Anda di halaman 1dari 22

JUDUL : PERAN PEMERINTAH RI DALAM PENETAPAN UPAH

MINIMUM PEKERJA ATAU BURUH


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Hubungan antara pengusaha dan pekerja/ buruh adalah hubungan
kerjasama untuk menghasilkan produk dan jasa yang dibutuhkan. Pekerja/ buruh
berperan dalam mengolah modal yang dimiliki oleh Pengusaha baik berupa uang
atau barang baku yang kemudian dirubah menjadi barang dan jasa yang
dibutuhkan. Topik yang menarik untuk dibahas dalam pola hubungan antara buruh
dan pengusaha salah satunya adalah mengenai sistem pengupahan pengusaha
kepada buruh.
Dalam membahas menganai Upah, tidak hanya Pengusaha dan pekerja/
buruh yang mempunyai kepentingan, namun pemerintah, serta masyarakat juga
pada umumnya sama-sama mempunyai kepentingan dalam hal ini. Pengusaha
berkepentingan dalam hal pengelolaan modal yang dimilikinya, bagaimana dapat
mengelola modal yang dimilikinya sebaik mungkin dengan memperoleh hasil
yang maksimal. Pekerja dan keluarganya sangat tergantung pada upah yang
mereka terima untuk dapat memenuhi kebutuhan sandang, pangan, perumahan
dan kebutuhan lain. Pemerintah dalam hal ini berkepentingan dengan kebijakan
pengupahan dan terkait juga dengan pemenuhan standar kemakmuran rakyatnya.
Sedangkan masyarakat adalah bentuk keseluruhan dari pemerintah, pengusaha dan
pekerja/ buruh yang akan mengalami dampak dari sistem pengupahan yang
dibangun.
1

Dalam hal perumusan mengenai upah, pekerja/ buruh memiliki


kecenderungan yang saling berbeda. Pekerja memiliki kecenderungan untuk
mendapatkan upah yang banyak untuk mencapai penghidupan yang baik.
Pengusaha memiliki kecenderungan untuk memberikan upah yang rendah kepada
pekerja karena upah dipandang sebagai pengurang keuntungan yang didapatkan.
Semakin besar upah yang diberikan, maka semakin besar juga biaya yang harus
dikeluarkan oleh Pengusaha, hal ini berarti juga keuntungan yang akan
diperolehnya akan berkurang.
Menghadapi hal ini, Pemerintah terkadang harus turun tangan melalui
kebijakannya, karena masalah pengupahan akan membawa pengaruh juga kepada
tingkat kemakmuran masyarakat dan negara. Dalam hal ini Pemerintah lebih
banyak bersikap sebagai penengah diantara kepentingan Pengusaha dan Pekerja/
buruh yang saling berseberangan tersebut. Pemerintah harus dapat bersikap adil
dalam mengeluarkan kebijakannya terkait dengan masalah pengupahan ini.
Apabila pemerintah terlalu berpihak kepada Pengusaha, maka kebijakannya
tersebut akan membawa pengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.
Sedangkan apabila Pemerintah terlalu berpihak kepada Pekerja/ buruh, maka
kebijakannya tersebut akan menghambat pembangunan ekonomi secara makro.
Dalam keadaan seluruh faktor produksi terpakai, sistem pengupahan
antara Pengusaha dan Pekerja/ buruh lebih banyak didasarkan atas kesepakatan
antara kedua belah pihak dimana posisi tawar kedua pihak tersebut sama-sama
kuat. Pengusaha membutuhkan pekerja/ buruh untuk menggerakkan pengolahan
modalnya. Sedangkan pekerja/ buruh membutuhkan pengusaha untuk membantu

