Anda di halaman 1dari 21

TUGAS FISIKA MATEMATIKA I

DIFFERENSIAL PARSIAL

Kelompok 5 :
1. Budhi Novyannisari (1101135004)
2. Hoerudin (1101135008)
3. Siti Fahada (1101135020)
4. Tashwirul Fanny (1101135029)
PENDIDIKAN FISIKA 3A
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
2013

DIFERENSIAL PARSIAL
Persamaan Diferensial Parsial adalah suatu persamaan yang melibatkan
fungsi dua peubah atau lebih dan turunan atau diferensialnya. Persamaan
diferensial parsial dijumpai dalam kaitan dengan berbagai masalah fisik dan
geometris. Bila fungsi yang terlibat tergantung pada dua atau lebih peubah bebas.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa hanya sistem fisik yang paling sederhana
yang dapat dimodelkan dengan persamaan diferensial biasa mekanika fluida dan
mekanika padat, transfer panas, teori elektromagnetik dan berbagai bidang fisika

lainnya penuh dengan masalah-masalah yang harus dimodelkan dengan


persamaan differensial parsial.
f adalah fungsi dua variable

Umumnya, jika
x

kita misalkan hanya


katakan

y=b

1.

dibuat tetap,

konstanta. Baru sesudah itulah kita sebenarnya

meninjau fungsi variable tunggal

terhadap

y , andaikan

dan

saja yang berubah-ubah sedangkan

dengan

mempunyai turunan di

x , yaitu

g ( x ) =f ( x , b ) .

jika

a , maka kita menamakannya turunan parsial dari

g
f

x di (a , b) dan menyatakannya dengan f x (a , b) . Jadi


f x ( a ,b )=g' ( a )

dengan

g ( x ) =f (x , b)

Menurut definisi turunan, kita mempunyai


f ( a+h , b )f ( a ,b)
g' ( a )=lim
h
h 0
Sehingga persamaan nomor 1 menjadi
2. f x ( a , b ) =lim

h0

f ( a+ h , b )f (a , b)
h
f terhadap

f y ( a , y ) , diperoleh dengan membuat

Dengan cara serupa, turunan parsial dari


dinyatakan dengan

di

(a , b) ,

tetap ( x=a)

dan mencari turunan biasa di b dari fungsi G( y )=f (a , y)

3. f y ( a , b )=lim
h 0

Jika
fy

f ( a , b+h )f ( a ,b )
h

adalah fungsi dua variable, turunan parsialnya adalah fungsi

yang didefinisikan oleh

fx

dan

4. f x ( x , y )=lim

h 0

f y ( x , y ) =lim

h 0

f ( x +h , y )f ( x , y )
h

f ( x , y +h )f (x , y )
h

Contoh 1.
Tentukan turunan parsial terhada x dan turunan parsial terhadap y fungsi yang
dirumuskan dengan f(x,y)= x2y + 5x +4. Selanjutnya tentukan turunan parsial f
terhadap x dan turunan parsial f terhadap y di titik (2,3)
Penyelesaian
f ( x o + x , y o )f ( xo , y o )
f (x, y)
= lim
x
x
x 0
2

( x + x) y +5 ( x + x ) + 4( x y+ 5 x + 4)
x
x 0

lim

x y+ 2 x xy +( x) y+5 x +5 x +4( x y +5 x+ 4)
lim
x
x 0
2

lim
x 0

2 x xy +( x ) y +5 x
x

2 xy +5
f ( x o , y 0 + y )f ( x o , y o )
f (x, y)
= lim
y
y
x 0
lim

x 2 ( y+ y )5 x +4( x 2 y +5 x+ 4)
y

lim

x2 y
y

x 0

x 0

x2
Sehingga

turunan

parsial

f ( 2,3 )
=2 ( 2 ) ( 3 ) +5=17
x

terhadap

di

titik

(2,3)

