Anda di halaman 1dari 96

SKRIPSI

PENGARUH LATIHAN AKTIVITAS FISIK


TERHADAP TINGKAT MOBILISASI
PASIEN PASKA BEDAH APENDEKTOMI
DI RUMAH SAKIT SANTO BORROMEUS BANDUNG
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan tugas akhir pada
Program Studi S1 Keperawatan

OLEH :
YULIANA BAYU PRASETYONINGSIH
NIM 30120113008K

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS
PADALARANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Kesehatan menurut WHO merupakan keadaan sehat sejahtera baik
fisik, mental maupun sosial dan tidak hanya terbebas dari kelemahan ataupun
penyakit (Lemone, 2010); sedangkan menurut undang-undang RI nomor 36
tahun 2009, kesehatan merupakan situasi sehat baik fisik, mental, spiritual
ataupun sosial sehingga setiap individu dapat hidup secara produktif baik
sosial maupun ekonomi. Seseorang dikatakan memiliki kesehatan secara fisik
apabila seseorang tersebut merasa tidak sakit, tidak merasakan adanya
keluhan dan secara klinis dapat dibuktikan tidak adanya penyakit. Semua
organ tubuh berfungsi baik dan fungsi tubuh tidak terganggu (Notoatmodjo,
2014 ). Terjadinya perubahan kesehatan baik struktur dan fungsi tubuh atau
pikiran dipersepsikan sebagai sakit (Lemone, 2010). Sakit dapat terjadi pada
setiap individu, sehingga individu memerlukan bantuan medis untuk dapat
mengembalikan kesehatan mereka. Penyakit pada dasarnya dibedakan
menjadi penyakit dalam dan bedah. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan
untuk mengobati penyakit bedah yaitu dengan tindakan pembedahan / operasi
(Lewis, 2011).
Pembedahan merupakan tindakan
maupun perlukaan

dengan

mengobati penyakit, deformitas

menggunakan peralatan atau instrumen.

Pembedahan dilakukan karena beberapa alasan diantaranya untuk diagnostik ,

pengobatan atau kuratif dengan cara mengangkat atau membuang salah satu
organ seperti amputasi dan apendektomi, restorative untuk meningkatkan
kemampuan klien,perbaikan organ yang mengalami kerusakan , paliatif untuk
meringankan gejala penyakit ,dan juga untuk alasan kosmetik untuk
meningkatkan ataupun merubah penampilan seseorang (Lewis, 2011).
Pembedahan baik yang dilakukan secara darurat ataupun yang
direncanakan dirasakan oleh tiap individu sebagai peristiwa yang kompleks
yang dirasa menegangkan. Pasien praoperatif seringkali mengalami
ketakutan. Takut terhadap nyeri atau kematian, takut karena ketidaktahuannya
apa yang akan terjadi (Smeltzer, 2010). Pasien yang akan menjalani operasi,
beresiko tinggi untuk mengalami kurang pengetahuan, salah satunya
pengetahuan yang berhubungan dengan mobilitas fisik pasien . Selain itu,
pembedahan akan menimbulkan perlukaan sebagai tindakan medis yang
invasif

untuk

mendiagnosa

ataupun

mengobati

penyakit

ataupun

memperbaiki perubahan bentuk yang terjadi (Lemone, 2010). Perlukaan yang


ditimbulkan dalam pembedahan akan menimbulkan keterbatasan pada pasien
untuk melakukan mobilisasi. Hal ini terjadi karena mereka takut hal tersebut
akan mempengaruhi luka operasi, mobilisasi menyebabkan nyeri dan bahkan
dapat menimbulkan komplikasi (Ignatavicius, 2010). Hal ini tentu saja akan
membuat pasien sulit untuk bergerak sehingga mobilisasi pasien menjadi
terganggu.
Pelaksanaan pembedahan juga memerlukan tindakan anestesi atau
pembiusan, salah satu anestesi yang digunakan yaitu anestesi umum untuk

menghilangkan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat


reversibel (Rosdahl, 2015). Anestesi umum biasanya dimanfaatkan untuk
tindakan operasi yang memerlukan ketenangan pasien. Dengan penggunaan
anestesi, juga akan mempengaruhi pada mobilisasi pasien. Pasien yang tidak
sadar tidak dapat melakukan mobilisasinya. Efek ini dapat berlangsung
tergantung pada dosis anestesi yang digunakan. Mobilisasi dini paska bedah
harus dilakukan sesegera mungkin setelah pasien sadar dari pengaruh
anestesi, bahkan memiliki tujuan pasien dapat turun dari tempat tidur pada
hari yang sama dengan pelaksanaan operasi atau hari pertama setelah operasi,
walaupun pasien mengalami operasi besar. Jika hal ini tidak memungkinkan,
pasien harus melakukan miring kiri dan kanan setidaknya setiap 2 jam dan
juga melakukan latihan pergerakan kaki (Ignatavicius, 2010).
Kesulitan pasien dalam mobilisasi yang terus menerus akan
mempengaruhi terhadap proses penyembuhan klien. Komplikasi paska
operasi yang dapat terjadi bila pasien tidak melakukan mobilisasi dini
diantaranya yaitu masalah gangguan gastrointestinal seperti sulitnya
peristaltik usus kembali normal, sirkulasi darah, atelektasis, pneumonia
hipostatik, ataupun gangguan integumen dengan terjadinya dekubitus
(Smeltzer , 2010). Sirkulasi darah merupakan salah satu hal penting yang
harus dipertahankan pada pasien paska bedah, karena proses penyembuhan
luka membutuhkan sirkulasi darah yang baik. Bila sirkulasi darah baik,
otomatis perfusi ke jaringan terutama daerah luka dapat tercukupi yang
berakibat penyembuhan luka dapat terjadi secepatnya. Tetapi sebaliknya bila

pasien takut atau sulit untuk mobilisasi, yang berakibat terjadinya komplikasi,
maka akan menambah waktu pasien untuk dirawat di rumah sakit yang akan
berdampak pada biaya perawatan rawat inap yang diperlukan klien. Kondisi
ini akan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi pasien maupun
keluarga.
Mobilisasi dini pada pasien paska operasi harus sesegera mungkin
dilakukan agar fungsi fisiologis pasien dapat segera kembali normal,seperti
keadaan pra bedah. Penelitian mengenai perilaku mobilisasi pada pasien
paska bedah sebelumnya pernah dilakukan, Marlitasari pada tahun 2010,
pada penelitian yang berjudul Gambaran Penatalaksanaan Mobilisasi Dini
oleh Perawat Pada Pasien Post Apendektomi di RS Muhammadiyah
Gombong

menyimpulkan bahwa ada lima faktor yang mempengaruhi

pelaksanaan mobilisasi dini yaitu pengetahuan, sikap perawat, persepsi,


sumberdaya dan sikap petugas kesehatan lain. Dari kelima faktor tersebut dua
faktor yang memiliki hubungan bermakna yaitu faktor pengetahuan dan sikap
petugas. Pada penelitian yang dilakukan Tarmidzi pada tahun 2013 dengan
judul Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Pada Pasien Post Laparatomie yang Diberikan Mobilisasi Dini menyatakan
bahwa pelaksanaan mobilisasi dini dipengaruhi oleh pengetahuan yang
didapatkan dari pendidikan kesehatan atau edukasi dari tenaga medis. Apabila
pasien mengalami kurang pengetahuan mengenai mobilisasi dini maka akan
mempengaruhi sikap pasien sehingga pasien tidak akan melakukan mobilisasi
dini.

Mobilisasi dini yang dilakukan oleh pasien paska bedah sangat besar
manfaatnya, salah satunya yaitu meningkatnya perfusi ke jaringan sehingga
terjadi peningkatan sirkulasi darah, yang berdampak pada meningkatnya
metabolisme baik karbohidrat, protein maupun lemak sehingga energi ATP
yang dihasilkan akan meningkat pula (Potter, 2010). Bila ATP yang
dihasilkan meningkat, energi pun akan meningkat sehingga pasien dapat
melakukan akivitas mandirinya, dengan demikian tingkat ketergantungan
pasien akan semakin menurun. Mobilisasi dini juga berpengaruh pada
penyembuhan luka operasi. Pada penelitian yang dilakukan Nainggolan pada
tahun 2013 dengan judul Hubungan Mobilisasi Dini Dengan Lamanya
Penyembuhan Luka Paska Operasi Apendektomi menyatakan bahwa terdapat
hubungan mobilisasi dini dengan penyembuhan luka yang dibuktikan dengan
adanya proses penyembuhan luka pada pasien paska bedah apendektomi.
Rumah Sakit Santo Borromeus memiliki format Standar Operasional
Prosedur ( SOP ) untuk pasien paska operasi secara umum. SOP ini untuk
melatih pasien melakukan latihan aktif atau mobilisasi dini untuk operasi,
yaitu tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien paska operasi yang
sudah diperbolehkan mobilisasi duduk atau berjalan dengan cara bertahap.
Perawat memiliki tanggungjawab yang besar dalam memberikan
pengetahuan yang diperlukan bagi pasien, karena salah satu peran perawat
adalah sebagai seorang edukator. Melalui peran ini diharapkan perawat dapat
membantu pasien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan,
sehingga terjadi perubahan perilaku dari pasien setelah dilakukan pendidikan

kesehatan. Penyuluhan memiliki banyak keuntungan diantaranya mengurangi


kecemasan, penyembuhan yang lebih cepat dengan komplikasi yang kecil,
dan berkurangnya waktu rawat bagi pasien. Pelaksanaan mobilisasi dini
memerlukan informasi yang jelas, pendampingan terutama oleh tim medis
(Burden, 2010).
Perawat harus mempersiapkan baik pasien maupun keluarganya untuk
menghadapi operasi yang akan dilaksanakan. Penyuluhan yang telah
terstruktur dengan baik telah terbukti akan menghasilkan manfaat yang besar.
Penyuluhan yang diberikan mengenai perilaku apa saja yang diharapkan
dilakukan oleh pasien pasca operasi, yang diberikan melalui format yang
terstruktur dan sistematik sesuai dengan prinsip pengajaran yang ada, akan
memberikan pengaruh yang positif bagi pemulihan pasien (Potter, 2010).
Penyuluhan yang ideal yaitu penyuluhan yang diberikan dengan terstruktur
dan kemudian informasi tersebut diperjelas dengan demonstrasi dan
pendampingan dalam melaksanakan latihan aktivitas fisik . Partisipasi dalam
demonstrasi ulang merupakan salah satu cara terbaik dalam pemberian
penyuluhan. Sehingga pasien dapat langsung ikut serta dalam pelaksanaan
pembelajaran (Bastable, 2012). Penyuluhan dan latihan fisik yang telah
disusun dapat mempengaruhi faktor-faktor paska operasi diantaranya yaitu
fungsi pernafasan, perasaan sehat, lama inap di rumah sakit, kecemasan
terhadap nyeri dan yang terutama kapasitas fungsi fisik. Latihan aktivitas
fisik dapat meningkatkan ambulasi dini pasien sehingga pasien dapat
melakukan aktivitas sehari-hari lebih awal ( Potter, 2010 ).

Apendeksitis maupun tindakan apendektomi merupakan salah satu


kedaruratan abdomen yang sering dijumpai. Data WHO pada tahun 2008
angka kejadian apendiksitis di negara maju lebih tinggi daripada negara
berkembang, Amerika menangani 11 kasus/10.000 kasus apendiksitis setiap
tahunnya. Data Depkes pada tahun 2012, jumlah pasien yang menderita
apendiksitis sekitar 32 % dari jumlah populasi penduduk Indonesia.
Di Rumah Sakit Santo Borromeus, pada tahun 2014 ada sebanyak 337
tindakan operasi apendektomi. Dari bulan September hingga November 2014,
peneliti menjumpai 8 pasien paska bedah terutama operasi apendektomi
menyatakan 5 orang tidak melakukan mobilisasi dini karena takut jahitan
sobek, ataupun drain yang terpasang akan terlepas. Akan tetapi pada pasien
yang tidak melakukan mobilisasi dini tersebut waktu rawat menjadi lebih dari
5 hari, yang seharusnya rata-rata hari rawat 4 hari. 5 orang pasien mengatakan
jarang mendapatkan penyuluhan ataupun pembelajaran tentang mobilisasi
setelah operasi, hal ini yang menyebabkan mereka takut untuk bergerak.
Pada studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Desember 2014,
peneliti menemukan bahwa dari 5 pasien paska bedah laparatomie
apendektomi, hanya 2 yang melakukan mobilisasi dini, hal ini karena mereka
pernah memiliki pengalaman operasi sebelumnya, tetapi tehnik yang
dilakukan hanya mampu melakukan miring kiri dan kanan pada 24 jam
pertama. Dari 5 pasien tersebut juga hari rawat yang dialami semakin
bertambah dari yang harusnya 4 hari menurut standar RS Borromeus menjadi
5 hingga 6 hari rawat. Dan kelima pasien tersebut mengatakan bahwa

penyuluhan mengenai mobilisasi dini didapatkan pasien setelah operasi tanpa


ada demontrasi latihan aktivitas fisik. Sehingga pasien tersebut mengatakan
bahwa mereka merasa takut dan belum siap untuk melakukan mobilisasi dini,
pasien yang seharusnya sudah memasuki perawatan minimal pada hari
pertama

paska

bedah,

masih

masuk

dalam

perawatan

maksimal

(Smeltzer,2010)
Berdasarkan uraian dari latar belakang, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian mengenai : Pengaruh latihan aktivitas fisik terhadap
tingkat mobilisasi pasien paska bedah apendektomi di Rumah Sakit Santo
Borromeus Bandung.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas, maka rumusan
masalah yang diangkat oleh peneliti adalah : Apakah ada pengaruh latihan
aktivitas fisik terhadap tingkat mobilisasi pasien paska bedah apendektomi di
Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung .
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini meliputi tujuan umum dan khusus. Tujuan ini
dibedakan menjadi dua diantaranya :
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh pemberian latihan aktivitas fisik dengan tingkat
mobilisasi pasien paska bedah apendektomi di Rumah Sakit Santo
Borromeus Bandung.

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk :
a. Mengidentifikasi tingkat mobilisasi pada pasien paska bedah
apendektomi sebelum diberikan latihan aktivitas fisik di RS Santo
Borromeus
b. Mengidentifikasi tingkat mobilisasi pada pasien paska bedah
apendektomi setelah diberikan latihan aktivitas fisik di RS Santo
Borromeus
c. Menganalisa pengaruh latihan aktivitas fisik terhadap tingkat
mobilisasi paska bedah apendektomi di RS Santo Borromeus.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dapat dibagi menjadi dua yaitu manfaat secara teoritis dan
praktis. Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1. Teoritis
Penelitian ini dapat digunakan untuk memperkuat teori-teori keperawatan
medikal bedah khususnya mengenai pengaruh latihan aktivitas fisik
terhadap tingkat mobilisasi pasien operasi apendektomi.
2. Praktis
a. Bagi Manajemen Rumah Sakit Santo Borromeus
Sebagai bahan informasi mengenai pengaruh pemberian latihan
aktivitas fisik terhadap tingkat mobilisasi pasien paska bedah
apendektomi. Penelitian ini juga dapat menjadi bahan dasar dalam

10

pembuatan SOP maupun pengambilan keputusan , serta pengambilan


kebijakan untuk melakukan penyegaran atau pelatihan ( in house
training ) bagi perawat, bagi pelaksanaan mobilisasi dini pasien paska
operasi khususnya paska bedah apendektomi di rumah sakit Santo
Borromeus.
b. Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman pertama dalam mengaplikasikan ilmu yang
telah didapat selama kuliah khususnya pada mata ajar keperawatan
metodologi penelitian.
c. Bagi Institusi STIKes Santo Borromeus
Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan menambah
bahan bacaan ataupun kepustakaan bagi mahasiswa STIKes Santo
Borromeus tentang pengaruh latihan aktivitas fisik perawat pada
pasien setelah operasi dengan tingkat mobilisasi pasien paska bedah
apendektomi di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung.

E. Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini mengenai pengaruh latihan aktivitas fisik dengan tingkat
mobilisasi pasien paska bedah apendektomi di Rumah Sakit Santo Borromeus
dilaksanakan pada bulan Juni - Juli 2015. Penelitian ini dilaksanakan
berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada 5 pasien paska bedah
laparatomie di ruang Yosef 3 Dago dan Yosef 3 Surya Kencana , didapatkan
3 dari 5 pasien tidak mengerti mengenai aktivitas mobilisasi yang harus

11

dilakukan paska bedah karena tidak mendapatkan pendidikan kesehatan


mengenai mobilisasi dini paska bedah, sedangkan 2 dari 5 mengetahui
mobilisasi dini karena pernah mengalami operasi sebelumnya tetapi tidak
mengetahui mobilisasi yang harus dilakukan secara tepat, hanya mengetahui
harus miring kiri dan kanan paska bedah. Penelitian ini dilakukan pada 15
pasien paska bedah apendektomi hari pertama di

Rumah Sakit Santo

Borromeus Bandung, dengan menggunakan metode penelitian experiment,


dengan desain eksperimen semu ( Quasi experiment design ) dengan
rancangan penelitian pre and post test without control. Sampel yang
digunakan adalah purposive sampling, yaitu mengambil sampel penelitian
dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan penelitian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP DASAR LATIHAN AKTIVITAS


1. Pengertian Latihan Aktivitas
Pengertian latihan aktivitas adalah aktivitas fisik untuk membuat
kondisi tubuh, meningkatkan kesehatan, dan mempertahankan kesehatan
jasmani. Hal ini juga digunakan sebagai terapi memperbaiki deformitas
atau mengembalikan seluruh tubuh ke status kesehatan maksimal (Potter,
2010). Pengertian latihan aktivitas menurut Smeltzer (2010) adalah
latihan fisik yang bila dilakukan dengan baik dan benar dapat bermanfaat
untuk

mempertahankan

ataupun

meningkatkan

kekuatan

otot,

mempertahankan fungsi sendi, mencegah deformitas, meningkatkan


sirkulasi ataupun meningkatkan relaksasi. Pengertian lain dari latihan
aktivitas menurut Lemone (2010) adalah latihan yang dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan fisik klien yang sebelumnya terganggu ke
kondisi semula.
2. Pengaruh Latihan Aktivitas
Potter (2010) menjelaskan pengaruh latihan aktivitas terhadap berbagai
sistem tubuh, yaitu :

12

13

a. Sistem Kardiovaskuler
1) Meningkatkan curah jantung
2) Memperbaiki kontraksi miokardial, kemudian menguatkan otot
jantung
3) Menurunkan tekanan darah istirahat
4) Memperbaiki aliran balik vena
b. Sistem Respiratori
1) Meningkatkan frekuensi dan kedalaman pernafasan diikuti oleh
laju istirahat-kembali lebih cepat
2) Meningkatkan ventilasi alveolar
3) Menurunkan kerja pernafasan
4) Meningkatkan pengembangan diafragma
c. Sistem Metabolik
1) Meningkatkan laju metabolisme basal
Peningkatan metabolisme basal akan menghasilkan energi dan
ATP terutama dengan latihan aktivitas fisik. Sirkulasi darah pada
seluruh tubuh akan lebih baik bila dilakukan mobilisasi dini
terutama bagi sirkulasi abdomen serta motilitas usus.
2) Meningkatkan penggunaan glukosa dan asam lemak
3) Meningkatkan pemecahan trigliserida
4) Meningkatkan motilitas lambung
5) Meningkatkan produksi panas tubuh

14

d. Sistem Muskuloskeletal
1) Memperbaiki tonus otot
2) Meningkatkan mobilisasi sendi
3) Memperbaiki toleransi otot untuk latihan
4) Mungkin meningkatkan massa otot
5) Mengurangi kehilangan tulang
e. Toleransi Aktivitas
1) Meningkatkan toleransi
2) Mengurangi kelemahan
f. Faktor Psikososial
1) Meningkatkan toleransi terhadap stress
2) Melaporkan perasaan lebih baik
3) Melaporkan pengurangan penyakit (contoh : pilek dan influenza
virus)
3. Mekanisme Umum Kontraksi Otot Pada Latihan Aktivitas
Guyton (2012) menjelaskan timbul dan berakhirnya kontraksi otot terjadi
dalam urutan tahap-tahap berikut :
a. Suatu potensial aksi berjalan di sepanjang sebuah saraf motorik
sampai ke ujungnya pada serabut otot
b. Di setiap ujung, saraf menyekresi substansi neurotransmiter yaitu
asetilkolin, dalam jumlah sedikit

15

c. Asetilkolin bekerja pada area setempat pada membran serabut otot


untuk membuka banyak kanal bergerbang asetilkolin melalui
molekul-molekul protein yang terapung pada membran
d. Terbukanya kanal bergerbang asetilkolin memungkinkan sejumlah
besar ion natrium untuk berdifusi ke bagian dalam membran serabut
otot. Peristiwa ini akan menimbulkan suatu potensial aksi pada
membran
e. Potensial aksi akan berjalan di sepanjang membran serabut otot
dengan cara yang sama seperti potensial aksi berjalan di sepanjang
membran serabut saraf
f. Potensial aksi akan menimbulkan depolarisasi membran otot, dan
banyak aliran listrik potensial aksi mengalir melalui pusat serabut
otot. Di sini, potensial aksi menyebabkan retikulum sarkoplasma
melepaskan sejumlah besar ion kalsium, yang telah tersimpan di
dalam retikulum ini
g. Ion-ion kalsium menimbulkan kekuatan menarik antara filamen aktin
dan miosin, yang menyebabkan kedua filamen tersebut bergeser satu
sama lain, dan menghasilkan proses kontraksi
h. Setelah kurang dari satu detik, ion kalsium dipompa kembali ke dalam
retikulum sarkoplasma oleh pompa membran Ca++ , dan ion-ion ini
tetap disimpan dalam retikulum sampai potensial aksi otot yang baru
datang

lagi;

pengeluaran

ion

menyebabkan kontraksi otot terhenti.

kalsium

dari

miofibril

akan

16

4. Peranan Kontraksi Otot Rangka dalam Latihan Aktivitas


Guyton (2012) menjelaskan bahwa kontraksi otot rangka selama
latihan aktivitas dapat meningkatkan curah jantung dan tekanan arteri.
Sewaktu otot-otot rangka berkontraksi selama latihan fisik, otot-otot
tersebut menekan pembuluh darah di seluruh tubuh. Bahkan persiapan
untuk latihan fisik saja sudah mengencangkan otot-otot, sehingga terjadi
kompresi pembuluh darah dalam otot dan abdomen. Akibatnya adalah,
terjadi pemindahan darah dari pembuluh perifer ke jantung dan paru, dan
dengan demikian, akan meningkatkan curah jantung.
Keadaan ini merupakan efek yang penting dalam membantu
meningkatkan curah jantung sebesar lima sampai tujuh kali lipat yang
kadang-kadang terjadi selama latihan fisik. Selanjutnya, kenaikan curah
jantung merupakan bahan penting untuk meningkatkan tekanan arteri
selama latihan fisik, biasanya terjadi peningkatan dari tekanan rata-rata
normal (100 mmHg) hingga mencapai 130-160 mmHg.
5. Peranan Saraf dalam Latihan Aktivitas
Latihan aktivitas fisik yaitu pada latihan ektremitas, akan
mempengaruhi sistem saraf tepi. Sistem saraf tepi atau perifer mengatur
hubungan antara semua jaringan-jaringan dan organ-organ lain dengan
sistem saraf pusat (Brunner, 2010).
Potter, 2010, menjelaskan bahwa pada permulaan latihan aktivitas
fisik, sinyal tidak hanya dijalarkan dari otak menuju otot untuk
menimbulkan kontraksi otot tetapi juga ke pusat vasomotor untuk

17

memulai perangsangan simpatis yang kuat di seluruh tubuh. Secara


bersamaan, sinyal parasimpatis ke jantung menjadi sangat lemah.
Menurut Guyton, 2012, timbul tiga efek sirkulasi utama :
a.

Pertama, jantung dirangsang sehingga kecepatan denyut jantung dan


kekuatan pemompaannya menjadi sangat meningkat sebagai akibat
rangsangan simpatis ke jantung dan terbebasnya jantung dari
hambatan parasimpatis normal

b.

Kedua, sebagian besar arteriol di sirkulasi perifer berkontraksi


dengan kuat kecuali arteriol-arteriol dalam otot yang aktif, yang
berdilatasi dengan kuat akibat pengaruh vasodilator lokal dalam otot.

c.

Ketiga, dinding otot vena dan daerah kapasitatif lainnya pada


sirkulasi berkontraksi secara kuat, yang akan sangat meningkatkan
tekanan pengisian sistemik rata-rata.

6. Faktor yang Mempengaruhi Toleransi Latihan Aktivitas


Craven (2008) menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi toleransi
latihan aktivitas, yaitu :
a. Faktor Fisiologis
Klien yang mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dispnu atau
nyeri dada selama latihan tidak akan tahan melakukan aktivitas seperti
pada klien yang tidak mengalaminya. Pada klien lemah tidak mampu
meneruskan aktivitas menyebabkan kelelahan dan kelemahan yang
menyeluruh. Secara singkat, faktor fisiologis yang berpengaruh
diantaranya :

18

1) Frekuensi penyakit atau operasi dalam 12 bulan terakhir


2) Tipe penyakit atau operasi dalam 12 bulan terakhir
3) Status kardiopulmonar ( misalnya dispnu, nyeri dada )
4) Status muskuloskeletal ( misalnya penurunan massa otot )
5) Pola tidur
6) Keberadaan nyeri, pengontrolan nyeri
7) Tanda-tanda vital : frekuensi pernafasan dan nadi kembali ke
tingkat istirahat dalam 5 menit setelah latihan; tekanan darah
kembali seperti semula dalam 5-10 menit setelah latihan
8) Tipe dan frekuensi aktivitas latihan
9) Kelainan hasil laboratorium, seperti penurunan konsentrasi oksigen
arteri, penurunan kadar hemoglobin, kadar elektrolit yang tidak
normal.
b. Faktor Emosional
Orang yang depresi, khawatir atau cemas sering tidak tahan melakukan
aktivitas. Klien depresi biasa tidak termotivasi untuk berpartisipasi.
Klien khawatir atau cemas lebih mudah lelah karena mereka
mengeluarkan energi cukup besar dalam ketakutan dan kecemasannya.
Jadi mereka mengalami keletihan secara fisik dan emosi. Secara
singkat, faktor emosional yang berpengaruh diantaranya :
1) Suasana hati ( mood ) : depresi, cemas
2) Motivasi
3) Ketergantungan zat kimia ( misalnya obat-obatan, alkohol, nikotin)

19

4) Gambaran diri
7. Tipe Latihan Aktivitas
Craven (2008) menyebutkan beberapa tipe latihan aktivitas, yaitu :
a. Aerobic exercise
Memerlukan oksigen untuk digunakan dalam produksi energi oleh
aktivitas metabolik oleh otot rangka. Kekuatan, gerakan otot yang
terus menerus ( seperti berjalan, lari, bersepeda, ski melintasi kota,
tarian aerobic, dan bermain tenis ) merupakan latihan aerobic untuk
meningkatkan denyut jantung seseorang agar kondisi kardiovaskular
meningkat.
b. Anaerobic exercise
Latihan ini digunakan ketika otot tidak mendapatkan oksigen yang
cukup dari darah dan latihan ini dapat menghasilkan energi tambahan
untuk waktu yang singkat. Tipe latihan aktivitas ini berguna saat
latihan ketahanan. Semua latihan ketahanan dapat menjadi anaerobic
ketika sumber oksigen berkurang.
c. Isotonic exercise
Latihan ini berbentuk latihan yang dinamis dengan tegangan yang
konstant pada otot, kontraksi otot, dan gerakan aktif. Kebanyakan otot
( seperti berjalan, lari, melakukan ADL ) adalah isotonik.
d. Isometric exercise
Latihan ini merupakan latihan yang statis dimana otot mengalami
tegangan dan kontraksi tetapi tidak ada perubahan panjang atau

20

gerakan sendi. Contoh dari latihan isometrik diantaranya latihan


quadriseps

untuk

meningkatkan

kekuatan

otot

kuadriseps,

mempertahankan kekuatan otot yang diimobilisasikan ( traksi,


balutan) dan latihan pertahanan.
8. Latihan Aktivitas ( Rentang Gerak )
Potter (2010) menjelaskan latihan aktivitas untuk melatih rentang gerak,
yaitu :
a. Leher, spina servikal
1) Fleksi : menggerakkan dagu menempel ke dada
2) Ekstensi : mengembalikan kepala ke posisi tegak
3) Hiperekstensi : menekuk kepala ke belakang sejauh mungkin
4) Fleksi lateral : memiringkan kepala sejauh mungkin ke arah setiap
bahu
5) Rotasi : memutar kepala sejauh mungkin dalam gerakan sirkuler
b. Bahu
1) Fleksi : menaikkan lengan dari posisi di samping tubuh ke depan
ke posisi di atas kepala
2) Ekstensi : mengembalikan lengan ke posisi di samping tubuh
3) Hiperekstensi : menggerakkan lengan ke belakang tubuh, siku
tetap lurus
4) Abduksi : menaikkan lengan ke posisi samping di atas kepala
dengan telapak tangan jauh dari kepala

21

5) Adduksi : menurunkan lengan ke samping dan menyilang tubuh


sejauh mungkin
6) Rotasi dalam : dengan siku fleksi, memutar bahu dengan
menggerakkan lengan sampai ibu jari menghadap ke dalam dan ke
belakang
7) Rotasi luar : dengan siku fleksi, menggerakkan lengan sampai ibu
jari ke atas dan samping kepala
8) Sirkumduksi : menggerakkan lengan dengan lingkaran penuh
c. Siku
1) Fleksi : menekuk siku sehingga lengan bawah bergerak ke depan
sendi bahu dan tangan sejajar bahu
2) Ekstensi : meluruskan siku dengan menurunkan tangan
d. Lengan Bawah
1) Supinasi : memutar lengan bawah dan tangan sehingga telapak
tangan menghadap ke atas
2) Pronasi : memutar lengan bawah sehingga telapak tangan
menghadap ke bawah
e. Pergelangan Tangan
1) Fleksi : menggerakkan telapak tangan ke sisi bagian dalam lengan
bawah
2) Ekstensi : menggerakkan jari-jari sehingga jari-jari, tangan, dan
lengan bawah berada dalam arah yang sama

