Anda di halaman 1dari 7

Nama

Nim/ bp
Prodi

PENILAIAN ALTERNATIIF DAN PENILAIAN AUTENTIK

A. Pengetian penilaian alternatif (Alternative Assessment)


Asesmen alternatif (Alternative Assessment), ialah alternatif pengukuran atau evaluasi hasil
belajar mahasiswa yang lain daripada uji tradisional yang sudah baku, yang menggunakan
standar penilaian tertentu, misalnya Penilaian Acuan Patokan (PAP) yang menetapkan batas lulus
(passing grade) sebelum ujian dilakukan, atau Penilaian Acuan Norma (PAN) yang menetapkan
batas lulus sesudah ujian, yaitu menggunakan rata-rata kelas pada kurva normal. Kedua cara
penilaian tersebut menggunakan ujian essay atau multiple choice, atau yang lazim disebut
pengukuran menggunakan kertas dan pensil (paper and pencil test). Kedua instrumen / alat uji
tersebut terdiri atas pertanyaan kepada mahasiswa yang sudah ada jawabannya yang benar.

B. PENGERTIAN PENILAIAN AUTENTIK (AUTHENTIC ASSESSMENT )


Asesmen autentik (Authentic Assessment) adalah salah satu bentuk atau sinonim asesmen
alternatif. Suatu penilaian dikatakan otentik apabila secara langsung diukur (diamati) perilaku
mahasiswa mengerjakan tugas intelektual yang penting. Sebaliknya, asesmen tradisional
bergantung pada sesuatu yang tak langsung atau bentuk substitusinya yang disederhanakan, yang
mungkin dapat ditarik inferensi yang valid tentang kinerja mahasiswa pada tantangan bernilai
itu.
Hakikat penilaian pendidikan menurut konsep authentic assesment ini adalah proses
pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.
Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa
siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru
mengindikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, guru segara bisa mengambil
tindakan yang tepat. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang
proses pembelajaran, asesmen tidak hanya dilakukan di akhir periode (semester) pembelajaran
seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti EBTA/Ebtanas/UAN), tetapi dilakukan
bersama dan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.

Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran
sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Karena, asesmen semacam ini mampu menggambarkan
peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba,
membangun jejaring, dan lain-lain. Asesmen autentik cenderung fokus pada tugas-tugas
kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi
mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. Karenanya, asesmen autentik sangat relevan
dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya jenjang sekolah dasar atau
untuk mata pelajaran yang sesuai.

Asesmen tradisional (tes)


1. Penilaian dilakukan untuk menilai
kemampuan siswa dalam memberikan
jawaban yang benar.
2.
Tes yang diberikan tidak
berhubungan dengan realitas kehidupan
siswa.
3. Tes terpisah dari pembelajaran yang
dilakukan siswa.
4.
Dapat diskor dengan reliabilitas
tinggi.
5.
Hasil tes diberikan dalam bentuk
skor.

Asesmen alternatif
1. Penilaian dilakukan untuk menilai kualitas
produk dan unjuk kerja siswa.
2. Tugas yang diberikan berhubungan dengan
realitas kehidupan siswa.
3. Ada integrasi antara pengetahuan dengan kinerja
atau produk yang dihasilkan.
4.
Sulit diskor dengan reliabilitas tinggi.
5. Hasil asesmen alternatif diberikan dengan bukti
kinerja.

Keunggulan asesmen alternatif antara lain:


a. Dapat menilai hasil belajar yang kompleks dan keterampilan-keterampilan yang tidak dapat
dinilai dengan asesmen tradisional.
b. Menyajikan hasil penilaian yang lebih hakiki, langsung, dan lengkap.
c. Meningkatkan motivasi siswa. .
d. Mendorong pembelajaran dalam situasi yang nyata.
e. Memberi kesempatan kepada siswa untuk selfevaluation.
f. Membantu guru untuk menilai efektifitas pembelajaran yang telah dilakukan.
g. Meningkatkan daya transferabilitas hasil belajar.
Kelemahan Asesmen alternatif:
a. Membutuhkan banyak waktu
b. Adanya unsur subjektivitas dalam penskoran
c. Ketetapan penskoran rendah
d. Tidak tepat untuk kelas besar
C. BENTUK- BRNTUK PENILAIAN ALTERNATIF

