Anda di halaman 1dari 22

Makalah Sedimentasi Material Asal Batubara

TUGAS INDIVIDUAL
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Geologi Batubara

Disusun Oleh:
Ridho Taufanadhie Priambodo
270110130113
Teknik Geologi A

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI


1

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN

Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan taufik
dan hidayahnya dan memberi kenikmatan yang tiada henti, baik nikmat
jasmani dan nikmat rohani, sehingga penulis dapat menyusun makalah yang
berjudul Sedimentasi Material Asal Batubara

yang Inshaa Allah sesuai

dengan yang diharapkan oleh para pembaca.


Dalam penulisan makalah ini, penulis mengucapkan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu, dosen, orangtua, pacar,
serta rekan-rekan yang sudah memberi dukungan dan motivasi kepada
penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya
Penyusunan makalah ini tentunya masih banyak kekurangan dan
kesalahan baik dalam pemahaman atau penulisan, sangat besar harapan
penulis ada saran atau kritik dari Bapak Ibu selaku dosen Fakultas Teknik
Geologi Universitas Padjajaran, teman-teman, serta para pembaca yang
bersifat membangun demi perbaikan penulisan makalah yang selanjutnya.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca, terutama bagi penulis,
Aamiin.

Bandung, 24 September 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar........................................................................................................... 2
BAB I. PENDAHULUAN................................................................................................. 4
1. Latar Belakang.................................................................................................... 4
2. Manfaat Makalah................................................................................................. 4
3. Tujuan Makalah.................................................................................................... 5
4. Metode Penulisan................................................................................................ 5
BAB II. ISI.................................................................................................................... 6
A. Pengertian Batubara........................................................................................... 6
B. Material Asal Pembentuk Batubara.....................................................................7
C. Proses Pembentukan Endapan Sedimenter Pembentuk Batubara.......................7
D. Proses Pembentukan Batubara...........................................................................8
E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Batubara..............................10
1. Posisi Geotektonik.......................................................................................... 11
2. Morfologi (Topografi)...................................................................................... 11
3. Iklim............................................................................................................... 11
4. Penurunan...................................................................................................... 11
5. Umur Geologi................................................................................................. 11
6. Tumbuhan...................................................................................................... 12
8. Sejarah sesudah pengendapan......................................................................12
9. Struktur cekungan batubara..........................................................................13
10. Metamorfosa organik................................................................................... 13
F. Lingkungan Pengendapan Batubara..................................................................13
3

G. Proses Pengangkutan dan Pengendapan Batubara...........................................16


1. Proses Pengangkutan Batubara......................................................................16
2. Proses Pengendapan Batubara (Pembatubaraan)..........................................17
BAB III. KESIMPULAN................................................................................................. 19
Daftar Pustaka.......................................................................................................... 20

BAB I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Batubara merupakan salah satu sumber energi primer yang memiliki
riwayat pemanfaatan yang sangat panjang. Beberapa ahli sejarah yakin
bahwa batubara pertama kali digunakan secara komersial di Cina. Ada
laporan yang menyatakan bahwa suatu tambang di timur laut Cina
menyediakan batu bara untuk mencairkan tembaga dan untuk mencetak
uang logam sekitar tahun 1000 SM. Bahkan

petunjuk paling awal

tentang batubara ternyata berasal dari filsuf dan ilmuwan Yunani yaitu
Aristoteles, yang menyebutkan adanya arang seperti batu. Abu batubara
yang ditemukan di reruntuhan bangunan bangsa Romawi di Inggris juga
menunjukkan bahwa batubara telah digunakan oleh bangsa Romawi pada
tahun 400 SM.
Catatan sejarah dari Abad Pertengahan memberikan bukti pertama
penambangan

batu

bara

di

Eropa,

bahkan

suatu

perdagangan

internasional batu bara laut dari lapisan batu bara yang tersingkap di
pantai Inggris dikumpulkan dan diekspor ke Belgia. Selama Revolusi
Industri pada abad 18 dan 19, kebutuhan akan batubara amat
mendesak. Penemuan revolusional mesin uap oleh James Watt, yang
dipatenkan pada

tahun 1769, sangat berperan dalam pertumbuhan


4

penggunaan batu bara.

