Anda di halaman 1dari 10

INSTABILITAS DAN JATUH

I.

Pendahuluan
Gangguan keseimbangan dan jatuh merupakan salah satu masalah yang sering pada

orang lanjut usia sebagai akibat perubahan fungsi organ, penyakit, dan faktor lingkungan. Akibat
yang ditimbulkan akibat jatuh sering berat, seperti cedera kepala, cedera jaringan lunak, sampai
dengan patah tulang. Jatuh juga seringkali merupakan petanda kerapuhan (frailty) dan
merupakan prediktor kematian atau penyebab tidak langsung kematian melalui patah tulang.
Keseimbangan merupakan proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan integrasi
input sensorik dan pelaksanaan gerakan untuk mencapai tujuan yang membutuhkan postur tegak,
suatu kemampuan untuk mengatur pusat gravitasi tetap berada di atas landasan penopang.

II.

Instabilitas dan Jatuh


Instabilitas dan jatuh terjadi pada sekitar 30% penderita berusia di atas 65 tahun, dan

insidensinya makin bertambah dengan bertambahnya usia. Sekitar 50% kasus jatuh
menimbulkan cedera, 10% kasus membutuhkan perawatan karena cederanya menetap termasuk
patah tulang. Nyeri yang menetap dan keterbatasan mobilisasi merupakan hal yang sering
ditemukan setelah cedera.
Terdapat banyak faktor yang berperan untuk terjadinya instabilitas dan jatuh pada usia
lanjut. Faktor tersebut bisa diklasifikasikan menjadi :
II.1Faktor Resiko Intrinsik (Faktor resiko yang terdapat pada pasien)
Faktor resiko intrinsik terdiri atas faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor intrinsik lokal
antara lain adanya osteoartritis genu ataupun vertebra lumbal, gangguan pendengaran, gangguan
penglihatan, gangguan pada alat keseimbangan, seperti vertigo yang dapat ditimbulkan oleh
gangguan aliran darah ke otak akibat hiperkoagulasi, hiperagregasi, atau osteoartritis servikal.
Kelemahan otot kuadrisep femoris turut berperan untuk terjadinya jatuh karena ketidakmampuan
untuk mengangkat tungkai secara optimal saat berjalan dan mengangkat tubuh saat bangun dari
duduk.
Faktor resiko sistemik dapat berupa berbagai penyakit yang dapat memicu timbulnya
gangguan keseimbangan dan jatuh seperti PPOK, pneumonia, infark miokard akut, gagal
jantung, infeksi saluran kemih, juga gangguan metabolik, seperti hiponatremia, hipoglikemia

atau hiperglikemia, maupun hipoksia serta adanya gangguan aliran darah ke otak seperti pada
keadaan hiperkoagulasi, stroke, dan transient ischemic attack (TIA).
Sinkop, drop attacks, dan dizziness merupakan penyebab jatuh pada usia lanjut. Beberapa
penyebab sinkop yang perlu diketahui di antaranya respons vasovagal, gangguan kardiovaskular
(bradi dan takiaritmia, stenosis aorta), gangguan neurologis akut (TIA, stroke, atau kejang).
Drop attacks merupakan kelemahan tungkai bawah mendadak yang menyebabkan jatuh tanpa
kehilangan kesadaran. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan insufisiensi vertebrobasiler yang
dipicu oleh perubahan posisi kepala. Dizziness atau rasa tidak stabil merupakan keluhan yang
sering diutarakan oleh orang lanjut usia yang mengalami jatuh. Pasien yang mengeluh rasa
ringan di kepala harus dievaluasi lebih lanjut terhadap kemungkinan adanya hipotensi postural
atau depresi volume intravaskular.
2.1 Faktor Resiko Ekstrinsik (Faktor yang terdapat di lingkungan)
Merupakan faktor resiko yang terdapat di lingkungan yang memudahkan lansia mengalami
jatuh. Berbagai faktor tersebut antara lain lampu ruangan yang kurang terang, lantai yang licin,
basah atau tidak rata, furnitur yang terlalu rendah atau tinggi, tangga yang tidak aman, kamar
mandi dengan bak mandi atau kloset yang terlalu rendah atau tinggi dan tidak memiliki alat
bantu untuk berpegangan, tali atau kabel yang berserakan di lantai, karpet yang terlipat, dan
benda-benda lain di lantai yang menyebabkan seseorang terantuk.
Selain itu juga obat-obatan dapat menjadi penyebab jatuh pada orang usia lanjut. Misalnya
diuretik yang dikonsumsi menyebabkan seseorang berulang kali harus ke kamar kecil untuk
buang air kecil atau efek mengantuk dari obat sedatif sehingga seseorang menjadi kurang
waspada saat berjalan.

