Anda di halaman 1dari 40

BAB I

LAPORAN KASUS
A. IDENTIFIKASI
Nama

: An. S

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 15 tahun

Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: Pendopo

Kebangsaan

: Indonesia

Agama

: Islam

Status perkawinan

: Belum menikah

MRS

: 10 Maret 2011

Medrec

: 485257

B. ANAMNESIS (31 Maret 2011)

Keluhan Utama
Nyeri dan sukar menggerakkan lengan kanan dan tungkai kanan.

Riwayat Perjalanan Penyakit


2 jam SMRS motor yang dikendarai penderita ditabrak mobil dari arah
samping. Penderita terjatuh dengan lengan kanan dan tungkai kanan
membentur benda keras. Penderita merasakan nyeri dan sulit menggerakkan
lengan kanan dan tungkai kanan.

C. PEMERIKSAAN FISIK (31 Maret 2011)

Status Generalis
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Gizi

: Cukup

Nadi

: 78 x/menit

Pernapasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,7 C

Pupil

: Isokor, Refleks cahaya (+/+)

Kepala

: Konjuctiva pucat -/-

Kulit

: Tidak ada kelainan

KGB

: Tidak ada pembesaran

Leher

: Tidak ada kelainan

Paru-paru

: Tidak ada kelainan

Jantung

: Tidak ada kelainan

Abdomen

: Tidak ada kelainan

Genitalia Eksterna

: Tidak ada kelainan

Ekstremitas Superior

: Lihat Status Lokalis

Ekstremitas Inferior

: Lihat Status Lokalis

Status Lokalis
Regio Brachii Dekstra
Look = Tampak deformitas
Feel

= Nyeri tekan (+), Krepitasi (+)


NVD baik

Move = ROM aktif pasif terbatas.

Regio Cruris Dekstra


Look = Tampak Deformitas.
Feel

= Nyeri tekan (+), Krepitasi (+)


NVD Baik

Move = ROM aktif pasif terbatas.


D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium (10 Maret 2011)


Hb

: 12,4 g/dl

Ht

: 31 vol%

Leukosit

: 5.300 mm

Trombosit

: 471.000 mm

LED

: 30 mm/jam

Hitung Jenis : 0/2/0/55/38/1

Pemeriksaan Radiologis
Rontgen R. Brachii dekstra AP/Lateral :

Kesan : Fraktur Humerus 1/3 tengah transverse displaced.

Rotgen R. tibia fibula AP/Lateral :

Kesan: Fraktur tibia 1/3 distal kominutif + Fraktur fibula 1/3 distal transverse
undisplaced
E. DIAGNOSIS KERJA
Fraktur humerus dextra 1/3 tengah transverse displaced tertutup + Fraktur
tibia dextra 1/3 distal kominutif + Fraktur fibula dextra 1/3 distal transverse
undisplaced tertutup.
F. PENATALAKSANAAN
Terapi Konservatif
-

IVFD RL gtt XX/menit

Antibiotik

Analgetik

Immobilisasi Fraktur Humerus dengan U-slab

Immobilisasi Fraktur Cruris dengan long leg cast.

Terapi Operatif
Open reduksi internal fiksasi (ORIF)

G. PROGNOSIS
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad functionam: dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Definisi dan Penyebab Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan
epifisis dan atau tulang rawan sendi. Fraktur dapat terjadi akibat peristiwa
trauma tunggal, tekanan yang berulang-ulang, atau kelemahan abnormal pada
tulang (fraktur patologik).
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan
berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan,
pemuntiran, atau penarikan. Fraktur dapat disebabkan trauma langsung atau
tidak langsung. Trauma langsung berarti benturan pada tulang dan
mengakibatkan fraktur di tempat itu. Trauma tidak langsung bilamana titik
tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.
Tekanan yang berulang-ulang dapat menyebabkan keretakan pada
tulang. Keadaan ini paling sering ditemui pada tibia, fibula, atau metatarsal.
Fraktur dapat pula terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah
(misalnya oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada
penyakit paget).
II.2.