Oleh karena itu, riwayat penambangan dan

penggunaan batu bara tidak dapat dilepaskan dari sejarah Revolusi


Industri, terutama terkait dengan produksi besi dan baja, transportasi
kereta api dan kapal uap.

2. Manfaat Makalah

Dapat mengerti dan memahami apa itu pengertian mengenai

batubara
Dapat mengerti

material asal batubara


Dapat mengerti dan memahami bagaimana proses pengangkutan

dan

memahami

proses

dari

pembentukan

dan pengendapan dari material asal batubara serta lingkungan


pengendapannya

3. Tujuan Makalah

Membantu para geologist dalam mempelajari asal usul mengenai

sedimentasi material asal batubara


Membuat pembaca mengerti apa itu batubara, serta proses dari
pembentukannya,

proses

batubara,

memahami

serta

pengendapan batubara.

pengangkutan
dalam

dan

membaca

pengendapan
lingkungan

4. Metode Penulisan
Metode pengambilan data yang penulis gunakan adalah studi
literatur

dengan

mengumpulkan

data-data

yang

mendukung

dari

berbagai sumber seperti yang bersumber dari internet, buku, dan


beberapa catatan ilmiah yang berhubungan dengan kajian dalam
makalah ini dan pengembangan ide suatu ilmu yang dimiliki oleh
penyusun, baik dari segi bahasa maupun istilah yang beredar di
masyarakat yang mendukung materi dalam makalah ini.

BAB II. ISI


A. Pengertian Batubara
Sebelum memulai materi mengenai sedimentasi material asal batubara,
alangkah baiknya kita memahami dulu apa itu yang disebut batubara.
Batubara adalah bahan bakar fosil. Batubara dapat terbakar, terbentuk dari
endapan, batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan
oksigen.
Batubara terbentuk dari tumbuhan yang telah terkonsolidasi antara
strata batuan lainnya dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan
panas selama jutaan tahun sehingga membentuk lapisan batubara. Mendapat
pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun, batu
bara muda mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas
organiknya dan mengubah batu bara muda menjadi batu bara sub-bitumen.
Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi
lebih keras dan warnanya lebh hitam dan membentuk bitumen atau antrasit.

Dalam kondisi yang tepat, penigkatan maturitas organik yang semakin tinggi
terus berlangsung hingga membentuk antrasit.
Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan
hanya terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon,
kira-kira 340 juta tahun yang lalu (jtl), adalah masa pembentukan batu bara
yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit batu bara (black coal)
yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk.
Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga terbentuk endapan-endapan
batu bara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia,
dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13 jtl) di berbagai
belahan bumi lain.

B. Material Asal Pembentuk Batubara


Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. Berikut
ini adalah jenis-jenis tumbuhan pembentuk batu bara dan umurnya menurut
Diessel (1981) sebagai berikut:

Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal.

Sangat sedikit endapan batu bara dari perioda ini.


Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan

dari alga. Sedikit endapan batu bara dari perioda ini.


Pteridofita, umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Materi utama
pembentuk batu bara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara.
Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan
tumbuh di iklim hangat.

Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur


Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal

pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis


Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris

adalah

penyusun utama batu bara Permian seperti di Australia, India dan

Afrika.
Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan
modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga,
kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum,
kurang dapat terawetkan.

