Anda di halaman 1dari 16

UNDANG UNDANG NO.

32 TAHUN 2009 TENTANG


PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN
HIDUP
PENGERTIAN LINGKUNGAN HIDUP
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,
keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteran
manusia serta makhluk hidup lainnya. Sedangkan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup didefinisikan sebagai upaya sistematis dan terpadu yang
dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan,
pemanfatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum.
PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP
Dalam Undang-undang nomor 32 tahun 2009 dalam pasal 13 tercantum
bahwa pengedalian pencemaran dan / atau kerusakan lingkungan hidup
dilaksanakan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pengedalian
pecemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup ini terdiri dari 3 hal yaitu :
pencegahan, penanggulangan dan pemulihan lingkungan hidup dengan
menerapkan berbagai instrument-instrument yaitu : Kajian lingkungan hidup
straegis (KLHS); Tata ruang; Baku mutu lingkungan hidup; Kriteria baku mutu
kerusakan lingkungan hidup; Amdal; UKL-UPL; perizinan; instrument ekonomi
lingkungan hidup; peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup;
anggaran berbasis lingkungan hidup; Analisis resiko lingkungan hidup; audit
lingkungan hidup, dan instrument lain sesuai dengan kebutuhan dan /atau
perkembangan ilmu pengetahuan.
Mengenai dari hal hal tersebut, maka sekarang akan membahas pasal per
pasal tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup berdasarkan dari
Undang undang No. 32 Tahun 2009 yang diawali dari Pasal 14 sampai dengan
Pasal 43.
PASAL 14 Bagian Kedua Undang Undang No. 32 Tahun 2009 yang berbunyi :
Instrumen pencegahan pencemaran dan / atau kerusakan lingkungan hidup terdiri
atas :
a.
b.
c.
d.

KLHS
Tata ruang
Baku mutu lingkungan hidup
Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup

e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

AMDAL
UKL, UPL
Perizinan
Instrumen ekonomi lingkungan hidup
Peraturan perundang undangan berbasis lingkungan hidup
Anggaran berbasis lingkungan hidup
Analisis risiko lingkungan hidup
Audit lingkungan hidup, dan
Instrument lain sesuai dengan kebutuhan dan / atau perkembangan ilmu
pengetahuan.

Dari Pasal 14 tersebut, bisa kita simpulkan bahwa pasal tersebut merupakan
kajian yang paling umum dari semua bagian instrument instrument yang telah
disebutkan di atas, tugas sekarang adalah mengomentari setiap bagian dari
instrument instrument tersebut mulai dari KLHS sampai dengan Instrumen
Ekonomi Lingkungan Hidup (dari Pasal 14 sampai dengan Pasal 43 UU No.32
Tahun 2009)
A. KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis)
UU Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup Pasal 14 menyatakan bahwa instrumen pencegahan
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup salah satunya adalah dengan
melakukan kajian lingkungan hidup strategis (KLHS). Kajian ini wajib disusun
oleh pemerintah dan pemerintah daerah untuk memastikan bahwa prinsip
pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam
pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program
(KRP).
Dalam KLHS (kajian Lingkungan Hidup Strategis) terdapat di dalam Pasal 15,
16, 17, dan 18 UU No.32 Tahun 2009 dalam pembahasannya adalah Pemerintah
dan pemerintah daerah wajib membuat KLHS untuk memastikan bahwa prinsip
pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam
pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program dalam
penyusunan dalam ;
a) Rencana tata ruang, rencana pembangunan jangka panjang, dan rencana
pembangunan jangka menengah, baik dalam untuk tingkat nasional,
provinsi, maupun kabupaten / kota.
b) Kebijakan rencana dan / atau program yang berpotensi menimbulkan
dampak risiko lingkungan hidup/
c) Menurut saya KLHS ini perlu dilaksanakan secara mekanisme seperti :
a.
Pengkajian pengaruh kebijakan, rencana dan / atau program
terhadap kondisi lingkungan hidup di suatu wilayah

b.
c.

