Anda di halaman 1dari 4

Rangkuman Materi Kuliah

TEORI AKUNTANSI
Nama : Raditya Shinta H
NIM
: 125020300111096
EXTENDED SYSTEMS OF ACCOUNTING: THE INCORPORATION OF SOCIAL AND
ENVIRONMENTAL FACTORS WITHIN EXTERNAL REPORTING.
Di dalam akuntansi konvensional (mainstream accounting), pusat perhatian yang dilayani
perusahaan adalah stockholders dan bondholders sedangkan pihak yang lain sering
diabaikan. Perusahaan mempunyai tanggung jawab sosial terhadap pihak-pihak di luar
manajemen dan pemilik modal. Akan tetapi perusahaan kadangkala melalaikannya
dengan alasan bahwa mereka tidak memberikan kontribusi terhadap kelangsungan hidup
perusahaan. Tuntutan terhadap perusahaan untuk memberikan informasi yang
transparan, organisasi yang akuntabel serta tata kelola perusahaan yang semakin bagus
(good corporate governance) semakin memaksa perusahaan untuk memberikan
informasi mengenai aktivitas sosialnya. Oleh karena itu dalam perkembangan sekarang
ini akuntansi konvensional telah banyak dikritik karena tidak dapat mengakomodir
kepentingan masyarakat secara luas, sehingga kemudian muncul konsep akuntansi baru
yang disebut sebagai Social Responsibility Accounting (SRA) atau Akuntansi
Pertanggungjawaban Sosial.
Kapitalisme, yang hanya berorientasi pada laba material, telah merusak keseimbangan
kehidupan dengan cara menstimulasi pengembangan potensi ekonomi yang dimiliki
manusia secara berlebihan
HUBUNGAN ANTARA PERUSAHAAN DAN LINGKUNGAN
Selama ini perusahaan dianggap sebagai lembaga yang dapat memberikan banyak
keuntungan bagi masyarakat, di mana menurut pendekatan teori akuntansi tradisional,
perusahaan harus memaksimalkan labanya agar dapat memberikan sumbangan yang
maksimum kepada masyarakat sesuai konsep trickle down kapitalisme. Aksi protes
terhadap perusahaan sering dilakukan oleh para karyawan dan buruh dalam rangka
menuntut kebijakan upah dan pemberian fasilitas kesejahteraan lainnya yang dirasakan
kurang mencerminkan keadilan.
Pendekatan modern menyebutkan bahwa organisasi sebagai suatu sistem terbuka, yang
berarti bahwa organisasi merupakan bagian (sub sistem) dari lingkungannya, sehingga
organisasi dapat dipengaruhi maupun mempengaruhi lingkungannya (Lubis dan Huseini,
1987). Selanjutnya dalam Lubis dan Huseini (1987) menyebutkan bahwa ada sembilan
segmen lingkungan yang mempengaruhi perusahaan, yaitu: 1) industri, 2) bahan baku,
3) tenaga kerja, 4) keuangan, 5) pasar, 6) teknologi, 7) kondisi ekonomi, 8) pemerintah
dan 9) kebudayaan. Pengaruh lingkungan terhadap sebuah organisasi menjadi sangat
kental, hal ini terjadi karena adanya ketergantungan organisasi terhadap sumber-sumber
yang terdapat pada lingkungan.
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)
Seperti angin semilir kemudian bertiup kencang, begitulah gambaran hembusan wacana
Corporate Social Responsibility (CSR) seiring dengan kesadaran akan hubungan
perusahaan dengan lingkungannya. Bahkan aktivitas CSR kini ditempatkan diposisi
terhormat. Hingga tampaknya wacana CSR ini akan menjadi tren perusahaan-perusahaan
berskala nasional maupun multinasional. Tidak sedikit perusahaan-perusahaan raksasa
maupun menengah, baik yang multinasional maupun domestik, kini telah mengklaim