22

3) Hiperekstensi : membawa permukaan tangan dorsal ke belakang


sejauh mungkin
4) Abduksi : menekuk pergelangan tangan miring ( medial ) ke ibu
jari
5) Adduksi : menekuk pergelangan tangan miring ( lateral ) ke arah
lima jari
f. Jari-jari Tangan
1) Fleksi : membuat genggaman
2) Ekstensi : meluruskan jari-jari tangan
3) Hiperekstensi : menggerakkan jari-jari tangan ke belakang sejauh
mungkin
4) Abduksi : meregangkan jari-jari tangan yang satu dengan yang lain
5) Adduksi : merapatkan kembali jari-jari tangan
g. Ibu jari
1) Fleksi : menggerakkan ibu jari menyilang permukaan telapak
tangan
2) Ekstensi : menggerakkan ibu jari lurus menjauh dari tangan
3) Abduksi : menjauhkan ibu jari ke samping ( biasa dilakukan ketika
jari-jari tangan berada abduksi dan adduksi )
4) Adduksi : menggerakkan ibu jari ke depan tangan
5) Oposisi : menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan pada
tangan yang sama

23

h. Pinggul
1) Fleksi : menggerakkan tungkai ke depan dan ke atas
2) Ekstensi : menggerakkan kembali ke samping tungkai yang lain
3) Hiperekstensi : menggerakkan tungkai ke belakang tubuh
4) Abduksi : menggerakkan tungkai ke samping menjauhi tubuh
5) Adduksi : menggerakkan tungkai kembali ke posisi medial dan
melebihi jika mungkin
6) Rotasi dalam : memutar kaki dan tungkai ke arah tungkai lain
7) Rotasi luar : memutar kaki dan tungkai menjauhi tungkai lain
8) Sirkumduksi : mengerakkan tungkai melingkar
i. Lutut
1) Fleksi : menggerakkan tumit ke arah belakang paha
2) Ekstensi : mengembalikan tungkai ke lantai
j. Mata Kaki
1) Dorsifleksi : menggerakkan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk
ke atas
2) Plantarfleksi : menggerakkan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk
ke bawah
k. Kaki
1) Inversi : memutar telapak kaki ke samping dalam ( medial )
2) Eversi : memutar telapak kaki ke samping luar ( lateral )
l. Jari-jari Kaki
1) Fleksi : melengkungkan jari-jari kaki ke bawah

24

2) Ekstensi : meluruskan jari-jari kaki


3) Abduksi : merenggangkan jari-jari kaki satu dengan yang lain
4) Adduksi : merapatkan kembali bersama-sama
9. Latihan Aktivitas Paska Bedah Abdomen
Potter (2010) menjelaskan berbagai latihan aktivitas paska bedah
abdomen, yaitu :
a. Mengganti posisi
1) Instruksikan kepada klien untuk berbaring terlentang di bagian
kanan tempat tidur. Pasang kedua pembatas ditempat tidur
Rasional : perubahan posisi dimulai dari bagian kanan tempat
tidur sehingga bila klien miring ke kiri tidak menyebabkan klien
berguling ke pinggir tempat tidur.
2) Instruksikan klien untuk meletakkan tangan kirinya di atas tempat
insisi untuk menahan tempat insisi tersebut
Rasional : menyangga dan meminimalkan regangan pada tempat
jahitan selama perpindahan posisi
3) Instruksikan klien untuk mempertahankan kaki kirinya tetap lurus
dan kaki kanan ditekuk menyilang ke atas kaki kiri
Rasional : kaki yang lurus menstabilkan posisi klien. Kaki kanan
yang ditekuk akan memindahkan beban berat badan sehingga
perpindahan posisi akan lebih mudah

25

4) Minta klien memegang pembatas tempat tidur bagian kiri dengan


menggunakan tangan kanannya, tarik ke arah kiri, dan miringkan
tubuhnya ke arah kiri
Rasional : menarik ke arah pembatas tempat tidur akan
mengurangi besarnya usaha yang dibutuhkan untuk perpindahan
posisi
5) Instruksikan klien untuk mengganti posisinya setiap 2 jam pada
saat klien terjaga
Rasional : mengurangi risiko komplikasi vaskular dan pulmonal

Gambar 2.1 Posisi miring

(Sumber : http://edu.move side.com)

b. Latihan kaki
1) Minta klien berada pada posisi terlentang di tempat tidur.
Demonstrasikan latihan kaki dengan melakukan latihan rentang
pergerakan sendi pasif dan dilanjutkan dengan penjelasan tentang
latihan tersebut
Rasional : memberi posisi anatomi normal pada ekstremitas bawah

26

2) Rotasikan kedua pergelangan kaki membentuk lingkaran penuh.


Instruksikan klien untuk menggambarkan lingkaran dengan
menggunakan jempol kakinya. Ulangi sebanyak 5 kali
Rasional : latihan kaki mempertahankan mobilitas sendi dan
meningkatkan aliran balik vena yang akan mencegah terbentuknya
trombus
3) Lakukan dorsofleksi dan plantar fleksi secara bergantian pada
kedua kaki klien. Bimbing klien untuk merasakan kontraksi dan
relaksasi otot betis secara bergantian. Ulangi sebanyak 5 kali
Rasional

meregangkan

dan

mengontraksikan

otot-otot

gastroknemius
4) Minta klien melanjutkan latihan kaki dengan melakukan fleksi dan
ekstensi lutut secara bergantian. Ulangi sebanyak 5 kali
Rasional

mengontraksikan

otot

kaki

bagian

atas

dan

mempertahankan mobilitas lutut


5) Minta klien mengangkat kedua kaki secara tegak lurus dan
permukaan tempat tidur secara bergantian. Ulangi sebanyak 5 kali
Rasional : meningkatkan kontraksi dan relaksasi otot-otot
kuadriseps
6) Minta klien melakukan latihan ini minimal setiap 2 jam pada saat
klien

terjaga.

Instruksikan

klien

untuk

menggabungkan

perpindahan posisi dan latihan kaki dengan latihan pernafasan


diafragma, spirometri simulasi, dan latihan batuk

27

Rasional : pengulangan akan meningkatkan proses pembelajaran.


Latihan yang rutin akan menimbulkan kebiasaan pada klien.
Latihan yang harus dilakukan secara terus menerus terdiri dari
latihan kaki,perpindahan posisi, pernafasan, spirometri stimulasi
dan batuk.
7) Observasi kemampuan klien dalam melakukan kelima latihan
tersebut secara mandiri
Rasional : memastikan bahwa klien telah mempelajari teknik yang
tepat
8) Catat latihan yang telah didemonstrasikan dan kemampuan klien
melakukan latihan tersebut secara mandiri
Rasional

mendokumentasikan

penyuluhan

untuk

menyediakan data untuk pemberian instruksi yang lebih lanjut.

Gambar 2.2 Gerakan latihan fleksi kaki

( Sumber : Smeltzer ,tahun 2010)

dan

28

Gambar 2.3 Gerakan latihan rotasi kaki

( Sumber : Smeltzer ,tahun 2010)

B. KONSEP DASAR APENDIKSITIS DAN APENDEKTOMI


1. Pengertian
Apendiksitis adalah peradangan pada vermiform apendik yang
dapat menimbulkan nyeri akut abdomen (Lemone, 2010). Menurut
Smeltzer (2010) apendiksitis merupakan penyebab umum inflamasi akut
pada kuadran kanan bawah rongga abdomen, keadaan ini merupakan
penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat. Price (2005)
berpendapat bahwa apendiksitis adalah peradangan apendiks yang
mengenai semua lapisan dinding organ tersebut.
Dapat disimpulkan : Apendiksitis adalah peradangan pada mukosa
apendiks vermiformis dan mengenai semua lapisan dinding organ tersebut
sehingga menyebabkan nyeri akut pada abdomen.

29

Gambar 2. 4 Apendiks normal dan Apendiksitis

(Sumber : http ://edu.appendicitis.com)


2. Anatomi Fisiologi
Gambar 2.5 Apendiks

(Sumber : http://www.apendic.com)

Smeltzer, 2010, menjelaskan bahwa apendiks veriformis (umbai


cacing) merupakan organ tambahan kecil, diverticulum (cabang) sekum,
melekat pada sekum tepat di bawah katup ileocecal .

30

Fungsi Katup Ileosekal (valvula ileosekal) adalah untuk mencegah


aliran balik isi fekal dari kolon ke dalam usus halus dan diperantarai oleh
pleksus mieterikus. Berbentuk pipa buntu seperti cacing, dengan panjang
bervariasi sekitar 3-15 cm, dan diameter 0,5-1 cm, dan berpangkal pada
sekum, pada pertemuan tiga taenia colon yaitu taenia mesocolica, taenia
libera dan taenia omentalis.
3. Etiologi
Penyebab utamanya menurut Smeltzer, 2010 adalah obstruksi atau
penyumbatan yang disebabkan oleh :
a. Infeksi bakteri pada appendisitis akut
b. Hiperplasia jaringan limfoid yang merupakan penyebab terbanyak
c. Adanya benda asing seperti cacing, biji makanan, serta parasit
d. Striktur

atau

penyempitan

pembuluh

karena

fibrosis

karena

peradangan sebelumnya
e. Keganasan kanker (karsinoma, karsinoid )
4. Manifestasi klinis
Menurut Smeltzer, 2010, manifestasi klinis yang muncul pada klien
apendiksitis adalah :
a. Mual dan muntah dengan anoreksia akibat nyeri visceral
b. Obstipasi karena klien takut mengedan, klien apendiksitis akut juga
mengeluh obstipasi sebelum datangnya rasa nyeri dan beberapa klien
mengalami diare, hal tersebut timbul biasanya pada letak apendiks
pelvikal yang merangsang daerah rectum.

31

c. Panas (infeksi) bila timbul komplikasi. Gejala lain timbul demam


yang tidak terlalu tinggi dengan suhu antara 37,50 C-38,50 C, tetapi
bila suhu lebih tinggi diduga terjadi perforasi.
d. Pada inspeksi, klien berjalan membungkuk sambil memegangi
perutnya yang sakit, timbul kembung bila terjadi perforasi, penonjolan
perut kanan bawah terlihat pada abses apendiks. Posisi klien biasanya
miring ke sisi yang sakit sambil melakukan fleksi pada sendi paha,
karena setiap ekstensi meningkatkan nyeri.
e. Pada palpasi
1) Nyeri tekan positip pada titik MC.Burney.
Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan bawah atau
titik MC.Burney (setengah jarak antara umbilicus dengan tulang
ileum kanan) dan ini merupakan tanda kunci diagnosis.
Gambar 2.6 Titik MC. Burney

(Sumber: http://www.vetmed.com)

32

2) Nyeri lepas positip pada rangsangan peritoneum. Reubond


tenderness (nyeri lepas) adalah rasa nyeri yang hebat di abdomen
kanan bawah (titik MC.Burney) saat tekanan tiba-tiba dilepaskan
3) Defens muscular positif pada rangsangan musculus rektus
abdominis. Defens muscular adalah nyeri tekan seluruh lapang
abdomen yang menunjukkan adanya rangsangan peritoneum
parietalis.
4) Rovsing sign positif pada penekanan perut sebelah kiri, maka nyeri
dirasakan pada sebelah kanan.
Gambar 2.7 Rovsing sign

area penekanan
(Sumber: http:// www.easynotcards.com)
f. Pada pemeriksaan fisik lainnya dapat ditemukan adanya:
1) Psoas sign positif, pada apendiks letak retrocaekal. Psoas sign
terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh peradangan
yang terjadi pada apendiks.

33

Gambar 2.8 Psoas sign

(Sumber : http://www.arp.org)
2) Obturator sign positif. Posisi klien terlentang, kemudian lutut
difleksikan kemudian dirotasikan kearah dalam dan luar secara
pasif maka dikatakan positif bila terdapat nyeri.

Gambar 2.9 Obturator sign

(Sumber : http:// www.jamaevidence.com)

g. Pada perkusi didapatkan nyeri ketuk positif.


h. Pada auskultasi, dapat ditemui peristaltik normal, peristaltik tidak ada
bila telah terjadi ileus paralitik karena peritonitis akibat perforasi
apendiksitis.

34

i. Rectal toucher atau colok dubur. Nyeri tekan pada arah jarum jam 912.
5. Patofisiologi
Patogenesis umumnya diduga karena adanya obstruksi lumen, yang
biasanya disebabkan oleh fekalit (feses keras yang terutama disebabkan
oleh kurang serat). Kondisi obstruksi akan menyebabkan peningkatan
tekanan intra luminal yang dapat menyebabkan terjadinya oklusi arteria
terminalis

apendikularis

dan

peningkatan

perkembangan

bakteri.

