Anda di halaman 1dari 18

III.

PEMBAHASAN
3.1 Peta Muka Air Tanah

Permukaan air tanah disebut water table, sementara lapisan tanah yang
terisi air tanah disebut zona saturasi air. Model aliran air tanah itu sendiri akan
dimulai pada daerah resapan air tanah atau sering juga disebut sebagai daerah
imbuhan air tanah (recharge zone). Daerah ini adalah wilayah dimana air yang
berada di permukaan tanah baik air hujan ataupun air permukaan mengalami
proses penyusupan (infiltrasi) secara gravitasi melalui lubang pori tanah/batuan
atau celah/rekahan pada tanah/batuan.
Dalam perjalanannya aliran air tanah ini seringkali melewati suatu lapisan
akifer yang diatasnya memiliki lapisan penutup yang bersifat kedap air
(impermeabel). Hal ini mengakibatkan perubahan tekanan antara air tanah yang
berada di bawah lapisan penutup dan air tanah yang berada diatasnya.
Perubahan tekanan inilah yang didefinisikan sebagai air tanah tertekan (confined
aquifer) dan airtanah bebas (unconfined aquifer). Dalam kehidupan sehari-hari
pola pemanfaatan air tanah bebas sering kita lihat dalam penggunaan sumur
gali oleh penduduk, sedangkan airtanah tertekan dalam sumur bor yang
sebelumnya telah menembus lapisan penutupnya.
Sumber daya air tanah memiliki beberapa keunggulan yaitu secara
hygienis lebih sehat karena telah mengalami proses filtrasi secara alamiah,
cadangan dan mutunya juga relatif tetap sepanjang tahun, dan apabila air tanah

tersedia di tempat tersebut, pengambilannya tanpa memerlukan peralatan


mahal.
Selain itu, sumber daya air tanah juga memiliki kekurangan yaitu
pemanfaatannya harus dengan membuat sumur bor / gali karena terdapat di
bawah permukaan tanah, keterdapatan tidak merata pada setiap tempat, dan
cadangannya juga terbatas atau tidak mencukupi untuk keperluan air minum
perkotaan atau air irigasi / industri yang cukup besar.

3.2 Gradien Hidrolik


Hukum Darcy
Darcy (1956), mengusulkan hubungan antara kecepatan dan gradient
hidrolik sebagai berikut :
J = ki
Dengan :
J
i
k

= Kecepatan air (cm/det)


= Gradien hidrolik
= Koefisien permeabilitas (cm/det)

Hukum Darcy menunjukkan bahwa kecepatan aliran air (J)


berbanding lurus dengan gradient hidrolik (i). Keterhantaran hidrolik (K)
adalah konstansta yang menegaskan hubungan yang sebanding antara
kecepatan aliran dengan gradient hidrolik. Ukuran-ukuran yang
menentukan kecepatan aliran air dan gradient hidrolik dalam penetapan
keterhantaran hidrolik bias bervariasi. Dalam hukum Darcy, keterhantaran
hidrolik jenuh adalah konstanta yang menunjukkan hubungan linier antara
2 variabel J dan i (Gambar 3). Kemiringan garis J/i menunjukkan hubungan
antara kecepatan aliran air dan gradient hidrolik.
Gradien Hidrolik
Gradien hidrolik melukiskan efektifitas kekuatan pada pemindahan
air dan
dirumuskan sebagai berikut :
i = H/l
dimana H adalah perbedaan atau perubahan total potensial air antara
titik-titik dalam
tanah, dan l adalah jarak antara titik-titik. Gradien hidrolik adalah
perbedaan total pusat

hidrolik per satuan jarak.