adalah

dan turunan f terhadap y dititik (2,3) adalah

f ( 2,3 ) 2
=2 =4
y

Untuk memudahkan menentukan turunan parsial dari fungsi dua variabel f(x,y)
maka dapat dilakukan hal berikut. Apabila fungsi f diturunkan terhadap variabel x
maka y diperlakukan seperti konstanta dan apabila f diturunkan terhadap variabel
y maka x diperlakukan seperti konstanta.
Contoh 2.
Tentukan turunan parsial terhadap x dan turunan parsial terhadap y fungsi yang
dirumuskan dengan f (x,y) = 3x4y2 + xy2 +4y
Penyelesaian :
f (x, y)
3 2
2
=12 x y + y
x
f (x, y)
=6 x 4 +2 xy+ 4
y
A. Notasi Diferensial Parsial
Jika z=f ( x , y ) kita tuliskan
f x ( x , y )=f x =

z
=
f ( x , y )= =f 1=D1 f =D x f
x x
x

f y ( x , y ) =f y =

z
=
f ( x , y )= =f 2=D2 f =D y f
y y
y

B. Deret Pangkat dengan 2 Variabel


Bentuk

dasar

persamaaan

deret

pangkat

a m ( xx 0)m =a0 + a1 ( xx 0 ) + a2 (xx 0)2 + (1)

m=0

x adalah sebuah varibel dan ao ,a1 ,a2 . adalah konstanta-konstantanya. xo


adalah sebuah konstanta yang disebut sebagai pusat dari deret. Jika xo = 0,
kitadapatkan deret pangkat x.

a m x m =a0 +a 1 x +a2 x2 +a 3 x 3 + ( 2 )

m=0

Ide dari metode deret pangkat


} + p left (x right ) {y} ^ {'} + q left (x right ) y +0

PD 2: y
Kita asumsikan penyelesaian dalam bentuk deret pangkat sebagai
berikut

y= am x m=a 0+ a1 x +a 2 x 2+ a3 x3 + ( 3 )
m =0

y '= ma m x m1=a1+ 2a 2 x +3 a3 x2 + 4 a 4 x 3 + ( 4 a )
m =1

y ' '= m(m1)am x m2=2 a2 +3.2 a3 x+ 4.3 a4 x 2 + ( 4 b )


m =1

Diferensial Deret Pangkat


Deret pangkat dapat diturunkan bagian per bagian.

y ( x )= am ( xx 0)

m=0

|xx 0|

Konvergen untuk

<R dimana R>0, maka deret turunannya juga

konvergen.

y ( x )= mam ( xx 0 )m 1 (|xx 0|< R )


'

m =1

m2

y ( x )= m ( m1 ) am ( xx 0 )
''

m=2

(|xx 0|< R ) , etc .

C. Diferensial Total
Diferensial

total

adalah

pertambahan salah satu variabelnya

perubahan
x

atau

fungsi

f (x , y )

y . Misalkan fungsi

terhadap
f (x , y )

mempunyai turunan parsial di


x

ditambah menjadi

x+ x

(x , y ) . Pertambahan fungsi
dan y menjadi

y + y

f (x , y )

jika

adalah

f =f ( x + x , y+ y )f ( x , y )
Jika ditambah dan dikurangi f ( x , y + y ) di ruas kanan, diperoleh
f =[ f ( x + x , y+ y )f ( x , y + y ) ] + [ f ( x , y + y )f ( x , y ) ]
pers (*)
pertambahan x dalam fungsi f ( x , y + y )
dengan mempertahankan

y + y

tetap.

Teorema nilai rata-rata kalkulus


Jika f (x) memiliki turunan f ( x) pada setiap titik dalam selang [x - x, x+
x] maka :
[f (x + x )f (x)]=f () x

Dengan

=x + x (0< 1) sebuah titik dalam selang [x x , x + x ] .