Dengan cara perumusan aslternatif penyempurnaan kebijakan,


rencana, dan program
Rekomendasi perbaikan untuk pengambilan keputusan
kebijakan, rencana, dan program yang mengintegrasikan prinsip
pembangunan yang berkelanjutan

Saya ingin berkomentar tentang pasal pasal mengenai KLHS ini mengapa
diadakan karena KLHS ini bisa :

Mengurangi kemungkinan kekeliruan dalam membuat prakiraan/prediksi


pada awal proses perencanaan kebijakan, rencana, dan/atau program
pembangunan
Dampak negatif lingkungan di tingkat proyek pembangunan semakin
efektif diatasi atau dicegah karena pertimbangan lingkungan telah dikaji
sejak tahap formulasi kebijakan, rencana, atau program pembangunan

Dalam penjelasan tersebut KLHS memiliki sejumlah manfaat antara lain :


1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.

Merupakan instrumen proaktif dan sarana pendukung pengambilan


keputusan,
Mengidentifikasi dan mempertimbangkan peluang-peluang baru melalui
pengkajian sistematis dan cermat atas opsi pembangunan yang tersedia,
Mempertimbangkan aspek lingkungan hidup secara lebih sistematis pada
jenjang pengambilan keputusan yang lebih tinggi,
Mencegah kesalahan investasi dengan berkat teridentifikasinya peluang
pembangunan yang tidak berkelanjutan sejak dini
Tata pengaturan (governance) yang lebih baik berkat keterlibatan para
pihak (stakeholders) dalam proses pengambilan keputusan melalui proses
konsultasi dan partisipasi
Melindungi asset-asset sumberdaya alam dan lingkungan hidup guna
menjamin berlangsungnya pembangunan berkelanjutan,
Memfasilitasi kerjasama lintas batas untuk mencegah konflik, berbagi
pemanfaatan sumberdaya alam, dan menangani masalah kumulatif
dampak lingkungan.

B. TATA RUANG
Tata ruang atau dalam bahasa Inggrisnya Land use adalah wujud struktur
ruang dan pola ruang disusun secara nasional, regional dan lokal. Secara nasional
disebut Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, yang dijabarkan ke dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, dan Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) tersebut perlu dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
(RTRWK).

Ruang didefinisikan sebagai wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut,
dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara
kelangsungan hidupnya. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
[3]
Tata Ruang terdapat di dalam Pasal 19 ayat (1) dan (2) Undang undang
No. 32 Tahun 2004 yang berisi :
1.

2.

Untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup dan keselamatan


masyarakat, setiap perencanaan tata ruang wilayah wajib didasarkan
pada KLHS
Perencanaan tata ruang wilayah sebagaimana dimaksud di dalam ayat
(1) ditetapkan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tamping
lingkungan hidup.

Dalam Pasal tersebut, berdasarkan komentar saya kalau itu merupakan


suatu tujuan dalam lingkungan hidup yang sudah disebut diatas.
C. BAKU MUTU LINGKUNGAN HIDUP
Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk
hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur
pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu
sebagai unsur lingkungan hidup.
Baku mutu lingkungan hidup ini terdapat didalam Pasal 20 ayat (1), (2),
(3), (4), dan (5) Undang undang No. 32 Tahun 2009. Dalam Baku mutu bisa
menentukan berupa penentuan terjadinya pencemaran lingkungan hidup yang bisa
diukur melalui baku mutu lingkungan hidup. (Pasal 20 ayat (1) ). Baku mutu
lingkungan hidup ini terdiri dari beberapa macam yang meliputi :
a.

Baku mutu air

b.

Baku mutu air limbah

c.

Baku mutu air laut

d.

Baku mutu udara ambient

e.

Baku mutu emisi

f.

Baku mutu gangguan

g.

