Anda di halaman 1dari 28

PRESENTASI KASUS

TUMOR JINAK MAMMAE


(Kelainan Fibrokistik)

Nn. D, 24 tahun datang dengan keluhan benjolan di


payudara kiri

DISUSUN OLEH
TISA ZULFIA
NIM 030.10.267
PEMBIMBING
Dr. HENGKY SETYAHADI, SP.B, FINACS. FICS

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RUMAH SAKIT TNI AL Dr. MINTOHARDJO

STATUS PASIEN PRESENTASI KASUS


KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RUMAH SAKIT TNI AL Dr. MINTOHARDJO
PERIODE 27 OKTOBER 2014 03 JANUARI 2015

I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nomor RM

: 12421

Nama

: Nn. Dian Pramitarini

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 24 tahun

Alamat

: komplek btn RT 007/005 Kembangan utara

Agama

: Islam

Status marital

: Belum menikah

Tanggal Masuk RS

: 14 Januari 2015

Ruang

: Pulau Bintan

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 15 januari 2015
pada pukul 06.00 WIB di ruang pulau Bintan kamar 10 Rumkital Dr.
Mintohardjo.
KELUHAN UTAMA
Adanya benjolan pada payudara sebelah kiri sejak 1 minggu sebelum
masuk rumah sakit
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Os mengeluhkan adanya benjolan satu buah di payudara sebelah kiri. Os
baru menyadari benjolan tersebut 1 minggu SMRS. Benjolan kurang
lebih sebesar bola pimpong. Benjolan teraba kenyal, tidak terasa sakit bila
dipegang dan mudah digerakkan. Os tidak mengeluhkan adanya
pembesaran pada payudara dan nyeri payudara saat menstruasi. Os tidak
mengeluhkan adanya, pusing, mual dan muntah. Os juga tidak

mengeluhkan adanya cairan yang keluar dari putting susu. BAK dan BAB
normal. Os mengaku sebelumnya tidak ada luka dan riwayat operasi
didaerah timbulnya benjolan.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Riwayat penyakit dalam dengan keluhan sama :


Sebelumnya Os pernah memiliki Keluhan yang sama yakni empat
benjolan pada kedua payudara kiri dan kanan 6 tahun yang lalu.
Kedua benjolan teraba sebesar kelereng dan mudah digerakkan serta

tidak nyeri bila dipegang.


Riwayat operasi
:
Os juga mengaku telah melakukan operasi dengan bius umum
terhadap benjolan tersebut di sebuah klinik namun tidak memiliki

hasil pemeriksaan patolagi dari benjolan tersebut.


Riwayat hipertensi
: Disangkal
Riwayat diabetes melitus
: Disangkal
Riwayat alergi makan dan / atau obat-obatan : Disangkal
Riwayat asma
: Disangkal
Riwayat penyakit jantung
: Disangkal

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Riwayat Penyakit Serupa


Riwayat Penyakit Keganasan
Riwayat hipertensi
Riwayat diabetes melitus
Riwayat alergi makanan dan / atau obat-obatan
Riwayat asma
Riwayat penyakit jantung

: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal

RIWAYAT KEBIASAAN DAN KEHIDUPAN PRIBADI

Riwayat merokok
: (-)
Riwayat minuman alkohol

: (-)

RIWAYAT PENGOBATAN
Pasien tidak mengkonsumsi obat apapun untuk mengatasi penyakitnya.
Pasien juga tidak mengkonsumsi pil KB.

RIWAYAT OBSTETRI & GINEKOLOGI


Menstruasi pertama pasien usia 11 tahun dan masih mengalami menstruasi
sampai saat ini. Menstruasi teratur 28 hari dengan lama setiap menstruasi
5-7 hari. Os menyangkal adanya nyeri berlebihan pada payudara saat
mengalami menstruasi.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesadaran

: Compos mentis

Kesan sakit

: Tampak sakit ringan

Kesan gizi

: Cukup

Tanda vital
-

Tekanan darah

: 100/70 mmHg

Nadi

: 84 x/menit

Suhu

: 36,5C

Pernafasan

: 20x/menit

Status gizi
-

TB
BB
BMI

: 159 cm
: 69 kg
:
69 kg/m2 27.3 kg/m2
2,528

Status generalis

Kulit
-

Warna

: warna kulit sawo matang, tidak pucat, tidak


ikterik,

tidak

sianosis,

tidak

terdapat

hipopigmentasi ataupun hiperpegmentasi


-

Lesi

Rambut : Tumbuh rambut pada permukaan kulit,

: Tidak terdapat efloresensi yang bermakna

berwarna hitam, distribusi merata

Tugor

: Tugor baik

Kepala
- Kelapa normocephali, wajah simetris, tidak ada deformitas
- Rambut berwarna hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut
Mata
-

Exophtalmus

-/-

Enophtalmus

-/-

Oedem palpebral

-/-

Konjungtiva

-/-

anemis
Selera ikterik

-/-

Injeksi

-/-

konjungtiva
Pupil

Bulat, isokor, RCL +/+, RCTL +/+


miosis kanan = kiri

Hidung
- Septum: Lurus ditengah
- Mukosa
: Tidak hiperemis
- Cavum nasi: Secret -/-, pendarahan -/-, benda asing -/Mulut
- Bibir
: pucat (-), ikterik (-), kering (-)
- Oral hygiene : cukup baik
- Faring
: tidak hiperemis
- Lidah
: normoglossi, tidak kotor
- Tonsil
: T1 T1 tenang
Telinga
- Normotia
- Liang telinga
: sekret -/-, serumen -/-, darah -/- Nyeri tekan os mastoid
: -/- Nyeri tekan tragus
: -/- Nyeri tarik
: -/Leher
- Trakea : lurus ditengah
- KGB : tidak ada pembesaran KGB
- Tiroid : tidak ada pembesaran tiroid
- Tidak terdapat memar/jejas
Thoraks

o Inspeksi dinding dada


- Warna kulit sawo matang, tidak ikterik, tidak tampak dilatasi
vena, tidak tampak efloresensi yang bermakna
- Sternum bentuk normal, mendatar
- Tulang iga normal, sela iga tidak melebar,retraksi sela iga(-)
o Paru
-