Dengan demikian,
[f (x + x , y + y) f (x , y + y)]=f x (x +1 x , y + y ) x
dengan 0 < 1 < 1
Dengan cara yang sama, untuk suku kedua pers.(*), menghasilkan
[f (x , y + y) f (x , y )]=f y ( x , y +2 y ) y
dengan 0 < 2 < 1
Jika turunan parsial

f x (x , y ) dan f y ( x , y) kontinu di (x , y ) , maka

f x (x +1 x , y + y )=f x ( x , y)+ 1
f y ( x , y+ 2 y)=f y ( x , y )+ 2

dengan lim 1= 0 dan lim 2 = 0 , bila x dan y menuju nol. Pers.(*)


teralihkan menjadi :
f =f x (x , y) x +f y (x , y) y + 1 x+ 2 y
Dengan mengambil limit x 0 dan y0, diperoleh turunan total fungsi
f(x,y) :

df =

f
f
dx +
dy
x
y

f (x , y , z , ...) , turunan totalnya

Untuk

df =

f
f
f
dx +
dy + dz+
x
y
z

Contoh 3
Hitunglah diferensial total fungsi

f ( x , y )=xy 2 sin( xy ).

Penyelesaian :
f x= y 2 y cos(xy )

f y=2 xyx cos (xy)

dan

Sehingga turunan totalnya :


2 xyx cos(xy ) dy
df =( y 2 y cos( xy )) dx +
D. Aturan Rantai
Aturan Rantai untuk fungsi-fungsi komposisi satu peubah sekarang sudah
dikenal oleh semua pembaca. Jika y = f(x(t)), dengan f dan x keduanya fungsi
yang dapat didiferensialkan, maka
dy y dx
=
dt x dt
y=f (u) dan u= (x)

y=f , composite fungsi


2

fungsi :

dy y du
=
dx u dx

fungsi :

dy y du dv
=
dx u dv dx

Rumus 1
(Aturan Rantai). Andaikan

x=x (t)

di t dan andaikan
z=f ( x , y ) dapat didiferensialkan di
dapat didiferensialkan di t, maka :

y= y (t )

dapat didiferensialkan

(x (t), y( t)) .

Maka z=f ( x (t))

dan

dz z dx z dy
=
+
dt x dt y dt
Rumus 2
(Aturan Rantai). Misalkan
turunan

peetama

didiferensialkan

di

di

x=x (s ,t )
(s , t)

dan

(x (s ,t ), y (s , t)) .

dan

y= y (s , t) mempunyai
z=f ( x , y ) dapat

misalkan
Maka

z=f ( x (s ,t ), y (s , t))

mempunyai turunan parsial pertama yang diberikan oleh,


Jika, z=f ( x , y ), x=x (s , t), y = y (s , t) , maka

(1)

z z x z y
=
+
s x s y s

(2)

z z x z y
=
+
t x t y t

Rumus 3
Jika, w=f ( x , y , z ) , x=x (r , s , t) , y = y (r , s , t), z=(r , s , t) maka

(1)

w w x w y w z
=
+
+
r x r y r z r

(2)

w w x w y w z
=
+
+
s x s y s z s

(3)

w w x w y w z
=
+
+
t x t y t z t

ATURAN RANTAI UNTUK FUNGSI KOMPOSISI


1. Misal u dan v fungsi-fungsi yang didefinisikan u = u(x,y) dan v = v(x,y)
dengan u dan v kontinu, mempunyai turunan parsial pertama di (x,y). F
fungsi dari u dan v yang mempunyai turunan pertama yang kontinu dalam
daerah terbuka D yang memuat (u,v), maka:

F F u F v
=
+
x u x v x

dan

F F u F v
=
+
y u y v y

2. Misal F fungsi dari u, v dan w dengan u, v dan w fungsi-fungsi kontinu dua


variable u = u(x,y), v = v(x,y) dan w = w(x,y) yang mempunyai turunan parsial
pertama dan semua turunan parsial pertama fungsi F kontinu, maka:

F F u F v F w
=
+
+
x u x v x w x
F F u F v F w
=
+
+
y u y v y w y
Contoh 4.
z=4 xy+ x2 y 2 dengan x=t cos t , dan y=sin t . Mengingat,
1.
z
=4 y +2 x
x

z
=4 x2 y
y

dx
=cott sint
dt

dy
=sin tt cos t
dt

Jawab :
dz z dx z dy
=
+
dt x dt y dt
( 4 y +2 x )( cott sin t ) +( 4 y2 y )(sin tt cos t )
( 4 t2t 2 ) sin 2t + ( 2 t+ 4 t 2 ) cos 2 t

