Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Sinusitis adalah kasus keradangan yang cukup banyak terjadi di
Indonesia. Infeksi ini biasanya disebabkan oleh virus, bakteri atau infeksi
jamur. Sesuai dengan namanya, sinusitis ini terjadi di daerah sinus-sinus
paranasalis yang berada pada tulang wajah. Infeksinya, paling sering
mengenai daerah mukosa.
Banyak hal yang meningkatkan risiko terjadinya sinusitis, diantaranya
adalah obstruksi ostia sinus-sinus menuju rongga hidung, tidak berfungsinya
silia-silia pada sinus, dan produksi mukosa yang berlebihan.
Ketika sinusitis ini terjadi pada seseorang, akan banyak gejala yang
kemungkinan bisa muncul pada si pasien. Keluhan itu bisa berupa kongesti
hidung yang disertai keluarnya sekret hidung yang purulen, batuk yang
bertambah pada malam hari, demam, kelelahan dan hilangnya daya pembau.
Selain itu, juga akan timbul rasa nyeri. Rasa nyeri itu diantaranya
adalah nyeri tenggorokan dan postnasal drip terutama pada malam hari atau
saat berbaring, dan nyeri pada daerah sinus tergantung pada lokasi
sinusitisnya. Rasa nyeri tersebut akan bertambah bila pasien membungkuk ke
depan atau terlentang.
Kasus sinusitis ini dapat terjadi pada semua sinus-sinus paranasalis
yang terdiri dari empat bagian. Yaitu sinus frontalis, sinus ethmoidalis, sinus
maksilaris, dan sinus sphenoidalis. Dari keempat kasus tersebut, sinusitis
maksilaris adalah kasus yang paling banyak terjadi.
Sebagai langkah diagnosis, selain didasarkan pada keluhan klinis,
juga diperlukan pemeriksaan penunjang. Sebagai pemeriksaan awal, bisa
dilakukan dengan pemeriksaan transiluminasi. Dari pemeriksaan ini bisa
didapatkan gambaran gelap pada daerah sinus yang mengalami infeksi.

Untuk pemeriksaan lanjutan, dapat dilakukan foto polos. Pemeriksaan


ini digunakan untuk keperluan konfirmasi adanya air fluid level dan
mengevaluasi ukuran serta integritas antara sinus-sinus paranasal.
Guna mendapatkan gambaran foto polos dapat dilakukan melalui
empat posisi, yaitu Waters position, Caldwells position, Lateral position dan
Granger position. Masing-masing posisi berguna untuk mendiagnosis
sinusitis secara spesifik pada lokasi-lokasi yang berbeda.
Foto Waters dengan posisi hidung dan dagu di film berguna untuk
melihat sinus maxillaris. Foto Caldwells dengan posisi hidung dan dahi di
film berguna untuk melihat sinus etmoidalis dan frontalis. Sedangkan posisi
foto lateral berguna untuk melihat sinus sphenoidalis.
Diantara keempat posisi tersebut, X-foto posisi Waters adalah yang
paling sering dilakukan. Meski spesifik untuk melihat sinus maksilaris,
namun X-foto posisi waters juga dapat digunakan untuk melihat sinus-sinus
yang lain. Karena itulah, penulis merasa perlu untuk membahas peranan Xfoto Waters pada penegakan diagnosis kasus sinusitis.
I.2 Tujuan
Dalam makalah ini, penulis berusaha untuk membahas lebih jauh
mengenai peran X-Foto Waters pada penegakan diagnosis sinusitis.
I.3 Manfaat
Untuk mengetahui sejauh mana X-foto Waters dapat digunakan untuk
mendiagnosis kasus sinusitis. Selain itu, penulis berusaha untuk mengetahui
pemeriksaan-pemeriksaan penunjang lain di samping X-foto Waters yang
dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis sinusitis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Foto Kepala Waters
Pada prinsipnya, pembuatan foto kepala Waters sama dengan
pembuatan foto rontgen lainnya, yaitu menggunakan sinar-x. Untuk
pembuatan sinar-x diperlukan sebuah tabung rontgen hampa udara dimana
terdapat elektron-elektron yang diarahkan dengan kecepatan tinggi pada suatu
sasaran (target). Dari proses tersebut diatas terjadi suatu keadaan dimana
energi elektron sebagian besar diubah menjadi panas (99%) dan sebagian
kecil (1%) dirubah menjadi sinar-x.
II.1.1 Deskripsi alat Rontgen untuk Foto Kepala Waters
Suatu tabung pesawat rontgen mempunyai beberapa persyaratan yaitu :
1.