meningkatkan kesejahteraannya dan pemenuhan kebutuhan pekerja/ buruh


tersebut.
Keadaan seimbang dimana Pengusaha dan Pekerja/ buruh yang saling
membutuhkan tersebut sangat jarang terjadi. Di Indonesia misalnya sebagai
negara yang menduduki peringkat ke-4 dalam jumpah penduduk didunia tentunya
memiliki potensi Sumber Daya Manusia (pekerja/ buruh) yang sangat besar,
sedangkan pertumbuhan ekonominya tidak sebesar jumlah penduduknya. Oleh
karena itu hubungan yang tercipta adalah seakan-akan pekerja/ aburuh yang
membutuhkan pekerjaan dan upah untuk meningkatkan kesejahteraannya. Dalam
kondisi demikian, Pengusaha lebih mempunyai posisi tawar yang lebih besar
dibandingkan dengan pekerja/ buruh. Oleh karena itu Pengusaha cenderung untuk
menurunkan upah yang diberikan kepada pekerja/ buruh, sedangkan pekerja/
buruh tidak bisa memberikan pilihan yang lebih baik dikarenakan dengan
kebutuhannya akan upah tersebut.
Menyikapi keadaan yang tidak seimbang tersebut, Pemerintah melalui
kebijakannya harus membantu pekerja/ buruh memperbaiki posisi tawarnya
tersebut atau paling tidak melindungi tingkat kesejahteraan pekerja/ buruh yang
notabene merupakan warga negara butuh perlindungan dan pemenuhan
kesejahteraan. Salah satu kebijakan Pemerintah tersebut adalah penetapan standar
upah minimum pekerja/ buruh. Pemerintah berharap agar pekerja/ buruh dalam
situasi tawar yang lemah dapat terlindungi kesejahteraan. Oleh karena itu penulis
mengambil judul makalah mengenai peran pemerintah dalam penetapan upah
minimum terhadap pekerja atau buruh.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah kebijakan pemerintah dalam menetapkan upah minimum telah
mencerminkan keadilan sosial bagi masyarakat?

BAB II
PEMBAHASAN DAN ANALISIS

A. Pengertian Upah
Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam
bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada
pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja,
kesepakatan atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan dari
pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau
akan dilakukan.
Penetapan upah minimum dipandang sebagai sarana atau instrumen
kebijaksanaan yang cocok untuk mencapai kepantasan dalam hubungan kerja.
Tujuan penetapan upah minimum adalah untuk:
a. Menghindari atau mengurangi persaingan yang tidak sehat sesama pekerja
dalam kondisi pasar kerja yang surplus, sehingga mereka bersedia
menerima upah di bawah tingkat kelayakan;
b. menghindari atau mengurangi kemungkinan eksploitasi pekerja oleh
pengusaha

yang

memanfaatkan

kondisi

pasar

untuk

akumulasi

keuntungannya;
c. sebagai jaring pengaman untuk menjaga tingkat upah karena satu dan lain
hal jangan turun lagi;
d. mengurangi tingkat kemiskinan absolut pekerja, terutama bila upah
minimum tersebut dikaitkan dengan kebutuhan dasar pekerja dan
keluarganya;
e. mendorong peningkatan produktivitas baik melalui perbaikan gizi dan
kesehatan pekerja maupun melalui upaya manajemen untuk memperoleh
kompensasi atas peningkatan upah minimum;
f. meningkatkan daya beli masyarakat, yang pada gilirannya akan
mendorong pertumbuhan ekonomi secara umum;
5

g. menciptakan hubungan industrial yang lebih aman.


Maksud besar penetapan upah minimum ini adalah memberikan jaminan
kesejahteraan bagi pekerja/ buruh dalam situasi tawar dengan pengusaha yang
kurang menguntungkan. Kebijakan ini bertujuan menciptakan suasana yang
berkeadilan diantara Pengusaha, Pekerja/ buruh.
B. Fakta Penerapan Kebijakan Upah Minimum
Dari berbagai kajian empiris, menunjukkan bahwa kenaikan upah
minimum telah mendongkrak upah pekerja. Adanya hubungan yang positif antara
tingkat upah minimum dan tingkat upah rata-rata juga ditemukan di berbagai
kelompok

pekerja

lainnya,

misalnya

pekerja

perempuan,

muda

usia,

berpendidikan rendah, dan pekerja kerah putih (white collar worker). Namun
hubungan positif tersebut secara statistik tidak nyata. Hal ini tidak berarti bahwa
upah minimum tidak berpengaruh terhadap upah pekerja secara individu, tetapi
pengaruh tersebut berbeda-beda antar pekerja. Upah beberapa pekerja terangkat
oleh adanya upah minimum, sementara upah pekerja lainnya malah tertekan,
sehingga pengaruhnya menjadi tidak nyata pada upah rata-rata keseluruhan
pekerja.
Berbeda dengan dampak terhadap upah, hasil analisis statistik
menunjukkan bahwa:
1. Kenaikan upah minimum berdampak negatif terhadap penyerapan tenaga
kerja di sektor formal perkotaan, dengan perkecualian bagi pekerja kerah
putih.

