Anda di halaman 1dari 23

Refrat

papiledema
Pembimbing :
dr. Shanti Sri Agustina, Sp.M. M.Kes
dr. Dijah Halimi, Sp. M
Disusun oleh :
Radi Tri Hadrian 1102009232

Pendahuluan
Papil edema merupakan suatu pembengkakan diskus saraf optik
sebagai akibat sekunder dari peningkatan tekanan intrakranial.
Berbeda dengan penyebab lain dari pembengkakan diskus saraf
optik, pengelihatan biasanya masih cukup baik pada papil edema
akut. Tampilan diskus pada papil edema tidak dapat dibedakan
dari edema oleh penyebab lain (contohnya papililtis) yang mana
secara tidak spesifik diistilahkan dengan edema diskus optikus.

DEFINISI
Papil edema merupakan suatu pembengkakan diskus saraf
optik sebagai akibat sekunder dari peningkatan tekanan intra
kranial.
Berbeda dengan penyebab lain dari pembengkakan diskus
saraf optik, pengelihatan biasanya masih cukup baik pada
papil edema akut.

Papil edema hampir selalu timbul sebagai fenomena bilateral


dan dapat berkembang dalam beberapa jam sampai beberapa
minggu.
Istilah ini tidak dapat digunakan untuk menggambarkan
pembengkakkan diskus saraf optik yang disebabkan oleh
karena infeksi, infiltratif, atau peradangan.

ANATOMI
Nervus Optikus adalah saraf yang membawa
rangsang dari retina menuju otak. Diskus optikus
(papilla N. Opticus) merupakan bagian dari
nervus optikus yang terdapat intra okuler yang
dapat dilihat dengan pemeriksaan Oftalmoskopi.

Anatomi

N. Optikus mempunyai panjang sekitar 50 mm. Adapun


bagian-bagian dari Nervus Optikus itu adalah sebagai berikut :
Bagian intra okuler sepanjang 0,70 mm = papil
Bagian intra orbita sepanjang 33 mm = antara bola mata dan
foramen optik
Bagian intra kanalikuler sepanjang 6 mm
Bagian intra kranial sepanjang 10,00 mm = antara foramen
optik dan khiasma optikum

PATOFISIOLOGI

Pada papil edema kronik, diskus yang hiperemis


dan meninggi menjadi putih abu-abu akibat
gliosis astrositik dan atrofi saraf disertai konstriksi
sekunder pembuluh-pembuluh darah retina. dapat
muncul pembuluh darah kolateral optikosiliaris
dan eksudat halus atau drusen.

ETIOLOGI
(i) Kenaikan Tekanan Intra Kranial :
Setiap tumor atau space-occupying lesions (SOL) pada
susunan saraf pusat, terutama yang letaknya infra tentorial
seperti : tumor serebrum, abses, hematom subdura,
malformasi arteriovena, tumor cerebellum (otak kecil),
tumor pada ventrikel ke-IV, tumor pada fossa cranii
anterior dll
Hipertensi intra kranial idiopatik
Penurunan resorbsi LCS (pada thrombosis sinus venosus,
proses peradangan, meningitis, perdarahan subararaknoid)
Peningkatan produksi LCS
Obstruksi pada sistem ventrikular
Edema serebri/encephalitis
10

(ii) Pseudo Tumor Cerebri :


Thrombosis vena intra kranial, gangguan
endokrin seperti : Addisons disease, Cushings
disease; abses otak, perdarahan subarakhnoid
atau perdarahan subdural, hydrocephallus.
(iii) Penyakit-Penyakit Pada Orbita :
Tumor dari nervus optikus, thyroid
ophthalmopathy.

11

(iv) Penyakit-Penyakit Pada Mata :


Glaukoma akut, uveitis.
(v) Penyakit-Penyakit Sistemik :
Hipertensi maligna, blood dyscrasia, anemia dan
pulmonary insufficiency, uremia

12

klinis
Sakit kepala: sakit kepala akibat peningkatan tekanan intrakranial secara
karakteristik emmburuk ketika bangun tidur, dan dieksaserbasi oleh batuk dan
jenis manuver Valsava lainnya.
Mual dan muntah: jika peningkatan tekanan intrakranialnya parah, mual dan
muntah dapat terjadi. Ini selanjutnya dapat diserai dengan kehilangan
kesadaran, dilatasi pupil, dan bahkan kematian
Gejala Visual seringkali tidak ditemukan, namun gejala-gejala berikut dapat
terjadi:
Bebrapa pasirn mengalami gangguan visual transient (adanya pengelihatan memudar
keabu-abuan pada penygelihatan, terutama ketika bangun dari posisi duduk atau
berbaring, or transient flickering as if rapidly toggling a light switch).
Pengelihatan kabur, konstriksi pada lapangan pandang, dan penurunan persepsi warna
dapat terjadi.
Diplopia dapat terkadang ditemukan jika suatu kelumpuhan saraf ketujuh terjadi.
Tajam pengelihatan biasanya tidak terganggu kecuali pada penyakit yang sudah lanjut.

