Anda di halaman 1dari 5

7LANDASAN TEORI Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat

terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah
maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Larutan hasil disebut
larutan jenuh. Zat-zat tertentu dapat larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut.
Contohnya adalah etanol di dalam air. Sifat ini dalam bahasa Inggris lebih tepatnya disebut miscible.
Melarut tidaknya suatu zat dalam suatu sistem tertentu dan besarnya kelarutan, sebagian besar
tergantung pada sifat serta intensitas kekuatan yang ada pada zat terlarut-pelarut dan resultan interaksi
zat terlarut-pelarut.Dalam besaran kuantitatif kelarutan didefinisikan sebagai konsentrasi zat terlarut
dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi
spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogen. Suatu larutan tidak
jenuh atau hampir jenuh adalah larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi di bawah
konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan yang sempurna pada temperatur tertentu. Larutan
jenuh adalah suatu larutan dimana zat terlarut berada dalam keadaan setimbang dengan fase padat.
Sedangkan larutan lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi
lebih banyak dari yang seharusnya pada temperatur tertentu terdapat juga zat terlarut yang tidak larut,
keadaan lewat jenuh mungkin terjadi apabila inti kecil zat terlarut yang dibutuhkan untuk
pembentukan kristal permulaan lebih mudah larut daripada kristal besar, sehingga menyebabkan
sulitnya inti terbentuk dan tumbuh dengan akibat kegagalan kristalisasi. Kelarutan suatu senyawa
bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut, selain itu dipengaruhi pula oleh faktor
temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang lebih kecil bergantung pada terbaginya zat
terlarut (Martin dkk, 1993).Kelarutan obat dapat dinyatakan dalam beberapa cara, menurut U.S
Pharmacopea dan National Formulary, kelarutan dinyatakan sebagai jumlah dalam mililiter(ml)
pelarut(solven) dimana akan larut 1 gram zat terlarut(solut). Secara kuantitatif kelarutan suatu zat
dinyatakan sebagai konsentrasi zat terlarut (solut) di dalam larutan (solven) pada suhu dan tekanan
tertentu. Satuan bagi kelarutan dapat berupa molaritas, molalitas dan persentase. Untuk zat yang
kelarutannya tidak diketahui secara pasti, harga kelarutannya digambarkan dengan menggunakan
istilah umum tertentu seperti table berikut. Istilah Bagian pelarut yang dibutuhkan untuk 1 Bagian Zat
TerlarutSangat mudah larut Kurang dari 1 bagian pelarut.Mudah larut 1 - 10 bagian pelarut.Larut 10
30 bagian pelarut.Agak sukar larut 30 100 bagian pelarut.Sukar larut 100 1.000 bagian
pelarut.Sangat sukar larut 1.000 10.000 bagian pellarut.Praktis tidak larut Lebih dari 10.000 bagian
pelarut.Dalam formulasi sediaan-sediaan farmasi, data kelarutan suatu zat dalam air sangat penting
untuk diketahui , karena sediaan cair atau likuida seperti sirup, eliksir, obat tetes mata, injeksi, dan
lain-lain dibuat dengan menggunakan pembawa air. Bahkan untuk sediaan solida seperti tablet atau
kapsul, data kelarutan sangat penting untuk memperhitungkan kemampuan atau kecepatan absorbsi
dalam saluran cerna. Oleh karena itu salah satu cara untuk meningkatkan ketersediaan hayati suatu
sediaan dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya di dalam air.Faktor-faktor yang mempengaruhi
kelarutan, adalahpHZat aktif yang digunakan dalam sediaan farmasi pada umumnya bersifat asam dan
basa lemah. Kelarutan suatu zat asam atau basalemah sangat dipengaruhi pH. Untuk menjamin suatu
larutan homogen yang jernih dan keefektifan terapi maksimumnya, maka pembuatan sediaan farmasi
harus disesuaikan dengan pH optimumnya.Kelarutan asam-asam lemah akan meningkat dengan