2.

z=x 2+ 4 xy y 2 dengan x=r cos 2 t , dan y=r sin 2 t . Mengingat,


z
=2 x+4 y
x
x
=cos 2 t
r

z
=4 x2 y
y
y
=sin 2 t
r

dan

x
=2r sin 2 t
t

y
=2 r cos 2 t
t

Jawab :
z z x z y
=
+
= ( 2 x +4 y ) cos 2 t+ ( 4 x2 y ) sin 2t
r x r y r
z z x z y
=
+
= ( 2 x +4 y )(2 r sin 2 t )+(4 x2 y )(2 r cos 2t )
t x t y t
E. Diferensial Implisit
Aturan hubungan sebuah fungsi mungki tidak eksplisit. Sebagai contoh,
y=f ( x)

aturan

adalh implisit terhadap persamaan

x 2+ 4 xy 5 +7 xy +8=0.

Lebih lanjut, tidak ada alasan untuk percaya bahwa persamaan ini dapat
diselesaikan untuk y dalam bentuk x. Akan tetapi, dengan mengasumsukan
domain yang sama (yang dijelaskan oleh variabel bebas x) angggota persamaan
dari ruas kiri dapat diartikan sebagai komposisi fungsi-fungsi dan didiferensiasi
dengan benar. (aturan diferensiasi berikut ini ditulis untuk untuk anda cek
kebenarannya).
Dalam contoh ini, diferensiasi terhadap x menghasilakan

2 x + 4 y5 +5 xy 4

dy
dy
+7 y+ x
=0
dx
dx

) (

Perhatikanlah bahwa persamaan ini dapat diselesaikan untuk


fungsi dari

Diberikan,

F( x , y)=c

dan

dy ( F / x)
=
dx ( F / y )

(tetapi tidak untuk x semata).


maka

dy
dx

sebagai

dx ( F / y)
=
dy ( F / x )

Hitung

Misalkan,

dy
dx

dari 3 xy +3 y =x

F( x , y) = 3 xy 2+3 y 3 =x3 , maka :

F
=3 y 23 x 2=3( y 2x 2 )
x
F
x

2
= 6xy + 9 y

Demikian pula, jika F( x , y , z )=c , maka

z ( F/ x)
=
x ( F / z)
z ( F / y )
=
y ( F / z)
Misal z = F(x,y) dan y = g(x), maka z = F(x, g(x)) menyatakan fungsi satu variable,
sehingga berdasarkan aturan rantai diperoleh:

z F x F y z F F y
=
+
=
+
x x x y x x x y x
Jika z = 0 maka F(x,y) = 0 mendefinisikan y secara implisit sebagai fungsi x dan (*)
menjadi

F
F F y y
x
0=
+
=
x y x x
F
y

asalkan

F
0
y

Analog dengan hal tersebut, jika z fungsi implisit variabel x dan y yang didefinisikan
oleh persamaan F(x,y,z) = 0 maka :

F
z
x
=
x
F
z

F
z
y
=
y
F
z

dan

asalkan

F
0
z

F. Aplikasi Diferensial Parsial


Hubungan Maxwell dalam Termodinamika
Termodinamika merupakan cabang Fisika yang paling banyak menggunakan
perumusan turunan dan diferensial parsial. Misalnya, hukum I Termodinamika
dapat dituliskan dalam bentuk diferensial berikut:
d Q=dU + d W ....(1)
dengan

d Q

menyatakan sejumlah kecil kalor yang keluar/masuk sistem, dU

menyatakan selisih infinitesimal energi dalam sistem dan

d W

menyatakan

sejumlah kecil kerja yang diterima/dilakukan sistem. Perlu dicatat bahwa


dan

d W

d Q

bukan menyatakan selisih, sehingga operator diferensialnya

dituliskan sebagai

. Untuk sistem yang bersifat reversibel atau prosesnya

dapat dibalik arahnya, maka berlaku hubungan:


