Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH INSEMINASI BUATAN PADA TERNAK BABI

15:06 BABI , TEKNOLOGI No comments


BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Inseminasi buatan (IB) merupakan suatu teknik inseminasi pada ternak yang diterapkan secara
efisien pada peternakan yang maju (Toelihere, 1993). Menurut Sihombing (1997), periode yang
efektif untuk menginseminasi adalah sekitar 24 jam, antara 24 hingga 36 jam setelah puncak
berahi. Pejantan yang akan digunakan dalam IB harus teruji mutunya dalam hal performans,
fisik, kesehatan dan manajemen pemeliharaan memenuhi standar (Sihombing, 1997). Seekor
babi jantan unggul, dengan IB dapat dipakai untuk melayani 2000 ekor betina per tahun dengan
keturunan 20.000 ekor.
Keberhasilan pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) pada ternak sangat tergantung dari kualitas
dan kuantitas semen yang digunakan. Teknik IB yang umum digunakan adalah menggunakan
semen beku pada ternak sapi dan semen cair pada ternak babi. Dalam proses pembuatan semen
beku nutrisi yang terdapat pada pengencer yang digunakan sangat berperan penting untuk
melindungi spermatozoa saat proses penurunan suhu agar tidak terjadinya kejutan dingin pada
spermatozoa.Fikar, (2010) menyatakan bahwa IB merupakan salah satu teknik perkawinan
buatan dengan menggunakan semen dari pejantan yang telah diseleksi dan tanpa adanya
kehadiran pejantan secara langsung dengan tujuan untuk memperoleh ternak yang unggul dari
segi kualitas maupun kwantitas serta menghindari perkawinan sedarah (inbreeding) dan
menghindari penularan penyakit
Dalam pelaksanaan IB, petugas inseminasi/inseminator haruslah

orang

yang

memiliki

keterampilan melakukan IB. Keterampilan tersebut dapat diperoleh dengan mengikuti pelatihanpelatihan pelaksanaan IB.
TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah:

1. Untuk meningkatkan pemahaman mengenai tahapan-tahapan prosesing semen cair ternak babi
sampai pada tahap penyimpanan.
2. Untuk mengetahui bagaimana teknik inseminasi buatan pada ternak babi secara lengkap.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
TERNAK BABI
Ternak babi bila diklasifikasikan secara zoologis termasuk ke dalam kelas mamalia, ordo
Artiodactyla, genus Sus dan spesies terdiri dari Sus scrofa, Sus vittatus, Sus cristatus, Sus
leucomystax, Sus celebensis, Sus verrucosus, dan Sus barbatus (Sihombing, 2006).
Babi merupakan ternak omnivora monogastrik yaitu ternak pemakan semua pakan dan
mempunyai satu perut besar yang sederhana (Sihombing, 2006). Ternak babi merupakan salah
satu dari sekian jenis ternak yang mempunyai potensi sebagai suatu sumber protein hewani
dengan sifat-sifat yang dimiliki yaitu prolifik (memiliki banyak anak setiap kelahiran), efisien
dalam mengkonversi bahan makanan menjadi daging dan mempunyai daging dengan persentase
karkas yang tinggi (Siagian, 1999).
Terdapat beberapa bangsa ternak babi yang sudah dikenal dan banyak dikembangkan, yaitu
Yorkshire, Landrace, Duroc, Hampshire, dan Berkshire. Bangsa ternak babi adalah sumber
genetik yang tersedia bagi peternak. Hampir semua ternak babi yang dikembangkan sekarang ini
merupakan bangsa babi hasil persilangan (Siagian, 1999). Usaha peternakan babi akan dapat
mendatangkan keuntungan

ekonomi

apabila

dikembangkan

dengan

serius.

