Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 7, No.

1, Januari 2014

MODEL PERENCANAAN CASING


PADA PENGEBORAN EKSPLORASI SUMUR X
DENGAN SURFACE 8-1/2 LAPANGAN Y LEPAS PANTAI
Lino Mendonca
Mahasiswa Magister Teknik Geolologi UPN Veteran Yogyakarta

ABSTRAK
Perencanaan Casing pemboran sumur dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap
perencanaan ( pre drill drilling (plan) dan tahap pelaksanaan ( Post drill - drilling)
(Actual). Penentuan tahap pre drill driling diawali dari permukaan laut (sea level)
(MSL) sampai dasar laut (seabed) dengan ketentuan kedalaman surface dari 34, 8
m - 77 m. Casing 20" dipasang pada kedalaman 722 m TVDDF, Casing 13- 3/8"
pada kedalaman 2185m TVDDF dan 9-5/8" dipasang pada kedalaman 3272m
TVVDF, merupakan tahap awal perencanaan.
Tahap post drill drilling casing diukur dari permukaan laut (lepas pantai)
dengan aktual casing 34,8m sampai dasar laut (seabed) 78,6m (actual). Penentuan
pemasangan casing dengan kedalaman aktual pada pengeboran sumur x 715,6m
TVDDF sampai pada kedalaman 3266,8m TVDDF dengan ukuran masing - masing
casing berbeda dari 20" sampai 9-5/8".
kata kunci : Casing, sumur.

PENDAHULUAN
Perencanaan Casing merupakan tahap awal dalam ekplorasi minyak maupun gas ,
baik ekplorasi darat (onshore) maupun eskplorasi lepas pantai (offshore) sangat
penting, untuk menentukan suatu lapangan eksplorasi minyak maupun gas. Untuk
menghindari tekanan balik dari suatu formasi sumur (Blowout) maka diperlukan
perencanaan matang dalam penentuan casing. Pada pemboran lepas pantai di
sumur X lapangan Y terdiri dari beberapa tahapan yang harus dilalui. Beberapa
tahapan tersebut adalah : persiapan di darat, persiapan perakitan di darat dan
persiapan di lepas pantai. Setelah persiapan tersebut telah memenuhui persyaratan
maka selanjutnya pengoperasian pemboran dengan casing dapat dilakukan.
Pada operasi pemboran dengan casing sumur X lapangan Y, lubang
permukaan sampai kedalaman 715,6 m TVDDF, dilakukan pekerjaan pemboran
dengan ukuran Casing pipa berdiameter 20 inch dengan footage berjarak 78,6 m.
Pada pelaksanaan pemboran di sumur ini, lamanya rotating time adalah 19.50 jam,
yang kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan penyemenan casing 13 3/8 inch dan
memasang BOP selama 15.00 jam. Total waktu pemboran yang dibutuhkan pada
operasi pemboran ini adalah sebesar 30.05 jam. Pada pemboran dengan casing
pahat yang digunakan adalah DrillShoe dengan harga sebesar $ 44,7 Million biaya

