Anda di halaman 1dari 11

BETON BERTULANG

Nama

: Muchahmad Efendi

NIM

: 1113030021

Kelas

: 1 Gedung 1 Pagi

Politeknik Negeri Jakarta


2014

BETON BERTULANG
1. Beton dan Beton Bertulang
Beton adalah suatu campuran yang terdiri dari pasir, kerikil, batu pecah, atau agregatagregat lain yang dicampur menjadi satu dengan suatu pasta yang terbuat dari semen dan air
membentuk suatu massa mirip-batuan. Terkadang, satu atau lebih bahan aditif ditambahkan
untuk menghasilkan beton dengan karakteristik tertentu, seperti kemudahan pengerjaan
(workability), durabilitas, dan waktu pengerasan.
Seperti substansi-substansi mirip batuan lainnya, beton memiliki kuat tekan yang
tinggi dan kuat tarik yang sangat rendah. Beton bertulang adalah suatu kombinasi antara
beton dan baja dimana tulangan baja berfungsi menyediakan kuat tarik yang tidak dimiliki
beton.

2. Sifat-sifat Beton Bertulang


Pengetahuan yang mendalam tentang sifat-sifat beton bertulang sangat penting
sebelum dimulai mendesain struktur beton bertulang. Beberapa sifat-sifat beton bertulang
antara lain :
2.1 Kuat Tekan
Kuat tekan beton (fc) dilakukan dengan melakukan uji silinder beton dengan ukuran
diameter 150 mm dan tinggi 300 mm. Pada umur 28 hari dengan tingkat pembebanan
tertentu. Selama periode 28 hari silinder beton ini biasanya ditempatkan dalam sebuah
ruangan dengan temperatur tetap dan kelembapan 100%. Meskipun ada beton yang memiliki
kuat maksimum 28 hari dari 17 Mpa hingga 70 -140 Mpa, kebanyakan beton memiliki
kekuatan pada kisaran 20 Mpa hingga 48 Mpa. Untuk aplikasi yang umum, digunakan beton
dengan kekuatan 20 Mpa dan 25 Mpa, sementara untuk konstruksi beton prategang 35 Mpa
dan 40 Mpa. Untuk beberapa aplikasi tertentu, seperti untuk kolom pada lantai-lantai bawah
suatu bangunan tingkat tinggi, beton dengan kekuatan sampai 60 Mpa telah digunakan dan
dapat disediakan oleh perusahaan-perusahaan pembuat beton siap-campur (ready-mix
concrete).
Nilai-nilai kuat tekan beton seperti yang diperoleh dari hasil pengujian sangat
dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk dari elemen uji dan cara pembebanannya. Di banyak
Negara, spesimen uji yang digunakan adalah kubus berisi 200 mm. untuk beton-beton uji
yang sama, pengujian terhadap silinder-silinder 150 mm x 300 mm menghasilkan kuat tekan
yang besarnya hanya sekitar 80% dari nilai yang diperoleh dari pengujian beton uji kubus.
Kekuatan beton bisa beralih dari beton 20 Mpa ke beton 35 Mpa tanpa perlu
melakukan penambahan buruh dan semen dalam jumlah yang berlebihan. Perkiraan kenaikan
biaya bahan untuk mendapatkan penambahan kekuatan seperti itu adalah 15% sampai 20%.

Namun untuk mendapatkan kekuatan beton diatas 35 atau 40 Mpa diperlukan desain
campuran beton yang sangat teliti dan perhatian penuh kepada detail-detail seperti
pencampuran, penempatan, dan perawatan. Persyaratan ini menyebabkan kenaikan biaya
yang relatife lebih besar.
Kurva tegangan-regangan pada gambar dibelakang menampilkan hasil yang dicapai
dari uji kompresi terhadap sejumlah silinder uji standar berumur 28 hari yang kekuatannya
beragam.
Kurva hampir lurus ketika beban ditingkatkan dari niol sampai kira-kira 1/3 - 2/3
kekuatan maksimum beton.
Diatas kurva ini perilaku betonnya nonlinear. Ketidak linearan kurva teganganregangan beton pada tegangan yang lebih tinggi ini mengakibatkan beberapa
masalah ketika kita melakukan analisis struktural terhadap konstruksi beton karena
perilaku konstruksi tersebut juga akan nonlinear pada tegangan-tegangan yang lebih
tinggi.
Satu hal penting yang harus diperhatikan adalah kenyataan bahwa berapapun
besarnya kekuatan beton, semua beton akan mencapai kekuatatan puncaknya pada
regangan sekitar 0,002.
Beton tidak memiliki titik leleh yang pasti, sebaliknya kurva beton akan tetap
bergerak mulus hingga tiba di titik kegagalan (point of rupture) pada regangan
sekitar 0,003 sampai 0,004.
Banyak pengujian yang telah menunjukkan bahwa kurva-kurva tegangan-regangan
untuk silinder-silinder beton hampir identik dengan kurva-kurva serupa untuk sisi
balok yang mengalami tekan.
Harus diperhatikan juga bahwa beton berkekuatan lebih rendah lebih daktail
daripada beton berkekuatan lebih tinggi artinya, beton-beton yang lebih lemah
akan mengalami regangan yang lebih besar sebelum mengalami kegagalan.

