Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENDERITA

CEDERA KEPALA
Oleh : I Wayan Sukawana

Nim: 99/127114/KU/09339

I.
Landasan Teori:
A. Pendahuluan
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama
pada kelompok usia produktif. Sebagian besar cedera kepala terjadi karena kecelakaan
lalu lintas yang berakibat pada terjadinya trauma kepala. Tingkat keparahan akibat
trauma tergantung dari struktur anatomis organ kepala yang terkena.
B. Anatomi kepala
Urutan anatomi kepala dari bagian luar ke bagian dalam adalah sebagai berikut:
1. Kulit kepala yang kaya dengan pembuluh darah yang berasal dari arteri
besar temporalis dan arteri occipitalis.
2. Tulang, yang berfungsi untuk melindungi otak. Pada tulang tengkorak
terdapat banyak pembuluh darah yang keluar-masuk ke selaput otak..
3. Selaput otak (dura) yang banyak mengandung pembuluh darah (midle
meningeal arteria).
4. Arachnoid (selaput otak).
5. Otak yang terbagi menjadi substansia grisea (kelabu) sebagai pusat gerakan
motorik dan substasia alba pada bagian dalam.
C. Klasifikasi Cedera Kepala
Cedera kepala dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme, keparahan dan
morfologi cedera, yaitu:
1. Berdasarkan mekanisme adanya peneterasi pada duramater:
a. Trauma tumpul dengan kecepatan tinggi seperti kecelakaan lalu lintas,
dengan kecepatan rendah seperti akibat di pukul.
b. Trauma tembus seperti akibat tertembak.
2. Berdasarkan keparahan cedera:
a. Cedera ringan dengan GCS 14-15.
b. Cedera sedang dengan GCS 9-13.
c. Cedera berat dengan GCS 3-8.
3. Berdasarkan morfologi:
a. Fraktur
1) Kranium: linear, depresi, terbuka/tertutup
2) Basis: dengan/ tanpa kebocoran serebrospinal, dengan/tanpa kelumpuhan
nervus VII
b. Lesi Intra kranial
1) fokal: epidura, sub dura, intra serebral.
2) Difus: konkusi ringan, konkusi klasik, cedera aksonal difus.
D. Patologi sedera kepala
Patologi sedera kepala sangat tergantung pada bagian anatomis kepala yang
mengalami cedera.
1. Laserasi pada kulit kepala, dapat menimbulkan perdarahan hebat karena
kulit kepal mengandung banyak sekali pembuluh darah.
2. Fraktur tengkorak:
a. Fraktur linier, manifestasi fraktur linier dapat ringan dapat hebat. Fraktur
linier yang melibatkan rongga udara perinasal dapat menbimbulkan rhinore

b.
c.
3.
a.

b.

4.

atau otore dari cairan cerebro spinalis, sedangkan fraktur linier yang terbuka
lebar dapat menimbulkan herniasi atau dapat berkembang pada munculnya
kista. Fraktur linier dapat merobek pebuluh darah yang melewati tulang
tengkorak sehingga dapat terjadi perdarahan epidura atau subdura.
Fraktura depresi: depresi lebih dari 3 mm dapat menimbulkan kerusakan
otak disamping sebagai akibat tekanan perdarahan.
Fraktur dasar tengkorakdapat mengakibatkan rhinore atau otore disamping
perdarahan jika sampai merobek duramater dan araknoid.
Perdarahan pada selaput otak: cedera kepala dengan atau tanpa fraktur dapat
menimbulkan robekan pembuluh darah yang terdapat dapa duramater. Jenis
perdarahan tersebut adalah:
Perdarahan epidura
(antara tulang tengkorak dengan duramater).
Perdarahan yang terperangkap dalam tulang tengkorak kemudian
menimbulkan tekanan pada otak kemudian menekan nervus kranialis ketiga
sehingga terjadi dilatasi pupil pada sisi yang sama. Penekanan hemisfer
berlanjut pada penekanan batang otak sehinga berpindah pada sisi yang
berlawanan. Perpindahan yang cukup jauh menimbulkan defisit neurologi
pada sisi yang berlawanan (kontralateral) yang tidak dapat diperbaiki dan
kematian. Perdarahan epidura dapat berkembang sangat lambat. Mula-mula
pasien tidak sadar kemudian sadar tanpa tanda/ gejala gangguan neurologis.
Karena perdarahan berlanjut maka pasien mulai mengalami penurunan
kesadaran mulai dari mengantuk kemudian koma sampai kematian.
Perdarahan sub dura (antara dura dengan araknoid). Karena araknoid
melekat dengan kendur pada dura maka perdarahan dapat mencapai ukuran
yang besar sekali walaupun perdarahan dari vena (tekanan rendah).
Perdarahan sub dura dapat diklasifikasikan menjadi akut, sub akut dan
kronis. Perdarahan sub akut karena cedera kepala yang hebat. Perdahan
subdura sub akut terjadi setelah 1-15 hari setelah cedera. Perdarahan kronik
dapat terjadi pada anak-nak dan usila.
Cedera otak: dapat berupa kontusio (memar otak) dengan gangguan
fungsional sesaat tanpa gangguan organik atau laserasi (robekan otak)
dengan gangguan fungsional sebagai akibat kerusakan organ.