meningkatnya pH larutan, karena berbentuk garam yang mudah larut. Sedangkan kelarutan basa-basa
lemah akan brtambah dengan menurunnya pH larutan.Hubungan antara pH dengan kelarutan asam
dan basa lemah, digambarkan melalui persamaan berikut:HA padat HA larutHA lar + H2O H3O + AH3O+A-Untuk asam lemah : pHp = pKa + log (s-so)/sountuk basa lemah :pHp = pKa pKb+ log
(s-so)/soDimana, masing-masing adalahpHp : Harga pH terendah/ tertinggi dan pada pH tersebut
asam atau basa lemah masih dapat larut. Dibawah atau diatas pH tersebut, zat akan mengendap
sebagai asam atau basa lemah yang tidak terdisosiasi.So : Kelarutan molar fraksi yang tidak
terdisosiasi.S : Konsentrasi molar zat dalamlarutan baik dalam bentuk terionisasi (A) atau tidak

terionisasi (HA)2. SuhuKenaikan temperature akan meningkatkan kelarutan zat yang proses
melarutnya melalui penyerpan panas/kalor (reaksi endotermik), dan akan menurunkan kelarutan zat
yang proses melarutnya dengan pengeluaran panas/kalor(reaksi eksotermik).Kelarutan zat padat
dalam larutan ideal tergantung pada suhu larutan, titik leleh zat padat dan panas peleburan molar zat
tersebut.Pengaruh suhu terhadap kelarutan zat dalam larutan ideal mengikuti persamaan Vant Hoff,
yaitu sebagai berikut:{-log x_2^1= Tf/(2.303.R) x (T0-T)/(T0.T) }Dimana, masing masing
adalah :x_2^1 = kelarutan ideal dalam fraksi molT = suhu mutlak larutanTo = titik leleh zat dalam
suhu mutlakTf = panas peleburanR = konstanta gasPersamaan diatas tidak berlaku pada kondisi
dimana T>TO, yang berat suhu larutan diatas titik leleh zat terlarut, karena pada kondisi tersebut zat
terlarut akan tercampur dengan pelarut dalam setiap perbandingan.Jenis Pelarut dan Konstanta
Dielektrik.Polaritas pelarut sangat mempengaruhi kelarutan suatu zat . Pelarut polar akan melarutkan
zat-zat polar dan ionik, hal ini disebabkan tetapan dielektrik pelarut polar yang tinggi sehingga dapat
dengan mudah melarutkan zat-zat yang memiliki tetapan dielektrik yang hampir sama/ mendekati.
Sedangkan zat yang bersifat nonpolar sukar larut didalamnya.Pelarut polar bertindak sebagai pelarut
dengan mekanisme, sebagai berikut:Mengurangi gaya tarik antara ion berlawanana dalam
kristalMemecah ikatan kovalen elektrolit-elektrolit kuat, karena pelarut ini bersifat
amfiprotikMembentuk ikatan hidrogen dengan zat trelarutPelarut nonpolar memiliki konstanta
dielektrik yang rendah, sehingga dapat melarutkan zat-zat yang besifat nonpolar. Pelarut nonpolar
melarutkan zat-zat nonpolar dengan tekanan internal yang sama melalui induksi antaraksi
dipol.Besarnnya konstanta dielektrik pelarut dapat diatur dengan menambahkan pelarut lain.
Konstanta dielektrik suatu campuran pelarut merupakan hasil penjumlahan dari konstanta dielektrik
masing-masing pelarut setelah dikalikan dengan presentase volume masing-masing komponen
pelarut.Fenomena dimana suatu zat lebih mudah larut dalam pelarut campur daripada pelarut
tunggalnya dikenal dengan fenomena dengan fenomena co-solvency. Pelarut-pelarut yang umum
digunakan dalam bidang farmasi sebagai pelarut campur(cosolvent) terutama dalam pembuatan eliksir
adalah air, etanol, gliserin dan propilan glikol.Bentuk dan ukuran Partikel Zat Terlarut Ukuran partikel
dapat mempengaruhi kelarutan , karena semakin kecil partikel, rasio antara luas permukaan dan
volume meningkat. Meningkatnya luas permukaan memungkinkan interaksi antara solut dan solvent
lebih besar. Pengaruh ukuran partikel terhadap kelarutan digambarkan dalam persamaan berikut.log S/
(So ) = (2..V)/(2,303.R.T.r)Dengan demikian semakin besar ukuran molekul, maka semakin
berkurang kelarutan suatu senyawa. Walaupun demikian pengaruh ukuran partikel terhadap kelarutan
tidak akan terlihat dengan jelas, kecuali bila ukuran partikel obat direduksi menjadi ukuran