Penyumbatan pengeluaran sekret mucus mengakibatkan terjadinya


pembengkakan, infeksi, dan ulserasi. Bila keadaan ini dibiarkan
berlangsung terus, biasanya menyebabkan nekrosis, ganggren, dan
perforasi. Pada fase ini, pasien akan mengalami nyeri pada area
periumbilikal. Dengan berlanjutnya proses inflamasi, maka pembentukan
eksudat akan terjadi pada permukaan serosa apendiks. Ketika eksudat ini
berhubungan dengan parietal peritoneum, maka intensitas nyeri yang khas
akan terjadi.
Berlangsungnya proses obstruksi, bakteri akan berpoliperasi dan
meningkatkan tekanan intraluminal dan membentuk infiltrate pada
mukosa dinding apendiks yang disebut dengan apendiksitis mukosa,
dengan manifestasi ketidaknyamanan abdomen. Adanya penurunan
perfusi pada dinding akan menimbulkan iskemia dan nekrosis disertai
peningkatan tekanan intraluminal yang disebut apendiksitis nekrosis, juga
akan meningkatkan resiko perforasi dari apendiks. Proses fagositosis

35

terhadap respon perlawanan pada bakteri memberikan manifestasi


pembentukan nanah atau abses yang terakumulasi pada lumen apendiks
yang disebut dengan apendiksitis suporatif.
Sebenarnya tubuh juga melakukan pertahanan untuk membantasi
proses peradangan ini dengan cara menutup apendiks dengan omentum
dan usus halus sehingga terbentuk massa periapendikular yang secara
salah dikenal dengan istilah infiltrate apendiks. Pada bagian dalamnya
dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami
perforasi. Namun, jika tidak terbentuk abses, apendiksitis akan sembuh
dan massa apendikular akan menjadi tenang dan selanjutnya akan
mengurai diri secara lambat.
Berlanjutnya kondisi apendiksitis akan meningkatkan resiko dari
terjadinya perforasi dan pembentukan massa apendikular. Perforasi
dengan cairan inflamasi dan bakteri masuk ke rongga abdomen lalu
memberikan respon inflamasi permukaan peritoneum atau terjadi
peritonitis. (Given, 2005).
6. Test Diagnostik
Lemone, 2010, menjelaskan test diagnostik untuk apendiksitis yaitu :
a. Pemeriksaan laboratorium
Sel darah putih / leukosit meningkat (di atas 12.000/mm3) sebagai
respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme
yang menyerang. Neutrofil juga meningkat sampai 75%. Hb tampak

36

normal, laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan appendisitis


infiltrat.
b. Pemeriksaan radiologi
Foto abdomen / ultrasonografi (USG) dapat menyatakan adanya
pengerasan material pada apendiks (fekalith), ileus terlokalisir.
c. Pemeriksaan urine
Normal, tetapi eritrosit / leukosit mungkin ada. Urine rutin penting
untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
7. Komplikasi
Apabila apendiktomi ditunda pada keadaan ini akan timbul komplikasi
(Smeltzer, 2010) :
a. Peritonitis umum
b. terbentuknya abses di sekitar apendiks
c. Peradangan vena portal (phlebitis) dengan trombosis vena porta
d. Terbentuknya abses hati
e. Septikemia (kekerasan darah oleh bakteri patogenik dan atau zat-zat
yang dihasilkan oleh bakteri tersebut.
8. Penatalaksanaan
Lemone (2010) menjelaskan beberapa penatalaksanaan yaitu :
a. Medikasi
Sebelum pembedahan, cairan intravena diberikan untuk memulihkan
atau mempertahankan volume vaskular dan mencegah terjadinya
ketidakseimbangan elektrolit. Terapi antibiotik yaitu generasi ketiga

37

cephalosporin efektif dalam melawan banyak bakteri gram negatif,


seperti cefoperazone ( Cefobid ), Cefotaxime ( Claforan ), Ceftazidime
( Fortaz ) atau ceftriaxone ( Rocephin ) dapat diberikan sebelum
pelaksanaan pembedahan. Pemberian antibiotik dapat diberikan
kembali selama operasi dan dilanjutkan setidaknya 48 jam paska
bedah.
b. Pembedahan
Pembedahan adalah sebuah proses invasif karena insisi dilakukan
pada tubuh atau ketika bagian tubuh diangkat. Pembedahan dilakukan
pada klien ketika terapi terbaik untuk gangguan yang dialaminya
adalah berupa perbaikan, pengangkatan, atau penggantian jaringan
atau organ tubuh (Rosdahl, 2015).
Lemone, 2010, menjelaskan bahwa pembedahan merupakan
pilihan bila terjadi apendiksitis akut, yaitu apendektomi, pembedahan
untuk membuang apendiks. Dalam pembedahan apendiksitis, dapat
dilakukan pendekatan laparaskopi (insersi endoskopi untuk melihat isi
abdomen ) ataupun laparatomie (pembedahan terbuka abdomen ).
Laparaskopi apendektomi membutuhkan insisi yang sangat kecil
melalui laparaskopi yang diinsersikan. Prosedur ini menghasilkan
beberapa keuntungan diantaranya dapat secara langsung melihat
apendiks utuk menegakkan diagnosa tanpa harus melakukan
laparatomie, hospitalisasi post operasi semakin pendek, jarang terjadi

38

komplikasi paska bedah, penyembuhan untuk kembali ke aktivitas


normal menjadi lebih cepat.
Open apendektomi dilakukan dengan laparatomie. Insisi kecil
dilakukan secara transversal di titik McBurney, apendiks di isolasi dan
diligasi (diikat ) untuk mencegah kontaminasi pada sisi isi abdomen,
dan kemudian dibuang. Laparatomie dilakukan bila apendiks telah
ruptur. Hal ini kemudian diikuti dengan membuang kontaminasi dari
ruang peritoneal dengan irigasi menggunakan cairan normal saline
(Lemone, 2010).
c. Akibat Pembedahan
Pembedahan menurut Rosdahl, 2015, menimbulkan beberapa akibat
ketidaknyamanan, yaitu :
1) Nyeri
Nyeri biasanya merupakan ketidaknyamanan pertama
paskaoperasi yang disadari oleh klien. Nyeri dievaluasi setiap kali
tanda vital yang lain diukur. Untuk mengurangi nyeri dapat
dianjurkan untuk tehnik relaksasi, tarik nafas panjang dan dalam.
Haruyama, 2011, berpendapat bahwa dengan pernafasan
panjang dan dalam serta relaksasi maka akan memicu keluarnya
hormon endorfin. Hormon endorfin diproduksi oleh tubuh yaitu
oleh kelenjar pitutary, yang mampu menimbulkan perasaan
senang dan nyaman hingga membuat seseorang berenergi. Karena

39

endorfin diproduksi oleh tubuh manusia sendiri, maka endorfin


dianggap sebagai zat penghilang rasa sakit yang baik.
Hormon endorfin merupakan salah satu sistem opium otak
disamping enkefalin. Pengaktifan sistem analgesia oleh sinyalsinyal saraf yang memasuki area periakuaduktal grisea dan
periventrikular yang berdekatan, dapat menekan hampir seluruh
sinyal-sinyal

nyeri

yang

masuk

melewati

saraf

perifer

(Guyton,2012).
2) Haus
Haus hampir selalu ada, biasanya karena penurunan cairan
praoperasi, kehilangan cairan selama pembedahan dan kekeringan
yang disebabkan oleh obat yang diberikan.
3) Distensi abdomen
Penghentian peristaltis usus secara sementara memungkinkan gas
terakumulasi di dalam usus klien sehingga menyebabkan distensi
abdomen.
4) Mual
Jika klien mengeluhkan mual, berikan obat antiemesis.
5) Retensi Urine
6) Konstipasi
Gangguan diet normal dan jadwal eliminasi, obat nyeri,
inaktivitas dan kelambatan peristaltik karena efek anestesi.
7) Gelisah dan Sulit Tidur

40

8) Imobilisasi
Imobilisasi pada pasien paska bedah dapat terjadi pada
pembedahan. Tetapi pasien diharuskan untuk mobilisasi dini
setelah pasien sadar, terutama pada hari pertama pembedahan
sesuai dengan kondisi pasien.
d. Penatalaksanaan Paska Bedah
Pasien yang dipasang catheter sebelum operasi harus dilepas
sebelum mereka meninggalkan ruang operasi. Pasien kemudian dapat
memperoleh diet yang sesuai, dan melakukan ambulasi dini.
Mobilisasi sudah dapat dilakukan sejak pasien sadar penuh,
setidaknya 12-18 jam setelah pembedahan ( pada hari yang sama
dengan operasi atau selambat-lambatnya hari pertama post operasi,
pasien harus mobilisasi turun dari tempat tidur ). Bila hal tersebut
dapat dilakukan pasien dapat dipersiapkan pulang dalam waktu 24- 32
jam. Bila apendiksitis yang terjadi sudah dalam tahap perforasi atau
ganggren, akan diberikan oral antibiotik untuk beberapa hari. Pada
apendiksitis yang simple, tidak diperlukan antibiotik setelah dilakukan
operasi (Bland, Kirby, 2009)
Setelah pasien bangun dari pengaruh anesthesi, tempatkan pasien
pada posisi Fowler untuk menurunkan resiko kontaminasi cairan
peritoneal yang terinfeksi ke abdomen bagian atas (McCann, 2006).

41

9. Anestesi (Pembiusan)
Anestesi menurut Rosdahl, 2015, adalah kehilangan sensasi secara
komplet atau sebagian. Anestesi bedah didefinisikan sebagai derajat
anestesi yang memungkinkan operasi dilakukan dengan aman dan
ditoleransi oleh klien, menghilangkan nyeri secara sentral disertai
hilangnya kesadaran yang bersifat reversibel.
Anestesi atau pembiusan pembedahan menurut Potter, 2010, terdiri
dari 4 macam, yaitu anestesi umum, anestesi regional, anestesi lokal dan
sedasi sadar. Anestesi umum menghasilkan imobilisasi, klien yang tenang
dan tidak bergerak dan tidak ingat prosedur bedah. Amnesia klien
bertindak sebagai alat pelindung dari peristiwa yang tidak menyenangkan
terhadap prosedur. Penyedia anestesi memberikan anestesi umum dengan
rute IV dan inhalasi melalui tiga fase anestesi, yaitu : induksi,
pemeliharaan, dan munculnya. Pembedahan yang membutuhkan anestesi
umum melibatkan prosedur mayor dengan manipulasi jaringan yang luas.
Durasi anestesi bergantung pada lamanya operasi.

C. MOBILISASI
1. Pengertian
Mobilisasi merupakan kebutuhan seseorang untuk melakukan aktivitas
yang dilakukan secara bebas dari satu tempat ke tempat yang lain
(Suratun, 2008). Mobilisasi merupakan kemampuan seorang individu
untuk bergerak bebas, mudah, teratur, dan mempunyai tujuan memenuhi

42

kebutuhan hidup sehat, serta penting untuk kemandirian. Mobilisasi


mengacu pada kemampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas,
sedangkan ketidakmampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas
dikenal dengan imobilisasi (Potter, 2010)
2. Faktor faktor yang mempengaruhi mobilisasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi menurut Craven (2008),
antara lain :
a. Gaya Hidup dan Kebiasaan
Gaya hidup seseorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya.
Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan diikuti oleh perilaku
yang dapat meningkatkan kesehatannya. Demikian halnya dengan
pengetahuan kesehatan tentang mobilitas seseorang akan senantiasa
melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat.
b. Proses penyakit dan injury
Adanya penyakit tertentu yang diderita seseorang akan mempengaruhi
mobilitasnya, misalnya; seorang yang patah tulang akan kesulitan
untuk mobilisasi secara bebas. Demikian pula orang yang baru
menjalani operasi, karena adanya rasa sakit/nyeri yang menjadi alasan
mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya klien
harus istirahat di tempat tidur karena menderita penyakit tertentu.

43

c. Kebudayaan
Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan
aktivitas misalnya; pasien setelah operasi dilarang bergerak karena
kepercayaan kalau banyak bergerak nanti luka atau jahitan tidak jadi.
d. Tingkat energi
Seseorang melakukan mobilisasi jelas membutuhkan energi atau
tenaga. Orang yang sedang sakit akan berbeda mobilitasnya
dibandingkan dengan orang dalam keadaan sehat. Menurut Guyton,
2012, kebutuhan oksigen harus terpenuhi, bila tidak terpenuhi maka
metabolisme yang terjadi pada tubuh menjadi metabolisme anaerob.
Metabolisme anaerob ini akan menghasilkan asam laktat dan 2 ATP,
yang akan menyebabkan tingkat mobilisasi lebih tergantung.
e. Usia dan status perkembangan
Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasnya
dibandingkan dengan seorang remaja.Hal ini sesuai dengan usia dan
juga status perkembangan dari setiap individu.

3. Tingkat mobilisasi
Kemampuan mobilitas atau tingkat mobilitas dikaji dengan tujuan untuk
menilai kemampuan klien untuk dapat bergerak baik ke posisi miring,
duduk, berdiri, bangun ataupun berpindah tanpa bantuan. Tingkat
mobilitas menurut Kneale (2011) adalah sebagai berikut :

44

Tabel 2.1 tabel tingkat mobilitas skala ILOA (Iowa Level of Assistance)
Skor
0

Tingkat Mobilitas
Independen

mandiri

(Mampu

melakukan

mobilisasi / mampu merawat diri sendiri secara


penuh tanpa bantuan atau pengawasan)
1

Diawasi (diawasi secara dekat, menggunakan alat


bantu, sendiri, tidak perlu dipegang)

Dibantu minimal (memerlukan bantuan sebagian,


memerlukan alat bantu untuk aktivitas)

Sedang

hanya

di

kursi,

bila

mobilisasi

memerlukan bantuan satu atau 2 orang, pengawasan


orang lain dan peralatan
4

Dibantu maksimal ( membutuhkan support yang


signifikan pada 3 atau lebih point sentuhan dan
membutuhkan satu atau lebih orang dan untuk
keselamatan saat aktivitas )

Tidak berdaya (melakukan aktivitas dengan bantuan


penuh)

Tidak dapat dinilai (tidak dapat di tes karena alasan


medis atau alasan keselamatan)

45

4. Gangguan Mobilisasi
Potter (2010) menyebutkan gangguan-gangguan mobilisasi, yaitu :
a. Tirah baring
Tirah baring merupakan suatu intervensi dimana klien dibatasi untuk
tetap berada di tempat tidur untuk tujuan terapeutik. Lamanya tirah
baring tergantung penyakit atau cedera dan status kesehatan klien
sebelumnya. Pengaruh penurunan kondisi otot dikaitkan dengan
penurunan aktivitas fisik akan terlihat jelas dalam beberapa hari. Pada
individu normal dengan kondisi tirah baring akan mengalami
kurangnya kekuatan otot dari tingkat dasarnya pada rata-rata 3 %
sehari. Tirah baring juga dikaitkan dengan perubahan pada
kardiovaskuler, skelet, dan organ lainnya. Istilah atrofi disuse
digunakan untuk menggambarkan pengurangan ukuran normal serat
otot secara patologis setelah inaktivitas yang lama akibat tirah baring,
trauma, pemakaian gips atau kerusakan saraf lokal.
b. Imobilisasi
Gangguan mobilisasi fisik ( imobilisasi ) didefinisikan oleh North
American Nursing Diagnosis Association ( NANDA ) sebagai suatu
keadaan ketika individu mengalami atau berisiko mengalami
keterbatasan gerak fisik. Perubahan dalam tingkat mobilisasi fisik
dapat mengakibatkan instruksi pembatasan gerak dalam bentuk tirah
baring, pembatasan gerak fisik selama penggunaan alat bantu

46

eksternal ( misalkan gips atau traksi ), pembatasan gerakan volunter


atau kehilangan fungsi motorik.
5. Bahaya Imobilisasi
Potter (2010) mengungkapkan bahwa bahaya imobilisasi adalah sebagai
berikut :
a. Sistem Metabolik
Imobilisasi dapat mempengaruhi sistem metabolik, sehingga dapat
mengurangi kemampuan tubuh untuk mengganti jaringan yang rusak
dan membangun kembali cadangan protein yang berkurang. Demikian
klien imobilisasi memerlukan diet tinggi protein, tinggi kalori dengan
tambahan vitamin B dan C.
b. Sistem Pernafasan
Klien imobilisasi rentan terhadap gangguan sistem pernafasan,
diantaranya statis sekret pulmonal, tidak patennya jalan nafas, dan
pertukaran gas yang tidak adekuat. Pada klien imobilisasi, obstruksi
jalan nafas merupakan hasil penyumbatan mukosa. Klien imobilisasi
dan tirah baring umumnya mengalami kelemahan. Jika kelemahan
berlanjut maka reflek batuk bertahap akan menjadi tidak efektif. Sekret
yang ada harus dikeluarkan untuk mengurangi risiko pneumonia.
c. Sistem Kardiovaskuler
Efek tirah baring atau imobilisasi pada sistem kardiovaskuler meliputi
hipotensi ortostatik, peningkatan beban jantung, dan pembentukan
trombus. Sehingga klien harus berpindah posisi secara bertahap.