Anatomi
Ujung atas humerus mempunyai caput yang membentuk sekitar
duapertiga kepala sendi dan bersendi dengan cavitas glenoidalis scapula. Tepat
dibawah caput humeri terdapat collum anatomicum. Dibawah collum terdapat
sulcus bicipitalis. Pada pertemuan ujung atas humerus dan corpus humeri
terdapat penyempitan collum chirurgicum. Sekitar pertengahan permukaan

lateral corpus humeri terdapat peninggian kasar yang dinamakan tuberositas


deltoidea. Dibelakang dan bawah tuberositas terdapat sulcus spiralis yang
ditempati n.radialis.
Ujung bawah humerus mempunyai epicondylus medialis dan lateralis
untuk perlekatan otot dan ligamentum: capitulum humeri yang bulat bersendi
dengan caput radii: dan trochlear yang berbentuk katrol bersendi dengan
incisura trochlearis ulnae. Diatas capitulum terdapat fossa radii yang menerima
caput radii waktu siku fleksio. Diatas trochlear, dianterior terdapat fossa
coronoidea yang selama pergerakan yang sama menerima processus
coronoideus ulna. Diatas trochlear, diposterior terdapat fossa olecranii, yang
menerima olecranon tulang ulna sewaktu art.cubiti dalam keadaan ekstensio.
Pada lengan bawah terdapat dua tulang yaitu radius dan ulna. Kedua
tulang lengan bawah dihubungkan oleh sendi radioulnar yang diperkuat oleh
ligamentum anulare yang melingkari kapitulum radius di proksimal, dan di
distal oleh sendi radioulnar yang mengandung fibrokartilago triangularis
(triangular fibro cartilage complex = TFCC).Membrana interossea memperkuat
hubungan ini sehingga radius dan ulna merupakan satu kesatuan yang kuat.
Oleh karena itu patahan yang hanya mengenai satu tulang agak jarang terjadi
atau jika patahnya hanya mengenai satu tulang hampir selalu disertai dislokasi
sendi radioulnar yang dekat dengan patahan tersebut.
Fraktur cruris merupakan akibat terbanyak dari kecelakaan lalu lintas.
Hal ini diakibatkan susunan anatomi cruris dimana permukaan medial tibia
hanya ditutupi jaringan subkutan, sehingga menyebabkan mudahnya terjadi
fraktur cruris terbuka yang menimbulkan masalah dalam pengobatan.
Secara anatomi terdapat 4 grup otot yang penting di cruris:
1. otot ekstensor
2. otot abductor
3. otot triceps surae
4. otot fleksor
Keempat grup otot tersebut membentuk 3 kompartemen

Grup I

:memebentuk kompartemen anterior

Grup II

:membentuk kompartemen lateral

Grup III+IV

:membentuk kompartemen posterior yang terdiri dari

kompartemen superficial dan kompartemen dalam.


Arteri:
1.arteri tibialis anterior
2.arteri tibialis posterior
3.arteri peroneus
Saraf:
1. n.tibialis anterior dan n.peroneus mempersarafi otot ekstensor dan
abductor
2. n.tibialis posterior dan n.poplitea untuk mempersarafi otot fleksor dan
otot triceps surae.

II. 3

Klasifikasi Fraktur
a. komplit-tidak komplit
- fraktur komplit : garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
- fraktur tidak komplit : garis patah tidak melalui seluruh
penampang tulang seperti:
1. Hairline fracture (patah retak rambut)
2. Buckle fracture atau torus fracture (terjadi lipatan dari satu
korteks dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya).
3. Greenstick fracture (mengenai satu korteks dengan
angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang
anak)

b. bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma


-

garis patah melintang

garis patah oblique

garis patah spiral

fraktur kompresi

fraktur avulsi

c. jumlah garis patah


-

fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu dan


saling berhubungan

fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan.
Bila dua garis patah disebut pula fraktur bifokal.

fraktur multipel : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang
berlainan tempatnya.

d. bergeser-tidak bergeser (displaced-undisplaced)


-

fraktur undisplaced (tidak bergeser) : garis patah komplit tetapi kedua


fragmen tidak bergeser. Periosteumnya masih utuh.

Fraktur displaced (bergeser) : terjadi pergeseran fragmen-fragmen


fraktur yang juga disebut dislokasi fragmen.
1. dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah
sumbu dan overlapping)
2. dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut)
3. dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling
menjauhi).

e. terbuka-tertutup
-

Fraktur tertutup : bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur


dengan udara luar atau permukaan kulit.

Fraktur terbuka : bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang


fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit.
Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat
ringannya luka dan berat ringannya patah tulang.