mikro.Adanya zat lainPenambahan zat lain yang mempengaruhi kelarutan diantaranya adalah ion
sejenis dan penambahan surfaktan. Ion sejenis akan memurunkan kelarutan senyawa elektrolit yang
non polar, karena mempengarui harga ksp.Surfaktan merupakan molekul ampifil yang mengendung
gugus polar dan non polar. Pada konsentrasi rendah dalam suatu larutan akan berada pada
permukaan / antarmuka larutan dan memberikan efek menurunkan tegangan permukaan. Pada
konsentrasi diatas KMKakan membentuk misel yang berperan dalam solubilisasi miselar. Solubilisasi
miselar adalah suatu pelarut spontan yang terjadi pada molekul zat yang sukar larut air melelui
interaksi yang irreversible dengan misel pada surfaktan sehingga membentuk suatu larutan yang
strabil secara termodinamika.Cara Meningkatkan KelarutanKelarutan suatu zat (solut) dapat
ditingkatkan dengan berbagai cara, antara lain:1.) Pembentukan KompleksGaya antar molekuler yang
terlibat dalam pembentukan kompleks adalah gaya van der waals dari dispersi, dipolar dan tipe
dipolar diinduksi. Ikatan hidrogen memberikan gaya yang bermakna dalam beberapa kompleks
molekuler dan kovalen koordinat penting dalam beberapa kompleks logam. Salah satu faktor yang
penting dalam pembentukan kompleks molekuler adalah persyaratan ruang. Jika pendekatan dan
asosiasi yang dekat dari molekul donor dan molekul akseptor dihalangi oleh faktor ruang, kompleks
akan atau mungkin berbentuk ikatan hidrogen dan pengaruh lain harus dipertimbangkan. Polietilen

glikol, polistirena, karboksimetil-selulosa dan polimer sejenis yang mengandung oksigen nukleofilik
dapat berbentuk kompleks dengan berbagai obat. Semakin stabil kompleks organik molekuler yang
terbentuk, makin besar reservoir obat yang tersedia untuk pelepasan. Suatu kompleks yang stabil
menghasilkan laju pelepasan awal yang lambat dan membutuhkan waktu yang lama untuk pelepasan
sempurna (Martin dkk, 1993).Cara ini membuat pentingnya pembuatan kompleks molekuler. Dibawah
kompleks ini diartikan senyawa yang antara lain terbentuk melalui jembatan hidrogen atau gaya dipoldipol, juga melalui antar aksi hidrofob antar bahan obat yang berlainan seperti juga bahan obat dan
bahan pembantu yang dipilih. Pembentukan kompleks sering dikaitkan dengan suatu perubahan sifat
yang lebih penting dari bahan obat, seperti ketetapan dan daya resorbsinya, sehingga dalam setiap
kasus diperlukan suatu pengujian yang cermat dan cocok. Pembentukan kompleks sekarang banyak
dijumpai penggunaannya untuk perbaikan kelarutan, akan tetapi dalam kasus lain juga dapat
menyebabkan suatu perlambatan kelarutan.2.) Penambahan KosolvenKosolven adalah pelarut yang
ditambahkan dalam suatu sistem untuk membantu melarutkan atau meningkatkan stabilitas dari suatu
zat, cara ini disebut kosolvensi. Cara ini cukup potensial dan sederhana dibanding beberapa cara lain
yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan dan stabilitas suatu bahan. Penggunaan kosolven dapat
mempengaruhi polaritas sistem, yang dapat ditunjukkan dengan pengubahan tetapan
dielektrikanya.Kosolven seperti etanol, propilen glikol, polietilen glikol dan glikofural telah rutin
digunakan sebagai zat untuk meningkatkan kelarutan obat dalam larutan pembawa berair. Pada
beberapa kasus, penggunaan kosolven yang tepat dapat meningkatkan kelarutan obat hingga beberapa
kali lipat, namun bisa juga peningkatan kelarutannya sangat kecil, bahkan dalam beberapa kasus
penggunaan kosolven dapat menurunkan kelarutan solut dalam larutan berair. Efek peningkatan
kelarutan terutama disebabkan oleh polaritas obat terhadap solven (air) dan kosolven. Pemilihan
sistem kosolven yang tepat dapat menjamin kelarutan semua komponen dalam formulasi dan
meminimalkan resiko pengendapan karena pendinginan atau pengenceran oleh cairan darah.
