Anda di halaman 1dari 13

Budidaya Tanaman Selada

LAPORAN

OLEH:
ADE OCTARINA SIAHAAN
140301041
AGROEKOTEKNOLOGI 1B

LABORATORIUM DASAR AGRONOMI


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015

Budidaya Tanaman Selada

LAPORAN

OLEH :
ADE OCTARINA SIAHAAN
140301041
AGROEKOTEKNOLOGI 1B

Laporan Sebagai Salah Satu Syarat untuk dapat Mengikuti Praktikal di


Laboratorium Dasar Agronomi Program Studi Agroekoteknologi Fakultas
PertanianUniversitas Sumatera Utara

Diketahui oleh :
Asisten Koordinator

Diperiksa oleh :
Asisten Korektor

(Ramosta Simanjuntak, SP)

( Kristina Nadapdap)
Nim: 100301

LABORATORIUM DASAR AGRONOMI


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan yang Maha Esa yang
telah melimpahkan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
Praktikum Laboratorium Dasar Agronomi ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari laporan ini adalah Budidaya Tanaman Selada yang
merupakan salah satu syarat untuk mengikuti Praktikum di Laboratorium Dasar
Agronomi, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas
Sumatera Utara, Medan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir.Rosita Sipayung,MP.
Ir.Jasmani Ginting,MP. Ir.Asil Barus,Ms. Ir.Mariati,Msc. Ir. Meirani,MP.
DR.Ir.Chairani Hanum,MP. Ferry Ezra T. Sitepu,SP,Msi. Ir.Revandi. I. M.
Damanik, Msc selaku dosen mata kuliah Dasar Agronomi, serta Abang dan Kakak
Asisten yang telah membantu dalam pembuatan laporan ini.
Penulis juga menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan
laporan ini, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca
agar dalam penulisan laporan berikutnya dapat lebih baik lagi. Penulis juga
berharap laporan ini dapat berguna sebagai informasi bagi pembaca. Akhir kata
penulis mengucapkan terima kasih.

Medan,

2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan Percobaan
Hipotesis Percobaan
Kegunaan Percobaan
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanah
Pupuk Nitrogen
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Bahan dan Alat
Metode Penelitian
PELAKSANAAN PENELITIAN
Penyiapan Lahan
Penyiapan Bahan Tanam
Penanaman
Pemupukan
Pemeliharaan
Penyiraman
Penyulaman
Penyiangan

Pengendalian Hama dan Penyakit


Panen
Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman (cm)
Jumlah Daun (helai)
Bobot Segar Tongkol (g)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pembahasan
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Selada (Lactuca sativa L) merupakan salah satu komoditi hortikultura
yang memiliki prospek dan nilai komersial yang cukup baik. Semakin
bertambahnya jumlah penduduk Indonesia serta meningkatnya kesadaran
penduduk akan kebutuhan gizi menyebabkan bertambahnya permintaan akan
sayuran. Kandungan gizi pada sayuran terutama vitamin dan mineral tidak dapat
disubtitusi melalui makanan pokok, Nazaruddin (2003).
Sistem hidroponik dapat memberikan suatu lingkungan pertumbuhan yang
lebih terkontrol. Dengan pengembangan teknologi, kombinasi sistem hidroponik
dengan membran mampu mendayagunakan air, nutrisi, pestisida secara nyata
lebih efisien (minimalis system) dibandingkan dengan kultur tanah (terutama
untuk tanaman berumur pendek). Penggunaan sistem hidroponik tidak mengenal
musim dan tidak memerlukan lahan yang luas dibandingkan dengan kultur tanah
untuk menghasilkan satuan produktivitas yang sama (Lonardy, 2006).
Staf Pengajar pada Prog. Studi. Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian
Universitas Tadulako, Palu

Hasil Penelitian sawi menunjukkan bahwa

pertumbuhan sawi akan lebih baik jika sistem hidroponik yang digunakan
mengunakan pasir dengan nutrisi AB mix atau nutrisi buatan sendiri
(Yusuf dan Masud, 2007).
Berdasarkan uraian diatas dipandang perlu untuk melakukan penelitian
pada tanaman selada dengan sistem hidroponik substrat untuk mendapatkan
informasi tentang pengaruh nutrisi dan media tanam yang berbeda pada tanaman
selada(Sutiyoso, 2004).