Mempunyai sumber elektron

2.

Gaya yang mempercepat gerakan elektron

3.

Lintasan elektron yang bebas dalam ruang hampa udara

4.

Alat pemusat berkas elektron (Focusing cup)

5.

Penghenti gerakan elektron


Secara teknis syarat-syarat tersebut diatas terpenuhi oleh tabung

pesawat rontgen yang terdiri atas :


a. Tabung gelas silindrik hampa udara
b. Katoda dengan filamen yang terbuat dari kawat Tungsten yang
mempunyai titik lebur tinggi. Filamen ini terdapat di dalam alat
pemusat berkas elektron (focusing cup)
c. Anoda dimana terdapat bidang fokus (focal spot) yang merupakan
sasaran (target) yang akan ditabrak oleh elektron-elektron.
Percepatan gerakan elektron diperoleh dari generator tegangan
tinggi (transformator). Pada suatu tabung sinar-X (tabung sinar Rontgen)
dengan lingkaran transformatornya, terdapat bagian-bagian sebagai
berikut:

1. tabung gelas silindrik hampa udara


2. filamen
3. transformator
4. target (sasaran)
5. pelindung timah (perisai timah)
6. jendela
7. radiator pendingin
8. auto transformator
9. pengukur miliampere
I.1.2 Cara kerja Sinar -X
Urutan proses terjadinya sinar-X adalah sebagai berikut :
1. Katoda (filamen) dipanaskan lebih dari 20.000C sampai menyala dengan
mengalirkan listrik yang berasal dari transformator.
2. karena panas, elektron-elektron dari katode (filamen) terlepas
3. Sewaktu dihubungkan dengan transformator tegangan tinggi, elektronelektron akan dipercepat gerakannya menuju anoda dan dipusatkan ke alat
pemusat (focusing cup)
4. Filamen dibuat relatif negatif terhadap sasaran (target) dengan memilih
potensial tinggi
5. Awan-awan elektron mendadak dihentikan pada sasaran sehingga
berbentuk panas (> 99%) dan sinar-X (<1%)
6. Pelindung timah akan mencegah keluarnya sinar-X dari tabung sehingga
sinar-X yang terbentuk hanya dapat keluar melalui jendela
7. Panas yang tinggi pada sasaran akibat benturan elektron ditiadakan oleh
radiator pendingin.
Pemeriksaan harus dilakukan dengan proteksi radiasi yang baik, arah sinar
yang cukup teliti dan digunakan focal spot yang kecil (0,6 mm atau lebih
kecil).

II.1.3 Indikasi dan Kontra indikasi Pemeriksaan X-Foto Waters


* Indikasi :
A. Evaluasi kecurigaan sinusitis kronik
B. Evaluasi sinusitis akut :
1. Gejala menetap walaupun dengan pengobatan yang memadai
2. Pasien-pasien dengan resiko tinggi, misalnya :
a. Diabetes mellitus
b. Obat-obat imunosupresan
c. Kecurigaan terlibatnya beberapa sinus paranasalis
* Kontra indikasi (relatif) :
A. Sinusitis ethmoid atau sphenoid
B. Anak-anak berumur dibawah 3 tahun :
1. Sinus yang belum terbentuk sempurna
2. Tingginya angka opasitas positif palsu
II.1.4 Prosedur pelaksanaan
Pada metode waters,pada dasarnya adalah untuk mengekstensikan
kepala penderita sedemikian hingga cukup untuk memposisikan bayangan os.
Petrose di bawah dasar antral. Jika kepala penderita terekstensi terlalu sedikit
bayangan petrosal akan muncul sebagai bagian bawah dasar antral dan hal ini
akan menimbulkan dugaan keadaan patologis. Jika kepala penderita
terekstensi terlalu banyak maka bayangan antral akan tampak lebih pendek
yang akan menimbulkan kegagalan dalam tampilan dasara antral.
Posisikan penderita dalam keadaan berdiri atau kalau kesulitan bisa
dilakukan dalam posisi duduk tegak. Sesuaikanlah antara bidang tengah
tubuh penderita dengan garis vertical yang terletak di bagian tengah alat yang
akan dipergunakan. Posisikan bagian bahu beserta lengan penderita dalam
posisi yang nyaman di bidang yang sama. Setelah itu untuk kepala penderita
tempatkanlah garis tengah kepala potongan sagital tepat ditengah alat dengan
memposisikan bagian ujung dagu penderita sehingga dalam posisi extensi.

