Anda di halaman 1dari 15

A.

PENGERTIAN PUSKESMAS (Ilham Akhsanu Ridlo, 2008)


Puskesmas merupakan unit pelayanan kesehatan yang letaknya berada
paling dekat ditengah-tengah masyarakat dan mudah dijangkau dibandingkan
dengan unit pelayanan kesehatan lainya (Rumah Sakit Swasta maupun Negeri).
Fungsi Puskesmas adalah mengembangkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh
seiring dengan misinya. Pelayanan kesehatan tersebut harus bersifat menyeluruh
atau yang disebut dengan Comprehensive Health Care Service yang meliputi
aspek promotive, preventif, curative, dan rehabilitatif. Prioritas yang harus
dikembangkan oleh Puskesmas harus diarahkan ke bentuk pelayanan kesehatan
dasar (basic health care services) yang lebih mengedepankan upaya promosi dan
pencegahan (public health service).
Seiring dengan semangat otonomi daerah, maka Puskesmas dituntut untuk
mandiri dalam menentukan kegiatan pelayanannya yang akan dilaksanakan.
Tetapi pembiayaannya tetap didukung oleh pemerintah. Sebagai organisasi
pelayanan mandiri, kewenangan yang dimiliki Puskesmas juga meliputi:
kewenangan merencanakan kegiatan sesuai masalah kesehatan di wilayahnya,
kewenangan menentukan kegiatan yang termasuk public goods atau private goods
serta kewenangan menentukan target kegiatan sesuai kondisi geografi Puskesmas.
Jumlah kegiatan pokok Puskesmas diserahkan pada tiap Puskesmas sesuai
kebutuhan masyarakat dan kemampuan sumber daya yang dimiliki, namun
Puskesmas tetap melaksanakan kegiatan pelayanan dasar yang menjadi
kesepakatan nasional.
Jadi, yang harus diketahui adalah bahwa peran Puskesmas adalah sebagai
ujung tombak dalam mewujudkan kesehatan nasional secara komprehensif, tidak
sebatas aspek kuratif dan rehabilitatif saja seperti di Rumah Sakit.
LEVEL PELAYANAN KESEHATAN
RS Provinsi
RS Kabupaten
Puskesmas Kecamatan
Puskesmas Kelurahan
Posyandu

B. FUNGSI PUSKESMAS (Ilham Akhsanu Ridlo, 2008)


1. Sebagai Pusat Pembangunan Kesehatan Masyarakat di wilayah kerjanya.
2. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka
3.

meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat.


Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada

a.

masyarakat di wilayah kerjanya.


Proses dalam melaksanakan fungsinya, dilaksanakan dengan cara:
Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan

b.

dalam rangka menolong dirinya sendiri.


Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan

c.

menggunakan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien.


Memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan
medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan

d.
e.

bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan.


Memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat.
Bekerja sama dengan sektor-sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan
program

C. VISI DAN MISI PUSKESMAS


1.

Visi Puskesmas
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah

tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat.


Indikator Kecamatan Sehat:
a.

Lingkungan sehat

b.

Perilaku sehat

c.

Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu

d.

Derajat kesehatan penduduk kecamatan

2.

Misi Puskesmas

a.

Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya.

b.

Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di


wilayah kerjanya.

c.

Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan


pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.

d.

Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan


masyarakat beserta lingkungannya.

D. PERAN PUSKESMAS
Peran Puskesmas adalah sebagai ujung tombak dalam mewujudkan
kesehatan nasional secara komprehensif, tidak sebatas aspek kuratif dan
rehabilitatif saja seperti di Rumah Sakit.
E. STRUKTUR ORGANISASI PUSKESMAS
1.

Kepala Puskesmas,

2.

Unit Tata Usaha,

3.

Data dan Informasi,

4.

Perencanaan dan Penilaian,

5.

Keuangan, Umum dan Kepegawaian,

6.

Unit Pelaksana Teknis Fungsional Puskesmas,

7.

UKM / UKBM,

8.

UKP,

9.

Jaringan pelayanan Puskesmas,

10. Unit Puskesmas Pembantu,


11. Unit Puskesmas Keliling,
12. Unit Bidan di Desa/Komunitas,

F. TATA KERJA PUSKESMAS


1.

