Anda di halaman 1dari 5

REGULASI EKSPRESI GEN PADA EUKARIOT

RQA

disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah Genetika


yang dibina oleh Prof. Dr. Siti Zubaidah,M. Pd

Oleh : Kelompok 12 Off C 2013


Rizka Permatasari (130341614841)
Yoananda Ramadina (130341614826)

The Learning University


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September 2015

CONTOH KLASIK DARI PERKEMBANGAN REGULASI EKSPRESI GEN


Contoh klasik dari perkembangan adalah transkripsi pada kromosom
lampbrush pada oosit ampibi. Sebagian transkrip gen dan atau produk gen
lainnya terletak pada area khusus pada sitoplasma telur selama oogenesis.
Ini membuktikan bahwa sitoplasma menetukan perkembangan telur. Selain
itu, contoh lainnya adalah pengerasan gen rRNA pada oosit ampibi. Ketika
banyak protein yang dibtuhkan, pengerasan dapat terjadi pada tingkat
translasi. Setiap molekul mRNA dapat ditranslasikan berkali-kali.
POPULASI TRANSKRIP GEN ADALAH DIVERGEN PADA TIPE SEL YANG
BERBEDA
Set yang berbeda ditranskrib dan tanskrip yang berbeda itu diproses
menuju mRNA pada sel yang terdiferensiasi. Biasanya, beberepa gen yang
sama dan beberapa gen yang tidak sama ditranskrip pada jaringan yang
berbeda. Ini dapat dibuktikan melalui eksperimen hibridisasi. Eksperimen ini
membuktikan bahwa sekuen RNA berada pada populasi RNA dari jaringan
yang berbeda sebanyak 10-100 persen.
MEKANISME REGULASI TRANSKRIPSI PADA EUKARIOT YANG LEBIH
TINGGI
Transkripsi pada eukariot di inisiasi oleh protein pengkode. Protein ini
hanya bisa menginisiasi transkripsi jika terdapat 4 protein asesori atau faktor
transkripsi umum. Unit Transkripsi eukariot kebanyakan monogenic Jika pada
eukariot yang lebih rendah ditemukan opreon atau model mirip operon, di
eukariot yanglebih tinggi ini tidak ditemukan. mRNA pada neukariot yang
lebih tinggi adalah bersifat monogenic yang mengandung sekuen pengkode
dari satu gen struktural. Dalam beberapa kasus, transkrip utama memang
poligenik, tetapi kemudian membelah untuk menghasilkan monogenik.
Peningkat dan Pembungkam Memodulasi Transkripsi Pada Eukariot Sesuai
dengan namanya, peningkat meningkatkan transkripsi pada gen yang di
atur, pembungkam menurunkan transkripsi pada gen yang di atur.
Ciri khas dari peningkat yang membedakannya dengan promoter
adalah (1) dapat bekerja pada jarak yang relatif panjang hingga ribuan
nukleotida, (2) berorientasi independen, (3) posisi yang independen.
Sebagian besar bekerja hanya pada target tertentu. Artinya dia akan
meningkatkan proses transkripsi pada target saja, tidak yang lain. Saat ini
telah banyak yang diketahui. Penignkat ini berperan penting dalam proses
transkripsi. Dan peningkat ini bekerja dengan pengkhususan jaringan.
Sebenarnya, promoter dan peningkat ini bekerja secara kooperatif.
Pengaturan tingkat transkripsi oleh metilasi DNA Pada kebanyakan tumbuhan
tingkat tinggi, DNA sering dimodifikasi setelah sintesis oleh perubahan
enzimatik. Yang berperan disini adalah gugus metil 5 pada DNA.
Sampai saat ini belum diketahui ada bukti definitif peran metilasi
dalam regulasi ekspresi gen eukariotik apapun. Tetapi ada bukti yang tidak
langsung seperti, (1) hubungan antara tingkat ekspresi gen dengan derajat
metilasi. Jika metilasi rendah, ekspresi gen tinggi. Jka metilasi tinggi, ekspresi