2. Dampak negatif dari upah minimum sangat dirasakan oleh kelompok yang
mempunyai kerentanan tinggi terhadap perubahan dalam kondisi pasar tenaga
kerja, seperti pekerja perempuan,

pekerja muda usia, dan pekerja

berpendidikan rendah. Perlu diingat bahwa mereka ini merupakan mayoritas


dari pekerja di Indonesia, baik di sektor formal maupun sektor informal.
3. Pekerja kerah putih (white colar worker) adalah satu-satunya kategori pekerja
yang mendapat keuntungan dari upah minimum dalam hal penyerapan tenaga
kerja.
4. Setelah adanya kenaikan upah minimum perusahaan mengubah proses
produksi yang padat tenaga kerja dengan proses produksi yang lebih padat
modal dan lebih menuntut keterampilan. Karena adanya saling keterkaitan
antara modal dan keterampilan, maka proporsi pekerja kerah putih yang lebih
tinggi menandai adanya pemanfaatan teknologi yang lebih padat modal.
Dengan demikian, adanya kenaikan tingkat upah minimum maka perusahaan
akan mengurangi sebagian tenaga kerja untuk digantikan dengan pekerja
kerah putih.
Karakteristik-karakteristik

perusahaan

sangat

mempengaruhi

penerapan peraturan upah minimum di tingkat perusahaan. Secara umum,


perusahaan-perusahaan di sektor padat modal membayar upah lebih tinggi,
dan karena itu menunjukkan penerapan peraturan upah minimum yang lebih
tinggi daripada perusahaan-perusahaan di sektor padat karya. Ukuran
perusahaan juga merupakan faktor penentu dalam penerapan peraturan upah
minimum. Umumnya perusahaan yang lebih besar akan lebih mampu
membayar upah lebih tinggi, dan karena itu penerapan peraturan upah
minimumnya lebih baik daripada perusahaanperusahaan kecil. Perusahaan7

perusahaan modal asing juga umumnya membayar upah lebih tinggi dan
menerapkan peraturan upah minimum secara lebih efektif dibandingkan
dengan perusahaan-perusahaan domestik.
Sementara itu, perusahaan-perusahaan yang menjual produknya ke
pasar ekspor rata-rata membayar upah lebih tinggi dan menerapkan peraturan
upah minimum lebih baik daripada perusahaanperusahaan yang hanya
mengincar pasaran domestik. Namun, temuan-temuan mengenai perusahaanperusahaan padat modal, perusahaan asing, dan eksportir ini ternyata lebih
diakibatkan karena perusahaan-perusahaan tersebut masuk dalam kategori
sampel perusahaan skala besar. Analisis ekonometrik menunjukkan bahwa
skala perusahaan adalah penentu utama kemampuan perusahaan dalam
menerapkan peraturan upah minimum. Pekerja di perusahaan skala menengah
memiliki 21% kemungkinan lebih tinggi untuk memperoleh upah di atas upah
minimum daripada pekerja di perusahaan skala kecil. Demikian pula, pekerja
di perusahaan skala besar mempunyai 44% kemungkinan lebih tinggi untuk
menerima upah di atas upah minimum daripada pekerja di perusahaan skala
kecil.
Karakteristik-karakteristik pekerja juga mempengaruhi penerapan
peraturan upah minimum oleh perusahaan. Pekerja pria rata-rata digaji lebih
tinggi dari upah minimum dan hanya sedikit dari pekerja pria yang menerima
upah di bawah upah minimum dibanding dengan pekerja perempuan.
Hubungan terbalik yang sering ditemui antara usia dan upah juga tampak
jelas. Upah pada awalnya meningkat seiring dengan meningkatnya umur,
tetapi kemudian menurun kembali pada tingkat umur yang semakin tua.
8

Pendidikan juga merupakan faktor penentu yang penting dalam penetapan


upah. Mereka yang hanya berpendidikan tidak lebih tinggi dari sekolah
lanjutan tingkat pertama rata-rata dibayar sekitar upah minimum. Kemudian,
ditemukan adanya hubungan yang positif antara pengalaman kerja dengan
tingkat

upah

yang

diterima.