C. Proses Pembentukan Endapan Sedimenter Pembentuk


Batubara
Mineral bijih sedimenter adalah mineral bijih yang ada kaitannya dengan
batuan sedimen, dibentuk oleh pengaruh air, kehidupan, udara selama
sedimentasi, atau pelapukan maupun dibentuk oleh proses hidrotermal.
Mineral bijih sedimenter umumnya mengikuti lapisan (stratiform) atau
berbatasan dengan litologi tertentu (stratabound). Endapan sedimenter yang
cukup terkenal karena proses mekanik seperti endapan timah letakan di
daerah Bangka-Belitung dan endapan emas placer di Kalimantan Tengah
maupun Kalimantan Barat.

Endapan sedimenter karena pelapukan kimiawi seperti endapan bauksit


di Pulau Bintan dan laterit nikel di Pomalaa/Soroako Sulawesi Tengah/
Selatan. Y. B. Chaussier (1979), membagi pembentukan mineral sedimenter
berdasarkan sumber metal dan berdasarkan host rock-nya. Berdasarkan
sumber metal dibagi dua yaitu endapan supergen endapan yang metalnya
berasal dari hasil rombakan batuan atau bijih primer), serta endapan hipogen
(endapan yang metalnya berasal dari aktivitas magma/epithermal). Sedangkan
berdasarkan host-rock (dengan pengendapan batuan sedimen) dibagi dua,
yaitu endapan singenetik (endapan yang terbentuk bersamaan dengan
terbentuknya batuan) serta endapan epigenetik (endapan mineral terbentuk
setelah batuan ada).
Terjadinya endapan atau cebakan mineral sekunder dipengaruhi empat
faktor yaitu : sumber dari mineral, metal atau metaloid, supergene atau
hypogene (primer atau sekunder), erosi dari daerah mineralisasi yang
kemudian diendapkan dalam cekungan (supergene), dari biokimia akibat
bakteri, organisme seperti endapan diatomae, batubara, dan minyak bumi,
serta dari magma dalam kerak bumi atau vulkanisme (hypogene).

D. Proses Pembentukan Batubara


Dalam proses pembentukan batubara, dikarenakan komposisi batubara
hampir

sama

dengan

komposisi

kimia

jaringan

tumbuhan,

keduanya

mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C, H, O, N, S, P. Hal ini


dapat dipahami, karena batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang
telah mengalami coalification.

Pada dasarnya pembentukkan batubara sama dengan cara manusia


membuat arang dari kayu, perbedaannya, arang kayu dapat dibuat sebagai
hasil rekayasa dan inovasi manusia, selama jangka waktu yang pendek,
sedang batubara terbentuk oleh proses alam, selama jangka waktu ratusan
hingga ribuan tahun. Karena batubara terbentuk oleh proses alam, maka
banyak parameter yang berpengaruh pada pembentukan batubara. Makin
tinggi intensitas parameter yang berpengaruh makin tinggi mutu batubara
yang terbentuk.
Dalam pembentukan batubara pun terdapat dua teori yang berbeda
mengenai asal usul terbentuknya batubara, yaitu:

1. Teori Insitu
Teori ini menyatakan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara
terbentuknya ditempat dimana tumbuh-tumbuhan asal itu berada. Dengan
demikian

setelah

tumbuhan

tersebut

mati,

belum

mengalami

proses

transportasi, segera tertimbun oleh lapisan sedimen dan mengalami proses


coalification. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai
penyebaran luas dan merata, kualitasnya lebih baik karena kadar abunya
relatif kecil, Dapat dijumpai pada lapangan batubara Muara Enim di Sumatera
Selatan.

2. Teori Drift
Teori ini menyatakan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara
terbentuknya ditempat yang berbeda dengan tempat tumbuh-tumbuhan asal
itu berada. Dengan demikian setelah tumbuhan tersebut mati, diangkut oleh
10

media air dan berakumulasi disuatu tempat, segera tertimbun oleh lapisan
sedimen dan mengalami proses coalification. Jenis batubara yang terbentuk
dengan cara ini mempunyai penyebaran tidak luas tetapi dijumpai dibeberapa
tempat, kualitasnya kurang baik karena banyak mengandung material
pengotor yang terangkut bersama selama proses pengangkutan dari tempat
asal tanaman ke tempat sedimentasi. Dapat dijumpai pada lapangan batubara
delta Mahakam Purba, Kaltim.

