Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiran Allah Swt atas seluruh karunia-Nya, sehingga kami dapat
menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul Pengambilan Spesimen Darah. Kami telah
berusaha sebaik mungkin untuk menyempurnakannya makalah ini. Namun, kami menyadari
bahwa masih dalam proses belajar, sehingga masih banyak yang harus diperbaiki.
Oleh sebab itu, bimbingan dan arahan dosen, kami harapkan agar makalah ini dapat
diselesaikan dengan baik. Kami mempersembahkan karya ini untuk semua teman kami, untuk
kedua orangtua kami, untuk dosen kami, dan untuk kepentingan bersama dalam menciptakan
tenaga-tenaga perawat profesional ke depannya.
Berhubungangan dengan hal tersebut, semoga makalah yang sederhana ini dapat
dijadikan pedoman dalam proses pengambilan specimen darah.
Kritik dan saran senantiasa dinantikan agar makalah ini menjadi lebih baik dimasa
mendatang amin.

Mataram, 24 November 2013

DAFTAR ISI
Kata Pengantar

Daftar Isi

ii

Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
Bab II Pembahasan
A.
B.
C.
D.
E.

Pengertian
Tujuan
Factor-faktor penghambat dalam pengambilan specimen
Factor-faktor yang harus diperhatikan dalam pengambilan specimen
Pemeriksaan Menggunakan Specimen Darah

Bab III Penutup


A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka

1
1
1
3
3
3
3
8
10
13
13
13
14

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kegiatan pengumpulan sampel darah dikenal istilah phlebotomi yang berarti
proses mengeluarkan darah. Ada 3 macam cara untuk memperoleh darah yaitu skinpuncture,
venipuncture, dan arteri. Venipuncture adalah cara yang paling umum dilakukan, oleh karena itu
istilah phlebotomis sering dikaitkan dengan pengambilan darah vena (venipuncture).
Pada pengambilan darah vena, umumnya diambil dari vena mediana cubiti yang terletak
pada sisi lipatan siku. Vena ini terletak di permukaan kulit, cukup besar, dan tidak dekat dengan
syaraf. Apabila tidak memungkinkan, vena cephalica dan vena basilica bisa menjadi pilihan
dalam pengambilan darah vena. Venipuncture pada vena basilica harus dilakukan dengan hatihati karena letaknya berdekatan dengan arteri branchialis dan syaraf mediana. Jika vena basilica
dan cephalica tidak dapat digunakan, maka dapat dilakukan pengambilan darah di vena
pergelangan tangan dan vena kaki.
Ada dua cara dalam pengambilan darah vena, yaitu cara manual dan cara vakum. Cara
manual dilakukan dengan menggunakan alat suntik (syringe), sedangkan cara vakum dengan
menggunakan tabung vakum (vacutainer).
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan pengambilan venipuncture?
2. Apakah tujuan pengambilan specimen darah vena?
3. Apa saja faktor penghambat dalam pengambilan darah vena?
4. Apa saja factor-faktor yang harus diperhatikan dalam pengambilan specimen darah vena?
5. Apa saja pemeriksaan yang menggunakan sampel darah?
C. Tujuan
1.
Mengetahui apakah yang dimaksud dengan pengambilan venipuncture.
2.
Mengetahui apakah tujuan pengambilan specimen darah vena.
3.
Mengetahui apa saja faktor penghambat dalam pengambilan darah vena.
4. Mengetahui apa saja factor-faktor yang harus diperhatikan dalam pengambilan specimen
darah vena.
5.
Mengetahui apa saja pemeriksaan yang menggunakan sampel darah.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Pengertian
Suatu cara pengambilan darah vena yang diambil dari vena dalam fossa cubiti, vena saphena
magna / vena supervisial lain yang cukup besar untuk mendapatkan sampel darah yang baik dan
representative dengan menggunakan spuit.

B.

Tujuan
1. Untuk mendapatkan sampel darah vena yang baik dan memenuhi syarat untuk dilakukan
pemeriksaan
2. Untuk petunjuk bagi setiap petugas yang melakukan pengambilan darah (phlebotomy)
3. Untuk menganalisa kandungan komponen darah, seperti : sel darah merah, sel darah putih,
angka leukosit dan trombosit. Darah vena juga dapat digunakan untuk analisa gas darah jika
darah arteri sulit diperoleh, namun hanya berguna untuk menganalisa pH, PaCO2 dan Base
Excess.