d Q=TdS (2)
Dengan T adalah temperatur dan

dS

adalah selisih infinitesimal entropi

(S )

sistem. Sementara itu, sejumlah kecil usaha dapat dituliskan sebagai:


d W =PdV (3)
dengan P adalah tekanan dan dV adalah selisih infinitesimal volume

(V )

sistem. Berdasarkan hubungan pada persamaan (2) dan (3), maka persamaan (1)
dapat dituliskan kembali sebagai:

dU =TdSPdV (4)
Dari perumusan ini jelas terlihat bahwa energi dalam merupakan fungsi dari
entropi dan volume, U=U (S ,V ) .
Tinjau kembali definisi diferensial total yang telah dijelaskan sebelumnya yang
ditulis ulang sebagai berikut :

( fx ) dx +( fy ) dy

df =

Dengan

( fy )

( xf )

(5)

menyatakan turunan parsial f terhadap x dengan y konstan dan

menyatakan turunan parsial f terhadap y dengan x konstan. Selanjutnya

kita asumsikan bahwa kita berhubungan dengan fungsi f yang bersifat konservatif
sehingga memenuhi kondisi berikut:
2

f
f
=
(6)
x y y x
Maka dari sini kita dapatkan diferensial total dari fungsi U=U (S ,V ) adalah :

( US ) dS +( UV ) dV

dU =

Bandingkan dengan persamaan 4 yang kita peroleh :


U
=T , (
=P
( U
S )
V )
V

Selanjutnya berdasarkan kondisi 6 dan turnan parsial berikut :


U
2 U
T
=
=
V S
V S V

( )

( )

U
2 U
T
=
=
S V
SV
S

( )

( )

Diperoleh hubungan berikut :

( VT ) =( PS )
S

yang dikenal sebagai salah satu dari empat buah Hubungan Maxwell (Maxwell
Relations) dalam Termodinamika. Pada hubungan ini diperlihatkan bahwa pada
proses reversibel, perubahan temperatur terhadap volume pada entropi tetap sama
dengan negatif perubahan tekanan terhadap entropi pada volume tetap.
G. Peubah Variabel
Hampir semua fenomena-fenomena di dalam Fisika harus digambarkan
melalui persamaan diferensial. Jika fenomena tersebut melibatkan beberapa
variabel, baik berupa besaran pokok ataupun besaran turunan, maka persamaan
diferensial yang terkait akan berbentuk persamaan diferensial parsial. Persamaan
diferensial terkait tersebut kadang kadan akan lebih mudah dicari solusinya jika
kita menyatakan dalam bentuk variable variable baru yang merupakan fungsi
dari variabel lama. Untuk jelasnya, tinjau sebagai contoh persamaan gelombang
berikut:
2 1 2
=
x2 v 2 t 2

.(7)

Dengan menyatakan fungsi gelombang dan v merupakan laju


perambatan gelombang. Dalam pengalaman sehari-hari, kita sering menjumpai
gundukan air yang merambat di dalam kolam atau perambatan gelombang air laut
di pantai. Secara ideal, kesemuanya dapat dihampiri oleh persamaan (1) di atas.
Persamaan gelombang (1) memiliki solusi yang dapat menggambarkan
perambatan dua gelombang yang saling berlawanan arah, oleh karena itu untuk
menggambarkannya kita dapat mendefinisikan variabel baru berikut:
r=x +vt ..(8a)
s=x vt .(8b)

Sekarag kita misalkan


s=s( x , t)

(r , s ) , dengan r=r ( x , t)

dan

seperti yang diberikan oleh persamaan (8). Diferensial total , r

dan s adalah:
d =

dr +
ds .,(9a)
r
s

d r=

r
r
dx+ dt .. (9b)
x
t

d s=

s
s
dx+ dt
x
t

.(9c)

Dari ketiga diferensial total kita dapatkan:


d =

( r rx + s sx ) dx+( r tr + s st ) dt

(10)

yang sekarang merupakan diferensial total terhadap x dan t , sehingga dengan


demikian kita peroleh:
r s
=
+
x r x s x ..(11a)
r s
=
+
t
r t s t

(11b)