skema proses pembentukan batubara

E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Batubara

11

Dalam proses pembentukan batubara, terdapat banyak factor yang


mempengaruhinya, factor-faktor tersebut akan mempengaruhi bagaimana
batubara tersebut akan tersebut nantinya, seperti factor dapat mempengaruhi
kecepatan pembentukan batubara, kejernihan batubara, serta lainnya. Berikut
adalah factor-faktor yang mempengaruhi batubara, yaitu:
1. Posisi Geotektonik

Merupakan suatu tempat yang keberadaannya dipengaruhi gaya-gaya


tektonik lempeng. Posisi ini mempengaruhi iklim lokal dan morfologi cekungan
pengendapan batubara maupun kecepatan penurunannya.
2. Morfologi (Topografi)

Morfologi dari cekungan pada saat pembentukan gambut sangat penting


karena

menentukan

penyebaran

rawa-rawa

dimana

batubara

tersebut

terbentuk.
3. Iklim

Kelembaban memegang peranan penting dalam pembentukan batubara


dan merupakan faktor pengontrol pertumbuhan flora dan kondisi yang sesuai.
Tergantung pada posisi geografi dan dipengaruhi oleh posisi geotektonik.
4. Penurunan

Dipengaruhi oleh gaya-gaya tektonik. Jika penurunan dan pengendapan


gambut seimbang akan dihasilkan endapan batubara tebal.
5. Umur Geologi

Posisi geologi menentukan berkembangnya evolusi kehidupan berbagai


macam tumbuhan. Dalam masa perkembangannya secara tidak langsung
membahas sejarah pengendapan batubara dan metamorfosa organik. Makin
tua umur batuan makin dalam penimbunan yang tejadi, sehingga terbentuk
batubara yang bermutu tinggi. Tetapi pada batubara yang mempunyai umur

12

geologi lebih tua selalu ada resiko mengalami deformasi tektonik yang
membentuk struktur perlipatan atau patahan pada lapisan batubara.
6. Tumbuhan

Flora merupakan unsur utama pembentuk batubara. Pertumbuhan dari


flora terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim dan
topografi tertentu, merupakan faktor penentu terbentuknya berbagai type
batubara.
7. Dekomposisi

Dekomposisi flora merupakan bagian dari transformasi biokimia dari


organik merupakan titik awal untuk seluruh alterasi. Dalam pertumbuhan
gambut, sisa tumbuhan akan mengalami perubahan baik secara fisik maupun
kimiawi. Setelah tumbuhan mati, proses degradasi biokimia lebih berperan.
Proses pembusukan (decay) akan terjadi oleh kerja mikrobiologi (bakteri
anaerob). Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen menghancurkan
bagian yang lunak dari tumbuhan seperti celulosa, protoplasma dan pati.
Dari proses diatas terjadi perubahan dari kayu menjadi lignit dan
batubara berbitumen. Dalam suasana kekurangan oksigen terjadi proses
biokimia yang berakibat keluarnya air (H2O) dan sebagian unsur karbon akan
hilang dalam bentuk karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO) dan
methan (CH4). Akibat pelepasan unsur atau senyawa tersebut jumlah relatif
unsur karbon akan bertambah. Kecepatan pembentukan gambut tergantung
pada kecepatan perkembangan tumbuhan dan proses pembusukan. Bila
tumbuhan tertutup oleh air dengan cepat, maka akan terhindar oleh proses
pembusukan,

tetapi

terjadi

proses

disintegrasi

atau

penguraian

oleh

mikrobiologi. Bila tumbuhan yang telah mati terlalu lama berada di udara
terbuka, maka kecepatan pembentukan gambut akan berkurang, sehingga
13

hanya bagian keras saja tertinggal yang menyulitkan penguraian oleh


mikrobiologi.
8. Sejarah sesudah pengendapan

Sejarah cekungan batubara secara luas bergantung pada posisi


geotektonik yang mempengaruhi perkembangan batubara dan cekungan
batubara. Secara singkat terjadi proses geokimia dan metamorfosa organik
setelah pengendapan gambut.
9. Struktur cekungan batubara