C. Faktor Penghambat dalam Pengambilan Darah Vena


1.

Faktor Fisik Pasien


1)
Kegemukan
Pada pasien yang gemuk terkadang phlebotomis sulit untuk menemukan pembuluh
darah vena yang akan ditusuk karena terhalang oleh jaringan lemak. Orang yang gemuk
memiliki vena yang lebih dalam dan tidak terlihat sehingga sulit untuk dipalpasi.
2)
Oedema
Edema merupakan penimbunan cairan tubuh. Phlebotomis menjadi sulit untuk
menemukan letak vena. Jika darah yang diambil pada tempat yang oedema, maka darah
akan tercampur dengan cairan oedema sehingga akan terjadi pengenceran. Phlebotomis
dapat mencari pembuluh darah lain yang tidak oedema.
3)

Luka bakar
Pasien yang mengalami luka bakar, jaringan pada tubuhnya rusak dan mudah

mengalami infeksi. Jangan melakukan pengambilan di daerah ini. Pasien sangat rentan
terhadap infeksi.

2. Faktor Psikologis PasienFaktor penderita yang kurang kooperatif disebabkan penderita merasa
ketakutan sehingga penderita menolak untuk dilakukan pengambilan darah. Cara
mengatasinya dengan mencari bantuan petugas lain dan menenangkan pasien agar pasien
mengerti perlunya untuk dilakukan pengambilan darah. Bila tidak berhasil, jelaskan secara
tertulis pada lembar permintaan laboratorium.
3.

Faktor Teknik
Gagal memperoleh darah
Gagal pengambilan darah disebabkan :
1)
Cara pengambilan darah vena yang salah oleh phlebotomis
2) Tusukan sudah tepat tetapi darah tidak cukup terhisap, kemungkinan :
a.
Kesalahan teknik
o Arah tusukan tidak tepat
o Sudut tusukan terlalu kecil atau terlalu besar
o Salah menentukan vena yang dipilih
o Tusukan terlalu dalam atau kurang dalam
o Pembuluh bergeser karena tidak terfiksasi
b.

Kesalahan non teknik


o Pembuluh darah menyempit (kolaps) karena rasa takut yang berlebihan
dan menyebabkan volume darah berkurang.
o Volume darah berkurang karena pendarahan berat, kekurangan cairan
tubuh, dan tekanan darah turun.

3) Komplikasi
Dalam pengambilan darah vena yang salah dapat menyebabkan komplikasi, antara
lain:
a.

Pingsan (Syncope)
Pingsan adalah keadaan dimana pasien kehilangan kesadaran beberapa saat
karena penurunan tekanan darah. Gejala dapat berupa rasa pusing, keringat dingin,
pengelihatan kabur, nadi cepat, bahkan bisa sampai muntah. Pingsan dapat
disebabkan karena pasien mengalami rasa takut yang berlebihan atau karena pasien
puasa terlalu lama.
Sebelum dilakukan phlebotomi hendaknya seorang phlebotomis menanyakan
apakah pasien memiliki kecenderungan untuk pingsan saat dilakukan pengambilan
5

darah. Jika benar maka pasien diminta untuk berbaring. Phlebotomis hendaknya
memberikan pengertian kepada pasien agar pasien merasa nyaman dan tidak takut.
Agar pasien tidak takut, phlebotomist sebaiknya mengajak pasien berbicara agar
perhatiannya teralihkan.
Pengambilan darah vena pada orang pingsan harus diberi oksigen agar pembuluh
darah membuka sebab pada orang pingsan pembuluh darahnya menutup.
Cara Mengatasi :
o
o
o
o
o
o
o

Hentikan pengambilan darah


Pasien dibaringkan di tempat tidur, kepala dimiringkan ke salah satu sisi
Tungkai bawah ditinggikan (lebih tinggi dari posisi kepala)
Longgarkan baju dan ikat pinggang pasien
Minta pasien untuk menarik nafas panjang
Minta bantuan kepada dokter
Jika pasien belum sempat dibaringkan, minta pasien menundukkan kepala

diantara kedua kakinya dan menarik nafas panjang.


b. Hematoma
Terjadi karena :
o
o
o
o
o
o

Vena terlalu kecil untuk jarum yang dipakai


Jarum menembus seluruh dinding vena
Jarum dilepaskan pada saat tourniquet masih dipasang
Tusukan berkali-kali
Tusukan tidak tepat
Pembuluh darah yang rapuh

