Anda di halaman 1dari 11

MANAGEMENT OF

COMPLICATED
MULTIRECURRENT
PTERYGIA USING
MULTIMICROPOROUS
EXPANDED
POLYTETRAFLUOROETHYLE
NE

KYOUNG WOO KIM, JAE CHAN KIM, JUN HYUNG MOON, HYUN KOO, TAE HYUNG KIM,
NAM JU MOON. DEPARTMENT OF OPHTALMOLOGY, CHUNG-ANG UNIVERSITY HOSPITAL,
SEOUL, SOUTH KOREA. PUBLISHED ONLINE FIRST 15 MARCH 2013

Dibuat oleh : Alief Leisyah


Pembimbing : dr. Rety Sugiarti, Sp.M
KEDOKTER
AN UMJ

ILMU PENYAKIT MATA - RSUD KOTA


BANJAR

Pendahuluan

Pada pterigium kambuhan, pertumbuhan fibrovaskular lebih berat


ketimbang pterigium primer.
Diperlukan tindakan lebih agresif atau metode kombinasi untuk
penghilangan pterigium termasuk penggunaan mitomycin C
(MMC), autograft konjungtiva, transplantasi membran amniotik
yang dikombinasi dengan autograft konjungtiva limbus.
Bagaimanapun juga sulit untuk mendapatkan hasil memuaskan,
seperti kambuhan yang agresif dan kecenderungan pertumbuhan
fibrovaskuler.
Studi
sebelumnya
menunjukkan
bahwa
e-PTFE
dapat
menunjukkan epitelisasi, sedikit menimbulkan respon inflamasi,
dan mencegah kekambuhan symblepharon pada sikatriks
permukaan okular.
Pendekatan saat ini untuk manajemen pterigium kambuhan
adalah melakukan eksisi pterigium dengan operasi penyisipan dari
multimicroporous e-PTFE didalam ruang subkonjungtiva nasal.

Metode
Subjek terdiri dari 62 mata dari 62 pasien.

Kriteria inklusi

pterigium multirekuren ( 2 kali kambuh), serta


manifestasi seperti symblepharon atau hambatan motilitasbinokular diplopia
menandatangani persetujuan dilakukan penyisipan e-PTFE
termasuk pada sampel grup A. Sedangkan yang tidak
menyetujui termasuk sampel grup B.

sebelum operasi dilakukan, setiap pasien menjalani


pemeriksaan okular lengkap, dan pasien dengan
glaukoma, skleromalacia atau riwayat bedah yang
lama sembuh nya pada mata yang sama tidak
termasuk dalam sampel ini. (Kriteria eksklusi)

Prosedur Pembedahan
Semua pasien dianastesi dengan memblok retrobulbar.
Pelepasan symblepharon dan jaringan fibrotik secara extensif
untuk membuka sklera dan stroma kornea.
Jaringan fibrovaskular konjungtiva, termasuk kapsul Tenon, yang
di buang menggunakan gunting dari sklera dan otot rektus
medial pada forniks superior dan inferior dan karunkel nasal.
Kemudaian cryopreserved human amniotic membrane diletakkan
dan diarahkan masuk sklera dan otot rekstus medial dengan
epitel menghadap keatas, dan dijahit dengan benang nylon 10-0.
Spons weckel direndam dengan 0.33% MMC yang disisipkan
pada area forniks selama minimal 2 menit, lalu irigasi dengan
200 ml larutan garam fisiologis. Hal ini dilakukan pada sampel
grup A.

Manajemen Pascaoperasi dan Evaluasi


obat topikal yang diberikan pascaoperasi adalah levofloxacin
tetes 0,1% yang diberikan empat kali perhari
dexamethasone salep 0,1% dicampur dengan 0.35% neomycin
sulfate yang diberikan dua kali perhari.
40% autoserum tetes setiap akan dan bangun tidur (2 kali sehari)
selama 4 minggu.
Setelah 4 minggu, levofloxacin dihentikan, dan salep serta
autoserum diturunkan dosisnya secara bertahap menjadi satu
kali sehari.
Kemudian, membran amniotic dilepas setelah satu minggu, dan
jahitan autograft konjungtiva limbus dibuka setelah dua minggu
pascaoperasi.
Setelah tiga sampai empat minggu, pada sampel grup A sisipan
multimicroporous e-PTFE diekstraksi menggunakan forsep
setelah jahitan dibuka.

Hasil

Didapatkan
perbedaan
signifikan pada bentukan
symblepharon, hambatan
motilitas
okular,
hiperemia
konjungtiva,
dan kambuhan pterigium.
Hanya satu variabel yang
tidak
menunjukkan
perbedaan
yang
signifikan yaitu diplopia.

Diskusi

Pada studi ini, memiliki keterbatasan karena tidak


dilakukan follow-up lanjutan yang dibutuhkan untuk
evaluasi komplikasi lanjutan dari penggunaan MMC
yaitu skleritis nekrotik.
Idealnya dilakukan follow-up selama 14 bulan atau
lebih, dimana membutuhkan waktu yang panjang.
Meskipun beberapa tahapan teknik pembedahan
dan pasca operasi tidak popular pada beberapa
ahli bedah, hasil dari pembedahan metode ini baik
dan signifikan dalam memunculkan teknik
pengobatan baru pada pterigium multirekuren
kompleks.

Kesimpulan dan Saran

Operasi penyisipan dengan multimicroporous e-PTFE,


tampaknya memberikan ide baru untuk mengatasi
pterigium multirekuren kompleks, terlebih lagi ketika
didampingi dengan metode konvensional seperti
penggunaan mitomycin C, transplantasi membran
amniotik, dan autograft limbus konjungtiva.
Saran untuk kedepannya penggunaan sisipan
multimicroporous e-PTFE mungkin dapat digunakan
untuk berbagai kelainan permukaan okular dengan
bentukan skar yang berat seperti sindrom StevenJohnson, sikatrik okular pemfigoid, atau karena bahan
kimia.