Anda di halaman 1dari 11

BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA

DEMAM BERDARAH DENGUE


DEFINISI
Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue haemorrhagic
fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis
demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang disertai leucopenia, ruam, limfodenopati,
trombositopenia, dan diathesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai
oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh.
Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang
ditandai dengan renjatan/syok.
ETIOLOGI
Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang
termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan
diameter 30 nm dan terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106.
Terdapat 4 serotipe virus yaitu Dengue virus 1 (Den-1), Dengue virus 2 (Den-2), Dengue virus 3
(Den-3), dan Dengue virus 4 (Den-4). Keempat serotype ditemukan di Indonesia, dengan
Dengue virus 3 (Den-3) merupakan serotype terbanyak.
EPIDEMIOLOGI
Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik Barat, dan Karibia.
Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air. Demam
berdarah dengue di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100.000 penduduk (1989 hingga 1995).
Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus Aedes (terutama Aedes
aegypti dan Aedes albopictus). Peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi
lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang berisi
air jernih.

Beberapa faktor yang diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue, yaitu:
1. Vektor: perkembang biakan vector, kebiasaan menggigit, kepadatan vector di lingkungan,
transportasi vector dari satu tempat ke tempat lain.
2. Pejamu: terdapatnya penderita di lingkungan/keluarga, mobilisasi dan paparan terhadap
nyamuk, usia dan jenis kelamin.
3. Lingkungan: curah hujan, suhu, sanitasi, dan kepadatan penduduk.
PATOFISIOLOGI
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala
karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi
ditenggorokan, timbulnya

ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system

retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada
DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit.
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dan
DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin,
histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan
intravaskuler.

Hal

ini

berakibat

berkurangnya

volume

plama,

terjadinya

hipotensi,

hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan.


Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler ibuktikan dengan ditemukannya
cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura dan perikard. Renjatan
hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi
anoxia jaringan, asidosis metabolic dan kematian. Sebab lain kematian pada DHF adalah
perdarahan hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi
trombosit dan kelainan fungsi trombosit.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti
dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan system koagulasi
disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh
aktifasi system koagulasi. Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/ DSS, terutama pada pasien
dengan perdarahan hebat.
MANIFESTASI KLINIS

Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF dengan masa inkubasi
anatara 13 15 hari, tetapi rata-rata 5 8 hari. Gejala klinik timbul secara mendadak berupa
suhu tinggi, nyeri pada otot dan tulang, mual, kadang-kadang muntah dan batuk ringan. Sakit
kepala dapat menyeluruh atau berpusat pada daerah supra orbital dan retroorbital. Nyeri di
bagian otot terutama dirasakan bila otot perut ditekan. Sekitar mata mungkin ditemukan
pembengkakan,

lakrimasi,

fotofobia,

otot-otot

sekitar

mata

terasa

pegal.

Eksantem yang klasik ditemukan dalam 2 fase, mula-mula pada awal demam (6 12 jam
sebelum suhu naik pertama kali), terlihat jelas di muka dan dada yang berlangsung selama
beberapa

jam

dan

biasanya

tidak

diperhatikan

oleh

pasien.

Ruam berikutnya mulai antara hari 3 6, mula mula berbentuk makula besar yang kemudian
bersatu mencuat kembali, serta kemudian timbul bercak-bercak petekia. Pada dasarnya hal ini
terlihat

pada

lengan

dan

kaki,

kemudian

menjalar

ke

seluruh

tubuh.

Pada saat suhu turun ke normal, ruam ini berkurang dan cepat menghilang, bekas-bekasnya
kadang terasa gatal. Nadi pasien mula-mula cepat dan menjadi normal atau lebih lambat pada
hari ke-4 dan ke-5. Bradikardi dapat menetap untuk beberapa hari dalam masa penyembuhan.
Gejala perdarahan mulai pada hari ke-3 atau ke-5 berupa petekia, purpura, ekimosis,
hematemesis, epistaksis. Juga kadang terjadi syok yang biasanya dijumpai pada saat demam
telah menurun antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda : anak menjadi makin lemah, ujung jari,
telinga, hidung teraba dingin dan lembab, denyut nadi terasa cepat, kecil dan tekanan darah
menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg atau kurang.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium darah

Ht (hematokrit): kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan


hematokrit > 20% dari hematokrit awal, umumnya dimulai pada hari ke-3 demam.

Leukosit: dapat normal atau menurun. Mulai hari ke-3 dapat ditemui limfositosis relative
(>45% dari total leukosit) disertai adanya limfosit plasma biru (LPB) >15% dari jumlah
total leukosit yang pada fase syok akan meningkat.

Trombosit: umumnya terjadi trombositopenia (100.000/ml atau kurang) pada hari ke-3
sampai hari ke-8.

Isolasi virus dengue (cell culture)

PCR (Polymerase Chain Reaction)


Pemeriksaan serologi

Dip-stick DHF

NS 1

IgM / IgG antibody


o IgM: terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke-3, menghilang
setelah 60-90 hari.
o IgG: pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke-14, pada infeksi
sekunder IgG mulai terdeteksi pada hari ke-2.

DIAGNOSIS
Demam dengue (DD)
Demam dengue merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua
atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut:

Nyeri kepala

Nyeri retro-orbital

Mialgia / artralgia

Ruam kulit

Manifestasi perdarahan (petekie atau uji bending positif)

Leucopenia

Dan pemeriksaan serologi dengue positif; atau ditemukan pasien DD/DBD yang sudah
dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama.
Demam Berdarah Dengue (DBD)
Berdasarkan criteria WHO 1997, diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal dibawah ini
dipenuhi:

Demam atau riwayat demam akut, antara 2 7 hari, biasanya bifasik

Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut:


o Uji tourniquet positif

o Petekia, purpura, ekimosis


o Epistaksis, perdarahan gusi (perdarahan mukosa atau perdarahan dari tempat lain)
o Hematemesis, melena.