Baku mutu lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Komentar saya mengenai pencemaran yang terjadi dimana mana, sering


sekali pencemaran tersebut bisa menimbulkan kerusakan lingkungan, akan tetapi
di dalam Pasal 20 ayat (3) dijelaskan bahwa setiap orang diperbolehkan untuk
membuang limbah ke dalam media lingkungan hidup, tetapi ada syarat syarat
yang harus dilakukan seperti :
a.

Memenuhi baku mutu lingkungan hidup

b. Mendapat izin dari menteri, gubernur, atau bupati / walikota sesuai dengan
kewenangannya.
D. KRITERIA BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP
Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan
sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang oleh
lingkungan hidup untuk dapat tetap melestarikan fungsinya. Kriteria ini terdapat
didalam Pasal 21 ayat (1), (2), (3), (4), dan (5) Undang undang No. 32 Tahun
2009. Perlunya penetapan peraturan pemerintah tentang kriteria baku kerusakan
ekosistem dan kriteria baku akibat perubahan iklim dan bagaimana perubahan
iklim yang umum terjadi di Indonesia mengakibatkan banjir, kekeringan, tanah
longsor dan kebakaran hutan. Peristiwa iklim yang ekstrim ini dapat
meningkatkan wabah hama dan penyakit tanaman serta vektor penyakit manusia.
Hal ini berdampak pada lingkungan serta kehidupan sosial dan ekonomi
masyarakat.
Kriteria baku kerusakan akibat perubahan iklim didasarkan pada parameter
antara lain yang disebabkan oleh :
a.

Kenaikan temperature

b.

Kenaikan muka air laut

c.

Badai, dan

d.

Kekeringan

Kejadian iklim ekstrim di Indonesia terutama kekeringan karena


penurunan yang signifikan dalam curah hujan dipengaruhi oleh ENSO (El Nino
Southern Oscillation). Penurunan signifikan curah hujan memiliki dampak
signifikan pada penyimpanan air di reservoir, banyak dari penampungan air
berfungsi sebagai penyimpanan air untuk pembangkit listrik, irigasi, dan
penyediaan air minum. kekurangan air akan berdampak signifikan pada produksi
tanaman pangan. Data dampak historis ENSO terhadap produksi padi nasional
menunjukkan bahwa sistem produksi beras nasional rentan terhadap kejadian
iklim yang ekstrim.

Kriteria baku kerusakan akibat perubahan iklim belum menyinggung


sektor kelautan yang notabene merupakan 2/3 wilayah Indonesia dan struktur
udara (atmosfer) yang juga merupakan faktor penting dalam sistem iklim. Belum
ada parameter detail dan indikator kuantitatif kerusakan lingkungan untuk
mempermudah teknis pelaksanaan program penanggulangan dampak yang terjadi.
Upaya pengendalian dampak perubahan iklim dapat dibuktikan dengan adanya
begitu banyak kebijakan akademis dan politik yang dirumuskan.
Dengan banyaknya perumusan kajian akademis dan politik ini diharapkan
tindak lanjut dan penerapannya lebih komprehensif dan dapat
dipertanggungjawabkan.
E. AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
Definisi Amdal dan UKL-UPL dalam Ketentuan
2009 adalah sebagai berikut :

Umum UU

No

32 Tahun

" Analisis mengenai dampak lingkungan hidup, yang selanjutnya


disebut Amdal, adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau
kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan."
"Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup,
yang selanjutnya disebutUKL-UPL, adalah pengelolaan dan pemantauan
terhadap usaha dan/atau kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan."
Siapa yang wajib memiliki Amdal ?
Setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan
hidup wajib memiliki amdal." [pasal 22 (ayat 1)]
Siapa yang wajib memiliki UKL-UPL?
Setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria wajib amdal
wajib memiliki UKL- UPL. [pasal 34 ayat (1)]
Bagaimana dengan Usaha/Kegiatan yang tidak wajib Amdal dan UKL-UPL?
Usaha dan/atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi UKL-UPL, wajib membuat
surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
( SPPL), kecuali kegiatan usaha mikro dan kecil. [pasal 35]
Peraturan yang mengatur tentang Amdal dan UKL-UPL ?

AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha
dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
AMDAL terdapat didalam Pasal 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, dan 33
Undang undang No. 32 Tahun 2009. Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk
menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan dapat berjalan secara
berkesinambungan tanpa merusak lingkungan hidup. Dengan melalui studi
AMDAL diharapkan usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat memanfaatkan
dan mengelola sumber daya alam secara efisien, meminimumkan dampak negatif
dan memaksimalkan dampak positip terhadap lingkungan hidup.
Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dimaksudkan
untuk menghindari, meminimalkan, memitigasi, dan/atau mengompensasikan
dampak suatu usaha dan/atau kegiatan.
Komentar : Hal-hal penting baru yang terkait dengan AMDAL yang termuat
dalam UU No. 32 Tahun 2009, antara lain:
a. AMDAL dan UKL/UPL merupakan salah satu instrumen pencegahan
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;
b. Penyusun dokumen AMDAL wajib memiliki sertifikat kompetensi
penyusun dokumen AMDAL;
c. Komisi penilai AMDAL Pusat, Propinsi, maupun kab/kota wajib memiliki
lisensi AMDAL;
d. Amdal dan UKL/UPL merupakan persyaratan untuk penerbitan izin
lingkungan;
e. Izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri, gubernur, bupati/walikota sesuai
kewenangannya.
Selain ke - 5 hal tersebut di atas, ada pengaturan yang tegas yang diamanatkan
dalam UU No. 32 Tahun 2009, yaitu dikenakannya sanksi pidana dan perdata
terkait pelanggaran bidang AMDAL. Pasal-pasal yang mengatur tentang sanksisanksi tersebut, yaitu:
a. Sanksi terhadap orang yang melakukan usaha/kegiatan tanpa memiliki
izin lingkungan;
b. Sanksi terhadap orang yang menyusun dokumen AMDAL tanpa memiliki
sertifikat kompetensi;
c. Sanksi terhadap pejabat yang memberikan izin lingkungan yang tanpa
dilengkapi dengan dokumen AMDAl atau UKL-UPL.
F. UKL dan UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan
Lingkungan)

Upaya Pengelolaan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL)


adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup oleh penanggung jawab usaha dan/kegiatan. UKL dan UPL terdapat
didalam Pasal 34 dan 35 Undang undang No. 32 Tahun 2009 yang berbunyi :
Pasal 34
1.

2.

Setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria wajib
amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) wajib memiliki
UKL- UPL.
Gubernur atau bupati/walikota menetapkan jenis usaha dan/atau kegiatan
yang wajib dilengkapi dengan UKL-UPL.

Pasal 35
1.

2.

3.

Usaha dan/atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi UKL-UPL


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) wajib membuat surat
pernyataan kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
Penetapan jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada
ayat(1) dilakukan berdasarkan kriteria:
tidak termasuk dalam kategori berdampak penting sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23 ayat(1); dan
kegiatan usaha mikro dan kecil.
Ketentuan lebih lanjut mengenai UKL-UPL dan surat pernyataan
kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup diatur
dengan peraturan Menteri.

Komentar : Upaya upaya tersebut bisa membawa dampak yang bermanfaat demi
kelangsungan lingkungan hidup.
G. PERIZINAN
Perizinan lingkungan adalah sarana yuridis administrasi untuk mencegah
dan menanggulangi (pengendalian) pencemaran lingkungan. Jenis dan prosedur
perizinan lingkungan masih beraneka ragam, rumit dan sukar ditelusuri, sehingga
menjadi hambatan bagi kegiatan dunia industri. Izin sebagai sarana hukum
merupakan suatu persetujuan dari penguasa berdasarkan peraturan perundangundangan. Pemegang ijin dilarang melakukan tindakan menyimpanng dari
ketentuan-ketentuan tersebut dan juga sebagai instrument yang paling penting.
Dengan memberi izin, penguasa memperkenankan pemohon melakukan
tindakan-tindakan spesifik yang sebenarnya dilarang. Dengan kata lain izin adalah
suatu perkenaan dari suatu larangan.