Atur dengan sedemikian rupa sehingga terbentuk sudut 37 Derajat antara


garis orbito-mental dengan permukaan film,dan posisikan kaset sejajar
dengan acanthion.Upayakan agar kepala penderita terfiksasi dengan baik dan
perintahkan penderita untuk menarik nafas pada saat akan dilakukan foto.
Proyeksikan sumber sinar sehingga tepat mengenai bagian tengah
film,sehingga akan terbentuk dengan posisi ini gambaran proyeksi oblique
dari tulang-tulang wajah yaitu orbita, maxilla, dan arcus zygomaticus.
II.1.5 Kelebihan dan kekurangan

Kelebihan :
-

Murah

tanpa persiapan khusus

Kekurangan :
-

Selalu ada resiko kerusakan sel atau jaringan bila terpapar


radiasi, walaupun menggunakan sinar-X dosis rendah yang
digunakan untuk pemeriksaan ini.

Hasil sinar-X dapat tidak akurat bila pasien tidak dapat tetap
diam selama pemeriksaan.

Tidak dapat dilakukan suatu pemeriksaan X-ray wajah yang


lengkap pada pasien dengan kemungkinan trauma leher.

II.2. Sinus-sinus Paranasalis


Sinus-sinus paranasalis merupakan rongga-rongga yang terisi udara
dalam tulang-tulang wajah (facial bones) yang berkembang sebagai kantongkantong dari rongga hidung dan mempunyai saluran kedalam hidung. Sinus
paranasalis terdiri atas 4 sinus, masing-masing di kanan dan kiri, yaitu :
1. Sinus frontalis
2. Sinus ethmoidalis
3. Sinus maxillaris
4. Sinus sphenoidalis

Sinus-sinus tersebut dilapisi oleh epithelium saluran pernafasan terdiri


dari sel-sel goblet yang menghasilkan mukus dan sel-sel bersilia. Mukus
tersebut dibawa menuju ostium sinus oleh silia. Perlambatan waktu transpor
mukosilier atau-yang lebih penting-obstruksi ostium dapat menyebabkan
retensi sekresi dan sinusitis.
II.2.1 Sinus Ethmoidalis
Timbul pada kehamilan umur 3 bulan sebagai suatu
evaginasi dinding nasal sebelah lateral
Labirin ethmoidalis tumbuh dan berkembang sesuai usia,
sehingga sel-sel ethmoidalis anterior biasanya menonjol di
atas rima orbita untuk berkembang kedalam sinus frontalis
Terdiri dari bidang horizontal dan vertikal
Bidang vertikal, dibagi atas 2 bagian : bidang perpendikular
ethmoidalis serta Krista Galli
Bidang horizontal, lateral dikenal dengan fovea ethmoidalis
dan medial sebagai bidang cribriform
Pada bagian medial sinus ethmoidalis adalah lamina
papyracea
Vaskularisasi : Kedua cabang arteri karotis baik interna
maupun externa, melalui arteri sphenopalatina serta arteri
etmoidalis anterior serta posterior
Innervasi dari nervus V2 dan V3
II.2.2 Sinus Maxilaris
Sinus terbesar
Bentuk

