Anda di halaman 1dari 61

REFERENSI ARTIKEL

WAWANCARA PSIKIATRI, ANAMNESIS, DAN PEMERIKSAAN STATUS


MENTAL

DISUSUN OLEH :
Wahyu Aprillia
Himmatul Fuad
Isna Noor Rakhmawati
Faisal Hafidh
Larissa Amanda
Bani Zakiyah

G99141072
G99141073
G99141074
G99141075
G99141076
G99141152

PEMBIMBING :
Prof. Dr. Much. Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan rahmat dan karunia sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan refrat yang berjudul : Wawancara Psikiatri,
Anamnesis dan Pemeriksaan Status Mental. Penulis menyadari bahwa dalam
penulisan dan penyusunan refrat ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, baik
berupa bimbingan maupun nasihat, oleh karena itu penulis mengucapkan terima
kasih kepada:
1) Prof. Em. Ibrahim Nuhriawangsa, dr., Sp.KJ (K)
2) Prof. Dr. Much. Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K)
3) Prof. Dr. Aris Sudiyanto, dr., Sp.KJ (K)
4) Prof. Dr. Moh. Fanani, dr., Sp.KJ (K)
5) Mardiatmi Susilohati, dr., Sp.KJ (K)
6) Yusvick M. Hadim, dr., Sp.KJ
7) Djoko Suwito, dr., Sp.KJ
8) I.G.B. Indro Nugroho, dr., Sp.KJ
9) Gst. Ayu Maharatih, dr., Sp.KJ
10) Machmuroch, Dra., MS
11) Debree Septiawan, dr., Sp.KJ, M.Kes
12) Istar Yuliadi, dr., M.Si
13) Rochmaningtyas HS, dr., Sp.KJ, M.Kes
Penulis menyadari bahwa referat ini masih belum sempurna, oleh karena
itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk perbaikan
referat ini. Semoga referat ini bermanfaat bagi kita semua.
2

Agustus 2015
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................ ii
DAFTAR ISI ........................................................................................ iii
BAB I. PENDAHULUAN ..................................................................... 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................ 3
A MODEL HUBUNGAN DOKTER PASIEN ....................................... 5
1 Model Aktif-Pasif (Active-Pasive Models/ Paternalistic Model).... 5
2 Model Peran Serta Saling Menguntungkan (Mutual Participation
Model /
Collegial Model........................................................................... 5
3 Model Persahabatan (Friendship model) ................................... 5
4 Model Konsumtif (Consumerist Model) ...................................... 5
B TEKNIK WAWANCARA ................................................................. 6
1 Mendapatkan Rapport................................................................ 6
2

Memulai Wawancara.................................................................. 7

Wawancara................................................................................. 7

Mengakhiri Wawancara.............................................................. 18

C RIWAYAT PSIKIATRI ..................................................................... 18


1. Data Identitas............................................................................. 19
2. Keluhan Utama........................................................................... 20
3. Riwayat Penyakit Sekarang........................................................ 20
4. Riwayat Penyakit Dahulu............................................................ 21
5. Riwayat Pribadi........................................................................... 22
6. Riwayat Psikoseksual................................................................. 26
7. Riwayat Keluarga....................................................................... 27
8. Mimpi, Khayalan dan Nilai Hidup................................................ 27

D PEMERIKSAAN STATUS MENTAL................................................ 28


1 Deskripsi Umum......................................................................... 28
2 Kesadaran.................................................................................. 32
3

Alam Perasaan........................................................................... 38

Riwayat Penyakit Sekarang........................................................ 40

Pikiran........................................................................................ 41

Fungsi Kognitif............................................................................ 44

Tilikan......................................................................................... 56

Riwayat Penyakit Sekarang........................................................ 57

Reabilitas

BAB III PENUTUP .............................................................................. 59


A SIMPULAN .................................................................................... 59
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 60

BAB I
PENDAHULUAN
Gangguan jiwa adalah sindrom atau pola perilaku, atau psikologik
seseorang yang secara klinik cukup bermakna dan yang secara khas berkaitan
dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya (impairment/ disability) di
dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia. Sebagai tambahan,
disimpulkan bahwa disfungsi itu adalah disfungsi dalam segi perilaku, psikologik,
atau biologik, dan gangguan itu tidak semata-mata terletak di dalam hubungan
antara orang itu dengan masyarakat (Maslim, 2013). Gangguan jiwa
menyebabkan penderitanya tidak sanggup menilai dengan baik kenyataan, tidak
dapat lagi menguasai dirinya untuk mencegah mengganggu orang lain, merusak
atau menyakiti dirinya sendiri (Baihaqi, dkk., 2005). Menurut Badan Kesehatan
Dunia (WHO), jumlah penderita gangguan jiwa di dunia pada 2001 adalah 450
juta jiwa. Diperkirakan dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia, ada sekitar 50
juta atau 22 persennya, mengidap gangguan kejiwaan (Hawari, 2009)
Psikiatri atau ilmu kedokteran jiwa adalah cabang ilmu kedokteran yang
mempelajari segala segi kejiwaan dari manusia dalam keadaan sehat maupun
sakit. Tujuan psikiatri untuk meneliti proses terjadinya, menegakkan diagnosa,
merencanakan, melaksanakan pengelolaan dan pengobatan dari segala macam
gangguan dan penyakit jiwa termasuk segala tingkah laku manusia. Selain itu
psikiatri bertujuan untuk melakukan pencegahan, diagnosa dini dan pengobatan,
serta rehabilitasi dari penderita sehingga meningkatkan taraf kesehatan jiwa
manusia (Grebb et al., 2007)
Tujuan dari pemeriksaan psikiatri adalah untuk memperoleh informasi
yang dapat digunakan oleh pemeriksa untuk menegakkan diagnosis pemeriksaan .
Hal ini dapat dilakukan

dengan melakukan wawancara terhadap pasien

(autoanamnesis) maupun dengan orang lain yang dekat dengan pasien


(alloanamnesia) ataupun dengan observasi terhadap keadaan, perilaku maupun
3

tingkah lakunya di mana semuanya memberikan makna yang penting dalam hal
penegakan suatu diagnosis. Dengan ditegakkannya suatu diagnosis maka seorang
dokter dapat membuat suatu perkiraan mengenai prognosis suatu penyakit dan
tentu saja menentukan respon dokter tersebut terhadap jenis dan macam
pengobatan yang akan diberikan terhadap suatu pasien (Gleadle, 2007).
Pemeriksaan status mental adalah kumpulan data yang sistematis
berdasarkan pengamatan perilaku pasien selama wawancara. Tujuan dari
pemeriksaan status mental adalah mendapatkan bukti gejala-gejala saat ini dan
tanda-tanda gangguan mental yang mungkin diderita oleh pasien. Selain itu
didapatkan pula bukti mengenai wawasan pasien, nilai-nilai dan kemampuan
pemikiran abstrak untuk memberitahukan keputusan mengenai strategi terapi dan
pilihan tempat terapi yang sesuai (Gleadle, 2007).
Pemeriksaan psikiatri berbeda dengan pemeriksaan medis umum karena
pasien tidak sepenuhnya memiliki kemampuan untuk menyadari adanya gangguan
psikiatri. Pasien dapat datang dengan beberapa keluhan somatik. Dokter
meremehkan keberadaan gangguan mental, bahkan tidak yakin bahwa gangguan
psikiatri sebagai gangguan medis yang nyata dan hanya menfokuskan pada
keluhan fisik. Wawancara psikiatri yang baik merupakan salah satu modal dasar
yang harus dimiliki oleh psikiater. Wawancara merupakan alat untuk mendapatkan
data juga harus bersifat terapetik. Selama melakukan wawancara, kita harus
mengidentifikasi psikopatologi yang terdapat pada pasien, menginterpretasikan
psikopatologi itu ke dalam suatu gejala atau sindroma klinik yang esensial untuk
dapat menegakkan diagnosis melalui suatu proses yang efisien. Untuk itu,
menarik diulas kembali melalui berbagai referensi artikel terkhusus pada
wawancara psikiatri, anamnesis dan pemeriksaan status mental.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. MODEL HUBUNGAN DOKTER PASIEN
Hubungan dokter dan pasien mempunyai sejumlah model potensial.
Dokter harus menyadari mengenai model mana yang berlaku pada
seorang pasien dan mampu untuk mengubah model, tergantung pada
kebutuhan tertentu dari pasien tertentu dan kebutuhan pengobatan dari
situasi klinis tertentu (Morgan, 2003; Grebb et al., 2007)
1. Model aktif-pasif (active-pasive models/ paternalistic model)
Pola hubungan seperti ini merupakan pola klasik sejak profesi
kedokteran mulai mengenal kode etik pada abad ke 5 S.M. Di mana pasien
sepenuhnya pasif dan tanggung jawab diambil alih oleh dokter. Di sini
dokter seolah-olah dapat sepenuhnya melaksanakan ilmunya tanpa campur
tangan pasien. Model ini sesuai jika pasien tidak sadar, terimobilisasi, atau
delirium.
2. Model peran serta saling menguntungkan (mutual participation model/
collegial model)
Menyatakan persamaan antara dokter dan pasien, didasarkan
pada model saling menguntungkan. Kedua belah pihak berpartisipasi
sebagai usaha patungan dan terlibat dalam pertukaran ide dan berbagi
sistem kepercayaan. Peran serta aktif diperlukan pada pengobatan penyakit
kronis tertentu seperti gagal ginjal dan diabetes.
3. Model persahabatan (friendship model)
Adalah hubungan disfungsional/ tidak etis. Model ini sering
melibatkan hubungan yang terus menerus, sehingga

menimbulkan

pengaburan batas-batas antara profesionalisme dan keintiman.


4. Model konsumtif (consumerist model)
Hubungan konsumtif menggambarkan situasi di mana hubungan
kekuasaan dibalik, dengan pasien mengambil peran aktif dan dokter
mengadopsi peran yang cukup pasif, mengaksesi permintaan pasien untuk
pendapat kedua, rujukan ke rumah sakit, catatan sakit, dan sebagainya
(Morgan, 2003)

B. TEKNIK WAWANCARA
Wawancara psikiatri didasarkan atas pengertian psikopatologi dan
psikodinamik.

Dalam

wawancara

psikiatri,

apakah

pasien

bersedia

mengungkapkan keluhan atau tidak, dipengaruhi oleh hubungan antara dokter


dengan pasien. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses wawancara adalah
pasien, situasi klinik, faktor teknis, dan gaya/ orientasi/ pengalaman dokter
(Grebb et al., 2007).
Prinsip-prinsip umum wawancara psikiatri seperti pada hubungan
pasien-dokter yaitu dengan wawancara terbuka, dan kerahasiaan hasil
wawancara yang terjaga. Selain prinsip-prinsip umum, ada sejumlah teknik
tertentu yang dapat efektif dalam memperoleh informasi dalam cara yang
sesuai dengan prinsip-prinsip umum (Grebb et al., 2007)
1. Mendapatkan Rapport
Bina rapport adalah suatu kondisi dimana klien/ interviewee merasa
nyaman dan dapat berbicara secara jujur dan bebas namun tetap berkaitan
dengan topik yang akan dibicarakan. Rapport dapat dibangun dengan
senyum yang hangat, sambutan yang bersahabat, berjabat tangan, dan
mempersilahkan duduk kepada klien. Pada umumnya bina rapport yang
baik tidak akan tercipta secara 'langsung' melainkan secara perlahan-lahan.
Inti dari membina rapport adalah melakukan pendekatan antara
pewawancara dan klien serta membuat klien merasa nyaman sejak awal
memulai percakapan sampai selesainya wawancara.
Enam strategi untuk mengembangkan rapport : a. menempatkan
pasien dan pewawancara dalam ketenangan; b. menemukan keluhan dan
mengekspresikan rasa empati; c. menilai tilikan pasien dan menjadi
mitra; d. menunjukkan keahlian; e. menegakkan wibawa sebagai dokter dan
ahli terapi; f. menyeimbangkan peran sebagai pendengar yang simpatik,
seorang ahli, dan orang yang berwenang.
2. Memulai Wawancara
Dokter harus mengetahui nama pasiennya dan pasien mengetahui
nama dokternya. Pasien mempunyai hak untuk mengetahui posisinya dan
status profesional orang yang terlibat dalam perawatannya.

Setelah memperkenalkan diri dan melakukan pemeriksaan awal


lainnya, ucapan awal yang berguna dan tepat adalah, Dapatkah anda
menceritakan mengenai masalah yang anda hadapi
3. Wawancara
Wawancara yang ideal dimulai dengan pertanyaan terbuka yang
luas, dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih spesifik, dan ditutup
dengan pertanyaan langsung yang spesifik.
a. Fasilitasi Intervensi
Dokter membantu pasien melanjutkan

wawancara

dengan

memberikan isyarat verbal maupun nonverbal yang mendorong pasien


untuk terus berbicara.
1) Penguatan
Sebuah frase singkat seperti, "Aku melihatnya," "Lanjutkan,"
"Ya," "Ceritakan lebih lanjut," "Hmm," atau "Uh-huh," semua kata
tersebut mampu menyampaikan kepentingan pewawancara pada
kelanjutan cerita pasien. Frase ini cocok secara alami dalam dialog.
Contoh Kasus
Pasien: Selama 2 bulan terakhir ini saya sudah terbangun
sekitar jam 4 pagi dan saya tidak bisa kembali tidur. Saya merasa
cemas, seperti sesuatu yang buruk akan terjadi. Sering saya
merasa sedih sepanjang hari, itu terjadi sekitar jam 8 malam
ketika saya mulai berpikir untuk pergi ke tempat tidur dan saya

merasa sedikit lebih baik.


Dokter: Saya mengerti.
Pasien: Saya dulu tidur dengan baik. Hal ini tampaknya datang
entah dari mana. Saya dapat mengatakan pada anda bahwa hal
ini adalah perasaan yang menyedihkan.
Intervensi yang menguatkan, meskipun tampaknya sederhana,
sangat penting bagi pasien untuk berbagi cerita tentang diri mereka
sendiri, informasi penting tentang dirinya dan peristiwa dalam hidup
mereka.

2) Refleksi: dokter mengulangi sesuatu yang telah dikatakan pasien


(dengan cara suportif). Dengan menggunakan kata-kata pasien,
psikiater menunjukkan bahwa dia telah mendengar apa yang
7

dikatakan pasien dan menyampaikan pesan tersirat bahwa dia tertarik


untuk mendengar lebih banyak.
Misalnya: Tampaknya anda risau menjadi beban bagi keluarga
anda
Contoh kasus :
Pasien: Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya tidak suka pergi
untuk bekerja lagi. Orang-orang lain di tempat kerja benar-benar

mulai mengganggu saya.