Penilaian alternatif mengambil banyak bentuk, sesuai dengan sifat keterampilan dan
pengetahuan yang sedang dinilai. Siswa biasanya diminta untuk menunjukkan pembelajaran
dengan menciptakan sebuah produk, seperti pameran atau presentasi lisan, atau melakukan
suatu keterampilan, seperti melakukan sebuah eksperimen atau demonstrasi.
Empat variasi penilaian alternatif adalah penilaian kinerja, penilaian portofolio, penilaian
proyek dan penilaian investigasi. Dalam situasi tertentu, lebih dari satu bentuk mungkin
terlibat. Sebuah deskripsi singkat dari masing-masing uraian sebagai berikut :
1. Penilaian Kinerja (performance assessment)
Performance assessment merupakan penilaian dengan berbagai macam tugas dan situasi
dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan mengaplikasikan
pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks. Jadi
boleh dikatakan bahwa perfeformance assessment adalah suatu penilaian yang meminta
peserta tes untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan ke dalam berbagai
macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan.
Istilah ini mengacu pada berbagai kegiatan penilaian guru yang memberikan kesempatan
untuk mengamati siswa menyelesaikan tugas-tugas dengan menggunakan keterampilan yang
sedang dinilai.
Sebagai contoh di kelas sains, daripada mengambil tes pilihan ganda tentang eksperimen
ilmiah, siswa benar-benar melakukan percobaan laboratorium dan menulis tentang proses dan
pilihan-pilihan mereka dalam laporan laboratorium.
Tujuan tugas dalam penilaian unjuk kerja adalah untuk mengetahui apakah yang
diketahui siswa dan apakah yang mereka lakukan. Penilaian unjuk kerja bisa dimulai secara
perlahan dan teratur. Akan tetapi karena penilaian unjuk kerja menilai pemahaman siswa,
maka lebih baik mengunakan penilaian dengan komentar dari pada nilai numerik. Sebab nilai
memberi kesan pada siswa bahwa pekerjaan itu berhasil, sebagian, atau tidak sama sekali.
Komentar guru dapat memberikan pandangan pada siswa akan pemahamannya dan
merupakan dasar pekerjaan berikutnya.
Langkah langkah penilaian kinerja
1. Melakukan identifikasi terhadap langkah-langkah penting yang diperlukan atau yang
akan mempengaruhi hasil akhir (output) yang terbaik.
2. Menuliskan perilaku kemampuan kemampuan spesifik yang penting dan diperlukan
untuk menyelesaikan tugas dan menghasilkan hasil akhir yang terbaik.

3. Membuat kriteria kriteria kemampuan yang akan diukur jangan terlalu banyak sehingga
semua kriteria tersebut dapat diobservasi selama siswa melaksanakan tugas.
4. Mendefinisikan kriteria kemampuan kemampuan yang akan diukur berdasarkan
kemampuan siswa yang harus dapat diamati (observable) atau karakteristik produk yang
dihasilkan.
5. Urutkan kroteria kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat
diamati.

2. Penilaian Portofolio.
Penilaian portofolio adalah proses yang berkesinambungan yang melibatkan siswa dan guru
dengan memilih sampel karya siswa untuk dimasukkan dalam koleksi, tujuan utamannya adalah
untuk kemajuan siswa. Portofolio merupakan kumpulan atau berkas pilihan yang dapat
memberikan informasi bagi suatu penilaian.
Portofolio biasanya terdiri dari pekerjaan yang telah menyelesaikan lebih dari satu periode
penilaian atau semester. Guru menggunakan portofolio mengharuskan mahasiswa untuk
meninjau pekerjaan mereka dan memilih item yang paling menunjukkan bahwa tujuan
pembelajaran telah dipenuhi. Sering kali siswa juga menulis esai merefleksikan apa yang telah
mereka pelajari, termasuk proses-proses mereka telah digunakan untuk memenuhi tujuan
mereka. Portofolio dapat berbasis kertas, berbasis komputer, atau kombinasi keduanya. Pada
akhirnya, mereka harus dinilai terhadap seperangkat kriteria yang telah ditetapkan dan akan
memberikan bukti pembelajaran yang telah terjadi dari waktu ke waktu.
Dalam penilaian kelas, portofolio dapat digunakan untuk mencapai beberapa tujuan, antara lain :

Menghargai perkembangan yang dialami siswa.

Mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung.

Memberi perhatian pada prestasi kerja siswa yang terbaik.

Merefleksikan kesanggupan mengambil resiko dan melakukan eksperimentasi.

Meningkatkan efektifitas proses pengajaran.

Bertukar informasi dengan orangtua/wali siswa dan guru lain.

Membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri positif pada siswa.

Meningkatkan kemampuan melakukan refleksi diri, dan membantu siswa dalam


merumuskan tujuan.