seperti

pyramid

dengan

apex

pada

arcus

zygomaticus

Pada anak kecil batas inferior dekat pada bagian dasar nasal
sedangkan pada orang dewasa batas inferior terletak 1 cm
dibawah dasar nasalis
Ostia sinus terletak sebelah anterior dari meatus medial
Ostia assesoris terletak lebih posterior dan merupakan suatu
tanda dari penyakit kronis
Vaskularisasi : dari bagian arteri maxilaris
Innervasi : melalui nervus V2
II.2.3 Sinus frontalis
Jarang ada pada saat lahir, biasanya tidak tampak sampai
umur 2 tahun
Drainase kedalam recessus frontalis, yang berada didalam
meatus medius dekat bagian atas infundibulum
Mempunyai klirens mukosiliar sirkuler
Vaskularisasi : Arteri supraorbital dan arteri supratrochlear
Inervasi : N. Supraorbital dan n.supratrochlear
II.2.4 Sinus Sphenoidalis
Jarang ada pada saat lahir, biasanya mulai tampak umur 4
tahun
Drainase ke dalam meatus superior yang berada di dalam
recessus sphenoethmoidalis.
Vaskularisasi : Arteri carotis interna dan eksterna melalui
arteri sphenopalatina serta arteri ethmoidalis posterior.
Inervasi : N.V2 dan N.V3

II.3. Sinusitis
Sinusitis adalah keradangan yang terjadi pada mukosa sinus-sinus
paranasalis. Agen utama penyebab sinusitis dapat berupa virus, bakteri, atau
jamur.
Faktor utama yang menimbulkan sinusitis adalah obstruksi ostium
ethmoidalis anterior dan kompleks meatus media. Ostium etmoidalis
mempunyai ukuran yang sangat kecil, yaitu berkisar dari 1 hingga 2 mm.
Infeksi saluran nafas bagian atas atau oleh virus dapat menyebabkan retensi
secret yang terjadi sekunder akibat edema mukosa dengan obstruksi ostium
sinus dan gangguan drainase serta presipitasi sinusitis purulen yang akut.
Obstruksi dapat pula disebabkan oleh alergi dengan pembengkakan mukosa
hidung atau terjadi sekunder akibat polip. Sinus maxillaris merupakan lokasi
infeksi yang paling sering dan baru kemudian diikuti sinus etmoidalis, sinus
frontalis dan sinus sphenoidalis.
Faktor predisposisi terjadinya sinusitis mencakup kelainan fungsi
transportasi yang dimiliki silia baik yang bersifat kualitas dan kuantitas
(misalnya, sindroma siliaris, kistik fibrosis, sindroma young.), produksi
sekret yang berlebihan, penyakit granulomatosa yang kronik ( misalnya,
granulomatosis Wegener, sarkoid ), dan midline granuloma. Zat-zat iritan
kimiawi seperti klorin dapat mengganggu klirens sekret dan mempercepat
proliferasi mikrobial
Faktor-faktor resiko terjadinya sinusitis antara lain :
a. Orang yang menderita HIV dan yang mendapat kemoterapi
b. Menderita asma
c.

Penggunaan yang nasal decongestant yang berlebihan

d. Deviasi septum nasi, taji tulang hidung, atau polip


e. Terdapatnya benda asing dalam hidung
f.

Terlalu sering menyelam atau berenang

g. Dental work
h. Kehamilan

i.

Perubahan ketinggian, misalnya naik pesawat terbang atau


mendaki tebing

j.

Polusi udara dan asap

k. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)


II.3.1 Jenis-jenis sinusitis :
II.3.1.1 Sinusitis akut
-

Sinusitis akut berlangsung 2 sampai 8 minggu.

Gejala sinusitis akut :


Gejala klasik sinusitis akut biasanya terjadi setelah suatu
infeksi saluran pernafasan yang tidak membaik, atau yang memburuk
setelah 5 sampai 7 hari sejak timbulnya gejala.
Gejala tersebut meliputi :
- Kongesti hidung dan keluarnya sekret hidung yang purulen
- Nyeri tenggorokan dan postnasal drip (cairan yang menetes
ke bawah pada bagian belakang tenggorokan, terutama pada
malam hari atau saat berbaring)
- Nyeri pada daerah sinus, dimana letak nyeri tergantung dari
sinus yang terkena. Nyeri tersebut bertambah bila pasien
membungkuk ke depan atau terlentang.
- Batuk, seringkali bertambah pada malam hari
- Demam, terutama terjadi pada sinusitis maxilaris akut
- Hilangnya daya pembau
- Kelelahan badan atau malaise
- Tanda sinusitis akut :
-