Aliran Air Dalam Tanah


Tinggi energi total (total Head) adalah tinggi energi elevasi atau
Elevation Head(z) ditambah tinggi energi tekanan atau pressure Head (h)
A

yaitu Ketinggian kolom air h atau hB Didalam pipa diukur dalam


millimeter atau meter diatas titiknya.
Tekanan hidrostatis bergantung pada kedalaman suatu titik dibawah
muka air tanah. Untuk mengetahui besar tekanan air pori, Teorema
Bernaulli dapat diterapkan. Menurut Bernaulli, tinggi energi total (total
Head) pada suatu titik dapat dinyatakan oleh persamaan :
p v2

z
w 2g
h=
Dengan :
h

p/ w
p
v2/2g
v

g
z

= tinggi energi total (total head)(m)


=
=
=
=

tinggi energi tekanan (pressure head) (m)


tekanan air (t/m2,kN/m2)
tinggi energi kecepatan (velocity head) (m)
kecepatan air (m/det)

= berat volume air (t/m3,kN/m3)


= percepatan gravitasi (m/dt2)
= tinggi energi elavasi (m)

Karena kecepatan renbesan didalam tanah sangat kecil,maka tinggi


energi
kecepatan
dalam
suku
persamaan
Bernoulli
dapat
diabaikan.Sehingga persamaan tinggi energi total menjadi :
p
z
w

h=
Untuk menghitung debit rembesan lewat tanah pada kondisi
tertentu, di tinjau kondisi tanah.

PEMBAHASAN
Pada perhitungan gradient hidrolik digunakan data pada dua sumur
yang berada pada satu aliran. Sumur yang berada pada satu aliran
memiliki litologi yang sama, serta kontur yang berdekatan. Jika dilihat
pada peta muka air tanah dua sumur yang memiliki kontur tidak jauh
berbeda adalah sumur CLS 8 (816,5 mdpl) dan sumur CLS 9 (819,4 mdpl).
Perhitungan gradient hidrolik menggunakan persamaan, seperti
yang telah dibahas diatas yaitu :

i = (Ha-Hb) / L
Diketahui pada sumur CLS 8 tinggi muka air tanahnya adalah 6,5 mdpl.
Sedangakan pada sumur CLS 9 tinggi muka air tanahnya adalah 4,6 mdpl.
Dan jarak antar sumur (L) adalah 141,8 meter.
Maka :
(Ha-Hb) / L =
=
i
=

(6,5-4,6) / 141,8
1,9 / 141,8
0,0134

Gradien hidrolik tidak boleh terlalu kecil ataupun terlalu besar. Bila
gradien kecil, maka cross-section (A) dibutuhkan untuk dapat
menyalurkan aliran air (biaya penggalian yang besar). Nilai umumnya
harus tidak kurang dari 5 10 cm/km, tetapi pada lahan datar nilai yang
rendah mungkin harus digunakan sebagai tinggi (head) total yang
tersedia diantara lahan dan pembuangan yang kecil dan sebagai aliran
akan disalurkan ke bangunan air lainnya dalam sistem saluran yang ada
(culvert, bridges).
Nilai yang tinggi untuk I, dilain pihak mengakibatkan terjadinya
kecepatan aliran air yang sangat tinggi pada saluran yang akan
mengakibatkan bahaya pengerusan pada dasar saluran dan erosi pada
bagian dinding (bank) saluran. Bangunan air drop dapat digunakan
untuk mengatasi kelebihan head pada saluran yang memiliki slope yang
curam.

3.3 Karakteristik Akifer


Suatu akuifer mempunyai dua fungsi penting, yaitu sebagai penyimpanan
laksana sebuah waduk dan sebagai penyalur air seperti jaringan pipa. Kedua
fungsi itu diemban oleh pori-pori atau rongga di dalam batuan akuifer itu. Sifat
yang berhubungan dengan fungsinya sebagai penyimpanan adalah porositas
(porosity) dan hasil jenis (specific yield).

Gambar 3.3 Macam Aquifer

a) Akuifer Bebas (Unconfined Aquifer) yaitu lapisan lolos air yang hanya sebagian
terisi oleh air dan berada di atas lapisan kedap air. Permukaan tanah pada
akuifer ini disebut dengan water table (preatik leve), yaitu permukaan air yang
mempunyai tekanan hidrostatik sama dengan atmosfer.