Terbentuknya batubara pada cekungan batubara umumnya mengalami


deformasi oleh gaya tektonik, yang akan menghasilkan lapisan batubara
dengan bentuk tertentu.
10. Metamorfosa organik

Tingkat kedua dalam pembentukan batubara adalah penimbunan atau


penguburan oleh sedimen baru. Pada tingkat ini proses degradasi biokimia
tidak berperan lagi tetapi lebih didominasi oleh proses dinamokimia. Proses ini
menyebabkan terjadinya perubahan gambut menjadi batubara dalam berbagai
mutu. Selama proses ini terjadi pengurangan air lembab, oksigen dan zat
terbang

(seperti

CO2,

CO,

CH4

dan gas lainnya)

serta

bertambahnya

prosentase karbon padat, belerang dan kandungan abu. Perubahan mutu


batubara diakibatkkan oleh faktor tekanan dan waktu. Tekanan dapat
disebabkan oleh lapisan sedimen penutup yang sangat tebal atau karena
tektonik.

F. Lingkungan Pengendapan Batubara


Batubara merupakan hasil dari akumulasi tumbuh-tumbuhan pada
kondisi lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi tersebut telah dikenai
pengaruh-pengaruh synsedimentary dan post-sedimentary. Akibat pengaruh14

pengaruh

tersebut

dihasilkanlah

batubara

dengan

tingkat

(rank) dan

kerumitan struktur yang bervariasi.


Lingkungan

pengendapan

batubara

dapat

mengontrol

penyebaran

lateral, ketebalan, komposisi, dan kualitas batubara. Untuk pembentukan


suatu endapan yag berarti diperlukan suatu susunan pengendapan dimana
terjadi produktifitas organik tinggi dan penimbunan secara perlahan-lahan
namun terus menerus terjadi dalam kondisi reduksi tinggi dimana terdapat
sirukulasi air yang cepat sehingga oksigen tidak ada dan zat organik dapat
terawetkan. Lingkungan pengendapan ini sendiri dapat ditinjau dari beberapa
aspek sebagai berikut:

Struktur cekungan batubara, yakni posisi di mana material dasar


diendapkan.

Strukturnya

cekungan

batubara

ini

sangat

berpengaruh pada kondisi dan posisi geotektonik


Topografi dan morfologi, yakni bentuk dan kenampakan dari
tempat cekungan pengendapan material dasar. Topografi dan
morfologi cekungan pada saat pengendapan sangat penting karena
menentukan penyebaran rawa-rawa di mana batubara terbentuk.

Topografi dan morfologi dapat dipengaruhi oleh proses geotektonik.


Iklim, yang merupakan faktor yang sangat penting dalam proses
pembentukan batubara karena dapat mengontrol pertumbuhan
flora atau tumbuhan sebelum proses pengendapan. Iklim biasanya
dipengaruhi oleh kondisi topografi setempat.

Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara
di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan

15

dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagunal,
deltaik, atau juga fluviatil.
Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan
utama pembentuk batubara (Tabel 2.1) yaitu gravelly braid plain, sandy braid
plain, alluvial valley and upper delta plain, lower delta plain, backbarrier
strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi
dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda.

