalam :
o
o
o
o

Tipe 1, terbelah vertikal


Tipe 2, fraktur disertai dengan kemiringan
Tipe 3, fraktur shearing (terbelah)
Tipe 4, remuk/ hancur

Untuk tatalaksananya, pada fraktur tipe 1 dan 2 dengan sudut kemiringan yang tidak
terlalu besar diatasi dengan mengistirahatkan sendi siku menggunakan mitela. Fraktur
yang pecah sebaiknya dilakukan eksisi. Komplikasi yang dapat terjadi yaitu kekauan
sendi dan osteoartritis.

Fraktur Monteggia

Fraktur Monteggia sering ditemukan pada orang dewasa dan merupakan fraktur 1/3
proksimal ulna disertai dislokasi radius proksimal.
Pada orang dewasa sebaiknya dilakukan operasi dengan fiksasi interna yang rigid dan
mobilisasi segera sendi siku.
Klasifikasi Fraktur dislokasi Monteggia menurut Bado:

Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi anterior disertai dislokasi

anterior kaput radius


Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi posterior disertai dislokasi

posterior kaput radii dan fraktur kaput radii


Fraktur ulna distal processus coracoideus dengan dislokasi lateral kaput radio
Fraktur ulna 1/3 tengah / proksimal ulna dengan dislokasi anterior kaput radii dan

fraktur 1/3 proksimal radii di bawah tuberositas bicipitalis


Fraktur diafisis radius dan ulna

Fraktur radius sendiri biasanya terjadi karena trauma langsung. Untuk tatalaksananya,
fraktur yang tidak bergeser diatasi dengan gips di atas siku dan fleksi pada siku,
sedangkan yang bergeser sebaiknya dengan memasang fiksasi interna.
Fraktur ulna sering terjadi pada seseorang yang menangkis benda keras. Untuk
tatalaksananya, sama seperti fraktur radius.

Fraktur diafisis radius dan ulna terjadi karena trauma memuntir yang mengakibatkan
fraktur oblik atau spiral pada daerah ulna dan radius dengan ketinggian yang berbeda,
sedangkan trauma langsung menyebabkan fraktur dengan garis transversal. Karena
adanya hubungan yang erat pada posisi supinasi dan pronasi, maka fraktur kedua tulang
harus direposisi secara akurat baik rotasi maupun kesejajarannya.
Gambaran klinisnya yakni terdapat pembengkakan dan nyeri tekan serta deformitas pada
-

lengan bawah.
Pengobatan
Pengobatan fraktur yang tidak bergeser berupa pemasangan gips di atas siku dengan
meletakkan lengan bawah dalam posisi pronasi pada fraktur 1/3 distal, posisi netral
pada fraktur 1/3 tengah dan pada fraktur 1/3 proksimal dengan pemasangan gips di
atas siku dalam posisi supinasi. Apabila ada kelainan perlekatan otot pronator dan
supinator tulang radius dan ulna, reduksi serta imobilisasi yang baik sulit dilakukan.
Reduksi yang akurat sangat diperlukan karena tangan mempunyai fungsi untuk
pronasi dan supinasi. Pengobatan yang paling baik adalah dengan pemasangan
fiksasi rigid dengan operasi yang mempergunakan plate dan screw pada kedua

tulang.
Komplikasi
Malunion termasuk cross union akan memberikan gangguan dalam pronasi

dan supinasi
Delayed union
Nonunion
Fraktur Galeazzi

Fraktur Galeazzi pertama kali diuraikan oleh Riccardo Galeazzi yaitu fraktur pada 1/3
-

distal radius disertai dislokasi sendi radio-ulnar distal.


Pengobatan
Pada fraktur ini harus dilakukan reposisi secara akurat dan mobilisasi segera karena
bagian distal mengalami dislokasi. Dengan reposisi yang akurat dan cepat maka
dislokasi sendi ulna distal juga tereposisi dengan sendirinya. Apabila reposisi spontan
tidak terjadi maka reposisi dilakukan dengan fiksasi K-wire. Operasi terbuka dengan

fiksasi rigid mempergunakan plate dan screw.


Fraktur distal radius
Fraktur distal radius dapat dibagi dalam fraktur Colles, fraktur Smith, dan fraktur Barton.
o Fraktur Colles
Pertama kali diutarakan oleh Abraham Colles. Merupakan jenis fraktur yang
paling sering ditemukan pada orang dewasa di atas usia 50 tahun dan lebih sering
pada wanita daripada pria.

Mekanisme trauma
Fraktur terjadi bila terjatuh dalam posisi tangan out stretched pada orang tua
dengan tulang yang sudah osteoporosis.

Fraktur Colles terdiri atas fraktur radius 1 inci di atas pergelangan tangan,
angulasi dorsal fragmen distal, pergeseran ke dorsal dari fragmen distal, dan
fraktur prosesus stiloid ulna.

Gambaran klinis
Terdapat riwayat trauma dengan pembengkakan pergelangan tangan pada orang
yang berumur lebih dari 50 tahun, nyeri dan deformitas berbentuk garpu.
Gambaran ini terjadi karena adanya angulasi dan pergeseran ke dorsal, deviasi

radial, supinasi, dan impaksi ke arah proksimal.


Pengobatan
Fraktur tanpa pergeseran diobati dengan pemasangan gips sirkuler di bawah
siku, lengan bawah dalam keadaan pronasi, deviasi ulna, serta fleksi. Pada
fraktur dengan pergeseran fragmen dilakukan reposisi dengan pembiusan
umum atau lokal. Imobilisasi dengan gips dilakukan selama enam minggu dan
dilanjutkan dengan fisioterapi yang intensif.

o Fraktur Smith

Biasa disebut juga sebagai fraktur Colles terbalik. Fraktur jenis ini lebih sering
ditemukan pada pria daripada wanita. Fraktur Smith pertama kali dikemukakan
oleh R.W. Smith. Ditemukan deformitas dengan fragmen distal mengalami
-

pergeseran ke volar dimana garis fraktur tidak melalui persendian.