Nyeri tekan daerah sinus yang terinfeksi

Pada perkusi di daerah sinus yang terinfeksi, terdapat


tenderness

II.3.1.2 Sinusitis kronik


Sinusitis kronik merupakan infeksi dan/atau inflamasi sinus yang

10

berkepanjangan (dapat berlangsung beberapa bulan atau tahun) atau


berulang. Sinusitis kronik biasanya disebabkan oleh alergi atau infeksi
dengan lebih dari satu macam bakteri yang berbeda. Gejala sinusitis
kronik tidak jelas. Selama eksaserbasi akut, gejala-gejala mirip dengan
gejala sinusitis akut, namun diluar masa itu gejalanya lebih ringan.
II.3.1.3 Sinusitis Maksilaris
Sinusitis maksillaris akut biasanya menyusul suatu infeksi saluran
nafas atas yang ringan. Alergi, benda asing, dan deviasi septum nasi
merupakan faktor-faktor predisposisi lokal yang paling sering ditemukan.
Sinusitis maksilaris ditandai dengan nyeri pada pipi atau gigi bagian atas.
Komplikasi yang dapat terjadi:
1. Infeksi pada orbita oleh karena terletak di dekat orbita (radang
atau reaksi edematingan, selulitis orbita, abses subperiosteal,
abses orbita, trombosis sinus kavernosus)
2. Mukokel (suatu kista yang mengandung mukus yang timbul
dalam sinus)
3. Meningitis oleh karena infeksi tersebut menyebar sepanjang
saluran vena atau langsung dari sinus yang berdekatan.
II.3.1.4 Sinusitis Ethmoidalis
Sinusitis ethmoidalis akut lebih lazim terjadi pada anak-anak,
seringkali bermanifestasi sebagai selulitis orbita oleh karena dinding
lateral labirin ethmoidalis seringkali merekah oleh karena itu cenderung
lebih sering menimbulkan selulitis orbita. Pada dewasa, seringkali
bersama-sama dengan sinusitis maksilaris, serta dianggap penyerta
sinusitis frontalis. Nyeri terletak diantara kedua mata dan diatas jembatan
hidung.
Komplikasi yang dapat erjadi
1. infeksi pada orbita

11

2. Mukokel :dapat membesar dan melalui atrofi tekanan mengikis


struktur di sekitarnya.
3. Meningitis
II.3.1.5 Sinusitis Frontalis
Sinusitis frontalis akut hampir selalu bersama-sama dengan
sinusitis ethmoidalis anterior. Penyakit ini terutama ditemukan pada
dewasa. Nyeri berlokasi di atas alis mata.
Komplikasi yang dapat terjadi:
1. Infeksi pada orbita
2. Mukokel yang dapat membesar
3. Meningitis
II.3.1.6 Sinusitis Sphenoidalis
Sinusitis sphenoidalis akut sangat jarang. Sinusitis ini ditandai
dengan nyeri kepala yang mengarah ke verteks kranium. Namun penyakit
ini lebih lazim menjadi bagian dari pansinusitis.
Komplikasi yang dapat terjadi:
1. Mukokel yang dapat membesar
2. Meningitis
3. Osteomielitis
II.3.2 Diagnosis Sinusitis
Untuk menegakkan diagnosis sinusitis, paling sedikit ada 4 hal yang
harus diperhatikan, yaitu:
a. Gejala sinusitis (subyektif)
b. Tanda sinusitis (obyektif)
-

Nyeri tekan daerah sinus yang terinfeksi

Pada perkusi di daerah sinus yang terinfeksi, terdapat tenderness

c. Transilluminasi : tampak gelap pada daerah sinus yang mengalami infeksi

12

d. Foto polos kepala : tampak perselubungan radio opaque (sinus terisi


cairan) dan penebalan mukosa pada sinus yang terinfeksi serta adanya
gambaran air fluid level.
Untuk lebih memastikan diagnosis kadang diperlukan pemeriksaan
penunjang yang lainnya. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain:
-