Dokter: Benar-benar mulai mengganggu Anda.
Tanggapan ini bukanlah suatu pertanyaan. Hal ini juga tidak
boleh dikatakan dengan nada yang menantang atau rasa tidak
percaya melainkan sebagai suatu pernyataan fakta. Faktanya adalah
hal ini merupakan pengalaman pasien yang secara jelas di dengar
oleh psikiater. Kadang-kadang sangat membantu untuk mengutip
pernyataan pasien sehingga tidak terdengar seperti datang dari
sebuah robot. Namun, dalam kasus ini, pewawancara tidak jelas apa
yang dimaksud dengan "mengganggu saya" sehingga mengubah
kata-kata (selain kata ganti) dapat mengarahkan pasien ke arah yang
berbeda.

3) Keheningan : dapat memungkinkan pasien untuk merenung,


menangis, atau hanya duduk dalam lingkungan yang menerima dan
suportif.
Pasien mungkin perlu waktu untuk berpikir tentang apa yang
telah dikatakan atau memahami perasaan yang timbul dalam
wawancara. Psikiater yang memiliki sifat ingin buru-buru keluar dari
keheningan dapat menghambat pengembangan wawasan atau ungkapan
rasa dari pasien. Di sisi lain memperpanjang atau mengulang
keheningan dapat menghentikan wawancara. Jika pasien melihat
arlojinya atau melihat sekitar ruangan, maka pemeriksa dapat
berkomentar, "Sepertinya ada hal-hal lain di pikiran Anda." Jika pasien
telah menjadi diam dan tampak seperti berpikir tentang suatu subjek,

maka psikiater bisa bertanya, "Apa pikiran yang Anda miliki tentang
hal tersebut?"
4) Konfrontasi: adalah alat untuk menunjukkan kepada pasien bahwa
dokter tidak menganggap pasien tidak memberikan perhatian, atau
merupakan suatu cara untuk menyangkal. Misalnya, seorang pasien
yang baru saja menunjukkan usaha bunuh diri tetapi mengatakan
kepada dokter bahwa hal tersebut tidak serius dapat dihadapkan dengan
pernyataan, Apa yang anda lakukan mungkin tidak membunuh anda,
tetapi anda mengatakan kepada saya bahwa anda berada dalam
masalah yang serius dan anda membutuhkan pertolongan sehingga
anda tidak mencoba bunuh diri lagi.
5) Interpretasi: paling sering digunakan untuk menyatakan sesuatu
mengenai perilaku atau pikiran yang mungkin tidak disadari oleh
pasien. Contoh, Saat anda bercerita bagaimana marahnya anda
karena keluarga tidak mendukung, saya berpikir anda juga
mengatakan kepada saya betapa cemasnya anda kalau saya tidak
membantu anda juga. Bagaimana menurut anda?
6) Pengungkapan diri (self-revealation): mengungkapkan diri secara
terbatas dan berhati-hati oleh dokter mungkin berguna dalam situasi
tertentu. Contoh, Saya telah menikah, tetapi marilah kita berbicara
sedikit mengenai mengapa

penting bagi anda mengetahui

hal

tersebut. Jika kita berbicara mengenai hal ini, saya akan mempunyai
lebih banyak informasi mengenai siapa anda dan apa permasalahan
anda terhadap saya dan keterlibatan saya dalam perawatan anda
7) Penghargaan Emosi
Penting bagi seorang dokter untuk menghargai ekspresi emosi dari
pasien. Hal ini dapat menyebabkan pasien lebih mudah dalam
mengungkapkan perasaannyaa dan menjadi lega bahwa mereka bisa
melakukannya. Kadang-kadang suatu tindakan nonverbal, seperti
memindahkan kotak tisu menjadi lebih dekat sudah mencukupi, atau
digunakan suatu tambahan.
Contoh :
Pasien: Dia adalah teman yang baik

Dokter: Ketika Anda berbicara tentang dia Anda terlihat sangat


sedih.
Jika tampilan emosi sudah jelas (misalnya, pasien secara terbuka
menangis), maka tidaklah membantu untuk berkomentar langsung pada

ekspresi emosi.
Pasien: (menangis) saya benar-benar merindukannya.
Dokter: Saya melihat bahwa Anda menangis
Pasien: (berbicara kotor). Kau sangat jeli. Lebih baik untuk
mengomentari perasaan yang terkait.
Dokter: Anda merasa sedih tanpa dia.

12) Dorongan positif (positive reinforcement): memungkinkan pasien merasa


nyaman dalam menceritakan segalanya kepada dokter, bahkan mengenai
hal-hal tertentu seperti kepatuhan terhadap pengobatan.

Misalnya,

Saya menghargai anda bercerita mengenai masalah pengobatan?


Semakin banyak yang saya ketahui tentang apa yang terjadi
dengan anda, semakin baik saya akan mengobati anda dengan cara
yang anda rasakan nyaman.
Sulit bagi banyak pasien datang untuk pemeriksaan psikiatri.
Seringkali mereka tidak yakin apa yang akan terjadi, dan menerima
dorongan akan memfasilitasi keterlibatan mereka.
Pasien: Saya tidak dapat menggambarkan kegelisahan ini dengan

sangat baik. Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya.


Dokter: Saya pikir Anda telah menggambarkan kegelisahan anda
dengan. Saat Anda berbicara saya mendapatkan gambaran yang
lebih jelas tentang apa yang sudah terjadi pada Anda.
Psikiater berhati-hati untuk tidak melebih-lebihkan kemajuan
dalam wawancara. Pasien akan memberikan umpan balik positif tentang
upaya mereka, tapi pesan sekunder adalah bahwa meskipun "gambaran"
semakin "jelas" masih ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

13) Menenteramkan hati (reassurance): menentramkan hati pasien secara


jujur dapat menyebabkan meningkatnya kepercayaan dan kepatuhan
dan dapat dialami sebagai
contoh,

seorang

respon empatik

pasien dengan

penyakit

dari

dokter. Sebagai

terminal

bertanya

10

Apakah saya akan menjadi sehat, dokter? Dokter menjawab:


Saya akan melakukan segala sesuatu yang dapat saya lakukan untuk
membuat anda merasa senyaman mungkin, dan anda perlu mengetahui
sebanyak yang saya ketahui mengenai apa yang terjadi pada anda.
Kita berdua tahu bahwa anda menderita penyakit yang serius. Saya
ingin mengetahui dengan tepat mengenai apa yang anda pikirkan
terjadi pada diri anda dan untuk memperjelas tiap pertanyaan atau
kebingungan yang anda rasakan.
Seringkali intervensi penghiburan sesuai dan dapat membantu
untuk memberikan jaminan kepada pasien. Misalnya, informasi yang
akurat tentang perjalanan penyakit yang dapat menurunkan kecemasan,
mendorong pasien untuk terus mendiskusikan penyakit mereka, dan
memperkuat tekad mereka untuk terus dalam pengobatan.
Contoh ketika pasien bertanya,Saya tidak berpikir saya akan
pernah merasa lebih baik. Dokter menjawab, Saya mengerti
bagaimana rasanya harapan Anda untuk sekarang. Perasaan seperti
itu biasa terjadi dalam depresi, tetapi kebanyakan orang dengan jenis
depresi ini akan menjadi lebih baik dan saya pikir itu anda pun akan
begitu.
Umumnya tidak pantas bagi seorang dokter untuk meyakinkan
pasien ketika tidak tahu akan seperti apa hasilnya. Dalam kasus ini
psikiater dapat meyakinkan pasien bahwa ia akan terus ada dan akan
membantu dengan cara apa pun yang dia bisa.
14) Nasehat: agar efektif dan bersifat empatik, nasehat dokter kepada
pasien diberikan setelah pasien dibiarkan bicara bebas mengungkapkan
masalahnya sehingga dokter mempunyai dasar yang adekuat untuk
membuat saran-saran. Memberikan nasehat terlalu cepat dapat
menyebabkan

pasien

merasa

mendengarkan. Sebagai contoh:

dokter

tidak

sungguh-sungguh

Pasien menyatakan Saya

tidak

dapat menggunakan obat-obatan ini, hal ini membosankan saya.


Dan

dokter

menjawab;

Baik,

saya

pikir

anda

lebih

baik

menghentikannya, dan saya akan mulai memberikan anda obat yang


11

baru. (Nasehat yang terlalu cepat diberikan). Jawaban yang lebih tepat
adalah: Saya

menyesal mendengarnya. Ceritakan mengapa

pengobatan ini membosankan

anda, sehingga

saya mempunyai

gagasan yang lebih baik mengenai apa yang dapat kita lakukan
untuk membuat anda merasa lebih nyaman.
15) Kelucuan
Pada saat pasien dapat membuat komentar lucu atau
menceritakan sebuah lelucon singkat. Hal ini akan membantu jika
psikiater tersenyum, tertawa, atau bahkan bila perlu, tambahkan lelucon
lagi. Berbagi humor dapat menurunkan ketegangan dan kecemasan dan
memperkuat wawancara. Hal ini penting untuk memastikan bahwa
komentar pasien memang dimaksudkan untuk menjadi lucu dan
psikiater jelas menyampaikan bahwa dia tertawa dengan pasien, bukan
pada pasien.
16) Pendidikan
Pada saat-saat di dalam wawancara, akan sangat membantu bagi
psikiater untuk mendidik pasien tentang proses wawancara.
Pasien: (setelah cukup ragu-ragu) Ada beberapa masalah di
rumah, tapi saya tidak tahu apakah itu adalah hal yang seharusnya

saya bisa bicarakan.


Dokter: Hal ini akan membantu untuk membicarakan tentang apa
pun yang telah mengganggu Anda. Jika saya pikir kita sudah keluar
jalur, saya akan memberitahu anda. Ceritakan tentang masalah di
rumah. Jika hal ini bukanlah sesi pertama dan pasien secara umum
telah berbagi informasi, maka hal ini mungkin berguna untuk fokus

pada keraguannya.
Dokter: Sepertinya sulit bagi Anda untuk menceritakannya.
Mengapa Anda ragu untuk berbicara tentang masalah di rumah?
Hal ini bisa mengarah pada pembahasan hal yang rahasia, rasa
setia pada anggota keluarga, atau sikap yang tidak menghakimi dari
psikiater.

17) Komunikasi nonverbal

12

Dalam banyak wawancara yang baik, intervensi paling umum


adalah nonverbal. Menganggukkan kepala, posisi tubuh termasuk
condong ke arah pasien, posisi tubuh menjadi lebih terbuka, bergerak
lebih dekat ke kursi pasien, meletakkan pena, dan ekspresi wajah,
termasuk melengkungkan alis, semua menunjukkan bahwa psikiater
yang bersangkutan mendengarkan dengan penuh perhatian, dan terlibat
dalam wawancara.
Sementara intervensi tersebut bisa sangat membantu, mereka juga
bisa berlebihan terutama jika tindakan yang sama diulang terlalu sering
atau dilakukan dengan cara yang berlebihan.
18) Meringkas
Secara berkala di dalam wawancara, akan sangat membantu
untuk meringkas apa yang telah diidentifikasi tentang topik tertentu.
Hal

ini

dapat

memberikan

kesempatan

bagi

pasien

untuk

mengklarifikasi atau memodifikasi pemahaman psikiater dan mungkin


menambah materi baru.
Dokter: Jadi, seperti yang dapat saya mengerti, hal ini terjadi
sejak anda punya bos baru pada musim semi ini. Anda mulai
merasa lebih cemas, dan beberapa komentar dari rekan kerja Anda

benar-benar mengganggu Anda.


Pasien: Ya, dan sekarang saat saya berpikir tentang hal itu, pada
waktu itu istri saya mulai mengeluh saya tidak menyenangkan lagi
Materi baru telah diperkenalkan. Dokter dapat memutuskan
untuk melanjutkan dengan eksplorasi lebih lanjut dari pembahasan
sebelumnya dan kembali pada isu mengenai istri pasien pada
pembicaraan berikutnya. Saya ingin mendengar mengenai kejadian
antara Anda dan istri Anda, tetapi sebelum kita bicara tentang itu ada
hal lain yang dapat Anda katakan tentang apa yang Anda rasakan di
tempat kerja?

b. Memperluas Intervensi
Ada beberapa intervensi yang dapat digunakan untuk memperluas
fokus wawancara. Teknik ini sangat membantu ketika diskusi telah cukup

13

digali, setidaknya untuk sementara waktu, dan pewawancara ingin


mendorong pasien untuk berbicara tentang isu-isu lainnya. Intervensi yang
paling sukses ketika tingkat kepercayaan telah dibentuk dalam wawancara
dan pasien merasa bahwa psikiater tidak menghakimi tentang apa yang
sedang diceritakan.
1) Kejelasan (clarification) : berusaha untuk mendapatkan perincian dari
pasien mengenai apa yang baru saja dikatakan pasiennya. Misalnya,
Anda merasa tertekan. Kapankah anda merasa paling tertekan?
Perlu berhati-hati dalam menjelaskan apa yang pasien ceritakan
karena dapat mengakibatkan masalah yang belum diakui atau sebuah
psikopatologi.
Misalnya, seorang janda 62 tahun menjelaskan bagaimana
perasaannya sejak suaminya meninggal 14 bulan lalu. Dia berulang
kali berkomentar bahwa "segala sesuatu adalah hampa." Penduduk
menginterpretasikan ini berarti dunianya terasa kosong tanpa suaminya
dan membuat penafsiran ini pada beberapa kesempatan. Isyarat
nonverbal pasien menunjukkan bahwa dia tidak pada gelombang yang
sama. Supervisor meminta pasien untuk menjelaskan apa yang ia
maksudkan

dengan

kehampaan.

Setelah

menghindari,

pasien

menyatakan bahwa ia memang di dalam kehampaan. Semua organ


tubuhnya telah hilang, "mereka menghilang".
Identifikasi yang benar tentang apa yang pasien ceritakan dapat
membuat suatu pikiran lain dan delusi lainnya terungkap.
2) Asosiasi
Ketika pasien menggambarkan gejala nya, ada daerah lain yang
terkait dengan gejala yang harus dieksplorasi. Misalnya, gejala mual
mengarah ke pertanyaan tentang nafsu makan, kebiasaan buang air
besar, penurunan berat badan, dan kebiasaan makan. Pengalaman yang
berkaitan juga dapat diselidiki. Ketika seorang pasien berbicara
tentang pola tidur mereka, hal itu bisa menjadi kesempatan yang baik
untuk bertanya tentang mimpi.

14

3) Memimpin
Seringkali, dalam melanjutkan cerita dapat difasilitasi dengan bertanya
apa, kapan, di mana, atau siapa. ("Mengapa" adalah

pertanyaan yang umumnya tidak membantu di awal wawancara.)


Pasien: Dan aku berkata, "Sudah cukup." (menunda)
Dokter: Apa yang terjadi kemudian?
Kadang-kadang psikiater dapat menyarankan atau bertanya
tentang

sesuatu

yang

belum

diceritakan

oleh

pasien,

yang

kemungkinan relevan dengan penyakit pasien.


