Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ayam buras sudah dikenal masyarakat Indonesia dan penyebarannyapun telah merata
terutama di pedesaan. Karena perawatannya mudah, daya tahan hidupnya cukup tinggi, adaptasi
dengan lingkungan dan makanan mudah serta lebih digemari masyarakat karena baik daging
maupun telurnya memiliki cita rasa yang lebih disukai dibandingkan ayam ras.
Perkembangbiakan ayam ini pada umumnya masih dilakukan dengan cara alami, dan dibiarkan
kawin dengan sendirinya, sehingga perbanyakan bibit baik untuk keperluan penelitian maupun
usaha komersial masih terbatas.
Inseminasi Buatan pada ayam adalah teknik mengawinkan secara buatan dengan
memasukkan sperma ayam jantan yang telah diencerkan dengan NaCl Fisiologis ke dalam
saluran reproduksi ayam betina yang sedang berproduksi.Sedangkan Inseminasi buatan (IB)
pada unggas sebenarnya sudah dikenal sebelum tahun 1926 di daratan China dimana pada saat
itu IB dilaksanakan untuk ternak itik. 25 tahun kemudian IB dipraktekkan di Eropa Timur dan
Israel pada angsa.
Inovasi teknologi Inseminasi Buatan (IB) merupakan alternatif pemecahan masalah tentang
pengadaan bibit dalam waktu singkat serta digunakan untuk memperbanyak ternak bibit unggul
atau untuk keperluan penelitian. Inseminasi buatan pada ayam merupakan suatu proses
pemasukan semen ke dalam saluran reproduksi ayam betina dengan bantuan manusia.
Pelaksanaan IB pada ayam masih terasa asing bagi peternak kecil, padahal prospek dan
keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan IB ini cukup baik. Keuntungan yang akan
diperoleh dengan melaksanakan IB antara lain : (1) mempertinggi efisiensi penggunaan pejantan
unggul, (2) menghemat biaya, menghemat tenaga pemeliharaan dan menghindari bahaya, (3)
pejantan yang dipakai telah mengalami seleksi terlebih dahulu secara teliti, (4) mencegah
penularan penyakit, dan (5) meningkatkan efisiensi reproduksi (Toelihere, 1993).
Manajemen penampungan semen sangat penting dilakukan oleh peternakan pembibitan
yang menerapkan teknik IB. Seekor pejantan yang sudah dewasa kelamin setiap saat dapat
mengeluarkan semen, tetapi untuk menghasilkan semen yang berkualitas baik diperlukan
pengaturan frekuensi penampungan semen yang tepat. Berdasarkan potensi produksi dari ayam

buras, maka dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal mengenai inseminasi buatan pada
ayam buras.
1.2 Tujuan
Tujuan penulisan makalah adalah untuk memberi pemahaman mengenai seluk beluk teknik
IB pada ayam buras, dan dari apa yang dipaparkan mudah-mudahan dapat memberi manfaat
bagi usaha pembibitan ternak ayam buras dan menambah pengetahuan bagi pembaca.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Arti dan Tujuan Inseminasi Buatan (IB)