Pengobatan
Fraktur Smith biasanya bersifat tidak stabil sehingga sebaiknya difiksasi

dengan plate buttress.


o Fraktur Barton

Merupakan fraktur pada radius distal dengan fragmen distal melalui sendi dan
terjadi pergeseran fraktur serta seluruh komponen sendi ke arah volar. Untuk
tatalaksananya, seperti pada fraktur Smith.
Fraktur Femur
Fraktur Proksimal Femur

Intracapsular fraktur termasuk femoral head dan leher femur


Capital
: uncommon

Subcapital
: common
Transcervical : uncommon
Basicervical : uncommon
Entracapsular
fraktur
termasuk
Intertrochanteric
Subtrochanteric

trochanters

Fraktur Leher Femur

Tingkat kejadian yang tinngi karena faktor usia yang merupakan akibat dari

berkurangnya kepadatan tulang


Fraktur leher femur dibagi atas intra- (rusaknya suplai darah ke head femur) dan extra(suplai darah intak) capsular. Diklasifikasikan berdasarkan anatominya. Intracapsular
dibagi kedalam subcapital, transcervical dan basicervical. Extracapsular tergantung dari
fraktur pertrochanteric

Sering ditemukan pada pasien yang mengkonsumsi berbagai


macam obat seperti corticosteroids, thyroxine, phenytoin and

furosemid
Kebanyakan hanya berkaitan dengan trauma kecil
Fraktur Intracapsular diklasifikasikan
o Grade I
: Incomplete, korteks inferior tidak sepenuhnya rusak
o Grade II
: Complete, korteks inferior rusak, tapi trabekulum tidak angulasi
o Grade III
: Slightly displaced, pola trabekular angulasi
o Grade IV
: Fully displaced, grade terberat, sering kali tidak ada kontinuitas
tulang

Fraktur Pada Batang Femur


Pada patah tulang diafisis femur biasanya pendarahan dalam cukup luas dan besar sehingga
dapat menimbulkan syok. Secara klinis penderita tidak dapat bangun, bukan saja karena nyeri,
tetapi juga karena ketidakstabilan fraktur. Biasanya seluruh tungkai bawah terotasi ke luar,
terlihat lebih pendek, dan bengkak pada bagian proksimal sebagai akibat pendarahan ke dalam
jaringan lunak. Pertautan biasanya diperoleh dengan penanganan secara tertutup, dan normalnya
memerlukan waktu 20 minggu atau lebih.
Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas
dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan
perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam shock, salah satu
klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan
daerah yang patah.
Fraktur ini dibagi menjadi :
1

Tertutup

Terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah
dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ;

Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya
diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar.

Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari luar.

Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak yang
ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah)

Gambaran Klinis
Penderita pada umumnya dewasa muda. Ditemukan pembengkakan dan deformitas
pada tungkai atas berupa rotasi eksterna dan pemendekan tungkai dan mungkin
datang dalam keadaan syok.
-

Penatalaksanaan

A Terapi konservatif
-

Traksi kulit merupakan pengobatan sementara sebelum dilakukan terapi definitif untuk
mengurangi spasme otot

Traksi tulang berimbang dengan bagian Pearson pada sendi lutut. Indikasi traksi terutama
yang bersifat kominutif dan segmental.

Menggunakan cast bracing yang dipasang setelah terjadi union fraktur secara klinis

B Terapi operatif
-

Pemasangan plate and screw terutama pada fraktur proksimal dan distal femur

Mempergunakan K-nail, AO-nail atau jenis-jenis lain baik dengan operasi tertutup
ataupun terbuka. Indikasi K-nail, AO-nail terutama pada fraktur diafisis.

Fiksasi eksternal terutama pada fraktur segmental, fraktur kominutif, infected


pseudoartrosis atau fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak yang hebat. 1

Gambar

Gambar

Comminuted mid-femoral shaft fracture

Femoral shaft fracture postinternal fixation.

Fraktur Distal Femur1

Supracondylar
Nondisplaced
Displaced
Impacted
Continuited
Condylar
Intercondylar

Fraktur Tibia dan Fibula


Fraktur tibia dan fibula dapat terjadi pada bagian proksimal (kondilus), diafisis atau persendian
pergelangan kaki.

Fraktur Kondilus Tibia


Fraktur kondilus tibia lebih sering mengenai kondilus lateralis daripada medialis serta fraktur
pada kedua kondilus

Mekanisme trauma
Fraktur kondilus lateralis terjadi karena adanya abduksi tibia terhadap femur dimana
kaki terfiksasi pada dasar, misalnya trauma sewaktu mengendarai mobil
-

Klasifikasi Sederhana (Adam)


1. Fraktur kompresi komunitif
2. Tipe depresi plateau
3. Fraktur oblik
-

Klasifikasi kompleks (Rockwod)


1. Fraktur yang tidak bergeser
2. Kompresi lokal
3. Kompresi split
4. Depresi total kondiler
5. Fraktur aplit
6. Fraktur komunitif

Fraktur tidak bergeser apabila depresi kurang dari 4mm, sedangkan yang bergeser
apabila depresi melebihi 4mm

Gambaran Klinis
Pada anamnesis terdapat riwayat trauma pada lutut, pembengkakan dan nyeri serta
hemartosi. Terdapat gangguan dalam pergerakan sendi lutut.