Kantor Camat koordinasi

2.

Dinkes UPT bertanggung jawab ke Dinkes

3.

Jaringan Pelayanan Kesehatan Strata Pertama sebagi mitra

4.

Upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat sebagai pembina

5.

Jaringan Pelayanan Kesehatan Rujukan kerjasama

6.

Lintas sektor koordinasi

7.

Masyarakat perlu dukungan/partisipasi BPP (Badan Penyantun


Puskesmas)

G. PENYELENGGARAAN

PELAYANAN

KESEHATAN

OLEH

PUSKESMAS
Visi dan misi Puskesmas di Indonesia merujuk pada program Indonesia
Sehat. Hal ini dapat kita lihat pula dalam SPM (Standar Pelayanan Minimal).
Standar Pelayanan Minimal adalah suatu standar dengan batas-batas tertentu
untuk mengukur kinerja penyelenggaraan kewenangan wajib daerah yang
berkaitan dengan pelayanan dasar kepada masyarakat yang mencakup: jenis
pelayanan, indikator, dan nilai (benchmark). Pelaksanaan Urusan Wajib dan
Standar Pelayanan Minimal (UW-SPM) diatur dalam Surat Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 1457/MENKES/SK/X/2003 dibedakan atas :
UW-SPM yang wajib diselenggarakan oleh seluruh kabupaten-kota di seluruh
Indonesia dan UW-SPM spesifik yang hanya diselenggarakan oleh kabupatenkota tertentu sesuai keadaan setempat. UW-SPM wajib meliputi penyelenggaraan
pelayanan kesehatan dasar, penyelenggaraan perbaikan gizi masyarakat,
penyelenggaraan pemberantasan penyakit menular, penyelenggaraan promosi
kesehatan, dll. Sedangkan UW-SPM spesifik meliputi pelayanan kesehatan kerja,
pencegahan dan pemberantasan penyakit malaria, dll. Hal ini diperkuat dengan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman
Penyusunan dan Penerapan Standard Pelayanan Minimal.
RANCANGAN KEWENANGAN WAJIB DAN STANDARD PELAYANAN
MINIMAL
Kewenangan Wajib

Jenis Pelayanan

1.

Penyelenggaraan Pelayanan
Kesehatan Dasar

Pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir


Pelayanan kesehatan bayi dan anak pra sekolah
Pelayanan kesehatan anak usia sekolah dan

2.

remaja
Pelayanan kesehatan usia subur
Pelayanan kesehatan usia lanjut
Pelayanan imunisasi
Pelayanan kesehatan jiwa masyarakat
Pelayanan pengobatan / perawatan

Penyelenggaraan pelayanan

Pelayanan kesehatan dengan 4 kompetensi

kesehatan

dasar (kebidanan, bedah, penyakit dalam, anak)


Pelayanan kesehatan darurat
Pelayanan laboratorium kesehatan yang

rujukan

dan

penunjang

mendukung upaya kesehatan perorangan dan

3.

kesehatan masyarakat
Penyediaan pembiayaan dan jaminan kesehatan
Penyelenggaraan penyelidikan epidemiologi

Penyelenggaraan
pemberantasan
menular

penyakit

dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa


(KLB)
Pencegahan dan pemberantasan penyakit polio
Pencegahan dan pemberantasan penyakit TB
paru
Pencegahan

dan

pemberantasan

penyakit

malaria
Pencegahan dan pemberantasan penyakit kusta
Pencegahan dan pemberantasan penyakit ISPA
Pencegahan dan pemberantasan penyakit HIVAIDS
Pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD
Pencegahan dan pemberantasan penyakit diare
Pencegahan dan pemberantasan penyakit
4.

Penyelenggaraan perbaikan

gizi masyarakat

fliariasis
Pemantauan pertumbuhan balita
Pemberian suplemen gizi
Pelayanan gizi
Penyuluhan gizi seimbang
Penyelenggaraan kewaspadaan gizi

5.

6.

Penyelenggaraan
kesehatan

Penyuluhan prilaku sehat


Penyuluhan pemberdayaan masyarakat dalam

Penyelenggaraan kesehatan

upaya kesehatan
Pemeliharaan kualitas lingkungan fisik, kimia,

lingkungan

promosi

dan

sanitasi

biologi
Pengendalian vektor
Pelayanan hygiene sanitasi di tempat umum
dan Penyuluhan P3 NAPZA (Pencegahan dan

dasar
7.