Berdasarkan persamaan (8):


r
r
s
s
=1, =v , =1, =v
x
t
x
t

. (12)

sehingga persamaan (11) memiliki bentuk sebagai berikut:

=
+
............................................................................... (13a)
x
r s

=v

t
r s

(13b)

Akan berguna jika kita menyatakan operator pada persamaan (13) sebagai berikut:


+
r s

=v

t
r s

..(14a)

..(14b)

Untuk mencari turunan parsial kedua dari fungsi terhadap x dan t , kita dapat
menggunakan penulisan operator pada persamaan (14) sebagai berikut:
2

2
2 2
=
=
+
+
=
+2
+
r s s s
r s s 2 ....(15a)
x2 x x
r2

( )(

)(

=
=v 2

2
x t
r s
t

( ) (

)(


2
2 2

=v2
2
+
s s
r s s2
r2

) (

.(15b)
Selanjutnya substitusikan persamaan (15) ke dalam persamaan gelombang (7)
diperoleh bentuk persamaan diferensial untuk gelombang dalam variabel r dan s
sebagai berikut:
2


=0
r s
(16)
Persamaan gelombang (16) jelas lebih sederhana dari persamaan (7). Pemecahan
dari persamaan (64) tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:

+ ( xvt)
= ( x+vt ) + ..(17)
yang tidak lain menggambarkan gelombang yang merambat ke arah x negatif
(diwakili oleh fungsi

) dan gelombang yang merambat ke arah x positif

+
(diwakili oleh fungsi ).

H. Diferensiasi Integral (aturan Leibniz)


Gottfried Wilhelm Leibniz adalah salah seorang dari dua penemu utama
kalkulus (yang lainnya adalah Isaac newton). Cara penulisannya (notasinya)
untuk turunan masih dipakai secara luas, khususnya dalam bidang terapan
seperti halnya Fisika, kimia, dan ekonomi. Daya tariknya terletak dalam
bentuknya, sebuah bentuk yang seringmengemukakan hasil-hasil yang benar
dan kadang-kadang menunjukkan bagaimana membuktikannya. Setelah kita
menuasai notasi Leibniz, kita akanmenggunakannya untuk menyatakan
kembali Aturan rantai dan kemudian benar-benar membuktikan aturan

tersebut.
Pertambahan
Jika nilai sebuah variabel
x 2 x 1 , perubahan dalam

berganti dari

x1

ke

x2

maka

disebut suatu pertambahan dari x dan biasanya

dinyatakan oleh x . Jika x 1=4,1 dan x 2=5,7 maka


x=x 2 x 1=5,7 4,1=1,6
Jika x1 = c dan x2 = c+h, maka
x=x 2 x 1=c+ h c=h
Andaikan bahwa
dari

x1

ke

x2

maka

y=f ( x)

y1

menentukan sebuah fungsi. Jika x berubah

berubah dari

1=f (x 1) ke y 2=f ( x 2)

. Jadi

x=x 2 x 1

bersesuaian dengan pertambahan

dalam x, terdapat pertambahan

dalam y yang diberikan oleh


y= y 2 y 1=f (x 2) f ( x 1)
Contoh 5.

Jika y = f(x) = 2 x2. Carilah y

jika x berubah dari 0,4 ke 1,3

Penyelesaian :
y=f (1,3) f (0,4)