Inspeksi

: gerak napas dada kanan dan kiri simetris

Palpasi

: Pergerakan

nafas

kedua

hemithorax

simetris, vocal fremitus kanan dan kiri


sama teraba kuat
-

Perkusi

: perkusi pada dinding dada kanan dan kiri


didapatkan suara sonor

Auskult
asi

: Suara napas vesikuler terdengar sama


pada kedua hemithorax, wheezing -/-,
ronchi -/-

o Jantung
-

Inspeksi

: tidak tampak pulsasi ictus cordis pada


dinding dada

Palpasi

: pulsasi ictus cordis teraba teratur di ICS


5,1 cm medial lina midklavikula sinistra

Perkusi

: Batas
kanan
Batas atas

: redup pada ICS 3-5


linea sternalis kanan
: Terdengar
ICS

redup
3

di

linea

parasternalis kiri
Batas kiri

: Suara redup di ICS 5,1


cm

medial

linea

midklavikularis kiri
-

Auskultasi

: BJ I & II regular, murmur (-), gallop(-),


bunyi jantung tambahan (-)

Abdomen
-

Inspeksi

: warna kulit sawo matang, bentuk normal


simetris, smilling umbilicus (-), dilatasi
vena (-) efloresensi yang bermakna (-),
sagging of the flanks (-)

Auskultasi

: BU (+) 3x/menit. Normal

Perkusi

: timpani pada seluruh abdomen, shifting


dullness (-)

Palpasi

: supel, rigiditas (-), defens muscular (-),


nyeri tekan (-), massa (-), pembesaran
hepar (-), tugor kulit baik

Punggung
- Tidak ada kelainan bentuk pada vertebrae
- Tidak terdapat nyeri pada perabaan vertebra
- Tidak terdapat nyeri pada ketok pada sudut costovertebra

Ekstremitas
o Atas

Pemeriksaan

Kanan

Kiri

Kulit

Tidak ada efloresensi

Tidak ada efloresensi

Tonus

Tonus baik

Tonus baik

Trofit

Eutrofit

Eutrofit

Edema

Tida ada edema

Tidak ada edema

Deformitas

Tidak ada deformitas

Tidak ada deformitas

Nyeri tekan

Tidak ada nyeri tekan

Tidak ada nyeri tekan

Bawah
Pemeriksaan

Kanan

Kiri

Kulit

Tidak ada efloresensi Tidak ada efloresensi

bermakna

bermakna

Tonus

Tonus baik

Tonus baik

Trofit

Eutrofit

Eutrofit

Edema

Tida ada edema

Tidak ada edema

Deformitas

Tidak ada deformitas

Tidak ada deformitas

Nyeri tekan

Tidak ada nyeri tekan

Tidak ada nyeri tekan

Status Lokalis
Regio Mamae Dextra

Inspeksi (look) : Bentuk simetris kanan dan kiri, massa / benjolan (-),
retraksi puting susu (-), peau dorange (-), radang (-), ulserasi (-), terdapat

scar (bekas luka) pada bagian atas dengan ukuran 2,5 cm.
Palpasi (feel) : Massa / benjolan (-), suhu kulit normal, sekret dari papila
mamae saat ditekan (-)

Regio Mamae Sinistra

Inspeksi (look) : Bentuk dan ukuran simetris kanan dan kiri, sekret (-),
retraksi puting susu (-), peau dorange (-), radang (-), ulserasi (-),terdapat

scar (bekas luka) pada bagian atas dengan ukuran 2,5 cm.
Palpasi (feel) : Teraba sebuah benjolan di payudara kiri kuadran lateral
bawah, ukuran 5x4x3 cm. Konsistensi kenyal, bergerenjel-gerenjel, bebas
digerakkan dan tidak melekat ke jaringan sekitarnya, tidak nyeri pada saat
di gerakkan. Tidak ada keluar cairan dari putting payudara ketika ditekan.

Regio Axilla Dextra dan Sinistra


Inspeksi

: Tidak terlihat benjolan

Palpasi

: Tidak teraba benjolan

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.

Laboratorium

Tanggal Pemeriksaan
12/01/12
Hasil
Hematologi

Nama test

Hemoglobin
Trombosit
Eritrosit
Hematokrit
Leukosit
Differensial:
Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Limfosit
Monosit
LED

Satuan

Nilai normal

12
344
4,1
38
9800

g/dL
ribu/uL
juta/uL
%
/mm3

12-14
150-400
4-6
37-42
5.000-10.000

0
1
2
69
21
5
15

%
%
%
%
%
%
mm/jam

0
03
26
50 70
20 40
28
<20

menit
menit

1-3
5 - 15

g/dl

<200

Hemostatis
Masa Pendarahan
Masa Pembekuan

200
1200
Kimia Klinik

Glukosa darah
Glukosa darah
sewaktu
2.