Gambar Kurva tegangan regangan beton yang umum,


dengan pembebanan jangka-pendek

2.2 Modulus Elastisitas Statis


`
Beton tidak memiliki modulus elastisitas yang pasti. Nilainya bervariasi tergantung dari
kekuatan beton, umur beton, jenis pembebanan, dan karakteristik dan perbandingan semen
dan agregat. Sebagai tambahan, ada beberapa defenisi mengenai modulus elastisitas :
a) Modulus awal adalah kemiringan diagram tegangan-regangan pada titik asal dari
kurva.
b) Modulus tangen adalah kemiringan dari salah satu tangent (garis singgung) pada
kurva tersebut di titik tertentu di sepanjang kurva, misalnya pada 50% dari kekuatan
maksimum beton.
c) Kemiringan dari suatu garis yang ditarik dari titik asal kurva ke suatu titik pada kurva
tersebut di suatu tempat di antara 25% sampai 50% dari kekuatan tekan
maksimumnya disebut Modulus sekan.
d) Modulus yang lain, disebut modulus semu (apparent modulus) atau modulus jangka
panjang, ditentukan dengan menggunakan tegangan dan regangan yang diperoleh
setelah beban diberikan selama beberapa waktu.
Peraturan ACI menyebutkan bahwa rumus untuk menghitung modulus elastisitas
beton yang memiliki berat beton (wc) berkisar dari 1500-2500 kg/m3.Dan untuk beton
dengan berat normal beton yang berkisar 2320 kg/m3Beton dengan kekuatan diatas 40 Mpa
disebut sebagai beton mutu-tinggi. Pengujian telah menunjukkan bahwa bila persamaan ACI
yang biasa digunakan untuk menghitung Ec dipakai untuk beton mutu tinggi , nilai yang
didapat terlalu besar. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan di Cornell University,
persamaan berikut ini direkomendasikan untuk digunakan pada beton dengan berat normal
yang memiliki nilai fc antara 40 Mpa dan 80 Mpa, dan untuk beton ringan dengan fc 40 dan
60 Mpa.

2.3 Modulus Elastisitas Dinamis


Modulus elastisitas dinamis, yang berkorespondensi dengan regangan-regangan sesaat
yang sangat kecil, biasanya diperoleh dari uji sonik. Nilainya biasanya lebih besar 20%-40%
daripada nilai modulus elastisitas statis dan kira-kira sama dengan modulus nilai awal.
Modulus elastisitas dinamis ini biasanya dipakai pada analisa struktur dengan beban gempa
atau tumbukan.

2.4 Perbandingan Poisson


Ketika sebuah beton menerima beban tekan, silinder tersebut tidak hanya berkurang
tingginya tetapi juga mengalami ekspansi (pemuaian) dalam arah lateral. Perbandingan
ekspansi lateral dengan pendekatan longitudinal ini disebut sebagai Perbandingan
Poisson(Poissons ratio). Nilainya bervariasi mulai dari 0,11 untuk beton mutu tinggi dan
0,21 untuk beton mutu rendah, dengan nilai rata-rata 0,16. Sepertinya tidak ada hubungan
langsung antara nilai perbandingan ini dengan nilai-nilai, seperti perbandingan air-semen,
lamanya perawatan, ukuran agregat, dan sebagainya.
Pada sebagian besar desain beton bertulang, pengaruh dari perbandingan poisson ini
tidak terlalu diperhatikan. Namun pengaruh dari perbandingan harus diperhatikan ketika kita
menganalisis dan mendesain bendungan busur, terowongan, dan struktur-struktur statis tak
tentu lainnya.