E. Tanda dan gejala:


Tanda dan gejala yang ditimblkan tergantung pada tingkat kerusakan yang
terjadi pada otak dapat berupa gejala sesaat (beberapa menit saat kejadian) atau dapat
berlangsung lama. Secara umum cedera kepala akan menimbulkan tiga hal gangguan
yaitu: gangguan kesadaran, gangguan verbal dan gangguan motorik.
Gangguan kesadaran dapat terjadi beberapa menit saat kejadian, berulang,
kontinu atau terjadi secara perlahan. Gangguan kesadaran dapat disertai dengan anemsia
terutama anemsia retrograde. Tingkat kesadaran dinilai dengan GCS. Gangguan motorik
terjadi pada kontra lateral dari pada gangguan. Gangguan pupil terjadi ipsilateral berupa
pelebaran (dilatasi) pupil. Gejala/tanda laian yang dapat timbul sebagai akibat
peningkatan tekanan intra kranial adalah Nyeri kepala, mual, muntah, diplopia, kaku
kuduk.Tekanan intrakranial yang meningkat menimbulkan kompensasi jantung untuk
meningkatkan tekanan, nadi lambat, dan apne dapat terjadi akibat TIK yang sangat
tinggi.
F. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang sangat penting dilakukan pada cedera kepala
adalah foto polos kepala tiga posisi (lateral, antero posterior dan fronto occipital), CT
scan untuk menentukan lokasi dan keparahan lesi, EEG untuk menilai adanya
gelombang patologis, pungsi lumbal untuk menilai adanya perdarahan sub arakhnoid,
AGD untuk menilai masalah ventilasi, dan pemeriksaan elektrolit darah.

G. Penatalaksanaan
Oleh karena ksus cedera kepala berpacu dengan waktu maka penatalaksanaan
pasien mulai saat kejadian ditempat kejadian, selama transportasi, di IRD sampai rawat
inap merupakan hal yang sangat vital untuk menolong korban. Prinsip utama
penatalaksanaan adalah:
1.
Istirahat baring dengan elevasi kepala 300
2.
Cegah herniasi dengan tindakan operasi (kraniotomi)
3.
Atasi dan cegah peningkatan tekanan intra kranial dengan:
a. Hiperventilasi, PaCO2 dipertahankan pada 25-35 mmHg.
b. Atasi hipertermi karena hipertermi mengakibatkan otak edema.
c. Berikan diuretik osmotik seperti manitol 1,5 gram/kgBB/24 jam, hati-hati
terhadap efek samping perubahan elektrolit dan gangguan osmolaritas.
d. Atasi udema otak dengan pemberian dexametason 4-6 mg tiap 4 jam.
e. Keseimbangan masukan dan keluaran cairan harus di jaga pada posisi
normal rendah (1500-2000 cc/24 jam untuk orang dewasa. Pembatasan
cairan ini dilakukan karena pada pasien dengan trauma kepal dapat
menskresi hormon antideuretik tidak pada tempatnya sehinga terjadi retensi
cairan.
f. Pantau keseimbangan elektrolit.
g. Pantau tanda vital secara teratur.
h. Cegah infeksi dengan debrideman luka dan pemberian antibiotika.
i. Penuhi kebutuhan dasar pasien
j. Setelah fase kut teratasi (nyeri kepala hilang, tidak ada keluahan
mual/muntah pasien dilatih untuk mobilisasi bertahap.
H. Diagnosa keperawatan:
1. Ganguan perfusi jaringan otak berhubungan dengan penghentian aliran darah
(akibat peningkatan tekanan intra kranial sekunder terhadap perdarahan dan
edema otak). Dapat dibuktikan dengan perubahan tingkat kesadaran, kehilangan
memori, perubahan respon sensorik/motorik, gelisah, dan perubahan tanda vital.
2. Pola nafas tak efektif berhubungan dengan depresi pusat pernafasan.
3. Resiko cedera (injuri) berhubungan dengan perubahan fungsi cerebral sekunder
terhadap cedera serebral.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan (kulit kepala, tulang
tengkorak), prosedur invasif, statis cairan tubuh.
5. Kerusakan proses menelan berhubungan dengan depresi hemisfer otak kanan
dan kiri.
6. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan defisit neurologis. Dapat
dibuktikan dengan disorientasi terhadap tempat orang waktu, perubahan respon
terhadap rangsang, inkoordinasi motorik, perubahan pola komunikasi, distorsi
auditorius dan visual, perubahan proses fikir, respon emosional berlebihan dan
perubahan tingkah laku.
7. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan: kerusakan persepsi atau
kognitif, penurunan kekuatan, terapi yang diprogramkan. Dibktikan dengan
ketidakmampuan bergerak, kerusakan koordinasi, keterbatsan rentang gerak, dan
penurunan kekutan.