Pemeriksaan radiologis

Dengan foto rontgen posisi AP dan lateral dapat diketahui jenis fraktur, tetapi
kadang-kadang diperlukan pula foto oblik dan pemeriksaan laminagram.
-

Pengobatan
1. Konservatif
Pada fraktur yang tidak bergeser dimana depresi kurang dari 4mm dapat
dilakukan beberapa pilihan pengobatan, antara lain:

Verban elastis
Traksi
Gips sirkuler
Prinsip pengobatan adalah mencegah bertambahnya depresi, tidak menahan beban
dan segera mobilisasi pada sendi lutus agar tidak terjadi kekauan sendi
2. Operatif
Depresi yang lebih dari 4 mm dilakukan operasi mengangkat bagian depresi dan
ditopang dengan bone graft. Pada fraktur split dapat dilakukan pemasangan screw
atau kombinasi screw dan plate untuk menahan bagian fragmen terhadap tibia.

Komplikasi
1. Genu valgium ; terjadi oleh karena depresi yang tidak direduksi dengan baik
2. Kekakuan lutut ; terjadi karena tidak dilakukan latihan lebih awal
3. Osteoartritis ; terjadi karena adanya kerusakan pada permukaan sendi sehingga
bersifat ireguler yang menyebabkan inkonkruensi sendi lutut

Fraktur Kondilus Medialis


Sama seperti fraktur kondilus lateralis tetapi lebih jarang ditemukan

Fraktur Diafisis Tibia dan atau Fibula

Fraktur diafisis tibia dan fibula lebih sering ditemukan bersama-sama. Fraktur dapat juga
terjadi hanya pada tibia atau fibula saja.
-

Mekanisme trauma
Fraktur diafisis tibia dan fibula terjadi karena adanya trauma angulasi yang akan
menimbulkan fraktur tipe transversal atau oblik pendek, sedangkan trauma rotasi
akan menimbulkan fraktur tipe spiral. Fraktur tibia biasanya terjadi pada batas antara
1/3 bagian tengah dan 1/3 bagian distal sedangkan fraktur fibula pada batas 1/3
bagian tengah dengan 1/3 bagian proksimal, sehingga fraktur tidak terjadi pada
ketinggian yang sama. Tungkai bawah bagian depan sangat sedikit ditutupi otot
sehingga fraktur pada daerah tibia sering bersifat terbuka. Penyebab utama terjadinya
fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas.

Gambaran klinis
Ditemukan gejala fraktur berupa pembengkakan, nyeri dan sering ditemukan
penonjolan tulang keluar kulut

Pemeriksaan radiologis
Dengan pemeriksaan radiologis dapat ditentukan lokasi fraktur, jenis fraktur, apakah
fraktur pada tibia dan fibula atau hanya pada tibia saja atau fibula saja. Juga dapat
ditentukan apakah fraktur bersifat segmental.

Pengobatan
1. Konservatif
Pengobatan standar dengan cara konservatif berupa reduksi fraktur dengan
manipulasi tertutup dengan pembiusan umum. Pemasangan gips sirkuler untuk
imobilisasi, dipasang sampai di atas lutut.

Prinsip reposisi:
o
o
o
o

Fraktur tertutup
Ada kontak 70% atau lebih
Tidak ada angulasi
Tidak ada rotasi

Apabila ada angulasi, dapat dilakukan koreksi setelah 3 minggu (union secara
fibrosa). Pada fraktur oblik atau spiral imobilisasi dengan gips biasanya sulit
dipertahankan, sehingga mungkin diperlukan tindakan operasi.
Cast bracing adalah teknik pemasangan gips sirkuler dengan tumpuan pada tendo
patella (gips Sarmiento) yang biasanya dipergunakan setelah pembengkakan mereda
atau telah terjadi union secara fibrosa.
2. Operatif
Terapi operatif dilakukan pada:
o
o
o
o

Fraktur terbuka
Kegagalan dalam terapi konservatif
Fraktur tidak stabil
Adanya malunion

Metode pengobatan operatif:


o Pemasangan plate and screw
o Nail intermeduker
o Pemasangan screw semata-mata
o Pemasangan fiksasi eksterna
- Indikasi pemasangan fiksasi eksterna pada fraktur tibia:
o Fraktur tibia terbuka grade II dan III terutama apabila terbuka kerusakan
jaringan yang hebat atau hilangnya fragmen tulang
o Pseudoartrosis yang mengalami infeksi (infected pseudoarthrosis)
Komplikasi
1. Infeksi
2. Delayed union atau nonunion