Akan

tetapi,

analisis

ekonometrik

mengidentifikasi jender sebagai variabel utama yang mempengaruhi apakah


seorang pekerja dibayar di atas upah minimum atau tidak. Pekerja perempuan
mempunyai 19% kemungkinan lebih rendah untuk dibayar di atas upah
minimum dibanding dengan pekerja laki-laki. Dengan demikian, baik
karakteristik-karakteristik

perusahaan

maupun

pekerja

sama-sama

mempengaruhi kemungkinan apakah seorang pekerja dibayar sesuai dengan


atau lebih rendah daripada upah minimum.
Survei kualitatif menemukan bahwa jenis kontrak kerja yang
mencerminkan hubungan kerja antara perusahaan dan pekerjanya juga
mempunyai konsekuensi penting terhadap kesejahteraan pekerja. Pekerja
harian lepas menerima upah rata-rata sekitar upah minimum dan sekitar 44%
dari pekerja dalam kategori ini dibayar lebih rendah daripada upah minimum.
Sebaliknya, pekerja bulanan tetap umumnya menerima upah lebih tinggi
daripada

kategori

pekerja-pekerja

lainnya.

Menurut

responden

dari

perusahaan, cara penetapan kebijakan upah minimum akhirakhir ini telah


menghambat perkembangan sejumlah perusahaan, sehingga menghambat
peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor moderen.
Kebijakan upah minimum juga telah menjadi salah satu penyebab
utama perselisihan perburuhan. Sebelum krisis, upah minimum ditetapkan
9

sekali setiap tahun. Namun baru-baru ini dibeberapa wilayah tingkat upah
minimum telah diubah lebih dari satu kali dalam setahun. Akibatnya, hal ini
menimbulkan masalah bagi perusahaan dalam melakukan perencanaan dan
memperkirakan aliran dana. Disamping itu, hal ini juga menimbulkan
kesulitan bagi perusahaan-perusahaan yang sudah menandatangani kontrak
dengan pembeli. Perhitungan biaya dalam kontrak tidak memasukkan
kenaikan tingkat upah yang tidak diperkirakan sebelumnya, sehingga
menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
Upah minimum tampaknya juga telah mengurangi insentif bagi
pekerja untuk meningkatkan produktivitas. Sejak akhir tahun 1980an tingkat
upah minimum sudah mengalami kenaikan dengan cepat sehingga telah
mencapai satu titik dimana upah minimum menjadi tingkat upah yang berlaku
bagi sebagian besar pekerja. Hal ini terutama terjadi di perusahaanperusahaan skala menengah dan kecil. Semua pekerja tidak terampil dan
setengah terampil di perusahaan-perusahaan ini kini menerima upah yang
kurang lebih sama besarnya, yaitu upah minimum. Akibatnya, hal ini telah
membatasi kemampuan perusahaan untuk menggunakan upah sebagai sistem
insentif

untuk

meningkatkan

produktivitas

pekerja.

Juga

terdapat

kekhawatiran bahwa hal ini akan menimbulkan disinsentif bagi pekerja yang
lebih

produktif. Akhirnya,

hal

ini

dapat

menyebabkan

penurunan

produktivitas secara keseluruhan di perusahaanperusahaan tersebut.


Dampak upah minimum terhadap perusahaan berbeda antar sektor.
Dampak yang paling besar terjadi pada sektor-sektor yang padat karya.
Namun, perusahaan-perusahaan di sektor ini tidak mempunyai banyak pilihan
10

selain mentaati peraturan upah minimum, sekalipun sesungguhnya mereka


kesulitan untuk membayar upah pekerja pada tingkat itu. Tetapi, biaya bila
tidak mematuhi peraturan diperkirakan akan lebih besar karena kemungkinan
akan terjadinya perselisihan perburuhan.
Secara teoritis, bagi perusahaan yang sedang menghadapi kesulitan
untuk menerapkan peraturan upah minimum memang peraturan memberi
kesempatan untuk mengajukan permohonan penundaan sementara. Namun,
persyaratan untuk mendapatkan ijin penundaan ini sulit dipenuhi dan
biayanya sangat mahal, sperti harus adanya audit oleh akuntan publik.
Disamping itu, penundaan cenderung mengundang protes dan pemogokan
pekerja, sehingga akan mengganggu kegiatan produksi dan mengakibatkan
keterlambatan pengiriman produk kepada pemesan.
Kombinasi antara hubungan perburuhan yang penuh masalah dan
semakin banyaknya peraturan ketenagakerjaan yang cenderung memberatkan
perusahaan akhir-akhir ini telah menjadi keprihatinan banyak perusahaan.
Perusahaan tidak hanya harus menerapkan peraturan mengenai upah
minimum, tetapi mereka juga menghadapi kesulitan untuk mempertahankan
pekerja mereka, terutama karena adanya peraturan mengenai uang pesangon
yang mendorong pekerja untuk keluar dari pekerjaannya hanya karena ada
perselisihan kecil dengan pihak manajemen. Untuk mengatasi masalah ini,
beberapa perusahaan telah memilih untuk mengubah sistem kepegawaian
mereka, yaitu dengan cara lebih banyak menggunakan pekerja borongan.
C. Analisis Yuridis Kebijakan Pemberian Upah di Indonesia