Gambar 3.3.1 Akuifer Bebas


b) Akuifer Tertekan ( Confined Aquifer), yaitu akuifer yang seluruh jumlahnya air
yang dibatasi oleh lapisan kedap air, baik yang di atas maupun di bawah,
serta mempunyai tekanan jenuh lebih besar dari pada tekanan atmosfer.
c) Akuifer Semi Tertekan (Semi Confined Aquifer), yaitu akuifer yang seluruhnya
jenuh air, dimana bagian atasnya dibatasi oleh lapisan semi lolos air dibagian
bawahnya merupakan lapisan kedap air.

d) Akuifer Semi Bebas (Semi Unconfined Aquifer), yaitu akuifer yang bagian
bawahnya yang merupakan lapisan kedap air, sedangkan bagian atasnya
merupakan material berbutir halus, sehingga pada lapisan penutupnya masih
memungkinkan adanya gerakan air. Dengan demikian, aquifer ini merupakan
peralihan antara akuifer bebas dengan akuifer semi tertekan.

Gambar 3.3.2 Akuifer Semi Bebas


Berikut adalah beberapa istilah lain yang digunakan dalam menanmkan
karakteristik suatu formasi batuan:
1) Aquiclude adalah formasi geologi yang mungkin mengandung air, tetapi dalam
kondisi alami tidak mampu mengalirkannya, misalnya lapisan lempung. Untuk
keperluan praktis, aquiclude dipandang sebagai lapisan kedap air.

Gambar 3.3.3 Aquiclude


2) Aquitard adalah formasi geologi yang semi kedap, mampu mengalirkan air
tetapi dengan laju yang sangat lambat jika dibandungkan dengan akuifer.
Meskipun demikian dalam daerah yang sangat luas, mungkin mampu

membawa sejumlah besar air antara akuifer yang satu dengan yang lainnya.
Aquiclude ini juga dikenal dengan nama formasi semi kedap atau leaky
aquifer.

Gambar 3.3.4 Aquitard


3) Aquifuge, merupakan formasi kedap yang tidak mengandung dan tidak
mampu mengalirkan air.
Berdasarkan jenis sumur yang terdapat dalam desa cileles tersebut,
sumur tersebut merupakan jenis semi unconfined aquifer, karena pengaliran air
pada sumur tersebut terhitung sangat lambat.

3.4 Sifat Fisik dan Kimia Air Tanah


Tabel Standar berdasar Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907
Tahun 2002 tentang Pengawasan Kualitas Air Minum

3.4.1 SIFAT KIMIA AIR TANAH


Bates dan Jackson (1983) dalam Dictionary of Geological Terms
mendefinisikan geokimia air sebagai ilmu yang mempelajari sifat kimia airtanah
dan air permukaan, terutama hubungan antara sifat sifat kimia dan kualitas air
dengan kondisi geologi wilayah tempat airtanah dan air permukaan tersebut
berada. Dengan demikian geokimia airtanah dapat didefinisikan sebagai salah
satu cabang ilmu geokimia air yang khusus mempelajari sifat sifat kimia dan
kualitas airtanah yang berkaitan dengan kondisi geologi wilayah tempat airtanah
tersebut berada.
Sifat kimia airtanah merupakan salah satu sifat utama air yang
mempengaruhi kualitas airtanah selain sifat fisik, biologi dan radioaktif. Sifat
kimia airtanah sangat berguna untuk penentuan kualitas airtanah. Sifat kimia
airtanah antara lain adalah kesadahan/kekerasan (total hardness), jumlah
padatan terlarut (total dissolved solid), daya hantar listrik (electric conductance),
keasaman dan kandungan ion. Sifat kimia airtanah yang akan dibahas lebih rinci
dalam pembahasan ini adalah kandungan ion.
Kandungan ion dalam air yang penting antara lain Na, K, Ca, Mg, Al, Mn,
Cu, Fe, Zn, Cl, SO4, CO2, CO3, HCO3, H2S, F, NH4, NO3, NO3, NO2, KMNO4, SiO2