[2 (1,3) 2] [2 (0,4) 2]
0,31 1,84

1,53

Lambang dy/dx turunan


Andaikan variabel bebas beralih dari

ke

x+ x . Perubahan yang

terjadi dalam variabel tak bebas y akan berupa


y = f ( x+ x ) f(x)
y f ( x+ x )f ( x)
=
x
x

Soal dan Pembahasan


2
3
1. Carilah f x ( 1,2 ) dan f y ( 1,2 ) jika f ( x , y ) =x y +3 y .
Penyelesaian:
Untuk mencari

f x (x , y )

kita anggap

diferensialkan fungsi ini terhadap x didapat


f x ( x , y )=2 xy+ 0
Jadi,
f x ( 1,2 ) =2 1 2=4
Demikian pula,
f y ( x , y ) =x2 +9 y 2
Sehingga,

sebagai konstanta dan kita

f y ( 1,2 )=12 +9 22=37


Jika z = f(x,y), kita gunakan cara penulisan lain.
z f (x , y)
z f (x , y)
f x ( x , y )= =
f y ( x , y )= =
x
x
y
y

f x ( x 0 , y 0 )=

z
x

f y ( x 0 , y 0 )=

( x 0 , y0 )

z
y

( x 0 , y0 )

Lambang adalah lambang khas dalam matematika dan disebut tanda


turunan parsial.
2. Jika

z=x 2 sin ( xy 2 ) , cari

z
x

dan

z
y .

Penyelesaian :
z

2
=x 2
sin ( xy 2 ) ] +sin ( xy 2 )
(x )
[
x
x
x
x 2 cos ( xy 2 )

( xy 2) + sin ( xy 2) .2 x
x

x 2 cos ( xy 2 ) . y 2+ 2 x sin( xy 2)

2 2
2
2
x y cos ( xy ) +2 x sin( xy )

z
2
2
3
2
=x cos ( xy ) .2 xy=2 x y cos ( xy )
y
3. Cari keempat turunan parsial kedua dari
x
f ( x , y ) =x e y sin
+ x3 y 2
y

()

Penyelesaian :
1
x
f x ( x , y )=e y cos
+ 3 x2 y2
y
y

()

f y ( x , y ) =xe +

f xx ( x , y )=

x
x
3
cos
+2x y
2
y
y

()

1
x
sin
+6 x y 2
2
y
y

()

f xy

x2
x 2x
x
3
sin
3 cos
+2 x
4
y
y
y
y

()
()
x
x
1
x
( x , y )=e + sin ( )+ cos ( )+ 6 x y
y y
y
y
y

f yy ( x , y )=xe +
y

f yx ( x , y )=e y +

x
x
1
x
sin
+ 2 cos
+6 x 2 y
3
y
y
y
y

()

()

f ,f ,f
4. Jika f ( x , y , z )=xy +2 yz+ 3 zx , cari x y z
Penyelesaian :

fx

Untuk memperoleh

, kita pandang

dan

z sebagai konstanta dan

turunkan terhadap peubah x . Jadi,


f x ( x , y , z )= y +3 z
Untuk mencari

fy

, kita anggap

x dan

z sebagai konstanta dan

turunkan terhadap y :
f y ( x , y , z )=x+ 2 z
Serupa halnya,
f z ( x , y , z ) =2 y +3 x
5. Suatu tangki silinder berjari 0 jari 2,5 m dan tingginya 3 m mempunyai lubang
pada alasnya dengan jari jari 25 mm. Diketahui bahwa air akan mengalir ke
luar

melalui

lubang

semacam

ini

dengan

kecepatan

mendekati

v =2,5 h m/ s , h adalah dalamnya air dalam tangki. Carilah waktu yang


diperlukan untuk mengosongkan tangki itu lewat lubang tersebut.
Penyelesaian :
Volume air yang mengalir ke luar per detik dapat dipikirkan sebagai volume
silinder yang berjari jari 25 mm dan tingginya v. dengan demikian volume
yang mengalir keluar pada saat dt detik adalah
(0,025)2 ( 2,5 h ) dt

Perubahan permukaan air di tangki dinyatakan dengan

dh , volume air yang

2
mengalir ke luar dinyatakan oleh ( 2,5 ) dh . Maka :
2

( 0,025 ) ( 2,5 h ) dt = ( 2,5 ) dh

dt=

2,5 2 dh
dh
=4000
0,025 2,5 h
h

Integrasikan antara t=0, h=3 dan t=t, h=0,


t
0
0
0
dt=
4000

dhh =8000 h|3=8000 3 detik
0
3
3
3 jam 34 detik

atau