3. Malunion
4. Kerusakan pembuluh darah (sindroma kompartemen anterior)
5. Trauma saraf terutama pada nervous peroneal komunis
6. Gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki. Gangguan ini biasanya disebabkan
karena adanya adhesi pada otot-otot tungkai bawah.
Makna klinis klasifikasi fraktur
Penting untuk melakukan klasifikasi fraktur secara tepat. Hal ini membantu dalam
menentukan kemungkinan prognosis dan memilih penanganan yang tepat. Fraktur dapat
ditangani secara konservatif dengan gips atau pembedahan menggunakan fiksasi internal atau
eksternal. Fiksasi pembedahan biasanya dilakukan bila terjadi kegagalan reduksi, pada fraktur
terbuka dan fraktur intra artikular. Fiksasi eksternal biasanya dilakukan untuk fraktur terbuka
dengan kontaminasi yang luas.
Bila fraktur bersifat inkomplit seperti pada fraktur greenstick, reduksi biasanya mudah dan
anak dapat diyakinkan bahwa penyembuhan biasanya terjadi dengan cepat. Sebaliknya fraktur
kompresi jarang sekali dapat direduksi dengan sempurna.
Ada fraktur-fraktur tertentu yang juga kurang stabil, dan klasifikasi yang tepat dapat
membuat klinisi waspada terhadap fraktur yang memiliki resiko komplikasi saat penyatuan
dilakukan reduksi, tidak seperti fraktur oblik dan spiral yang mempunyai kecenderungan untuk
bergeser. Pergeseran sesudah reduksi dapat menyebabkan penyatuan yang lambat (delayed
union), penyatuan posisi yang salah (malunion) atau bahkan tidak terjadinya penyatuan
(nonunion). Hal yang sama, fraktur kominutif biasanya bersifat tidak stabil dan kemungkinan
untuk sembuh dalam posisi yang kurang optimal karena reduksi fragmen fraktur sering sulit
dipertahankan. Yang terakhir, waktu penyembuhan cenderung lebih lama pada fraktur-fraktur
tertentu walaupun sebagian besar fraktur seharusnya menyatu dalam 16-18 minggu.

Waktu penyembuhan tulang tubulus pada orang dewasa


Ekstremitas atas
Ekstremitas bawah
Kalus awal
2-3 minggu
2-3 minggu
Konsolidasi lanjut
6-8 minggu
12-16 minggu
Penyatuan

Penyatuan tualang terjadi akibat proses perbaikan tulang yang kompleks dan terlihat pada
foto seperti pembentukan kalus.
Pembentukan Kalus awal
Pada tahap awal, kalus hanya mengandung jaringan fibrosa radiolusen dan garis fraktur
akan terlihat pada foto. Pada tahap yang sedikit lebih lanjut, terbentuk kalus imatur. Kasus ini
membentuk gambaran khas seperti kapas yang lembut. Kalus mungkin terlihat menghubungi
fraktur walaupun garis fraktur tetap terlihat bahkan ketika penyatuan klinis telah terjadi. Pada
tahap ini, tidak ada gerakan pada tempat fraktur bila diberikan stres.
Konsolidasi lanjut
Kalus lunak secara bertahap diubah menjadi tulang matur yang keras. Keadaan ini adalah
tahap konsolidasi lanjut dan dikatakan telah terjadi konsolidasi jika pada foto terlihat kalus
tulang menghubungi fraktur dan tidak tampak garis fraktur. Kemudian terjadi pembentukan
ulang (remodelling) tulang. Rongga sumsum akhirnya terbentuk dan terbentuklah korteks.
Komplikasi
Komplikasi yang disebabkan oleh fraktur dapat bersifat sistemik atau lokal terhadap tulang
yang fraktur, jaringan lunak atau persendian yang berdekatan. Komplikasi lokal yang mengenai
tulang antara lain: komplikasi penyatuan, infeksi, nekrosis avaskular.distrofi refleks simpatik dan
gangguan pertumbuhan pada anak-anak bila yang terkena adalah lempeng pertumbuhan.
Komplikasi lokal nontulang dapat mengenai jaringan lunak dan persendian yang
berdekatan. Diantara cedera jaringan lunak, kondisi yang sering terjadi adalah trauma terhadap
pembuluh darah yang berdekatan dengan tempat fraktur, sindrom kompartemen dan juga cedera
pada saraf dan visera yang berdekatan.
Komplikasi yang mengenai persendian antara lain hemartrosis dan kekakuan sendi akibat
edema dan fibrosis. Osteoartritis pascatrauma dapat disebabkan oleh kerusakan pada kartilago
artikular dan permukaan sendi atau stres abnormal yang terjadi karena malunion fraktur korpus.
Gambaran Klinis Fraktur3
Anamnesis
Biasanya pasien datang dengan suatu trauma, baik yang hebat maupun trauma ringan dan
diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak. Pasien biasanya
datang karena adanya nyeri yang terlokalisir dimana nyeri tersebut bertambah bila
digerakkan, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan gerak,

krepitasi atau dengan gejala-gejala lain.


Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan awal pasien, perlu diperhatikan adanya :

1
2

Syok, anemia atau pendarahan


Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau

organ-organ dalam rongga toraks, panggul, dan abdomen


3 Faktor predisposisi misalnya pada fraktur patologis
Pemeriksaan lokal
1 Inspeksi (Look)
- Ekspresi wajah karena nyeri
- Bandingkan dengan bagian yang sehat
- Perhatikan posisi anggota gerak
- Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi, dan kependekan
- Perhatikan adanya pembengkakan
- Perhatikan adanya gerakan yang abnormal
- Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur
tertutup atau terbuka
- Ekstravasasi darah subkutan (ekimosis) dalam beberapa jam sampai beberapa hari
- Perhatikan keadaan vaskular
2 Palpasi (Feel)
Palpasi dilakukan secara hati-hati dikarenakan pasien biasanya mengeluh sangat
nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
- Temperatur setempat yang meningkat
- Nyeri tekan nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh
-

kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang


Krepitasi dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati
Pemeriksaan vaskular pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri
dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena.
Dinilai juga refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal

daerah trauma, dan temperatur kulit.


Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya
perbedaan panjang tungkai
Pergerakan (Move)
Dilakukan dengan cara mengajak pasien untuk menggerakan secara aktif dan pasif
sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada pasien dengan
fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak
boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada

jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf.


Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta
gradasi kelainan neurologis yaitu neuropraksia, aksonotmesis, atau neurotmesis.
Pemeriksaan radiologis

Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi, serta ekstensi


fraktur. Untuk menghindari nyeri serta kerusakan jaringan lunak sebelumnya, maka
sebaiknya mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara

sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis.


