Anda di halaman 1dari 2

Budayakan Keselamatan

Sedini Mungkin
Oleh

: Jamaludin

Sumber : budayak3.wordpress.com diunduh tanggal 23 Juli 2015

Budaya K3 Keselamatan berasal dari kata selamat yang memiliki arti secara harfiah terhindar dari
bahaya dan risiko. Perlu kita ketahui, setiap kegiatan memiliki potensi munculnya bahaya dan risiko. Tanpa kecuali
bentuk kegiatan tersebut. Baik di tempat kerja maupun di lingkungan rumah ataupun masyarakat.
Salah besar kalau kita berpikir keselamatan hanya untuk aktivitas di dalam dunia kerja. Padahal di sekitar
kita di penuhi dengan aktivitas yang penuh dengan bahaya. Sebagai contoh, ketika kita akan menyebrang jalan
bahaya apa saja yang mengancam kita pada saat menyebrang.
Sejak kecil kita sudah diajarkan membudayakan keselamatan dalam setiap aspek kehidupan. Kalau kita
ingat kata-kata dari seorang guru waktu kita masih duduk di sekolah taman kanak-kanak atau sekolah dasar.
Bagaimana seorang guru memberikan suatu nasihat kepada kita untuk selalu berhati-hati ketika berjalan di jalan
raya. Kita dikenalkan dengan rambu-rambu lalu lintas, dan diharapkan kita pun mematuhi rambu-rambu tersebut.
Namun, apa yang terjadi setelah kita beranjak dewasa. Bagaimana sikap-sikap seorang dewasa di jalan raya? Kita
tahu dan memahami bahwa rambu-rambu dibuat dengan landasan untuk keselamatan. Namun, berapa banyak
pelanggaran yang dilakukan. Dengan berbagai alasan, mulai dari lupa hingga mengejar waktu hingga tidak sempat
melihat rambu-rambu lalu lintas.
Apa yang terjadi dengan pelajaran yang sudah kita Terima sejak kecil mengenai keselamatan? Adakah
yang salah dengan pengetahuan yang diberikan oleh guru kita kala itu?
Kembali ke permasalahan budaya keselamatan. Di Indonesia, budaya keselamatan sudah di bangun sejak
kita masih duduk di taman kanak-kanak. Namun, setelah kita tahu lantas hal tersebut hanya sebagai pengetahuan
bagi diri kita saja. Tetap saja pelanggaran-pelanggaran mengenai keselamatan banyak dilakukan. Hal ini sudah
cukup rumit untuk kita analisa. Budaya keselamatan hanya sebagai bentuk slogan, bukan sebagai budaya yang
dilakukan oleh setiap individu.
Namun, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki dan Membudayakan keselamatan. Seperti yang
dikatakan filosof, hal yang terjadi saat ini adalah bentuk akibat tindakan yang kita lakukan pada hari kemarin.
Begitupun tindakan yang dilakukan pada hari ini, merupakan hal apa saja yang akan kita Terima pada hari esok.

Kalau sekarang kita berpikir sudah terlanjur, maka esok pun akan semakin memperburuk keadaan dan jangan
berharap ada perbaikan.
Tidak perlu berpikir kita harus melakukan hal besar dalam membentuk budaya keselamatan. Tidak perlu
juga kita menyalahkan pemerintah dengan ketidaktegasannya terhadap undang-undang keselamatan yang dibuat.
Tidak perlu juga kita menyalahkan aparat dan penegak hukum, karena mereka lalai dalam menjalankan tugasnya.
Saat ini kita hanya perlu pikirkan, hal apa yang bisa kita lakukan di dalam keluarga kita di rumah dalam membentuk
budaya keselamatan.
Merubah budaya, tentunya dilakukan dari hal yang terdekat dari kita. Hal yang paling dekat adalah
keluarga kita. Anak-anak kita di rumah. Seperti yang kita ketahui, anak-anak kita adalah masa depan kita. Budaya
yang kita sampaikan saat ini ke anak-anak kita merupakan budaya yang akan diterapkan oleh mereka kelak ketika
dewasa. Mari kita budayakan keselamatan mulai dari diri kita sendiri, mulai dari keluarga terdekat kita, dan mulai
dari sekarang. Jika, setiap keluarga memiliki budaya keselamatan yang bagus, maka sebuah negara yang berisi dari
keluarga yang Membudayakan keselamatan tentunya akan menjadi sebuah negara yang Membudayakan
keselamatan.