11

Terdapat hal-hal yang menjadi kendala untuk dapat terwujudnya


tujuan yang ideal dari undang-undang No. 13 tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan tersebut karena masih terdapat aturan-aturan dalam pasalpasalnya yang belum jelas dan kontradiktif dengan peraturan-peraturan
pelaksanaannya.
1. Perumusan pasal yang yang tidak jelas
Pasal 88 ayat (1) Undang-Undang No, 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan mengatur bahwa :
"Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan"
Belum ada kriteria atau parameter yang dapat digunakan sebagai
penetapan kehidupan yang layak berikut jenis-jenis kebutuhan untuk setiap
komponen. Sebaiknya dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003
dijelaskan secara gamblang hal-hal apa saja yang seharusnya dipenuhi
dalam menetapkan kebutuhan hidup yang layak karena Kebutuhan hidup
yang layak dapat meningkatkan produktivitas kerja dan produktivitas
perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas
nasional. Adanya penetapan Upah Minimum sebagaimana diatur dalam
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Tentang Upah
Minimum No. 7 Tahun 2013 juga pada prakteknya masih belum memenuhi
rasa keadilan para pihak yang terlibat dalam hubungan kerja.
Penetapan upah minimum kemudian upah minimum regional
(UMR) atau upah minimum Daerah (UMD) atau Upah Minimum Kota
12

(UMK) mengacu pada PERDA di masing-masing daerah. Intervensi


pemerintah dalam hal ini ditunjukkan untuk menghilangkan kesan
eksploitasi pemilik usaha kepada buruh karena membayar dibawah standar
hidupnya. Nilai UMR, UMD dan UMK ini biasanya dihitung bersama
berbagai pihak yang merujuk kepada kebutuhan fisik Minimum Keluarga
(KFM), kebutuhan Hidup Minimum (KHM) atau kondisi lain didaerah
yang bersangkutan.
Penetapan UMR sendiri sebenarnya sangat bermasalah dilihat dari
realitas terbentuknya kesepakatan upah dari pihak pengusaha dan buruh.
Dalam kondisi normal dan dalam sudut pandang keadilan ekonomi,
seharusnya nilai upah sebanding dengan besarnya peran jasa buruh dalam
mewujudkan hasil usaha dari perusahaan yang bersangkutan. Penetapan
UMR dan UMD di satu sisi dimanfaatkan buruh-buruh malas untuk
memaksa pengusaha memberikan gaji minimal, meski perannya dalam
kerja perusahaan sangat sedikit (meskipun ini sangat jarang terjadi). Di sisi
lain UMR dan UMD skerap digunakan pengusaha untuk menekan besaran
gaji agar tidak terlalu tinggi, meskipun si buruh telah mengorbankan
tenaga dan jam kerjanya yang sangat banyak dalam proses produksi suatu
perusahaan. Bila diteliti lebih jauh, penetapan UMR dan UMD ternyata
tidak serta merta menghilangkan masalah gaji/ upah ini. Hal ini terjadi
disebabkan oleh:
a). Pihak pekerja , yang mayoritasnya berkualitas rendah dalam kuantitas
yang banyak sehingga nyaris tidak memiliki posisi tawar yang cukup
dalam menetapkan gaji yang diinginkan. Akhirnya besaran gaji hanya
13

