Anda di halaman 1dari 3

Patogenesis

Pada faringitis yang disebabkan infeksi, bakteri ataupun virus dapat secara langsung menginvasi
mukosa faring menyebabkan respon inflamasi lokal. Kuman menginfiltrasi lapisanepitel,
kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superfisial bereaksi, terjadi pembendungan
radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemi,
kemudian edema dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal
dan kemudian cendrung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan
hiperemi, pembuluh darah dinding faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna
kuning, putih atau abu-abu terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel
limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring posterior, atau terletak lebih ke lateral, menjadi
meradang dan membengkak. Virus-virus seperti Rhinovirus dan Coronavirus dapat menyebabkan
iritasi sekunder pada mukosa faring akibat sekresi nasal (Soepardi, 2006).
Infeksi streptococcal memiliki karakteristik khusus yaitu invasi lokal dan pelepasan extracellular
toxins dan protease yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang hebat karena fragmen M
protein dari Group A streptococcus memiliki struktur yang sama dengan sarkolema pada
myocard dan dihubungkan dengan demam rheumatic dan kerusakan katub jantung (Soepardi,
2006).
Selain itu juga dapat menyebabkan akut glomerulonefritis karena fungsi glomerulus terganggu
akibatterbentuknya kompleks antigen-antibodi (Soepardi, 2006).
Daftar pustaka
Soepardi, Efianty Arshad, et. all. 2006. Buku ajar ilmu penyakit TELINGA-HIDUNGTENGGOROKAN. Jakarta: FKUI

a. Faringitis Viral
Rinovirus menimbulkan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian akan menimbulkanfaringitis.
Demam disertai rinorea, mual, nyeri tenggorokan dan sulit menelan. Pada pemeriksaantampak
faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza,Coxsachievirus,dan cytomegalovirus tidak
menghasilkan eksudat. Coxsachievirus dapat menimbulkan lesi vesicular di orofaring dan
lesikulit berupa maculopapular rash (Soepardi, 2006).

Gambar 2.4. Viral Pharyngitis


Adenovirus
selain
menimbulkan
gejala
faringitis,
juga
menimbulkan
gejala
konjungtivitisterutama pada anak.
Epstein-Barr virus (EBV) menyebabkan faringitis yang disertai produksieksudat pada faring
yang banyak. Terdapat pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh terutamaretroservikal dan
hepatosplenomegali. Faringitis yang disebabkan HIV menimbulkan keluhannyeri tenggorok,
nyeri menelan, mual dan demam. Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis,terdapat eksudat,
limfadenopati akut di leher dan pasien tampak lemah (Soepardi, 2006).

b. Faringitis Bakterial
Nyeri kepala yang hebat, muntah, kadang-kadang disertai demam dengan suhu yangtinggi dan
jarang disertai dengan batuk. Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring dantonsil
hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian timbul bercak
petechiae pada palatum dan faring. Kelenjar limfa leher anterior membesar, kenyal dan nyeri
pada penekanan (Soepardi, 2006).

Gambar 2.4. Streptococcal Pharyngitis


Faringitis akibat infeksi bakteri streptococcus group A dapat diperkirakan dengan menggunakan
Centor criteria
yaitu : - Demam- Anterior Cervical lymphadenopathy- Tonsillar exudates- absence of cough
Tiap kriteria ini bila dijumpai diberi skor 1. bila skor 0-1 maka pasien tidak mengalami faringitis
akibat infeksi streptococcus group A, bila skor 1-3 maka pasien memiliki kemungkian
40%terinfeksi streptococcus group A dan bila skor 4 pasien memiliki kemungkinan 50%
terinfeksistreptococcus group A

Anda mungkin juga menyukai