Menurut

Sihombing (2006), dua syarat yang harus dipenuhi dalam memulai usaha ternak babi,
adalah pengadaan

makanan

yang

cukup

dan

tempat

pemasaran

yang

dekat. Sifat

Reproduksi Ternak babi adalah ternak yang cepat berkembangbiak karena menghasilkan banyak
anak yang lahir dari satu kelahiran dan dalam satu tahun dapat terjadi dua kali beranak bahkan
dapat lima kali dalam dua tahun, dan cepat dewasa.
INSEMINASI BUATAN
Menurut Hafez (1993) Inseminasi Buatan (IB) adalah proses memasukkan sperma ke dalam
saluran reproduksi betina dengan tujuan untuk membuat betina jadi bunting tanpa perlu terjadi
perkawinan alami. Konsep dasar dari teknologi ini adalah bahwa seekor pejantan secara alamiah

memproduksi puluhan milyar sel kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan untuk
membuahi satu sel telur (oosit) pada hewan betina diperlukan hanya satu spermatozoa. Potensi
yang dimiliki seekor pejantan sebagai sumber informasi genetik, terutama yang unggul, dapat
dimanfaatkan secara efisien untuk membuahi banyak betina.
Keberhasilan IB pada ternak ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu kualitas semen beku (straw),
keadaan sapi betina sebagai akseptor IB, ketepatan IB, dan keterampilan tenaga pelaksana
(inseminator). Faktor ini berhubungan satu dengan yang lain dan bila salah satu nilainya rendah
akan menyebabkan hasil IB juga akan rendah, dalam pengertian efisiensi produksi dan
reproduksi tidak optimal (Toelihere, 1997).
Menurut Ihsan, (1993) saat yang baik melakukan IB adalah saat sapi betina menunjukkan tandatanda birahi, petani ternak pada umumnya mengetahui tingkah laku ternak yang sedang birahi
yang dikenal dengan istilah : 4A, 2B, 1C, 4A, yang dimasud adalah abang, abu, anget, dan arep
artinya alat kelamin yang berwarna merah membengkak kalau diraba terasa anget dan mau
dinaiki, 2B yang dimaksud adalah bengak-bengok dan berlendir artinya sapi betina sering
mengeluh dan pada alat kelaminnya terlihat adanya lendir transparan atau jernih, 1C yang
dimaksud adalah cingkrak-cingkrik artinya sapi betina yang birahi akan menaiki atau diam jika
dinaiki sapi lain. Keuntungan IB sangat dikenal dan jauh melampaui kerugian-kerugiannya jika
tidak demikian tentu perkembangan IB sudah lama terhenti dan keuntungan yang diperoleh dari
IB yaitu :
1) Daya guna seekor pejantan yang genetik unggul dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
2)

Terutama bagi peternak-peternak kecil seperti umumnya ditemukan di Indonesia program IB


sangat menghemat biaya di samping dapat menghindari bahaya dan juga menghemat tenaga
pemeliharaan pejantan yang belum tentu merupakan pejantan terbaik untuk diternakkan.

3)

Pejantan-pejatan yang dipakai dalam IB telah diseleksi secara teliti dan ilmiah dari hasil
perkawinan betina-betina unggul dengan pejantan unggul pula.

4) Dapat mencegah penyakit menular


5) Calving Interval dapat diperpendek dan terjadi penurunan jumlah betina yang kawin berulang.
Menurut Bandini (2004), Inseminasi Buatan adalah pemasukan atau penyampaian semen ke
dalam saluran kelamin betina dengan menggunakan alat-alat buatan manusia, jadi bukan secara
alam. Dalam praktek prosedur IB tidak hanya meliputi deposisi atau penyampaian semen ke
dalam saluran kelamin betina, tetapi juga tak lain mencakup seleksi dan pemeliharaan pejantan,

penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengangkutan semen, Inseminasi,