Pasien: ... terasa seperti suami saya selalu memberitahu saya apa

yang harus dilakukan, mengkritik cara mengemudi saya.


Dokter: Anda telah menyebutkan sebelumnya. Apakah pernah ada

hubungan lain di mana Anda juga mengalami hal yang sama?


Pasien: Yah ... (jeda) sebenarnya ayah saya melakukan hal itu
untuk ibu saya sepanjang waktu. Aku benar-benar benci itu

4) Menyelidiki
Wawancara dapat mengarah ke arah konflik, namun pasien dapat
meminimalkan atau menolak hal tersebut. Dalam hal ini, mendorong
pasien secara lembut untuk berbicara lebih lanjut tentang masalahnya
mungkin cukup produktif.
Dokter: Ceritakan lebih banyak tentang hal-hal di rumah.
Pasien: Tidak terlalu banyak yang bisa di beritahu, semuanya

keren.
Dokter: Anda menyebutkan bahwa akhir pekan anda sulit.
Pasien: Saya tidak menganggap terlalu sulit.
Dokter: OK. Bagaimana mereka berbeda dari sebelumnya?
Pasien: Saya tidak tahu apa yang Anda maksud. (jeda) Yah, saya
kira itu sedikit berbeda. Sekarang istri saya melakukan

pekerjaannya dan saya lakukan milik saya.


5) Transisi: memungkinkan dokter menyampaikan gagasan bahwa telah
cukup didapatkan informasi mengenai satu subjek; hal ini mendorong
pasien untuk melanjutkan kepada subjek lain.
Contoh dokter berkata, Hal itu memberi saya ide yang baik tentang
kegugupan Anda, mungkin sekarang Anda dapat memberitahu saya
tentang kesehatan Anda secara umum.

15

6) Mengarahkan
Sebuah teknik yang sulit bagi pewawancara adalah mengalihkan
fokus pasien. Apalagi jika pewawancara berkonsentrasi pada penguatan
pasien untuk menceritakan kisahnya, hal ini bisa sulit untuk
memindahkan wawancara ke arah yang berbeda. Mengarahkan dapat
digunakan ketika pasien mengubah topik atau ketika pasien terusmenerus fokus pada area produktif atau yang tertutup dengan baik.
7) Pertanyaan tertutup-akhir
Serangkaian pertanyaan-tertutup di awal wawancara dapat
menghambat aliran alami dari cerita pasien dan memperkuat pasien
untuk hanya memberikan satu kata atau jawaban singkat.
Dokter: Apakah Anda memiliki masa kecil yang bahagia?
Pasien: (Jeda) Ya, saya kira begitu.
Dokter : Apakah Anda memiliki teman?
Pasien: (Intuitif mencoba untuk mendapatkan wawancara menunjuk
ke arah yang lebih produktif) Yah saya kira itu tergantung pada

apa yang Anda maksud dengan seorang teman.


Dokter: (Tidak bergabung dengan upaya pasien untuk memperkaya
diskusi) Anak-anak berinteraksi dengan anda? Seberapa banyak?
Contoh ini menggambarkan bahwa pasien dapat menjadi mitra
dalam wawancara, kecuali diblokir oleh pewawancara. Banyak pasien,
beberapa di antaranya memiliki pengalaman sebelumnya dalam terapi,
sudah bersiap-siap untuk berbicara tentang hal-hal yang menyakitkan.
Selama waktu berjalan, dokter, terutama jika mereka memiliki
kepentingan

supervisi,

belajar

dari

pasien

dan

memperbaiki

keterampilan wawancara mereka.


8) Penyajian terakhir : secara berkala selama wawancara, dokter
mengambil waktu dan secara singkat meringkaskan apa yang telah
dikatakan pasien sejauh ini.
4. Mengakhiri wawancara :
Dalam mengakhiri wawancara, dokter harus :

16

a. Memberikan kesempatan kepada

pasien

untuk

bertanya

dan

membiarkan pasien mengetahui sebanyak mungkin mengenai rencana masa


depan
b. Mengucapkan

terima

kasih

atas

informasi

yang

diperlukan

dan

memberitahu bahwa informasi yang disampaikan sangat membantu dalam


memperjelas langkah selanjutnya.
c. Menjelaskan tiap peresepan obat secara singkat dan jelas
d. Membuat perjanjian lain atau memberikan rujukan dan beberapa
petunjuk bagaimana pasien dapat mencari pertolongan secepatnya jika
diperlukan sebelum waktu perjanjian selanjutnya (Grebb et al., 2007).
C. RIWAYAT PSIKIATRI
Riwayat psikiatri adalah suatu catatan mengenai kehidupan pasien.
Catatan ini memungkinkan seorang psikiater untuk memahami siapa diri
pasien, dari mana ia berasal, dan ke arah mana kecenderungan pasien di masa
yang akan datang. Riwayat adalah suatu cerita kehidupan dari pasien yang
diceritakannya kepada psikiater dengan menggunakan bahasa dari pasien
sendiri serta berdasarkan sudut pandang dari pasien itu sendiri. Seringkali
riwayat ini juga mengandung informasi yang tidak hanya diperoleh dari pasien
sendiri tetapi juga berasal dari sumber-sumber yang lain, seperti orang tua,
pasangan hidup dari pasien, ataupun dari teman-teman pasien. Memperoleh
suatu cerita yang lengkap yang berasal dari pasien dan bila perlu berasal dari
sumber-sumber yang informatif dan dapat dipercaya adalah amat sangat
penting untuk membuat diagnosis yang tepat dan menyusun rencana
pengobatan yang efektif dan spesifik. Seperti telah disebutkan diatas bahwa
riwayat psikiatrik dengan riwayat yang didapat pada kedokteran umum sedikit
berbeda karena yang digali pada riwayat kedokteran psikiatri adalah suatu
keadaan yang menceritakan kebiasaan hidup, perilaku sehari-hari dari pasien
sampai pada keadaan saat dia sakit. Sedangkan riwayat pada kedokteran
umum menceritakan mengenai keadaan fisik seorang pasien serta perubahanperubahan yang terjadi secara fisik pada tubuh pasien yang berhubungan

17

dengan penyakit yang dideritanya. Riwayat psikiatrik memberikan gambaran


mengenai riwayat karakteristik kepribadian pasien secara individual termasuk
di dalamnya adalah kekurangan-kekurangan dan kelebihan-kelebihan dari
pasien tersebut (Grebb et al., 2007).
Berikut adalah keterangan mengenai garis besar dari riwayat
psikiatrik :
1. Data Identitas
Data identitas memberikan ringkasan demografi yang ringkas
mengenai nama pasien, usia, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
status pendidikan, alamat, nomor telepon, pekerjaan, latar belakang etnik
dan agama, serta situasi kehidupan terkini. Informasi ini juag mencakup
tempat atau situasi seperti apa saat wawancara berlangsung, sumber
informasi, tingkat kepercayaan sumber informasi, dan apakah gangguan
yang dialami saat ini merupakan episode pertama bagi pasien. Sang
psikiater harus tahu apakah pasien datang atas kemauan sendiri, dirujuk
oleh orang lain atau diantar oleh orang lain. Data identitas ini dapat
memberikan suatu gambaran sekilas mengenai karakteristik dari pasien
yang mempunyai kemungkinan mempengaruhi

diagnosis, prognosis,

perawatan dan kepatuhan.


2. Keluhan Utama
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan oleh pasien
yang menyebabkan ia datang atau dibawa untuk mendapatkan pertolongan.
Keluhan ini biasanya dikatakan dengan kata-kata pasien sendiri, ataupun
jika pasien tidak mampu untuk berbicara dengan baik maka gambaran
tentang orang yang memberikan informasi juga harus dimasukkan. Keluhan
utama (dengan kata-kata pasien sendiri) menyatakan mengapa ia telah
datang atau dibawa untuk mendapatkan bantuan. Contoh : Saya merasa
sangat tertekan dan berpikir tentang membunuh diri saya sendiri. Saya
tidak sakit, dialah yang gila. Pasien membisu.

18

3. Riwayat Penyakit Sekarang


Didalamnya diceritakan secara lengkap mengenai kronologi
peristiwa yang menjadi penyebab ataupun memicu keadaan pasien menjadi
seperti pada saat ini. Bagian ini mungkin merupakan bagian dari riwayat
psikiatri yang paling penting dan menentukan dalam membuat suatu
diagnosis: Kapan awitan episode sekarang, dan apa kejadian pencetus atau
pemicu terdekat yang menimbulkannya? Pemahaman terhadap riwayat
penyakit sekarang membantu menjawab pertanyaan, Mengapa sekarang?
Mengapa pasien datang ke dokter saat ini? Seperti apa situasi dalam
kehidupan pasien saat terjadi awitan gejala atau perubahan perilaku, dan
bagaimana

situasi

tersebut

memengaruhi

pasien

sehingga

timbul

manifestasi gangguan yang terjadi saat ini? Mengetahui kepribadian yang


sebelumnya sehat juga membantu memberikan perspektif mengenai pasien
yang kini sakit.
Evolusi gejala pasien harus ditentukan dan dirangkum dalam
susunan yang teratur dan sistematik. Gejala yang tidak muncul juga haru
disebutkan. Semakin mendetail riwayat penyakit sekarang, semakin besar
kemungkinan dokter untuk menegakkan diagnosis yang akurat. Pemicu apa
di masa lalu yang menjadi bagian rantai peristiwa yang mengarah ke
kejadian yang baru terjaadi? Bagaiman penyakit pasien memengaruhi
aktivitas kehidupannya (misalnya pekerjaan, hubungan yang penting)?
Bagaimana sifat disfungsi (misalnya detail mengenai perubahan factor
seperti kepribadian, memori, dan cara berbicara)? Adakah gejala
psikofisiologis? Bila ada harus dijelaskan lokasi, intensitas, dan
fluktuasinya. Adanya hubungan antara gejala fisik dengan psikologis harud
dicatat. Deskripsi mengenai ansietas pasien saat ini, baik menyeluruh
maupun nonspesifik (mengambag bebas) atau secara spesifik berkaitan
dengan situasi tertentu, akan sangat membantu. Bagaimana pasien
mengatasi ansietas ini? Sering kali pertanyaan yang relative terbuka seperti
Bagaimana hal ini terjadi? akan cukup menyingkapriwayat penyakit

19

sekarang. Pasien yang cukup teratur biasanya mampu menceritakan riwayat


secara kronologis, namun pasien yang kacau sulit untuk diwawancara,
karena kronologi peristiwa membingungkan. Dalam hal ini, menghubungi
sumber informasi lain, seperti keluarga dan teman, dapat berguna untuk
memperjelas cerita pasien.

4. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit dahulu adalah suatu transisi dari riwayat penyakit
sekarang dan riwayat pribadi pasien. Di sini diceritakan keadaan / episode
sakit baik dalam hal psikiatri maupun kesehatan umum. Gejala-gejala pada
pasien baik adanya suatu inkapasitas, jenis pengobatan yang telah diterima,
tempat perawatan / berobat pasien sebelumnya dan derajat kepatuhan
pasien terhadap pengobatan sebelumnya harus dicatat dan digali secara
kronologis. Perhatian khusus pada bagian ini harus diberikan pada episode
yang menandakan onset dari suatu penyakit, karena episode tersebut sering
memberikan suatu data yang penting mengenai peristiwa-peristiwa
pencetus, kemungkinan-kemungkinan diagnosis dan kemampuan untuk
mengatasi penyakit tersebut. Mengingat pada riwayat medis, seorang
psikiatri seharusnya mendapatkan tinjauan medis mengenai gejala dan
mencatat tiap penyakit medis atau bedah dan trauma berat, khususnya yang
memerlukan perawatan di rumah sakit yang dialami oleh pasien.
5. Riwayat Pribadi
Dalam rangka untuk mempelajari penyakit pasien sekarang dan
situasi kehidupan saat ini, seorang psikiater membutuhkan pemahaman
yang menyeluruh mengenai masa lalu dari pasien dan hubungannya dengan
masalah mental sekarang. Disini dicatat setiap perubahan emosi dari setiap
periode kehidupan. Riwayat pribadi terdiri dari saat :
a. Riwayat Prenatal dan Perinatal

20

Seorang psikiatri harus memperhitungkan keadaan dan situasi


rumah di mana pasien dilahirkan dan apakah pasien adalah anak yang
direncanakan dan diinginkan untuk dilahirkan. Keadaan persalinan juga
harus ditanyakan apakah cukup bulan atau tidak, macam persalinan
(spontan atau cesarian), obat yang diminum selama kehamilan, ada/
tidaknya komplikasi saat lahir dan defek saat bayi lahir. Hal- hal di atas
adalah pertanyaan yang harus ditanyakan oleh psikiatri untuk
mengetahui riwayat pribadi pasien pada saat kelahiran.
b.

Masa Anak-Anak Awal (sejak lahir sampai usia 3 tahun)


Periode ini merupakan masa anak-anak awal yang terdiri dari 3
tahun pertama kehidupan pasien. Pada masa ini hal-hal yang perlu
diamati adalah mengenai hubungan antara ibu dan anak (interaksi
melalui pemberian makanan dan pengajaran ke toilet), ada/ tidaknya
gangguan dalam hal tidur dan makan, bagaimana sifat anak tersebut
(pemalu, overaktif, menarik diri, senang belajar , takut-takut, senang
bepergian,

ramah/

tidak),

perilaku

yang

aneh

ada/

tidak

(membenturkan kepala ke tembok), ada/ tidaknya pengasuh yang lain


selain ibu kandung, dan perkembangan awal baik dalam hal berjalan,
berbicara, berbahasa, perkembangan fisik, perkembangan motorik,
pola tidur, dan sebagainya.
c. Masa Anak-Anak Pertengahan (usia 3 tahun - 11 tahun)
Pada masa ini psikiater dapat memusatkan perhatian pada hal-hal
penting antara lain bagaimana cara pemberian hukuman pada pasien di
rumah, bagaimana proses identifikasi jenis kelamin, ada tidaknya
riwayat sakit dan trauma serta pengalaman tentang sekolah awal dari
pasien, khususnya bagaimana pasien pertama kali berpisah dengan
ibunya. Hal penting lainnya yang tidak boleh dilupakan adalah
bagaimana cara dia bergaul dan membawakan peran dalam
pergaulannya, apakah dia sebagai seorang pemimpin, pemalu, lebih
gemar bermain sendirian, serta popularitasnya di kalangan temanteman sepermainannya. Perilaku anak tersebut juga harus diperhatikan

21

apakah suka menyiksa hewan, mimpi malam yang buruk, fobia,


ngompol, tindakan yang menimbulkan bahaya kebakaran, dan riwayat
masturbasi yang harus digali.
d. Masa Anak-Anak Akhir (pubertas sampai masa remaja)
Selama masa ini, anak-anak cenderung untuk mengembangkan
kemandirian dari orang tua mereka (pemisahan diri) yang ditunjukkan
dalam hubungan dengan teman sebaya, dan di dalam aktivitas
kelompok bermain. Pada fase ini anak-anak biasanya mempunyai
sosok figur yang diidolainya dan hal ini perlu untuk diketahui oleh
dokter. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada masa ini adalah onset dari
pubertas, prestasi akademik, bagaimana aktivitas diluar sekolah (olah
raga dan klub), jenis kegiatan yang diminatinya, keterlibatan hal-hal
seksual, ketertarikannya pada lawan jenis dan pengalaman seksual
(masturbasi, berhubungan seks dan mimpi basah), pengalaman bekerja,
riwayat penggunaan alkohol dan penggunaan zat psikoaktif serta ada /
tidaknya gejala-gejala pada saat puber (mood, ketidakteraturan dalam
makan dan tidur, bagaimana dia bertengkar dan berargumentasi).
e. Masa Dewasa
1) Riwayat pekerjaan
Pada bagian ini seorang psikiatri mendeskripsikan pilihan
pekerjaan pasien, keperluan pelatihan dan persiapannya, konflik
yang berhubungan dengan kerja, dan ambisi serta tujuan jangka
panjang. Psikiatri juga harus menggali perasaan pasien terhadap
pekerjaan yang dilakukannya sekarang apakah ia merasa senang,
terpaksa, jenuh ataupun tidak puas atas pilihan pekrjaannya
tersebut.