Inseminasi Buatan pada ayam adalah teknik mengawinkan secara buatan dengan
memasukkan sperma ayam jantan yang telah diencerkan dengan NaCl Fisiologis ke dalam
saluran reproduksi ayam betina yang sedang berproduksi.
Penerapan teknik IB pada Intensifikasi ayam buras yang dipelihara dalam kandang batere
dengan tujuan antara lain:
Meningkatkan kemampuan reproduksi ayam betina untuk menghasilkan telur tetas.
Meningkatkan produksi DOC yang seragam dalam waktu relatif singkat.
2.2 Keuntungan Inseminasi Buatan Pada Unggas
Keuntungan lnseminasi Buatan dibandingkan perkawinan secara alami dalam pengadaan
DOC adalah:
1. Menurunkan jumlah pejantan
Perbandingan antara jumlah jantan dan betina mementukan jumlah keuntungan dari
peternak unggas. Pada perkawinan alam setiap 100 ekor betina membutuhkan 8-10 ekor
pejantan, tetapi pada perkawinan secara IB hanya membutuhkan 3-4 ekor pejantan, ini
disesuaikan dengan kebutuhan sperma untuk jumlah tertentu dari ayam betina yang dipelihara.
2. Menghemat pakan
Dengan mengurangi jumlah pejantan yang dipelihara berarti akan mengurangi jumlah pakan
yang diberikan dan keuntungan yang diperoleh akan lebih besar. Pemeliharaan pejantan pada
kandang battery ternyata mampu menghemat pakan 10% dibandingkan dengan pemeliharaan
secara letter.
3. Menghemat tempat untuk pemeliharaan ayam pejantan.
4. Memungkinkan seleksi dan persilangan antar induk yang memiliki mutu genetik unggul,
Sehingga dapat dihasilkan anak ayam unggul untuk tujuan tertentu (telur, daging atau
keduanya). Memungkinkan dilakukannya persilangan bagi ayam jantan unggul yang sulit
melakukan perkawinan secara alami.
5. Meningkatkan fertilitas telur
Perkawinan secara IB dapat meningkatkan fertilitas telur. Hal ini karena kebutuhan optimal
sperma untuk menghasilkan fertilitas yang maksimal dapat dekat secara pasti sejak awal.
Penggunaan sperma 100 juta/ml sudah cukup menghasilkan fertilitas lebih dari 95%. Sedangkan
dengan kawin alam adalah 78%.
6. Hemat dari segi tempat, tenaga dan waktu.
7. Memungkinkan dilakukannya persilangan bagi ayam jantan unggul yang sulit melakukan
perkawinan secara alami.
8. Dapat menghasilkan DOC dalam jumlah banyak, seragam dan dengan waktu relatif singkat.
9. Memungkinkan dilakukannya persilangan dengan ayam jenis lain.
2.3 Kerugian Inseminasi pada Unggas
1. Membutuhkan tenaga kerja yang terampil.

IB merupakan teknologi baru di dunia peternakan unggas sehingga mau tidak mau harus
dipersiapkan tenaga terampil untuk menangani IB.
2. Membutuhkan peralatan ekstra sehingga peternak mengeluarkan biaya tambahan.
3. Kemungkinan penyebaran penyakit melalui sperma yang bercampur feses.
4. Perlu tenga kerja tambahan untuk pelaksanaan penampungan semen dan inseminasi ,hal itu
bukan merupakan kendala serius karena asalkan diprogramkan dengan baik .
5. Kwalitas semen ayam cepat menurun pada kondisi alami diudara terbuka . Sampai saat ini
belum ada metode praktis untuk mengawetkan semen ayam seperti biasa yang dilakukan pada
semen ternak besar.Oleh karena itu , Inseminasi tidak dapat ditunda tunda harus segera
dilaksanakan setelah semen ditampung.
2.4 Pemilihan Induk dan Pejantan
1. Pemilihan Induk (ayam betina)
Induk yang baik untuk Inseminasi Buatan, harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
Sehat dan tidak cacat
Berproduksi tinggi
Berumur 7 hingga 12 bulan
Minimal sudah mengalami periode peneluran pertama
Induk tersebut harus sedang berproduksi
Pemeliharaan induk sebaiknya dalam kandang batere individu.
2. Pemilihan Pejantan
Pejantan yang baik untuk Inseminasi Buatan memiliki syarat antara lain :
Sehat, tidak cacat dan memiliki nafsu kawin yang, balk.
Berumur 1,5 sampai 3 tahun
Memiliki mutu genetik yang balk
Sudah terlatih diambil spermanya
Mempunyai hubungan keluarga yang jauh dengan induk yang akan di inseminasi.
Pemeliharaan pejantan tidak dicampur dengan induk.
2.5 Persiapan Induk dan Pejantan
Ayam yang sudah terpilih sesuai dengan persyaratan tersebut di atas, diatur dalam kandang
sistem batere tunggal yang nyaman. Untuk menghilangkan stress pada ayam karena perubahan
suasana kandang maka dapat diberikan vitamin anti stress.
2.6 Persiapan Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang dibutuhkan adalah : alat suntik (spuit), tabung penampung sperma,
tabung pengencer, NaCl Fisiologis 0,9% (pengencer sperma) dan kain lap. Alat dan bahan ini
dapat diperoleh di apotek dan setiap kali digunakan dalam keadaan steril (dicuci dengan air
mendidih).
2.7 Pengambilan Sperma (Semen)
Pengambilan sperma dilakukan oleh 2 orang (satu orang memegang dan mengurut ayam
sementara yang lain menampung sperma dengan tabung penampung sperma). Pengambilan
sperma dapat dilakukan 3-5 kali seminggu pada sore hari diatas pukul 15.00. Sperma yang sudah
diperoleh diencerkan dengan menggunakan NaCl Fisiologis sehingga dapat membuahi banyak