2.5 Kuat Tarik


Kuat tarik beton bervariasi antara 8% sampai 15% dari kuat tekannya. Alasan utama
dari kuat tarik yang kecil ini adalah kenyataan bahwa beton dipenuhi oleh retak-retak halus.
Retak-retak ini tidak berpengaruh besar bila beton menerima beban tekan karena beban tekan
menyebabkan retak menutup sehingga memungkinkan terjadinya penyaluran tekanan. Jelas
ini tidak terjadi bila balok menerima beban tarik.
Meskipun biasanya diabaikan dalam perhitungan desain, kuat tarik tetap merupakan
sifat penting yang mempengaruhi ukuran beton dan seberapa besar retak yang terjadi. Selain
itu, kuat tarik dari batang beton diketahui selalu akan mengurangi jumlah lendutan. (Karena
kuat tarik beton tidak besar, hanya sedikit usaha yang dilakukan untuk menghitung modulus
elastisitas tarik dari beton. Namun, berdasarkan informasi yang terbatas ini, diperkirakan
bahwa nilai modulus elastisitas tarik beton sama dengan modulus elatisitas tekannya.)
Selanjutnya, anda mungkin ingin tahu mengapa beton tidak diasumsikan menahan
tegangan tarik yang terjadi pada suatu batang lentur dan baja yang menahannya. Alasannya
adalah bahwa beton akan mengalami retak pada regangan tarik yang begitu kecil sehingga
tegangan-tegangan rendah yang terdapat pada baja hingga saat itu akan membuat
penggunaannya menjadi tidak ekonomis.
Kuat tarik beton tidak berbanding lurus dengan kuat tekan ultimitnya fc. Meskipun
demikian, kuat tarik ini diperkirakan berbanding lurus terhadap akar kuadrat dari fc. Kuat
tarik ini cukup sulit untuk diukur dengan beban-beban tarik aksial langsung akibat sulitnya
memegang spesimen uji untuk menghindari konsentrasi tegangan dan akibat kesulitan dalam
meluruskan beban-beban tersebut. Sebagai akibat dari kendala ini, diciptakanlah dua
pengujian yang agak tidak langsung untuk menghitung kuat tarik beton. Keduanya adalah uji
modulus keruntuhan dan uji pembelahan silinder.
Kuat tarik beton pada waktu mengalami lentur sangat penting ketika kita sedang
meninjau retak dan lendutan pada balok. Untuk tujuan ini, kita selama ini menggunakan kuat
tarik yang diperoleh dari uji modulus-keruntuhan. Modulus keruntuhan biasanya dihitung
dengan cara membebani sebuah balok beton persegi (dengan tumpuan sederhana berjarak 6 m
dari as ke as) tanpa-tulangan berukuran 15cm x 15cm x 75cm. hingga runtuh dengan beban

terpusat yang besarnya sama pada 1/3 dari titik-titik pada balok tersebut sesuai dengan yang
disebutkan dalam ASTM C-78.

2.6 Kuat Geser


Melakukan pengujian untuk memperoleh keruntuhan geser yang betul-betul murni
tanpa dipengaruhi oleh tegangan-tegangan lain sangatlah sulit. Akibatnya, pengujian kuat
geser beton selama bertahun-tahun selalu menghasilkan nilai-nilai leleh yang terletak di
antara 1/3 sampai 4/5 dari kuat tekan maksimumnya.
2.7 Kurva Tegangan-Regangan
Hubungan tegangan-regangan beton perlu diketahui untuk menurunkan persamaanpersamaan analisis dan desain juga prosedur-prosedur pada struktur beton. Gambar dibawah
memperlihatkan kurva tegangan-regangan tipikal yang diperoleh dari percobaan dengan
menggunakan benda uji silinder beton dan dibebani tekan uniaksial selama beberapa menit.
Bagian pertama kurva ini (sampai sekitar 40% dari fc) pada umumnya untuk tujuan praktis
dapat dianggap linier. Sesudah mendekati 70% tegangan hancur, materialnya banyak
kehilangan kekakuannya sehingga menambah ketidaklinieran diagram. Pada beban batas,
retak yang searah dengan arah beban menjadi sangat terlihat dan hampir semua silinder beton
(kecuali yang kekuatannya sangat rendah) akan segera hancur.