Disamping

itu

perlu

juga

ditanyakan

riwayat

pekerjaannya , lama ia bekerja, apakah pernah pindah kerja, bila ya


tanyakan juga alasannya, frekuensinya serta hubungannya dengan
teman sekerjanya.
2) Riwayat perkawinan dan persahabatan.

22

Di dalam bagian ini dokter menggambarkan setiap status


pernikahan, sah/ sesuai dengan hukum adat yang berlaku.
Hubungan yang bermakna yang terjalin antara dokter dengan
pasiennya juga haruslah ditanyakan. Riwayat perkawinan atau
hubungan

jangka

panjang

yang

dideskripsikan

haruslah

memberikan gambaran tentang perkembangan hubungan, dimulai


saat pasien baru menikah sampai keadaan pasien saat ini.
3) Riwayat agama
Seorang psikiater juga perlu untuk menggali lebih dalam
mengenai latar belakang agama kedua orang tua pasien, pasien
sendiri serta bagaimana pelaksanaannya di dalam keluarga. Sikap
pasien dan keluarganya tersebut apakah longgar, ketat, dan apakah
terdapat konflik keagamaan antara orang tua pasien dan pasien
sendiri dan bagaimana mereka mengatasinya.
4) Riwayat Militer
Psikiater harus menanyakan penyesuaian umum pasien
terhadap militer tersebut, apakah pasien pernah menyaksikan
pertempuran atau menderita cidera, dan alasan pemberhentiannya.
Apakah pasien pernah dirujuk untuk konsultasi psikiatri dan
apakah ia pernh menjalani hukuman disipliner selama mas
tugasnya?
5) Riwayat Pendidikan
Psikiater perlu memiliki gambaran yang jelas mengenai
latar belakang pendidikan pasien. Informasi ini dapat memberikan
petunjuk latar belakang sosial dan budaya pasien, intelegensia,
motivasi, dan adanya halangan dalam pencapaian. Contohnya
seorang pasien dari latar belakang ekonomi lemah yang tidak
pernah memiliki kesempatan untuk belajar di sekolah terbaik dan
orag tuanya tidak lulus SMA menunjukkan kekuatan karakter,

23

intelegensia, dan motivasi yang kuat dengan lulus dari universitas.


Seorang pasien yang drop-uot dari SMA karena terlibat kekerasan
dan penggunaan zat menunjukkan kreativitas dan keteguhannya
dengan mengikuti sekolah malam untuk memperoleh ijazah SMA
sambil kerja di siang hari sebagai penyuluh obat-obatan terlarang.
Apakah pendidikan terakhir pasien? Berapa nilai tertingginya dan
berapa nilai kelulusannya? Mata pelajaran apa yang disukai pasien
dan

bagaimanatingkat

kinerja

akademiknya?

Apa

tingkat

pendidikan terakhir anggota keluarga pasien yang lain dan


bagaimana pencapaian mereka dibanding kemajuan yang dicapai
oleh pasien? Bagaimana sikap pasien terhadap pencapaian
akademik?
6) Situasi Kehidupan Terkini
Psikiater harus meminta pasien untuk mendeskripsikan
tempat tinggalnya yaitu mencakup lingkungan dan penghuninya. Ia
harus menyebutkan jumah kamar, jumlah anggota keluarga yang
tinggal di rumah tersebut, dan penaturan tisur. Psikiater harus
menanyakan isu-isu pribadi ditangani, dengan penekanan khusus
pada pengaturan ketelanjangan orang tua dan saudara kandung dan
pegaturan kamar mandi. Ia harus pula menanyakan sumber
pendapatan keluarga dan adanya masalah finansial di keluarga.
Bila dapat diterapkan, psikiater dapat menanyakan mengenai
bantuan masyarakat dan perasaan pasien tentang hal itu. Bila
pasien dirawat inap, sudahkan dibuat ijin penyesuaian sehingga ia
tidak kehilangan pekerjaan atau apartemennya? Pasien harus
menanyakan siapa yang merawat anak di rumah, siapa yang
mengunjungi pasien d rumah sakit, dan seberapa sering.
7) Riwayat Pelanggaran Hukum

24

Apakah pasien pernah ditahan pihak berwajib dan bila ya,


atas tuduhan apa? Berapa kali pasien pernh ditahan? Apakah pasien
pernah dipenjara? Berapa lama? Apakah pasien dalam masa
percobaan atau penundaan hukuman? Apakah pasien diperintahkan
menjalani perawatan ini sebagai salah satu syarat masa percobaan?
Apakah pasien memiliki riwayat penyerangan atau kekerasan?
Terhadap siapa? Menggunakan apa? Bagaimana sikap pasien
terhadap penahanan atau hukuman dipenjara? Riwayat masalah
hukum yang luas, juga sikap pasien terhadap hal tersebut dapat
mengindikasikan adanya gangguan kepribadian antisosial. Riwayat
kekerasan dalam skala besar dapat menjadi peringatan bagi
psikiater adanya potensi kekerasan di kemudian hari.
8) Aktivitas sosial
Dokter psikiatrik haruslah menggambarkan kehidupan sosial
pasien dan sifat persahabatan, dengan penekanan pada kualitas
kedalaman hubungan manusia. Jenis hubungan yang dimiliki
pasien bersama teman-temannya, apa kegiatan mereka selama ini
dan apakah terdapat saling perhatian diantara mereka.
6. Riwayat psikoseksual
Seorang dokter psikiatri perlu untuk menanyakan riwayat seksual
dari pasien. Hal ini diperlukan untuk mengetahui apakah adanya kelainan
dari perkembangan seksual pasien sampai pada saat ini. Banyak riwayat
seksual infantil yang tidak diungkapkan pemeriksaan psikiatri yang
disebabkan oleh tidak diperhatikannya riwayat tersebut, karena kesulitan
mendapatkan informasi. Juga perlu ditanyakan riwayat seksual contohnya
pertama kali melakukan onani / masturbasi, apakah memperoleh kepuasan
atau tidak, frekuensinya, kualitas hubungan seksnya dan apakah ia puas
dengan itu atau terdapat penyimpangan dari perilaku seksualnya. Semua
hal tersebut perlu digali secara mendalam sebab seringkali memberikan arti
25

yang penting dalam hal pengumpulan data psikiatri dan penyimpulan


diagnosis dari suatu pasien.
7. Riwayat Keluarga
Sebuah laporan yang singkat dan jelas mengenai tiap penyakit
psikiatrik, perawatan keluarga di rumah sakit serta pengobatan anggota
keluarga dekat pasien harus dimasukkan ke dalam bagian dari laporan ini
juga. Perlu ditanyakan juga ada atau tidaknya riwayat penggunaan alkohol
atau zat-zat yang lain ataupun perilaku antisosial yang terdapat dalam
keluarga. Di samping itu riwayat keluarga juga harus memberikan
gambaran mengenai riwayat psikiatrik, kesehatan umum dan penyakit
genetik pada ayah, ibu, dan kerabat yang lainnya. Perlu juga ditanyakan
mengenai sikap keluarga terhadap keadaan sakit pasien, apakah mereka
mendukung terhadap pengobatan pasien atau tidak. Kalau perlu ditanyakan
keadaan finansial keluarga, siapa yang bekerja dan apakah cukup untuk
keluarga.

8. Mimpi, Khayalan dan Nilai Hidup


Mimpi yang berulang mempunyai nilai tertentu. Apa fantasi pasien
tentang masa depan? Sistem nilai sosial dan moral pasien, termasuk tentang
nilai pekerjaan, uang, bermain, anak-anak, orang tua, teman-teman, seks,
permasalahan masyarakat, dan masalah budaya.
Semua penjelasan singkat tersebut diatas adalah hal-hal mengenai riwayat
psikiatri pasien yang perlu ditanyakan secara lengkap, detail sehingga dapat
memberikan gambaran yang jelas mengenai pasien dan keadaan kehidupannya
serta saat sakitnya. Hal ini akan membantu kita sebagai seorang psikiater untuk
memahami seorang pasien sebagai seorang manusia secara utuh baik jasmani
maupun fisik.

26

Hal lain yang dapat membantu mengenai pemahaman kita akan keadaan
sakit pasien adalah dengan melakukan pemeriksaan mental yang kemudian dicatat
dalam status pemeriksaan mental. Status pemeriksaan mental adalah bagian dari
pemeriksaan klinis yang menggambarkan jumlah total observasi pemeriksa dan
kesan atau impresi tentang pasien psikiatri saat wawancara. Pada status mental ini
kita melakukan pemeriksaan terhadap koordinat psikiatri / fungsi mental / fungsi
kepribadian yaitu kesadaran, alam pikiran, alam perasaan dan perilaku pasien.
Untuk melakukannya dan mendapatkan hasil yang optimal diperlukan observasi
secara cermat dan menyeluruh mengenai pasien juga tidak dilupakan adalah
teknik wawancara yang digunakan untuk menemukan kelainan-kelainan dalam
fungsi mental pasien. (Maramis, 2005).
D. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
1. Deskripsi Umum
Gambaran tentang penampilan pasien dan kesan fisik secara
keseluruhan yang dicerminkan oleh sikap, postur perawakan, pakaian,
perawatan diri dan dandanan. Hal lain yang perlu dinilai adalah apakah
tampak sesuai usia, tampak sehat atau sakit, tenang, bingung, tidak ramah,
kekanak-kanakan, sikap saat berbicara, kesadarannya baik secara
neurologis (compos mentis sampai koma), psikologis (menciut atau
berubah), ataupun kesadaran secara sosial (baik atau tidak), dan tingkah
laku saat wawancara (terdapatnya tik, stereotipi, mannerisme, agitasi,
melawan, hiper/ hipoaktivitas, stupor, dsb.). Semua hal diatas haruslah
diperhatikan saat wawancara dengan melakukan observasi terhadap pasien
secara teliti (Grebb et al., 2007).
a. Penampilan
Merupakan pemeriksaan suatu gambaran tentang penampilan pasien
dan kesan fisik secara keseluruhan, seperti yang dicerminkan dari
postur, pakaian, dan dandanan. Pemeriksa dapat menilai segala hal
mulai dari tubuh, postur, ketenangan, pakaian, dandanan, rambut,
kuku, dan sebagainya. Istilah umum yang digunakan untuk
27

mengggambarkan penampilan antara lain tampak sehat, sakit, agak


sakit, seimbang, kelihatan tua, kelihatan muda, kusut, seperti anakanak, dan kacau. Tanda kecemasan yang mungkin tampak juga harus
dicatat, misalnya

tangan yang lembab, keringat pada dahi, postur

tegang, atau mata melebar (Grebb et al., 2007; Lyn et al., 2004).
Catat pula jenis kelamin pasien, usia, ras, dan latar belakang etnis.
Perhatikan juga postur, aktivitas pasien, pakaian pasien apakah sesuai
usia atau tidak.Mencatat waktu dan tanggal wawancara juga penting,
terutama karena status mental dapat berubah seiring waktu, misalnya
pada delirium. Lihat bagaimana pasien pertama kali muncul saat
memasuki tempat periksa. Perhatikan apakah sikap ini telah berubah di
lain waktu, misalnya menjadi lebih santai. Jika kegelisahan jelas
sebelumnya, perhatikan apakah pasien masih tampak gugup. Rekam
apakah pasien telah mempertahankan kontak mata sepanjang
wawancara atau menghindari kontak mata sebanyak mungkin,
memindai ruangan atau menatap lantai atau langit-langit.
Penampilan biasanya tidak termasuk pemeriksaan secara tradisional,
tetapi sangat penting untuk menilai adanya kemungkinan konflik,
kepribadian, relasi objek, fungsi ego, dan aspek lainnya yang secara
psikodinamik

menjadi

tambahan

untuk

menyampaikan

kesan

keseluruhan dari pasien secara pribadi. Pada penampilan, perhatian


terutama ditujukan kepada adanya keistimewaan atau keanehan hingga
sekecil-kecilnya sehingga orang ketiga akan mudah mengenali apa
yang dilukiskan secara rinci (Ibrahim, 2006).
Contoh penampilan pada beberapa kepribadian:
1) Obsesif kompulsif, pakaian menarik, cerewet, teliti, dan sangat
kritis
2) Histeri, pakaian yang menyala, bersolek, perilaku menarik perhatian
bahkan bisa menimbulkan rangsangan seksual
3) Paranoia, memakai kacamata hitam untuk menyembunyikan diri
dari pemeriksa dan mengamati pemeriksa dari balik kacamatanya
4) Skizofrenia, pakaian tidak rapi, kotor, dengan bercak-bercak bekas
makanan atau lainnya, bau badan tak enak karena tidak mandi.
5) Depresi, kemunduran dalam tingkat kebersihan dan kerapian.