Melalui perizinan, seorang warga negara diberikan suatu perkenaan untuk


melakukan sesuatu aktivitas yang semestinya dilarang. Ini berarti, yang esensial
dari perijinan adalah larangan suatu tindakan, kecuali diperkenakan dengan izin.
Dengan demikian, ketentuan-ketentuan perizinan mutlak dicantumkan keluasan
perkenaan yang dapat diteliti batas-batasnya bagi setiap kegiatan.
Mengenai Perizinian, ada didalam Pasal 36, 37, 38, 39, 40, dan 41 Undang
Undang No. 32 Tahun 2009
Pasal 36
1.
2.

3.

4.

Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki amdal atau UKLUPL wajib memiliki izin lingkungan.
Izin lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan
berdasarkan keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 31 atau rekomendasi UKL-UPL.
Izin lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
mencantumkan persyaratan yang dimuat dalam keputusan kelayakan
lingkungan hidup atau rekomendasi UKL-UPL.
Izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/wali
kota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 37
1.

2.

Menteri, gubernur, atau bupati/wali kota sesuai dengan kewenangannya


wajib menolak permohonan izin lingkungan apabila permohonan izin
tidak dilengkapi dengan amdal atau UKL-UPL.
Izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (4) dapat
dibatalkan apabila:
persyaratan yang diajukan dalam permohonan izin mengandung
cacat hukum, keliruan, penyalah gunaan, serta ketidak benaran
dan / atau pemalsuan data, dokumen, dan informasi
penerbitannya tanpa memenuhi syarat sebagaimana tercantum
dalam keputusan komisi tentang kelayakan lingkungan hidup atau
rekomendasi UKL-UPL;atau
kewajiban yang ditetapkan dalam dokumen amdal atau UKL-UPL
tidak dilaksanakan oleh penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan.

Pasal 38
Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat(2), izin lingkungan
dapat dibatalkan melalui keputusan pengadilan tata usaha negara.
Pasal 39

1. Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya


wajib mengumumkan setiap permohonan dan keputusan izin lingkungan.
2. Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara
yang mudah diketahui oleh masyarakat.
Pasal 40
1. Izin lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin usaha
dan/atau kegiatan.
2. Dalam hal izin lingkungan dicabut, izin usaha dan/atau kegiatan
dibatalkan.
3. Dalam hal usaha dan/atau kegiatan mengalami perubahan, penanggung
jawab usaha dan / atau kegiatan wajib memperbarui izin lingkungan.
Pasal 41
Ketentuan lebih lanjut mengenai izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
36 sampai dengan Pasal 40 diatur dalam Peraturan Pemerintah.
H. INSTRUMEN EKONOMI LINGKUNGAN HIDUP
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup baru saja disahkan. Banyak hal yang diatur dalam
Undang-Undang yang baru ini, salah satu diantaranya adalah tentang instrumen
ekonomi dalam pengelolaan Lingkungan Hidup. Subyek ini merupakan sesuatu
yang baru, pada undang-undang Lingkungan Hidup yang lama subyek ini belum
diatur.
Selama ini subyek instrumen ekonomi hampir belum pernah di tangani.
Jadi hampir belum banyak orang yang mengerti apa lingkup instrumen ekonomi
dalam pengelolaan hidup. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 di
dalam Pasal 42 dan 43, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,
instrumen ekonomi terdiri dari:
Pasal 42 ayat (2) huruf a : Instrumen perencanaan pembangunan dan kegiatan
ekonomi meliputi:

Neraca sumber daya alam dan lingkungan hidup;