Gambar 1. Faktor-faktor dan interaksi dari berbagai etiologi jatuh

III.

Pengkajian Instabilitas dan Jatuh


Evaluasi yang komprehensif terdiri atas riwayat jatuh dan medis yang rinci, pemeriksaan

fisik, pengkajian cara berjalan dan keseimbangan, pengkajian terhadap kondisi lingkungan
tempat pasien tinggal atau terjatuh, serta pada keadaan tertentu, pemeriksaan laboratorium.
Tabel 1. Evaluasi pada pasien usia lanjut yang jatuh
Evaluasi
ANAMNESIS
Riwayat medis umum
Tingkat mobilitas
Riwayat jatuh sebelumnya
Obat-obatan yang
dikonsumsi
Apa yang dipikirkan pasien
sebagai penyebab jatuh
Lingkungan sekitar tempat
jatuh

Gejala yang terkait

Hilangnya Kesadaran

Keterangan

Terutama obat antihipertensi dan psikotropika

Apakah pasien sadar bahwa akan jatuh


Apakah kejadian jatuh tersebut sama sekali tidak terduga

Apakah pasien terpeleset atau terantuk


Waktu dan tempat jatuh
Saksi
Kaitannya dengan perubahan postur, batuk, buang air kecil,

memutar kepala
Kepala terasa ringan, dizziness, vertigo, palpitasi, nyeri dada,

sesak
Gejala neurologis fokal, mendadak (kelemahan gangguan

sensorik, disartria, ataksia, bingung, afasia)


Inkontinensia urine atau alvi
Apakah yang langsung diingat segera setelah jatuh
Apakah pasien dapat bangkit kembali setelah jatuh dan jika
dapat, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk dapat

bangkit setelah jatuh


Apakah adanya hilangnya kesadaran dapat dijelaskan oleh
saksi?

PEMERIKSAAN FISIK
Tanda Vital

Demam, hipotermia, frekuensi pernafasan, frekuensi nadi, dan

Kulit
Mata

tekanan darah saat berbaring, duduk, serta berdiri


Turgor, trauma, kepucatan
Visus

Telinga
Kardiovaskular

Pendengaran berkurang
Aritmia, bruit karotis, tanda stenosis aorta, sensitivitas sinus

Ekstremitas

karotis
Penyakit sendi degeneratif, lingkup gerak sendi, deformitas,
fraktur, masalah podiatrik (kalus, union, ulserasi, sepatu yang
tidak sesuai)

Neurologis

Status

mental,

tanda

fokal,

otot

(kelemahan,

rigiditas,

spastisitas), saraf perifer (terutama sensasi posisi), proprioseptif,


refleks, fungsi saraf kranial, fungsi serebelum (terutama uji tumit
ke tulang kering), gejala ekstrapiramidal; tremor saat istirahat,
bradikinesia, gerakan involunter lain, keseimbangan, dan cara
berjalan dengan mengobservasi cara pasien berdiri dan berjalan
Skrining Kognitif

(uji get up and go)


Mini mental State Examination test

Performance evaluation

Clock Drawing test


Berdiri dari kursi tanpa lengan, kemampuan berjalan sambil

Tes Laboratorium

melakukan pekerjaan lain (berbicara, membawa air, menghitung)


Pertimbangkan Kadar TSH
Tes lab lain : B12, pemeriksaan darah lengkap, kadar kortisol

Terapi Fisik

pagi, 25-OH Vitamin D, panel metabolik


Alat bantu, latihan berjalan, latihan keseimbangan, rehabilitasi

Evaluasi keamanan rumah

vestibular
Pencahayaan, tangga, keamanan kamar mandi, permukaan lantai,
sepatu

IV.