Gambar Kurva tegangan-regangan beton

3. Kolom

Gambar kolom
Definisi kolom menurut SNI-T15-1991-03 adalah komponen struktur bangunan yang
tugas utamanya menyangga beban aksial desak vertikal dengan bagian tinggi yang tidak
ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil. Kolom adalah batang tekan vertikal
dari rangka (frame) struktur yang memikul beban dari balok induk maupun balok anak.
Kolom meneruskan beban dari elevasi atas ke elevasi yang lebih bawah hingga akhirnya
sampai ke tanah melalui`pondasi.Keruntuhan pada suatu kolom merupakan kondisi kritis
yang dapat menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total
(total collapse) seluruh struktur.
Kolom adalah struktur yang mendukung beban dari atap, balok dan berat sendiri yang
diteruskan ke pondasi. Secara struktur kolom menerima beban vertikal yang besar, selain itu
harus mampu menahan beban-beban horizontal bahkan momen atau puntir/torsi akibat
pengaruh terjadinya eksentrisitas pembebanan. hal yang perlu diperhatikan adalah tinggi
kolom perencanaan, mutu beton dan baja yang digunakan dan eksentrisitas pembebanan yang
terjadi.
Kolom merupakan elemen tekan yang menumpu / menahan balok yang memikul bebanbeban pada lantai. Sehingga kolom ini sangat berarti bagi struktur. Jika kolom runtuh, maka
runtuh pulalah bangunan secara keseluruhan.Pada umumnya kolom beton tidak hanya
menerima beban aksial tekan, tapi juga momen.
Berdasarkan bentuk dan komposisi material yang umum digunakan, maka kolom
bertulang dapat dibagi dalam beberapa type berikut :

Kolom empat persegi dengan tulangan longitudinal dan tulangan pengikat lateral /
sengkang. Bentuk penampang kolom bisa berupa bujur sangkar atau berupa empat
persegi panjang. Kolom dengan bentuk empat persegi ini merupakan bentuk yang
paling banyak digunakan, mengingat pembuatannya yang lebih mudah,
perencanaannya yang relatif lebih sederhana serta penggunaan tulangan longitudinal
yang lebih efektif (jika ada beban momen lentur) dari type lainnya.
Kolom bulat dengan tulangan longitudinal dan tulangan pengikat spiral atau
tulangan pengikat lateral. Kolom ini mempunyai bentuk yag lebih bagus dibanding
bentuk yang pertama di atas, namun pembuatannya lebih sulit dan penggunaan
tulangan longitudinalnya kurang efektif (jika ada beban momen lentur)
dibandingkan dari type yang pertama di atas.
Kolom komposit. Pada jenis kolom ini, digunakan profil baja sebagai pemikul
lentur pada kolom. Selain itu tulangan longitudial dan tulangan pengikat juga
ditambahkan bila perlu. Bentuk ini biasanya digunakan, apabila jika hanya
menggunakan kolom bertulang biasa diperoleh ukuran yang sangat besar karena
bebannya yang cukup besar, dan disisi lain diharapkan ukuran kolom tidak terlalu
besar.

Berdasarkan kelangsingannya, kolom dapat dibagi atas :


Kolom Pendek, dimana masalah tekuk tidak perlu menjadi perhatian dalam
merencanakan kolom karena pengaruhnya cukup kecil. Kolom Langsing, dimana
masalah tekuk perlu diperhitungkan dalam merencanakan kolom.

4. Balok

Balok adalah bagian struktur yang berfungsi sebagai pendukung beban vertikal dan
horizontal. Beban vertikal berupa beban mati dan beban hidup yang diterima plat lantai, berat
sendiri balok dan berat dinding penyekat yang di atasnya. Sedangkan beban horizontal berupa
beban angin dan gempa.
Balok merupakan bagian struktur bangunan yang penting dan bertujuan untuk memikul
beban tranversal yang dapat berupa beban lentur, geser maupun torsi. Oleh karena itu

perencanaan balok yang efisien, ekonomis dan aman sangat penting untuk suatu struktur
bangunan terutama struktur bertingkat tinggi atau struktur berskala besar.