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 7, No. 1, Januari 2014

peralatan operasi sebesar $ 38 million. Total pelaksanaan pengeboran selama 44


hari dengan biaya operasi pengeboran aktual $ 39 million.
Lamanya waktu pemboran pada metode pemboran konvensional, peralatan
bawah lubang atau BHA harus dicabut kembali ke permukaan dan pipa casing
harus diturunkan sebelum dilakukanya penyemenan. Hal ini menyebabkan adanya
trip time dan RIH time untuk pipa casing. Sedangkan pada metode pemboran
dengan casing, hematnya waktu pemboran dikarenakan tidak diperlukannya
mencabut peralatan BHA dan pekerjaan untuk menurunkan casing seperti pada
metode pemboran konvensional. Pada metode pemboran dengan casing, setelah
pemboran mencapai target kedalaman yang telah ditentukan, pekerjaan
penyemenan dapat langsung dilakukan, sehingga dapat menghemat total waktu
pemboran. Dari hasil perhitungan diatas juga dapat diketahui bahwa nilai cost/foot
pada metode pemboran konvensional lebih besar dari pada cost/foot pada
pemboran dengan casing. Walaupun pada pemboran konvensional harga pahat
lebih kecil dibandingkan harga pahat pada pemboran dengan casing, tetapi
dikarenakan pada pemboran dengan casing tidak ada trip time maka nilai cost/foot
pada metode pemboran dengan casing lebih kecil dari pada cost/foot pada metode
pemboran konvensional. (Gambar 1.)
Tahap Post Drill Drilling (Actual) yang digunakan pada saat pelaksanan
pengeboran dengan mempertimbangkan semua data geologi, dan data -data
koordinat
yang
telah
di
tentukan oleh tim, dianggap
selesai
maka
penetuan
setelah
pengeboran
ditentukan
pengukuran
permukaan laut Sea level
actual 34.8 m sampai dasar
laut (seabed ) 78,6 m pada rig.
(Gambar 2.)

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 7, No. 1, Januari 2014

Gambar .1.
Pre Drill -Drilling (Plan).

Gambar. 2.
Post Drill -Drilling (Actual )

Tabel. 1. Desain Casing.

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 7, No. 1, Januari 2014

Desain casing dari surface permukaan sealevel ukuran size pipa 20 inhi
dengan Grade casin x -56 RL - 45 berat Weigth 133 ppf kedalaman 738 MDDF
Burst 1,19, Collaps 1,35, dan axial 2,97. Penentuan pipe casing ini mengalami tiga
tahap yaitu : tahap surface Intermediate dan tahap produksi.

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 7, No. 1, Januari 2014

BAHAN DAN METODE


Mengatasi adanya Blow out Pressure (BOP) sangat diperlukan dalam operasi
pemboran , sebagai pengaman apabila sewaktu - waktu terjadi kick atau higt
pressure. Apabila terjadi kick atau BOP maka crew dengan cepat menutup blow out
preventer dengan menghidupkan kontrol accumulator yang terletak pada lantai bor.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada perencanaan BOP stack adalah
sebagai berikut :
a. Kekuatan penahan tekanan
b. Pemilihan dan pengaturan komponen
c. Variasi dan penempatan, serta
d. Sistem pembelok.
Prosedur yang lazim digunakan dalam memperkirakan besarnya tekanan yang
terjadi pada pemboran sumur dangkal adalah dengan estimasi tekanan yang mungkin
terjadi dengan berat lumpur yang digunakan serta kedalaman operasi pemboran.
Sedangkan untuk sumur dalam memerlukan perhitungan yang lebih kompleks.
Blow out preventer (BOP) adalah sistem sangat berguna untuk mencegah
terjadinya suatu aliran fluida formasi yang tidak terkendalikan sampai ke
permukaan, yaitu dengan menutup lubang bor ketika terjadi kick. Faktor utama
yang harus diperhatikan adalah tentang keadaan lumpur bor. Lumpur bor harus
terus dikontrol sehingga kita dapat mengetahui kalau terjadi kick. Tanda-tanda
terjadinya kick antara lain lumpur bor memberikan tekanan hidrostatik lebih kecil
dari tekanan formasi, volume lumpur dalam mud pit terlalu besar, dan lain-lain.
Sistem ini terdiri dari dua sub-komponen utama, yaitu BOP stack dan
accumulator serta supporting system. Adapun fungsi dari BOP Stack adalah
menahan tekanan lubang bor bila terjadi kick dan apabila keadaan darurat maka
accumulator akan menutup BOP Stack. Dan untuk menggerakkan accumulator yang
bekerja pada sistem BOP stack, menggunakan "High Pressure Hydraulic" (saluran
hidrolik bertekanan tinggi).
HASIL
Setelah suatu perusahaan pemboran minyak dan gas bumi mencapai kedalaman
tertentu, maka kedalaman sumur tersebut perlu di pasang casing yang kemudian
dilanjutkan dengan proses penyemenan. Casing merupakan suatu pipa baja yang
berfungsi antara lain : mencegah gugurnya diding sumur, menutup zona bertekanan
abnormal, zona lost mud dan sebagainya. Tujuan utama dari perencanaan casing
adalah mendapatkan rangkaian casing yang cukup kuat untuk melindungi sumur
baik selama pemboran maupun produksi dengan biaya yang terjakau. Beberapa
fungsi casing sebagai berikut :
a. Mencegah gugurnya dinding sumur
pada lapisan batuan yang tidak terkonsolidasi dengan baik, maka pada saat
pemboran menembus lapisan tersebut dapat menyebabkan terjadinya
pembesaran pada lubang bor. Pembesaran pada lubang bor ini adalah
akibat runtuhnya dinding sumur, lebih jauh apabila lapisan lunak ini