TINJAUAN PUSTAKA
Selada (Lactuca sativa L.) merupakan tanaman semusim
yang termasuk ke dalam famili Compositae. Kedudukan tanaman selada
dalam sistematika tumbuhan :
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Famili : Compositae
Genus : Lactuca
Species : Lactuca sativa L.
Tanaman selada dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun
dataran tinggi (pegunungan). Beberapa daerah di Indonesia cocok untuk
daerah penanaman selada karena kondisi lingkungannya (iklim dan tanah)
yang mendukung pertumbuhan yang optimal pada tanaman selada.
1. Iklim
Daerah yang cocok untuk penanaman selada sekitar ketinggian
500-2.000 m dpl dan suhu rata-rata 15-20 C. Daerah penghasil selada
antara lain Batu dan Tengger (Jawa Timur), Tawangmangu, Bandungan,
dan Dieng (Jawa Tengah), Pacet, Cipanas, dan Lembang (Jawa Barat),
serta Tomohon (Sulawesi Utara). Di dataran rendah selada juga bisa
tumbuh, tetapi krop yang terbentuk kurang baik. Tanaman selada tidak
tahan bila terlalu banyak hujan, kelembaban terlalu tinggi, dan tergenang
air. Dalam kondisi seperti itu, tanaman akan mudah terserang penyakit.
Waktu tanaman yang paling cocok pada waktu musim kemarau dengan

penyiraman yang cukup. Selada memerlukan sinar matahari yang cukup


(tidak banyak awan) dan tempat yang terbuka.
2. Tanah
Tanaman selada dapat ditanam pada berbagai macam tanah,.
namun pertumbuhan yang baik akan diperoleh bila ditanam pada tanah liat
berpasir yang cukup mengandung bahan organik, gembur, remah, dan
tidak mudah tergenang oleh air. Selada tumbuh baik dengan pH 5,0 - 6,5.
Bila pH terlalu rendah perlu dilakukan pengapuran. (Sunarjono, H. 2008)
Jenis Selada
B. Media Tanam
Tanah merupakan komponen terpenting dalam kehidupan tanaman
karena merupakan medium alam sebagai tempat tumbuhnya tanaman.
Sebagai sumber daya alam yang terpenting, penggunaan tanah sangat
berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Bila salah penggunaannya,
tanaman menjadi kurang produktif, namun apabila pengguanannya benar,
yakni dilakukan dengan memperhatikan sifat fisik, kimia dan hayati tanah,
maka akan dapat menghasilkan tanaman yang berdaya hasil tinggi secara
berkesinamabungan.
Semua jenis tanaman pada umumnya dapat diusahakan secara
organik karena pada mulanya tanaman tumbuh secara alami, tanpa tambahan
(pemupukan) dari luar. Hanya saja, ada tanaman yang peka terhadap hama
dan penyakit sehingga perlu pemeliharaan yang intensif dan menggunakan
tanah pertanian yang baik dan produktif.
Tanah pertanian yang baik dan produktif adalah tanah yang banyak

mengandung bahan organik dan jasad hidup (makro dan mikro organik).
Bahan organik akan dihancurkan oleh organik hidup menjadi bahan organik
yang halus dan dapat diserap oleh akar tanaman (Pracaya, 2008).
Sayuran organik selain ditanam di lahan (kebun) dapat juga ditanam
di dalam pot, polybag, atau wadah bekas lainnya. Karena tempatnya kecil dan
praktis serta dapat diletakkan di lahan yang sempit dan dapat diisi dengan
media tanam berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang atau kompos
dengan berbagai macam perbandingan sehingga sistem perakaran yang
dangkal dan lebar pada tanaman selada dapat tumbuh dan berkembang di
bawah permukaan tanah dengan baik sehingga media tanam diharapkan
subur, gembur dan mudah meluluskan air (Desiliyarni, dkk, 2003). Sifat tanah
seperti ini dapat diperoleh dengan mencampur bahan media tanam di atas
dengan perbandingan tertentu sehingga dapat memperbaiki tingkat kesuburan
dan kegemburan tanah, serta daya meluluskan air yang sesuai untuk tanaman
selada.
Tanah merupakan media yang lazim digunakan untuk pertumbuhan
tanaman. Dalam pertanian, tanah diartikan lebih khusus yaitu sebagai media
tumbuhnya tanaman darat. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan
bercampur dengan sisa-sisa bahan organik dan organisme (vegetasi atau
hewan) yang hidup di atas atau di dalamnya, selain itu terdapat pula udara
dan air.
Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan daya kohesi butir-butir
tanah atau daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Gaya-gaya
tersebut misalnya pencangkulan, pembajakan, dan sebagainya. Tanah-tanah

yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat
pada alat pengolah tanah. Oleh karena itu, tanah dapat ditemukan dalam
keadaan lembab, basah atau kering maka penyifatan konsistensi tanah harus
disesuaikan dengan keadaan tanah tersebut.
Dalam keadaan lembab, tanah dibedakan dalam konsistensi gembur
(mudah diolah) sampai teguh (agak sulit dicangkul). Dalam keadaan kering,
tanah dibedakan ke dalam konsistensi lunak sampai keras. Dalam keadaan
kering konsistensi tanah ditentukan dengan meremas segumpal tanah. Bila
gumpalan tersebut mudah hancur, maka tanah dikatakan berkonsistensi
gembur bila lembab atau lunak bila kering. Bila gumpalan tanah sukar hancur
dengan remasan tersebut tanah dikatakan berkonsentrasi teguh (lembab) atau
keras (kering).
Media tanam yang berasal dari pasir memiliki sifat-sifat antara lain
aerasi dan draenasenya lebih baik dibandingkan dengan media tanam yang
berasal dari tanah. Kemampuan mengikat air media ini sangat rendah serta
unsur hara yang diberikan melalui pemupukan juga cepat terbawa air keluar
dari area perakaran (Novizan. 2002). Jenis pasir yang umum digunakan
adalah pasir malang.
Kompos merupakan hasil pelapukan bahan-bahan berupa dedaunan,
jerami, alang-alang, rumput, kotoran hewan, sampah kota, dan sebagainya.
Proses pelapukan bahan-bahan tersebut dapat dipercepat melalui bantuan
manusia. Kandungan utama kompos adalah bahan organik yang berguna
untuk memperbaiki struktur tanah, memperbaiki tata air tanah dan udara
tanah serta dapat memperbaiki kehidupan organisme di dalam tanah. Unsur

lain dalam kompos yang variasinya cukup banyak walaupun kadarnya rendah
seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium. Kompos yang baik
merupakan kompos yang penguraiannya sudah berhenti. Biasanya penguraian
akan berhenti setelah 2,5 bulan. Kompos yang baik biasanya memiliki butiran
halus berwarna cokelat sedikit kehitaman. Suwanda (2005) menyatakan
bahwa pemberian pupuk kompos fermentasi dengan takaran beragam
memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman dan
jumlah daun dikarenakan dengan pemberian kompos maka akan
memperbaiki struktur tanah, menaikkan daya serap tanah terhadap air dan
sumber makan bagi tanaman sehingga kebutuhan hara untuk pertumbuhan
pada tanaman kubis dapat terpenuhi. Beberapa contoh kompos yang baik dan
banyak diperjual belikan adalah Fine Compos, Super Kompos, dan Kompos
Super.

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di lahan Laboratorium Dasar Agronomi


Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah benih selada sedangkan untuk alatnya
digunakan beberapa produksi pertanian seperti polybag, tanah, gembor, pacak ,
label dan lain sebagainya.
Metode Penelitian
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode konvensional
dimana masih dilakukan cara yang belum modern dan masih menggunakan teknik
budidaya secara sederhana

DAFTAR PUSTAKA

Lonardy, M.V., 2006. Respons Tanaman Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.)


Terhadap Suplai Senyawa Nitrogen Dari Sumber Berbeda Pada Sistem
Hidroponik. Skripsi (Tidak Dipublikasikan). Universitas Tadulako, Palu.
Nazaruddin., 2003. Budidaya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Sutiyoso, Y., 2004. Hidroponik ala Yos. Penebar Swadaya, Jakarta.
Yusuf, R., dan H. Masud., 2007. Penggunaan Teknologi Hidroponik untuk
Menghasilkan Tanaman Sawi Bebas Pestisida, Laporan Hasil Penelitian
Dosen Muda DIKTI. Balai Penelitian Universitas Tadulako, Palu.