ditentukan oleh pihak pengusaha dan kaum buruh berada di posisi sulit
menolak;
b). Pihak pengusaha sendiri sering merasa keberatan dengan batasan UMR
mengingat meskipun pekerja tersebut bekerja sedikit dan mudah,
pengusaha tetap harus membayar sesuai dengan batas tersebut.
c). Posisi tawar yang rendah dari para buruh semakin memprihatinkan
dengan tidak adanya pembinaan dan peningkatan kualitas buruh oleh
pemerintah, baik terhadap kualitas keterampilan dan pengetahuan para
buruh terhadap berbagai regulasi perburuhan.
d). Kebutuhan hidup yang juga memang bervariasi dan bertambah tetap
saja tidak dapat dipenuhi dengan gaji sesuai UMR. Pangkal dari
masalah ini adalah pemasukan dalam memenuhi berbagai kebutuhan
dasar kehidupan masyarakat.
2. Pengecualian Asas No Work No Pay
Berdasarkan Pasal 93 Ayat (2) Undang-Undang No. 13 Tahun
2003 Tentang Ketenagakerjaan, buruh/ pekerja berhak atas upah penuh
selama tidak masuk kerja sebagai pengecualian asas No Work No Pay.
Namun penggunaan hak tersebut tidak dapat dilaksanakan jika hak
pengecualian asas No Work No Pay tersebut tidak diatur dalam perjanjian
kerja, Peraturan Perusahaan, atau Perjanjian Kerja Bersama. Hal ini diatur
dalam Pasal 93 (5) yang menentukan: "Pengaturan pelaksanaan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dalam perjanjian kerja,
peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Pengaturan Pelaksaan
14

Pasal 93 ayat (2) dalam Perjanjian Kerja, pexatuaaa Perusahaan, perjanjian


Kerja bersama tersebut di atas bertentangan dengan Undang-Undang No.
12 Tahun 2011 yang mengatur hierarki Peraturan Perundang-undangan
yang tidak memasukkan perjanjian

kerja, peraturan perusahaan, dan

perjanjian kerja bersama ke dalam hierarki peraturan perundang-undangan.


Peraturan Pelaksana dari Undang-undang No 13 Tahun 2003 ini
seharusnya dituangkan dalam Peraturan Pemerantah atau minimal
dalam Keputusan Presiden.
3. Inkonsistensi antara Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan dengan salah satu peraturan pelaksanaannya.
Dalam Pasal 1 angka 30 Undang-undang No. 13 Tahun 2003
diatur bahwa upah adalah hak pekerja atau buruh yang diterima dan
dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau
pemberi

kerja

kepada

pekerja/buruh

yang

ditetapkan

dan

dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan


perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/ buruh dan
keluarganya atas suatu pekerjaan dan/ atau jasa yang telah atau akan
dilakukan.
Disisi lain dalam Pasal 1 huruf a Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun
1981 Tentang Perlindungan Upah diatur bahwa upah adalah suatu
pemerimaan sebagai imbalan dari pengusaha kepada buruh untuk suatu
pekerjaanatau jasa yang telah dilakukan atau akan dilakukan, dinyatakan
atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan menurut suatu persetujuan

15

atau peraturan perundang-undangan, dan dibayarkan atas dasar suatu


perjanjian kerja antara pengusaha dengan buruh, termasuk tunjangan baik
untuk buruh sendiri maupun keluarganya.
Dari uraian diatas jelas upah diberikan dalam bentuk uang, namun
secara normatif masih ada kelonggaran bahwa upah dapat diberikan dalam
bentuk lain berdasarkan perjanjuan atau peraturan perundang-undangan,
dengan batasan nilainya tidak boleh melebihi 25 % (dua puluh lima persen)
dari nilai upah yang seharusnya diterima (Pasal 12 Peraturan Pemerintah
No. 8 Tahun 1981). Dari uraian tersebut dapat disimpulkan adanya
ketidaksesuaian pembatasan pengertian upah itu sendiri.

D. Analisis Pemecahan Masalah


A. Peningkatan Peran Pemerintah Dalam Masalah Hubungan Pengusaha
dan Pekerja/ Buruh.
Pemerintah dalam upaya mewujudkan keadilan antara pekerja/ buruh
dan pengusaha di Indonesia saat ini masih belum seimbang, hal ini terbukti
dengan masih bergejolaknya masalah perburuhan akibat perundang-undangan
yang ada tidak memberi kepastian hukum. Penulis melihat bahwa ada dua
peran pemerintah yang dapat dijalankan, yaitu sebagai mediator dan sebagai
regulator.
1. Sebagai Mediator
16