47

Latihan rentang gerak harus dilakukan untuk mengurangi resiko


terjadinya komplikasi, selain mengurangi risiko kontraktur, tetapi juga
berefek mencegah pembentukan trombus. Latihan menyebabkan
kontraksi otot skelet, yang kebalikannya mendesak tekanan vena dan
mendukung aliran balik vena. Statis vena berkurang.
d. Sistem Muskuloskeletal
Klien imobilisasi harus mendapatkan beberapa latihan untuk mencegah
otot yang tidak digunakan secara berlebihan, atrofi, dan kontraktur
sendi. Jika klien tidak mampu menggerakkan sebagian atau seluruh
bagian tubuhnya maka perawat harus melakukan latihan rentang pasif
untuk semua sendi yang imobilisasi ketika memandikan klien dan
minimal dua atau tiga kali sehari. Latihan rentang gerak aktif
mempertahankan fungsi sistem muskuloskeletal.
e. Sistem Eliminasi
Klien imobilisasi dapat mengalami gangguan statis urine, distensi
kandung kemih, terbentuk batu dan infeksi.
f. Sistem Integumen
Risiko utama pada kulit akibat keterbatasan mobilisasi adalah
dekubitus.
g. Perubahan Psikososial
Pengkajian mengidentifikasi efek imobilisasi yang lama pada dimensi
psikososial klien. Orang yang cenderung depresi atau suasana hati

48

yang tidak menentu berisiko tinggi mengalami efek psikososial selama


tirah baring atau imobilisasi.
6. Mobilisasi Paska Bedah
Smeltzer (2010) mengungkapkan bahwa mobilisasi dini pasca
bedah atau operasi dapat meningkatkan metabolisme dan pengisian
oksigen pada paru-paru, sehingga secara umum dapat meningkatkan
fungsi tubuh.
Pasien sering kali memiliki ketakutan bila tubuh digerakkan pada
posisi tertentu paska operasi akan mempengaruhi luka operasi, hal ini
tentu saja diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan klien mengenai
mobilisasi dini. Padahal, justru hampir semua jenis operasi membutuhkan
mobilisasi atau pergerakan badan sedini mungkin. Dengan bergerak, masa
pemulihan untuk mencapai tingkat kondisi pra bedah dapat dipersingkat.
Dan tentu saja hal ini akan mengurangi waktu rawat rumah sakit,
menekan pembiayaan serta juga mengurangi stress psikis.
Mobilisasi dini akan mencegah kekakuan otot dan sendi sehingga
juga mengurangi nyeri, meningkatkan kelancaran peredaran darah,
memperbaiki pengaturan metabolisme tubuh, mengembalikan kerja
fisiologis organ-organ vital yang pada akhirnya justru akan mempercepat
penyembuhan luka. Menggerakkan badan atau melatih kembali otot-otot
dan sendi pasca operasi di sisi lain akan memperbugar pikiran dan
mengurangi dampak negatif dari beban psikologis yang tentu saja
berpengaruh baik juga terhadap pemulihan fisik. Pasien harus didukung

49

untuk berani turun dari tempat tidur segera mungkin. Mobilisasi sudah
dapat dilakukan sejak pasien sadar penuh, setidaknya 12-18 jam setelah
pembedahan ( pada hari yang sama dengan operasi) dan bila hal ini dapat
dilakukan, pasien dapat dipersiapkan pulang dalam waktu 24- 32 jam.
Pelaksanaan mobilisasi dini terutama untuk mencegah komplikasi paruparu pada pasien lanjut usia.

D.

KERANGKA KONSEP
Skema 2.1 Kerangka konsep
Variabel independent

Variabel dependent

Latihan aktivitas fisik :


1. Mengganti posisi
miring kiri dan miring
kanan
2. Latihan kaki :
memutar pergelangan
kaki membentuk
lingkaran penuh
dengan posisi
terlentang dan gerakan
dorsofleksi
3. Latihan duduk
4. Latihan berdiri
5. Latihan jalan

Kemampuan untuk
melakukan mobilisasi /
tingkat mobilisasi pasien
paska bedah apendektomi

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Metode dan Desain Penelitian


Metode penelitian merupakan suatu cara untuk memperoleh
kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan suatu masalah, yang pada
dasarnya menggunakan metode ilmiah (Notoatmodjo, 2014). Sedangkan
desain penelitian merupakan suatu strategi penelitian dalam mengidentifikasi
suatu masalah sebelum perencanaan akhir pengumpulan data, serta dapat
dipergunakan oleh peneliti sebagai petunjuk dalam perencanaan dan
pelaksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau untuk menjawab
pertanyaan penelitian (Nursalam, 2008).
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode atau rancangan
penelitian kuantitatif, yaitu dengan desain eksperimen semu (quasi
experiment design), dengan rancangan penelitian pre and post test without
control (Dharma, 2012). Metode penelitian eksperimen adalah adalah metode
penelitian percobaan (experiment research) dengan kegiatan percobaan
(experiment), yang bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh
yang timbul, sebagai akibat dari adanya suatu perlakuan tertentu. Ciri khusus
dari penelitian eksperimen adalah dengan adanya percobaan atau trial.
Percobaan ini berupa perlakuan atau intervensi terhadap suatu variabel. Dari
perlakuan tersebut diharapkan terjadinya perubahan atau pengaruh terhadap

50

51

variabel tersebut (Notoatmodjo, 2014). Quasi eksperiment design adalah


desain penelitian yang tidak mempunyai pembatasan yang ketat terhadap
randomnisasi, dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancaman-ancaman
validitas. Disain penelitian quasi experiment merupakan penelitian yang
melakukan suatu intervensi pada sekelompok subyek dengan ataupun tanpa
kelompok pembanding. Rancangan penelitian pre and post test without
control, dimana intervensi dilakukan peneliti pada satu kelompok tanpa
pembanding yang efektifitas perlakuan dinilai dengan cara membandingkan
nilai pre test dan post test (Dharma, 2012). Alur penelitian ini adalah
(Budiman, 2011) :

Kelompok studi
(pre test)

Kelompok studi
(post test)

Kelompok studi

Perlakuan

Efek

Skema 3.1 Penelitian Pre eksperimental one group pre test-post test design
Penelitian ini meneliti pengaruh pemberian latihan aktivitas fisik terhadap
tingkat mobilisasi pasien paska bedah apendektomi.

52

B. Variabel Penelitian
Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota
suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain.
Variabel dapat juga diartikan sebagai konsep, ciri, sifat, atau ukuran yang
dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu konsep
pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2014).

Penelitian ini memiliki dua

variabel, yaitu :
1.

Variabel bebas (independent variable) adalah variabel risiko atau sebab


sehingga dapat juga diartikan variabel yang menjadi timbulnya variabel
tergantung. Pada penelitian ini yang menjadi variabel independent
adalah pemberian latihan aktivitas fisik pada pasien paska bedah
apendektomi.

2.

Variabel tergantung (dependent variable) adalah variabel terpengaruh


atau terikat, atau dapat diartikan variabel efek atau akibat, variabel
tergantung dipengaruhi oleh variabel bebas . Dalam penelitian ini yang
menjadi variabel dependen adalah tingkat mobilisasi pada pasien paska
bedah apendektomi di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung.

C. Populasi, Sampel dan Tehnik Sampling


1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,

53

2012). Di Rumah Sakit Santo Borromeus dari bulan Juli hingga Desember
2014 rata-rata pasien yang dilakukan operasi apendektomi adalah 26
orang. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang dilakukan operasi
apendektomi hari pertama di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Pada penelitian ini peneliti menggunakan sampel
karena keterbatasan waktu yang tersedia (Sugiyono, 2012). Dalam
penelitian keperawatan ini, kriteria sampel meliputi kriteria inklusi dan
kriteria eksklusi, dimana kriteria tersebut menentukan dapat dan tidaknya
sampel tersebut digunakan (Hidayat, 2007). Sampel yang diambil pada
penelitian ini yaitu 15 pasien paska bedah apendektomi hari pertama di
Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung.
3. Tehnik Sampling
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Penelitian ini
mengambil teknik sampling Nonprobability sampling dimana teknik
pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama
bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel
(Sugiyono, 2012). Teknik sampel penelitian ini adalah sampling
purposive dimana menentukan pengambilan sampel dengan pertimbangan
tertentu. Pada penelitian ini pengambilan sampel secara purposive
dilakukan pada akhir bulan Juni Juli tahun 2015.

54

D. Kerangka Kerja Penelitian


Kerangka kerja penelitian adalah langkah-langkah yang akan dilakukan
dalam penelitian yang ditulis dalam bentuk kerangka atau alur penelitian
mulai dari desain hingga analisis data (Hidayat, 2007). Kerangka kerja pada
penelitian dapat dilihat pada skema 3.2

55

Menentukan masalah atau fenomena


Studi pendahuluan

Pasien yang dirawat di RS Santo Borromeus

Kriteria Inklusi :

Kriteria Eksklusi :

1. Pasien paska bedah apendektomi


hari pertama
2. Pasien yang kesadaran compos
mentis
3. TTV stabil
4. Tidak ada penyakit penyerta pada
sistem muskuloskeletal
5. Pasien dapat bekerja sama dan
bersedia diteliti

1. Pasien yang tidak paska bedah


apendektomi
2. Pasien yang tidak compos mentis
3. TTV tidak stabil
4. Ada penyakit penyerta pada
sistem muskuloskeletal
5. Pasien yang tidak dapat
bekerjasama dan tidak bersedia
diteliti

Kelompok intervensi
Latihan aktivitas fisik selama 20
menit dengan didampingi, yaitu
latihan mengganti posisi,latihan
kaki,duduk, berdiri dan jalan

Melakukan observasi untuk mengetahui tingkat


mobilisasi setelah 12-18 jam paska bedah
apendektomi dengan menggunakan skala ILOA

Pengolahan data

Analisa data

Melakukan observasi post latihan aktivitas


setelah 24-32 jam paska bedah apendektomi,
dengan menggunakan skala ILOA (post test)

Keterangan :

: diteliti
: tidak diteliti

Membuat laporan hasil penelitian

Skema 3.2 Kerangka kerja penelitian

56

E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian adalah suatu pernyataan yang masih lemah dan
membutuhkan pembuktian untuk menegaskan apakah hipotesis tersebut dapat
diterima atau harus ditolak, berdasarkan fakta atau data empiris yang telah
dikumpulkan dalam penelitian. Hipotesis juga merupakan sebuah pernyataan
tentang hubungan yang diharapkan antara dua variabel atau lebih yang dapat
diuji secara empiris (Hidayat, 2007).
Hipotesis dalam penelitian ini adalah Ha diterima yang berarti ada
pengaruh latihan aktivitas fisik terhadap tingkat mobilisasi pasien paska
bedah apendektomi di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung.

F. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional
berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti
untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu
objek atau fenomena (Hidayat, 2007). Definisi operasional pada penelitian ini
dapat dilihat pada tabel 3.1

57

Variabel

Definisi

Cara Ukur

Alat Ukur

Hasil Ukur

Operasional

Variabel
independen :
latihan
aktivitas fisik

Variabel
dependen :
tingkat
mobilisasi
paska operasi
apendektomi

Kegiatan
penyuluhan
dengan
menjelaskan,
mendemontrasikan dan
mendampingi
pasien mengenai
pentingnya dan
gerakan latihan
aktivitas fisik
mobilisasi dini
kepada pasien
yang telah
menjalani operasi
apendektomi hari
1 di RS Santo
Borromeus
Bandung
Upaya pasien
dalam melakukan
mobilisasi dini:
gerakan kaki,
duduk,berdiri dan
jalan setelah
operasi
apendektomi di
Rumah Sakit
Santo Borromeus

Skala
Ukur

Memberikan
check list
pada lembar
observasi

Lembar
observasi
(check list)

Melakukan
observasi
dengan
memberikan
tanda check
list pada
kolom yang
telah
disediakan

Lembar
observasi
dengan
menggunakan skala
ILOA

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Tingkat
mobilisasi :
0 : Mampu
melakukan
mobilisasi
secara mandiri
1 : diawasi,
menggunakan alat bantu
2 : mobilisasi
dibantu
minimal,
memerlukan
bantuan
sebagian
3 : mobilisasi
sedang, di
kursi
4 : mobilisasi
dibantu
maksimal
5 :tidak
berdaya
6 :tidak dapat
dinilai
(sumber :
Kneale, 2011)

ordinal

58

G. Metode dan Tehnik Pengumpulan Data


1. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan
penelitian didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris dan
sistematis (Sugiyono, 2012). Penelitian ini menggunakan metode
pengumpulan data dengan lembar observasi dengan skala ILOA (Iowa
Level of Assistance) dengan form checklist.
2. Teknik Pengumpulan Data
Langkah-langkah teknis pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu :
a.

Peneliti membuat surat ijin yang ditujukan kepada Rumah Sakit


Santo Borromeus Bandung

b.

Setelah peneliti mendapatkan surat ijin, peneliti mencari responden


yang sesuai dengan kriteria inklusi secara pribadi di Rumah Sakit
Santo Borromeus Bandung. Langkah pertama adalah datang ke
ruangan rawat inap bedah yaitu Yosef 3 Dago, Yosef 3
Suryakencana, Yosef 5, Maria 4, Carolus 3, Carolus 5 dan
Vincensius, kemudian melihat daftar nama pasien dan papan
rencana operasi. Selain itu peneliti setiap harinya mendata adanya
rencana operasi dengan bekerjasama dengan perawat kamar operasi
untuk memberikan informasi bila ada rencana operasi apendektomi

59

di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung. Peneliti mendata


waktu selesainya operasi dilakukan.
c.

Setelah menetapkan pasien, peneliti datang ke kamar pasien lalu


mengenalkan diri dan menjelaskan maksud dan manfaat penelitian
kepada pasien secara pribadi.

d.

Setelah pasien setuju untuk diteliti, peneliti memberikan lembar


persetujuan responden (informed consent ) dan telah ditandatangani
oleh pasien.

e.

Peneliti melaksanakan pre test dengan cara mengobservasi tingkat


mobilisasi setelah 12 - 18 jam paska bedah dengan mengisi lembar
observasi dengan skala ILOA (Iowa Level of Assistance) dengan
form checklist.

f.

Peneliti melakukan intervensi paska bedah yaitu latihan aktivitas


fisik didampingi secara pribadi selama 20 menit dengan melakukan
latihan :
1)

Mengganti posisi : memasang pembatas tempat tidur, tidur


terlentang di bagian kanan tempat tidur, meletakkan tangan
kiri di atas luka operasi untuk menahan luka operasi tersebut,
pertahankan kaki kiri tetap lurus dan kaki kanan di tekuk
menyilang ke atas kaki kiri, memegang pembatas tidur bagian
kiri dengan menggunakan tangan kanan, tarik ke arah kiri,
miringkan tubuh ke arah kiri. Lakukan hal yang sama dengan

60

mengganti posisi yang berlawanan untuk miring ke arah


kanan.

Gambar 3.1 posisi miring kanan

2)

Latihan kaki dengan memutar pergelangan kaki : putarlah


kedua pergelangan kaki untuk membentuk lingkaran penuh,
gambarkan lingkaran dengan menggunakan jempol kaki.
Ulangi gerakan 5 kali.