Trombositopenia (jumlah trombosit >100.000/ul)

Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma leakage (kebocoran plasma), sebagai berikut:
o Peningkatan Ht >20% dibandingkan standar sesuai dengan umur dan jenis
kelamin.
o Penurunan Ht >20% setelah mendapatkan terapi cairan, dibandingkan dengan
nilai hematokrit sebelumnya.
o Tanda kebocoran plasma, seperti: efusi pleura, asites, atau hipoproteinemia.

Sindroma Syok Dengue (SSD)


Seluruh criteria diatas untuk DBD disertai kegagalan sirkulasi dengan manifestasi nadi yang
cepat dan lemah, tekanan darah turun (<20 mmHg), hipotensi dibandingkan standar sesuai umur,
kulit dingin dan lembab serta gelisah.
DIAGNOSIS BANDING
a) Demam Chikungunya
Dimana serangan demam lebih mendadak dan lebih pendek tapi suhu di atas 400C
disertai ruam dan infeksi konjungtiva ada rasa nyeri sendi dan otot.
b) Demam tIfoid
Biasanya timbul tanda klinis khas seperti pola demam, bradikardi relatif, adanya
leukopenia, limfositosis relatif.
c) Dll
KLASIFIKASI DERAJAT PENYAKIT INFEKSI VIRUS DENGUE
DD/DBD Derajat Gejala
DD
Demam disertai 2 atau lebih

Laboratorium
Leukopenia dan

Serologi

tanda: sakit kepala, nyeri retro-

Trombositopenia, tidak

dengue

orbital, mialgia, artralgia

ditemukan bukti kebocoran

positif

plasma

DBD

Gejala diatas ditambah uji

Trombositopenia, bukti ada

DBD

II

bending positif
Gejala diatas ditambah

kebocoran plasma
Trombositopenia, bukti ada

III

perdarahan spontan
Gejala diatas ditambah

kebocoran plasma
Trombositopenia, bukti ada

IV

kegagalan sirkulasi
Syok berat disertai dengan

kebocoran plasma
Trombositopenia, bukti ada

tekanan darah dan nadi tidak

kebocoran plasma

DBD
DBD

terukur

PENATALAKSANAAN
1.

2.

Sudah diindikasi rawat inap. Pemeriksaan laboratorium:

Hematokrit > 45%.

Trombositopenia <100 000/l.

Sudah diindikasi rawat inap. Pemeriksaan laboratorium:

Hematokrit > 45%.

Trombositopenia <100 000/l.

3.

Infus cairan yang adekuat kerana gizi buruk dan pasien tidak mahu makan dan minum.

4.

Sudah diindikasi rawat inap. Pemeriksaan laboratorium:

Hematokrit > 45%.

Trombositopenia <100 000/l.

5.

Infus cairan yang adekuat kerana gizi buruk dan pasien tidak mahu makan dan minum.

6.

Rawat secara simtomatik: demam dengan antipiretik: parasetamol.

7.

Follow up: pemeriksaan darah setiap 3-4jam/hari.

PENCEGAHAN
1. Menghapuskan/ mengurangi vektor nyamuk Aedes Aegypti.

Insiatif untuk menghapus kolam air yang tidak berguna (misalnya di pot bunga).

Menguras bak mandi setiap seminggu sekali.

2. Amalkan hidup sehat: Makan makanan bergizi, rutin olahraga, dan istirahat yang cukup.
3. Perhatikan kebersihan lingkungan tempat tinggal dan melakukan 3M (menguras bak
mandi, menutup wadah yang dapat menampung air, dan mengubur bekas yang dapat
menjadi sarang perkembangan jentik-jentik).
4. Fogging/ pengasapan (Mematikan nyamuk dewasa) dan pemakaian bubuk abate
(Mematikan jentik pada air). Keduanya harus dilakukan untuk memutuskan rantai
perkembang biakan nyamuk.

KOMPLIKASI
1. Ensefalopati dengue.
2. Gagal ginjal akut.
3. Odem paru akut.

DEMAM TIFOID

DEFINISI
Demam tifoid (tifus abdominalis, enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya
terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 7 hari, gangguan pada
saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.1,2,3
ETIOLOGI
Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi (S. typhi), basil gram negatif, berflagel,
dan tidak berspora. S. typhi memiliki 3 macam antigen yaitu antigen O (somatik berupa
kompleks polisakarida), antigen H (flagel), dan antigen Vi. Dalam serum penderita demam tifoid
akan terbentuk antibodi terhadap ketiga macam antigen tersebut.

PATOFISIOLOGI

TATALAKSANA
1.

Rawat inap.

2.

Bedrest (5-7 hari).

3.

Diet: Diet lunak, rendah serat, tinggi kalori dan tinggi protein. Hindari makanan yang
iritatif & rendah/bebas selulosa.

4.

Obat antibiotic: Kloramfenikol (dosis: 50mg/kg BB 4 dosis.4x500 s/d 7 hari bebas


panas).

PENCEGAHAN
1.

Perbaikan higiene dan sanitasi lingkungan.

2.

Penyuluhan kesehatan.

3.

Imunisasi dengan menggunakan vaksin oral dan vaksin suntikan (antigen Vi


Polysaccharida capular) vaksinasi serotipe (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipe (tifoidparatifoid)

KOMPLIKASI
1.

Perdarahan usus karena perforasi.

2.

Infeksi kantong empedu (kolesistitis).

3.

Hepatitis.

4.

Gangguan otak (ensefalopati).