Cara mengatasi :
Jika terjadi hematoma lepaskan jarum dan tekan dengan kuat sehingga darah
tidak menyebar dan mencegah pembengkakan. Apabila ingin cepat hilang, kompres
dengan air hangat seraya diurut dan diberi salep trombopop.
c. Petechiae
Bintik kecil merah dapat muncul karena pendarahan kapiler di bawah kulit. Ini
karena kelainan pembuluh darah. Jika terjadi setelah dibendung dapat dikarenakan
pembendungan yang terlalu lama.
d. Nyeri pada bekas tusukan
Rasa nyeri berlangsung tidak lama sehingga tidak memerlukan penanganan
khusus. Nyeri bisa timbul akibat alkohol yang belum kering atau akibat penarikan
jarum yang terlalu kuat.
6

Cara pencegahan :
o Setelah kulit didesinfeksi, tunggu alkohol hingga mengering sebelum
dilakukan pengambilan darah.
o Penarikan jarum jangan terlalu kuat.
e. Vena kolaps
Terjadi karena penarikan plunger terlalu lama atau terlalu cepat.
f. Pendarahan berlebihan
Pendarahan yang berlebihan terjadi karena terganggunya sistem koagulasi
darah pada pasien. Hal ini bisa terjadi karena :
o Pasien melakukan pengobatan dengan obat antikoagulan sehingga menghambat
pembekuan darah.
o Pasien menderita gangguan pembekuan darah.
o Pasien mengidap penyakit hati kronis sehingga pembentukan protrombin dan
fibrinogennya terganggu.
Cara mengatasi :
o Menekan kuat pada tempat pendarahan
o Memanggil dokter untuk penanganan selanjutnya
g.

Kerusakan vena
Terjadi karena pengambilan darah yang berulang kali pada tempat yang sama
sehingga meyebabkan kerusakan dan peradangan setempat. Hal ini mengakibatkan
pembuluh darah menutup.Pencegahannya dengan menghindari pengambilan berulang
kali pada tempat yang sama.

h. Komplikasi neurologis
Komplikasi neurologis dapat bersifat lokal karena tertusuknya syaraf dilokasi
penusukan. Hal ini dapat menimbulkan keluhan nyeri atau kesemutan yang menjalar
ke lengan. Serangan kejang juga dapat terjadi.
Cara mengatasi :
o Hentikan pengambilan darah
o Baringkan pasien dengan kepala dimiringkan ke salah satu sisi, bebaskan
jalan nafas dan hindari agar lidah tidak tergigit
o Hubungi dokter
i. Terambilnya darah arteri
7

Salah penusukan dapat mengakibatkan terambilnya darah arteri karena


phlebotomis menusuk pembuluh darah arteri. Jadi, seorang phlebotomis harus bisa
menentukan pembuluh darah yang akan ditusuk.
j. Alergi
Alergi bisa terjadi karena bahan-bahan yang dipakai dalam phlebotomi,
misalnya alergi terhadap antiseptik dan plester. Gejala alergi bisa ringan atau berat,
berupa kemerahan dan gatal.
Phlebotomis hendaknya menanyakan apakah pasien memiliki riwayat alergi
terhadap bahan-bahan yang akan digunakan dalam proses pengambilan darah. Jika
pasien alergi terhadap alkohol 70% maka dapat diganti dengan larutan iodium atau
dengan betadine.
Cara mengatasi :
o
o

Tenangkan pasien dan beri penjelasan


Panggil dokter untuk penanganan selanjutnya

D. Faktor yang harus diperhatikan


Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan seorang phlebotomis dalam pengambilan
darah, antara lain :
1. Keadaan basal
Keadaan basal mengacu pada kondisi fisik pasien di pagi hari. Pasien dianjurkan
untuk puasa kurang lebih 12 jam. Keadaan ini biasa dipakai untuk penentuan nilai
normal.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keadaan basal :

Usia
Jenis kelamin
Kehamilan
Dehidrasi
Diet
Obat-obatan
Stress

2. Persyaratan pemeriksaan
a. Persiapan pasien
Beritahukan kepada pasien tentang hal-hal yang perlu dilakukan dan tidak
perlu dilakukan oleh pasien sebelum dilakukan pengambilan darah.
8