Contoh penilaian portofolio :


1. Siswa diminta membuat rancangan pengamatan (dibantu dengan lembar kerja dari guru)
mengenai materi-materi selama satu semester yang akan diberlakukan eksperimentasi.
2. Melakukan kegiatan eksperimentasi sesuai dengan alokasi (waktu pokok bahasan )
dengan yang direncanakan.
3. Membuat suatu hasil pengamatan perpokok bahasan yang dieksperimenkan dan mencari
tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap percobaannya.
4. Siswa diminta melakukan diskusi tentang hasil percobaan tersebut.
3. Penilaian proyek
Proyek merupakan cara yang tepat untuk melibatkan siswa lebih jauh dalam penyelesaian
masalah. Proyek dapat melibatkan siswa dalam situasi terbuka yang memberikan hasil yang
beragam, atau mengiring murid untuk memikirkan pertanyaan atau hipotesis yang membutuhkan
penelusuran (investigasi) lebih jauh. Dengan kata lain proyek yang dimaksud berfokus pada
konsep dan prinsip inti sebuah disiplin yang memfasilitasi siswa untuk berinvestigasi,
pemecahan masalah, dan tugas-tugas bermakna lainnya yang dapat menghasilkan suatu produk
nyata. Proyek yang terlibat dalam konsep pemecahan masalah dapat digunakan siswa untuk
menggali, belajar, berfikir, dan mencari ide yang mengembangkan pemahaman mareka dalam
semua konsep penting dari suatu pembelajaran.
Sedangkan menurut keputusan menteri (Kepmen) No.53/4/2001 tentang Pedoman Penyusunan
Standar Pelayanan Minimal Penyelenggaraan Persekolahan Bidang Pendidikan Dasar dan
Menengah (DIKDASMEN), Proyek mempunyai pengertian:
a. Akumulasi tugas yang mencakup beberapa kompetensi dan harus diselesaikan oleh
peserta didik (pada akhir semester).
b. Suatu model pembelajaran yang diadopsi untuk mengukur dan menilai ketercapaian
kompetensi secara kumulatif.
c. Merupakan suatu model penilaian diharapkan untuk menuju profesionalisme.
d. Lingkup kegiatan yang dilakukan dari membuat proposal, persiapan, pelaksanaan
(proses) sampai dengan kegiatan kulminasi (penyajian, pengujian dan pameran).
Adapun contoh proyek (matematika diluar kelas) adalah seperti hal-hal yang berkaitan dengan
Statistika, Geometri, Trigonometri (tinggi gedung, perkiraan luas dan sebagainya). Lebih lanjut
salah satu contoh instrument (kegiatan) penilaian proyek dalam pembelajaran matematika.

4. Penilaian Investigasi
Menurut laporan dari Cockcroft (dalam Evans, 1987) bahwa investigasi merupakan kegiatan
pembelajaran yang memberikan kemungkinan kepada siswa untuk mengembangkan pemahaman
siswa melalui berbagai kegiatan. Kegiatan belajar dimulai dengan diberikan masalah-masalah
yang diberikan oleh guru, sedangkan kegiatan belajar selanjutnya cenderung terbuka, artinya
tidak terstruktur secara ketat oleh guru, yang dalam pelaksanaannya mengacu pada berbagai teori
investigasi.
Menurut Height (dalam Krismanto, 2004), investigasi berkaitan dengan kegiatan mengobservasi
secara rinci dan menilai secara sistematis. Jadi, investigasi adalah proses penyelidikan yang
dilakukan seseorang/kelompok, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil
perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu
investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil. Dengan kata lain bahwa investigasi adalah
kegiatan menyebar (divergen activity) dimana para siswa lebih diberikan kesempatan untuk
memikirkan, mengembangkan, menyelidiki hal-hal menarik yang mengusik rasa keingintahuan
mereka.
Langkah-langkah pembelajaran investigasi menurut Vui (2001):
1. Pendahuluan dengan masalah. Buatlah siswa tertarik dengan memotivasi yang baik dan
membuat situasi yang dapat membangkitkan semangat.
2. Mengklarifikasi masalah. Gunakan pertanyaan untuk menggambarkan pertanyaan
matematika yang pokok yang terdapat dalam masalah.
3. Mendisain Investigasi. Guru membimbing siswa, baik secara individual maupun
kelompok untuk memilih pemecahan masalah yang tepat yang paling memuaskan.
Contoh: Apa yang akan kita cari dari masalah itu? Bagaimana kita dapat mencoba untuk
memecahkan masalah? Apa pemecahan masalah yang tepat yang mungkin berguna?
4. Melaksanakan investigasi. Para siswa membuat dan menguji hipotesis, mendiskusikan
dan guru harus memberi pertanyaanpertanyaan untuk membimbing siswa.
5. Merangkum pembelajaran. Para siswa membutuhkan waktu untuk mempresentasikan
temuan mereka dan menjelaskan beberapa teori yang dimiliki siswa mengenai
temuannya.

Anda mungkin juga menyukai