Penyusunan produk domestik bruto dan produk domestik regional bruto
yang mencakup penyusutan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan
hidup;
Mekanisme kompensasi/imbal jasa lingkungan hidup antar daerah;
Internalisasi biaya lingkungan hidup. (Pasal 43)
Pasal 42 ayat (2) huruf b : Instrumen pendanaan lingkungan hidup
meliputi:

Dana jaminan pemulihan lingkungan hidup;


Dana penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan dan pemulihan
lingkungan hidup;
Dana amanah/bantuan untuk konservasi. (Pasal 43)
Pasal 42 ayat (2) huruf c : Insentif dan/atau disinsentif lingkungan hidup
antara lain diterapkan dalam bentuk:
Pengadaan barang dan jasa yang ramah lingkungan hidup;
Penerapan pajak, retribusi, dan subsidi lingkungan hidup;
Pengembangan sistem lembaga keuangan dan pasar modal yang ramah
lingkungan hidup;
Pengembangan sistem perdagangan izin pembuangan limbah dan/atau
emisi;
Pengembangan sistem pembayaran jasa lingkungan hidup;
Pengembangan asuransi lingkungan hidup;
Pengembangan sistem label ramah lingkungan hidup;

Sistem penghargaan kinerja di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan


hidup. (Pasal 43)
Substansi Undang-Undang ini masih sangat umum. Karena itu Undangundang mengamanatkan pengaturan lebih lanjut dalam bentuk Peraturan
Pemerintah.
Substansi instrumen ekonomi ini, memuat beberapa terobosan baru dalam
upaya pengendalian lingkungan hidup. Masalahnya adalah seberapa jauh substansi
ini dapat dilakukan secara operasional. Ambillah contoh substansi instrumen
pendanaan lingkungan. Point ini membuka kemungkinan sumber-sumber
pendanaan bagi pengelolaan dan perlindungan lingkungan. ada kewajiban dari
berbagai pihak untuk menyediakan dana bagi pengelolaan lingkungan yang lebih
baik.
Komentar : Instrumen ekonomi adalah amanat undang-undang, karena itu
tidak ada alasan untuk tidak melaksanakannya. Setiap orang adalah subyek dari
undang-undang ini, karena itu adalah kewajiban semua orang untuk
melaksanakannya. Substansi instrumen ekonomi, sekaligus merupakan peluang
bagi usaha. Dengan undang-undang itu, akan dikembangkan usaha-usaha untuk
memfasilitasi pelaksanaan instrumen ekonomi. Peluang usaha ini tentu akan
membutuhkan tenaga kerja yang cukup baik untuk pelaksanaannya.
Kesimpulan : Pasal 14 Undang undang No. 32 Tahun 2009 merupakan
kajian kajian dalam pembagian instrument tentang lingkungan hidup secara
umumnya.