Persiapan secara umum, seperti : puasa selama 10-12 jam sebelum


pengambilan darah (untuk pemeriksaan glukosa darah puasa, cholesterol, trigliserid,
ureum, dan kreatinin) tidak melakukan aktifitas fisik yang berat, tidak merokok, tidak
minum alkohol.
b. Waktu pengambilan
Waktu pengambilan darah pada pasien harus dicatat karena dapat digunakan
untuk menentukan hasil dari pemeriksaan tersebut. Jika terjadi kesalahan hasil maka
dapat dilacak letak kesalahannya dari waktu pengambilan.
c. Peralatan yang digunakan
Pastikan bahwa semua peralatan yang digunakan untuk proses phlebotomi
sudah tersedia di dekat phlebotomis. Peralatan yang digunakan harus memenuhi
persyaratan, seperti :

Bersih
Kering
Tidak mengandung bahan kimia
Steril
Sekali pakai (disposable)
Wadah tidak pecah atau retak

d. Antikoagulan
Antikoagulan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah
pembekuan darah. Beberapa antikoagulan yang sering dipakai adalah EDTA
(Ethylene Diamine Tetraacetic Acid), citrat, dan heparin. Pemilihan antikoagulan
harus sesuai dengan jenis pemeriksaan dan takarannya harus sesuai.
3. Faktor teknik

Pada umumnya vena yang baik adalah vena yang besar, letaknya superfisial, dan

terfiksasi.
Lokasi penusukan harus diperhatikan. Phlebotomis tidak boleh menusuk pada bagian
yang terdapat luka, hematoma, infeksi, oedema. Untuk pengambilan darah, selain tidak
dilakukan pengambilan pada tempat-tempat tersebut juga tidak boleh dilakukan pada

daerah yang sedang dipasang infus.


Pada waktu penusukan posisi kemiringan jarum yang dibentuk adalah 15 - 20.
Bila tusukan sudah dalam tetapi tidak mengenai vena maka jangan sekali-kali
membelokkan jarum kearah vena karena dapat menimbulkan rasa sakit. Tindakan yang
benar adalah jarum ditarik jangan sampai lepas kemudian ditusukkan ke arah vena.
9

Pembendungan vena dengan tourniquet jangan terlalu lama karena dapat menyebabkan

hemokonsentrasi setempat.
Jangan melepas tourniquet sesudah jarum dilepaskan karena menyebabkan hematoma.
Kulit yang ditusuk masih basah oleh alkohol maka dapat menyebabkan darah
hemolisis.

4. Pemeriksaan CITO
Pengambilan dan informasi harus segera ( medical emergency )
Spesimen terjadwal (glukosa 2 jam PP, GTT, Cortisol, Enzim-enzim jantung).
5. ASAP ( As Soon As Possible )
Hasil pemeriksaan segera diminta oleh dokter tetapi kondisi pasien tidak kritis.
E. Pemeriksaan Menggunakan Specimen Darah
1. SGPT (serum glutamik piruvik transaminase) atau alanin amonisferase
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kerusakan hepatoseluler.
2. Albumin
Pemeriksaan albumin bertujuan untuk mendeteksi kemampuan albumin yang
disintesa oleh hepar. Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan gangguan hepar seperti
sirosis, luka bakar, gangguan ginjal atau kehilangan protein dalam jumlah yang banyak.
3. Asam urat
Pemeriksaan asam urat bertujuan untuk mendeteksi penyakit pada ginjal, anemia
asam folat, luka bakar dan kehamilan. Terjadi peningkatan pada asam urat dapat
diindikasikan penyakit seperti leukemia, kanker, eklamsia berat, gagal ginjal, malnutrisi
dan lain-lain.
4. Bilirubun (total, direc dan indirek)
Pemeriksaan bilirubin bertujuan untuk mendeteksi kadar bilirubin yang dapat
mendeteksi adanya iktetik obstruktif oleh karena batu atau neoplasma, hepatitis, sirosis
pada bilirubin direk. Pada bilirubin direk dapat mendeteksi adanya anemia, malaria, dan
lain-lain.
5. Estrogen
Pemeriksaan estrogen bertujuan untuk mendeteksi disfungsi ovarium, gejala
menopause dan pasca menopause, stress psikogenik. Nilai estrogen meningkat dapat
diindikasikan adanya tumor ovarium, adanya kehamilan dan lain-lain.
6. Gas darah arteri
10