dan Boron. Selain itu ion ion logam yang biasanya jarang tapi bersifat racun
antara
lain
As,
Pb,
Se,
Cr,
Cd,
Hg,
CO.
Kandungan ion ion mayor yang akan dibahas yaitu magnesium (Mg), kalsium
(Ca), Potassium (K), Sodium (Na), sulfat (SO4), nitrat (NO3), klorida (Cl) dan
alkalinitas (HCO3).
1. Magnesium (Mg2+)
Magnesium (Mg2+) sebagai kation yang dijadikan parameter besar kecilnya
pengaruh pelarutan litologi dalam air. Magnesium pada batuan beku berasal dari
mineral-mineral feromagnesium berwarna gelap,yakni olivine, piroksen, amfibol.
Dalam batuan alterasi hadir dalam klorit, montmorilonit dan serpentin.
Magnesium juga hadir dalam sedimen karbonat sebagai magnesit dan
hidromagnesit serta hydroxide brucite.
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002 tentang Pengawasan Kualitas Air Minum
kadar Mg yang dianjurkan adalah 30 Mg/L dan ambang batas sampai 150 Mg/L.
2. Kalsium (Ca2+)
Nilai kandungan kalsium (Ca2+) terlarut akan digunakan untuk menganalisis
pengaruh litologi terhadap komposisi kimia airtanah. Kalsium adalah salah satu
unsur penting dalam mineral-mineral batuan beku yakni dalam rantai silika,
piroksen, amfibol dan feldspar. Kalsium berada dalam air karena kontak air
dengan batuan beku dan batuan metamorf umumnya mempunyai konsentrasi
yang rendah karena laju dekomposisinya lambat. Kebanyakan kalsium terdapat
dalam batuan sedimen karbonat. Kalsium hadir dalam gipsum (CaSO4.2H2O),
anhidrit (CaSO4), dan florit (CaF2). Dalam batupasir sebagai semen. Nilai
ambang batas Standar Baku Mutu Departemen Kesehatan terhadap Cl -, yaitu
250mg/L.
3. Potassium (K+)
Potassium merupakan kation yang tidak dominan ditemukan dalam
airtanah. Terdapat dalam feldspar ortoklas dan mikroklin (KAlSI3O8), mika,
feldspathoid leucite (KAlSi2O6). Dalam batuan sedimen Potassium umumnya
hadir sebagai feldspar, mika atau illit atau mineral lempung lainnya.
Perairan dengan rasio Na : K kurang dari 10 bersifat toksik bagi beberapa
organisme akuatik. Kadar kalium yang terlalu tinggi sehingga melebihi 2.000
mg/liter berbahaya bagi sistem pencernaan dan saraf manusia. Kadar kalium
sebanyak 50 mg/liter dan kadar natrium 100 mg/liter yang terdapat secara
bersamaan kurang baik bagi kepentingan industri karena dapat membentuk
karat dan menyebabkan terjadinya korosi pada peralatan logam.
4. Sodium (Na+)
Sodium melimpah dalam grup logam alkali. Dalam batuan sedimen,
Sodium hadir dalam mineral-mineral yang resisten sebagai semen. Air yang
terjebak dalam sedimen dan tersimpan dalam waktu yang lama akan
mempunyai konsentrasi Na+ yang tinggi. Natrium (Na) adalah salah satu unsur