gen rendah (2) bentuk metilasi adalah pengkhususan jaringan (3) metilasi
dapat menimbulkan ekspresi gen yang tidak ada pada DNA menjadi ada.
Langkah kunci dalam setiap model untuk regulasi ekspresi gen atau
diferensiasi melalui metilasi DNA melibatkan pembentukan jaringan pola
mathylation tertentu. Hipotesis yang paling popuar adalah bahwa pola yang
terbentuk selama pengembangan oleh jaringan demethylase tertentu, yang
menghapus kelompok methyl dari situs penting dalam gen yang dijadwalkan
akan disajikan dalam jenis sel tertentu.
Novel kiri-banded heliks ganda dari DNA dinobatkan Z-DNA untuk jalur
berkelok-kelok dari gula-fosfat kembali tulang molekul. Ada bukti bahwa zDNA ada di wilayah interband raksasa kromosome kelenjar ludah Drosophila
melanogaster dan di macronucleus transcriptionally aktif bersilia protozoa
Stylonychia Mytilus. Struktur Kromatin: Sisi Sensitif Nuklease Berdekatan
dengan Gen Aktif Studi subsequence telah menunjukkan sensitivitas
nuklease dari transcriptionally aktif gen di beberapa organisme lainnya.
Selain itu, sensitivitas nuklease bahan aktif gen telah ditemukan untuk
tergantung pada keberadaan ot dua protein histon kromosom non disebut
HMG 14 dan HMG 17 (HMG untuk kelompok mobilitas tinggi, protein-protein
kecil dengan mobilitas tinggi selama elektroforesis gel poliakrilamida). Ketika
kromatin diisolasi mengandung gen transcriptionally aktif diperlakukan
dengan konsentrasi yang sangat rendah dari DNAse I, molekul DNA yang
dibelah di situs tertentu saja. Beberapa situs hipersensitif telah menunjukkan
untuk berbohong "hulu" (berdekatan dengan ujung gen homolog ke 5 ujung
mRNA) dari gen transcriptionally aktif.
KONTROL HORMON DARI EKSPRESI GEN
Komunikasi intersel(dalam sel) merupakan fenomena yang penting
pada tumbuhan tingkat tinggi dan hewan. Pada jaringan dan sel, bisa terjadi
pergantian pola ekspresi gen yang diakibatkan oleh suatu sinyal pada
kelenjar dan sel sekretori dimana keberadaan sinyal tersebut bisa pada
hormone peptida seperti insulin dan hormone steroid (esterogen dan
progesterone). Pada hewan tingkat tinggi hormone disintesis pada sel
sekretori khusus dan dibebaskan ke aliran darah, disisi lain hormone peptide
tidak dapat masuk ke sel secara noemal karena ukurannya yang relative
besar. Hal tersebut menyebabkan munculnya perantara yaitu protein
reseptor. Hormon steroid mempunyai ukuran kecil sehingga siap untuk
memasuki sel melalui membrane plasma.
AKTIVASI TRANSKRIPSI OLEH HORMON STEROID
Telah dilakukan penelitian pada ayam yang menunjukkan bahwa
protein reseptor hormone mengaktifkan transkripsi dari suatu gen khusus
atau pasangan gen. Protein kromosom non histon dapat mengontrol wilayah
transkripsi dari suatu gen (J stein, G Stei and Klein), dimana histon disintesis
selama fase S dari siklus sel. Ketika kromatin dari fase S ditranskripsi secara
in vitro, mRNA histon disintesis. Ketika kromatin dari fase G1 digunakan,
tidak ada mRNA histon yang disintesis. Ketika non histon dihilangkan dari

kromatin fase G1 dan digantikan dengan protein kromosom non histon dari
kromatin fase S, mRNA histon disintesis. Disisi lain, ketika non histon pada
kromatin penyusun dari fase G1 dan DNA serta histon dari fase S, maka tidak
ada mRNA histon yang disintesis. Hasil ini menunjukkan bahwa protein non
histon di kromatin menentukan apakah pengkode gen untuk histon perlu
ditranskripsi. Jadi protein nonhiston kromosom memegang peran penting
pada regulasi ekspresi gen eukariot.
HORMON GLUCOCORTICOID SEBAGAI BAHAN PENAMBAH
Hormon steroid tertentu seperti glukokortikoid dan esterogens
(misalnya -estradiol) telah diketahui dapat mengaktifkan gen target
tertentu dengan interaksi antara protein perantara dan urutan cis. Hormon
glukokortikoid bertindak dengan mengikat protein reseptor yang hadir dalam
sitoplasma sel target. Protein reseptor hormon kemudian terakumulasi dalam
inti sel dan mengikat urutan DNA yang disebut elemen respon glukokortikoid
(Gres). Kompleks reseptor hormon glukokortikoid mengaktifkan transkripsi
gen target dengan mengikat urutan GRE di dekat penambah masing-masing
gen tersebut. Pengikatan reseptor hormon ke penambah akan mengaktifkan
mekanisme dimana penambah bertindak sbg perangsang transkripsi gen.
Elemen respon hormon yang mengikat protein reseptor hormon steroid
mengandung urutan DNA yang berbeda. Wilayah pusat dari protein reseptor
tersusun dari 42-94 % asam amino antara pasangan berbeda, sedang daerah
G-terminal dari protein reseptor mengandung asam amino 15-57%.

