Anda di halaman 1dari 10

REFERAT

PERBANDINGAN TRAMADOL DAN KETOROLAC SEBAGAI


ANALGESIA POST OPERASI

Pembimbing:
dr. Dudik Haryadi, Sp. An

Disusun oleh :
Pretty Noviannisa
Aldera Asa Dinantara

G4A015025
G4A015026

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN
PURWOKERTO
2015
LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT

PERBANDINGAN TRAMADOL DAN KETOROLAC SEBAGAI


ANALGESIA POST OPERASI

Disusun oleh:
Pretty Noviannisa
Aldera Asa Dinantara

G4A015025
G4A015026

Disusun untuk memenuhi syarat mengikuti kepaniteraan Klinik di bagian SMF Lab
Anestesi dan Reanimasi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Disetujui dan disahkan,


Pada tanggal, September 2015

Pembimbing,

dr. Dudik Haryadi, Sp. An


I.

PENDAHULUAN

Dalam ilmu anestesi dikenal istilah Trias Anestesi yang merujuk pada
konsep anestesi yang terdiri atas tiga komponen yaitu narkosis (hilang kesadaran),
relaksasi (hilang respon motorik), dan analgesia (hilang respon sensorik nyeri)

(Harley dan Hore, 2012). Dari ketiga aspek tersebut, analgesia memegang peranan
penting karena dalam setiap pembedahan pasti memerlukan upaya penghilangan
nyeri. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menghambat atau mengubah aliran
rangsang nyeri dengan cara fisik, psikologik, fisiologik, ataupun obat-obatan
(Sjamsuhidajat, 2010).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah
pengalaman perasaan emosional yang tidak menyenangkan akibat terjadinya
kerusakan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya
kerusakan jaringan tubuh (IASP, 2012). Sinyal listrik yang menghantarkan impuls
nyeri berasal dari saraf perifer, dimana tempat kerusakan jaringan melepas
berbagai substansi kimia yang merangsang ujung saraf dan efeknya diperkuat oleh
prostaglandin. Impuls ini kemudian dihantarkan menuju reseptor nyeri di sistem
saraf pusat sampai di korteks frontalis tempat impuls ditafsirkan sebagai nyeri.
Setelah operasi, sensasi nyeri dianggap sebagai bentuk nyeri akut akibat trauma
pembedahan, yang ditandai dengan kerusakan insisi pada kulit atau mukosa,
reaksi inflamasi dan inisiasi dari saraf aferen (Chaturvedi dan Chaturvedi, 2007).
Nyeri pasca operasi saat ini diobati dengan dua kelas obat, yaitu pertama,
Non-Steroid Anti-Inflamasi Drug (NSAID) yang bekerja melalui sintesis
prostaglandin untuk mencapai efek analgesik dan efek anti inflamasi, akan tetapi
memiliki efek terhadap pencernaan yang buruk, toleransi ginjal dan risiko
gangguan koagulasi. Kedua, narkotik analgesik, yang bekerja langsung pada
sistem saraf pusat reseptor opiat, namun dapat menyebabkan ketergantungan obat,
depresi pernafasan, konstipasi, mual, muntah dan sedasi (Colleti et al., 1998).
Penggunaan obat yang tepat untuk mengatasi nyeri pada pasien, dari
tingkat sedang hingga berat berdampak pada perkembangan penggunaan tramadol
yang bekerja melalui mekanisme komplementer dan interaksi sinergis antara

penghambatan reuptake saraf monoamine dan afinitas lemah pada reseptor opiat.
Pada

manusia,

tramadol

menyebabkan

depresi

pernafasan

dan

efek

gastrointestinal yang minimal, serta memiliki potensi ketergantungan obat yang


minimal. Ketorolac merupakan kelompok obat pyrrolo-pirol dari Non-Steroid
Anti-Inflamasi Drug (NSAID) yang memiliki efek analgesik, antiinflamasi dan
antipiretik. Mekanisme kerja ketorolac adalah menghambat enzim siklooksigenasi
yang memetabolisme asam arakidonat sebagai perantara endoperoxide dan
prostaglandin dalam menimbulkan rasa sakit (Shankariah et al., 2012). Melihat
pentingnya pencegahan rasa nyeri pasca operasi, pada referat ini akan dibahas
mengenai karakteristik tramadol dan ketorolac serta perbandingan kedua obat
tersebut sebagai obat analgesia pasca operasi.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. NYERI
Nyeri dapat digambarkan sebagai suatu pengalaman sensorik maupun
emosional yang tidak menyenangkan dan bersifat subjektif. Sensasi nyeri
ditimbulkan oleh suatu cedera atau rangsangan yang cukup kuat untuk
berpotensi mencederai (berbahaya). Secara neurofisiologis, terdapat empat
proses antara stimulus cedera jaringan dan pengalaman subjektif, yaitu:
tranduksi, transmisi, modulasi, dan persepsi (Hartwig dan Wilson, 2012).
Nyeri yang ditimbulkan kapasitas jaringan bergantung pada keberadaan
nosiseptor yang merupakan saraf aferen primer dalam menerima dan
menyalurkan rangsangan nyeri. Ujung-ujung saraf bebas nosiseptor antara
lain terletak pada jaringan subkutis, otot rangka, dan sendi, sedangkan
reseptor nyeri viscera terdapat pada permukaan peritoneum, membran pleura,
duramater, dan dinding pembuluh darah. Serat aferen primer A-delta dan serat
aferen primer C diklasifikasikan sebagai nosiseptor karena berespon secara
maksimal hanya apabila lapangan resiptif keduanya mendapat nyeri yang
mengganggu (Hartwig dan Wilson, 2012).
Aktivasi ujung saraf bebas nosiseptor dimodulasi oleh substansi kimia
(Gambar 1) yang dihasilkan saat terjadi kerusakan sel, hal ini mengakibatkan
terjadi depolarisasi nosiseptor dan memicu stimulus nyeri (tranduksi).
Selanjutnya impuls nyeri akan disalurkan masuk ke medula spinalis di akar
saraf dorsal.