alkali utama yang ditemukan di perairan dan merupakan kation penting yang
mempengaruhi kesetimbangan keseluruhan kation di perairan. Natrium
elemental sangat reaktif, sehingga bila berada di dalam air akan terdapat
sebagai suatu senyawa. Hampir semua senyawa natrium mudah larut dalam air
dan bersifat sangat reaktif.
Sumber
utama
natrium
di
perairan
adalah albite (NaAlSi3O8), nepheline (NaAlSiO4), halite(NaCl),
dan mirabilite (Na2SO4.10H2O). Garam-garam natrium digunakan dalam industri
sehingga limbah industri dan limbah domestic merupakan sumber natrium
antropogenik. Hampir semua perairan alami mengandung natrium dengan kadar
antara 1 mg/liter hingga ribuan mg/liter. Pengukuran kadar natrium perlu
dilakukan jika perairan diperuntukkan bagi air minum dan kepentingan irigasi
pertanian.
Natrium bagi tubuh tidak merupakan benda asing, tetapi toksisitasnya
tergantung pada gugus senyawanya. NaOH atau hidroksida Na sangat korosif,
tetapi NaCl justru dibutuhkan olah tubuh.
5. Sulfat (SO42-)
Ion sulfat (SO4) adalah anion utama yang terdapat di dalam air. Jumlah ion
sulfat yang berlebih dalam air minum menyebabkan terjadinya efek cuci perut
pada manusia. Sulfat mempunyai peranan penting dalam penyaluran air maupun
dalam penggunaan oleh umum.
Sulfat banyak ditemukan dalam bentuk SO 42- dalam air alam.
Kehadirannya dibatasi sebesar 250 mg/l untuk air yang dikonsumsi oleh
manusia. Sulfat terdapat di air alami sebagai hasil pelumeran gypsum dan
mineral lainnya. Sulfat dapat juga berasal dari oksidasi terakhir sulfida, sulfit,
dan thiosulfat yang berasal dari bekas tambang batubara. Kehadiran sulfat dapat
menimbulkan masalah bau dan korosi pada pipa air buangan akibat reduksi
SO42- menjadi S dalam kondisi anaerob dan bersama ion H+ membentuk H2S.
Kandungan sulfat (SO42-) terlarut merupakan parameter utama yang
digunakan untuk menentukan ada tidaknya proses oksidasi mineral sulfida
terhadap komposisi kimia airtanah. Sumber lain adalah dari mineral gipsum
(CaSO4.2H2O) dan mineral anhidrit (CaSO4) yang akan mudah terlarut oleh air
menjadi Ca2+ dan SO42-.
6. Klorida (Cl-)
Analisis
klorida
(Cl-)
dimaksudkan
untuk
memperkecil
nilai
ketidakseimbangan kation-anion dalam hasil perhitungan. Selain itu klorida juga
digunakan untuk mengetahui berapa besar kadar Sodium klorida (NaCl) yang
terlarut dalam air. Pelapukan batuan dan tanah melepaskan klorida ke perairan.
Klorida terdapat di alam dengan konsentrasi yang beragam. Kadar klorida
umumnya meningkat seiring dengan meningkatnya kadar mineral. Kadar klorida
yang tinggi, yang diikuti oleh kadar kalsium dan magnesium yang juga tinggi,

dapat meningkatkan sifatkorosivitas air. Hal ini mengakibatkan terjadinya


perkaratan peralatan logam. Kadar klorida > 250 mg/l dapat memberikan rasa
asin pada air karena nilai tersebut merupakan batas klorida untuk suplai air,
yaitu sebesar 250 mg/l (Rump dan Krist, 1992 dalam Effendi, 2003). Perairan
yang diperuntukkan bagi keperulan domestik, termasuk air minum, pertanian,
dan industri, sebaiknya memiliki kadar klorida lebih kecil dari 100 mg/liter
(Sawyer dan McCarty, 1978). Keberadaan klorida di dalam air menunjukkan
bahwa air tersebut telah mengalami pencemaran atau mendapatkan rembesan
dari air laut.

7. Alkalinitas (HCO3-)
Tingkat kebasaan suatu sampel airtanah dinyatakan dalam nilai yang
disebut alkalinitas. Dengan kata lain alkalinitas dapat diartikan sebagai berapa
besar asam yang digunakan untuk menetralkan airtanah. Tingginya alkalinitas
dalam air disebabkan oleh ionisasi asam karbonat, terutama pada air yang
banyak mengandung karbondioksida (kadar CO2 mengalami saturasi/jenuh).
Karbondioksida dalam air bereaksi dengan basa yang terdapat pada batuan dan
tanah membentuk bikarbonat.
Hasil analisis sampel air didapatkan data sebagai berikut :
a

Kadar Ca 9,69 mg/L mengindikasikan bahwa kontak air tanah dengan


batuan beku sedikit karena kadar Cl yang sedikit, dan berdasar nilai
ambang batas sebesar 250 Mg/L air pada sampel ini masih layak
dikonsumsi.

Kadar Mg 0,4766 mg/L masih dibawah ambang batas yang dianjurkan


untuk air minum maka masih sangat layak untuk diminum. Serta
mengindikasikan pengaruh kelarutan litologi ke air yang sangat kecil.

Kadar Na 6,31 mg/L masih bias ditolerir untuk industry air minum karena
masih dibawah ambang batas dan masih dibutuhkan oleh tubuh

Kadar K 0,74 mg/L

Kadar Cl 0,96 mg/L layak untuk industry air minum karena masih
diambang batas yang dianjurkan. Mengindikasikan pula kadar pelapukan
dan pelarutan batuan dalam air sedikit.