91

Foto thorax
o Sinus, diafragma, plura dan cor baik
o Aorta baik tak melebar
o Pulmo: corakan Bronkovaskuler dan hilus baik. Tak tampak
kesuraman di kedua paru.
o Tulang tulang dan soft tissue baik
Kesan

: cord an pulmo tak tampak kelainan

V.

RESUME
Pasien Nn. D datang dengan keluhan adanya benjolan satu buah di payudara
sebelah kiri. Os baru menyadari benjolan tersebut 1 minggu SMRS.
Benjolan kurang lebih sebesar bola pimpong. Benjolan teraba kenyal padat,
tidak terasa sakit bila dipegang dan mudah digerakkan. Os tidak
mengeluhkan adanya pembesaran pada payudara dan nyeri payudara saat
menstruasi. Os tidak mengeluhkan adanya, pusing, mual dan muntah,
namun 2 hari sebelum masuk rumah sakit os terkena flu. Os juga tidak
mengeluhkan adanya cairan yang keluar dari puting susu. Pada pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang tidak ditemukan adanya kelainan. Pada
status lokalis didapatkan Palpasi (feel) : Teraba sebuah benjolan di payudara
kiri kuadran lateral bawah, ukuran 5x4x3 cm. Konsistensi kenyal,
bergerenjel-gerenjel, bebas digerakkan dan tidak melekat ke jaringan
sekitarnya, tidak nyeri pada saat di gerakkan. Tidak ada keluar cairan dari
putting payudara ketika ditekan.

VI.

DIAGNOSIS KERJA
Diagnosis Kerja : Tumor mammae sinistra susp Benigna
DD :

Kelainan fibrokistik
Fibroadenoma mammae
Tumor Phyllodes
Ca mammae

VII. PENATALAKSANAAN
1. Tindakan Eksisi + Biopsi (Tanggal 15-01-2015)
Operator

: dr. Hengky Setyahadi,Sp.B.FINACS. FICS

Anastesi

: dr. Liempy Sp.An

Cara pembiusan

: General anastesi

Diagnosis pra bedah

: Tumor mamae sinistra

Posisi pasien

: Supine

10

Laporan operasi:
1. Pasien posisi supine dengan general anastesi
2. Dilakukan prosedur aseptik dan antiseptik, tutup dengan duk
steril
3. Insisi circumareolar (diperdalam, perdarahan dirawat oleh
4.
5.
6.
7.
8.
2.

couter, flap kulit diangkat ke atas. identifikasi tumor)


Dilakukan eksisi, lumpectomy
Perdarahan dirawat
Pasang drainage subcutaneus
Luka operasi dijahit dan ditutup kasa steril
Operasi selesai

Medikamentosa post operasi


-

Infus RL 30 tetes/mnt

Ceftriaxon 1 gr (1x)

Ketorolac 1 amp (1x)

Apabila sadar penuh obat-obatan ganti oral : ciprofloxacin 2x500


dan asam mefenamat 3x500

3. Pemeriksaan lanjutan : Pemeriksaan Histopatologi (20-01-2015)


Diagnosa

Tumor mammae sinistra

Makroskopik

: Jaringan Coklat kenyal terdapat rongga ukuran


5x5x3 cm

Mikroskopik

: Sediaan payudara kiri terdiri atas proliferasi luas


jaringan ikat padat kolagen dengan kelompokan
asinus/duktulus, memberikan gambaran adenosis.
Sebagian asinus/duktulus berdilatasi kistik, sebagian
mengalami metaplasia Apokrin.

Kesimpulan

: Gambaran histologik sesuai dengan Fibrocystic


Diseases of the Breast. Tidak tampak tanda ganas/
khas.

VIII. DIAGNOSIS
Fibrocystic Deseases of the breast (Kelainan Fibrokistik)

11

IX.

FOLLOW UP
Pemeriksaan

Keluhan
Keadaan
umum
Kesadaran
Tanda vital
Kepala
Mata
THT
Paru
Jantung
Abdomen
Ekstremitas

Tanggal
15 januari 2015
Nyeri pada luka bekas operasi
Sakit ringan
Compos mentis
TD 110/70 mmHg, Nadi 96 x/m, RR 20 x/m, Suhu
36,7 oC
Normocephali
CA -/-; SI -/-; oedem -/Tak ada keluhan
Suara nafas vesikuler +/+, wheezing -/-, rhonki -/S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Datar, BU (+), supel, nyeri tekan (-), nyeri tekan lepas
(-), nyeri tekan daerah lumbal/costovertebral (-)
Akral hangat ke-4 ekstremitas

A
P

Diagnosis
Pengobatan

Post op excisi tumor mammae h-1


ciprofloxacin 2x500 dan asam mefenamat 3x500

12

TINJAUAN PUSTAKA
KELENJAR PAYUDARA

1.

ANATOMI
Mammae terdiri dari berbagai struktur yaitu parenkim epitelial, lemak,

pembuluh darah, saraf, saluran getah bening, otot dan fascia. Parenkim epitelial
dibentuk oleh kurang lebih 15-20 lobus yang masing-masing mempunyai saluran
tersendiri untuk mengalirkan produknya dan bermuara pada puting susu. Tiap
lobus dibentuk oleh lobulus-lobulus yang masing-masing terdiri dari 10-100 asini
grup. Lobulus-lobulus ini merupakan struktur dasar dari mammae1.