Lingkungan Pengendapan Pembentuk Batubara


(Diesel, 1992)
Environment
Gravelly braid
plain

Sandy braid
plain

Alluvial valley
and upper delta
plain
Lower delta

Subenvironment

Coal Characteristics

Bars, channel, overbank

mainly dull coals,

plains, swamps, raised

medium to low TPI, low

bogs

GI, low sulphur

Bars, channel, overbank


plains, swamp, raised
bogs,
channels, point bars,
floodplains and basins,
swamp, fens, raised
bogs
Delta front, mouth bar,
16

mainly dull coals,


medium to high TPI,
low to medium GI, low
sulphur
mainly bright coals,
high TPI, medium to
high GI, low sulphur
mainly bright coals,

plain

splays, channel,

low to medium TPI,

swamps, fans and

high to very high GI,

marshes

high sulphur
transgressive : mainly
bright coals, medium

Off-, near-, and


Backbarrier

backshore, tidal inlets,

strand plain

lagoons, fens, swamp,


and marshes

TPI, high GI, high


sulphur
regressive : mainly dull
coals, low TPI and GI,
low sulphur

Estuary

channels, tidal flats,

mainly bright coal with

fens and marshes

high GI and medium


TPI

G. Proses Pengangkutan dan Pengendapan Batubara


1. Proses Pengangkutan Batubara

Tahap gambut merupakan syarat mutlak untuk pembentukan batubara.


Dalam tahap ini bisa disebut juga sebagai proses pengangkutan batubara,
dimana keadaan normal tumbuhan mati yang tersingkap di udara akan
hancur oleh proses oksidasi dan oleh organisme, terutama fungi dan bakteri
anaerob. Bila tumbuhan tertimbun dalam rawa sehingga jenuh air, maka
terdapat

beberapa

kemungkinan

perubahan.

Bakteri

aerobik

yang

membutuhkan oksigen akan segera matiseiring dengan berkurangnya oksigen


dalam rawa.

17

Sementara itu, bakteri anaerob yang tidak membutuhkan oksigen akan


muncul dengan fungsi yang sama, yaitu menguraikan unsur-unsur tanaman.
Jika keadaan air rawa tenang maka hasil kegiatan bakteri tidak akan hilang
dan terkumpul diatasnya. Akibatnya, lingkungan rawa menjadi tidak bersih,
aktifitas bakteri menjadi terbatasdan peruraian tumbuahan sisa kemudian
berhenti.
Pada tingkat ini hasilnya disebut peat (gambut). Jika gambut dialiri
air maka

bahan-bahan

penghambat

mejadi

hilang

terbawa

aliran

dan peruraian berlangsung lagi dan kemungkinan gambut tidak terbentuk.


Jika endapan gambuttidak teraliri lagi, akan tetapi terkubur oleh lapisan
sedimen halus yang sifatnya kedap air (impermeable) maka pengawetan
secara alami mungkin terjadi. Bila proses ini berlangsung berulang ulang
maka akan terbentuk perlapisan batubara.
Faktor-faktor lain yang mengontrol pembetukan gambut :

Kelembaban yang berlebihan (exces moisture)


Pengiriman zat makan (suply of nutrients)
Derajat keasaman atau alkalinitas
Potensial oksidasi reduksi (redoks).

Kelembaban

yang

berlebihan

menyebebkan

oksidasi

berjalan

pelan,

kecepatan dari pembusukan lambat dan gambut cenderung tertimbun terus.


Keasaman dari medium sekitardi pengaruhi oleh kandungan kapur ( CaCO 3 )
dalam air.
2. Proses Pengendapan Batubara (Pembatubaraan)

Proses

pembatubaraan

terjadi

karena

perubahan

atau

transformasi jaringan tanaman atau tumbuh tumbuhan yang menjadi


18

gambut melalui dua tahap utama, yaitu tahap biokimia atau diagenesa dan
tahap geokimia atau metamorfic.
a. Tahap biokimia atau diagenesa
Tumbuh

tumbuhan

terutama

tumbuhan

rawa

akan

terendapkan. Selama proses pengendapan akan terjadi perubahan atau


alterasi biokimia yang menghasilkan partial decay ( pembusukan sebagian )
menjadi humus. Perubahan ini disebabkan oleh uap air ( moisture ). Proses
oksidasi dan perubahan biologi menyebabkan terjadinya penguraian gas
karbondioksida serta unsur unsur oksigen dan hidrogen.
Di dalam humus yang tertumpuk selama ratusan tahun bahkan jutaan
tahun, unsur unsur karbon akan terkonsentrasi, sedangkan unsur hydrogen
dan oksigen akan terlepaskan. Akibat pengaruh tekanan, waktu dan suhu
subtropis ( agak dingin ) maka akumulasi unsur unsur karbon tersebut
terkompaksi dan akhirnya terbentuk gambut ( peat ) yang merupakan awal
mula dari pembentukan batubara.