Kadar SO4 5,14 masih dibawah ambang batas yang dianjurkan maka masih
aman untuk digunakan sebagai industry air minum

Kadar HCO3 76,24 mg/L

3.4.2 PARAMETER FISIK AIR TANAH

Beberapa parameter fisik yang digunakan untuk menentukan kualitas air


meliputi suhu, kekeruhan, warna, daya hantar listrik, jumlah zat padat terlarut,
rasa, bau.
1. Bau
Air minum yang berbau, selain tidak estetis juga tidak disukai oleh
masyarakat. Bau air dapat memberi petunjuk terhadap kualitas air, misalnya bau
amis dapat disebabkan oleh adanya algae dalam air tersebut. Berdasarkan
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002, diketahui
bahwa syarat air minum yang dapat dikonsumsi manusia adalah tidak berbau.
Pada daerah Desa Cileles rata-rata air yang terdapat pada sumur warga
termasuk yang tidak berbau. Air ini kemungkinan cukup layak untuk digunakan
dalam masyarakat
2. Jumlah Zat Padat Terlarut
Zat padat merupakan materi residu setelah pemanasan dan pengeringan
pada suhu 103oC 105 oC. Residu atau zat padat yang tertinggal selama proses
pemanasan pada temperatur tersebut adalah materi yang ada dalam contoh air
dan tidak hilang atau menguap pada 105 oC. Dimensi zat padat dinyatakan
dalam mg/l atau g/l, % berat (kg zat padat/kg larutan), atau % volume (dm 3 zat
padat/liter larutan).
Dalam air alam, ditemui dua kelompok zat yaitu zat terlarut (seperti
garam dan molekul organis) serta zat padat tersuspensi dan koloidal (seperti
tanah liat dan kwarts). Perbedaan pokok antara kedua kelompok zat ini
ditentukan melalui ukuran/diameter partikel-partikelnya.
Analisa zat padat dalam air digunakan untuk menentukan komponenkomponen air secara lengkap, proses perencanaan, serta pengawasan terhadap
proses pengolahan air minum maupun air buangan. Karena bervariasinya materi
organik dan anorganik dalam analisa zat padat, tes yang dilakukan secara
empiris tergantung pada karakteristik materi tersebut. Metode Gravimetry
digunakan hampir pada semua kasus.
Jumlah dan sumber materi terlarut dan tidak terlarut yang terdapat dalam
air sangat bervariasi. Pada air minum, kebanyakan merupakan materi terlarut
yang terdiri dari garam anorganik, sedikit materi organik, dan gas terlarut. Total
zat padat terlarut dalam air minum berada pada kisaran 20 1000 mg/L.
Padatan terlarut total (Total Dissolved Solid atau TDS) merupakan bahanbahan terlarut (diameter < 10-6 mm) dan koloid (diameter 10 -6 mm 10-3 mm)
yang berupa senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan lain, yang tidak tersaring
pada kertas saring berdiameter 0,45 m (Rao, 1992 dalam Effendi, 2003). Materi
ini merupakan residu zat padat setelah penguapan pada suhu 105 oC. TDS
terdapat di dalam air sebagai hasil reaksi dari zat padat, cair, dan gas di dalam
air yang dapat berupa senyawa organik maupun anorganik. Substansi anorganik
berasal dari mineral, logam, dan gas yang terbawa masuk ke dalam air setelah

kontak dengan materi pada permukaan dan tanah. Materi organik dapat berasal
dari hasil penguraian vegetasi, senyawa organik, dan gas-gas anorganik yang
terlarut. TDS biasanya disebabkan oleh bahan anorganik berupa ion-ion yang
terdapat di perairan. Ion-ion yang biasa terdapat di perairan ditunjukkan dalam
Tabel 2.4.
Tabel 2.4 Ion-ion yang Terdapat di Perairan
Ion
Utama
(Major
(1,0 1000 mg/liter)

Ion) Ion
Sekunder
(0,01 10 mg/liter)

(Secondary

1.

Sodium (Na)

1.

Besi

2.

Kalsium (Ca)

2.