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 7, No. 1, Januari 2014

berselang - seling dengan lapisan keras maka akan memberikan efek


pembelokan terhadap drill string.
b. Mencegah Terkontaminasinya Air Tanah Oleh Lumpur Pemboran.
Dalam suatu pemboran, untuk mengimbangi tekanan formasi digunakan
lumpur pemboran (Mud drill) yang memiliki densitas tertentu
Tabel 2. Desain formasi atas.

Gambar. 3. Plot tekanan

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 7, No. 1, Januari 2014

Plot tekanan menunjukkan semakin dalam pemboran semakin tinggi dalam suatu formasi.
Formasi Strengh 1094 ppg tekanan yang ada 1307 psi
PEMBAHASAN
Model aplikasi pemboran dengan casing untuk lubang permukaan dilakukan di
lapangan lepas pantai (offshore) yaitu blok A yang dikelola perusahaan Malaysia
Petronas Ltd adalah sumur yang menggunakan pemboran dengan Casing. Kegiatan
pemboran pada sumur-sumur tersebut untuk membuat lubang permukaan dilakukan
pada Formasi tua dengan ketebalan formasi dapat mencapai 1000m dan kedalaman
air laut dari permukaan 78,6 m. Kinerja pemboran yang dianalisa adalah pemilihan
casing dan beban rangkaian casing yang ditanggung selama pemboran dengan
casing berlangsung antara lain yaitu beban collapse, beban burst dan beban
tension. Pemilihan dan perhitungan beban yang ditanggung oleh rangkaian casing
ini dilakukan dengan menggunakan metode grafis.
Metode logging program sumur X lapangan Y perencanaan menggunakan
hole size 8,5 inchi dengan perencanaan kedalaman 3272 m TVDDF sampai 3535m
TVDDF dan perencanaan aktual kedalaman 3266,8m TVDDF sampai 3414m
TVDDF.
Sistem peralatan pemboran lepas pantai pada prinsipnya adalah
merupakan perkembangan dari sistem peralatan pemboran darat, maka metode
operasi lepas pantai membutuhkan teknologi yang baru dan biaya operasi yang
mahal, karena kondisi lingkungan laut berbeda dengan kondisi lingkungan darat.
Peralatan mutlak yang harus ada dalam operasi pemboran lepas pantai
adalah sebuah strutur anjungan (platform) sebagai tempat untuk meletakkan
peralatan pemboran dan produksi. Berbagai macam anjungan telah dibuat, seperti
anjungan permanen (fixed) yang terdiri diatas kaki-kaki beton bertulang. Jenis ini
umumnya digunakan pada laut dangkal dan pada lapangan pengembangan
sehingga dapat sekaligus menjadi anjungan pemboran dan produksi.Berbagai
hambatan alam yang harus diatasi bagi pengoperasian unit lepas pantai. Hambatan
tersebut antara lain : angin, ombak, arus dan badai. Khusus untuk unit terapung
yang amat peka terhadap pengaruh kondisi laut, maka menciptakan peralatan
khusus, yaitu peralatan peredam gerak oscilsi vertikal akibat ombak dan peralatan
pengendalian posisi pada unit terapung. Untuk pengendalian posisi pada unit
terapung dikenal dengan mooring system dan sistem pengendalian posisi dinamik
Sedangkan untuk mengatasi gerak vertikal keatas dan kebawah umumnya
digunakan Drill String Compensator (DSC). Operasi pemboran lepas pantai dimulai
dari pengembangan teknologi pemboran darat dengan menggunakan casing
conduktor yang ditanam atau dibor dan disemen, kemudian meningkat dengan
digunakan mud-line suspention system, dan terus meningkat dengan menggunakan
riser system. Penggunaan BOP konventional terus dimodifikasi agar mampu
beroperasi di bawah air. Kondisi lingkungan laut berpengaruh terhadap pemilihan
jenis platform.