Tujuan pemeriksaan radiologis :
Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi
Untuk konfirmasi adanya fraktur
Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya
Untuk menentukan teknik pengobatan
Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak
Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler
Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru
Pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan yakni foto polos, CT-Scan, MRI,
tomografi, dan radioisotop scanning. Umumnya dengan foto polos kita dapat
mendiagnosis fraktur.

1.5.

Tatalaksana Fraktur
Penatalaksanaan awal
Sebelum dilakukan pengobatan definitif pada satu fraktur, maka diperlukan :
1 Pertolongan pertama
Pada pasien dengan fraktur yang penting dilakukan adalah membersihkan jalan nafas,
menutup luka dengan verban yang bersih, dan imobilisasi fraktur pada anggota gerak
yang terkena agar pasien merasa nyaman dan mengurangi nyeri sebelum diangkut
dengan ambulans. Bila terdapat pendarahan dapat dilakukan pertolongan dengan
2

penekanan setempat.
Penilaian klinis
Sebelum menilai fraktur itu sendiri, perlu dilakukan penilaian klinis, apakah luka itu
luka tembus tulang, adakah trauma pembuluh darah/ saraf ataukah ada trauma alat-

alat dalam yang lain.


Resusitasi
Kebanyakan pasien dengan fraktur multipel tiba di rumah sakit dengan syok,
sehingga diperlukan resusitasi sebelum diberikan terapi pada frakturnya sendiri
berupa pemberian transfusi darah dan cairan lainnya serta obat-obat anti nyeri.

Prinsip Umum Tatalaksana Fraktur


1 First, do no harm

Yakni dengan mencegah terjadinya komplikasi iatrogenik. Hal ini bisa dilakukan
dengan pertolongan pertama yang hati-hati, transportasi pasien ke rumah sakit yang
2

baik, dan mencegah terjadinya infeksi dan kerusakan jaringan yang lebih parah.
Tatalaksana dasar berdasarkan diagnosis dan prognosis yang akurat
Keputusan pertama adalah menentukan apakah fraktur tersebut membutuhkan reduksi
dan bila iya maka tentukan tipe reduksi terbaik apakah terbuka atau tertutup.
Kemudian keputusan kedua yakni mengenai tipe imobilisasi, apakah eksternal atau

internal.
Pemilihan tatalaksana dengan tujuan yang spesifik
Tujuan spesifik dalam tatalaksana fraktur yaitu :
Untuk mengurangi rasa nyeri
Dikarenakan tulang bersifat relatif tidak sensitif, rasa nyeri pada fraktur
berhubungan dengan kerusakan jaringan lunak termasuk periosteum dan
endosteum. Rasa nyeri ini dapat diperberat dengan pergerakan fragmen fraktur
yang berhubungan dengan spasme otot dan pembengkakan yang progresif.
Rasa nyeri pada fraktur dapat berkurang dengan imobilisasi dan menghindari
pembalutan yang terlalu ketat. Beberapa hari pertama setelah terjadinya

fraktur dapat diberikan analgesik untuk mengurangi nyeri.


Untuk memelihara posisi yang baik dari fragmen fraktur
Reduksi fraktur untuk mendapatkan posisi yang baik, yakni diindikasikan
hanya untuk memperbaiki fungsi dan mencegah terjadinya artritis degeneratif.
Pemeliharan posisi fragmen fraktur biasanya membutuhkan beberapa derajat
imobilisasi, dengan beberapa metode, termasuk continuous traction, plasterof-Paris cast, fiksasi skeletal eksterna, dan fiksasi skeletal interna,

berdasarkan derajat dari kestabilan atau ketidakstabilan reduksi.


Untuk mengusahakan terjadinya penyatuan tulang (union)
Pada kebanyakan fraktur, proses penyatuan tulang merupakan proses
penyembuhan yang terjadi secara alami. Namun pada beberapa kasus,
misalnya dengan robekan periosteum berat dan jaringan lunak atau dengan
nekrosis avaskular pada satu atau dua fragmen, proses penyatuan tulang harus

dengan autogenous bone grafts, pada tahap penyembuhan awal atau lanjut.
Untuk mengembalikan fungsi secara optimal
Saat periode imobilisasi dalam penyembuhan fraktur, diuse atrophy pada otot
regional harus dicegah dengan latihan aktif statik (isometrik) pada otot
tersebut dengan mengkontrol imobilisasi sendi dan latihan aktif dinamik

(isotonik) pada seluruh otot lainnya di tubuh. Setelah periode imobilisasi,


4

latihan aktif sebaiknya tetap dilanjutkan.


Mengingat hukum-hukum penyembuhan secara alami
Jaringan muskuloskeletal bereaksi terhadap suatu fraktur sesuai dengan hukum alami
yang ada.

Bersifat realistik dan praktis dalam memilih jenis pengobatan


Dalam memilih pengobatan harus dipertimbangkan pengobatan yang realistik dan
praktis.
Seleksi pengobatan sesuai dengan pasien secara individual
Setiap fraktur memerlukan penilaian pengobatan yang sesuai, yaitu dengan
mempertimbangkan faktor umur, jenis fraktur, komplikasi yang terjadi, dan perlu pula
dipertimbangkan keadaan ekonomi pasien secara individual.