pencatatan dan juga penentuan hasil inseminasi pada hewan betina, bimbingan dan penyuluhan
pada ternak.
BAB III
PEMBAHASAN
Seekor babi jantan unggul, dengan IB dapat dipakai untuk melayani 2000 ekor betina per tahun
dengan keturunan 20.000 ekor. kelemahan dari teknik IB adalah jika tidak dilakukan dengan
benar, maka akan menurunkan efisiensi reproduksi sehingga dalam pelaksanaannya harus
dilakukan secara terlatih dan terampil dan teknik IB tidak dapat digunakan untuk semua jenis
hewan (Toelihere, 1993). Babi betina yang akan diinseminasi adalah babi yang sedang berahi.
PROSES INSEMINASI BUATAN PADA BABI
Inseminasi Buatan pada babi terdiri dari beberapa tahap yakni persiapan pejantan, persiapan alat
tampung, pelaksaan penampungan semen, pemeriksaan semen segar secaramakroskopis dan
mikroskopis, pengenceran semen (penyiapan bahan pengencer dan pengenceran semen), evaluasi
semen, pengolahan semen, pengepakan (packing), labeling, serta yang terakhir adalah proses
inseminasi itu sendiri.
1) Persiapan Pejantan
Tahapan ini dimulai dengan mencatat nama pejantan yang akan ditampung semennya dalam
buku catatan harian.
Selanjutnya pejantan tersebut dimandikan sampai bersih kemudian bulu didaerah prepotium
dipotong agar tidak tertarik bersamaan saat melakukan rangsangan karena dapatmenimbulkan
rasa sakit pada penis pejantan saat penampungan.
2) Persiapan Alat Tampung
Beberapa peralatan yang disiapkan untuk proses penampungan adalah kain kasa, corong karet,
gelas erlenmeyer 100 ml, gelas tampung yang terbuat dari pipa, gunting, dan karet.
Langkah kerja dari persiapan/pemasangan alat tampung ini yaitu:
a) Siapkan alat dan bahan penampungan semen babi
b) Tabung erlenmeyer di masukkan ke dalam gelas tampung kemudian ditutup dengan penutup
c)

gelas tampung dan dilanjutkan dengan memasukkan corong karet di atas gelas tamping
Di atas corong karet dilapisi/ditempati dengan kain kasa yang berukuran 7 cm sebanyak 2
lembar yang berfungsi untuk menyaring sperma

d) Apabiala kain kasa sudah terpasang maka kain tersebut diikat dengan karet yang sudah disiapkan
agar tidak terlepas dari ikatan gelas tampung dan selanjutnya di masukkan ke dalam ruangan
tampung lewat pintu khusus.
3) Pelaksanaan Penampungan Semen
Untuk

mempermudah

proses

penampungan

menggunakan Dummy (Patung/boneka). Dalam

semen pada ternak

proses

babi maka harus

penampungan,

pejantan yang

masih dalam proses pelatihan akan menggunakan dummy yang bisa dipindah-pindah sesuai
kemauan pejantan,sedangkan pejantan yang sudah terlatih menggunakan Dummy yang otomatis
(tidak bisa dipindah-pindah). Hal penting yang perlu diperhatikan dalam proses penampungan
semen

adalah

tidak

boleh

memakai

cicin

atau memiliki kuku yang panjang

karena dapat mengakibatkan rasa sakit pada alat kelamin pejantan baik yang sudah terlatih
maupun

masih dalam

proses

dilatih.

Hal

penting

lain dalam

penampungan

semen adalah memegang penis dengan kuat menggunakan 3 jari tangan agar tidak
terlepas. Langkah kerja untuk penampungan semen babi adalah sebagai berikut:
a) Ternak jantan digiring dari kandangnya ke ruangan penampungan semen
b) Setelah ternak jantan dalam ruangan penampungan semen diarahkan atau dengan sendirinya
menaiki Dummy
c) Apabila pejantan lama menaiki Dummy, maka dilakukan rangsangan tubuh terutama pada
daerah scrotum dan penisnya dengan cara massage sampai penisnya keluar.
d) Penis yang keluar tersebut ditangkap dan ditarik secara perlahan-lahan
e)
Penis dipegang dengan kuat sehingga tidak terlepas dan pada

waktu

bersamaan

dilakukanrangsangan pada ujung penis dengan menggunakan jari kelingking.


f) Gelas tampung didekatkan pada ujung penis pada saat terjadi ereksi karena pada saat itu ternak
akan tenang dan mengeluarkan semen.
g) Selama proses penampungan cairan bening pertama yang keluar langsung dibuang karena tidak
mengandung sperma dan apabila cairan sudah berwarna putih maka baru ditampung dalam gelas
tamping
h) Penampungan semen bisa berlangsung 7-10 menit dengan volume sperma yang dihasilkan 200300 cc sekali ejakulasi.
i)
Semen yang telah ditampung dimasukkan ke dalam laboratorium melalui pintu khusus
untuk dievaluasi dan diproses lebih lanjut.
4) Pemeriksaan Semen Dan Evaluasi Semen Segar