28

6) Mania, pakaian, perhiasan dengan warna yang mencolok, kombinasi


yang ganjil dan bersikap masa bodoh terhadap pakaian dan make up
yang digunakan.
7) Homoseksual, pakaian yang ekshibisionistik.
8) Ego yang kuat, pakaian serasi dengan warna yang sesuai dan
menarik.
9) Ego yang lemah, pakaian yang mencolok, semarak, tetapi tidak
sopan (Ibrahim, 2006).
b. Perawatan
Perawatan diri dapat dilihat dan dikategorikan ke dalam baik, sedang,
cukup, atau buruk. Disini juga perlu diamati apakah pasien dapat
merawat dirinya sendiri ataukah perlu bantuan orang lain (Lyn et al.,
2004).
c. Pembicaraan
Bicara adalah gagasan, pikiran, perasaan yang diekspresikan melalui
bahasa, atau dengan kata lain merupakan komunikasi melalui
penggunaan kata-kata dan bahasa. Pemeriksa harus mengamat
karakteristik saat pasien berbicara. Yang dinilai dalam hal bicara ini
adalah kuantitas dan kualitasnya. Yang dimaksud kuantitas adalah
jumlah pembicaraan, apakah pasien banyak atau sedikit bicara saat
pemeriksaan. Sedangkan secara kualitas dapat dilihat dari

isi

bicaranya, apakah memberikan informasi yang banyak atau sedikit.


Dari segi kecepatan, perhatikan apakah pasien berbicara dengan cepat
atau lambat. Disamping itu juga perlu diperhatikan adanya gangguan
dalam berbicara misalnya : disartria, dypsoprody, gagap, gangguan
pada afasia ,dsb (Grebb et al., 2007; Lyn et al., 2004).
Catat informasi tentang semua aspek pembicaraan pasien, termasuk
volume berbicara selama pemeriksaan. Memperhatikan tanggapan
pasien untuk menentukan bagaimana menilai pembicaraan mereka
adalah penting. Beberapa hal yang perlu diingat selama wawancara
adalah apakah pasien mengangkat suara mereka ketika merespons,

29

apakah balasan pertanyaan adalah jawaban satu kata atau elaboratif,


dan seberapa cepat atau lambat mereka berbicara. Merekam kecepatan
spontan pasien ini kaitannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan
terbuka (Brannon, 2013).
Pasien dapat digambarkan sebagai senang berbicara, suka mengomel,
fasih, pendiam, tidak spontan, atau berespon normal terhadap petunjuk
dari pewancara. Dalam bicara, pasien mungkin cepat atau lambat,
tertekan, ragu-ragu, emosional, dramatik, monoton, keras, berbisik,
bersambungan, terputus-putus, atau mengomel (Grebb et al., 2007).
d. Psikomotor
Psikomotor merupakan kombinasi antara aktivitas fisik dan emosional.
Psikomotor merupakan gerakan yang ditentukan oleh proses psikis
yang berbeda dengan yang disebabkan oleh penyebab ekstrapsikis atau
organic. Aspek psikis yang meliputi rangsangan, motivasi, keinginan,
dorongan, naluri, dan hasrat yang dinyatakan dalam perilaku atau
aktivitas motoric seseorang (Ibrahim, 2006)
Pemeriksaan ini difokuskan pada aspek kuantitatif maupun kualitatif
dari perilaku pasien. Yang termasuk di dalamnya adalah manerisme,
tiks, gerakan isyarat, kedutan, perilaku stereotipik, echopraxia,
hiperaktivitas, agitasi, melawan, fleksibilitas, rigiditas, cara berjalan,
dan ketangkasan. Harus digambarkan pula bila terdapat kegelisahan,
meremas-remas tangan, melangkah, atau manifestasi fisik lainnya.
Retardasi psikomotor atau perlambatan pergerakan tubuh secara umum
juga harus dicatat. Dapat dilaporkan apakah pasien hipoaktif,
normoaktif, atau hiperaktif (Grebb et al., 2007 ; Lyn et al., 2004).
e. Sikap
Sikap pasien terhadap pemeriksa dapat digambarkan sebagai
bekerjasama, bersahabat, penuh perhatian, tertarik, datar, menggoda,
bertahan, merendahkan, kebingungan, apatis, bermusuhan, bermainmain, menyenangkan, mengelak, atau berlindung. Tiap kata sifat
lainnya dapat digunakan (Grebb et al., 2007).
30

Lihat apakah pasien bermusuhan dan defensif atau ramah dan


kooperatif. Perhatikan apakah pasien tampaknya waspada dan apakah
pasien tampaknya santai dengan proses wawancara atau tampak tidak
nyaman. Bagian pemeriksaan ini sangat didasarkan pada pengamatan
(Lyn et al., 2004).
2. Kesadaran
Kesadaran adalah isi dari pikiran atau fungsi mental dimana
seseorang mengetahui atau menginsyafinya. Kesadaran adalah salah satu
bagian dari teori topografi Freus. Kesadaran adalah persepsi yang dirubah
oleh emosi dan pikirannya sendiri. Kesadaran juga dapat didefinisikan
sebagai keadaan berfungsinya indera khusus (Ibrahim, 2006)
1. Kuantitatif
Kesadaran secara kuantitatif dapat diukur dengan GCS (Glasgow
Coma Scale), yaitu sebagai berikut.
a. Menilai respon membuka mata (E)
(4) : spontan
(3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).
(2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya
menekan kuku jari)
(1) : tidak ada respon
b. Menilai respon Verbal/respon Bicara (V)
(5) : orientasi baik
(4) : bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang
) disorientasi tempat dan waktu.
(3) : kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas,
namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya aduh, bapak)
(2) : suara tanpa arti (mengerang)
(1) : tidak ada respon
c. Menilai respon motorik (M)
(6) : mengikuti perintah
(5) : melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat
diberi rangsangnyeri)
(4) : withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh
menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri)

31

(3) : flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas
dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(2) : extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi
tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang
nyeri).
(1) : tidak ada respon
Hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan
dalam simbol EVM Selanjutnya nilai tersebut dijumlahkan.
Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan terendah
adalah 3 yaitu E1V1M1. Setelah dilakukan scoring maka dapat
diambil kesimpulan :
(Compos Mentis (GCS: 15-14)
Apatis (GCS: 13-12)
Somnolen(11-10)
Delirium (GCS: 9-7)
Sporo coma (GCS: 6-4)
Coma (GCS: 3) (Mardjono, 2006).
2. Kualitatif
Secara kualitatif pemeriksa dapat melihat apakah kesadaran pasien
berubah atau tidak berubah. Gangguan kesadaran antara lain dapat
berupa:
a. Bentuk gangguan: Gangguan kesadaran terdiri dari yang bersifat
(kuantitatif), yang diperiksa, dan dibuktikan yaitu dalam bentuk
gangguan kewaspadaan (disturbance of alertness) yang berkisar
antara kesadaran penuh sampai tingkat koma. Bentuk lain adalah
kesadaran yang bersifat subjektif (kualitatif), yang merupakan
kesadaran akan pengalaman dari yang menyangkut:
b. Gangguan ketidakselarasan (disturbance of incongruity) dimana
pengalaman menunjukkan bahwa dirinya dan lingkungan benar-benar
ada atau nyata dan menjadi terganggu. Adanya gangguan pada fungsi
ini pasien akan mempunyai sensasi bahwa lingkungan berubah dari
keadaan normalnya atau bahkan dirinya juga berubah atau keduanya
berubah. Contoh: derealisasi, depersonalisasi.
32

c. Gangguan ketidaksinambungan jati diri (disturbance of discontuity)


yang merupakan suatu pengalaman bahwa identitas yang berhubungan
dengan keadaan waktu tertentu, bisa dalam bentuk de javu, amnesia,
kepribadian ganda, automatic writing (menulis) bila perhatian
dipindahkan dari pusat motorik ke psikis yan ditandai oleh adanya
disosiasi, fugue, dan disosiasi tingkah laku (latah), koro, amok, dan
disosiasi seperti yang terdapat pada trans.
d. Gangguan pengalaman pasif (passivity experience) yang merupakan
gangguan dalam kesatuan (integritas) antara pikiran dan tindakan.
Manifestasinya adalah terjadinya gangguan dalam pengendalian proses
pikir (isi pikiran) dimana pasien merasa bahwa dirinya tidak lebih dari
hanya sebagai penerima dari tidak hanya pikiran saja tetapi juga
sensasi, perasaan, impuls, sebagai akibatnya pasien tidak lagi dapat
mengendalikan

keinginannya,

perasaannya,

kata-katanya,

dan

tindakannya seperti yang teramati sebagai pikiran dikendalikan,


disisipi, disedot keluar, disiarkan, dan berbagai waham lainnya.
e. Gangguan kesadaran tentang ego (ego boundaries) yang merupakan
kemampuan untuk membedakan dirinya dengan lingkungan dimana
dia berada. Gangguan yang terjadi juga akan mengakibatkan dalam
pengendalian pikiran (proses pikir) (Ibrahim, 2006).

Jenis Gangguan Kesadaran


1. Disorientasi, yaitu terganggunya orientasi terhadap orang, waktu,
tempat, atau situasi. Sering diartikan sama dengan confusion. Yaitu
gangguan kesadaran yang manifestasinya sebagai gangguan orientasi
yang berhubungan dengan waktu (temporal), tempat (spasial), orang
(personal), situasi (situasional).
2. Kesadaran mengabut (clouding of consciousness) adalah gangguan
kesadaran yang ditandai khusus adanya persepsi sensorik yang tidak

33

jelas atau tidak lengkapnya kejernihan kesadaran disertai gangguan


persepsi dan sikap.
3. Sopor adalah suatu keadaan penurunan kesadaran dimana dibutuhkan
rangsangan yang kuat dan berulang-ulang untuk membangunkan
pasien.
4. Delirium adalah gangguan kesadaran yang menunjukkan kebingungan,
kegelisahan, suatu reaksi disorientasi yang disertai ketakutan dan
halusinasi. Gangguan kesadaran yang berasal dari penyakit otak
organik (biasanya akut) dengan tanda khusus gelisah, bingung,
disorientasi, retardasi psikomotorik (agitasi), afek labil, disertai takut,
halusinasi, dan ilusi. Serangannya akut, fluktuatif, perjalanannya turun
naik, dan berhubungan dengan gangguan tidur.
5. Koma merupakan gangguan kesadaran dengan taraf yang berat. Suatu
keadaan dimana respon verbal maupun motorik tidak bisa dibangunkan
dengan cara apapun. Pada koma ringan dan sedang (subkoma atau
prekoma) mungkin reflek-reflek bisa dibangunkan, tetapi bukan respon
fisiologis. Derajatnya bisa ditentukan dengan Glasgow coma scale
yang besarnya antara 3-15.
6. Koma vigil (mutisme akinetik) yaitu keadaan koma dimana pasien
nampak seperti tidur tetapi siap untuk bangun.
7. Twilight state (keadaan senja) adalah keadaan halusinasi
8. Dreamlight state (keadaan seperti mimpi) adalah suatu gangguan
kesadaran yang bisa disamakan dengan situasi mimpi disertai
halusinasi visual, auditif, dan olfaktoris. Ada hubungannya atau sering
disamakan dengan kejang parsial kompleks atau epilepsi psikomotor.
Twilight state dan Dreamlight state sering diartikan sama.
9. Somnolen, yaitu suatu keadaan dimana pasien mengantuk, inaktif,
respon terhadap rangsangan lambat atau tidak lengkap. Merupakan
ngantuk yang abnormal yang sering nampak pada proses organik.
10. Hipnosis yaitu gangguan kesadaran oleh pengaruh buatan dari
seseorang oleh orang lain. Individu memberikan respon atau sugesti
yang tinggi, mental maupun fisik selama proses tak sadarkan diri. Bisa
juga diartikan sebagai suatu fenomena dengan ciri khas kemampuan
seseorang untuk memberikan respon terhadap sugesti yang cocok
34

dengan terganggunya persepsi dan daya ingat yang berhubungan


dengan pengalaman dan tingkah laku yang bukan kemauannya sendiri.
Faktor yang menentukan respon individu, termasuk asal usul hubungan
yang ada dengan yang melakukan hipnosis, harapan -harapan yang
mendahului, kepercayaan, motivasi, dan yang penting lagi adalah
karakter dan perbedaan individual. Orang yang ada dalam keadaan
dihipnotis disebut ada dalam keadaan trans yang bisa bersifat ringan,
sedang, berat (dalam). Pada trans yang ringan, terdapat perubahan
aktivitas motorik seperti otot-otot pasien dapat terasa sampai rileks,
lengan dapat terangkat ke udara, dan dapat menekan perasaan
kesemutan. Pada trans yang sedang terdapat ciri khas adanya
penurunan rasa sakit (nyeri) dan amnesia parsial atau komplit.
Sedangkan pada trans yang dalam ada hubungannya dengan pengaruh
pengalaman penglihatan atau pendengaran dengan anestesi yang
dalam. Penyimpangan terhadap waktu bisa terjadi pada semua tahapan
trans, tetapi yang paling mencolok terjadi pada trans yang dalam. Trans
seperti kesurupan (possession) merupakan kehilangan penghayatan diri
dan kesadaran akan lingkungannya secara temporer. Keadaan ini
dianggap patologis jika bukan atas kemauannya sendiri dan terjadi di
luar situasi keagamaan atau budata yang bisa diterima masyarakat.
11. Disosiasi adalah suatu gangguan kesadaran yang merupakan
mekanisme pertahanan yang berlangsung di bawah sadar dimana
kemampuan afek dan emosi terpisah dan terlepas dari ide, situasi, atau
objek. Disosiasi bisa merupakan penundaan dari suatu pengaruh emosi
yang kuat seperti pada amnesia selektif. Disosiasi juga merupakan
mekanisme pertahanan di bawah sadar, dimana ide terpisah dari afek
yang menyertainya, seperti yang terlihat pada histeri disosiasi. Histeri
disosiasi adalah suatu proses di bawah sadar dimana kelompok proses
mental melepaskan diri dari proses pikir yang menghasilkan
sekelompok proses yang berdiri sendiri dengan akibat terjadinya
kehilangan hubungan yang biasa atau yang normal. Terdapat pada

35

gangguan disosiatif (conversi), kehilangan sebagian atau seluruhnya


dari integritas antar ingatan masa lampau, kesadaran atau identitas diri,
sensasi yang baru terjadi, dan pengendalian gerakan tubuh. Gangguan
disosiasi cenderung kumat setelah beberapa minggu atau bulan
terutama bila serangannya ada hubungannya dengan kejadian
kehidupan yang traumatic. Banyak penyakit kronis terutama paralisis
dan anestesia bisa berkembang bila awitan ada hubungannya dengan
masalah yang tidak terpecahkan atau kesulitan hubungan interpersonal.
Gangguan ini diperkirakan bersifat psikogenik dan dulu digolongkan
sebagai konversi histeri. Gejala biasanya menunjukkan pikiran
bagaimana penyakit fisik menjadi manifes. Pemeriksaan fisik dan
penyelidikan biasanya tidak bisa membuktikan adanya gangguan fisik
atau neurologis yang diketahui.
12. Absens adalah suatu kehilangan kesadaran secara temporer pada kasus
epilepsi.
13. Sinkop, yaitu keadaan pingsan.
14. Fugue, adalah suatu keadaan bepergian atau pengembaraan dari rumah,
atau tempat kerja yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak atas
kemauannya sendiri, dengan menganggap dirinya sebagai identitas
baru. Bila keadaan ini sudah berakhir pasien tidak ingat lagi pada
keadaan tersebut. Fugue juga sering diartikan sebagai disosiasi
kepribadian dengan ciri khas adanya amnesia dan menyangkut
terlepasnya individu secara fisik yang sebenarnya dari lingkungan
yang biasa atau dari bidang konfliknya. Bisa juga disosiasi merupakan
gangguan kesadaran yang berhubungan dengan kepribadian ganda
(multiple personality), suatu penampakan 2 atau lebih kepribadian
yang berbeda atau terpisah dari seorang individu dan hanya satu dari
mereka yang ada dalam satu waktu, selama serangan aktivitas yang
dituju akan nampak sedangkan pengalaman ini akan tidak bisa diingat.
Fugu disosiasi adalah keadaan amnesia disosiatif ditambah perjalanan
yang tak bertujuan diluar kebiasaannya sehari-hari. Meskipun tidak
ada amnesia selama fugue, perilaku individu selama itu mungkin

36

nampak

benar-benar

normal

bagi

yang

mengamati.