Sebelum mengambil keputusan untuk melakukan pengobatan definitif, prinsip pengobatan ada
empat (4R), yaitu :

Recognition; diagnosis dan penilaian fraktur


Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksaan klinik, dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu
diperhatikan lokalisasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan teknik yang sesuai
untuk pengobatan, dan komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah

pengobatan.
Reduction; reduksi fraktur apabila perlu
Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat
diterima. Pada fraktur intra-artikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat
mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti
kekakuan, deformitas, serta perubahan osteoartritis di kemudian hari.
Posisi yang baik adalah alignment yang sempurna dan aposisi yang sempurna.
Fraktur seperti fraktur klavikula, iga, dan fraktur impaksi dari humerus tidak
memerlukan reduksi. Angulasi <5 pada tulang panjang anggota gerak bawah dan
lengan atas dan angulasi sampai 10 pada humerus dapat diterima. Terdapat
kontak sekurang-kurangnya 50%, dan over-riding tidak melebihi 0,5 inchi pada

fraktur femur. Adanya rotasi tidak dapat diterima dimanapun lokalisasi fraktur.
Retention; imobilisasi fraktur
Rehabilitation; mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin

Penatalaksanaan fraktur meliputi reposisi dan imobilisasi fraktur dengan splint. Status
neurologis dan vaskuler di bagian distal harus diperiksa baik sebelum maupun sesudah reposisi
dan imobilisasi. Pada pasien dengan multipel trauma, sebaiknya dilakukan stabilisasi awal
fraktur tulang panjang setelah hemodinamis pasien stabil. Sedangkan penatalaksanaan definitif
fraktur adalah dengan menggunakan gips atau dilakukan operasi dengan ORIF maupun
OREF.
Tujuan pengobatan fraktur yaitu :
a. REPOSISI dengan tujuan mengembalikan fragmen keposisi anatomi. Teknik reposisi terdiri
dari reposisi tertutup dan terbuka. Reposisi tertutup dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau
traksi kulit dan skeletal. Cara lain yaitu dengan reposisi terbuka yang dilakukan pada pasien yang
telah mengalami gagal reposisi tertutup, fragmen bergeser, mobilisasi dini, fraktur multipel, dan
fraktur patologis.
b. IMOBILISASI / FIKSASI dengan tujuan mempertahankan posisi fragmen post reposisi
sampai Union. Indikasi dilakukannya fiksasi yaitu pada pemendekan (shortening), fraktur
unstable serta kerusakan hebat pada kulit dan jaringan sekitar.
Jenis Fiksasi :
a

Eksternal / OREF (Open Reduction External Fixation)

Gips (plester cast)

Traksi
Jenis traksi :

Traksi Gravitasi : U- Slab pada fraktur humerus

Skin traksi
Tujuan menarik otot dari jaringan sekitar fraktur sehingga fragmen akan kembali ke
posisi semula. Beban maksimal 4-5 kg karena bila kelebihan kulit akan lepas

Sekeletal traksi : K-wire, Steinmann pin atau Denham pin.

Traksi ini dipasang pada distal tuberositas tibia (trauma sendi koksea, femur, lutut),
pada tibia atau kalkaneus ( fraktur kruris). Adapun komplikasi yang dapat terjadi
pada pemasangan traksi yaitu gangguan sirkulasi darah pada beban > 12 kg, trauma
saraf peroneus (kruris) , sindroma kompartemen, infeksi tempat masuknya pin.
-

Indikasi OREF :

Fraktur terbuka derajat III

Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas

Fraktur dengan gangguan neurovaskuler

Fraktur Kominutif

Fraktur Pelvis

Fraktur infeksi yang kontraindikasi dengan ORIF

Non Union

Trauma multipel

Internal / ORIF (Open Reduction Internal Fixation)


ORIF ini dapat menggunakan K-wire, plating, screw, k-nail. Keuntungan cara ini adalah
reposisi anatomis dan mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.
- Indikasi ORIF :
Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avascular nekrosis tinggi, misalnya fraktur
talus dan fraktur collum femur.
Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya fraktur avulsi dan fraktur dislokasi.
Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya fraktur Monteggia,
fraktur Galeazzi, fraktur antebrachii, dan fraktur pergelangan kaki.

Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi,
misalnya : fraktur femur
1.6.

Penyembuhan Fraktur
Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu : 1,3

1. Fase hematoma
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang melewati
kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami robekan pada daerah fraktur dan akan membentuk
hematoma diantara kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum.
Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi
sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak.

Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur akan kehilangan
darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler tulang yang mati pada
sisi-sisi fraktur segera setelah trauma.
2. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal
Pada fase ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan.
Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel-sel osteogenik yang berproliferasi dari
periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus
interna sebagai aktifitas seluler dalam kanalis medularis. Apabila terjadi robekan yang hebat
pada periosteum, maka penyembuhan sel berasal dari diferensiasi sel-sel mesenkimal yang tidak
berdiferensiasi ke dalam jaringan lunak. Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi
pertambahan jumlah dari sel-sel osteogenik yang memberi pertumbuhan yang cepat pada
jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. Pembentukan jaringan seluler
tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa
minggu, kalus dari fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada
pemeriksaan radiologis kalus belum mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah
radiolusen.

3. Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis)


Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang berasal
dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas membentuk tulang rawan. Tempat osteoblast
diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlengketan polisakarida oleh garam-garam
kalsium membentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut sebagai woven bone.
Pada pemeriksaan radiologi kalus atau woven bone sudah terlihat dan merupakan indikasi
radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur.
4. Fase konsolidasi (fase union secara radiologik)
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan diubah menjadi tulang
yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur lamelar dan kelebihan kalus
akan diresorpsi secara bertahap.
5. Fase remodelling
Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru membentuk bagian yang menyerupai
bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase remodelling ini, perlahanlahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetap terjadi proses osteoblastik pada tulang dan
kalus eksterna secara perlahan-lahan menghilang. Kalus intermediat berubah menjadi tulang
yang kompak dan berisi sistem Haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan
untuk membentuk ruang sumsum.