Pencegahan
penanggulangan
penyalahgunaan

Penanggulangan
narkotika,

Penyalahgunaan

NAPZA)

yang berbasis masyarakat

psikotropika dan zat adiktif


8.

lain
Penyelenggaraan pelayanan
kefarmasian

Penyediaan obat dan perbekalan kesehatan

dan

untuk pelayanan kesehatan dasar

Penyediaan
dan
pemerataan
pelayanan
pengamanan
sediaan
kefarmasian di saranan pelayanan kesehatan
farmasi, alat kesehatan serta
Pelayanan pengamanan farmasi alat kesehatan
makanan dan minuman

H. PROGRAM POKOK PUSKESMAS


Kegiatan pokok Puskesmas dilaksanakan sesuai kemampuan tenaga maupun
fasilitasnya, karenanya kegiatan pokok di setiap Puskesmas dapat berbeda-beda.
Namun demikian kegiatan pokok Puskesmas yang lazim dan seharusnya
dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1.

Kesejahteraan ibu dan Anak (KIA)

2.

Keluarga Berencana

3.

Usaha Peningkatan Gizi

4.

Kesehatan Lingkungan

5.

Pemberantasan Penyakit Menular

6.

Upaya Pengobatan termasuk Pelayanan Darurat Kecelakaan

7.

Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

8.

Usaha Kesehatan Sekolah

9.

Kesehatan Olah Raga

10. Perawatan Kesehatan Masyarakat

11. Usaha Kesehatan Kerja


12. Usaha Kesehatan Gigi dan Mulut
13. Usaha Kesehatan Jiwa
14. Kesehatan Mata
15. Laboratorium (diupayakan tidak lagi sederhana)
16. Pencatatan dan Pelaporan Sistem Informasi Kesehatan
17. Kesehatan Usia Lanjut
18. Pembinaan Pengobatan Tradisional
Pelaksanaan kegiatan pokok Puskesmas diarahkan kepada keluarga sebagai
satuan masyarakat terkecil. Karenanya, kegiatan pokok Puskesmas ditujukan
untuk kepentingan kesehatan keluarga sebagai bagian dari masyarakat di wilayah
kerjanya. Setiap kegiatan pokok Puskesmas dilaksanakan dengan pendekatan
Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD). Disamping penyelenggaraan
usaha-usaha kegiatan pokok Puskesmas seperti tersebut di atas, Puskesmas
sewaktu-waktu dapat diminta untuk melaksanakan program kesehatan tertentu
oleh Pemerintah Pusat (contoh: Pekan Imunisasi Nasional). Dalam hal demikian,
baik petunjuk pelaksanaan maupun perbekalan akan diberikan oleh Pemerintah
Pusat bersama Pemerintah Daerah. Keadaan darurat mengenai kesehatan dapat
terjadi, misalnya karena timbulnya wabah penyakit menular atau bencana alam.
Untuk mengatasi kejadian darurat seperti di atas bisa mengurangi atau menunda
kegiatan lain.
I.

AZAS

PENYELENGGARAAN

PUSKESMAS

MENURUT

KEPMENKES NO 128 TAHUN 2004


1.

Azas pertanggungjawaban wilayah

a.

Puskesmas bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat


yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya.

b.

Dilakukan kegiatan dalam gedung dan luar gedung

c.

Ditunjang dengan puskesmas pembantu, Bidan di desa, puskesmas keliling

2.

Azas pemberdayaan masyarakat

a.

Puskesmas harusmemberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat agar


berperan aktif dalam menyelenggarakan setiap upaya Puskesmas

b.

Potensi masyarakat perlu dihimpun

3.

Azas keterpaduan
Setiap upaya diselenggarakan secara terpadu

Keterpaduan lintas program


1) UKS : keterpaduan Promkes, Pengobatan, Kesehatan Gigi, Kespro,
Remaja, Kesehatan Jiwa

Keterpaduan lintassektoral
1) Upaya Perbaikan Gizi : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,
lurah/kades, pertanian, pendidikan, agama, dunia usaha, koperasi, PKK
2) Upaya Promosi Kesehatan : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,
lurah/kades, pertanian, pendidikan, agama

4.