Cranial Computed Tomography (CT) Scan

Cranial Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Aspirasi sinus dan kultur untuk mendapatkan informasi mengenai bakteria


penyebab

Fiberoptic untuk melihat sinus

II.4. Gambaran Radiologik Sinusitis pada Foto Polos Kepala


Beberapa hal yang penting untuk diperhatikan adalah :
1. Derajat radiolucency dan sinus frontalis, maxilaris, ethmoid dan
sphenoidalis.
2. Tulang-tulang disekitar sinus paranasal
3. Tebal dari mucosa
4. Adanya filling defect.
Posisi yang digunakan untuk memperlihatkan sinus paranasal
adalah :
a. Waters position (posisi hidung dan dagu di film) : berguna bagi
sinus maxilaris
b. Caldwells position (posisi hidung dan dahi di film) : berguna bagi
sinus etmoidalis dan frontalis
c. Lateral position : berguna untuk sinus spenoidalis
d. Granger position
Gambaran radiologik sinusitis mula-mula berupa penebalan
mukosa, selanjutnya diikuti opasitas sinus akibat mukosa yang
membengkak hebat atau akibat akumulasi cairan yang memenuhi sinus.
Akhirnya terbentuk gambaran air-fluid level yang khas yang dapat dilihat
pada foto dalam keadaan tegak atau lateral dekubitus.

13

BAB III
PEMBAHASAN
Pada X - foto Waters, piramid tulang petrosum diproyeksikan pada dasar
sinus maksilaris, sehingga kedua sinus maksilaris dapat dievaluasi seluruhnya.
Proyeksi parietoacanthial (PA) dari antrum ditunjukkan dengan gambaran
petrous pyramide yang terletak dibawah dasar antrum. Sinus frontalis dan
ethmoidalis mengalami distorsi pada posisi ini, dan sinus sphenoidalis tidak dapat
terlihat.
Posisi waters juga digunakan untuk menunjukkan foramen rotundum,
gambarannya terlihat pada salah satu dari masing-masing sisi, tepat dibawah dari
sisi medial dasar orbital dan diatas dari atap sinus maxilaris.
Foto waters umumnya dilakukan pada keadaan mulut tertutup. Pada posisi
mulut terbuka akan dapat menilai daerah dinding posterior sinus sfenoid dengan
baik.
Pada X-Foto Watera kasus sinusitis akan tampak empat gambaran sebagai
berikut :
1. Penebalan mukosa
2. Perselubungan homogen atau tidak homogen pada satu atau lebih sinus
paranasal.
3. Air fluid level (kadang-kadang)
4. Penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-kasus kronik)
III.1 Penebalan mukosa
Normal tebal mucosa tidak lebih dari 1 mm. Bila lebih maka dapat
disebabkan keradangan yang kronis atau odematous. Dapat disertai
perubahan polipoid atau tidak. Bila penebalan mucosa paralel dengan
dinding sinus biasanya disebabkan infeksi bila bergelombang biasanya
disebabkan allergi.
Penebalan mukosa merupakan gambaran yang mula-mula tampak
pada sinusitis, dan yang paling sering diserang adalah sinus maksilaris.

14

III.2 Perselubungan homogen atau tidak homogen pada satu atau lebih sinus
paranasal.
Perselubungan pada sinus paranasal bila disebabkan karena infeksi
bakteri, dilakukan terapi konservatif dimana gejala-gejala klinis akan
menghilang dalam satu sampai dua minggu, tetapi apabila perselubungan
pada sinus paranasal masih tetap ada dalam dua sampai tiga minggu
setelah terapi konservatif perlu dilakukan pemeriksaan CT Scan. Hal-hal
yang mungkin terjadi pada kasus tersebut ialah :
a. Kista retensi yang luas
Kista retensi terbentuk dari kelenjar-kelenjar mucus sekresi
yang tersumbat pada mukosa yang terdapat di dinding sinus. Biasanya
frekuensi terbesar terdapat pada sinus maksilaris. Bentuknya konvek
(bundar), licin, homogen, pada pemeriksaan CT Scan tidak mengalami
enhance. Kadang-kadang sukar membedakannnya dengan polip yang
terinfeksi, bila kista ini makin lama makin besar dapat menyebabkan
gambaran air fluid level.
b. Polip yang mengisi ruang sinus
Penyebabnya biasanya alergi. Polip merupakan tumor yang
myxomatus berasal dari hyperplasia dari mucosa. Gambaran
radiologiknya berupa:
-

Gambaran bulat radioopaque dalam sinus

Paling sering di sinus maxilaris dan kadang-kadang di sinus

frontalis, sinus lain jarang.