Jaringan ikat subcutis yang membungkus kelenjar mammae membentuk


septa diantara kelenjar dan berfungsi sebagai struktur penunjang dari kelenjar
mammae. Mammae dibungkus oleh fascia pectoralis superficialis dimana
permukaan anterior dan posterior dihubungkan oleh ligamentum Cooper yang
berfungsi sebagai penyangga1,2.
Setengah bagian atas mammae, terutama quadran lateral atas mengandung
lebih banyak komponen kelenjar dibandingkan dengan bagian lainnya. Mammae
terletak diantara fascia superficialis dinding thorax anterior dan fascia profunda
(pectoralis), antara mammae dan dinding thorax terdapat bursa retromammaria

13

yang merupakan ruang antara fascia superficialis dengan fascia profunda


(pectoralis), dengan adanya bursa ini menjamin mobilitas mammae terhadap
dinding thorax1.

Pada wanita, mammae berkembang menjadi susunan yang kompleks. Pada


wanita dewasa, mammae terletak di anterior dinding thorax setinggi costa 2 atau 3
sampai dengan costa ke 6 atau ke 7, dan terbentang antara linea parasternalis
sampai dengan linea axillaris anterior atau media. Mammae pada wanita dewasa
berbentuk hemisphere yang khas dengan ukuran, kontur, konsistensi dan densitas
yang sangat bervariasi, dipengaruhi oleh faktor-faktor hormonal, genetic dan diet1.
Diameter rata-rata mammae sekitar 10-12 cm dan tebalnya antara 5-7 cm.
Berat mammae bervariasi yaitu antara 150-225 gram pada mammae nonlaktasi,
namun dapat mecapai 500 gram pada mammae laktasi1.

14

Jaringan payudara terletak diantara jaringan lemak subcutaneous dan fascia


pectoralis mayor dan otot-otot seratus anterior. cabang-cabang kelenjar bening dan
pembuluh darah melewati ruang retromammary diantara permukaan posterior
jaringan payudara dan fascia M.pectoralis mayor; oleh karena itu, tindakan
mastectomy total yang benar adalah dilakukan di bawah fascia M. pectoralis. Dari
dermis sampai fascia yang terdalam terdapat ligamentum Cooper yang memberi
rangka untuk payudara. Oleh karena itu, jika terdapat tumor pada payudara yang
melibatkan ligamentum Cooper dapat menyebabkan penyusutan (penarikan) pada
kulit dan retraksi kulit 2.
Lebih dalam lagi dari M. pectoralis mayor terdapat M. pectoralis minor. M.
pectoralis minor dilapisi oleh fascia clavipectoral yang menyatu dengan fascia
axilla.
Vaskularisasi mammae terdiri dari arteri dan vena yaitu:
1. Arteri
a.

Cabang-cabang perforantes A. mammaria interna (A.

thoracica interna)
b.

Cabang lateral dari A. intercostalis posterior

c.

Cabang-cabang dari A. axillaris

d.

A.

thoracodorsalis

yang

merupakan

cabang

A.

subscapularis
2. Vena
a.

Cabang-cabang perforantes V. thoracica interna

15

b.

Cabang-cabang V. axillaris yang terdiri dari V. thoracoacromialis, V. thoracica lateralis dan V thoraco dorsalis

c.

Vena-vena kecil yang bermuara pada V. Intercostalis


Aliran limfe kelenjar payudara terutama mengalir ke axial dan kelenjar

limfe mammaria interna. Kelenjar limfe fosa axilaris menerima terutama 75% 85% dan sebagian lgi ke parasternal (mammaria interna) 2,3
Saluran limfe kelenjar mammae terutama berjalan mengikuti vena kelenjar
mammae, drainasenya terutama melalui 3 :
1. Bagian lateral dan sentral masuk ke kelenjar limfe fosa aksilaris
2. Bagian medial masuk ke kelenjar limfe memmaria interna.
3. Saluran limfe subkutis kelenjar mammae umumnya masuk ke pleksus
limfatik subareolar.
Persarafan kulit mammae bersifat segmental dan berasal dari segmen
dermatom T2 sampai T6. Jaringan kelenjar mammae sendiri diurus oleh sistem
saraf otonom. Pada prinsipnya inervasi mammae berasal dari N. intercostalis IV,
V, VI dan cabang dari plexus cervicalis 2.
2.

FISIOLOGI
Payudara mengalami tiga macam perubahan yang dipegaruhi oleh hormon.

Perubahan pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa
fertilitas, sampai ke klimakterium, dan menopause. Sejak pubertas, pengaruh
estrogen dan progesteron yang diproduksi oleh ovarium dan juga hormon
hipofise, telah menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya asinus 2.
Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur haid. Sekitar hari ke
8 haid, payudara jadi lebih besar dan beberapa hari sebelum haid berikutnya
terjadi pembesaran maksimal. Kadang kadang timbul benjolan yang nyeri dan
tidak rata. Selama beberapa hari menjelang haid, payudara menjadi tegang dan
nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama palpasi, tidak mungkin dilakukan.

16

Pada waktu itu, pemeriksaan foto mamografi tidak berguna karena kontras
kelenjar terlalu besar. Begitu haid mulai, semuanya berkurang 2.
Perubahan ketiga terjadi pada masa hamil dan menyusui. Pada kehamilan,
payudara menjadi besar karena epitel duktus lobus dan duktus alveolus
berproliferasi, dan tumbuh duktus baru 2.
Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu
diproduksi oleh sel sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui
duktus ke puting susu 2.