Penilaian Penyembuhan Fraktur


Penilaian penyembuhan fraktur (union) didasarkan atas union secara klinis dan union
secara radiologis. Penilaian secara klinis dilakukan dengan pemeriksaan daerah fraktur dengan
melakukan pembengkokan pada daerah fraktur, pemutaran dan kompresi untuk mengetahui
adanya gerakan atau perasaan nyeri pada penderita. Keadaan ini dapat dirasakan oleh pemeriksa
atau oleh penderita sendiri. Apabila tidak ditemukan adanya gerakan, maka secara klinis telah
terjadi union dari fraktur.
Union secara radiologis dinilai dengan pemeriksaan rontgen pada daerah fraktur dan
dilihat adanya garis fraktur atau kalus dan mungkin dapat ditemukan adanya trabekulasi yang
sudah menyambung pada kedua fragmen. Pada tingkat lanjut dapat dilihat adanya medulla atau
ruangan dalam daerah fraktur.
Salah satu tanda proses penyembuhan fraktur adalah dengan terbentuknya kalus yang
menyeberangi celah fraktur (bridging callus) untuk menyatukan kembali fragmen-fragmen
tulang yang fraktur). Pembentukan bridging callus dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jarak
antara fragmen, stabilitas fraktur, vaskularisasi, keadaan umum penderita, umur, lokasi fraktur,

infeksi dan lain-lain. Vaskularisasi daerah fraktur dapat berasal dari periosteum, endosteum dan
medulla.

Penelitian tentang perubahan densitas kalus pernah dilakukan oleh Siregar (1998,
Bandung) dengan membandingkan pertumbuhan kalus pada penderita paska operasi internal
fiksasi dengan menggunakan plate dan screw dengan K-nail pada pasien fraktur femur dan
peneliti ini melakukan kriteria penilaian gambaran radiologi serta membaginya menjadi:
Grade 0 : Kalus belum / tidak terbentuk / non union
Grade 1+: Bintik-bintik radioopak pada daerah fraktur
Grade 2+ : Bintik-bintik atau garis radioopak dengan lusensi sama dengan lusensi
medulla.
Grade 3+: Bintik-bintik atau garis radioopak dengan lusensi antara medulla dengan
korteks.
Grade 4+: Densitas kalus sama dengan atau lebih radioopak dari pada korteks.

Pada penelitian berikut ini diamati proses pertumbuhan kalus pada penderita fraktur
tulang panjang Humerus, Radius, Ulna, Femur, Tibia, dan Fibula. Sampai saat ini belum
ditemukan data awal tentang pertumbuhan kalus pada masing masing tulang panjang tersebut.
1.7.

Komplikasi Fraktur

Komplikasi fraktur dapat diakibatkan oleh trauma itu sendiri atau akibat penanganan fraktur
yang disebut komplikasi iatrogenik.
a. Komplikasi umum
Syok karena perdarahan ataupun oleh karena nyeri, koagulopati diffus dan gangguan fungsi
pernafasan.
Ketiga macam komplikasi tersebut diatas dapat terjadi dalam 24 jam pertama pasca trauma dan
setelah beberapa hari atau minggu akan terjadi gangguan metabolisme, berupa peningkatan
katabolisme. Komplikasi umum lain dapat berupa emboli lemak, trombosis vena dalam (DVT),
tetanus atau gas gangren.
b.

Komplikasi Lokal

Komplikasi dini
Komplikasi dini adalah kejadian komplikasi dalam satu minggu pasca trauma, sedangkan apabila
kejadiannya sesudah satu minggu pasca trauma disebut komplikasi lanjut.

Pada Tulang

1.

Infeksi, terutama pada fraktur terbuka.

2.

Osteomielitis dapat diakibatkan oleh fraktur terbuka atau tindakan operasi pada fraktur

tertutup. Keadaan ini dapat menimbulkan delayed union atau bahkan non union
Komplikasi sendi dan tulang dapat berupa artritis supuratif yang sering terjadi pada fraktur
terbuka atau pasca operasi yang melibatkan sendi sehingga terjadi kerusakan kartilago sendi dan
berakhir dengan degenerasi.

Pada Jaringan lunak

1.

Lepuh , Kulit yang melepuh adalah akibat dari elevasi kulit superfisial karena edema.

Terapinya adalah dengan menutup kasa steril kering dan melakukan pemasangan elastik.
2.

Dekubitus. terjadi akibat penekanan jaringan lunak tulang oleh gips. Oleh karena itu perlu

diberikan bantalan yang tebal pada daerah-daerah yang menonjol.

Pada Otot

Terputusnya serabut otot yang mengakibatkan gerakan aktif otot tersebut terganggu. Hal ini
terjadi karena serabut otot yang robek melekat pada serabut yang utuh, kapsul sendi dan tulang.
Kehancuran otot akibat trauma dan terjepit dalam waktu cukup lama akan menimbulkan
sindroma crush atau thrombus.