bahwa CSR ini telah diimplementasikan dengan baik dalam perusahaan mereka. Banyak
perusahaan telah menggeser paradigma sempit yang menyatakan bahwa orientasi
seluruh kegiatan hanyalah berorientasi profit.
Terobosan terbesar dalam kontek CSR ini dilakukan oleh John Elkington melalui konsep
3P (profit, people, dan planet). Ia berpendapat bahwa jika perusahaan ingin sustain,
maka ia perlu memperhatikan 3P, yakni, bukan cuma profit yang diburu, namun juga
harus memberikan kontribusi positif kepada masyarakat (people) dan ikut aktif dalam
menjaga kelestarian lingkungan (planet).
Perusahaan sebagai entitas ekonomi, bertujuan untuk mencetak laba yang optimal guna
meningkatkan kekayaan para pemilik saham. Namun itu saja belum cukup, keberlanjutan
bisnis perusahaan (sustainable business) tidak terjamin bila hanya mengandalkan laba
yang tinggi semata, tetapi perusahaan juga harus memiliki komitmen yang tinggi dalam
menjalankan program CSR.
PERKEMBANGAN DALAM PRAKTEK PELAPORAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL
Beberapa perusahaan di dunia membuat catatan yang menyatakan bahwa organisasi
mereka memiliki komitmen untuk suistainability development yang kemudian
menghasilkan informasi yang menunjukkan pendapatan dan kinerja dalam
pengembangan suistainability tersebut berupa CSR. Dokumen pelaporan suistainability
hadir dalam berbagai bentuk. Ada tiga komponen utama dalam suistainability yaitu
keadaan ekonomi, lingkungan dan masyarakat. Ketika pertimbangan lingkungan dan
masyarakat dilakukan dalam sebuah bisnis, ada dua komponen terpisah lainnya yang
sering teridentifikasi yaitu peertimbangan eco-efficiency dan eco-justice. Dimana saat
perusahaan memilih untuk membuat laporan lingkungannya sendiri maka perusahaan
tersebut akan cenderung hanya fokus pada eco-efficiency. Sedangkan dalam
suistainability dua komponen ini harus terlibat. Eco-efficiency fokus untuk
memaksimalkan kegunaan jumlah sumber daya yang digunakan dan meminimalkan
keterlibatan lingkungan dalam menggunakan sumber daya. Sedangkan eco-justice akan
memperlihatkan bagaimana entitas menggunakan sumber daya yang terbatas untuk
memastikan bahwa kelompok tertentu yang dirugikan tidak dilupakan. Hal lain yang
dipertimbangkan adalah kepedulian terhadap keselamatan, pendidikan dan peluang
karyawan, ketaatan atas hak-hak manusia dan kesamaan peluang, keterlibatan orangorang pribumi serta dukungan atas kemajuan negara. Menimbang hal itu, maka
berinisiatiflah sejumlah institusi guna menciptakan sistem pelaporan yang bisa berlaku
universal untuk semua perusahaan. Salah satu yang terkenal adalah Global Reporting
Initiative (GRI) yang diluncurkan tahun 1997. GRI membuat sustainability reporting
guideline yang memberi petunjuk pembuatan laporan dengan memperhatikan aspek
ekonomi-sosial-lingkungan, atau yang dikenal dengan aspek triple bottom line.
AKUNTANSI SOSIAL EKONOMI
Akuntansi sosial ekonomi merupakan alat yang sangat berguna bagi perusahaan dalam
mengungkapan aktivitas sosialnya di dalam laporan keuangan. Pengungkapan tanggung
jawab sosial dalam laporan keuangan penting karena melalui social reporting disclosure,
pemakai laporan keuangan akan dapat menganalisis sejauh mana perhatian dan
tanggung jawab sosial perusahaan dalam menjalankan bisnis. Diharapkan melalui media
ini tingkat tanggung jawab sosial perusahaan dapat mempengaruhi secara positif
perilaku investor. Investor seharusnya tidak hanya melihat aspek keuangan saja, tetapi
juga tanggung jawab sosial perusahaan harus mendapatkan pertimbangan dalam
pengambilan keputusan bisnis. Akan tetapi sampai saat ini pengungkapan tanggung

jawab sosial dalam laporan keuangan masih bersifat sukalera, dalam Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 Paragraf ke sembilan dinyatakan:
Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai
lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi
industri di mana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi
industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang
memegang peranan penting.