17

TUMOR JINAK MAMMAE


Lesi jinak payudara adalah semua kelainan non neoplasma maupun
neoplasma tidak ganas. Tumor Payudara adalah benjolan pada payudara yang
terbentuk akibat sel-sel payudara yang membelah dan menggandakan diri terlalu
cepat. Tumor payudara dapat bersifat jinak dan ganas. Tumor jinak payudara tidak
menyebar ke jaringan sekitar maupun ke organ tubuh lain.
1.

Kelainan Fibrokistik
1) Definisi
Perubahan fibrokistik (Fibrocystic changes/FCCs) merupakan kelainan
jinak payudara yang sering ditemukan 4. Perubahan fibrokistik meliputi
perubahan yang terjadi pada kelenjar (lobulus dan duktus) serta jaringan
stroma.
2) Insidensi
Sering dialami oleh wanita premenopause yang berusia antara 20-50
tahun 4.
3) Patogenesis
Patogenesis fibrokistik belum diketahui secara pasti, tetapi keseimbangan
hormonal, di mana estrogen lebih dominan dibandingkan progesteron
memiliki peranan penting dalam perkembangan penyakit ini 4.
4) Gambaran Klinis
Fibrokistik merupakan massa di payudara yang bersifat asimptomatik
dan sering ditemukan secara kebetulan. Pada kelainan ini terdapat
benjolan fibrokistik biasanya multipel, adanya kista, fibrosis, benjolan
dengan konsistensi lunak, bisa juga padat kenyal, mudah digerakkan,
terdapat penebalan, dan kadang terasa nyeri. Kista dapat membesar dan
terasa sangat nyeri selama periode menstruasi karena hubungannya
dengan perubahan hormonal tiap bulannya. Wanita dengan kelainan
fibrokistik mengalami nyeri payudara siklik berkaitan dengan adanya
perubahan hormon estrogen dan progesteron. Biasanya payudara teraba
lebih keras dan benjolan pada payudara membesar sesaat sebelum
menstruasi. Gejala tersebut menghilang seminggu setelah menstruasi
selesai. Benjolan biasanya menghilang setelah wanita memasuki fase

18

menopause. Pembengkakan payudara biasanya berkurang setelah


menstruasi berhenti.
Terdapat fuktuasi ukuran, massa multipel atau bilateral yang mungkin
tampak atau pun tidak di payudara dan keluar cairan serous dari puting
susu. Pasien memiliki riwayat adanya pembengkakan payudara yang
bersifat sementara ataupun nyeri di sekitar payudara 5.

a.

Tumor pada umumnya berupa massa soliter. Batas tidak jelas dengan
besar penampang bisa mencapai 2-10 cm. Konsistensi padat kenyal

b.

atau elastis
Pada potongan melintang tampak gambaran kenyal berupa karet,
berwarna putih kelabu dengan didapatkan adanya bintik-bintik kecil

merah muda kekuningan yang hampir tidak tampak


5) Histopatologis
Fibrokistik adalah kelainan akibat dari peningkatan dan distorsi
perubahan siklik payudara yang terjadi secara normal selama daur haid.
Perubahan fibrokistik dibagi menjadi perubahan nonproliferatif dan
perubahan proliferatif. Lesi non proliferative mencakup kista dan atau
fibrosis tanpa hyperplasia sel epitel, yang dikenal dengan perubahn

19

fibrokistik

sederhana.

Lesi

proliferative

mencakup

serangkaian

hyperplasia sel epitel duktulus atau duktus banal atau atipikal serta
adenosis sklerotikans6.
LESI NON PROLIFERATIF
Perubahan nonproiferatif merupakan kelainan tipe tersering, ditandai
dengan peningkatan stroma fibrosa disertai oleh dilatasi duktus dan
pemebentukan kista dengan berbagai ukuran. Morfologi secara
makroskopis, dapat terbentuk satu kista besar di satu payudara, tetapi
perubahan ini biasanya multifocal dan sering bilateral. Daerah yang
terkena memperlihatkan nodularitas diskret da batasnya kabur. Kista
memiliki garis tengah yang bervariasi mulai dari 1-5 cm. Jika tidak
dibuka kista berwarna coklat sampai biru (blue dome cyst) dan terisi oleh
cairan serosa keruh. Secara histologist, pada kista kecil epitel lebih
kuboid hingga silindris dan kadang berlapis lapis di bebrapa tempat.
Pada kista yang lebih besar, epitel mungkin menggepeng atau bahkan
atropi total. Kadang-kadang, proliferasi epitel ringan menyebabkan
penumpukan massa atau tonjolan papilaris kecil. Kista umumnya dilapisi
oleh sel polygonal besar dengan sitoplasma eosinofilik granular serta
nucleus kecil, bulat dan sangat kromatik (disebut juga metaplasia
apokrin), hal ini hamper selalu jinak6.

HIPERPLASIA EPITEL6
Istilah hiperplasia epitel dan perubahan fibrokistik proliferatif
mencakup serangkain lesi proliferatif di dalam duktulus, dukyus
terminalis, dan kadang kadang lobulus payudara. Sebagian hiperplasia
epitel ini bersifat ringan dan teratur serta tidak membawa risiko
karsinoma, tetapi di ujung lain spektrum terdapat hiperplasia atipikal
yang memiliki risiko signifikan, setaraf dengan keparahan dan
atipikalitas perubahan. Hiperplasia epitel sering disertai oleh varian
histologik perubahan fibrokistik, tetapi bagaimanapun hiperplasia ini
berada di "garis depan" pada perubahan histologik6.