(Ibrahim, 2006)
3. Alam Perasaan
a. Mood
Mood didefinisikan sebagai emosi yang meresap dan terus
menerus yang mewarnai persepsi seseorang akan dunia. Kata sifat
yang sering digunakan untuk menggambarkan mood adalah depresi,
kecewa, mudah marah, cemas, marah, meluap-luap, euforik, kosong,
bersalah, terpesona, sia-sia, merendahkan diri sendiri, ketakutan, dan
membingungkan.

Mood

yang

labil,

bermakna

bahwa

mood

berfluktuasi atau berubah dengan cepat antara hal-hal yang ekstrim


(Grebb et al., 2007).
Pemeriksa dapat mengajukan pertanyaan seperti "Bagaimana
perasaan Anda hampir setiap hari?" untuk memicu respon. Jawaban
Bermanfaat termasuk yang secara khusus menggambarkan suasana
hati pasien, seperti "depresi", "cemas," "baik," dan "lelah." Tanggapan
yang kurang membantu dalam menentukan suasana hati pasien secara
memadai termasuk "OK," "kasar," dan "tidak tahu." Membangun
informasi yang akurat berkaitan dengan suasana hati tertentu, jika
suasana hati telah reaktif atau tidak, dan jika suasana hati telah stabil
atau tidak stabil juga membantu (Brannon, 2013).
b. Afek
Afek dapat didefinisikan sebagai respon emosional pasien yang
tampak. Afek dapat disimpulkan oleh pemeriksa dari ekspresi wajah
pasien, termasuk jumlah dan macam perilaku ekspresif. Afek mungkin
sejalan dengan mood dan bisa juga tidak sejalan. Afek digambarkan
sebagai dalam rentang normal, terbatas, tumpul, atau datar. Di dalam
rentang afek yang normal, terdapat variasi dalam ekspresi wajah, irama
suara, penggunaan tangan dan pergerakan tubuh. Jika afek terbatas,

37

terdapat penurunan jelas di dalam rentang dan intensitas ekspresi.


Demikian juga pada afek tumpul, ekspresi emosional menurun lebih
jauh. Untuk mendiagnosis afek datar, dokter harus tidak menemukan
tanda ekspresi afektif, suara pasien harus monoton, wajah harus imobil
(Grebb et al., 2007).
Keadaan afektif didefinisikan sebagai emosi yang menetap,
berlangsung lama, internal, dan mempengaruhi persepsi / perilaku
seseorang tentang dunia sekitarnya. Secara objektif dapat dilihat dari
cara berbicaranya, ekspresi wajahnya, gerak-gerik tubuhnya, nada
suaranya apakah euthym, dysthym, hiperthym, hipothym, dsb
(Maramis, 2009).
Afek dapat dideskripsikan dengan istilah luas (menular),
eutimik (normal), mengerut (terbatas variasi), tumpul (variasi
minimal), dan datar (tidak ada variasi). Seorang pasien yang afeknya
luas mungkin begitu ceria dan penuh tawa yang sulit untuk menahan
diri dari tersenyum ketika melakukan wawancara. Afek pasien
ditentukan oleh pengamatan yang dilakukan oleh pewawancara selama
wawancara. Afek pasien dicatat menjadi tidak sesuai jika tidak ada
hubungan jelas antara apa pasien katakan dan emosi yang diungkapkan
(Brannon, 2013).
Afek meupakan tanda obyektif yang ditemukan pada
pemeriksaan status psikiatri, berbeda dengan mood yang merupakan
pengalaman / perasaan subyektif yang dilaporkan oleh penderita.Afek
disebut datar apabila tidak terdapat ekspresi perasaan, muka tidak
berubah dan suara monoton. Pada afek tumpul, ekspresi perasaan
sangat kurang.
Afek sempit adalah keadaan dimana ekspresi perasaan
berkurang tetapi tidak seberat afek tumpul. Sedangkan afek luas adalah
menunjukkan keadaan normal dimana semua perasaan diekspresikan
penuh.
c. Keserasian

38

Mood dan afek dianggap tidak serasi (in appropriate) apabila


terdapat ketidak cocokan yang menyertai pikiran atau pembicaraan.
Misalnya pasien ttertawa pada waktu menceritakan bahwa semua
orang sedang dalam ketakutan. Kesesuaian respon emosional pasien
dapat dipertimbangkan di dalam masalah pasien (Grebb et al., 2007).
d. Empati
Empati adalah respons emosional secara eksternal, yang
tampak pada saat wawancara, emosi yang sesaat / jangka pendek;
tampak dari reaksi yang timbul setelah membicarakan sesuatu hal.
(Maramis, 2009).
4. Gangguan persepsi
Persepsi adalah daya mengenal kualitas, hubungan serta perbedaan
suatu benda, melalui proses mengamati, mengetahui dan mengartikan.
Memindahkan stimuli fisik menjadi informasi psikologik, sehingga
stimulus sensoris berada dalam genggamannya. Gangguan ini dapat
berupa distorsi sensorik dan desepsi sensorik. Bentuk-bentuk distorsi
sensorik antara lain terjadi perubahan intensitas, perubahan kualitas,
perubahan bentuk / dismegalopsia. Sedangkan desepsi sensorik adalah
gangguan sensorik berupa munculnya persepsi baru dengan atau tanpa
objek luar, contohnya adalah halusinasi dan ilusi. Gangguan ini dapat
melibatkan berbagai sistem sensorik dalam tubuh kita antara lain
penglihatan, pembauan, pendengaran, taktil dan penciuman. Keadaan
halusinasi dan onset dari halusinasi terjadi adalah penting karena itu wajib
untuk digali dan diketahui oleh para dokter psikiatri yang bersangkutan
(Grebb et al., 2007).
5. Pikiran
Pikiran adalah suatu aliran gagasan, asosiasi dan simbol yang mengarah
pada tujuan, dimulai dari adanya masalah atau tugas dan mengarah pada
39

kesimpulan yang berorientasi kenyataan serta terjadi dalam urutan yang


logis. Disini, gangguan pada pikiran dibagi menjadi 2 yaitu gangguan
proses pikir/ bentuk pikir dan gangguan isi pikir. Contoh gangguan pada
proses berpikir adalah adanya gangguan dalam hal produktivitas,
kontinuitas pikiran dan hendaya berbahasa. Sedangkan gangguan pada isi
pikir adalah terdapatnya preokupasi dan waham. Pada bagian ini
pemeriksa dapat menemukan adanya gangguan dalam hal berpikir antara
lain terdapatnya waham yang biasanya sering muncul pada orang dengan
gangguan jiwa, juga dapat diketemukan pula adanya pembicaraan yang
tak berujung pangkal atau juga adanya suatu ketidaksinambungan antara
jawaban pasien dengan pertanyaan yang diberikan oleh kita sebagai
seorang psikiatri. Pasien juga dapat memberikan penjelasan seolah-olah
bahwa pikirannya dapat dibaca orang lain, sepreti disiarkan atau juga
disedot sehingga pikirannya menjadi kosong. Macam-macam keanehan
ini dapat diperoleh oleh psikiatri dengan cara mengadakan wawancara
dan melakukan obsevasi dengan baik (Grebb et al., 2007).
a Proses pemikiran
Catat informasi proses pemikiran pasien. Proses pikiran dapat
digambarkan dengan ketentuan sebagai berikut: asosiasi longgar (tidak
relevan), flight of idea (perubahan topik), racing (pikiran cepat),
tangensial (awal dari topik tanpa kesimpulan), mendalam (menjadi
jelas, yaitu, "mengalahkan sekitar semak"), word salad (tanggapan
masuk akal, yaitu, Jabberwocky), derailment (tidak relevan ekstrim),
neologisme (menciptakan kata-kata baru), clang association (berima
kata), punning (berbicara dalam teka-teki), blocking (pembicaraan tiba
- tiba dihentikan), dan poverty (konten terbatas).
Sepanjang wawancara, pertanyaan yang sangat spesifik akan
ditanya tentang riwayat pasien. Catat apakah pasien merespon
langsung ke pertanyaan. Misalnya, ketika meminta kencan, perhatikan
apakah respon yang diberikan adalah tentang warna favorit pasien.
Catat apakah pasien menyimpang dari subjek dan telah dibimbing

40

kembali ke topik lebih dari sekali. Ambil semua hal ini ketika
b

mendokumentasikan proses pemikiran pasien.


Isi pikir
Untuk menentukan apakah pasien mengalami halusinasi atau
tidak,

tanyakan

beberapa

pertanyaan

berikut.

"Apakah Anda

mendengar suara-suara ketika tidak ada orang lain di sekitar?"


"Dapatkah Anda melihat hal-hal yang tidak ada orang lain dapat
melihat?" "Apakah Anda memiliki sensasi yang tidak dapat dijelaskan
lainnya seperti bau, suara, atau perasaan?" INI PUNYA PERSEPSI
Yang penting, selalu bertanya tentang halusinasi perintah dan
menanyakan apa yang pasien akan melakukan dalam menanggapi
halusinasi perintah ini. Misalnya, tanyakan "Ketika suara-suara
memberitahu Anda melakukan sesuatu, Anda mematuhi instruksi
mereka atau mengabaikan mereka?" Jenis halusinasi pendengaran
meliputi auditorik (hal pendengaran), visual (melihat hal-hal),
gustatory (mencicipi hal), taktil (sensasi perasaan), dan penciuman
(berbau hal-hal).
Untuk menentukan apakah pasien mengalami delusi, tanyakan
beberapa pertanyaan berikut. "Apakah Anda memiliki pikiran bahwa
orang lain berpikir yang aneh?" "Apakah Anda memiliki kekuatan
khusus atau kemampuan?" "Apakah televisi atau radio memberikan
pesan khusus?" Jenis delusi termasuk megah (delusi keagungan),
agama (delusi status khusus dengan Tuhan), penganiayaan (keyakinan
bahwa seseorang ingin untuk membahayakannya), erotomanic
(keyakinan bahwa seseorang yang terkenal adalah cinta dengan
mereka), kecemburuan (keyakinan bahwa semua orang ingin apa yang
mereka miliki), pikir penyisipan (keyakinan bahwa seseorang adalah
meletakkan ide-ide atau pikiran ke dalam pikiran mereka), dan ide-ide
dari referensi (keyakinan bahwa segala sesuatu mengacu kepada
mereka). Persepsi pasien adalah bagian penting dari evaluasi ini
Aspek isi pikiran adalah sebagai berikut:

41

1) Obsesi dan kompulsi: Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk


menentukan apakah pasien memiliki setiap obsesi atau dorongan.
"Apakah Anda takut kotoran?" "Apakah Anda mencuci tangan Anda
sering atau menghitung hal berulang?" "Apakah Anda melakukan
tindakan khusus untuk mengurangi pikiran-pikiran tertentu?"
Tanda-tanda perilaku jenis ritual harus dieksplorasi lebih lanjut
untuk menentukan keparahan obsesi atau paksaan.
2) Fobia: Menentukan apakah pasien memiliki kekhawatiran yang
menyebabkan mereka untuk menghindari situasi tertentu. Berikut
ini adalah beberapa hal yang perlu ditanyakan. "Apakah Anda
memiliki ketakutan, termasuk ketakutan hewan, jarum, ketinggian,
ular, berbicara di depan umum, atau orang banyak?"
3) Keinginan bunuh diri: Bertanya tentang ide bunuh diri pada setiap
kunjungan sangat penting. Selain itu, pewawancara harus
menanyakan tentang tindakan masa lalu menyakiti diri atau
kekerasan. Tanyakan jenis berikut pertanyaan saat menentukan ide
bunuh diri atau niat. "Apakah Anda memiliki pikiran ingin
menyakiti atau membunuh dirimu sendiri?" "Apakah Anda memiliki
pikiran bahwa Anda akan lebih baik mati?" Jika jawabannya adalah
positif bagi pikiran-pikiran ini, menanyakan tentang rencana
khusus, catatan bunuh diri, riwayat keluarga, dan kontrol impuls.
Juga, bertanya bagaimana pandangan bunuh diri pasien untuk
menentukan apakah sikap bunuh diri atau tindakan adalah egosintonik atau ego-distonik.
4) Ide menjadi pembunuh: Bertanya tentang ide pembunuh atau
maksud selama setiap wawancara pasien juga penting. Tanyakan
jenis

berikut

pertanyaan

untuk

membantu

menentukan

idepembunuh atau maksud. "Apakah Anda memiliki pikiran ingin


menyakiti siapa pun?" "Apakah Anda memiliki perasaan atau
pikiran bahwa Anda ingin seseorang mati?" Jika jawaban untuk
salah satu dari pertanyaan ini adalah positif, meminta pasien jika ia
memiliki rencana khusus untuk melukai seseorang dan bagaimana