betina. Sperma yang sudah diencerkan jangan disimpan terlalu lama dan harus dihindarkan dari
sinar matahari secara langsung.
Pengambilan sperma dilaksanakan dalam berbagai tahapan sebagai berikut:
1. Bersihkan kotoran yang menempel pada anus dan sekitarnya.
2. Ayam jantan diapit diantara lengan dan badan, kemudian dilakukan rangsangan dengan cara
mengurut berulangkali pada bagian punggung yaitu dari bagian pangkal leher sampai
pangkal ekor.
3. Dengan rangsangan tersebut ayam akan reaksi, ditandai dengan meregangnya bulu ekor ke
atas dan pada saat yang bersamaan tekan bagian bawah ekor maka alat kelamin akan
mengeluarkan sperma berwarna putih agak kental, selanjutnya ditampung dengan tabung
penampung.
4. Encerkan sperma dengan larutan infuse atau NaCl Fisiologis 0,9% dengan perbandingan 1 :
6-10. Caranya sedot NaCl Fisiologis dengan spuit sesuai derajat pengencerannya, masukkan
kedalam tabung yang sudah berisi sperma, goyangkan secara perlahan hingga bercampur
dan siap untuk dimasukkan kedalam saluran reproduksi betina. Umur sperma yang telah
diencerkan kurang lebih 30 menit.
2.8 Pelaksanaan Inseminasi Buatan
Inseminasi Buatan pada ayam buras dapat dilakukan dengan dua metode yaitu:
1. Metode intra vaginal artinya sperma disuntikkan ke dalam vagina dengan kedalaman 3
cm. 2. Metode intra uterin artinya sperma dimasukkan ke bagian uterus dengan kedalaman 7-8
cm.
2. Tahapan kegiatan pelaksanaan Inseminasi Buatan adalah:
Bersihkan kotoran yang menempel di anus dan sekitarnya dengan menggunakan tissue
pembersih.
Pelaksanaan Inseminasi Buatan dilakukan 2 orang, melaksanakan 1 orang memegang
ayam dan 1 orang Inseminasi Buatan.
Tekan bagian tubuh dibawah anus hingga terlihat saluran reproduksi (sebelah kid) dan
saluran kotoran (sebelah kanan).
Sperma yang sudah diencerkan disedot dengan spuit tanpa jarum sebanyak 0,1-0,2 ml
kemudian dimasukkan kedalam alat kelamin betina.
Berikan vitamin anti stress pada ayam yang di inseminasi. 6. Untuk mendapatkan hasil
yang baik, sebaiknya Inseminasi Buatan diulang 3 hari setelah Inseminasi Buatan yang
sebelumnya.

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Inseminasi Buatan pada ayam merupakan teknik mengawinkan secara buatan dengan
memasukkan sperma ayam jantan yang telah diencerkan dengan NaCl Fisiologis ke dalam

saluran reproduksi ayam betina yang sedang berproduksi. Perkawinan secara IB dapat
meningkatkan fertilitas telur. Hal ini karena kebutuhan optimal sperma untuk menghasilkan
fertilitas yang maksimal dapat dekat secara pasti sejak awal. Penggunaan sperma 100 juta/ml
sudah cukup menghasilkan fertilitas lebih dari 95%. Sedangkan dengan kawin alam adalah 78%.
3.2 Saran
Sebaiknya sperma yang sudah diperoleh diencerkan dengan menggunakan NaCl Fisiologis
sehingga dapat membuahi banyak betina. Sperma yang sudah diencerkan jangan disimpan
terlalu lama dan harus dihindarkan dari sinar matahari secara langsung.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2008. Reproduksi dan Konservasi Hewan. Bag.Reproduksi dan Kebidanan.


FKH.UGM. Yogyakarta.
Hafez, and M. E .Bellin. 2000. Semen Evaluation Reproduction in Farm Animals. 7hed.
Newfork: London.

Kartasudjana Ruhyat , 2001 .Teknik Inseminasi Buatan Pada Ternak. Proyek Pengembangan
Sistem Dan Standar Pengelolaan Smk Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan
Jakarta
Toelihere, M. R. 1993. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa, Bandung.
Wildan, Yatim. Reproduksi dan Embriologi.1994. Tarsito. Bandung