Akibatnya, hal ini akan mengurangi iritasi jaringan pada tempat administrasi obat.3.) Penambahan
SurfaktanSurfaktan atau zat aktif permukaan adalah molekul yang struktur kimianya terdiri dari dua
bagian dan mempunyai perbedaan afinitas terhadap berbagai pelarut yaitu bagian hidrofobik dan
hidrofilik. Bagian hidrofobik terdiri dari rantai panjang hidrokarbon terhalogenasi atau teroksigenasi,
bagian ini mempunyai afinitas terhadap minyak atau pelarut non polar, sedangkan bagian hidrofilik
dapat berupa ion, gugus polar, atau gugus-gugus yang larut dalam air. Oleh karena itu surfaktan
seringkali disebut ampifil karena mempunyai afinitas tertentu baik terhadap pelarut polar maupun non
polar. Surfaktan secara dominan terhadap hidrofilik, hidrofobik atau berada di antara minyak air.
Ampifilik merupakan sifat dari surfaktan yang menyebabkan zat terabsorpsi pada antarmuka, apakah
cair/gas, atau cair/cair. Agar surfaktan terpusat pada antarmuka, harus diimbangi dengan jumlah
gugus-gugus yang larut air dan minyak. Bila molekul terlalu hidrofilik atau hidrofobik maka tidak
akan memberikan efek pada antarmuka. Adsorpsi molekul surfaktan di permukaan cairan akan
menurunkan tegangan permukaan dan adsorpsi di antara cairan akan menurunkan tegangan
antarmuka.Penggunaan surfaktan pada kadar yang lebih tinggi akan berkumpul membentuk agregat
yang disebut misel. Selain itu pada pemakaiannya dengan kadar tinggi sampai Critical Micelle
Concentration (CMC) surfaktan diasumsikan mampu berinteraksi kompleks dengan obat tertentu
selanjutnya dapat pula mempengaruhi permeabilitas membran tempat absorbsi obat karena surfaktan
dan membran mengandung komponen penyusun yang sama. Sifat terpenting misel adalah
kemampuannya untuk menaikkan kelarutan zat-zat yang biasanya sukar larut atau sedikit larut dalam
pelarut yang digunakan. Proses ini disebut solubilisasi yang terbentuk antara molekul zat yang larut
berasosiasi dengan misel surfaktan membentuk larutan yang jernih dan stabil secara
termodinamika.Tegangan permukaan adalah gaya persatuan panjang yang harus diberikan sejajar
dengan permukaan cairan untuk mengimbangi tarikan ke dalam. Tegangan antarmuka adalah gaya
persatuan panjang yang terdapat antarmuka dua fase cair yang tidak bercampur, dan seperti tegangan

permukaan mempunyai satuan dyne/cm. Tegangan antarmuka selalu lebih kecil daripada tegangan
permukaan karena gaya adhesif antar dua fase cair yang membentuk suatu antarmuka adalah lebih
besar daripada bila suatu fase cair dan suatu fase gas berada bersama-sama. Apabila dua cairan
bercampur dengan sempurna, tidak ada tegangan antarmuka yang terjadi. Surfaktan terbagi menjadi
:a. surfaktan anionikSurfaktan yang larut dalam air dan berionisasi menjadi ion negatif dan ion positif.
Ion negatif bertindak sebagai surfaktan misalnya Natrium lauril sulfat.b. surfaktan kationikSurfaktan
yang larut dalam air, berionisasi menjadi ion negatif dan ion positif. Ion postif bertindak sebagai
surfaktan, misalnya N-setil n-etil morfolium etosulfat.c. surfaktan amfoterSurfaktan yang molekulnya
bersifat amfoter, misalnya : Asil aminopropiona, Imidazolinum betaine.d. surfaktan
nonionikSurfaktan non ionik adalah surfaktan yang larut dalam air tetapi tidak berionisasi, misalnya :
tween dan span (Martin dkk, 1993).