13

PEMERIKSAAN FISIK
Tanda-tanda vital, terutama tekanan darah untuk
menyingkirkan hipertensi maligna.
Adanya gangguan neurologis dan penyakit yang
berhubungan dengan demam.
Tajam penglihatan, penglihatan warna, dan
pemeriksaan pupil seharusnya normal. Defek relatif
aferen pupil biasanya tidak ditemukan. Defisit abduksi
sebagai akibat sekunder dari kelumpuhan saraf
kranialis keenam terkadang dapat ditemukan
berkaitan dengan peningkatan tekanan intrakranial.
14

Pemeriksaan fundus ditemukan tanda-tanda


berikut:

Manifestasi awal
Hiperemia diskus : tanda yang paling dini dari
papil edema, disebabkan karena dilatasi kapiler
Edema. Sering dimulai pada daerah nasal dari
diskus. Bila terdapat dilatasi dan edema
bersama-sama maka akan berwarna merah abuabu.
Batas papil kabur, dimulai pada bagian atas dan
bawah, selanjutnya menjalar kebagian nasal.
Sedang batas papil bagian temporal biasanya
masih baik dan paling terakhir menjadi kabur.
Akibatnya diameter diskus optikus menjadi lebih
besar.
15

Perdarahan kecil pada lapisan serabut saraf. Bentuk


perdarahan berupa flame shaped dan punctata/bercak.
Bila perdarahan terlihat jelas, maka hal ini menunjukkan
bahwa papil edema terjadi sangat cepat dan mendadak.
Elevasi papil. Tinggi elevasi dari papil dapat ditentukan
dengan membandingkan pembuluh darah papil yang
terlihat jelas dengan melihat terang pembuluh darah
retina. Elevasi ini diukur dengan Dioptri (biasanya lebih
dari 2 Dioptri).

16

Manifestasi lanjut
Jika papil edema terus memburuk, pembengkakkan
lapisan serabut saraf akhirnya menutupi batas normal
diskus dan diskus secara kasar terlihat terangkat.
Terjadi sumbatan vena, dan perdarahan peripapiler
menjadi lebih jelas, diikuti dengan eksudat dan cottonwool spots yang berada di atas atau di sekitar papil.
Keadaan ini disebabkan karena pembengkakan dan
degenerasi dari serabut-serabut saraf.
Retina sensoris peripapiller dapat tumbuh secara
konsentris atau, terkadang, membentuk lipatan radial
yang dikenal sebagai Paton lines.
17

Manifestasi kronis
Jika papil edema menetap selama beberapa bulan,
hiperemia diskus perlahan menghilang, memberikan
gambaran abu-abu atau pucat pada diskus yang sudah
hilang central cup-nya.
Seiring dengan waktu, diskus dapat mengembangkan
deposit kristalin yang mengkilat (disc pseudodrusen).

18

PENATALAKSANAAN
A. Medikamentosa
Diuretik: obat carbonic anhydrase inhibitor,
acetazolamide (Diamox), dapat berguna pada
kasus tertentu, terutama pada kasus-kasus
hipertensi.
Penurunan berat badan disarankan pada kasus
hipertensi.
Kortikosteroid mungkin efektif dalam kasus yang
berkaitan dengan keadaan.
19

B. Operatif
Jika terdapat lesi massa yang mendasari maka
harus diangkat.
ventriculoperitoneal shunt dapat digunakan
untuk memintas LCS.
Dekompresi selubung saaf optik dapat dilakukan
untuk mengurangi pemburukan gejala okuler
dalam kasus hipertensi intra kranial idiopatik
yang tidak terkontrol dengan obat-obatan.
Prosedur
ini
kemungkinan
tidak
akan
menghilangkan sakit kepala persisten yang
terjadi.
20

PROGNOSIS
Prognosis dari papil edema sangat tergantung
pada penyebabnya. Pasien dengan tumor otak
prognosisnya buruk. Pada penyakit obstruksi
ventrikuler dapat dibuat shunt dengan sukses.
Bila papil edema timbul secara cepat maka
prognosanya kurang baik. Papil edema dengan
elevasi lebih dari 5 Dioptri, disertai dengan
perdarahan dan eksudat yang banyak akan
memperburuk prognosa penglihatan.

21

KESIMPULAN
Diagnosis papil edema memerlukan penanganan
yang serius sampai keadaan patologi yang paling
buruk dapat disingkirkan. Konsultasi neurologis,
bedah saraf, atau neuroradiologis biasanya
diperlukan.
Terapi selalu ditujukan pada penyebabnya yaitu
dengan menurunkan tekanan intra kranial.
Setelah penyebab papiledema telah dihilangkan,
maka papiledema akan mereda dengan batas
papil mulai jelas kembali bahkan kadang-kadang
tanpa meninggalkan bekas.
22

Terima kasih

23