20

Hiperplasia epitel sendiri jarang menyebabkan timbulnya massa


payudara yang secara klinis diskret. Kadang kadang kelainan ini
menyebabkan mikroklasifikadi pada mamografi, yang menimbulkan
kekhawatiran akan adanya kanker. Nodularitas semacam ini biasanya
berkaitan dengan varian lain perubahan fibrokistik, namun papilomatosis
yang berlebihan mungkin menyebabkan pengeluaran discharge serosa
atau serosanguinosa dari puting6.
Gambaran makroskopik hiperplasia epitel tidak khas dan sering di
dominasi oleh perubahan fibrosa atau kistik. Secara histologis, spektrum
perubahan proiferatif hampir bersifat tak-terbatas. Kadang kadang epitel
yang berproliferasi menjorok ke dalam lumen duktus dalam bentuk
tonjolan tonjolan papilaris kecil (papilomatosis duktus). Dengan
hiperplasia, yang sebagian digambarkan oleh jumlah lapisan proliferasi
epitel intraduktus, mungkin ringan, sedang, atau berat6.
Pada beberapa kasus, sel hiperplastik mejadi monomorfik degan pola
arsitektur kompleks. Secara singkat, sel ini memperlihatkan perubahan
yang mendekati gambaran karsinoma in situ ( dijelaskan kemudian).
Hiperplasia ini disebut atipikal. Garis yang memisahkan hiperplasia
epitel tanpa atipia dari hiperplasia atipikal sulit ditentukan, sama sulitnya
denga membedakan secara jelas antara hiperplasia atipikal dan karsinoma
in situ. Namun, pembedaan ini penting yang segera akan menjadi jelas.
Hiperplasia lobulus atipikal adalah istilah yang di gunakan untuk
menjelaskan hiperplasia yang secara sitologis mirip karsinoma lobular in
situ, tetapi selnya tidak mengisi atau meluas ke lebih dari 50% unit
duktus terminalis. hiperplasia lobular atipikal berkaitan dengan
peningkatan resiko karsinoma invasif.
ADENOSIS SKLEROTIKANS6
Varian ini jarang ditemukan dibandingkan dengan kista dan
hiperplasia, tetapi signifikan karena gambaran klinis dan morfologiknya
mungkin mirip dengan karsinoma. Di lesi ini tampak mencolok fibrosis
intralobularis serta proliferasi duktulus kecil dan asinus. Walaupun secara
klinis dan histologis kadang kadang sulit di bedakan dengan karsinoma,

21

adenosis sklerotikans dilaporkan hanya sedikit memperlihatkan risiko


berubah menjadi kanker.
Secara makroskopis, lesi memiliki konsistensi keras seperti karet,
serupa dengan yang ditemukan pada kanker payudara. Secara histologis,
adenosis sklerotikans ditandai dengan proliferasi lapisan sel epitel dan sel
mioepitel di duktus kecil dan duktulus sehingga terbentuk massa dengan
pola kelenjar kecil di dalam stroma fibrosa. Kumpulan kelenjar dan
duktulusyang berproliferasi mungkin terletak berdampingan, dengan satu
atau lebih lapisan sel berkontak satu sama lain (adenosis). Adenosis
selalu disertai oleh fibrosis stroma yang mencolok, yang mungkin
menekan dan medistorsi epitel yang sedang berproliferasi, karena itu lesi
ini diberi nama adenosis sklerotikans. Pertumbuhan berlebihan jaringan
fibrosa ini mungkin menekan lumen asinus dan duktus sehingga
keduanya tampak sebagai genjel genjel sel. Pola ini secara histolohis
mungkin sulit untuk dibedakan dari karsinoma scirrhus invasif. Adanya
lapisan ganda epitel dan identifikasi elemen mioepitel mengisyaratkan
bahwa kelainannya bersifat jinak.

Hubungan Kelainan Fibrokistik dengan Karsinoma Payudara6


Hubungan perubahan fibrokistik dengan karsinoma payudara
merupakan suatu masalah medis yang kontroversial. Di buku ini hanya
dapat diajukan beberapa pernyataan ringkasan yang cukup memiliki
dasar. Secara klinis, meskipun beberapa gambaran tertentu pada
perubahan fibrokistik cenderung membedakannya dengan kanker, satusatunya cara pasti untuk membuat pembedaan ini adalah dengan biopsi
dan pemeriksaan histologik. Dalam kaitannya dengan hubungan berbagai
pola perubahan fibrokistik dengan kanker, pernyataan berikut saat
inimerupakan opini yang paling memiliki dasar.

Tidak ada atau sangat sedikit peningkatan risiko karsinoma


payudara; fibrosis,perubahan kistik (mikro atau makroskopik),
metaplasia apokrin, hiperplasia ringan.

22

Sedikit peningkatan risiko (1,5 hingga 2 kali): hiperplasia sedang


sampai

subur,papilomatosis

fibroadenoma,

terutama

duktus,

jika

adenosis

berkaiitan

sklerotikans,

denganperubahan

fibrokistik, penyakit payudara proliferatif, atau riwayat kanker


payudara dalam keluarga.

Peningkatan risiko yang bermakna (5 kali): hiperplasia atipikal,


duktulus atau lobulus. Lesi proliferatif mungkin multifokal, dan
risiko karsinoma berikutnya berlaku untuk kedua payudara.

Riwayat kanker payudara dalam keluarga dapat meningkatkan


risiko pada semua kategori (misal, menjadi sekitar sepuluh kali
lipat pada hiperplasia atipikal).Hanya sekitar 15% spesimen bipsi
memperlihatkan hiperplasia epitel atipikal.