Pada pembuluh darah

Pada robekan arteri inkomplit akan terjadi perdarahan terus menerus. Sedangkan pada robekan
yang komplit ujung pembuluh darah mengalami retraksi dan perdarahan berhenti spontan.
Pada jaringan distal dari lesi akan mengalami iskemi bahkan nekrosis. Trauma atau manipulasi
sewaktu melakukan reposisi dapat menimbulkan tarikan mendadak pada pembuluh darah
sehingga dapat menimbulkan spasme. Lapisan intima pembuluh darah tersebut terlepas dan
terjadi trombus. Pada kompresi arteri yang lama seperti pemasangan torniquet dapat terjadi
sindrome crush. Pembuluh vena yang putus perlu dilakukan repair untuk mencegah kongesti
bagian distal lesi.
Sindroma kompartemen terjadi akibat tekanan intra kompartemen otot pada tungkai atas maupun
tungkai bawah sehingga terjadi penekanan neurovaskuler sekitarnya. Fenomena ini disebut
Iskhemi Volkmann. Ini dapat terjadi pada pemasangan gips yang terlalu ketat sehingga dapat
menggangu aliran darah dan terjadi edema dalam otot.
Apabila iskemi dalam 6 jam pertama tidak mendapat tindakan dapat menimbulkan
kematian/nekrosis otot yang nantinya akan diganti dengan jaringan fibrus yang secara periahanlahan menjadi pendek dan disebut dengan kontraktur volkmann. Gejala klinisnya adalah 5 P
yaitu Pain (nyeri), Parestesia, Pallor (pucat), Pulseness (denyut nadi hilang) dan Paralisis

Pada saraf

Berupa kompresi, neuropraksi, neurometsis (saraf putus), aksonometsis (kerusakan akson).


Setiap trauma terbuka dilakukan eksplorasi dan identifikasi nervus.
Komplikasi lanjut
Pada tulang dapat berupa malunion, delayed union atau non union. Pada pemeriksaan terlihat
deformitas berupa angulasi, rotasi, perpendekan atau perpanjangan.

Delayed union

Proses penyembuhan lambat dari waktu yang dibutuhkan secara normal. Pada pemeriksaan
radiografi, tidak akan terlihat bayangan sklerosis pada ujung-ujung fraktur.
Terapi konservatif selama 6 bulan bila gagal dilakukan Osteotomi. Bila lebih 20 minggu
dilakukan cancellus grafting (12-16 minggu)

Non union

Dimana secara klinis dan radiologis tidak terjadi penyambungan.


Tipe I (hypertrophic non union) tidak akan terjadi proses penyembuhan fraktur dan diantara
fragmen fraktur tumbuh jaringan fibrus yang masih mempunyai potensi untuk union dengan
melakukan koreksi fiksasi dan bone grafting.
Tipe II (atrophic non union) disebut juga sendi palsu (pseudoartrosis) terdapat jaringan sinovial
sebagai kapsul sendi beserta rongga sinovial yang berisi cairan, proses union tidak akan dicapai
walaupun dilakukan imobilisasi lama.
Beberapa faktor yang menimbulkan non union seperti disrupsi periosteum yang luas, hilangnya
vaskularisasi fragmen-fragmen fraktur, waktu imobilisasi yang tidak memadai, implant atau gips
yang tidak memadai, distraksi interposisi, infeksi dan penyakit tulang (fraktur patologis)

Mal union

Penyambungan fraktur tidak normal sehingga menimbukan deformitas. Tindakan refraktur atau
osteotomi koreksi.

Osteomielitis

Osteomielitis kronis dapat terjadi pada fraktur terbuka atau tindakan operasi pada fraktur tertutup
sehingga dapat menimbulkan delayed union sampai non union (infected non union). Imobilisasi
anggota gerak yang mengalami osteomielitis mengakibatkan terjadinya atropi tulang berupa
osteoporosis dan atropi otot.

Kekakuan sendi

Kekakuan sendi baik sementara atau menetap dapat diakibatkan imobilisasi lama, sehingga
terjadi perlengketan peri artikuler, perlengketan intraartikuler, perlengketan antara otot dan
tendon. Pencegahannya berupa memperpendek waktu imobilisasi dan melakukan latihan aktif
dan pasif pada sendi. Pembebasan periengketan secara pembedahan hanya dilakukan pada
penderita dengan kekakuan sendi menetap.

DAFTAR PUSTAKA
Arif, Mansjoer, dkk., 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3, Medica. Aesculpalus, FKUI,
Jakarta.
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Buckwalter, J. A.,et al. 2000. Orthopaedic Basic Science Biology and Biomechanics of The
Musculoskeletal System, Second Edition, American Academy of Orthopaedic Surgeons,
United States of America.
Buckley, R. 2004. General Principle of Fracture Care, Department of Surgery, Division of
Orthopaedi, University of Calgary, Canada.
Canale, S. T. 2003 Fracture Healing ( Bone Regeneration ), In: Campbells Operative
Orthopaedic, Tenth Edition, Vol : 3, Mosby, United States of America.

Chapman, M. 2001. W.Chapman orthopedic surgery 3rd ,Lippincott wiliams & Walkins United
States of America, California.
David I. P. 2008. Orthopedic Traumathology A Residents Guide 2nd editon, Leipzig, Germany.
Konowalchuk BK, editor. Tibia shaft fractures [online]. 2012. [cited 2015 Sep 23]. Available
from: http://www.emedicine.medscape.com/article/1249984
Miller, M. D. 2000. Review of orthopedic third edition, Phidelphia: Saunders.
Carpenito, 1999. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerjemah Monica Ester, Jakarta:EGC.
Doenges Marlyn E, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Unuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, (Edisi 3). (Alih Bahasa 1 Made Kriase), Jakarta:
EGC
Rasjad C, 2003. Pengantar Ilmu Bedah Orthopaedi, Trauma, 12 Edition. Bintang Lamupatue.
Makasar.
Sjamsuhidayat, De Jong. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah (Edisi 3). Jakarta:EGC.
Solomon L, et al (eds). Apleys system of orthopaedics and fractures. 9 th ed. London: Hodder
Arnold; 2010.