42

ia berencana untuk mengendalikan perasaan ini jika mereka terjadi


lagi (Brannon, 2013).
6. Fungsi Kognitif
Kognitif menurut behavioral neurology adalah suatu proses dimana
semua masukan sensoris (taktil, visual dan auditorik) akan diubah, diolah,
disimpan dan selanjutnya digunakan untuk hubungan interneuron secara
sempurna sehingga individu mampu melakukan penalaran terhadap
masukan sensoris tersebut.
Konsep yang paling banyak dianut, bahwa fungsi kognitif
mencakup lima domain, yaitu:
a. Attention (pemusatan perhatian)
Perhatian atau atensi adalah kemampuan unik untuk bereaksi atau
untuk memperhatikan satu stimulus tertentu, dengan mampu
mengabaikan stimulus lain yang tidak dibutuhkan. Atensi merupakan
hasil hubungan antara batang otak, aktivitas limbik dan aktivitas
korteks sehingga mampu untuk fokus pada stimulus spesifik dan
mengabaikan stimulus lain yang tidak relevan. Konsentrasi merupakan
kemampuan untuk mempertahankan atensi dalam periode yang lebih
lama. Gangguan atensi dan konsentrasi akan mempengaruhi fungsi
kognitif lain seperti memori, bahasa dan fungsi eksekutif.
Pemeriksaan konsentrasi dan perhatian dapat dilakukan dengan
beberapa cara:
- Meminta pasien untuk mengulangi enam angka maju kemudian
-

mundur
Meminta pasien untuk mengurangi 7 secara berurutan dari angka
100. Hal ini dikenal sebagai "7s serial". Berikutnya, minta pasien
untuk mengeja satu kata sederhana secara maju dan mundur. Catat
waktu reaksi pasien untuk pertanyaan tertentu karena ini dapat

memberikan informasi berharga dalam evaluasi keseluruhan


b. Language (bahasa)
Bahasa merupakan perangkat dasar komunikasi dan modalitas dasar
yang membangun kemampuan fungsi kognitif. Jika terdapat gangguan

43

bahasa, pemeriksaan kognitif seperti memori verbal, fungsi eksekutif


akan mengalami kesulitan atau tidak dapat dilakukan.
Fungsi bahasa meliputi 4 parameter, yaitu :
a. Kelancaran, mengacu pada kemampuan untuk menghasilkan
kalimat dengan panjang, ritme dan melodi yang normal. Metode
yang dapat membantu menilai kelancaran pasien adalah dengan
meminta pasien menulis atau berbicara secara spontan.
b. Pemahaman, mengacu pada kemampuan untuk memahami suatu
perkataan

atau

perintah,

dibuktikan

dengan

kemampuan

seseorang untuk melakukan perintah tersebut.


c. Pengulangan, yaitu kemampuan seseorang untuk mengulangi
suatu pernyataan atau kalimat yang diucapkan seseorang.
d. Penamaan, merujuk pada kemampuan seseorang untuk menamai
suatu objek beserta bagian-bagiannya. Gangguan bahasa sering
terlihat pada lesi otak fokal maupun difus, sehingga merupakan
gejala patognomonik disfungsi otak. Penting bagi klinikus untuk
mengenal gangguan bahasa karena hubungan yang spesifik antara
sindroma afasia dengan lesi neuroanatomi.
c. Memory (daya ingat)
Memori merupakan suatu fungsI dimana informasi yang
disimpan di otak kemudian didapatkan kembali secara disadari.
Memori merupakan kemampuan untuk membangkitkan kembali
pesan, pengalaman dan apa yang sudah dipelajari di masa lampau,
yang menyangkut 3 pokok proses mental:
1. Registrasi, yaitu kemampuan merasakan, mengenal dan
mengeluarkan informasi di susuna saraf pusat.
2. Retensi, yaitu kemampuan menahan atau menyimpan informasi
yang sudah diregistrasi.
3. Recall, yaitu kemampuan

untuk

mendapatkan

kembali

informasi yang sudah disimpan.


Apabila terjadi kesalahan dari salah satu proses diatas, maka
fungsi memori seseorang dapat terganggu.
Fungsi memori biasanya dibagi menjadi empat bidang :
ingatan jauh (remote memory), daya ingat masa lalu yang belum lama

44

(recent memory), dan penyimpanan daya ingat segera (immediate


retention and recall) (Grebb et al., 2007).
Daya ingat yang baru saja dapat diperiksa dengan bertanya
pada pasien tentang bagaimana nafsu makan mereka selanjutnya
bertanya pada pasien apa yang mereka makan sabagai sarapan atau
makan malam pada kemarin malam. Meminta pasien untuk
mengulangi enam angka maju dan selanjutnya mundur untuk
pemeriksaan daya ingat segera. Selain itu mintalah pasien mengulangi
tiga kata secara segera/langsung, beritahu pasien untuk mengingat
kata-kata ini, kemudian setelah 3 sampai 5 menit mintalah pasien
untuk mengulang kembali tiga kata yang diingat.
Daya ingat jauh dapat diperiksa dengan bertanya pada pasien
tentang informasi masa kanak-kanak mereka selanjutnya dapat
diperjelas. Mintalah pada pasien untuk mengingat peristiwa-peristiwa
baru yang penting dari beberapa bulan terakhir untuk menilai daya
ingat masa lalu yang belum lama (Grebb et al., 2007).
Selain itu, pemeriksaan memori juga memeriksaa informasi
umum yang didapatkan dengan cara menanyakan pasien pertanyanpertanyaan spesifik berdasar topik yang ada sekarang ini, seperti
nama-nama lima presiden terakhir, kejadian-kejadian aktual, ataupun
informasi tentang sejarah atau geografi. Untuk mendapatkan informasi
umum dari pasien haruslah disesuaikan dengan tingkat pendidikan
pasien. Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui kemungkinan
terjadinya demensia pada pasien (Maramis, 2009).
d. Visuospatial (pengenalan ruang)
Kemampuan visuospatial merupakan kemampuan konstruksional
seperti menggambar atau meniru berbagai macam gambar (misal:
lingkaran, kubus) dan menyusun balok-balok. Semua lobus berperan
dalam kemampuan konstruksi dan lobus parietal terutama hemisfer
kanan berperan paling dominan.
e. Executive function (fungsi

ekdekutif:

fungsi

perencanaan,

pengorganisasian dan pelaksanaan)

45

Fungsi eksekutif adalah kemampuan kognitif tinggi seperti


cara berpikir dan kemampuan pemecahan masalah. Fungsi ini
dimediasi oleh korteks prefrontal dorsolateral dan struktu subkortikal
yang berhubungan dengan daerah tersebut. Fungsi eksekutif dapat
terganggu bila sirkuit frontal-subkortikal terputus. Lezack membagi
fungsi eksekutif menjadi 4 komponen yaitu kemauan, perencanaan,
tujuan dan pelaksanaan yang efektif. Bila terjadi gangguan fungsi
eksekutif, maka gejala yang muncul sesuai keempat komponen di atas.
Cara pemeriksaan fungsi eksekutif adalah dengan
memperkirakan penilaian pasien berdasarkan sejarah atau skenario
imajiner yang dibuat oleh pemeriksa. Misalnya menanyakan kepada
pasien: "Apa yang akan Anda lakukan jika Anda melihat api berkobar
di sebuah ruang tertutup yang penuh sesak?" (respon yang baik adalah
"menelepon 911" atau "mencari bantuan"; respon miskin "tidak
melakukan apa-apa" atau "menyalakan sebatang rokok",dan lain-lain).
Selain itu pemeriksa juga harus mampu menilai banyak aspek
kemampuan pasien dalam hal pertimbangan sosial. Maksudnya adalah
apakah pasien dapat mengerti akibat perilaku atau perbuatannya
terhadap orang lain. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan
memberikan contoh pengandaian suatu keadaan, misalnya : bila di
taman ada orang yang pingsan apa yang akan kamu lakukan?
pertanyaan ini akan memancing pendapat dari pasien dan hal inilah
yang akan kita nilai (Grebb et al., 2007).
Selain kelima domain tersebut, penilaian orientasi dan pengetahuan
umum serta intelegensi atau fungsi intekektual.
Orientasi adalah kemampuan pasien untuk mengenali dirinya dan
keadaan sekitarnya. Terdiri dari orientasi waktu, yaitu kemampuan pasien
untuk mengenal waktu sekarang ini, orientasi terhadap orang, yaitu
kemampuan pasien untuk mengenali orang-orang yang ada disekitarnya,
orientasi tempat, yaitu kemampuan pasien untuk

mengenali tempat

keberadaan pasien dan orientasi situasi, yaitu kemampuan pasien untuk


mengenali situasi sekitarnya (Grebb et al., 2007). Contoh pertanyaan yang

46

dapat diajukan untuk menilai orientasi pasien misalnya dengan


menanyakan Siapa nama anda? Siapa yang mengantar/menunggui anda?
Anda kenal mereka? Sekarang hari apa? tanggal berapa? Siang atau
malam? Dimana kita saat ini? Dimana alamat rumah anda? Bagaimana
suasana saat ini, ramai atau sepi?
Fungsi intelektual diperiksa untuk mencari petunjuk fungsi organ
organik, intelegensia pasien, kapasitas berpikir abstrak dan tilikan dan
perkembangan. Disini pemeriksa dapat melakukan tes dengan cara
memberikan pertanyaan yang sederhana dan biasanya berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari pasien, dapat juga dilakukan tes IQ dengan bantuan
psikiatri bila kita curigai adanya gangguan pada perkembangan mental
pada pasien tersebut. Pemeriksaan fungsi intelektual dapat dilakukan
dalam beberapa kapasitas, antara lain:
a. Membaca dan menulis: Minta pasien untuk menulis kalimat sederhana
(kata benda / kata kerja). Kemudian, meminta pasien untuk membaca
kalimat (misalnya, "Tutup mata Anda.").
b. Pemikiran abstrak: Kaji kemampuan pasien untuk menentukan
kesamaan. Tanyakan pada pasien bagaimana 2 item yang sama.
Misalnya, apel dan jeruk (respon yang baik adalah "buah"; respon
miskin "bulat"), lalat dan pohon (respon yang baik adalah "hidup";
respon miskin "tidak ada kesamaan"), atau kereta api dan mobil
(respon yang baik adalah "moda transportasi"). Menilai kemampuan
pasien untuk memahami peribahasa. Meminta pasien makna frase
pepatah tertentu. Contohnya "Bagai burung dalam sangkar" (respon
yang baik adalah "seseorang yang merasa hidupnya dikekang"; respon
miskin "ada burung di dalam sangkar"). "Nasi sudah menjadi bubur"
(respon yang baik adalah "sudah terlanjur"; respon miskin "nasi bisa
dibuat menjadi bubur").
c. Intelegensi: Berdasarkan informasi yang diberikan oleh pasien di
seluruh wawancara, memperkirakan kecerdasan intelektual pasien
(yaitu, bawah rata-rata, rata-rata, atas rata-rata).
d. Impulsif: Memperkirakan tingkat kontrol impuls pasien. Tanyakan
pasien tentang melakukan hal-hal tanpa berpikir atau perencanaan.
47

Bertanya tentang hobi seperti mengumpulkan koin, golf, terjun


payung, atau panjat tebing (Brannon, 2013).
Masing-masing domain kognitif tidak dapat berjalan sendirisendiri dalam menjalankan fungsinya, tetapi sebagai satu kesatuan, yang
disebut sistem limbik. Sistem limbik terdiri dari amygdala, hipokampus,
nukleus talamik anterior, girus subkalosus, girus cinguli, girus
parahipokampus, formasio hipokampus dan korpus mamilare. Alveus,
fimbria, forniks, traktus mammilotalmikus dan striae terminalis
membentuk jaras-jaras penghubung sistem ini (Markam, 2003).
Peran sentral sistem limbik meliputi memori, pembelajaran,
motivasi, emosi, fungsi neuroendokrin dan aktivitas otonom. Struktur
otak berikut ini merupakan bagian dari sistem limbik:
1) Amygdala, terlibat dalam pengaturan emosi, dimana pada hemisfer
kanan predominan untuk belajar emosi dalam keadaan tidak sadar, dan
pada hemisfer kiri predominan untuk belajar emosi pada saat sadar.
2) Hipokampus, terlibat dalam pembentukan memori jangka panjang,
pemeliharaan fungsi kognitif yaitu proses pembelajaran.
3) Girus parahipokampus, berperan dalam pembentukan memori spasial.
4) Girus cinguli, mengatur fungsi otonom seperti denyut jantung,
tekanan darah dan kognitif yaitu atensi.
5) Forniks, membawa sinyal dari hipokampus ke mammillary bodies dan
septal nuclei. Adapun forniks berperan dalam memori dan
pembelajaran.
6) Hipothalamus, berfungsi mengatur sistem saraf otonom melalui
produksi dan pelepasan hormon, tekanan darah, denyut jantung, lapar,
haus, libido dan siklus tidur / bangun, perubahan memori baru
menjadi memori jangka panjang.
7) Thalamus ialah kumpulan badan sel saraf di dalam diensefalon
membentuk dinding lateral ventrikel tiga. Fungsi thalamus sebagai
pusat hantaran rangsang indra dari perifer ke korteks serebri. Dengan
kata lain, thalamus merupakan pusat pengaturan fungsi kognitif di
otak / sebagai stasiun relay ke korteks serebri.

48

8) Mammillary bodies, berperan dalam pembentukan memori dan


pembelajaran.
9) Girus dentatus, berperan dalam memori baru.
10) Korteks enthorinal, penting dalam memori dan merupakan komponen
asosiasi (Markam, 2003, Devinsky dkk. 2004).
Sedangkan lobus otak yang berperan dalam fungsi kognitif antara
lain :
1) Lobus frontalis Pada lobus frontalis mengatur motorik, prilaku,
kepribadian, bahasa, memori, orientasi spasial, belajar asosiatif, daya
analisa dan sintesis. Sebagian korteks medial lobus frontalis dikaitkan
sebagai bagian sistem limbik, karena banyaknya koneksi anatomik
dengan struktur limbik dan adanya perubahan emosi bila terjadi
kerusakan.
2) Lobus parietalis Lobus ini berfungsi dalam membaca, persepsi,
memori dan visuospasial. Korteks ini menerima stimuli sensorik
(input visual, auditori, taktil) dari area sosiasi sekunder. Karena
menerima input dari berbagai modalitas sensori sering disebut korteks
heteromodal dan mampu membentuk asosiasi sensorik (cross modal
association). Sehingga manusia dapat menghubungkan input visual
dan menggambarkan apa yang mereka lihat atau pegang.
3) Lobus temporalis Lobus temporalis berfungsi mengatur pendengaran,
penglihatan, emosi, memori, kategorisasi benda-benda dan seleksi
rangsangan auditorik dan visual.
4) Lobus oksipitalis Lobus oksipitalis berfungsi mengatur penglihatan
primer, visuospasial, memori dan bahasa (Markam, 2003)
Ada beberapa pemeriksaan khusus yang digunakan untuk
memeriksa fungsi kognitif. Antara lain:
1) Cognitive Performace Scale
Pemeriksaan Cognitive Performace Scale pertama sekali
diperkenalkan oleh Morris pada tahun 1994, dengan 5 bentuk
pengukuran. Dimana bentuk bentuk pengukuran tersebut meliputi
status koma (comatose status), kemampuan dalam membuat keputusan
(decision making), kemampuan memori (short term memory),
tingkat pengertian (making self understood) dan makan (eating). Tiap
49

kategori dibagi dalam 7 grup, dimana pada skala nol (0) dinyatakan
intact sampai skala enam (6) dinyatakan sebagai gangguan fungsi
kognitif yang sangat berat (very severe impairment).
Skor CPS didasarkan pada :
a) Apakah seseorang itu koma
b) Kemampuannya dalam membuat keputusan
c) Kemampuannya untuk membuat dirinya sendiri mengerti
d) Apakah terdapat gangguan pada short-term memory atau
delayed recall
e) Apakah terdapat ketergantungan dalam self performance dalam
hal makan (eating)
Skor CPS :
a) Nol : jika tidak terdapat gangguan dalam kemampuan membuat
keputusan, membuat dirinya sendiri mengerti dan recent
memory.
b) Satu : jika terdapat satu dari kriteria di bawah ini:
i. Apabila kemampuan dalam membuat keputusan modified
ii.

independence atau moderately impared


Apabila kemampuan untuk membuat

dirinya

sendiri

mengerti, biasanya, kadang kadang, jarang/tidak pernah


mengerti atau
iii.
Terdapat gangguan recent memory
c) Dua : jika terdapat dua dari kriteria di bawah ini
i. Apabila kemampuan dalam membuat keputusan modified
ii.

independence atau moderately impared


Apabila kemampuan untuk membuat

dirinya

sendiri

mengerti, biasanya, kadang kadang, jarang/tidak pernah


iii.

mengerti atau
Terdapat gangguan short-term memory atau delayed recall

Universitas Sumatera Utara


d) Tiga : jika terdapat paling tidak dua dari kriteria (b) dan satu dari
i.

kriteria di bawah ini:


Kemampuan dalam membuat keputusan moderately impaired

ii.

atau
Kemampuan untuk membuat dirinya sendiri mengerti,

kadang kadang atau jarang/tidak pernah mengerti


e) Empat : jika kedua kriteria berikut terpenuhi

50

i.