Setelah semen ditampung secepatnya di masukkan ke dalam laboratorium untuk dilakukan


pemeriksaan, baik secara makroskopis maupun mikroskopis untuk selanjutnya dicatat dalam
buku catatan harian.
a) Evaluasi semen secara makroskopis
Semen yang datang dari ruang tampung dilihat warna, bau semen, volume setelah
itu dimasukkan ke dalam gelas ukur untuk mengukur semen murni yang didapatkan kemudian
dicatat dalam buku catatan harian untuk dievaluasi.
b) Evaluasi semen secara mikroskopis
Pemeriksaan semen ternak babi secara mikroskopis yang dilakukan sama halnya dengan
pemeriksaan semen beku sapi Bali yaitu dengan melihat gerakan massa dan motilitas/gerakan
individu semen segar. Standar gerakan massa yang dapat diproses lebih lanjut adalah 2+ dan 3+
sedangkan penilaian motilitas serta konsentrasi semen untuk mengetahui berapa persen
spermatozoa yang hidup dalam satu ml semen.
Hal ini sesuai dengan pendapat Wahyuningsih (2013) bahwa penilaian konsentrasi sangat
penting untuk menentukan jumlah pengenceransemen danpenilaian motilitas
merupakan daya gerak individu sperma digunakan sebagai ukuran

yang

kesanggupan

sperma

untuk membuahi sel telur.


Cara menilai motilitas semen yang dilakukan adalah dengan mengambil satu tetes semen
menggunakan pipet tetes kemudian ditempatkan diatas objek glass dan ditutup dengan cover
glass lalu diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 40 x. Semen yang dapat diproses lebih
lanjutadalah

yang

memiliki persentase

motilitas

minimal

60%. Jika

kurang

dari

60% maka semen tersebut dibuang.


Semen segar yang dihasilkan dari penampungan dievaluasi terlebih dahulu pada laboratorium
secara makroskopis (warna, bau, dan volume) dan mikroskopis (gerakan massa, dan motilitas
serta konsentrasi). Menghitung konsentrasi semen segar menggunakan alat otomatis (Sperma
Cue) dengan cara semen diambil dari dalam gelas ukur menggunaka spoid 3 ml lalu diteteskan
kedalamcontrol cuvette.
5) Pengenceran Semen
Pengenceran semen merupakan salah satu cara untuk memperbanyak volume semen dan
memperpanjang daya hidup spermatozoa. Tujuan pengenceran semen adalah sebagai penyedia
nutrisi dan memberi perlindungan terhadap spermazoa. Rosmaidar, (2014) menyatakan

bahwapengenceran semen bertujuan untuk menyediakan sumber energi bagi spermatozoa


sehingga menjamin kelangsungan hidup spermatozoa selama penyimpanan atau pembekuan.
Sebelum melakukan pengenceran semen terlebih dahulu disiapkan bahan pengencer. Bahan
pengencer yang dipakai di UPT BIBD Baturiti adalah bahan pengencer instan yaitu Bestvile
Thawing Solution (BTS) yang ditambahkan dengan aquabides dengan perbandingan 1000 ml
aquabidesberbanding 50 gram BTS.
Kandungan yang ada dalam BTS adalah sebagai beriukut: Glucosa 37,15 gram, Tri Sodium
Citrate 1,25 gram, Edta Disodium Salt 1,25 gram, Sodium Hidrogencarbonate 1,25 gram,
Potassium Chloride 0,75 gram, Sodium Penicillin 0,60 gram, dan streptomycin sulphate 1 gram.
Langkah-langkah pembuatan pengecer antara lain:
a)

Air yang sudah disuling (aquabides) di masukkan ke dalam gelas erlenmeyer sebanyak 1000

mldan BTS ditimbang menggunakan alat timbang sebanyak 50 gram.


b) BTS bersama air di masukkan ke dalam gelas erlenmeyer yang sudah disiapkan secara belahanlahan kemudian ditutupi dengan aluminium foil
c) Gelas elenmeyer yang sudah diisi dengan BTS dan aquabides digoyang-goyang secara berlahan
hingga campuran tersebut secara merata.
d) Setelah homogen, cairan tersebut dimasukkan ke dalam waterbath
e) Thermometer dimasukkan ke dalam gelas erlenmeyer yang berisi larutan BTS selama 10-15
menit hungga mencapai suhu 37C.
Pengenceran semen dapat dilakukan apabila semen telah melewati pemeriksaan makroskopis dan
mikroskopis dan memenuhui syarat yang sudah ditentukan.
Standar perbandingan motilitas, volume tampung dan pengencer semen ternak babi yang dipakai
adalah:
Motilitas 60%