PP No. 27 tahun 2012


Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan (PP
No. 27 Tahun 2012) adalah Peraturan Pemerintah yang menggantikan PP No. 27
Tahun 1999 tentang Amdal. Peraturan ini adalah peraturan turunan dari UU
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Peraturan ini mengatur tentang Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan
Dalam PP Nomor 27 tahun 2012 mengatur hubungan (interface) antara
izin lingkungan dengan proses pengawasan dan penegakan hukum. Pasal 71
dalam PP 27 Tahun 2012 memberikan ruang yang jelas mengenai pengenaan
sanksi atas pemegang izin lingkungan yang melanggar kewajibannya sebagaimana
yang diatur dalam Pasal 53. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa sasaran dari
terbitnya PP 27 Tahun 2012 ini adalah terlindungi dan terkelolanya lingkungan
hidup sedangkan sasaran mikro dari terbitnya peraturan ini adalah memberi dasar
hukum yang jelas atas penerapan instrument izin lingkungan dan memberikan
beberapa perbaikan atas penerapan instrument amdal dan UKL-UPL (kajian
lingkungan hidup) di Indonesia.
Kewajiban pemegang izin lingkungan juga adalah mentaati persyaratan
dan kewajiban yang akan tercantum dalam izin perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup (Izin PPLH). Izin PPLH diterbitkan pada tahap operasional
sedangkan Izin Lingkungan adalah pada tahap perencanaan. IZIN PPLH antara
lain adalah: izin pembuangan limbah cair, izin pemanfaatan air limbah untuk
aplikasi ke tanah, izin dalam pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun
(limbah B3) dan izin pembuangan air limbah ke laut (Penjelasan Pasal 48 ayat (2)
PP 27/2012).
PP 27/2012 merupakan pengganti PP 27 Tahun 1999 Tentang Amdal
dengan penambahan berbagai pengaturan dan ketentuan perihal izin lingkungan.
Ada dua prinsip dalam upaya penyusunan PP Izin Lingkungan ini, yaitu lebih
sederhana yang tidak menciptakan proses birokrasi baru dan implementatif.
Balthasar Kambuaya menambahkan, PP 27/2012 ini juga mengamanatkan proses
penilaian amdal yang lebih cepat, yaitu 125 hari dari 180 hari. Dengan begitu akan
terjadi efisiensi sumber daya, baik waktu, biaya dan tenaga, yang tentunya tanpa
mengurangi kualitasnya. Langkah maju ini adalah pengaturan bahwa total jangka
waktu penilaian amdal sejak diterimanya dokumen amdal dalam status telah

lengkap secara administrasi adalah sekitar 125 hari kerja, tidak termasuk lama
waktu perbaikan dokumen. Jangka waktu 125 hari kerja tersebut adalah langkah
maju karena di PP 27 Tahun 1999, total jangka waktu penilaian amdal adalah
sekitar 180 hari kerja.
Salah satu hal yang juga penting dalam PP ini adalah semakin besarnya
ruang bagi keterlibatan masyarakat khususnya masyarakat terkena dampak dalam
hal penentuan keputusan mengenai layak tidaknya rencana usaha dan/atau
kegiatan tersebut. Permohonan izin lingkungan dan penerbitan izin lingkungan
harus diumumkan 3 kali dalam tahap perencanaan (sebelumnya dalam PP
27/1999hanya mewajibkan satu kali pengumuman saja yaitu pada tahap sebelum
menyusun kerangka acuan (KA) Amdal). Dengan begitu, masyarakat akan mampu
berpartisipasi aktif dan memberikan saran atas setiap rencana usaha dan/atau
kegiatan di daerahnya.
Hal positif lainnya dalam PP 27 Tahun 2012 ini adalah dengan
diberikannya pengaturan yang tegas, bahwa PNS di instansi lingkungan hidup,
dilarang menyusun amdal maupun UKL-UPL. Ketentuan ini dirancang sebagai
upaya untuk menjaga akuntabilitas amdal maupun UKL-UPL sebagai kajian
ilmiah yang harus bersih dari segala bentuk intervensi kepentingan kelompok atau
golongan.
Pada akhir pernyataannya, Menteri Negara Lingkungan Hidup
mengatakan,PP ini akan mengubah secara dramatis tatanan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup. Akan terjadi perubahan mindset dari seluruh
pemangku kepentingan. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 Tentang
Izin Lingkungan, Lebih Cepat, Lebih Tegas dan Aspiratif melibatkan banyak
pihak.

PERMEN PELAKSANAAN PP IZIN LINGKUNGAN


No
1.

Pasal
Pasal 6

Bunyi Pasal
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan dokumen
Amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 diatur dengan
Peraturan Menteri.

2.

Pasal 9

(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengikutsertaan


masyarakat dalam penyusunan Amdal diatur dengan Peraturan
Menteri.

3.

Pasal 10

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratan


untuk mendirikan lembaga penyedia jasa penyusunan dokumen
Amdal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diatur dengan
Peraturan Menteri.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengecualian untuk Usaha
dan/atau Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
diatur dengan Peraturan Menteri.

4.

Pasal 13

5.

Pasal 16

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan UKL-UPL


diatur dengan Peraturan Menteri.