II. Asuhan Keperawatan


DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1.

TUJUAN

RENCANA KEPERAWATAN
INTERVENSI
RASIONALISASI

Setelah diberikan
tindakan keperawatan
selama 5 hari gangguan
perfusi jaringan otak
teratasi dengan kriteria:
GCS 15
Tidak ada tanda
peningkatan TIK
(tidak ada: nyeri
kepala, mual muntah)
Pupil isokor
Tanda vital stabil

Tirah baring dg
elevasi kepala 300
Batasi
rangsangan
Atasi hipertermi
Jaga
keseimbangan
masukan dan luaran
cairan pada normal
rendah (1500-2000cc)
Motivasi untuk
menahan batuk/
muntah/ mengejan
Atasi retensi
urine
Pantau tanda
vital, peningkatan
TIK sepeti gelisah,
mual muntah
Kaji Reflek
cahaya dan besar
pupil
Kaji GCS

Kolaborasi:
Pemberian
dexameta-son,
deuretik :manitol
Pantau AGD
Berikan O2

Mengurangi edema
Dpt meningkatkan TIK
Dpt menimbulkan edema
Mencegah edema otak

Dapat meningkatkan
TIK
Dpt meningkatkan TIK
Evaluasi adanya
peningkatan TIK
Menilai funsi batang
otak dan N II, III
Menilai kemampuan respon terhadap rangsangan
Mengurangi edema otak
Menilai kecukupan O2
Menurunkan hipoksemia
Dpt meningkatkan TIK
Nyeri, panas, batuk dpt
meningkatkan TIK

IMPLEMENTASI

EVALUASI

cegah kejang dg
anti konvulsi
Beri Analgetik,
Atipiretika, sedatif.

2.

Setelah diberikan
tindakan keperawatan
selama 2 X 24 jam pola
nafas efektif dengan
kriteria:
Frekuensi nafas 16-24 X
Tidak ada tanda sianosis
Tidak terjadi aspirasi

3.

Setelah diberikan
tindakan keperawatan
selama 3 X 24 jam
pasien terhindar dari
cedera (injuri) dengan
kriteria:
pasien tidak
jatuh
Pasien berada
pada posisi bedrest
Tindakan infasif
tetap terpasang sesuai
indikasi
Pasien tidak
mengalami cedera

Atur posisi
dengan elevasi kepala
15-30 0
Jaga bersihan
jalan nafas
Miringkan
kepala pasien saat
muntah
Kaji pola nafas
Berikan O2 4-7
l/mnt
Pasang
pengaman tempat
tidur
Kolaborasi
dengan keluarga
untuk melakukan
pengawasan pada
pasien.
K/P lakukan
restrain

Kurangi
rangsangan pada
pasien

Cegah gerakan
pato-

Mengurangi tekanan
terhadap diafragma
Untuk mencegah
obstruksi
Untuk mencegah aspirasi
Evaluasi perkembangan
Memberi suplai O2

Mencegah jatuh
Bantuan keluarga dalam
menjaga pasien

Pasien sangat gelisah


sulit dikendalikan
Rangsangan
membangkitkan gerak
tak terkoordinasi
Mencegah kerusakan
muskuloskletal
Mencegah dekubitus

4.

Setelah diberikan
perawatan selama 3X24
jam pasien tidak
mengalami infeksi
dengan kriteria:
Suhu tubuh <
375
Nadi 60 88
X/mnt
Leuco < 11.000

5.

Setelah diberikan
tindakan keperawatan
selama 5 hari pasien
dapat menelan makanan
dengan kriteria:
Dapat
melakukan proses
makan
Makanan
tergerak secara
volunter ke lambung

logis/membahayakan
Jaga kebersihan
dan berikan
perawatan kulit
Tutup mata
pasien atau berikan
perawatan mata
Rawat tempat
pemasangan kateter
dan infus setiap hari
Pantau
perubahan tanda vital
(suhu dan nadi).
Batasi
pengunjung
Jaga kebersihan
diri pasien
Kolaborasi
pemberian antibiotika
Kolaborasi
pemeriksaan leucosit
Berikan
makanan secara
bertahap: cair-bubur
saring-bubur- nasi
Tempatkan
makanan pada bagian
posterior mulut
Instruksikan
pasien untuk menahan
nafas sementara saat
menelan

Mencegah kerusakan
mata

Tempat pemasangan
kateter dan infus dapat
mrp port Dentre
Peningkatan suhu dan
nadi mrp tanda infeksi
Dpt sbg pembawa
kuman
Mencegah
perkembangan penyakit
Antibiotik mencegah
infeksi
Peningkatan leucosit mrp
tanda infeksi
Melatih proses makan
dan menelan secara
bertahap
Melatih menggerakan
bolus makanan
Mencegah aspirasi

Tidak
mengalami aspirasi
Pasien tidak
mual/muntah.
-