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi gangguan keseimbangan asam basa


yang disebabkan oleh karena gangguan repiratorik atau gangguan metabolic.
7. Gula darah puasa
Pemeriksaan gula darah puasa bertujuan untuk mendeteksi adanya diabetes, atau
reaksi hipoglikemik.
8. Gula darah posprandial
Pemeriksaan gula darah posprandial bertujuan untuk mendeteksi adanya diabetes,
atau reaksi hipoglekemik, yang dilakukan setelah makan.
9. HCG atau gonadotropin korionik manusia
Pemeriksaan HCG bertujuan untuk mendeteksi adanya kehamilan, karena HCG
adalah hormone yang diproduksi oleh plasenta.
10. Hematokrit
Pemeriksaan hematokrit bertujuan untuk mengukur konsentrasi eritrosit dalam
darah, yang dapat mendeteksi adanya anemia, kehilangan darah, gagal ginjal kronik,
defisiensi vitamin B dan C. apabila terjadi peningkatan kadar hematokrit dapat
diindikasikan adanya dehiudrasi, asidosis, trauma, pembelahan dan lain-lain.
11. Trombosit
Pemeriksaan trombosit digunakan untuk mendeteksi adanya trombositopenia yang
berhubungan dengan perdarahan, dan trombositosis yang menyebabkan peningkatan
pembekuan.
12. Masa tromboplastin parsial (PPT), masa tromboplastin parsial teraktivasi (APTT)
Pemeriksaan PPT/APTT bertujuan untuk mendeteksi defisiensi factor pembekuan
kecuali VII, VIII, mendeteksi variasi trombosit, dan memonitor terapi heparin.
13. Pemeriksaan lain yang menggunakan specimen darah
Antara lain pemeriksaan kadar elektrolit dalam darah, masa protombin,
progesterone, prolakstin, serum kreatinin, kortisol, kolesterol, T3, T4 dan lain-lain.
14. Hemoglobin
Pemeriksaan hemoglobin merupakan pemeriksaan kadar hemoglobin dengan cara
membandingkan secara visual warna darah dengan alat standar yang dapat bertujaun
untuk mendeteksi adanya anemia. Terjadi peningkatan dapat diindikasikan adanya
dehidrasi, penyakit paru obtruksi menahun, gagal jantung kongestif dan lain-lain.
11

12

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Specimen darah vena adalah suatu cara pengambilan darah vena yang diambil dari vena
dalam fossa cubiti, vena saphena magna / vena supervisial lain yang cukup besar untuk
mendapatkan sampel darah yang baik dan representative dengan menggunakan spuit.
Faktor

yang dapat menghambat pengambilan specimen ini diantaranya factor fisik

pasien, factor psikologis, dan factor teknik. Sedangkan factor yang harus diperhatikan dalam
pengambilan specimen darah vena adalah keadaan basal pasien, syarat pemeriksaan, factor
teknik, pemeriksaan CITO.
Adapun pemeriksaan yang menggunakan sampel darah adalah albumin, asam urat,
bilirubin, trombosit, hemoglobin, dan lain-lain.
B. Saran
Dalam mengambil specimen darah khususnya pada darah harus teliti dan berhati-hati
untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kepada pasien.

13

DAFTAR PUSTAKA
1. Hidayat, A. A. A dan Uliyah, Musrifatul. 2011. Praktik Kebutuhan Dasar
Manusia. Surabaya: Health Books Publising.
2. Ns. Desiyani Nani, SKep.2013. Pengambilan Spesimen Darah, Sekret Vaginal (Pap
Smear), Sputum, Urin, dan Faeces. Diambil dari
http://kedokteran.unsoed.ac.id/Files/Kuliah/modul%20/Genap%20II%20%20Pengambilan%20Sepesimen%20darah.pdf. 24 November 2013. Pukul
12.27 WITA.
3. Ririn Astuti. 2013. Pengambilan Darah Vena. Diambil dari
http://dielovt.blogspot.com/2013/04/pengambilan-darah-vena.html. 24
November 2013. pukul 12. 30 WITA.
4. Zia. 2013. Sop Cara Pengambilan Sampel Darah Vena (Vena Punctie) Dengan
Spuit. Diambil dari: http://nszia.blogspot.com/2011/02/sop-cara-

pengambilan-sampel-darah-vena.html . 24 November 2013. Pukul


12.40 WITA.

14