Azas rujukan

a.

Rujukan medis/upaya kesehatan perorangan


1) rujukan kasus
2) bahan pemeriksaan
3) ilmu pengetahuan

b.

Rujukan upaya kesehatan masyarakat


1) rujukan sarana dan logistik
2) rujukan tenaga
3) rujukan operasional

J.

MASALAH-MASALAH YANG MUNCUL DI LINGKUP PUSKESMAS


Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan ujung tombak

pelayanan kesehatan bagi masyarakat karena cukup efektif membantu masyarakat


dalam memberikan pertolongan pertama dengan standar pelayanan kesehatan.
Pelayanan kesehatan yang dikenal murah seharusnya menjadikan Puskesmas
sebagai tempat pelayanan kesehatan utama bagi masyarakat, namun pada
kenyataannya banyak masyarakat yang lebih memilih pelayanan kesehatan pada
dokter praktek swasta atau petugas kesehatan praktek lainnya. Kondisi ini didasari

oleh persepsi awal yang negatif dari masyarakat terhadap pelayanan Puskesmas,
misalnya anggapan bahwa mutu pelayanan yang terkesan seadanya, artinya
Puskesmas tidak cukup memadai dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat, baik dilihat dari sarana dan prasarananya maupun dari tenaga medis
atau anggaran yang digunakan untuk menunjang kegiatannya sehari-hari.
Sehingga banyak sekali pelayanan yang diberikan kepada masyarakat itu tidak
sesuai dengan Standar Operating Procedure (SOP) yang telah ditetapkan.
Misalnya: sikap tidak disiplin petugas medis pada unit pelayanan puskesmas
Peudada, yang dikeluhkan masyarakat. Mereka selalu diperlakukan kurang baik
oleh para petugas medis yang dinilai cenderung arogan, berdalih terbatasnya
persediaan obat-obatan pada puskesmas telah menyebabkan banyak diantara
pasien terpaksa membeli obat pada apotik. Di samping itu, ketika membawa salah
seorang warga yang jatuh sakit saat mengikuti kegiatan perkampungan pemuda,
kemudian warga yang lain mengantarnya ke Puskesmas Peudada, pasien itu tidak
dilayani dengan baik bahkan mereka (perawat-red) mengaku telah kehabisan stok
obat. Hal tersebut, tentu telah merusak citra Puskesmas sebagai pemberi layanan
kesehatan kepada masyarakat yang dianggap dapat membantu dalam memberikan
pertolongan pertama yang sesuai dengan standar pelayanan kesehatan. Selain itu,
tidak berjalannya tugas edukatif di Puskesmas yang berkaitan dengan penyuluhan
kesehatan yang sekaligus berkaitan dengan tugas promotif. Menurut masyarakat,
petugas puskesmas sangat jarang berkunjung, kalaupun ada, yaitu ketika keluarga
mempunyai masalah kesehatan seperti anggota keluarga mengalami gizi buruk
atau penderita TB. Berarti tugas ini lebih untuk memberikan laporan dan kuratif
dibanding upaya promotif. Kemudian, perawat puskesmas biasanya aktif dalam
BP, puskesmas keliling, dan puskesmas pembantu. Jelas dalam tugas tersebut,
perawat melakukan pemeriksaan pasien, mendiagnosa pasien, melakukan
pengobatan pada pasien dengan membuat resep pada pasien. Namun, ketika
melakukan tugas tersebut

tidak ada supervisi dari siapapun, khususnya

penanggung jawab dalam tindakan pengobatan/medis. Tenaga perawat seolah-olah


tidak menghargai kegiatan-kegitan formalnya sendiri, karena mungkin tugas
kuratif lebih penting. Hal ini berdampak kepada status kesehatan masyarakat,