ECDISON DAN KROMOSOM GEMBUNGAN PADA LALAT


Pada kromosom kelenjar ludah spesies lalat seperti Drosophila dan
Chironomus tentans, pita dari kromosom individu tersebut mengalami
perubahan secara morfologi. Pita individual meluas dan membaur, dengan
struktur pewarnaan krang merata dimana pita ini disebut gembungan dan
fenomenanya disebut menggembung. Gembungan lain mewakili suatu
segmen dari kromosom yang cukup luas untuk memfasilitasi transkripsi dari
gen. Gembungan ini telah diketahui mengandung urutan DNA yang
melengkapi urutan RNA pada sintesis mRNA sitolasma yang baru. Selama
pengembangan pita lalat, hormone steroid ecdison terlepas dan memicu
pergantian kulit. Selama tahap larva dari pengembangan di d. melanogaster,
gembungan yang ada sebelum perlakuan ekdison mulai terbentuk dalam
waktu 5 menit setelah perlakuan. Gembungan awal ini bisa muncul sebanyak
100-125 dalam beberapa jam. Dengan menggunakan inhibitor dari sintesis
protein seperti cycloheximide, susunan dari gembungan yang terlambat
membutuhkan sintesis protein setelah ekdison diberi perlakuan.
REGULASI DENGAN JALAN ALTERNATIF DARI SALINAN SAMBUNGAN
Seperti yang telah diketahui bahwa regulasi dimulai dengan mengubah
salinan dengan pengangkutan yang berbeda ke sitoplasma, dan dengan

translasi yang berbeda daeri proses penyalinan. Contoh dari salinan


sambungan ini yaitu pada Drosophila dan hewan vertebrata. Tropomiosin
terkait dengan protein dimana merupakan perantara dari interaksi antara
aktin dan troponin yang mengatur kontraksi otot. Jaringan yang berbeda
antara otot dan bukan otot dikarakteristikkan dengan kehadiran tropomiosin.
REGULASI KONTAK KOMPLEKS DARI EKSPRESI GEN PADA EUKARIOT
Berdasarkan model Britten dan David tentang eksprei gen, gen sensor
yang khusus mewakili ikatan untaian khusus yang memberi tanggapan pada
sinyal khusus. Ketika gen sensor menerima sinyal sesuai, mereka
mengaktifkan transkripsi berdekatan dengan gen integrator. Tujuan dari
Britten dan David adalah gen produk integrator merupakan activator dari
RNAs yang berinteraksi langsung dengan gen reseptor untuk memicu
transkripsi dari gen producer. Perlu diketahu regulasi yang cukup besar
terjadi pasca transkripsi selama pemrosesan RNA yang ada di tahap hn RNA
mRNA. Model kedua yaitu Davidson-Britten model, dimana ekspresi gen
mengatur proses level dari RNA. Berdasar model kedua ini banyak dari gen
struktur berlokasi di unit transkripsi konstitutif yang mana ditranskripsi
pada tingkat basal dalam sel.
PERTANYAAN
1. Mengapa eukariot memiliki mekanisme ekspresi gen yang lebih rumit?
2. Bagaiamanakah peran penting dari protein nonhiston kromosom pada
regulasi ekspresi gen eukariot?
JAWABAN
1. Sebab sel eukariot mengandung lebih banyak informasi genetic dan
tersimpan dalam beberapa kromosom sedangkan pada prokariot hanya
pada satu kromosom. Serta kebanyakan eukariot adalah organisme
multiseluler dengan tipe sel berbeda. Setiap sel menggunakan
seperangkat gen yang berbeda untuk mensintesis protein yang
berbeda.
2. Protein non histon di kromatin menentukan apakah pengkode gen
untuk histon perlu ditranskripsi. Pernyataan tersebut ditunjukkan
ketika kromatin dari fase G1 digunakan, tidak ada mRNA histon yang
disintesis. Ketika non histon dihilangkan dari kromatin fase G1 dan
digantikan dengan protein kromosom non histon dari kromatin fase S,
mRNA histon disintesis. Disisi lain, ketika non histon pada kromatin
penyusun dari fase G1 dan DNA serta histon dari fase S, maka tidak
ada mRNA histon yang disintesis.