6.

Pasal 26

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penilaian Kerangka


Acuan diatur dengan Peraturan Menteri.

7.

Pasal 35

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penilaian Andal dan


RKL-RPL diatur dengan Peraturan Menteri.

8.

Pasal 50

9.

Pasal 52

(8) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria perubahan Usaha


dan/atau Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan tata
cara perubahan Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup,
perubahan Rekomendasi UKL-UPL, dan penerbitan perubahan
Izin Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), ayat (5),
dan ayat (6) diatur dengan Peraturan Menteri.
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penerbitan Izin
Lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 sampai
dengan Pasal 51 diatur dengan Peraturan Menteri.

10.

Pasal 58

(2) Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara lisensi


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Menteri.

11.

Pasal 67

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembinaan dan


evaluasi kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 sampai
dengan Pasal 66 diatur dengan Peraturan Menteri.

Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 33, Pasal 41, dan Pasal 56 Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,

Pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 TAHUN 2012 Tentang


Izin Lingkungan. Berikut ringkasannya:
Definisi:

Izin Lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang
melakukan Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib Amdal atau UKL-UPL
dalam rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai
prasyarat memperoleh izin Usaha dan/atau Kegiatan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal) adalah kajian
mengenai dampak penting suatu Usaha dan/atau Kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan Usaha dan/atau
Kegiatan.
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup (UKL-UPL), adalah pengelolaan dan pemantauan
terhadap Usaha dan/atau Kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan Usaha dan/atau Kegiatan.

Setiap Usaha dan/atau Kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan


hidup wajib memiliki Amdal. Sedangkan bagi setiap Usaha dan/atau Kegiatan
yang tidak termasuk dalam kriteria wajib Amdal wajib memiliki UKL-UPL.
Setiap Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib memiliki Amdal atau UKL-UPL wajib
memiliki Izin Lingkungan yang diperoleh melalui tahapan kegiatan yang meliputi:

penyusunan Amdal dan UKL-UPL;


penilaian Amdal dan pemeriksaan UKL-UPL;
dan permohonan dan penerbitan Izin Lingkungan.

Penyusunan Amdal Dan UKL-UPL Amdal dan UKL-UPL


disusun oleh Pemrakarsa pada tahap perencanaan suatu Usaha dan/atau
Kegiatan dimana lokasi rencana usaha dan/atau Kegiatan tersebut wajib sesuai
dengan rencana tata ruang. Dalam hal lokasi rencana Usaha dan/atau Kegiatan
tidak sesuai dengan rencana tata ruang, dokumen Amdal tidak dapat dinilai dan
wajib dikembalikan kepada Pemrakarsa.
Permohonan dan Penerbitan Izin Lingkungan
Permohonan Izin Lingkungan diajukan secara tertulis oleh
penanggungjawab Usaha dan/atau Kegiatan selaku pemrakarsa kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Permohonan Izin Lingkungan disampaikan bersamaan dengan pengajuan


penilaian Andal dan RKL-RPL atau pemeriksaan UKLUPL serta harus dilengkapi
dengan:

dokumen Amdal atau formulir UKL-UPL;


dokumen pendirian Usaha dan/atau Kegiatan;
dan profil Usaha dan/atau Kegiatan.

Izin Lingkungan diterbitkan oleh:

Menteri, untuk Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup atau


Rekomendasi UKL-UPL yang diterbitkan oleh Menteri;
gubernur, untuk Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup atau
Rekomendasi UKL-UPL yang diterbitkan oleh gubernur; dan
bupati/walikota, untuk Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup atau
Rekomendasi UKL-UPL yang diterbitkan oleh bupati/walikota.

Lebih jauh Peraturan Pemerintah ini mengatur mengenai:

Penilaian amdal dan pemeriksaan UKL-UPL


Komisi penilai amdal
Pembinaan dan evaluasi kinerja
Pendanaan
Sanksi administrative

Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, Peraturan Pemerintah


Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku
pada tanggal 23 Februari 2012