Gambar 3.2 Memutar pergelangan kaki

61

3)

Meluruskan punggung kaki ke arah depan ( gerakan


dorsifleksion ). Lakukan bergantian masing-masing kaki,
ulangi gerakan 5 kali

Gambar 3.3 gerakan dorsifleksion

4) Menekuk punggung kaki ke arah dalam ( gerakan fleksi


plantar ) Lakukan bergantian masing-masing kaki, ulangi
gerakan 5 kali.

Gambar 3.4 gerakan fleksi plantar

62

5)

Latihan duduk

Gambar 3.5 Latihan duduk

6)

Latihan berdiri

7)

Latihan berjalan secara bertahap

8)

Saat pemberian latihan aktivitas, peneliti juga mengajarkan


tehnik relaksasi tarik nafas panjang dan dalam agar pasien
merasa lebih nyaman.

g.

Setelah 24 - 32 jam paska bedah peneliti melakukan post test


dengan mengobservasi tingkat mobilisasi pasien dengan mengisi
lembar observasi dengan skala ILOA (Iowa Level of Assistance)
dengan form checklist.

H. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data
oleh peneliti. Alat pengumpul data ini tergantung pada macam dan tujuan
penelitian serta data yang akan diambil atau dikumpulkan (Notoatmodjo,
2010 ).

63

Penelitian ini menggunakan instrumen tingkat mobilisasi menurut Kneale


(2011) yaitu :
Tabel 3.2 Tabel tingkat mobilitas skala ILOA (Iowa Level of Assistance)
Skor

Tingkat Mobilitas

Mobilisasi mandiri (mampu melakukan mobilisasi /


mampu merawat diri sendiri secara penuh tanpa
bantuan atau pengawasan)

Mobilisasi

diawasi

(diawasi

secara

dekat,

menggunakan alat bantu, sendiri, tidak perlu


dipegang)
2

Mobilisasi dibantu minimal (memerlukan bantuan


sebagian, memerlukan alat bantu untuk aktivitas)

Mobilisasi sedang / hanya di kursi, bila mobilisasi


memerlukan bantuan 1 atau 2 orang, pengawasan
orang lain dan peralatan

Mobilisasi

dibantu

maksimal

(membutuhkan

support yang signifikan pada 3 atau lebih point


sentuhan dan membutuhkan satu atau lebih orang
dan untuk keselamatan saat beraktivitas)
5

Tidak berdaya (melakukan aktivitas dengan bantuan


penuh)

Tidak dapat dinilai (tidak dapat di tes karena alasan


medis atau alasan keselamatan)

64

Instrumen pada penelitian ini merupakan instrumen yang sudah baku dan
telah teruji validitas dan reliabilitasnya dan sudah digunakan sebagai standar
pengukuran secara internasional untuk mengukur kemampuan melakukan
ambulasi atau tingkat bantuan yang diperlukan pasien, yaitu Iowa Level Of
Assistance Scale (ILOA Scale) dengan power penelitian 87% dan kesalahan tipe I
0.05. Instrumen dini juga telah dipergunakan pada penelitian yang dilakukan oleh
Eldawati yang berjudul Pengaruh Latihan Kekuatan Otot Pre Operasi Terhadap
Kemampuan Ambulasi Dini Pasien Pasca Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah
pada tahun 2011.
I.

Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian merupakan suatu langkah yang harus ditempuh oleh
peneliti dalam melakukan penelitian guna mencari informasi dari jawaban
atas permasalahan yang sedang terjadi. Prosedur penelitian ini terbagi 3 yaitu:
1. Tahap Persiapan
a.

Membuat judul penelitian


Peneliti membuat judul yang sesuai dengan masalah yang ada untuk
diteliti. Judul telah diajukan untuk menjadi judul penelitian pada
sidang proposal.

b.

Membuat surat ijin penelitian


Setelah judul disetujui, kemudian membuat surat ijin dari STIKes
untuk melakukan penelitian di Rumah Sakit Santo Borromeus
Bandung.

65

c.

Memperoleh ijin penelitian di Rumah Sakit Santo Borromeus


Bandung.

d.

Penyusunan proposal
Peneliti telah membuat proposal yang dibuat sesuai dengan
permasalahan yang ada dengan melihat referensi dan jurnal
penelitian.

e.

Melakukan proses bimbingan atau konsultasi


Proses bimbingan telah dilakukan dengan mengajukan proposal ke
dosen pembimbing

f.

Membuat instrumen penelitian


Untuk memudahkan pengambilan data maka peneliti telah membuat
lembar observasi tingkat mobilisasi pasien paska bedah apendektomi
dengan skala ILOA (Iowa Level of Assistance) dengan form
checklist.

g.

Melakukan presentasi proposal


Proposal yang sudah disetujui telah dipresentasikan di depan dosen
penguji didampingi oleh dosen pembimbing.

h.

Melakukan perbaikan lembaran observasi dan check list sesuai


masukan saat sidang proposal

2. Tahap Pelaksanaan
a.

Menentukan responden sesuai dengan inklusi

b.

Peneliti menjelaskan tujuan dan manfaat penelitian

c.

Peneliti memberikan informed consent kepada responden

66

d.

Peneliti melakukan observasi tingkat mobilisasi dengan mengisi


lembar observasi dengan skala ILOA (Iowa Level of Assistance)
dengan form checklist pada pasien setelah 12-18 jam paska bedah
apendektomi

e.

Peneliti memberikan latihan aktivitas fisik terhadap responden

f.

Peneliti melakukan observasi tingkat mobilisasi setelah pelaksanaan


latihan aktivitas fisik dengan mengisi lembar observasi dengan skala
ILOA (Iowa Level of Assistance) dengan form checklist pada pasien
setelah 24-32 jam paska bedah apendektomi

g.

Peneliti melakukan pengolahan data untuk mengidentifikasi tingkat


mobilisasi pasien paska bedah apendektomi

3. Tahap Penyelesaian
a.

Peneliti mengevaluasi hasil pengolahan data yang telah dilakukan


untuk mengidentifikasi pengaruh latihan aktivitas fisik terhadap
tingkat mobilisasi pasien paska bedah apendektomi di Rumah Sakit
Santo Borromeus Bandung

J.

b.

Peneliti menarik kesimpulan dari pengolahan data

c.

Peneliti membuat laporan hasil penelitian

d.

Peneliti menyajikan hasil pengolahan data

Metode Pengolahan Data


Pengolahan data penelitian dilakukan dengan menggunakan bantuan
perangkat lunak komputer. Metode pengolahan data penelitian ini terbagi
menjadi empat tahap, diantaranya : ( Riyanto, 2009 )

67

1. Tahap Editing
Editing merupakan kegiatan untuk pengecekan lembar hasil observasi
terhadap responden. Dalam penelitian ini peneliti melakukan pengecekan
lembar observasi sebelum dan sesudah diberikan latihan aktivitas fisik
sudah terisi dengan lengkap dan jelas.
2. Tahap Coding
Pengkodean atau coding merupakan kegiatan mengubah data berbentuk
huruf menjadi data berbentuk angka/bilangan. Dalam penelitian ini
peneliti memberikan kode yaitu 0 untuk

mobilisasi mandiri, mampu

melakukan mobilisasi / mampu merawat diri sendiri secara penuh, 1 :


Mobilisasi diawasi (menggunakan alat bantu, sendiri), 2 : Mobilisasi
dibantu minimal (memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain), 3 :
Mobilisasi sedang ,hanya di kursi, bila mobilisasi memerlukan bantuan,
pengawasan orang lain dan peralatan, 4 : Mobilisasi dibantu maksimal
(sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi dalam
perawatan), 5 : Tidak berdaya (melakukan aktivitas dengan bantuan
penuh) ,6: Tidak dapat dinilai (tidak dapat di tes karena alasan medis atau
alasan keselamatan)
3. Tahap Processing atau Entry Data
Setelah data selesai di koding, maka langkah selanjutnya peneliti
melakukan entry data, dilakukan dengan cara memasukkan data dari
lembar observasi yang telah dikumpulkan ke dalam komputer.

68

4. Tahap Cleaning
Kemudian peneliti melakukan cleaning. Jika data sudah selesai
dimasukkan, data dicek kembali untuk melihat adanya kemungkinan
terjadi kesalahan dalam pengkodean dan ketidaklengkapan, kemudian
dilakukan koreksi.
K. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah menginterpretasi data dengan maksud memperoleh
makna atau arti dari hasil penelitian tersebut. Analisa data memiliki tujuan
untuk memperoleh gambaran dari hasil penelitian yang telah dirumuskan
dalam tujuan penelitian, memberikan

hipotesis-hipotesis penelitian yang

telah dirumuskan, serta memperoleh kesimpulan secara umum dari penelitian


yang merupakan kontribusi dalam pengembangan ilmu yang bersangkutan
(Notoatmodjo, 2014). . Tehnik analisa data dalam penelitian menggunakan
bantuan perangkat lunak berupa komputerisasi.
1. Analisa Univariat
Analisa

univariat

bertujuan

untuk

menjelaskan/mendeskripsikan

karakteristik setiap variabel penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini


hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel
(Notoatmodjo, 2010). Teknik analisa deskriptif univariat dalam penelitian
ini adalah distribusi frekuensi tingkat mobilisasi sebelum dan sesudah
dilakukannya latihan aktivitas fisik. Rumus yang digunakan peneliti untuk

69

menentukan distribusi frekuensi menurut Arikunto,2006 adalah sebagai


berikut :
Presentasi
P=

100 %

Keterangan :
P = jumlah persentase yang dicari
f = jumlah frekuensi untuk setiap kategori
n = jumlah responden/ populasi
Hasil perhitungan

persentase tersebut dipresentasikan dengan

menggunakan data (Arikunto, 2006) yaitu :


100%

: seluruhnya

90 99%

: hampir seluruhnya

75 89%

: sebagian besar

51 74%

: lebih dari setengahnya

50%

: setengahnya

25 49%

: kurang dari setengahnya

6-24%

: sebagian kecil

1-5%

: hampir tidak ada

0%

: tidak ada.

70

2. Analisa Bivariat
Analisa data bivariat adalah analisa yang dilakukan terhadap dua variabel
yang diduga berhubungan atau berkorelasi untuk mengetahui hubungan
antar variabel (Notoatmodjo, 2010). Analisa bivariat digunakan untuk
melihat pengaruh latihan aktivitas fisik terhadap tingkat mobilisasi pasien
paska bedah apendektomi hari pertama. Peneliti melakukan perlakuan
berupa latihan aktivitas satu kali dan diperkirakan sudah mempunyai
pengaruh, kemudian hasilnya ditarik kesimpulan. Hipotesis penelitian ini
diuji mengunakan uji non parametrik Wilcoxon Signed Rank Test
dikarenakan data berdistribusi tidak normal dan jenis data kategorik
dengan kategorik.

Pengolahan data berdasarkan tingkat kemaknaan 95 % atau = 5 % atau


0,05 dengan menggunakan perangkat lunak komputerisasi. Interpretasi
hasil uji Wilcoxon yaitu dengan kriteria uji :
Jika P > , dikatakan tidak bermakna maka Ho diterima artinya tidak ada
pengaruh latihan aktivitas fisik terhadap tingkat mobilisasi pasien paska
bedah apendektomi
Jika P < maka Ho ditolak artinya ada pengaruh latihan aktivitas fisik
terhadap tingkat mobilisasi pasien paska bedah apendektomi.
L. Etika Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian khususnya jika yang menjadi subjek
penelitian adalah manusia, maka penelitian harus memahami hak dasar
manusia, maka peneliti harus memahami hak dasar manusia. Manusia

71

memiliki kebebasan dalam menentukan dirinya, sehingga penelitian yang


dilaksanakan benar-benar menjunjung tinggi kebebasan manusia, oleh karena
itu penelitian ini mengacu pada Pedoman Nasional Etika penelitian Kesehatan
( KNEPK Depkes RI, 2004 ), antara lain :
1. Menghormati martabat subjek penelitian
Penelitian yang dilakukan telah menjunjung tinggi martabat
seseorang (subyek penelitian). Peneliti telah mempertimbangkan hak
hak subjek untuk mendapatkan informasi yang terbuka berkaitan dengan
jalannya penelitian serta memiliki kebebasan menentukan pilihan, bebas
dari paksaan untuk berpartisipasi dalam kegiatan penelitian (autonomy).
Pada penelitian ini, peneliti menyampaikan tujuan dari penelitian ini serta
memberikan formulir persetujuan subyek (informed consent) pada pasien
paska bedah apendektomi hari pertama di Rumah Sakit Santo Borromeus
untuk menjadi responden dan peneliti akan menjaga kerahasiaan identitas
responden dengan tidak mencantumkan nama responden. Setelah
responden menyetujui dan mengisi formulir persetujuan, maka penelitian
akan dilaksanakan.
2. Asas kemanfaatan
Penelitian yang dilakukan telah mempertimbangkan manfaat dan
resiko yang mungkin terjadi. Peneliti melaksanakan penelitian sesuai
dengan prosedur penelitian guna mendapatkan hasil yang bermanfaat
semaksimal mungkin bagi subyek penelitian dan dapat digeneralisasikan

72

di tingkat populasi ( beneficence ). Peneliti telah meminimalisasi dampak


yang merugikan bagi subyek ( non maleficence).
Pada penelitian ini, peneliti melaksanakan penelitian sesuai dengan
prosedur penelitian agar dampak resiko yang merugikan seminimal
mungkin.
3. Berkeadilan
Setiap orang diberlakukan sama berdasarkan moral, martabat dan
hak asasi manusia. Prinsip keadilan memiliki konotasi keterbukaan dan
keadilan. Lingkungan penelitian dikondisikan agar memenuhi prinsip
keterbukaanya itu kejelasan prosedur penelitian. Prinsip keadilan
menekankan sejauh mana kebijakan penelitian membagikan keuntungan
dan beban secara martabat.
Pada penelitian ini, peneliti telah menjelaskan mengenai prosedur,
tempat, waktu kepada setiap responden.
M. Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian : Penelitian dilakukan pada akhir bulan Juni Juli 2015
( jadwal terlampir ).
Tempat penelitian : Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Santo Borromeus
Bandung terhadap pasien paska bedah apendektomi hari pertama di ruangan
Yosef 3 Dago, Yosef 3 Suryakencana, Yosef 5, Carolus 3, Carolus 5, Maria 4
dan Vinsensius.
N. Anggaran Penelitian
Terlampir

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini peneliti menguraikan dan menganalisa data yang diperoleh
dari hasil penelitian dengan menentukan frekuensi dan presentasi kemudian
dianalisa untuk melihat adanya pengaruh antara dua variabel yaitu variabel
independen : latihan aktivitas fisik dan variabel dependen : tingkat mobilisasi
pasien paska operasi apendektomi. Selanjutnya akan diuraikan hasil penelitian
melalui analisa univariat dan bivariat.