Fungsi mediator yang dilakukan oleh pemerintah dilakukan dengan tujuan:


a. Menjembatani antara kepentingan buruh/ pekerja dengan kepentingan
pengusaha agar nantinya diproleh solusi jalan tengah (win win solution)
melalui proses yang demokratis. Pada dasarnya kepentingan pekerja/
buruh adalah memperoleh kesejahteraan atas imbalab dari pekerjaan
yang dilakukannya, dan kepentingan dari pengusaha adalah dapat
menjalankan usaha dengan biaya terjangkau sehingga dapat memperoleh
keuntungan atas usaha yang dilakukannya.
b. Berusaha memberi keadilan bagi pengusaha maupun bagi buruh, karena
pada dasarnya keduanya saling membutuhkan dalam menciptakan
kesejahteraan satu sama lain pada khususnya dan bagu perekonomian
Indonesia pada umumnya. Bagi pengusaha agar dapat berusaha,
memperoleh keuntungan dan memutar roda perekonomian, sedangkan
bagi buruh mendapatkan perlindungan dan memperoleh haknya sebagai
tenaga kerja.
Langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah dalam mewujudkan
perannya sebagai mediator dilakukan dengan :
a. Menghidupkan kembali forum tripartit.
Sebagai salah satu unsur dari tripartit, diharapkan pemerintah dapat
memiliki peran yang lebih besar dalam menjembatani kepentingan
pengusaha dan buruh/ pekerja yang seringnya berseberangan.
b. Membuka ruang dialog bagi buruh dan pelaku usaha.

17

2. Sebagai Regulator

Sebagai regulator, pemerintah berperanan aktif dalam usaha membuat


peraturan perundang-undangan dalam bidang ketenagakerjaan. Dalam hal
terdapat kekurangan dari suatu peraturan peruiluangan maka pemerintah
dalam perannya sebagai regulator dapat melaukan revisi terhadap peraturan
tersebut dengan memperhatikan aspirasi dari semua pihak yang Lerkait.
Jangan sarnpai terjadi kekacauan akibat adanya undang-undang tersebut.
Sebagai contoh adalah adanya revisi Undang-undang terhadap
Undang-Undang No. 13 Tabun 2003 yang menuai reaksi keras dari pihak
buruh/pekerja. Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
yang kini berlaku dirasa menguntungkan kepentingan pihak buruh. Kongres
Serikat Pekerja Indonesia terus menolak rencana revisi Undang-Undang No.
13 tahun 2003 tersebut karena dinilai sangat merugikan kaum pekerja. Hal
tersebut diatas terjadi karena pemerintah saat ini masih sangat berorientasi
pada perbaikan ekonomi dengan cara menarik para investor penanam modal
using dengan mengunggulkan politik upah murah, tanpa melakukan
perbaikan masalah birokrasi yang juga masih simpang siur, serta masih
banyak lagi hal lain yang seharusnya juga dibenahi seperti korupsi dan lain
sebagainya.
Selain berperan sebagai mediator dan regulator dalam bidang
ketenagakerjaan pada khususnya, pemerintah pun seharusnya dapat
memberikan jaminan kesejahteraan yang layak bagi pekerja , karena saat ini
terdapat kecenderungan pemahaman bahwa kesejahteraan pekerja adalah

18

tanggung jawab pengusaha. Negara dalam hal ini seolah-olah lepas tangan,
sektor kesehatan menjadi hal wajib yang harus dipenuhi oleh Negara. Sebab,
kedua sektor tersebut termasuk dalam kategori pemeliharaan kemaslahatan
umum. Negaralah yang harus menjamin seluruh fasilitas kesehatan dan
pendidikan yang memadai sehingga dapat dinikmati oleh seluruh warga
negara, tidak terkecuali para buruh.
Dengan demikian, tidak akan terjadi lagi tarik ulur antara pengusaha
dengan buruhnya mengenai masalah tersebut. Para buruh bisa bekerja
dengan kenang, karena kebutuhan primernya sudah terpenuhi sambil
menunggu upahnya untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya.
Dengan lancarnya pekerjaan para buruh maka pengusaha pun akan senang
karena berarti produksi berjalan baik maka keuntungan dapat diraih.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Upah minimum telah menguntungkan sebagian pekerja tetapi
merugikan sebagian lainnya. Para pekerja yang dapat mempertahankan
pekerjaannya di pabrik-pabrik jelas mendapat keuntungan dari peningkatan
upah minimum. Pekerja kerah putih jelas merasakan manfaat besar dari
penegakan kebijakan upah minimum. Namun, mereka yang kehilangan
pekerjaan sebagai akibat meningkatnya upah minimum adalah mereka yang
dirugikan oleh kebijakan upah minimum. Mereka ini khususnya terdiri dari
para pekerja yang rentan terhadap perubahan kondisi pasar tenaga kerja,

