Anda di halaman 1dari 3

Pencemaran Air Cairan (Bahan Buangan Cairan Berminyak)

Minyak tak dapat larut di dalam air, tapi hanya mengapung di atas
permukaannya. Akibatnya buangan ini akan menutupi permukaan air. Bila buangan
cairan berminyak ini mengandung senyawa yang volatil, makan akan terjadi
penguapan dan luasan permukaan minyak yang menutupi permukaan air akan
menyusut. Penyusutan ini tentu tergantung pada jenis minyak dan waktunya. Lapisan
minyak yang menutupi juga dapat terdegradasi oleh mikroorganisme tertentu, namun
memerlukan waktu yang cukup lama. Lapisan minyak di permukaan air lingkungan
akan menganggu kehidupan organisme di dalam air. Hal ini disebabkan oleh:
a. Lapisan minyak di permukaan air akan menghalangi oksigen dari udara ke dalam
air, sehingga jumlah oksigen terlarut di dalam air menjadi berkurang dan
mengganggu kehidupan hewan air.
b. Lapisan minyak di permukaan air juga akan menghalangi masuknya sinar
matahari ke dalam air sehingga fotosintesis oleh tanaman air tidak dapat
berlangsung. Akibatnya, oksigen yang seharusnya dihasilkan dari fotosintesis
tersebut tidak terjadi, kandungan oksigen di dalam air pun akan semakin
menurun. Air lingkungan yang telah tercemar buangan minyak, tidak dapat
dikonsumsi manusia, karena bisa jadi mengandung zat-zat beracun yang
berbahaya bagi tubuh, seperti senyawa Benzen, Toluen, dan lainnya.
Selain dari pada itu, air yang telah tercemar oleh minyak juga tidak dapat
dikonsumsi oleh manusia karena seringkali dalam cairan yang berminyak terdapat
juga zat-zat yang beracun, seperti senyawa benzene, senyawa toluene dan lain
sebagainya.
Contohnya yaitu tumpahan minyak bumi di laut. Hal ini tentu mencemari
lingkungan. Komponen minyak yang tidak dapat larut di dalam air akan mengapung
yang menyebabkan air laut berwarna hitam. Beberapa komponen minyak tenggelam
dan terakumulasi di dalam sedimen sebagai deposit hitam pada pasir dan batuanbatuan di pantai. Akibat pencemaran ini yaitu pertumbuhan fitoplankton laut akan
terhambat akibat keberadaan senyawa beracun dalam komponen minyak bumi, juga
senyawa beracun yang terbentuk; penurunan populasi alga dan protozoa akibat
kontak dengan racun slick (lapisan minyak di permukaan air); rusaknya estetika
pantai akibat bau dari material minyak. Residu berwarna gelap yang terdampar di
pantai akan menutupi batuan, pasir, tumbuhan dan hewan; dan kerusakan biologis,
bisa merupakan efek letal dan efek subletal (efek letal yaitu reaksi yang terjadi saat
zat-zat fisika dan kimia mengganggu proses sel ataupun subsel pada makhluk hidup
hingga kemungkinan terjadinya kematian, sedangkan efek subletal yaitu
mepengaruhi kerusakan fisiologis dan perilaku namun tidak mengakibatkan

kematian secara langsung). Bahwa dampak-dampak yang disebabkan oleh


pencemaran minyak di laut adalah akibat jangka pendek dan akibat jangka panjang.
1.

Akibat jangka pendek


Molekul hidrokarbon minyak dapat merusak membran sel biota laut,
mengakibatkan keluarnya cairan sel dan berpenetrasinya bahan tersebut ke
dalam sel. Secara langsung minyak menyebabkan kematian pada ikan karena
kekurangan oksigen, keracunan karbon dioksida, dan keracunan langsung oleh

2.

bahan berbahaya.
Akibat jangka panjang
Lebih banyak mengancam biota muda. Minyak di dalam laut dapat
termakan oleh biota laut. Secara tidak langsung, pencemaran laut akibat minyak
mentah dengan susunannya yang kompleks dapat membinasakan kekayaan laut
dan mengganggu kesuburan lumpur di dasar laut.

Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ burning,


penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent dan penggunaan bahan
kimia dispersan.Setiap teknik ini memiliki laju penyisihan minyak berbeda dan hanya
efektif pada kondisi tertentu.
1. In-situ burning, adalah pembakaran minyak pada permukaan air sehingga
mampu mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut,
penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi, yang
dijumpai dalam teknik penyisihan secara fisik. Cara ini membutuhkan
ketersediaan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau
barrier yang tahan api.
2. Penyisihan minyak secara mekanis,

melalui dua tahap yaitu melokalisir

tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan pemindahan minyak


ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebut
skimmer.
3. Bioremediasi, yaitu mempercepat proses yang terjadi secara alami, misalkan
dengan menambahkan nutrien, sehingga terjadi konversi sejumlah komponen
menjadi produk yang kurang berbahaya seperti CO2 , air dan biomass.
4. Sorbent, melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pada permukaan
sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini
berfungsi mengubah fasa minyak dari cair menjadi padat sehingga mudah
dikumpulkan

dan

disisihkan.

Sorbent

harus

memiliki

karakteristik

hidrofobik,oleofobik dan mudah disebarkan di permukaan minyak, diambil


kembali dan digunakan ulang.
Dispersan kimiawi, yaitu dengan memecah lapisan minyak menjadi tetesan
kecil (droplet) sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke
dalam tumpahan.

Fakhruddin. 2004. Dampak Tumpahan Minyak Pada Biota Laut. Jakarta: Kompas
Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta. 2014. Komponen
Pencemaran

Air.

(Online),

(http://jakartapedia.bpadjakarta.net/index.php/Komponen_Pencemaran_Air)
diakses 17 September 2015
Ardhitia Putra, Galuh. 2011. Pencemaran Air (Laut) karena Limbah Industri Minyak.
(Online),

(http://galuhadhitiaputra.blogspot.co.id/2011/10/pencemaran-air-

laut-karena-limbah.html) diakses 17 September 2015


Anonim. 2014. Cara Menanggulangi Tumpahan Minyak Di Laut. (Online),
(http://www.maritimeworld.web.id/2014/04/cara-menanggulangi-tumpahanminyak-di-laut.html) diakses 17 September 2015