A. Gambaran Umum Ruang Perawatan di Rumah Sakit Santo Borromeus


Rumah Sakit Santo Borromeus adalah salah satu rumah sakit swasta
tipe B yang ada di kota Bandung berdiri sejak tahun 1921 berawal dari
sebuah klinik kesehatan kecil yang di prakarsai oleh Suster- suster Cinta
Kasih Santo Carolus Borromeus. Saat ini Rumah Sakit Santo Borromeus
mempunyai 416 kapasitas tempat tidur, dengan kapasitas 28 tempat tidur
untuk pelayanan intensif yang terdiri dari (ICU, NICU-PICU, SU-IC), 70
kapasitas tempat tidur perawatan anak, 243 kapasitas tempat tidur perawatan
medical - surgical, 75 kapasitas tempat tidur perawatan kebidanan (kamar
bersalin dan perawatan bayi baru lahir).
Peneliti mengambil tempat penelitian di Ruangan Yosef 3, Ruangan
Yosef 5, Ruangan Vincensius, Ruangan Maria 4, Ruangan Carolus 3 dan 5
Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung, yang merupakan ruangan rawat

73

74

inap dewasa. Rata-rata jumlah pasien paska bedah apendektomi dari bulan
Juli hingga Desember 2014 di Rumah Sakit Santo Borromeus adalah 26
pasien per bulannya.
Rumah Sakit Santo Borromeus memiliki SOP mengenai mobilisasi dini
atau latihan aktif paska bedah secara umum yang diterapkan para perawat
yang menggunakan metode keperawatan MPKP untuk melakukan asuhan
keperawatan bagi pasien. Latihan aktif ini merupakan tindakan keperawatan
yang diberikan kepada pasien yang sudah diperbolehkan mobilisasi duduk
atau berjalan dengan cara bertahap. Bila diperlukan dapat dibantu dengan
alat, sehingga pasien mampu melakukan aktivitas kembali.
SOP latihan aktif ini bertujuan untuk memperlancar peredaran darah
dan sebagai proses rehabilitasi pasien. Pada SOP latihan aktif ini perawat
akan membantu pasien untuk berbaring setengah duduk, duduk di tempat
tidur, berdiri, sampai dengan membantu pasien berjalan secara perlahan-lahan
sesuai dengan kemampuan pasien. Pelaksanaan SOP latihan aktif ini pada
praktek nya yang ditemukan peneliti, bahwa dari 5 pasien paska bedah
apendektomi hanya 2 yang melakukan mobilisasi dini. Dari 5 pasien tersebut,
mengatakan pelaksanaannya tanpa ada demontrasi latihan aktivitas fisik dari
perawat, akibatnya pasien menanyakan mobilisasi yang harus dilakukan
paska operasi diantaranya paska bedah apendektomi.

75

B. Gambaran Karakteristik Responden


Dalam penelitian ini didapatkan sejumlah 15 orang responden yang
mengalami operasi apendektomi, memenuhi kriteria inklusi dan bersedia
melakukan latihan aktivitas fisik. Distribusi frekuensi responden berdasarkan
jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin (n=15)
Jenis kelamin

Jumlah

Persentase (%)

Laki-laki

10

66,7

Perempuan

33,3

Total

15

100,0

Berdasarkan tabel 4.1, didapatkan data bahwa lebih dari setengah responden
memiliki jenis kelamin laki-laki sebanyak 10 orang ( 66,7 % )

76

Distribusi responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan Usia (n=15)
Usia

Jumlah

Persentase (%)

11-20 tahun

6,7

20-40 tahun

10

66,7

40-65 tahun

26,6

Total

15

100,0

Sumber : Rosdahl,2015

Berdasarkan tabel 4.2, didapatkan data bahwa lebih dari setengah responden
memiliki usia 20-40 tahun sebanyak 10 orang ( 66,7 % )

77

C. Analisa Univariat
Distribusi frekuensi tingkat mobilisasi responden sebelum diberikan latihan
aktivitas fisik dapat dilihat pada tabel 4.3

Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Tingkat Mobilisasi Responden
Sebelum Latihan Aktivitas Fisik Pada Pasien Paska Apendektomi
di RS Santo Borromeus (n=15)
Tingkat Mobilisasi

Jumlah

Persentase (% )

Dibantu minimal

6,7

Sedang

13,3

Dibantu maksimal

12

80

Total

15

100

Berdasarkan tabel 4.3, dapat dijelaskan bahwa tingkat mobilisasi pada pasien
paska bedah apendektomi sebelum diberikannya latihan aktivitas fisik yaitu
sebagian besar tingkat mobilisasi dibantu maksimal yaitu 12 orang ( 80% ).

78

Distribusi frekuensi tingkat mobilisasi responden setelah latihan aktivitas


fisik dapat dilihat pada tabel 4.4

Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Tingkat Mobilisasi Responden
Setelah Latihan Aktivitas Fisik Pada Pasien Paska Apendektomi
di RS Santo Borromeus (n=15 )
Tingkat Mobilisasi

Jumlah

Persentase (%)

Mandiri

33,3

Diawasi

40

Dibantu minimal

20

Sedang

6,7

Total

15

100

Berdasarkan tabel 4.4, dapat dijelaskan bahwa tingkat mobilisasi pada pasien
paska bedah apendektomi setelah diberikan latihan aktivitas fisik yaitu
kurang dari setengahnya tingkat mobilisasi diawasi yaitu 6 orang (40%).

79

D. Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk melihat gambaran pengaruh terhadap tingkat
mobilisasi sebelum dan setelah diberikan latihan aktivitas fisik. Analisa
pengaruh terhadap tingkat mobilisasi sebelum dan setelah dilakukan latihan
aktivitas fisik, dapat dilihat pada tabel 4.5

Tabel 4.5
Analisa Pengaruh Terhadap Tingkat Mobilisasi Sebelum dan
Setelah Pemberian Latihan Aktivitas Fisik
Pada Pasien Paska Bedah Apendektomi di RS Santo Borromeus

Pretest
Post test

Median
(minimum-maksimum)
4,00 ( 2 4 )
1,00 ( 0 3 )

Reratas.b

P Value

(n)

3,730,594

0,001

15

1,000,926

15

Berdasarkan dari tabel 4.5, didapatkan bahwa jumlah responden 15 pasien,


skor pretest Reratas.b = 3,730,594 dengan median 4,00 dan nilai minimum
2, maksimum 4. Skor post test Reratas.b = 1,000,926 dengan median 1,00
dan nilai minimum 0, nilai maksimum 3.
P Value yaitu 0,001 < = 0,05. Hal tersebut menunjukkan terdapat pengaruh
yang bermakna terhadap tingkat mobilisasi antara sebelum dan sesudah
pemberian latihan aktivitas fisik pada pasien paska bedah apendektomi di
Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung

80

E. Pembahasan
Dalam pembahasan ini, peneliti menjabarkan tentang hasil penelitian secara
univariat dan bivariat mengenai pengaruh terhadap tingkat mobilisasi
sebelum dan setelah pemberian latihan aktivitas fisik pada pasien paska bedah
apendektomi di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung.
1. Analisa Univariat
a. Tingkat Mobilisasi Sebelum Pemberian Latihan Aktivitas
Apendektomi merupakan pembedahan yang dilakukan untuk
membuang

apendiks. Dalam

pembedahan

apendiksitis,

dapat

dilakukan pendekatan laparaskopi (insersi endoskopi untuk melihat isi


abdomen) ataupun laparatomie (pembedahan terbuka abdomen)
(Lemone, 2010). Bila terjadi pembedahan, salah satu gangguan yang
dapat terjadi adalah gangguan mobilisasi.
Mobilisasi merupakan kebutuhan seseorang untuk melakukan
aktivitas yang dilakukan secara bebas dari satu tempat ke tempat yang
lain (Suratun, 2008). Mobilisasi merupakan kemampuan seorang
individu untuk bergerak bebas, mudah, teratur, dan

mempunyai

tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, serta penting untuk


kemandirian. Mobilisasi mengacu pada kemampuan seseorang untuk
bergerak dengan bebas, sedangkan ketidakmampuan seseorang untuk
bergerak dengan bebas dikenal dengan imobilisasi (Potter, 2010).
Berdasarkan hasil penelitian yang dapat dilihat pada tabel 4.3,
tingkat mobilisasi yang dapat dilakukan oleh pasien paska bedah

81

apendektomi hari pertama sebelum pemberian latihan aktivitas


didapatkan sebagian besar yaitu 12 orang (80%) memiliki tingkat
mobilisasi dibantu maksimal. Tingkat mobilisasi dibantu maksimal
berarti mobilisasi memerlukan support yang signifikan pada 3 atau
lebih point sentuhan dan membutuhkan satu atau lebih orang dan
untuk keselamatan saat aktivitas. Pada tingkat mobilisasi dibantu
maksimal perawat membantu pasien dalam mobilisasi dengan
membimbing pasien menggerakkan ekstremitasnya baik atas maupun
bawah dan memegang bagian tubuh pasien seperti tangan dan bahu
secara bersamaan, serta memerlukan pengawasan oleh satu atau lebih
bila pasien melakukan mobilisasi.
b. Tingkat Mobilisasi Setelah Pemberian Latihan Aktivitas
Setelah dilakukan latihan aktivitas fisik sesuai dengan prosedur,
didapatkan hasil yang menunjukkan pengaruh terhadap tingkat
mobilisasi yang bermakna antara sebelum dan sesudah dilakukan
latihan aktivitas fisik. Berdasarkan tabel 4.4, dapat dijelaskan bahwa
tingkat mobilisasi pada pasien paska bedah apendektomi hari pertama
setelah diberikan latihan aktivitas fisik didapatkan kurang dari
setengahnya yaitu 6 orang (40%) tingkat mobilisasi hanya perlu
diawasi. Tingkat mobilisasi diawasi berarti mobilisasi diawasi secara
dekat, pasien dapat menggunakan alat bantu, tetapi tidak perlu
dipegang .

82

Latihan aktivitas fisik merupakan terapi aktivitas untuk


memperbaiki deformitas atau mengembalikan seluruh tubuh ke status
kesehatan maksimal (Potter, 2010), sedangkan menurut Lemone
(2010)

adalah

latihan

yang

dilakukan

untuk

meningkatkan

kemampuan fisik klien yang sebelumnya terganggu ke kondisi


semula. Setelah diberikan latihan aktivitas fisik, tingkat mobilisasi
pada pasien paska bedah apendektomi menjadi lebih minimal.
2. Analisa Bivariat
Pengaruh Terhadap Tingkat Mobilisasi Sebelum dan Setelah
Pemberian Latihan Aktivitas Fisik Pada Pasien Paska Bedah
Apendektomi
Berdasarkan hasil penelitian yang dapat dilihat pada tabel 4.5,
didapatkan bahwa jumlah responden 15 pasien, skor pretest Reratas.b =
3,730,594 dengan median 4,00 dan nilai minimum 2, maksimum 4. Skor
post test Reratas.b = 1,000,926 dengan median 1,00 dan nilai minimum
0, nilai maksimum 3. P Value yaitu 0,001 < = 0,05. Hal tersebut
menunjukkan terdapat pengaruh terhadap tingkat mobilisasi yang
bermakna antara sebelum dan sesudah pemberian latihan aktivitas fisik
pada pasien paska bedah apendektomi di Rumah Sakit Santo Borromeus
Bandung.
Pembedahan adalah sebuah proses invasif karena insisi dilakukan
pada tubuh atau ketika bagian tubuh diangkat. Pembedahan dilakukan
pada klien ketika terapi terbaik untuk gangguan yang dialaminya adalah

83

berupa perbaikan, pengangkatan, atau penggantian jaringan atau organ


tubuh ( Rosdahl, 2015).
Apendektomi merupakan pembedahan yang dilakukan untuk
membuang apendiks. Dalam pembedahan apendiksitis, dapat dilakukan
pendekatan laparaskopi (insersi endoskopi untuk melihat isi abdomen ),
insersi ini membutuhkan insisi yang kecil ataupun laparatomie
(pembedahan terbuka abdomen ) (Lemone, 2010).
Apendektomi akan menimbulkan perlukaan, menurut Smeltzer,
2010, bila terjadi cedera jaringan, maka jaringan yang cedera itu akan
melepaskan berbagai zat yang menimbulkan perubahan sekunder yang
dramatis di sekeliling jaringan yang tidak cedera. Reaksi peradangan ini
memerlukan

peningkatan

kebutuhan

atau

perfusi

oksigen,

dan

menyebabkan nyeri. Hal inilah yang dapat menyebabkan tingkat


mobilisasi pasien paska bedah apendektomi menjadi lebih tergantung
Rustianawati, 2013, dalam jurnal penelitiannya yang berjudul
Efektivitas Ambulasi Dini terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada
Pasien Post Operasi Laparatomi juga menyatakan bahwa ambulasi dini
dapat membantu mengurangi nyeri dengan P value < 0,05. Hal ini
disebabkan peningkatan curah jantung yang didapat dari latihan aktivitas
juga akan mengakibatkan peningkatan perfusi oksigen. Dengan adanya
peningkatan perfusi oksigen akan dapat membantu mengurangi nyeri
karena metabolisme yang terjadi adalah metabolisme aerob.

84

Perawat harus memberikan informasi yang tepat maupun


pendampingan terhadap pasien untuk mampu melakukan aktivitas secara
bertahap. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Tutur, 2013,
dalam penelitiannya yang berjudul Studi Fenomenologi Pengalaman
Ambulasi Dini Pasien Post Operasi Apendektomi Perforasi, menyatakan
bahwa pasien yang memiliki pengetahuan yang positif tentang manfaat
ambulasi dini pada pasien paska bedah apendektomi akan dapat
melakukan

ambulasi

dini.