status gizi, penyakit infeksi menular dan mungkin upaya kesehatan ibu dan anak
tidak mendapatkan porsi yang sesuai sehingga berdampak pada kondisi kesehatan
masyarakat. Kalaulah memang tugas tenaga kesehatan di Puskesmas lebih banyak
ke arah kuratif, maka Puskesmas menjadi unit dari pelayanan Rumah sakit karena
Rumah Sakit akan memiliki banyak sumber daya manusia dan fasilitas medik.
Tapi kalaulah Puskesmas ini menjadi lebih dominan dalam tugas promotif dan
preventif maka tugas eksekutif bagi perawat haruslah digiatkan, dan puskesmas
menjadi bagian dari unit Dinas kesehatan, atau bagian tersendiri yang memiliki
otonomi yang kuat dalam mengatur program-programnya, sedangkan Dinas
kesehatan hanya sebagai regulator, pemberi dana dan pengadaan petugas, untuk
pelayanan kesehatan masyarakat diberikan kepada Puskesmas, atau pelayanan
kesehatan dapat ditenderkan kepada pihak swasta. Tidak hanya hal-hal yang telah
diungkapkan di atas, lebih dari itu, masih ada permasalahan yang muncul di
lingkup puskesmas, misalnya: Jam kerja Puskesmas yang sangat singkat hanya
sampai jam 14.00 WIB, kemampuan keuangan daerah yang terbatas, puskesmas
yang kurang memiliki otoritas untuk memanfaatkan peluang yang ada, puskesmas
belum terbiasa mengelola kegiatannya secara mandiri, serta kurangnya
kesejahteraan karyawan yang berpengaruh terhadap motivasi dalam melaksanakan
tugas di puskesmas.
K. FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PELAYANAN PUSKESMAS
Dalam realitanya pelayanan Puskesmas sekarang banyak memiliki masalahmasalah. Adapun masalah-masalah yang telah diungkapkan di atas itu diakibatkan
oleh faktor-faktor sebagai berikut: (Tjiptoherijanto dan Said Zainal Abidin, 1993:
44-46)
1.
a.

Faktor Internal
Pelaksanaan Manajemen
Pelaksanaan manajemen merupakan hal penting yang menentukan dalam

mencapai tujuan yang efisien dan efektif dari tujuan Puskesmas. Dimana fungsi
manajemen itu untuk planning, organaizing, leading, dan controling. Pada
kegiatan perencanaan setiap tahunnya sering kali tidak berjalan sehingga kegiatan
berjalan apa adanya sesuai kebiasaan yang dianggap baik/sudah biasa. Bahkan

terasa sekali bahwa tidak pernah adanya upaya pengembangan. Serta tidak pernah
terpikir untuk mempersoalkan kendali mutu pelayanan yang disebabkan
kurangnya pengetahuan, peralatan, dan perhatian tersita pada upaya pengobatan.
Dapat dikatakan bahwa kepala Puskesmas lebih sibuk pada masalah-masalah
manajerial daripada kasus-kasus klinik. Dapat dikatakan juga bahwa kurangnya
pengetahuan para Kepala Puskesmas dan rendahnya disiplin/etos kerja staff,
menjadikan unsur manajemen ini tidak berjalan. Tentu hal ini menghambat kinerja
Puskesmas untuk melayani masyarakat dalam bidang kesehatan.
b.
Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan suatu aspek terpenting dalam mencapai
target dari program-program Puskesmas. Tetapi apa yang terjadi pada Puskesmas
di Indonesia terkesan tidak diperhatian oleh pemerintah dengan alasan wilayah
geografis yang sulit untuk dijangkau, sehingga sarana dan prasarana yang ada di
dalam Puskesmas sangat terbatas, baik berupa alat medis maupun obat-obatan.
Hal ini terjadi akibat dari sumber keuangan yang dimiliki Puskesmas terbatas
sehingga mutu pelayanan puskesmas pun menjadi rendah karena tidak sesuai
dengan standart kesehatan.
c.
Tenaga medis
Jumlah
tenaga
medis

yang

sangat

sedikit

mengakibatkan

ketidakmampuannya melaksanakan program dari Dinas Kesehatan. Misalanya


program Posyandu yang tidak tepat sasaran. Jumlah tenaga medis sedikit karena
insentif dari pemerintah daerah. Faktor kesejahteraan pegawai memang hal
penting karena berkaitan dengan satu-satunya pendapatan resmi mereka adalah
gaji. Untuk mencapai penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Puskesmas di
perlukan pimpinan yang mau memotivasi pegawainya dengan cara memenuhi
kebutuhan hidupnya.
d.
Sumber keuangan Puskesmas
Sumber keuangan dari pemerintah pusat maupun daerah yang didapat tidak
sebanding dengan pengeluaran operasional Puskesmas sehingga biaya pelayanan
Puskesmas pun mahal padahal sarana yang terdapat di sana tidak sebanding
dengan apa yang harus dibayar sehingga hal ini berdampak kepada masyarakat
untuk beralih pergi ke Rumah Sakit saja yang fasilitas lebih baik daripada
Puskesmas. Adapun sumber-sumber keuangan Puskesmas sebagai berikut:

1)

Pemerintah
Sumber biaya berasal dari Pemerintah Kabupaten yang dibedakan atas dana

pembangunan dan dana anggaran rutin. Dana ini diturunkan secara bertahap ke
Puskesmas melalui Dinas Kesehatan Kabupaten.
2)

Retribusi
Retribusi merupakan salah satu sumber pendapatan Puskesmas yang

membiayai upaya kesehatan perorangan yang pemanfaatanya dan besarnya


ditentukan oleh Pemerintah Daerah.
3)

PT. ASKES
Puskesmas menerima dana dari PT. ASKES yang peruntukannya sebagai

imbal jasa kepada peserta ASKES yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS)
4)

PT. JAMSOSTEK
Puskesmas menerima dana dari PT. JAMSOSTEK yang peruntukannya

sebagai imbal jasa kepada peserta JAMSOSTEK yaitu Pegawai / karyawan yang
berada dibawah naungan Dinas Tenaga Kerja.
5)

BPP (Badan Penyantun Puskesmas)


Dengan memberdayakan potensi yang dimiliki masyarakat dalam rangka

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.


Sumber-sumber keuangan Puskesmas ini ternyata tidak dapat membiayai
operasinal dari program-program Puskesmas. Hal ini diakibatkan oleh beberapa
faktor yaitu, birokratisasi penyaluran keuangan dari pemerintah sampai

ke

Puskesmasnya dan rendahnya responsibilitas pengelola manajemen Puskesmas.


e.

Psiko-sosial antara tenaga medis dengan penduduk


Perbedaan psiko-sosial antara tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas

dengan penduduk menimbulkan hambatan dalam penyelenggaraan pelayanan


kesehatan Puskesma.Tenaga-tenaga yang diperbantukan di Puskesmas biasanya
terdiri dari orang-orang terpelajar dan bukan berasal dari daerah tersebut, sehingga
penduduk menganggapnya sebagai orang asing. Apalagi jika bahasa yang
digunakan adalah bahasa yang tidak dimengerti oleh penduduk, maka akibatnya
penduduk segan untuk datang ke Puskesmas.
2.

Faktor Eksternal

a. Kondisi Geografis
Kondisi geografis Puskesmas umumnya terletak pada daerah pelosok atau
setingkat dengan kecamatan. Dimana kecamatan tiap-tiap daerah memilki keadaan
yang berbeda-beda dalam memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan puskesmas.
Memang ada kecamatan-kecamatan yang hanya dengan satu Puskesmas sudah
dapat menjangkau seluruh penduduk. Tetapi ada juga puskesmas yang hanya
dapat dijangkau oleh penduduk yang bermukim di dekatnya karena penduduk
yang lain bertempat tinggal jauh dari Puskesmas. Hal ini terkait pada dana yang
tidak cukup untuk menggunakan alat-alat transportasi atau memang tempat
tinggalnya terpencil sehingga penduduknya lebih senang tinggal di rumahnya
daripada pergi ke Puskesmas.
b. Pemerintah daerah
Peran Pemerintah Daerah yang terkesan gagap ini terlihat atas pemahaman
pembangunan kesehatan yang setengah-setengah dari pihak legslatif dan eksekutif
yang tercermin dari dijadikannya pelayanan kesehatan sebagai tulang punggung
pendapatan daerah. Ini berarti orang sakit dijadikan tualng punggung pendapatan
daerah. Padahal upaya menyehatkan masyarakat sejatinya termaktub dalam
hakikat dan semangat UU. No.22 dan UU No. 25 tahun 1999 yang pada intinya
adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mengembangkan
demokrasi menuju peningkatan kesejahteraan rakyat. Disamping itu alokasi
anggaran kesehatan berbagai daerah mencerminkan kurangnya perhatian terhadap
investasi hak-hak dasar pembangunan manusia diantaranya pelayanan kesehatan
dasar.
c. Keadaan Ekonomi Penduduk
Keadaan ekonomi penduduk

memberikan

andil

dalam

sulitnya

mengupayakan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Jumlah warga negara