Sering disertai nasal polip

Bila besar maka mengisi seluruh sinus


hingga gambaran bulat tidak dapat terlihat.
Untuk membedakan polip atau mucocele atau retention cyst

dipakai contrast iodized oil.


c. Polip antrokoanal
Pada polip anterocoanal yang penyebabnya berasal dari sinus
maksilaris dapat keluar dari rongga sinus ke kavum nasi, secara klinis

15

tampak sebagai polip nasal. Biasanya terdapat kira-kira 6 % dari


seluruh polip nasal, diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan
CT Scan.
d. Massa pada kavum nasi yang menyumbat sinus
e. Mukokel
Mukokel sering terdapat pada sinus paranasal, duapertiga
kasus-kasus terdapat pada sinus frontalis, 25 persen terdapat pada sinus
ethmoidalis dan 10 persen di sinus maksilarias, pada sinus spenoidalis
amat jarang. Pada foto polos tampak sebagai gambaran radioopaque
berbatas tegas, berbentuk konvek dengan penebalan dinding mukosa
disekitarnya. Pada mukokel di daerah sinus ethmoidalis sukar dideteksi
(pada foto polos), tetapi dapat dideteksi dengan pemeriksaan CT Scan
kepala. Bila mukokel terdapat pada sinus maksilaris atau sinus
sphenoidalis, sinus tampak berselubung total.
f. Tumor
Tumor dapat menyebabkan bayangan diffus pada sinus
paranasal, untuk itu kita perlu mencari adanya tanda-tanda destruksi,
misalnya :
a. Osteoma
- Benigna
- Putih berbentuk bulat biasanya di sinuus frontalis (dinding
depan)
b. Odontoma
- Biasanya terlihat di mandibula
- Tetapi dapat juga terletak di maxilla.Rontgen dapat berupa :
1. Epitelial odontoma atau adamantinoma.
2. Follicular odontomas (dentigerous cyst)
Bila perselubungan diffuse perlu juga dipikirkan kemungkinan
ruang sinus terisi darah pada casus post trauma. Disini perlu dilihat apakah
ada fracture atau tidak.

16

III.3 Air fluid level


Gambaran air fluid level tidak selalu terjadi. Pada kasus-kasus
sinusitis bacterial akut dengan pemriksaan foto posisi waters, sukar
membedakan perselubungan sinus maksilaris yang disebabkan sinusitis
murni atau disebabkan oleh air fluid level. Untuk kasus-kasus semacam ini
perlu dibuatkan posisi waters dalam posisi duduk. Hampir 50% kasuskasus dengan perselubungan pada salah satu sinus maksilaris pada
pemotretan posisi tiduran ternyata setelah difoto duduk terdapat air fluid
level. Air fluid level akan tampak pula pada kasus-kasus :
a. Pada pasien-pasien yang mengalami pencucian sinus maksilaris,
biasanya minimal tiga sampai empat hari baru sinus tersebut kosong.
Apabila pemotretan dilakukan dalam tiga sampai empat hari setelah
pencucian sinus, maka akan tampak gambaran sinus tersebut suram.
Hal ini dapat didiagnosis sebagai sinusitis karena reinfeksi.
b. Pada pasien dengan trauma kepala disertai fraktur atau tidak fraktur
pada dinding sinus
Pada kasus air fluid level pada sinus sphenoidalis dengan trauma
kepala sangat mungkin suatu fraktur basis cranii dan tidak perlu
fraktur tersebut terjadi di dinding sinus. Dengan diberikannya
pengobatan (nasal packing) dapat menyebabkan gangguan drainase
sinus. Hal ini dapat menyebabkan air fluid level ganda.
c. Pada penyakit golongan blood dyscrasias

seperti penyakit Von

Willebrand dimana terjadi perdarahan pada permukaan mukosa. Hal


ini berbeda pada pasien-pasien haemofilia, dimana terjadi perdarahan
pada ruangan sendi.
III.4 Penebalan dinding sinus dengan sklerotik
Gambaran semacam ini biasanya didapatkan pada kasus-kasus
sinusitis kronik. Pada penebalan dinding sinus, maka pada x-foto Waters
tampak sebagai gambaran dense pada sinus, hal ini disebabkan karena
sklerotik dinding sinus yang disebabkan oleh infeksi kronik. Pada sinus