5. Elemen-elemen Struktur Beton Bertulang

Gambar Struktur Beton Bertulang dengan 3 Macam Elemen


Untuk gedung, pada umumnya struktur beton bertulang bagian atas terdiri dari 3 macam
elemen utama :
Pelat, merupakan elemen struktur beton bertulang yang langsung memikul beban lantai.
Balok, dapat terdiri dari balok anak (joist) dan balok induk (beam), atau hanya balok induk
saja. Balok berfungsi sebagai pemikul pelat dan beban yang berada diatasnya.
Kolom, merupakan elemen struktur yang berfungsi sebagai pemikul balok serta beban
lateral pada struktur.
Namun ada juga bentuk struktur beton bertulang yang tidak mempunyai balok, seperti
terlihat pada gambar di bawah. Pada struktur seperti ini bagian pelat yang terletak pada jalur
kolom bertindak sebagai balok.

Gambar . Struktur Beton Bertulang tanpa Balok (Flat Plate)

6. Konsep Perencanaan
Struktur yang didisain pada dasarnya harus memenuhi kriteria-kriteria berikut :
1. Bentuknya pantas/cocok. Dari segi perencaan tata ruang, bentangan, tinggi plafon,akses
dan arus lalu lintas. Struktur harus seimbang dengan yang dibutuhkan.
2. Ekonomis.
3. Kuat, dalam menahan beban yang akan dipikulnya (beban yang direncanakan).
4. Mudah perawatannya.

7. Metoda Perencanaan Beton Bertulang


Menurut SNI 03-2847-2002 pasal 10 ayat 1, perencanaan elemen struktur beton
bertulang dapat dilakukan dengan salah satu dari dua metoda berikut,
1. Metoda Beban Kerja.
Dengan metoda Beban Kerja, elemen struktur beton bertulang direncanakan kuat
memikul beban-beban yang bekerja pada elemen tersebut, dimana pengertian kuat disini
ditandai dengan lebih kecil atau sama dengannya tegangan yang terjadi pada elemen
akibat beban kerja tersebut dibandingkan dengan tegangan yang diizinkan, dimana
tegangan izin adalah tegangan batas/ultimit material yang sudah dibagi dengan suatu
faktor keamanan.

2. Metoda Kekuatan Batas/Ultimit


Dengan menggunakan metoda Kekuatan Batas, elemen struktur direncanakan harus
kuat memikul beban terfaktor.Beban terfaktor adalah kombinasi beban-beban yang
bekerja, dimana masingmasing beban sudah dikalikan dengan suatu faktor (keamanan)
tertentu. Tegangan tegangan yang terjadi pada elemen tidak boleh melebihi tegangan
batas/ultimit dari material.Metoda yang pertama (metoda Tegangan Kerja) merupakan
metoda lama dalam merencanakan elemen struktur beton bertulang.SNI 03-2847-2002
lebih menyarankan untuk menggunakan metoda kedua (metoda Kekuatan Batas), karena
lebih realistis.

8. Perencanaan batas
Ada beberapa kondisi yang dapat dijadikan batasan pada perencanaan elemen beton
bertulang,
1. Kondisi Batas Ultimit, yang dapat disebabkan oleh :
Hilangnya keseimbangan lokal atau global.
Rupture : hilangnya ketahanan lentur dan geser elemen-elemen struktur.
Keruntuhan progressive akibat adanya keruntuhan lokal pada daerah sekitarnya.
Pembentukan sendi plastis.
Ketidakstabilan struktur.
Fatique.
2. Kondisi Batas Kemampuan Layan, yakni menyangkut berkurangnya fungsi struktur,
antara lain,
Defleksi yang berlebihan pada kondisi layan.
Lebar retak yang berlebih.
Vibrasi yang mengganggu.

3. Kondisi Batas Khusus, yaitu menyangkut kerusakan/keruntuhan akibat beban abnormal,


antara lain
Keruntuhan pada kondisi gempa ekstrim.
Kebakaran, ledakan atau tabrakan kendaraan.
Korosi atau jenis keruntuhan lainnya akibat lingkungan.
Perencanaan yang memperhatikan kondisi-kondisi batas di atas disebut perencanaan
batas. Konsep perencanaan batas ini digunakan sebagai prinsip dasar peraturan beton
Indonesia (SNI 03-2847-2002).