Oleh karena itu, sebagian besar perempuan yang memiliki benjolan


terkait dengan perubahan fibrokistik dapat diyakinkan bahwa hanya
sedikit atau tidak ada peningkatan kerentanan terhadap kanker. Jelas
tampak bahwa berbagai varian perlu dibedakan. Selain itu, terdapat
ketidakpuasan dengan istilah perubahan fibrokistik tanpa kualifikasi atau,
yang lebih buruk, penyakit fibrokistik.
6) Diagnosis
Kelainan fibrokistik
mammogram,

atau

dapat
biopsi.

diketahui
Biopsi

dari

pemeriksaan

dilakukan

terutama

fisik,
untuk

menyingkirkan kemungkinan diagnosis kanker. Perubahan fibrokistik


biasanya ditemukan pada kedua payudara baik di kuadran atas maupun
bawah.
Evaluasi pada wanita dengan penyakit fibrokistik harus dilakukan
dengan seksama untuk membedakannya dengan keganasan. Apabila
melalui pemeriksaan fisik didapatkan benjolan difus (tidak memiliki
batas jelas), terutama berada di bagian atas-luar payudara tanpa ada
benjolan yang dominan, maka diperlukan pemeriksaan mammogram
dan pemeriksaan ulangan setelah periode menstruasi berikutnya.
Apabila keluar cairan dari puting, baik bening, cair, atau kehijauan,

23

sebaiknya diperiksakan tes hemoccult untuk pemeriksaan sel keganasan.


Apabila cairan yang keluar dari puting bukanlah darah dan berasal dari
beberapa kelenjar, maka kemungkinan benjolan tersebut jinak.
7) Pemeriksaan Penunjang
Mammografi dan ultrasonografi dapat digunakan untuk mengevaluasi
massa pada pasien dengan fibrokistik. Ultrasonografi dapat digunakan
pada wanita yang berusia < 30 tahun. Karena massa bersifat fibrokistik,
kadang-kadang sulit untuk dibedakan dengan karsinoma, sehingga
sebaiknya dilakukan biopsi pada lesi yang dicurigai. Sitologi dari fine
needle aspiration (FNA) mungkin berguna, tetapi jika massa yang
dicurigai tersebut bersifat non-maligna pada pemeriksaan sitologinya
dan tidak kembali normal dalam beberapa bulan, maka sebaiknya
dilakukan eksisi. Adakalanya biopsi dengan jarum atupun FNA telah
mencukupi 5.
8) Penatalaksanaan
Penyakit ini sering mengganggu ketentraman penderita karena
kecemasan akan keluhan nyerinya. Yang penting harus dipastikan
bahwa kelainan tersebut bukanlah tumor ganas. Bila ada keraguan,
terutama bila pada massa tersebut teraba bagian yang konsistensinya
berbeda, perlu dilakukan biopsi. Nyeri yang hebat dan berulang atau
penderita yang khawatir dapat menjadi indikasi eksisi untuk
meyakinkan penderita 5.
9) Prognosis
Eksaserbasi nyeri, nyeri tekan, dan pembentukan kista dapat terjadi
setiap waktu hingga menopause, dan biasanya gejalanya akan
berkurang, kecuali pada pasien yang mendapatkan terapi hormonal.
Pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan pada payudaranya
secara

teratur

setelah

mengalami

menstruasi

dan

untuk

mengkonfirmasikannya kepada klinisi jika massa tersebut tampak.


Resiko kanker payudara meningkat pada wanita dengan kondisi
fibrokistik dengan komponen epitel yang atipik atau proliferatif.

24

Sebaiknya para wanita tetap melakukan monitoring dengan baik melalui


pemeriksaan fisik dan pencitraan 5.
2.

Fibroadenoma
Fibroadenoma merupakan tumor jinak pada payudara yang paling umum

ditemukan. Fibroadenoma terbentuk dari sel sel epitel dan jaringan ikat, dimana
komponen epitelnya menunjukkan tanda tanda aberasi yang sama dengan
komponen epitel normal. Etiologi penyakit ini belum diketahui secara pasti.
Namun diperkirakan berkaitan dengan aktivitas estrogen. Fibroadenoma pertama
kali terbentuk setelah aktivitas ovarium dimulai dan terjadi terutama pada remaja
muda 7,8 .
Fibroadenoma biasa muncul pada usia antara 15 25 tahun, walaupun
terkadang adapat muncul pada usia yang lebih tua. Tumor ini biasanya tumbuh
dengan ukuran 2-3 cm namun bisa tumbuh melebihi 5 cm (giant fibroadenoma)
yang biasanya terjadi pada masa pubertas

9 .

Tumor ini dapat tumbuh di seluruh

bagian payudara, namun tersering pada quadran atas lateral. Penyakit ini bersifat
asimptomatik atau hanya menunjukkan gejala ringan berupa benjolan pada
payudara yang dapat digerakkan, sehingga pada beberapa kasus, penyakit ini
terdeteksi secara tidak sengaja pada saat pemeriksaan fisik. Penanganan
fibroadenoma adalah melalui pembedahan pengangkatan tumor. Fibroadenoma
harus diekstirpasi karena tumor jinak ini akan terus membesar.(2,7,8,10)
Secara klinik, fibroadenoma biasanya bermanifestasi sebagai massa soliter,
diskret, dan mudah digerakkan, selama tidak terbentuk jaringan fibroblast di
sekitar jaringan payudara, dengan diameter kira-kira 1 3 cm, tetapi ukurannya
dapat bertambah sehingga membentuk nodul dan lobus. Fibroadenoma dapat
ditemukan di seluruh bagian payudara, tetapi lokasi tersering adalah pada quadran
lateral atas payudara. Tidak terlihat perubahan kontur payudara. Penarikan kulit
dan axillary adenopathy yang signifikan pun tidak ditemukan 6,10
Secara makroskopis, semua tumor teraba padat dengan warna cokelat
putih pada irisan, dengan bercak bercak kuning merah muda yang
mencerminkan daerah kelenjar 10
Secara histologis, tumor terdiri atas jaringan ikat dan kelenjar dengan
berbagai proporsi dan variasi. Tampak storma fibroblastik longgar yang