Pemeriksaan Keseimbangan dan Mobilitas Fungsional


Terdapat berbagai metoda yang dilakukan untuk melakukan uji keseimbangan dan

mobilitas fungsional diantaranya :


1. Uji The Timed Up and Go (TUG)
Uji TUG merupakan modifikasi dari uji get up and go (GUG) untuk menghilangkan unsur
subjektifitas dalam penilaian uji GUG. Pada uji GUG subjek diminta untuk bangkit dari
kursi, berjalan sepanjang 3 meter, berbalik arah kembali menuju kursi, dan duduk kembali.
Oleh pemeriksa dinilai cara berjalan dan ada tidaknya gangguan gaya berjalan subjek,
kemudian diberikan nilai berskala 1-5; nilai 1 berarti normal, sedangkan nilai 5 menunjukan
abnormalitas berat. Sedangkan pada TUG pasien diminta untuk berdiri dari posisi duduk,
kemudian berjalan sepanjang 3 meter, berbalik arah menuju kursi, dan duduk kembali. Nilai
<14 detik menunjukkan kemandirian penuh; 14-<20 detik umumnya mandiri untuk berbagai
aktivitas mobilitas seperti mandi, mampu untuk naik tangga dan bepergian sendiri. Nilai 2029 detik terdapat variasi dalam mobilitas dan keseimbangan, sedangkan nilai 30 detik atau
lebih menunjukkan mobilitas terganggu dan ketergantungan pada kebanyakan aktivitas

karena risiko jatuh tinggi. Untuk tempat duduk pada TUG tidak menggunakan sandaran
untuk tangan
2. Uji Menggapai Fungsional
Uji ini menilai kontrol postural dinamis dengan mengukur jarak terjauh seseorang yang
berdiri mampu menggapai atau mencondongkan badannya ke depan tanpa melangkah. Nilai
normal untuk 41-69 tahun pada laki-laki 14,98 inci (38 cm) 2,21 dan perempuan 13,81 inci
(35 cm) 2,2; sedangkan untuk usia 70-87 tahun pada laki-laki 13,16 inci (33 cm) 1,55
dan perempuan 10,47 inci (26,4 cm) + 3,5. Pada individu berusia 70 tahun atau lebih, nilai 6
inci atau kurang berkorelasi dengan kecepatan berjalan dan resiko untuk jatuh. Uji ini mudah
dilakukan, namun hanya mengukur satu komponen dari keseimbangan dinamik.

Gambar 2. Uji Menggapai Fungsional


3. Uji Keseimbangan Berg
Uji ini merupakan uji aktivitas dan keseimbangan fungsional yang menilai penampilan
mengerjakan 14 tugas, diberikan angka 0 (tidak mampu melakukan) sampai 4 (mampu
mengerjakan dengan normal sesuai dengan waktu dan jarak yang ditentukan) dengan skor
maksimum 56. Tugas-tugas yang dinilai adalah duduk tanpa bantuan, bangkit dari duduk ke
berdiri, berdiri ke duduk, transfer berdiri tanpa bantuan, berdiri dengan mata tertutup, berdiri
dengan kedua kaki rapat, berdiri dengan kedua kaki dalam posisi tandem, berdiri dengan satu
kaki, rotasi punggung saat berdiri, mengambil objek tertentu dari lantai. Berputar 360
melangkahi kursi tanpa sandaran, dan menggapai ke arah depan saat berdiri. Dilakukan
penilaian dua dimensi dari keseimbangan yaitu kemampuan subjek untuk mempertahankan
postur tegak dan melakukan penyesuaian yang tepat pada gerakan yang dikehendaki (gerakan
volunter). Dibutuhkan waktu selama 10-20 menit untuk melaksanakan tugas: duduk, berdiri,
berjalan, berbalik arah 360, menggapai, dan sebagainya.
4. Tandem Walk
Pasien diminta untuk berjalan dalan satu garis lurus, di mana tumit kaki bagian depan berada
tepat di depan (menyentuh) ujung ibu jari kaki di belakangnya. Tes ini dilakukan untuk
melihat adanya kelainan ataksia, terutama ataksia trunkal. Akan tetapi, hasil tes ini tidak
definitif karena sangat tergantung pada kemampuan melihat dan permasalahan di motor
neuron atau korteks.
5. Six minute walking test

Pasien diminta untuk berjalan selama 6 menit dan diukur jarak yang mampu ditempuh. Tidak
dapat dilakukan bila penderita butuh bantuan orang lain untuk berjalan. Normalnya <0,8
m/detik.