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 7, No. 1, Januari 2014

Gambar 4. RIG plan.

Gambar 5. Kedalaman VS hari

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 7, No. 1, Januari 2014

KESIMPULAN
Metode perencanaan casing dalam suatu operasi pemboran lepas pantai patut
diperhitungkan kedalaman laut, besar ombak, besarnya angin dan iklim. Juga
diperhitungkan jauh tempat pemboran dari pantai dan perkiraan lamanya waktu
pemboran dari mulai membor sampai berakhirnya produksi, karena semua ini
sangat diperlukan untuk menentukan jenis-jenis rig platform yang akan digunakan.
Pada operasi pemboran lepas pantai (offshore) juga diperlukan peralatanperalatan khusus untuk menanggulangi arus laut dan kedalaman laut dan gerakan gerakan dari drillship. Kedalaman pemboran aktual memncapai 3266,8 m
dibandingkan dengan perencanaan awal perkiraan pada kedalaman 3272m .
Sehingga dengan memperhitungan high cost, high teknologi dan high risk sangat
diperhitungkan dari ketiga resiko itu merupakan tanggung jawab perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
Audley Charles Michael Geoffrey,1968.
The Geology of Portugues Timor,
dipublikasi oleh GEOLOGICAL SOSIETY OF LONDON, Burlintong houseLondon -WJ 1968
Barber Peter, Carter Paul, Fraser Tom, Bailli Peter, Myers Keith, Paleozoic and
Mesozoic Petroleum Sistems in the Timor and Arafura seas, Eastern
Indonesia, IPA03-G- 169.
Corbet, WM, Goggin, DJ, Jensen, and Lake, L.W, 1997, Statistics for Petrolium
Engineering and Geocientist, Prentice Hall PTR, Upper Saddle River, New
Jersey.
Gadallah Mamdouh R, 1994, Reservoir seismology ,pennwell books tulsa oklahoma,
Hunt M. John, Petrolium Geochemistry and Geology, Second edition, W.H. Freeman
Harsona, Adi, Mei 1997, Evaluasi formasi dan Aplikasi log, Schlumberger oilfield
Service.
Koesoemandinata, R.P. 1980, Geologi minyak dan Gas Bumi, ITB, Bandung.
Kyramis Nick, Roes Aryawijaya, The implementation and progress of the exploration
regime in the Timor Gap Zona of Cooperation- Area 'A', IPA93-1,0-004.
Sam Broggs ,Jr. Petrology of Sedimentary Rocks, Second Edition, Canbridge, New
York,
Melbourne,Madrid,Cape
Town,
Singapura,Sao
Paulo,Delhi,Dubai,Tokyo 2009.
R.A. Nelson BP amoco Houston, TX, Geolic Analisis Of Naturally Fractured
Resevoirs, Second Edition, Gulf Proffessional Publishing.
Young. LF, Schmedje. T.M, Muir. W.F, 1995 The Elang Oil Discovery Bridges The
Gap In The Eastern Timor Sea (Timor Gap Zone Of Cooperation), IPA951.1-021.