Kemampuan dalam membuat keputusan moderately impaired

ii.

dan
Kemampuan untuk membuat dirinya sendiri mengerti,

kadang kadang atau jarang/tidak pernah mengerti


f) Lima : jika kemampuan membuat keputusan severely impaired
g) Enam : jika satu dari kriteria berikut terpenuhi
i. Kemampuan dalam membuat keputusan severely impaired
ii.

dan terdapat ketergantungan penuh dalam hal makan atau


Keadaan koma
Kemampuan dalam membuat keputusan maksudnya adalah

kemampuan membuat keputusan setiap hari tentang tugas atau


aktivitas hidup seharihari, dibagi atas 4 yaitu :
a. Independent : keputusan tentang rutinitas sehari-hari konsisten dan
terorganisir.
b. Modified independence : aktivitas sehari-hari terorganisir, mampu
membuat keputusan dalam situasi yang sudah biasa namun terdapat
kesulitan dalam membuat keputusan apabila dihadapkan dengan
tugas atau situasi yang baru.
c. Moderately impaired : dibutuhkan peringatan, isyarat dan
pengawasan dalam merencanakan dan memperbaiki rutinas seharihari.
d. Severely impaired : pengambilan keputusan sangat terganggu, tidak
pernah/sangat jarang membuat keputusan.
Kemampuan membuat dirinya sendiri mengerti dibagi atas 4,
yaitu :
a. Mengerti : dapat menyatakan ide secara jelas.
b. Biasanya mengerti : terdapat kesulitan dalam menemukan kata
yang tepat dalam berkomunikasi sehingga responnya terlambat.
c. Kadangkadang mengerti : terdapat kemampuan yang terbatas
tetapi dapat menyatakan permintaan yang berhubungan dengan
kebutuhan dasar (seperti makanan, minuman, tidur, toilet).
d. Jarang/tidak pernah mengerti: terdapat bunyi atau bahasa tubuh
yang spesifik yang dimengerti secara terbatas oleh orang yang
merawat (contoh menunjukkan adanya nyeri atau butuh ke toilet).
2) Mini Mental State Examination ( MMSE)

51

Pemeriksaan Mini Mental State Examination (MMSE) ini


awalnya dikembangkan untuk skrining demensia, namun sekarang
digunakan secara luas untuk pengukuran fungsi kogntif secara umum.
Pemeriksaan MMSE kini adalah instrumen skrining yang paling luas
digunakan untuk menilai status kognitif dan status mental pada usia
lanjut (Kochhann dkk. 2009).
Sebagai satu penilaian awal, pemeriksaan MMSE adalah tes
yang paling banyak dipakai. Pemeriksaan status mental MMSE
Folstein adalah tes yang paling sering dipakai saat ini. Penilaian
dengan nilai maksimal 30, cukup baik dalam mendeteksi gangguan
kognitif, menetapkan data dasar dan memantau penurunan kognitif
dalam kurun waktu tertentu. Skor MMSE normal 24 30. Bila skor
kurang dari 24 mengindikasikan gangguan fungsi kognitif.
Instrumen ini disebut mini karena hanya fokus pada aspek
kognitif dari fungsi mental dan tidak mencakup pertanyaan tentang
mood, fenomena mental abnormal dan pola pikiran. Mini Mental State
Examination (MMSE) menilai sejumlah domain kognitif, orientasi
ruang dan waktu, working and immediate memory, atensi dan
kalkulasi, penamaan benda, pengulangan kalimat, pelaksanaan
perintah, pemahaman dan pelaksanaan perintah menulis, pemahaman
dan pelaksanaan perintah verbal, perencanaan dan praksis. Instrumen
ini direkomendasikan sebagai screening untuk penilaian kognitif
global oleh American Academy of Neurology (AAN) (Kochhann dkk.
2010).
Pemeriksaan Mini Mental State Examination (MMSE) dijadikan
metode skrining untuk memantau perkembangan demensia. Secara
umum MMSE berkorelasi baik dengan berbagai pemeriksaan fungsi
kognitif lainnya. Nilai cut-off yang bervariasi menyokong nilai
sensitifitas dan spesifisitas yang maksimal pada populasi yang
berbeda. Skor nya dapat mengalami bias oleh karena dasar tingkat
pendidikan, bahasa dan kultur, yang mana pasien dengan tingkat
pendidikan yang rendah dapat diklasifikasikan sebagai demensia dan

52

pasien lainnya dengan tingkat pendidikan yang tinggi dapat


terlupakan. Skor 23 dengan tingkat pendidikan sampai high school,
dan skor ke 25 dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi sering
kali digunakan sebagai indikasi terdapat gangguan fungsi kognitif
secara signifikan. Nilai MMSE secara umum menurun seiring dengan
pertambahan usia. Meskipun skor rata rata yang rendah pada orang
usia lanjut dapat mengakibatkan prevalensi demensia yang semakin
meningkat pada kelompok usia lanjut. Skor 30 tidak selalu berarti
fungsi kognitifnya normal dan skor 0 tidak berarti secara mutlak
bahwa fungsi kognitifnya tidak ada (Woodford dkk. 2007).
3) General Practitioner Assessment of Cognition (GPCOG)
Pemeriksaan General Practitioner Assessment of Cognition
(GPCOG) merupakan salah satu bentuk dari Cambridge Cognitive
(CAMCOG). Pemeriksaan CAMCOG merupakan bagian tersendiri
untuk pemeriksaan fungsi kognitif dari Cambridge Examination for
Mental Disoreders of the Elderly (CAMDEX). Cambridge Cognitive
(CAMCOG)

merupakan

instrumen

yang

terstandarisasi

yang

digunakan untuk menilai tingkat demensia dan untuk menilai tingkat


gangguan kognitif. Pengukuran ini menilai orientasi, bahasa, memori,
atensi, kemampuan berpikir abstrak, persepsi dan kalkulasi. Akibat
adanya berbagai bentuk CAMCOG untuk menilai fungsi kognitif
dalam berbagai tingkat kesulitan maka salah satu kelebihannya adalah
kemampuannya untuk mendeteksi gangguan kognitif yang ringan.
Pemeriksaan GPCOG ini dipublikasi tahun 2002, yang terdiri 9
item cognitive dan 6 item informasi, yang diperoleh dari Cambridge
Cognitive Examination, Psychogeriatric Assesssment Scale. General
Practitioner Assessment of Cognition (GPCOG) memerlukan waktu 4
5 menit dalam melakukan penilaian dan memiliki akurasi diagnostik
yang sama dengan MMSE dalam mendeteksi demensia (Brodaty dkk.
2002).
Bentuk
(CAMCOG-R)

CAMCOG
dan

lainnya

Rotterdam

yaitu

Revised

CAMCOG

CAMCOG

(R-CAMCOG).
53

Pemeriksaan CAMCOG-R dipublikasi pada tahun 1999 oleh Roth,


Huppert, Mountjoy dan Tym. Revised CAMCOG (CAMCOG-R)
meningkatkan kemampuan menilai dalam menentukan berbagai
bentuk demensia dan untuk membuat diagnosa klinis yang
berdasarkan

ICD-10

dan

DSM-IV.

Sedangkan

RCAMCOG

dipublikasikan tahun 2000, R-CAMCOG merupakan versi yang lebih


singkat dari CAMCOG yang terdiri dari 25 item. Diperlukan 10 25
menit dalam melakukan penilaian ini dan sama akuratnya dengan
CAMCOG pada demensia pasca stroke.
7. Tilikan
Tilikan adalah derajat kesadaran dan pengertian pasien bahwa
mereka sakit. Pasien mungkin menunjukkan penyangkalan penyakitnya
sama sekali atau mungkin menunjukkan kesadaran bahwa mereka sakit
tetapi melemparkan kesalahan pada orang lain, faktor eksternal atau
bahkan faktor organik yang lain.Tilikan dibagi menjadi 6 derajat, yaitu:
- tilikan derajat 1 menyangkal bahwa dirinya sakit
- tilikan derajat 2 Mengakui dan menyangkal bahwa dirinya sakit
-

pada saat yang bersamaan.


tilikan derajat 3 menyalahkan orang lain/faktor eksternal

sebagai penyebab sakitnya


tilikan derajat 4 sadar bahwa sakitnya disebabkan oleh sesuatu

yang tidak diketahui dalam dirinya


tilikan derajat 5 sadar bahwa dirinya sakit tetapi tidak bisa

menerapkan dalam mengatasinya (tilikan intelektual)


tilikan derajat 6 sadar bahwa dirinya sakit dan sudah bisa
menerapkannya sampai kesembuhannya (tilikan emosional
sejati) (Grebb et al., 2007).

8. Reliabilitas
Bagian ini adalah bagian terakhir dari status pemeriksaan mental.
Bagian ini menyimpulkan kesan dokter psikiatrik terhadap reliabilitas
pasien dan kemampuan pasien untuk melaporkan situasi dan keadaannya
54

dengan tepat. Bagian ini merupakan penilaian dokter terhadap pada


kebenaran dan kejujuran pasien. Karena itu dokter psikiatri harus berhatihati pada kasus-kasus tertentu yang memungkinkan pasien untuk lebih
sering berbohong baik karena malu ataupun tidak ingin keburukannya
diketahui orang lain (Grebb et al., 2007).
Dari laporan diatas kita dapat memperoleh sebagian besar
informasi yang kita perlukan untuk memperoleh suatu diagnosa. Tetapi
untuk lebih memastikan suatu diagnosis dan menyingkirkan diagnosa
pembanding dapat pula dilakukan pemeriksaan laboratorium contohnya :
foto rontgen, tes obat-obatan, dll yang dilakukan sesuai dengan indikasi
yang diharapkan. Juga perlu dilakukan pula pemeriksaan fisik pada pasien
untuk mengetahui ada / tidaknya hubungan sakit mental pada pasien
dengan sakitnya secara fisik, contohnya pada penyakit typhus dapat
timbul suatu keadaan yang disebut dengan delirium, keadaan ini adalah
suatu penurunan kesadaran yang disertai dengan gejala mirip gejala pada
penyakit gangguan mental (American Psychiatric Association, 2004).

55

BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
1. Tujuan dilakukannya pemeriksaan psikiatrik dan status mental dengan baik
adalah untuk mendapatkan kepercayaan dari pasien dan keluarganya,
sehingga dokter dapat mengetahui pasien secara keseluruhan, dan dapat
menentukan diagnosis serta pengobatan yang paling tepat kepada pasien.
2. Komponen utama dalam melakukan pemeriksaan psikiatri dengan baik
adalah dengan melakukan wawancara, observasi, dan pemeriksaan status
mental secara benar.
3. Menangani pasien secara holistik dapat memudahkan dokter untuk
mendapat gambaran pasien secara keseluruhan, sehingga dokter dapat
mengetahui berbagai riwayat kehidupan pasien, dapat menggali faktor
pencetus untuk penyakitnya, dan faktor-faktor lain yang berkaitan seperti
lingkungan.

56

DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association (2004). Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorder. Fourth Edition. Arlington: VA
Baihaqi dkk. (2005). Psikiatri : konsep dasar dan gangguan-gangguan. Bandung:
PT. Refika Aditama
Brannon
GE
(2013).
History
and
Mental
http://emedicine.medscape.com/article/293402-overview
Agustus 2015

Examination.
Diakses

Brodaty H., Pond D., Kemp N., Luscombe G., Harding L., Berman K., et al. 2002.
The GPCOG : A New Screening Test for Dementia Designed for General
Practice. J. Am Geriatr Soc;50:530-534
Folstein M.F., Folstein S.E., McHugh P.R. 1975. Mini-Mental State : A Practical
method for grading the cognitive state of patients for the clinician. J
Psychiatr Res;12:189198.
Gleadle J (2007). At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga,
p:49
Grebb, Kaplan JA, Harold I, Sadock BJ (2007). Kaplan and Sadock. Behavioural
Sciences Clinical psychiatry, Tentth Edition. Maryland: William &
Wilkins.
Hawari dan Dadang (2001). Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI, p: 3
Ibrahim N (2006). Symptomatologi Psikiatri. Surakarta: Bagian Psikiatri Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
Kochhann R., Varela J.S., Lisboa C. 2010. The Mini Mental State Examination.
Review of Cutoff Points Adjusted for Schooling in a Large Southern
Brazilian Sample. Dementia & Neuropsychologia;4(1):3541
Lyn S. Bickley, Peter G. Szilagyi, Barbara Bates (2004). Guide to Physical
Examination and History Taking 8th Edition. Lippincott William &
Wilkins.
Mardjono Mahar, Sidharta Priguna (2006). Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : PT
Dian Rakyat

57

Maramis WF (2005). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Penerbit


Airlangga University Press
Maslim R (2013). Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III dan DSM
5. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya, p:7
Morgan M (2003). The DoctorPatient Relationship dalam Sociology as Applied
to
Medicine.http://faculty.ksu.edu.sa/nadalyousefi/communication
%20skills/The%20Doctor%E2%80%93Patient.pdf Diakses pada
Agustus 2015
Markam S. 2003. Pengantar Neuropsikologi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Woodford H.J., George J. 2013. Cognitive assessment in the elderly : a review of
clinical methods. QJM : An International Journal of Medicine;100:469
484

58