Gambar 1. Pelepasan zat kimia oleh sel yang rusak yang


menstimulasi mosiseptor (Patel, 2010).
Jalur nyeri di sistem saraf pusat terbagi menjadi jalur asenden dan jalur
desenden (Gambar 2). Jalur asenden yaitu impuls nyeri melewati kornu
dorsalis (posterior) medulla spinalis pada bagian substansia gelatinosa yang
berperan dalam transmisi ataupun modulasi nyeri. Impuls dari kornu dorsalis
dikirim ke neuron-neuron yang menyalurkan informasi ke sisi berlawanan
medula spinalisdi komissura anterior dan kemudian menyatu di traktus
spinothalamikus anterolateralis , yang naik ke thalamus. Terdapat dua jalur
spinotalamikus

yang

menyalurkan

impuls

ke

otak,

yaitu

traktus

paleospinotalamikus (jalur nosiseptor tipe C) dan traktus neospinotalamikus


pada jalur nosiseptor A- (Patel, 2010).

Gambar 2. Jalur nyeri asenden dan desenden (Patel, 2010).


Jalur desenden serat eferen berjalan dari korteks serebrum ke bawah
medula spinalis dapat menghambat atau memodifikasi rangsangan nyeri yang
datang. Adapun jalur penting dalam sistem modulasi nyeri yang mencakup
tiga komponen yaitu bagian pertama adalah substansia grisea periakuaduktus
(PAG) dan substansia grisea periventrikel (PVG) mesenfalon serta pons
bagian atas yang mengelilingi aquaduktus silvii. Bagian kedua yaitu nucleus
rafe magnus (NRM) yang terletak di pons bagian bawah dan medula bagian

atas dan retikularis paragigantoselularis (PGL) di medula lateralis. Tahap


terakhir yaitu persepsi nyeri yang merupakan pengalaman subjektif (Patel,
2010).
B. TRAMADOL
1. Pengenalan
Tramadol, sebagai analgesik sintetik merupakan campuran dari
dua enantiomer aktif, yang masing-masing secara independen bekerja
sebagai antinosiseptif. Tramadol tidak mempengaruhi prostaglandin
sehingga tidak memiliki efek antipiretik atau antiinflmasi. Tidak seperti
opioid lainnya, tramadol tidak menyebabkan ketergantungan fisik atau
kecanduan psikologis. Tramadol baru-baru ini telah terbukti memiliki
tindakan anestesi lokal pada saraf perifer (Altunkaya et al., 2004).
Tramadol termasuk dalam 4-phenylpiperidine sintesis analog kodein dan
morfin (Shankariah et al., 2012).

Gambar 1. Struktur Kimia Tramadol (Shankariah et al., 2012)


2. Farmakokinetik
Tramadol akan diserap hampir 100% dan memiliki
biovailabilitas sebesar 70% setelah pemberian tramadol dengan dosis
tunggal (Altunkaya et al., 2004). (Metabolisme). Tramadol diekskresikan
melalui ginjal (sekitar 90%) dan sebagian lainnya diekskresikan melalui
feses. Penelitian lain pada sembilan pasien kolesistektomi, hanya 1%
kandungan tramadol yang dieliminasi melalui ekskresi vesica biliaris
(Grond dan Armin, 2004).
3. Mekanisme Kerja
4. Kontraindikasi

5. Efek Samping
6. Interaksi Obat
7. Rekomendasi Dosis
C. KETOROLAC
1. Pengenalan
Ketorolac merupakan obat antiinflamasi non steroid turunan asam
pirolizin kerboksilat. Ketorolac sebagai pereda nyeri dengan efek depresi
respirasi, mual, muntah yang rendah dibanding dengan analgetik opioid
(Coloma M., et al). ketorolac memiliki efek analgesik yang digunakan
dalam berbagai situasi yang melibatkan nyeri pascaoperasi ringan dan
sedang. Pemberian parenteral lebih sering pada pemberian ketorolac,
tetapi juga tersedia dalam bentuk oral (Payan dan Katzung, 2007).
2. Farmakokinetik
3. Mekanisme Kerja
4. Kontraindikasi
5. Efek Samping
6. Interaksi Obat
7. Rekomendasi Dosis
D. PERBANDINGAN TRAMADOL DAN KETOROLAC SEBAGAI
ANALGESIA POST OPERASI

III.

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
Harley I, Hore P. Anasthesia : an introduction. 5th ed. IP Communications; 2012

Sjamsuhidajat, de Jong. Buku ajar ilmu bedah. Edisi ke-3. Jakarta: EGC; 2010

International Association for the Study of Pain. IASP Taxonomy. 2012 May 22
[cited 2014 Oct 11]. Available from: http://www.iasp-pain.org/Taxonomy?
navItemNumber=576

Chaturvedi S, Chaturvedi A (2007) Postoperative pain and its


management. Indian J Crit Care Med 11(4):204211

Colletti V, Carner M, Vincenzi A, Dallari S, Mira E, Benazzo M,


Cosentino G, Bellussi L, Passali D (1998) Intramuscular tramadol
versus ketorolac in the treatment of pain following nasal surgery:
a controlled multicenter trial. Curr Ther Res 59(9):608618

Altunkaya H, Ozer Y, Kargi E, Ozkocak I, Hosnuter M, Demirel


CB, Babuccu O (2004) The postoperative analgesic effect of
tramadol when used as subcutaneous local anesthetic. Anesth
Analg 99:14611464