PEMBAHASAN Kelarutan merupakan faktor yang sangat penting dalam suatu proses formulasi
sediaan obat. Pada sediaan liquida, data kelarutan juga sangat diperlukan karena sediaan tersebut
memerlukan suatu pembawa cair.. pada sediaan tablet data kelarutan sangat penting untuk
memperkirakan kecepatan absorpsi obat dalam saluran cerna. Dan merupakan salah satu cara untuk
meningkatkan ketersediaan hayati suatu obat (zat aktif) di dalam tubuh khususnya Pengaruh Pelarut
Campuran (cosolven)Terhadap Kelarutan Suatu ZatCosolvensi adalah suatu peristiwa dimana suatu
zat lebih mudah larut didalam pelarut gabungan dibandingkan dengan pelarut tunggal. Hal tersebut
dikarenakan pengaruh nilai konstanta dieletrik. Konstanta dielektrik pelarut harus mendekati nilai
konstanta dielektrik zat, agar zat tersebut mudah melarut. Sehingga digunakan pelarut campuran agar
didapat nilai konstanta dielektrik pelarut yang mendekati nilai konstanta dielektrik zat.
Pada praktikum kali ini digunakan pelarut campuran air, alkohol dan propilen glikol dengan
perbandingan yang berbeda-beda. Adapun pengaruhnya dapat dilihat pada grafik berikut:Dari grafik
diatas dapat dilihat bahwa semakin tinggi nilai kontanta dielektrik suatu campuran, maka kelarutan
asam salisilat juga meningkat. Sehingga dari hasil percobaan cosolveb yang paling baik untuk
melarutkan asam salisilat adalah dengan perbandingan air : alkohol : PEG yaitu 60 : 20 : 20 dengan
konstanta dielektrik 62.Pengaruh Penambahan Surfaktan Terhadap Kelarutan Suatu ZatSurfaktan
adalah zat aktif permukaan yang diserap pada permukaan untuk menurunkan tegangan permukaan zat
sampai dengan titik KMK. Titik KMK adalah titik dimana penambahan surfaktan tidak lagi
mempengaruhi tegangan permukaan. Setelah dilalui titik KMK maka penambahan surfaktan
berpengaruh terhadap solubilisasi miselar dimana pada keadaan ini akan terjadi pelarutan spontan zat
melalui interaksi misel dan surfaktan sehingga terbentuk suatu larutan yang stabil secara
termodinamika. Pada percobaan kali ini, digunakan surfaktan tween 8o dengan konsntrasi berbedabeda. Adapun pengaruhnya dapat dilihat dari grafik berikut:Dari grafik diatas, dapat dilihat nilai KMK
terjadi pada saat konsentrasi surfaktan 2 g/100 ml. Awalnya grafik konstan sampai titik KMK, dan
setelah titik KMK dilalui, maka grafik akan naik. Hal tersebut terjadi karena surfaktan tidak lagi
berperan dalam penurunan tegangan permukaan, tetapi berpengaruh dalam proses solubilisasi
miselar.Pengaruh pH Terhadap Kelarutan Suatu ZatSalah satu faktor yang mempengaruhi kelarutan
adalah pH. Hal ini karena reaksi asam basa yang terjadi dari asam salisilat dan NaOH dan akan
membentuk garam. Sehingga asam salisilat dapat terionisasi dan menjadi mudah larut. Asam salisilat
merupakan zat yang bersifat asam, sehingga kelarutannya akan meningkat seiring dengan peningkatan
pH. Adapun hasil dari percobaan dapat dilihat dari grafik berikut:Dari grafik diatas, dapat dilihat
bahwa hasil percobaan menunjukkan kesamaan dengan literatur, dimana semakin tinggi nilai pH,

maka kelarutan asam salisilat akan meningkat.KESIMPULAN Kecepatan pengadukan suatu larutan,
mempengaruhi tingkat kelarutan suatu zat. Semakin tinggi proses pengadukan, semakin tinggi tigkat
kelarutannyaPenambahan ion sejenis menurukan tingkat kelarutan , sedangkan penambahan surfaktan
meningkatkan kelarutan suatu zat.Semakin tinggi nilai konstanta dielektrik, maka kelarutan zat
semakin meningkat.Konsentrasi asam salisilat yang paling tinggi, didapat dengan gabungan pelarut
air: alkohol: PEG adalah 60:20:20 dengan konstanta dielektrik adalah 62.Semakin tinggi konsentrasi
surfaktan, maka kelarutan semakin meningkat karena terjadi proses solubilisasi miselar.Titik KMK
terjadi pada saat konsentrasi surfaktan 2 g/100 ml.Kelarutan asam salisilat meningkat seiring dengan
peningkatan pH.DAFTAR PUSTAKAMartin, A et.al. 1993. Farmasi Fisika. Jakarta: Universitas
Indonesia Press.Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: DEPKES RI. Hudayana,
yasser. 2010.