Anda di halaman 1dari 3

A.

Istana Luwu
Istana Luwu berlokasi di tengah Kota Palopo, Pusat Kerajaan Luwu (sekarang salah satu kota
kelas menengah di Provinsi Sulawesi Selatan). Dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda
sekitar tahun 1920-an di atas tanah bekas "Saoraja" (Istana sebelumnya terbuat dari kayu, konon
bertiang 88 buah) yang diratakan dengan tanah oleh Pemerintah Belanda.
Bangunan permanen ini dibangun dengan arsitektur Eropa, oleh Pemerintah Kolonial Belanda
dimaksudkan untuk mengambil hati Penguasa Kerajaan Luwu tetapi oleh kebanyakan bangsawan
Luwu dianggap sebagai cara untuk menghilangkan jejak sejarah Kerajaan Luwu sebagai Kerajaan
yang dihormati dan disegani kerajaan-kerajaan lain di jazirah Sulawesi secara khusus dan
Nusantara secara umum.
Istana Luwu menjadi pusat pengendalian wilayah Kesultanan Luwu yang luas oleh Penguasa
Kerajaan yang bergelar Datu dan atau Pajung (Di Kerajaan Luwu terdapat 2 strata Penguasa/Raja
yaitu Datu kemudian di tingkat lebih tinggi Pajung). Di dekat istana luwu terdapat pula Masjid
Jami yang usianya sangat tua dan keseluruhan dindingnya terbuat oleh batu yang disusun. Di
dalam kawasan istana luwu terdapat Rumah Adat LangkanaE, monumen Toddopuli Temmallara
(simbol perjuangan rakyat Luwu melawan penjajah) dan museum Batara Guru yang juga disebut
museum Lagaligo
B. Rumah adat LangkanaE
Replika Istana LangkanaE' ini atau sering juga disebut rumah adat LangkanaE', merupakan
saksi kejayaan dari Kerajaan Luwu pada masa lalu. Terdapat beberapa bangunan gedung
bersejarah yang memiliki histori di sekelilingnya. Bila kita mencoba untuk masuk kedalam Istana
Langkanae tersebut, para pengunjung lebih dulu harus melepas alas kaki. Bangunan Istana yang
dibangun pada tahun 1920 ini, masih tetap kokoh yang dibangun dari kayu tanpa adanya material
besi sebagai penopang. Di dalamnya terdapat ruangan besar yang kira-kira bisa menampung ribuan
orang. Ruangan tersebut kerap dijadikan sebagai tempat Tudang Sipulung untuk membicarakan
masalah kerjaan dan rakyat. Di tengah-tengah bangunan ada 2 kamar luas yang diyakini sebagai
tempat istirahat dari datu dan raja. Sedangkan di belakang bangunan ada 2 kamar yang ukurannya
kecil.
C. Museum Batara Guru
Museum Batara Guru terletak di atas tanah seluas 10.000 m dengan ketinggian 20 m dari
permukaan laut. Bangunan museum ini memiliki gaya artsitektur Eropa. Luas bangunan 968 m
dan memiliki ruang pamer seluas 120 m. Museum dilengkapi dengan fasilitas:

Ruang Pamer

Ruang Administrasi

Ruang Perpustakaan

Ruang Mushola

Toilet
Museum ini terletak di Jalan Andi Jemma No. 1, Kelurahan Batu Pasi, Kecamatan Wara
Utara, Kabupaten Luwu, Palopo, Sulawesi Selatan
Museum Batara Guru diresmikan pada tanggal 26 juli 1971 oleh Bupati Luwu saat itu, Andi
Achmad. Beliau adalah salah seorang ahli waris dari Raja Luwu. Tujuan didirikannya museum ini
adalah untuk melestarikan warisan budaya Kerajaan Luwu agar dapat diwariskan pada generasi
berikutnya.
Didalam museum Batara Guru terdapat beberapa koleksi sebanyak 831 buah yang terdiri dari
koleksi prasejarah, heraldika, keramik, etnografi, naskah, numismatik, dan foto.
Dan kalau kita sudah menduduki Tah Tah jadi namanya Opu Pattinroe. Dan kita perluh ketahui
bahwa Luwu itu bukan suku tetapi Bangsa dan terdiri dari suku yaitu suku Bugis. Jadi daerah luwu
itu dari Poso sampai dilewati podae, dan toraja, dan sikitar Siwa juga masih luwu.
Didalam museum terdapat LANGNGI PULAWENG ialah tempat pelaminan atau sebagai
tempat duduk Raja. LANGNGI PULAWENG tidak boleh dibikin sembarang tempat. Dan
LANGNGI PULAWENG artinya Tempat duduk emas, LANGNGI PULAWENG tidak boleh
ditempati duduk kalau bukan Datu Resmi.
Di samping kanan kiri LANGNGI PULAWENG terdapat payung yang berwarna kuning dan
merah. Payung kuning berarti payung Datu dan payung yang berwarna merah adalah payung
Pajung
D. Monumen Toddopuli Temmalara
Di dalam kompleks istana, terdapat monumen Perjuangan Rakyat Luwu, berupa badik yang
terhunus ke langit dengan tulisan Toddopuli Temmalara. Toddopuli Temmalara mengandung
makna keberanian untuk memperjuangkan kebenaran. Selain itu, ada juga tulisan "23 Januari1946". Pasalnya, 23 Januari 1946, adalah tanggal perjuangan rakyat kawasan timur di Indonesia,
yang di mulai dari istana kerajaan Luwu. "23 Januari itu adalah simbol perjuangan bagian timur
Indonesia, titik perjuangannya ada di kerajaan Luwu, dan dipimpin oleh datu Andi Djemma," kata
seorang Pakkateni Ade' (setingkat mentri di kerajaan Luwu), Opu Andi Nyiwi.
Demikian itulah falsafah orang bugis yang sebenarnya. Bila kita telusuri lebih dalam makna
Toddopuli Temmalara, maka paling pertama yang harus digali adalah sejarah kota Palopo atau
kerajaan luwu yang dulunya terpecah menjadi dua wilayah kekuasaan dan satu wilayah netral.
Wilayah netral saat itu adalah Kemaddikan Bua meliputi Kolaka, Luwu Tenggara dan Palopo atau
Libukang. Palopo saat itu masih merupakan perkampungan nelayan yang berpusat di Libukang.
Sementara dua wilayah kekuasaan lainnya adalah wilayah Luwu dibagian Utara dibawah
pemerintahan Patiraja. Yang kedua adalah Luwu bagian selatan dibawah pemerintahan
Patipasaung.
Perebutan kekuasaan pada tahun 1616 menimbulkan perang saudara di Luwu antara dua
wilayah kekuasaan, yang kemudian dikenal dengan Perang antara Utara dan Selatan. Hingga pada
tahun 1619, Maddika Bua (orang yang di tuankan di bua) berinisiatif untuk mendamaikan perang
saudara itu. Dalam sebuah pesta di musim panen di wilayah Bua, Maddika Bua mengundang
Patiraja dan Patipasaung. Kedua raja ini dibuatkan pintu masuk secara terpisah, Pintu utara untuk
Patipasaung, dan pintu selatan dimasuki oleh Patiraja. Hingga keduanya bertemu di tengah

panggung. Kegemparan pun terjadi, terlebih saat keduanya diserahi badik (senjata khas bugis) oleh
Maddika Bua dan persilahkan untuk bertarung.
Sebelum pertarungan dimulai Madika Bua berkata Wahai kedua junjungan kami, telah lama
rakyat saling membunuh, telah banyak janda, anak yatim sudah tidak terbilang lagi. Ini adalah
akibat Luwu diperintah dua raja. Kami hanya menghendaki seorang raja. Patiraja tiba-tiba insyaf.
dan berkata kepada Patipasaung Wahai adikku. Engkaulah yang disukai orang banyak. Aku ini,
abangmu telah hanyut dalam gelora nafsu kekuasaan. Aku khilaf. Rakyat yang tidak berdosa telah
saya ikutkan dalam ambisi pribadiku. Terimalah badik ini, dan terima pula penduduk Kamanre
seluruhnya ke dalam Luwu yang damai, tenteram dan sejahtera. Biarkan aku kembali ke Gowa,
tempat di mana kita dilahirkan. Siapa tahu, Dewata Allah Taala menerima diriku di tanah leluhur
kita.
Peristiwa itulah yang menyatukan kembali Luwu. Patipasaung memindahkan pusat kerajaan
Luwu ke wilayah Ware yang sekarang ini dikenal dengan kota Palopo. Sejak itu pulalah
perkembangan daerah luwu mulai pesat karena penduduknya bangga menjadi To Ware , hal ini
terlihat dari Kebresamaan yang diajarkan secara turun temurun oleh orang-orang terdahulu hingga
saat ini dan akan terus dipertahankan oleh masyarakat kota Palopo, Sebagaimana yang tertulis
pada tugu badik di halaman depan istana datu Luwu TODDOPULI TEMMALARA
Kebersamaan yang saling menguatkan.