Gambar 3. Algoritma Skrining, asesmen, dan penatalaksanaan jatuh


Risiko jatuh dapat dinilai dengan menggunakan Morse Fall Score
Morse Fall Score
Variabel
Riwayat terjatuh
Tidak
Ya
Diagnosis sekunder Tidak
Ya
Alat bantu
Tidak/bed rest/ bantuan perawat
Kruk/tongkat/walker
Furnitur ?
Akses intravena
Tidak
Ya
Gait
Normal/bed rest/kursi roda
Lemah
Terganggu
Status mental
Mengetahui batas kemampuan diri sendiri
Tidak mengetahui atau lupa batas kemampuan diri sendiri
Total

Level Risiko
Tanpa risiko

Level Risiko Jatuh


Morse Fall Score Scale
0 24

Skor
0
25
0
15
0
15
30
0
20
0
10
20
0
15

Risiko ringan
Risiko tinggi
V.

24 50
> 50

Tatalaksana Instabilitas dan Jatuh


Biaya yang harus dikeluarkan akibat jatuh ternyata cukup besar, baik dalam konotasi fisik
maupun trauma psikologi, hilangnya kemandirian, atau bahkan kematian. Oleh karena itu,
amat diperlukan berbagai strategi untuk mengatasi dan mencegah jatuh pada orang berusia
lanjut.
Prinsip dasar tata laksana usia lanjut dengan masalah instabilitas dan riwayat jatuh adalah
mengkaji dan mengobati trauma fisik akibat jatuh; mengobati berbagai kondisi yang
mendasari instabilitas dan jatuh; memberikan terapi fisik dan penyuluhan berupa latihan cara
berjalan, penguatan otot, alat bantu, sepatu atau sandal yang sesuai; mengubah lingkungan
agar lebih aman seperti pencahayaan yang cukup; pegangan; lantai yang tidak licin, dan
sebagainya.
Latihan fisik (penguatan otot, fleksibilitas sendi, dan keseimbangan), latihan Tai Chi,
adaptasi perilaku (bangun dari duduk perlahan-lahan, menggunakan pegangan atau perabot
untuk keseimbangan, dan teknik bangunsetelah jatuh) perlu dilakukan untuk mencegah
morbiditas akibat instabilitas dan jatuh berikutnya. Perubahan lingkungan acapkali penting
untuk mencegah jatuh berulang. Lingkungan tempat orang usia lanjut tinggal seringkali tidak
aman sehingga upaya perbaikan diperlukan untuk memperbaiki keamanan mereka agar
kejadian jatuh dapat dihindari.
Berikut adalah upaya yang bisa dilakukan dalam upaya untuk memperkecil resiko jatuh
pada lansia:
Koreksi gangguan penglihatan (katarak, lapang pandang)
Koreksi terhadap hilangnya visus unilateral harus dilakukan untuk memperbesar
kemampuan mobilisasi, terutama jika resiko jatuh berhubungan dengan perubahan

struktur lingkungan. Pencahayaan maksimal perlu untuk dilakukan.


Koreksi gangguan pendengaran
Mengobati kelainan kardiovaskular
Menurunkan dosis obat-obat psikotropik
Pemberian vitamin D
Pemberian vitamin D pada penderita lanjut usia yang mengalami defisiensi vitamin D
memperlihatkan penurunan resiko jatuh. Suplementasi vitamin D juga memperlihatkan
perbaikan dalan status fungsional. Meskipun dosis yang direkomendasikan adalah 800 IU
Vitamin D3/hari, beberapa pasien memerlukan dosis yang lebih tinggi untuk mencapai

kadar 25-OH vitamin D > 32ng/mL (normal vit D3 dalam tubuh 60-80 ng/mL).
Pelaksanaan program latihan
Penggunaan alat bantu

Penggunaan alat bantu bisa menurunkan rasa takut jatuh dan memperbaiki mobilitas.
Penggunaan tongkat berguna untuk pasien yang mengalami gangguan hilangnya fungsi

sensoris (visual, vestibular, atau proprioseptif) sebagai penyebab primer untuk jatuh.
Home safety
Koreksi Vestibular

DAFTAR PUSTAKA
1. Setiati S, Laksmi PW. Gangguan Keseimbangan, Jatuh, dan Fraktur. Dalam : Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simandibrata M, Setiati S
(Editor). 2006. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Edisi V. Hal. 812-25.
2. King BM. Falls. In Fundamentals of Geriatric Medicine a case-based approach. Soranio
RP, Fernandez HM, Cassel CK, Leipzig RM (editors). 4th ed. Springer. New York. 2003.
3. Mahoney J. Falls & Mobility Disorders. In Current Geriatric Diagnosis &
Treatment.Landefeld CS,Palmer RM,Johnson MAG,Lyons WL. 2004. Mc-Graw Hill.