b. Tahap geokimia atau metamorfic


Akibat

pengaruh

gambut maka akan

tekanan,

temperatur

dan

waktu

terjadi transformasi brown coal ( batubara

terhadap
muda

menjadi batubara sub-bituminous dan terakhir menjadi antrasit. Contoh salah


satu tahap geokimia yang terjadi pada proses ini adalah pembentukan dari
kayu ( cellulose ) menjadi lignit, yaitu :
( cellulose ) C6H10O5 C30H34O11( lignit atau browncoal )

19

Kedua proses dalam pembatubaraan tersebut memakan waktu ratusan


ribu

atau

jutaan tahun.

Diperkirakan

waktu

yang

diperlukan

untuk

mengumpulkan bahan yang cukup dalam pembentukan deposit bituminous


setebal 30 cm adalah sekitar 150 tahun dan untuk antrasit sekitar 200 tahun.
Oleh

karena

itu

banyak

terjadi

perubahan

sifat

selama

proses

pembatubaraan berlangsung dan juga terjadi tahapan tingkatan batubara.

BAB III. KESIMPULAN


Batubara adalah bahan bakar fosil. Batubara dapat terbakar, terbentuk
dari endapan, batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan
oksigen. Batubara terbentuk dari tumbuhan yang telah terkonsolidasi antara
strata batuan lainnya dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan
panas selama jutaan tahun sehingga membentuk lapisan batubara. Hampir
seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. jenis-jenis tumbuhan
pembentuk batu bara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah Alga ,
Silofita, Pteridofita, Gimnospermae, Pteridospermae, dan Angiospermae.
20

Dalam proses pembentukan batubara, dikarenakan komposisi batubara


hampir

sama

dengan

komposisi

kimia

jaringan

tumbuhan,

keduanya

mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C, H, O, N, S, P. Hal ini


dapat dipahami, karena batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang
telah mengalami coalification.
Batubara adalah salah satu sumber energi yang banyak ditemukan di
Indonesia. Bahkan Indonesia masuk dalam peringkat ke 4 dari 10 besar
negara-negara penghasil batu bara. Dalam dunia nyata mungkin kita belum
pernah menemukan wujud fisik dari batu bara. Tempat-tempat yang
menyimpan cadangan batu bara di Indonesia banyak ditemukan di wilayah
Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Batu bara banyak dipakai dalam
sebuah industri dan perusahaan pengolah energi.

Daftar Pustaka

https://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bara
http://batu-bara123.blogspot.co.id/2013/11/pengertian-batu-bara.html
http://logku.blogspot.co.id/2011/02/proses-pembentukan-batubara.html
https://tanaangga.wordpress.com/terbentuknya-batubara/
http://benyjemblunk.blogspot.co.id/2012/05/bagaimana-terbentuknya-

batubara.html
https://achmadinblog.wordpress.com/2010/05/21/pembentukan-batubara/
http://hadiwijayatambang.blogspot.co.id/2011/05/endapan-mineral.html

21

https://ilmubatubara.wordpress.com/2006/09/23/lingkungan-pengendapan-

batubara/
http://auliaasyarifah.blogspot.co.id/2014/02/proses-pembentukan-batu-

bara.html
http://dokumen.tips/documents/genesa-batubara.html
https://www.academia.edu/6876315/BAB_II_GENESA_BATUBARA

22