25

mengandung rongga mirip duktus berlapis sel epitel dengan ukuran dan bentuk
yang beragam. Rongga yang mirip duktus atau kelenjar ini dilapisi oleh satu atau
lebih lapisan sel yang reguler dengan membran basal jelas dan utuh. Meskipun di
sebagian lesi duktus terbuka, bulat hingga oval dan cukup teratur (fibroadenoma
perikanalikularis), sebagian lainnya tertekan oleh proliferasi ekstensif stroma
sehingga pada potongan melintang rongga tersebut tampak sebagi celah atau
struktur ireguler mirip bintang (fibroadenoma intrakanalikularis) 6

3. Tumor Phylloides
Tumor filoides atau dikenal dengan kistosarkoma filoides adalah tumor
fibroepitelial yang ditandai dengan hiperselular stroma dikombinasikan dengan
komponen epitel. Tumor filodes umum terjadi pada dekade 5 atau 6. Sebagian
besar tumor filoides bersifat jinak, tetapi sekitar 30% bersifat invasif lokal dan
15% menimbulkan metastasis jauh11. Pertumbuhannya cepat dan dapat ditemukan
dalam ukuran yang besar.
Tumor filoides merupakan tumor seperti fibroadenoma dengan pertumbuhan
stroma yang cepat. Tumor ini dapat berukuran besar dan jika dilakukan eksisi
yang tidak adekuat akan menyebabkan kekambuhan 12. Lesi ini dapat bersifat jinak
ataupun ganas. Jika jinak, tumor filoides dapat dieksisi lokal pada bagian tepi
jaringan payudara. Karena tumor ini dapat menjadi besar, mastektomi sederhana
kadang-kadang diperlukan2.
4.

Papiloma Intraduktal
Lesi jinak yang berasal dari duktus lactiferus dan 75% tumbuh di bawah

areola mamma ini memberikan gejala berupa sekresi cairan berdarah dari putting
susu Konfirmasi diagnosis papiloma intraduktus dilakukan dengan duktografi.
Terapinya eksisi 2.
Biasanya terjadi pada usia 40 tahunan. Penanganannya berupa eksisi local.
Pada kasus multipel papilloma, frekuensi untuk menjadi karsinoma papilar
meningkat.
5. Galaktocele

26

Galaktokel adalah kista retensi berisi air susu. Galaktokel berbatas jelas
dan mobil, dan biasanya timbul 6-10 bulan setelah berhenti menyusui. Galaktokel
biasanya terletak di tengah dalam payudara atau di bawah putting. Tata laksana
galaktokel adalah aspirasi jarum untuk mengeluarkan secret susu dan pembedahan
baru dilakukan jika kista terlalu kental untuk bisa diaspirasi atau jika terjadi
infeksi dalam galaktokel tersebut2.

27

DAFTAR PUSTAKA
1. Kirby I.B. 2006. The Breast. In: Brunicardi F.C et all, ed. Schwartzs
Principles of Surgery. Eight edition. New York: McGraw-Hill Books
Company.
2. Sjamsuhidajat, R. dan de Jong, Wim. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.
Jakarta: EGC.
3. Desen Wan. Dalam : Buku Ajar Onkologi Klinis. Edisi 2. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta. 2008. Hal. 366 369.
4. Guray, Merth et al. 2006. Benign Breast Disease: Classification, Diagnosis,
and Management. Available from http://theoncologist.alphamedpress.
org/content/11/5/435.full.pdf. (Accessed: January 25th, 2015).
5. Doherty, Gerard M. 2009. Current Diagnosis & Treatment Surgery 13
Edition. USA: Mc Graw-Hill Companies.
6. Crum Christoper P., Lester Susan C., Cotran Ramzi S. Sistem Genitalia
Perempuan dan Payudara. Dalam : Robbins, Stanley L., Kumar Vinay.,
Cotran Ramzi S. Robbins Buku Ajar Patologi. Volume 2. Edisi 7. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2007. Hal. 793 794.
7. Kuijper Arno., Mommers Ellen C.M., Van der Wall Elsken., Van Diest Paul J.
Histopathology of Fibroadenoma of The Breast. Available from :
http://ajcp.ascpjournals.org/.
8. Roubidoux Marilyn A. Breast, Fibroadenoma. Available from :
http://emedicine.medscape.com/. Update on July 26, 2009.
9. Williams NS, Bulstrode CJK. Oconnel PR, editors. 2008. Bayley and loves
short practice surgery. 25th edition. London : Hodder Arnold.
10. Farrow Joseph H. Fibroadenoma of The Breast. Available from :
http://caonline.amcancersoc.org/.
11. Sander, M.A. 2007. Atlas Berwarna Patologi Anatomi Jilid 2. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
12. Doherty, Gerard M. 2009. Current Diagnosis & Treatment Surgery 13
Edition. USA: Mc Graw-Hill Companies.

28