Indonesia mayoritas bermata pencarian petani dan nelayan yang mana kondisi
ekonominya kurang memadai. Walaupun ada ketentuan yang memperbolehkan
mereka yang tidak mampu untuk tidak usah membayar retribusi di Puskesmas,
namun kenyataannya orang-orang yang demikian justru enggan datang ke
Puskesmas.
d. Kondisi Pendidikan Penduduk

Masalah pendidikan penduduk juga berperan dalam menghambat pelayanan


yang dihadapi oleh Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan pada tingkat
pertama, karena pada umumnya pendidikan masyarakat desa masih rendah, maka
pola pikir mereka sangat sederhana dan kurang atau bahkan belum paham akan
arti kesehatan. Mereka cenderung mengikuti sifat-sifat tradisional yang sejak dulu
dipegang oleh masyarakat dan lingkungannya.
Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki tingkat
pendidikan yang rendah yang mana sebagian besar penduduk Indonesia lulusan
SD terutama di daerah pelosok-pelosok Indonesia, sehingga hal berdampak pada
rendahnya partisipasi masyarakat dalam mewujudkan masyarakat Indonesia sehat
terutama pada lembaga Puskesmas yang letaknya dekat dengan masyarakat
tersebut.

Selain itu juga disebabkan Rumah Sakit lebih baik sarana dan

prasarananya, padahal Puskesmas merupakan pelayanan kesehatan yang paling


dasar dalam lingkungan masyarakat setempat.
e. Dinas Kesehatan
Dinas Kesehatan yang berada di Propinsi bekerja pada aspek melayani
penyembuhan penyakit yang sudah diderita oleh penduduk dibandingkan dengan
melayani obat-obatan yang dapat digunakan sebagai upaya pencegahan timbulnya
suatu penyakit pada penduduk. Dengan kata lain pelayanan kesehatan Puskesmas
lebih banyak ditekankan pada tindakan kuratif dibandingkan pada tindakan
preventif apalagi promotif. Selain itu Dinas Kesehatan juga kurang melakukan
koordinasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan program-program Puskesmas
yang sudah ada sehingga tidak terwujudnya pelayanan kesehatan di tingkat basis.
L. SOLUSI MENGATASI MASALAH YANG MUNCUL DI LINGKUP
PUSKESMAS
Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan yang terinstitusionalisasi
mempunyai kewenangan yang besar dalam menciptakan inovasi model pelayanan
kesehatan di daerah. Untuk itu dibutuhkan komitmen dan kemauan untuk
meningkatkan/meratakan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan dengan
melakukan revitalisasi sistem kesehatan dasar dengan memperluas jaringan yang
efektif dan efisien di Puskesmas, peningkatan jumlah dan kualitas tenaga

kesehatan/revitalisasi kader PKK, pembentukan standar pelayanan kesehatan


minimum untuk kinerja sistem kesehatan yang komprehensif, serta memperbaiki
sistem informasi pada semua tingkatan pemerintah. Dari banyak kasus yang
terjadi dibanyak daerah, jelas bahwa Puskesmas memiliki pencitraan yang rendah
pada saat sekarang, terutama jika dilihat dari sarana, Puskesmas tidak memiliki
fasilitas yang lengkap walaupun sudah mendapat dana dari Dinas Kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Tjiptoherijanto, prijono, Said Z. Abidin, Reformasi Administrasi dan
Pembangunan Nasional. 1993. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia:
Jakarta
2. Adisasmito Wiku. 2007. Sistem Kesehatan . Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
3. Departemen Kesehatan RI. 2005. Profil Kesehatan Indonesia 2003
4. Departemen Kesehatan RI. 2005. Rencana Strategis Departemen Kesehatan
2005-2009. Jakarta. Menuju Indonesia Sehat 2010.Jakarta.