Maka dapat disimpulkan bahwa akuntansi sosial ekonomi adalah alat yang berfungsi
untuk mengidentifikasi, mengukur, dan menilai dampak sosial yang ditimbulkan oleh
perusahaan, baik social cost maupun social benefit, dan mengkomunikasikannya kepada
stakeholder, yaitu stockholder, karyawan, masyarakat, pemasok dan pemerintah dalam
bentuk pelaporan pertanggungjawaban sosial.
Gray et. al. mengelompokkan teori yang dipergunakan oleh para peneliti untuk
menjelaskan kecendrungan pengungkapan sosial ke dalam tiga kelompok (Henny dan
Murtanto, 2001: 26-27) yaitu:
a. Decision usefullness studies: pengungkapan sosial dilakukan karena informasi
tersebut dibutuhkan oleh para pemakai laporan keuangan dan ditempatkan pada
posisi yang moderatly important.
b. Economy theory studies: sebagai agen dari suatu prinsipal yang mewakili seluruh
intrest group perusahaan, pihak manajemen melakukan pengungkapan sosial
sebagai upaya untuk memenuhi tuntutan publik.
c. Social and political theory studies: pengungkapan sosial dilakukan sebagai reaksi
terhadap tekanan-tekanan dari lingkungannya agar perusahaan merasa eksistensi
dan aktifitasnya terlegitimasi.
Menurut Harahap (2003: 351-352) ada beberapa paradigma yang menimbulkan
kecendrungan perusahaan untuk mengungkapkan tanggung jawab sosialnya:
a. Kecenderungan Terhadap Kesejahteraan Sosial: kecendrungan ini berdasarkan
kenyataan bahwa kelangsungan hidup manusia, kesejaterahan masyarakat hanya
dapat lahir dari sikap kerjasama antar unit-unit masyarakat itu sendiri. Sehingga
timbulah kesadaran dan kebutuhan pertanggungjawaban sosial perusahaan
terhadap lingkungan sosialnya.
b. Kecendrungan Terhadap Kesadaran Lingkungan: kecendrungan ini berdasarkan
kenyataan bahwa manusia adalah makhluk di antara bermacam-macam makhluk
yang mendiami bumi yang saling mempunyai keterkaitan dan sebab akibat serta
dibatasi oleh sifat keterbatasan dunia itu sendiri, baik sosial, ekonomi, dan politik.
Akibat semakin meningkatnya kesadaran perusahaan terhadap kenyataan
tersebut,
sehingga
timbul
kebutuhan
tentang
perlunya
melakukan
pertanggungjawaban sosial kepada stakeholder.
c. Perspektif Ekosistem: dalam perspektif ini perusahaan sadar bahwa kegiatan
ekonomi yang dilakukan akan menimbulkan dampak bagi ekosistem yang berada
di sekitarnya.
d. Ekonomisasi vs Sosialisasi: ekonomi mengarahkan perhatian hanya kepada
kepuasan individual sebagai unit yang selalu mempertimbangkan cost dan benefit
tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat. Sebaliknya, sosialis menfokuskan
perhatiannya terhadap kepentingan sosial dan selalu memperhatikan efek sosial
yang ditimbulkan oleh kegiatannya.
Pengungkapan kinerja sosial pada laporan tahunan perusahaan seringkali dilakukan
secara sukarela oleh perusahaan. Menurut Henderson dan Peirson, adapun alasan-alasan

perusahaan mengungkapan kinerja sosial secara sukalera (Henny dan Murtanto, 2001:
27) antara lain:
a. Internal decision making: manajemen membutuhkan informasi untuk menentukan
efektivitas dari informasi sosial tertentu dalam mencapai tujuan sosial
perusahaan. Data harus tersedia agar biaya dari pengungkapan tersebut dapat
diperbandingkan dengan manfaatnya bagi perusahaan. Walaupun hal ini sulit
diidentifikasi dan diukur namun analisis secara sederhana lebih baik daripada
tidak sama sekali.
b. Product differentiation: manajer dari perusahaan yang bertanggung jawab secara
sosial memiliki insentif untuk membedakan diri dari pesaing yang tidak
bertanggung jawab secara sosial kepada masyarakat.
c. Enlightened self interest: perusahaan melakukan pengungkapan untuk menjaga
keselarasan sosialnya dengan para stakeholder yang terdiri dari stockholder,
kreditor, karyawan, pemasok, pelanggan, pemerintah dan masyarakat karena
dapat mempengaruhi pendapatan penjualan dan harga saham perusahaan.
Menurut Mathews dan Perera (Rusmanto, 2004: 83) terdapat beberapa alasan
perusahaan mencantumkan kegiatan sosial mereka dalam laporan keuangan, antara lain
ialah:
Mencoba mempengaruhi pasar modal
Sebagai wujud dari kontrak sosial antara perusahaan dan masyarakat, dan
Pelaksanaan legistimasi organisasi