Strontium (Sr)

Magnesium (Mg)

3.

Kalium (K)

4.

Bikarbonat (HCO3)

4.

Karbonat (CO3)

5.

Sulfat (SO4)

5.

Nitrat (NO3)

6.

Klorida (Cl)

6.

Fluorida (F)

7.

Boron (B)

8.

Silika (SiO2)

Ion)

Sumber : Todd, 1970 dalam Effendi, 2003.


TDS tidak diinginkan dalam badan air karena dapat menimbulkan warna,
rasa, dan bau yang tidak sedap. Beberapa senyawa kimia pembentuk TDS
bersifat racun dan merupakan senyawa organik bersifat karsinogenik. Akan
tetapi, beberapa zat dapat memberi rasa segar pada air minum.
Kesadahan dan kekeruhan akan bertambah seiring dengan semakin
banyaknya TDS. Analisis TDS biasanya dilakukan dengan penentuan Daya Hantar
Listrik (DHL) air. TDS terdiri dari ion-ion sehingga kadar TDS sebanding dengan
kadar DHL air. Penentuan jumlah materi terlarut dan tidak terlarut juga dapat
dilakukan dengan membandingkan jumlah yang terfiltrasi dengan yang tidak.
Analisa TDS dapat digunakan untuk menentukan derajat keasinan dan faktor
koreksi, misal untuk diagram kesadahan Caldwell Lawrence.
Di daerah Desa Cileles rata rata TDSnya sebesar 160 mg/l, brarti
lumayan banyak zat padat yang terdapat dalam air pada sumur warga.
3. Warna/Kekeruhan

Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan


banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang
terdapat di dalam air. Kekeruhan disebabkan adanya bahan organik dan
anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus),
maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikroorganisne
lain (APHA, 1976; Davis dan Cornwell, 1991dalam Effendi 2003). Zat anorganik
yang menyebabkan kekeruhan dapat berasal dari pelapukan batuan dan logam,
sedangkan zat organik berasal dari lapukan hewan dan tumbuhan. Bakteri dapat
dikategorikan sebagai materi organik tersuspensi yang menambah kekeruhan
air.
Padatan tersuspensi berkolerasi positif dengan kekeruhan. Semakin tinggi
nilai padatan tersuspensi, semakin tinggi nilai kekeruhan. Akan tetapi, tingginya
padatan terlarut tidak selalu diikuti dengan tingginya kekeruhan. Tingginya nilai
kekeruhan dapat mempersulit usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas
desinfeksi pada proses penjernihan air.
Warna yang ditunjukkan oleh air di daerah Desa Cileles menunjukkan
warna yang agak keruh. Hal ini menunjukkan bahwa air tersebut memiliki
beberapa bahan yang tersuspensi, zat anorganik maupun organik.
4. Rasa
Air minum biasanya tidak memberikan rasa (tawar). Air yang berasa
menunjukkan kehadiran berbagai zat yang dapat membahayakan kesehatan.
Efek yang dapat ditimbulkan terhadap kesehatan manusia tergantung pada
penyebab timbulnya rasa. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
907/MENKES/SK/VII/2002, diketahui bahwa syarat air minum yang dapat
dikonsumsi manusia adalah tidak berasa.
Air yang terdapat di daerah Desa Cileles rata-rata seluruhnya tidak
berasa.Dengan kata lain, air tersebut masih bagus untuk dikonsumsi oleh
masyarakat setempat.
5. Suhu
Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas, agar tidak terjadi pelarutan zat
kimia pada saluran/pipa yang dapat membahayakan kesehatan, menghambat
reaksi-reaksi biokimia di dalam saluran/pipa, mikroorganisme patogen tidak
mudah berkembang biak, dan bila diminum dapat menghilangkan dahaga.
Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude),
ketinggian dari permukaan laut (altitude), waktu, sirkulasi udara, penutupan
awan, aliran, serta kedalaman. Perubahan suhu mempengaruhi proses fisika,
kimia, dan biologi badan air. Suhu berperan dalam mengendalikan kondisi
ekosistem perairan.
Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia,
evaporasi, volatilisasi, serta menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air
(gas O2, CO2, N2, CH4, dan sebagainya) (Haslam, 1995 dalam Effendi, 2003).

Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya peningkatan dekomposisi bahan


organik oleh mikroba. Kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan fitoplankton di
perairan adalah 20 oC 30 oC.
Pada umumnya, suhu dinyatakan dengan satuan derajat Celcius ( oC) atau
derajat Fahrenheit (oF). Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
907/MENKES/SK/VII/2002, diketahui bahwa temperatur maksimum yang
diperbolehkan dalam air minum sebesar 3 oC. Pengukuran suhu pada contoh
air air dapat dilakukan menggunakan termometer.
Air pada daerah Desa Cileles rata-rata menunjukkan suhu sekitar 25-26 oC,
menunjukkan suhu air yang normal.
6. Daya Hantar Listrik (DHL)
Daya hantar listrik (DHL) merupakan kemampuan suatu cairan untuk
menghantarkan arus listrik (disebut juga konduktivitas). DHL pada air merupakan
ekspresi numerik yang menunjukkan kemampuan suatu larutan untuk
menghantarkan arus listrik. Oleh karena itu, semakin banyak garam-garam
terlarut yang dapat terionisasi, semakin tinggi pula nilai DHL. Besarnya nilai DHL
bergantung kepada kehadiran ion-ion anorganik, valensi, suhu, serta konsentrasi
total maupun relatifnya.
Pengukuran daya hantar listrik bertujuan mengukur kemampuan ion-ion
dalam air untuk menghantarkan listrik serta memprediksi kandungan mineral
dalam air. Pengukuran yang dilakukan berdasarkan kemampuan kation dan anion
untuk menghantarkan arus listrik yang dialirkan dalam contoh air dapat dijadikan
indikator, dimana semakin besar nilai daya hantar listrik yang ditunjukkan
pada konduktivitimeter berarti semakin besar kemampuan kation dan anion
yang terdapat dalam contoh air untuk menghantarkan arus listrik. Hal ini
mengindikasikan bahwa semakin banyak mineral yang terkandung dalam air.
Konduktivitas dinyatakan dengan satuan p mhos/cm atau p Siemens/cm.
Dalam analisa air, satuan yang biasa digunakan adalah mhos/cm. Air suling
(aquades) memiliki nilai DHL sekitar 1 mhos/cm, sedangkan perairan alami
sekitar 20 1500 mhos/cm (Boyd, 1988 dalam Effendi, 2003).
Besarnya daya hantar listrik bergantung pada kandungan ion anorganik
(TDS) yang disebut juga materi tersuspensi. Hubungan antara TDS dan DHL
dinyatakan dalam persamaan (2.1) (Metcalf & Eddy : 1991 dalam Effendi, 2003).
TDS (mg/L) = DHL (mmhos/cm atau ds/m) x 640

(2.1)

Nilai TDS biasanya lebih kecil daripada nilai DHL. Pada penentuan nilai TDS,
bahan-bahan yang mudah menguap (volatile) tidak terukur karena melibatkan
proses pemanasan.
Pengukuran DHL dilakukan menggunakan konduktivitimeter dengan satuan
mhos/cm. Prinsip kerja alat ini adalah banyaknya ion yang terlarut dalam

contoh air berbanding lurus dengan daya hantar listrik. Batas waktu maksimum
pengukuran yang direkomendasikan adalah 28 hari.
Menurut APHA, AWWA (1992) dalam Effendi (2003) diketahui bahwa pengukuran
DHL berguna dalam hal sebagai berikut :

Menetapkan tingkat mineralisasi dan derajat disosiasi dari air destilasi.

Memperkirakan efek total dari konsentrasi ion.

Mengevaluasi pengolahan yang cocok dengan kondisi mineral air.

Memperkirakan jumlah zat padat terlarut dalam air.

Menentukan air layak dikonsumsi atau tidak.

DHL pada daerah Desa Cileles menunjukkan nilai 390 Ms/cm, menunjukkan
bahwa air yang terdapat di daerah ini merupakan perairan alami.

3.5 Kurva Aliran Sungai

Kurva Aliran Sungai Desa Cileles


14
12
10
Debit

8
6
4
2
0
6.5

7.5

8.5

9.5

10

10.5

Anda mungkin juga menyukai