Latihan

ambulasi

dini

hari

pertama

memberikan pengaruh terhadap latar belakang pasien untuk melakukan


ambulasi dini paska operasi apendektomi.
Morrison, 2005, mengatakan oksigen memegang peranan penting
di dalam pembentukan kolagen, kapiler-kapiler baru, dan perbaikan epitel,
serta pengendalian infeksi. Jumlah oksigen yang dikirimkan untuk sebuah
luka tergantung diantaranya tingkat perfusi jaringan. Dengan demikian
bila kebutuhan oksigen terpenuhi rasa nyeri dapat teratasi dan proses
penyembuhan luka menjadi lebih cepat. Hal inilah yang mendasari
peneliti untuk memberikan teknik relaksasi tarik nafas panjang dan dalam,
saat latihan aktivitas dilakukan sehingga proses ventilasi menjadi lebih
maksimal.
Haruyama, 2011, berpendapat bahwa dengan pernafasan panjang
dan dalam serta relaksasi maka akan memicu keluarnya hormon endorfin.
Hormon endorfin diproduksi oleh tubuh yaitu oleh kelenjar pitutary, yang
mampu menimbulkan perasaan senang dan nyaman hingga membuat

85

seseorang lebih berenergi. Karena endorfin diproduksi oleh tubuh


manusia sendiri, maka endorfin dianggap sebagai zat penghilang rasa
sakit yang baik. Guyton, 2012, menyatakan bahwa hormon endorfin
merupakan salah satu sistem opium otak disamping enkefalin.
Pengaktifan sistem analgesia oleh sinyal-sinyal saraf yang memasuki area
periakuaduktal grisea dan periventrikular yang berdekatan, dapat
menekan hampir seluruh sinyal-sinyal nyeri yang masuk melewati saraf
perifer. Bila pasien paska bedah apendektomi merasa nyaman maka
tingkat mobilisasi akan menjadi lebih minimal dibantu.
Kebutuhan oksigen harus terpenuhi, bila tidak terpenuhi maka
metabolisme yang terjadi pada tubuh menjadi metabolisme anaerob.
Metabolisme anaerob ini akan menghasilkan asam laktat dan 2 ATP. Bila
hal ini terjadi maka akan menimbulkan tingkat mobilisasi menjadi lebih
tergantung dan aktivitas memerlukan bantuan penuh dari orang lain
(Guyton, 2012).
Selain oksigenasi, Guyton, 2012, berpendapat bahwa pasien
apendektomi diharuskan untuk mobilisasi sedini mungkin. Mobilisasi dini
dapat diawali dengan latihan aktivitas. Latihan aktivitas fisik adalah
latihan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan fisik klien yang
sebelumnya terganggu ke kondisi semula (Lemone, 2010)
Latihan aktivitas fisik yang dilakukan pada penelitian ini yaitu
pelaksanaan mobilisasi yang diawali dengan latihan ektremitas atas dan
bawah, akan mempengaruhi sistem saraf tepi. Sistem saraf tepi atau

86

perifer mengatur hubungan antara semua jaringan-jaringan dan organorgan lain dengan sistem saraf pusat ( Brunner, 2010).
Guyton, 2011, menyatakan salah satu efek dari latihan fisik adalah
perangsangan kuat sistem saraf simpatis di seluruh tubuh dengan akibat
efek perangsangan pada seluruh sirkulasi. Pada permulaan latihan fisik,
sinyal tidak hanya dijalarkan dari otak menuju otot untuk menimbulkan
kontraksi otot tetapi juga ke pusat vasomotor untuk memulai
perangsangan simpatis yang kuat ke seluruh tubuh, secara bersamaan,
sinyal parasimpatis ke jantung menjadi sangat lemah (Potter, 2010).
Terdapat tiga efek sirkulasi utama pada latihan fisik yaitu
peningkatan pompa jantung, peningkatan kontraksi arteriol di sirkulasi
perifer dan peningkatan kontraksi dinding otot vena yang akan sangat
meningkatkan tekanan pengisian sistemik rata-rata. Hal ini merupakan
salah satu faktor yang paling penting dalam meningkatkan aliran balik
darah vena ke jantung dan, karena itu, meningkatkan curah jantung
(Guyton, 2011).
Peningkatan curah jantung akan meningkatkan perfusi oksigen ke
jaringan. Metabolisme yang terjadi bila oksigen yang tersedia mencukupi
adalah metabolisme aerob. Metabolisme aerob dalam tubuh akan bekerja
baik yang dapat menghasilkan energi atau ATP untuk beraktivitas. Bila
energi maupun ATP memadai tingkat mobilisasi seseorang akan lebih
mandiri (Morrison, 2005).

87

Latihan aktivitas fisik juga akan menyebabkan terbentuknya


kekuatan aktif yang menyebabkan filamen-filamen aktin bergeser ke
dalam di antara filamen-filamen miosin. Hal ini menyebabkan terjadinya
kontraksi dan pergerakan otot. Latihan aktivitas fisik memberikan
pengaruh pada suatu potensial aksi berjalan di sepanjang sebuah saraf
motorik sampai ke ujungnya pada serabut otot. Di setiap ujung, saraf
menyekresi substansi neurotransmitter, yaitu asetilkolin. Hal ini
memungkinkan sejumlah besar ion natrium untuk berdifusi ke bagian
dalam membran serabut otot. Peristiwa ini akan menimbulkan suatu
potensial aksi pada membran. Potensial aksi akan menimbulkan
depolarisasi membran otot, dan banyak aliran listrik potensial aksi
mengalir melalui pusat serabut otot. Di sini, potensial aksi menyebabkan
retikulum sarkoplasma melepaskan sejumlah besar ion kalsium. Ion
kalsium ini akan menimbulkan kekuatan menarik antara filamen aktin dan
miosin, yang menyababkan kedua filamen tersebut bergeser satu sama
lain, dan menghasilkan proses kontraksi. Dengan demikian semakin
banyak kita beraktivitas makan semakin besar pula proses kontraksi yang
dihasilkan

sehingga

tingkat

mobilisasi

menjadi

lebih

mandiri

(Guyton,2012)
Sewaktu terjadinya latihan aktivitas atau pergerakan otot, otot-otot
tersebut menekan pembuluh darah di seluruh tubuh. Akibatnya adalah,
terjadi pemindahan darah dari pembuluh perifer ke jantung dan paru, dan
dengan demikian, akan meningkatkan curah jantung. Keadaan ini

88

merupakan efek yang penting dalam membantu meningkatkan curah


jantung kadang-kadang sebesar lima sampai tujuh kali lipat. Peningkatan
curah jantung ini akan menyebabkan oksigenasi ke seluruh tubuh menjadi
lebih maksimal (Smeltzer, 2010).
Peningkatan oksigenasi akibat latihan aktivitas paska bedah akan
mempengaruhi pemulihan pasien paska operasi yang berdampak langsung
pada hari rawat pasien atau LOS ( Length Of Stay ). Hal ini dikemukakan
oleh dengan penelitian Mackay, 2005, yang berjudul Randomised Clinical
Trial of Physiotherapy After Open Abdominal Surgery in High Risk
Patients, bahwa dengan latihan fisik hari rawat pasien akan semakin
berkurang. Hal ini dikarenakan latihan fisik membantu untuk mencegah
terjadinya komplikasi paska bedah seperti gangguan pernafasan dan dapat
meningkatkan mobilisasi serta pemenuhan kebutuhan secara mandiri.
Potter, 2011, juga mengatakan bahwa latihan aktivitas fisik dapat
meningkatkan laju metabolisme basal. Sehingga energi dan ATP dapat
dihasilkan dengan latihan aktivitas.Sirkulasi darah pada seluruh tubuh
akan lebih baik bila dilakukan mobilisasi dini terutama bagi sirkulasi
abdomen serta motilitas usus. Hal ini didukung oleh penelitian yang
dilakukan oleh Mendes,2013, yang berjudul Early Mobilization Influence
to Peristaltics Recovery Time Intestine On Pascas Patient Hads Out
Abdomen, dalam penelitiannya menyatakan bahwa mobilisasi dini
berpengaruh terhadap pemulihan peristaltik usus dengan P value < 0,05.
Hal inipun semakin didukung didukung oleh Celik, 2015, dalam jurnalnya

89

yang berjudul Constipation Risk in Patients Undergoing Abdominal


Surgery. Dalam penelitian ini didapatkan data bahwa mobilisasi sangatlah
efektif dalam mencegah konstipasi paska bedah dengan P < 0,05.
Penelitian dari Journal of Clinical Nursing yang dilakukan oleh
Kalisch, 2013, yang berjudul Outcomes of Inpatient Mobilization : a
literature review mendapatkan bahwa latihan aktivitas pasien paska bedah
memiliki beberapa keuntungan diantaranya mengurangi kelemahan,
meningkatkan fungsi fisik, mengurangi pneumonia dan juga mengurangi
nyeri. Keuntungan lainnya yaitu menurunkan LOS ( Length Of Stay )
pasien, sehingga akan berdampak menurunkan biaya perawatan.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A.

Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dari akhir bulan
Juni sampai dengan Juli 2015 terhadap 15 orang pasien paska bedah
apendektomi, didapatkan hasil simpulan sebagai berikut :
1. Tingkat mobilisasi yang dapat dilakukan oleh pasien paska bedah
apendektomi hari pertama sebelum pemberian latihan aktivitas
didapatkan sebagian besar yaitu 12 orang (80%) memiliki mobilisasi
dengan bantuan maksimal.
2. Tingkat mobilisasi pada pasien paska bedah apendektomi hari pertama
setelah diberikan latihan aktivitas fisik didapatkan kurang dari
setengahnya yaitu 6 orang (40%) tingkat mobilisasi diawasi.
3. Ada pengaruh terhadap tingkat mobilisasi yang bermakna antara
sebelum dan sesudah pemberian latihan aktivitas fisik pada pasien paska
bedah apendektomi di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung dengan
P value yaitu 0,001 < = 0,05.

90

91

B.

Saran
Adapun saran yang dapat diberikan peneliti yaitu :
1.

Bagi Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung


a.

Peneliti menyarankan kepada pihak terkait perawat ruangan di


Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung untuk melakukan latihan
aktivitas fisik kepada semua pasien paska bedah terutama pasien
paska bedah apendektomi sesuai dengan kondisi pasien.

b.

Latihan aktivitas fisik kepada pasien paska bedah harus disertai


dilakukannya evaluasi berkala oleh masing-masing perawat primer
agar pelaksanaanya sesuai dengan ketentuan dan SOP yang berlaku

c.

Latihan aktivitas yang dilakukan sebaiknya diawali dengan


pemberian informasi dengan dibagikan leaflet latihan aktivitas
paska bedah dan dilakukan dengan pendampingan perawat.

d.

Rumah Sakit Santo Borromeus telah memiliki SOP untuk


mobilisasi dini dan latihan aktivitas, peneliti menyarankan untuk
dilakukan pembacaan kembali SOP ini secara berkala sebagai
sarana

untuk

pengingat

bagi

perawat

untuk

dapat

melaksanakannya.
e.

Penyimpanan SOP mobilisasi dini dan latihan aktivitas ini


sebaiknya ditempatkan di tempat yang dapat terlihat dan terbaca
setiap hari oleh para perawat.

92

2.

Bagi Penelitian Selanjutnya


Peneliti menyarankan untuk peneliti selanjutnya menjadikan hasil
penelitian ini sebagai data penunjang dan acuan untuk melakukan
penelitian selanjutnya. Peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian
mengenai pengaruh latihan aktivitas fisik terhadap pengurangan
intensitas

nyeri

pada

pasien

paska

bedah

apendektomi.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. ( 2006 ). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta : PT Rineka Cipta.
Bastable, Susan B.( 2012). Perawat Sebagai Pendidik : Prinsip-Prinsip
Pengajaran Dan Pembelajaran. Jakarta : EGC
Bland, Kirby.(2009). General Surgery : Principles and International Practice.
London : W.B. Saunders
Budiman. ( 2011). Penelitian Kesehatan. Bandung : PT Refika Aditama.
Burden, Nancy (2010). Ambulatory Surgical Nursing. Philadelphia : W.B.
Saunders Company
Celik.(2015). Constipation Risk in Patients Undergoing Abdominal Surgery.
Diperoleh 23 Juli 2015 dari http://reseachgate.net
Craven, Ruth. ( 2008 ). Fundamental of Nursing. Philadelphia : Lippincot
Williams & Wilkins.
Dharma, Kelana K. ( 2011 ). Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta : CV
Trans Info Media.
Eldawati.(2011). Pengaruh Latihan Kekuatan Otot Pre Operasi Terhadap
Kemampuan Ambulasi Dini Pasien Pasca Operasi Fraktur Ekstremitas
Bawah Di RSUP Fatmawati Jakarta. Diperoleh tanggal 10 Januari 2015 dari
http://lib.ui.ac.id
Etik

Penelitian Kesehatan dituliskan oleh KNEPK DEPKES, (2014,


http://www.jarlitbangkes.or.id/2014/wp-content/uploads/2014/05/
KE.pdf,
diperoleh 8 Februari 2015)

Given, Barbara A. (2005). Gastroenterology in Clinical Nursing. St. Louis : The


C.V.Mosby Company
Guyton, Arthur C.(2012). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
Haruyama, Shigeo.(2011). The Miracle of Endorphin. Jakarta: Mizan Media
Utama
Hidayat, A.Aziz Alimul.(2007). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah.
Jakarta: Salemba Medika

Ignatavicius, D., & Workman, M. L. (2010). Medical Surgical Nursing PatientCentered Collaborative Care. Missouri : Elsevier.
Kalisch, Outcomes of Inpatient Mobilization : a literature review. Diperoleh
tanggal 28 Juli 2015 dari http://ncbi.nlm.nih.gov
Kneale D, Julia. (2011). Keperawatan Ortopedik dan Trauma. Jakarta : EGC
Lemone, P., & Karen, B. (2010). Medical Surgical Nursing : Critical Thinking in
Client Care. New Jersey : Pearson Education Prerice Hall.
Lewis, Sharon.L. (2011). Medical Surgical Nursing : Assessment and
Management of Clinical. Missouri : Elsevier
Machfoedz, Ircham. ( 2005 ). Metodologi Penelitian. Yogyakarta : Fitramaya
Mackay.(2005). Randomised Clinical Trial of Physiotherapy After Open
Abdominal Surgery in High Risk Patients. Diperoleh tanggal 4 Agustus 2015
dari http://ncbi.nlm.nih.gov
Marlitasari.(2010). Gambaran Penatalaksanaan Mobilisasi Dini oleh Perawat
Pada Pasien Post Apendektomi di RS Muhammadiyah Gombong. Diperoleh
tanggal 15 Februari 2015 dari http://stikesmuhgombong.ac.id
McCann, Judith A. Schiling.(2006). Handbook of Medical Surgical Nursing.
Philadelphia : Lippincot Williams & Wilkins.
Mendes(2013). Early Mobilization Influence to Peristaltics Recovery Time
Intestine On Pascas Patient Hads Out Abdomen. Diperoleh tanggal 27 Juli
2015 dari http://jurnal.untan.ac.id
Morison, Moya J. (2005). Manajemen Luka. Jakarta : EGC
Nainggolan.(2013).Hubungan Mobilisasi Dini Dengan Lamanya Penyembuhan
Luka Paska Operasi Apendektomi. Diperoleh tanggal 10 Juni 2015 dari
http://akperhkbp.ac.id
Notoadmodjo, Soekidjo. (2014). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka
Cipta.
________________ .(2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta :
PT Rineka Cipta
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Potter, Patricia A. (2010). Fundamental Keperawatan Edisi 7; volume II. Jakarta :


Salemba Medika
Price, Sylvia A. (2005).Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta : EGC
Rosdahl, Caroline Bunker.(2015). Buku Ajar Keperawatan Dasar. Jakarta : EGC
Rustianawati.(2013). Efektivitas Ambulasi Dini terhadap Penurunan Intensitas
Nyeri pada Pasien Post Operasi Laparatomi. Diperoleh tanggal 10 Januari
2015 dari http://e-jurnal.com
Sharon L, Lewis, et al. (2011). Medical Surgical Nursing Assessment &
Management of Clinical Problems. St. Louis : Elsevier.
Smeltzer, Suzanne C. (2010). Brunner & Suddarths Textbook of Medical
Surgical Nursing. Philadelphia : Lippincot Williams & Wilkins.
Suratun.(2008). Klien Gangguan Sistem Gastrointestinal. Jakarta : EGC
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung :
Penerbit Alfabeta.
Tarmidzi.(2013). Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Perkotaan Pada Pasien Post Laparatomie yang Diberikan Mobilisasi Dini.
Diperoleh tanggal 18 Juni 2015 dari http://lib.ui.ac.id
Tutur.(2013). Studi Fenomenologi Pengalaman Ambulasi Dini Pasien Post
Operasi Apendiktomi Perforasi. Diperoleh tanggal 15 Februari 2015 dari
http://thesis.umy.ac.id