19

seperti pekerja perempuan, muda usia, dan mereka yang berpendidikan


rendah.
Dalam iklim pertumbuhan ekonomi tinggi, peningkatan upah
minimum tidak terlalu menjadi persoalan karena pertumbuhan itu sendiri
akan mendorong peningkatan upah, sehingga tingkat upah yang berlaku sama
dengan atau di atas upah minimum. Pertumbuhan ekonomi juga akan
mendorong penciptaan kesempatan kerja yang lebih besar daripada yang
hilang karena kebijakan upah minimum.
Dampak upah minimum terhadap kesejahteraan pekerja di sektor
informal, yang merupakan sebagian besar dari angkatan kerja di Indonesia,
mungkin sama pentingnya atau bahkan lebih penting lagi. Salah satu bidang
yang penting untuk dikaji di waktu yang akan datang adalah bagaimana
dampak pengurangan kesempatan kerja di sektor modern dari upah minimum
berpengaruh terhadap penghasilan riil dari mereka yang bekerja di sektor
informal.
Penetapan upah yang ditetapkan oleh Pemerintah adalah ketentuan
upah minimum yang berlaku secara regional, sektoral regional atau sub
sektoral regional wajib dilaksanakan oleh setiap perusahaan dengan
pengertian bahwa perusahaan tidak boleh membayar upah pekerjanya di
bawah Ketentuan Upah Minimum. Apabila Pemerintah mengeluarkan
Ketetapan Upah Minimum yang baru yang jumlahnya meningkat dari yang
lama maka akan terjadi perubahan upah di dalam perusahaan. Mereka yang
berada pada tingkat upah minimum yang lama akan mengalami kenaikan

20

upah minimal sama dengan kenaikan di dalam Ketetapan Upah Minimum.


Dengan naiknya upah pekerja yang paling bawah dapat mendekati atau
menyamai tingkat upah pekerja di atasnya. Pekerja yang berada di atas
Ketentuan Upah Minimum Pemerintah.
B. SARAN
Inti dari menaikkan posisi tawar pekerja/ buruh dalam proses
negosiasi upah tidak adalah tingkat kesejahteraan pekerja/ buruh itu sendiri.
Kesejahteraan merupakan pertanda telah terpenuhinya kebutuhan masyarakat
di suatu Negara. Pemenuhan kebutuhan masyarakat disuatu Negara, paling
tidak kebutuhan pokoknya, adalah tugas dari pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA
A. Buku, Makalah, Artikel
Payaman J Simanjuntak, 1996, Teori dan Sistem Pengupahan, Jakarta: Himpunan
Pembina Sumberdaya Manusia Indonesia.
Lalu Husni, 2010, Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Mataram: Rajawali Pers.
Lalu Husni, 2009, Hukum Hak Asasi Manusia, Mataram: PT. Indeks Kelompok
Gramedia Jakarta.
Marulinda Silalahi, Tinjauan Yuridis Pengaturan Upah Pekerja/ Buruh
Dihubungkan

Dengan

UU

No.

13

Tahun

2003

Tentang

Ketenagakerjaan Serta Implikasinya Terhadap Upaya Mewujudkan

21

Keadilan Antara Pekerja/ Buruh dan Pengusaha, Tesis: Fakultas


Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2006.
Andri Yudhi Supriadi, Dampak Kenaikan Upah Minimum Terhadap Pekerjaan
Formal di Perkotaan Tahun 1998-2004, Tesis: Magister Perencanaan
dan Kebijakan Publik Program Pascasarjana Universitas Indonesia,
Jakarta 2005.
B. Peraturan Peundang-undangan
Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Indonesia, Undang-Undang Tentang Ketenagakerjaan. UU No. 13 Tahun
2003.
Indonesia, Peraturan Pemerintah Tentang Perlindungan Upah. PP No. 8 Tahun
1981.
Indonesia, Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tentang Upah
Minimum. Permen No. 7 Tahun 2013.

22