17

frontalis tampak sebagai penebalan batas dinding sinus yang biasanya pada
gambaran foto sinus normal berbentuk garis tipis.
X-foto Waters tidak dapat membedakan antara penebalan mukosa
dan gambaran fibrotik beserta pemebntukan jaringan parut, dimana hanya
tampak sebagai penebalan dinding sinus. CT Scan dengan penyuntikan
kontras dimana apabila terjadi enhance menunjukkan adanya inflamasi
aktif, tetapi bila tidak terjadi enhance, biasanya jaringan fibrotik dan
jaringan parut.
Sinusitis bakterial sering terjadi asimetris dimana satu sinus atau
lebih dari satu sinus secara unilateral terserang. Bila sisi kontralateral
terserang, sering terlihat asimetri dalam tingkatan atau lokasi anatomis.
Sebagai pembanding, apabila pada sinusitis alergika daerah sinus
paranasalis yang terserang selalu simetris, biasanya disertai poliposis
nasal.

18

BAB IV
KESIMPULAN
Untuk menegakkan diagnosis sinusitis, paling sedikit ada 4 hal yang
harus diperhatikan, yaitu:
a. Gejala sinusitis (subyektif)
b. Tanda sinusitis (obyektif)
-

Nyeri tekan daerah sinus yang terinfeksi

Pada perkusi di daerah sinus yang terinfeksi, terdapat tenderness

c. Transilluminasi
Dengan pemeriksaan ini akan tampak gambaran gelap pada daerah sinus
yang mengalami infeksi.
d. X - Foto Waters
Pada pemeriksaan X-foto Waters akan tampak perselubungan radio
opaque. Gambaran radiopaque menunjukkan adanya sinus terisi cairan dan
penebalan mukosa pada sinus yang terinfeksi serta adanya gambaran air
fluid level.
Pemeriksaan ini dapat dilakukan bila pemeriksa ingin mendapatkan
konfirmasi adanya air fluid level pada sinusitis akut. Selain itu,
pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk mengevaluasi ukuran serta
integritas antara sinus-sinus paranasal.
Pada X-Foto Waters kasus sinusitis akan tampak empat gambaran
sebagai berikut :
1. Penebalan mukosa
2. Perselubungan homogen atau tidak homogen pada satu atau lebih sinus
paranasal.
3. Air fluid level (kadang-kadang)
4. Penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-kasus kronik)
Namun, pemeriksaan ini mulai tergeser dengan pemeriksaan
menggunakan CT Scan. Hal ini terjadi karena dengan pemeriksaan CT

19

Scan, pemeriksa akan mendapatkan gambaran yang lebih spesifik lagi


sehingga tidak terlalu banyak diagnosis banding.
Pada X-foto Waters, dengan gambaran radiologik yang berupa
perselubungan, masih didapatkan beberapa kemungkinan diagnosis selain
sinusitis. Kemungkinan tersebut adalah kista retensi yang luas, polip pada
ruang sinus, polip antrokonatal, mukokel, dan tumor. Namun, dengan
pemeriksaan menggunakan CT-Scan kepala, kelainan-kelaianan tersebut
dapat dibedakan.
Karena itulah, untuk lebih memastikan diagnosis sinutitis,
kadangkala

masih

diperlukan

pemeriksaan

penunjang

lainnya.

Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut diantaranya adalah :

Cranial Computed Tomography (CT) Scan

Cranial Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Aspirasi sinus dan kultur untuk mendapatkan informasi


mengenai bakteria

penyebab

Fiberoptic untuk melihat sinus

20

DAFTAR PUSTAKA

Braunwald, Eugene; Fauci, Anthony et al. Harrison Principles of Internal


Medicine. 15th ed. New York : McGraw Hill Companies, 1994; 188-189
Marnansjah Daini Rachman. In: Radiologi Diagnostik. Edisi ketujuh. Jakarta :
Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran UI, 2001 ; 414 416
Moch. Subagyo Singgih. In: Kumpulan Kuliah Radiologi. Edisi Pertama.
Surabaya : Bagian Radiologi RSU dr Soetomo, 1989 ; 62 - 63
Peter A. Higler. In :

Boies Fundamentals of Otolaryngology. Edisi keenam.

Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1997 ; 240 - 247


Philip W. Ballinger : Merrils Atlas of Radiographic Positions and Radiologic
Procedures, vol 2, 5th ed. C.V. Mosby Company 1982; 468, 514-515.
www.healthatoz.com/healtatoz/atoz/ency/sinusitis.html

21