: 1:1

Motilitas 65%

: 1:2

Motilitas 70%

: 1:3 1:4

Contoh:
Volume tamping

: 250 cc

Motilitas

: 65%

6) Pengisian Semen
Pengisian semen merupakan salah satu tindakan yang dilakukan untuk menjaga kualitas semen
sebelum digunakan. Tujuan pengisian semen dalam kemasan adalah agar semen tersebut mudah

dalam proses pendistribusian. Pengisian semen dimulai dengan mempersiapkan alat dan bahan
yang akan digunakan antara lain rak semen, alat packing, botol tube, tisu, dan kertas label.
Selanjutnya dilakukan pengisian semen dengan cara semen di masukkan ke dalam botol-botol
tubeyang berukuran 80 cc dan diletakkan sementara di dalam rak semen. Setelah proses
pengisian selesai, botol tube diambil satu persatu untuk di press dengan terlebih dahulu
membersihkan ujung botol tube dengan kain tisu. Botol tube di masukkan ke alat packing
kemudian ditekan dengan kuat hingga daya rekatnya kuat. Proses ini diulangi 3 kali agar kuat
dan tidak bocor.
7) Labeling
Labeling semen diperlukan untuk mengetahui alamat kantor, jenis/bangsa, nama pejantan,
tanggal dilaksanakan penampungan dan tanggal kedaluwarsaan, dan aturan pakai semen. Proses
labeling dilakukan setelah pengisian semen ke dalam botol tube yang telah disediakan. Pelabelan
dilakukan dengan cara menempel kertas label pada botol tube yang sudah dipress dan berisi sel
spermatozoa kemudian botol tube yang telah diberi labeling siap dipasarkan.
8) Penyimpanan Semen
Semen yang belum dimanfaatkan pada hari prosesing harus disimpan pada ruangan yang bersuhu
10-20oC (dalam kulkas pada rak pintu bagian bawah pada posisi 0-1). Semen yang disimpan
harus digoyangkan berlahan-lahan dua kali setiap hari (pagi dan sore hari) agar kualitasnya tidak
menurun. Semen cair dengan bahan pengencer betsvile thawing solution (BTS) dapat disimpan
selama 3 hari tanpa terjadi penurunan kualitas semen yang berarti. Jika dalam waktu 3 hari
semen tersebut masih belum dipakai maka semen tersebut tidak dapat digunakan lagi.
9) Proses Inseminasi
Sebelum inseminasi dilakukan, alat dan bahan seperti gunting, kateter, aquabides dan semen
dipersiapkan. Bersihkan vulva babi betina dengan aquabides, ujung kateter dibasahi dengan
aquabides, kemudian kateter dimasukkan secara perlahan-lahan kedalam alat kelamin betina
yang diputar berlawanan dengan arah jarum jam. Setelah kateter masuk dan serviks telah
terkunci, maka penutup bungkus semen digunting dan dimasukkan kedalam kateter. Kateter agak
diangkat keatas supaya semen dapat mengalir kedalam alat kelamin betina. Proses inseminasi
berlangsung selama satu hingga lima menit.
BAB IV

PENUTUP
KESIMPULAN
1. Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknikuntukmemasukkan mani
(spermatozoa atau semen) yang telah dicairkan dan telah diprosesterlebih dahulu yang berasal
dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina denganmenggunakan metode dan alat
khusus.
2.

Keberhasilan pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) pada ternak babi sangat tergantung dari
kualitas dan kuantitas semen yang digunakan.
SARAN
Untuk ternak babi jantan jika memiliki kualitas semen yang kurang baik dalam 2-3 kali
penampungan disarankan untuk diafkir atau dijual.
DAFTAR PUSTAKA
Afiati, F. (2013). Pembibitan Ternak dengan Inseminasi Buatan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Feradis. (2010). Bioteknologi Reproduksi pada Ternak. Alfabeta. Bandung

han, F. (2012). Pedoman Penataan Budidaya Ternak Babi Ramah Lingkungan.http//www.isage.org. (02 Agustus
2014).
Sumber Dari: http://dodymisa.blogspot.com/2015/05/makalah-inseminasi-buatan-padaternak.html#ixzz3n1mlVSwF