Grade I

: luka biasanya kecil, luka tusuk yang bersih pada


tempat tulang menonjol keluar. Terdapat sedikit

10

kerusakan pada jaringan lunak, tanpa penghancuran


dan fraktur tidak kominutif.
Grade II

: luka > 1 cm, tetapi tidak ada penutup kulit. Tidak


banyak terdapat kerusakan jaringan lunak, dan tidak
lebih dari kehancuran atau kominusi fraktur tingkat
sedang.

Grade III

terdapat kerusakan yang luas pada kulit, jaringan


lunak dan struktur neurovaskuler, disertai banyak
kontaminasi luka.

III A

: tulang yang mengalami fraktur mungkin dapat


ditutupi secara memadai oleh jaringan lunak.

III B

: terdapat pelepasan periosteum dan fraktur kominutif


yang berat.

III C : terdapat cedera arteri yang perlu diperbaiki, tidak


peduli berapa banyak kerusakan jaringan lunak yang
lain.

Klasifikasi fraktur menurut Muller dkk,1990


Angka pertama menunjukkan tulang :
1=humerus
2=radius ulna
3=femur
4=tibia fibula
Angka kedua menunjukkan segmen
1=proksimal
2=diafisial
3=distal
4=maleolar

11

Suatu huruf menunjukkan jenis fraktur


Diafisis

A=sederhana
B=berbentuk baji
C=kompleks

Proksimal dan distal

A=ekstra artikular
B=artikular sebagian
C=artikular lengkap

Nomor selanjutnya menunjukkan morfologi fraktur secara rinci.


-OTA system
Humerus Distal
(13-A) fraktur ekstraartikuler
(13-A1) avulsi apofiseal
(13-A2) simpel metafiseal
(13-A3) multifragmen metafiseal
(13-B) fraktur parsial artikuler
(13-B1) kondilus sagital lateral
(13-B2) kondilus sagital medial
(13-B3) frontal
(13-C) fraktur komplet artikuler
(13-C1) simpel artikuler, simpel metafiseal
(13-C1) simpel artikuler, multifragmen metafiseal
(13-C1) multifragmen artikuler
-Sistem lainnya

Frykman

Melone

Universal. Code universal antara lain:


Type I : ekstra artikuler, undisplaced
Type II : ekstra artikuler, displaced
Type III:intra artikuler, undisplaced

12

Type IV:intra artikuler, displaced


II.3.1 Fraktur humerus
Fraktur humerus dapat terjadi pada:
1. fraktur epifisis humerus
2. fraktur metafisis humerus
3. fraktur diafisis humerus
1. Fraktur epifisis humerus
Fraktur epifisis humerus merupakan fraktur lempeng epifisis tipe II
(Salter-Harris). Biasanya terjadi pada anak-anak yang jath dalam posisi
hiperekstensi, misalnya jatuh pada saat mengendarai sepeda/kuda.
Klasifikasi:
-

Menurut Neer-Horowitz:
Grade I

: pergeseran fraktur kurangdari 5 mm

Grade II

: pergeseran epifisis 1/3 terhadapfragmen distal

Grade III

: pergeseran 2/3

GradeIV

: pergeseran melebihi 2/3

Tujuh puluh persen fraktur epifisis adalah grade I dan II.


2. Fraktur metafisis humerus
Biasanya tidak mengalami pergeseran,terapi konservatif merupakan
pilihan pengobatan. Fraktur metafisis dengan pergeseran yang jauh biasanya
bagian distal menembus ke arah muskulus deltoid sampai subkutan. Pada
keadaan ini biasanya memerlukan operasi untuk melepaskan fragmen.
3. Fraktur diafisis humerus
Fraktur diafisis humerus terjadi karena trauma langsung atau trauma
putar pada daerah humerus.

13

Gambaran klinis
Terdapat pembengkakan dan nyeri pada daerah humerus. Harus
diperhatikan apakah fraktur humerus ini disertai kelumpuhan saraf nervus
radialis yang jarang ditemukan pada anak-anak.
Fraktur supracondyler humerus
Fraktur ini biasanya ditrmukan pada anak-anak. Paling sering
ditemukan setelah fraktur antebraki. Fragmen distal dapat tertarik ke posterior
atau anterior.
Pergeseran posterior (tipe ekstensi) menunjukkan cedera yang luas,
biasanya jatuh pada tangan yang terentang. Humerus patah tepat di atas
kondilus. Fragmen distal terdesak ke belakang. Ujung fragmen proksimal
yang bergerigi menyodok jaringan lunak ke bagian anterior, kadang-kadang
mencederai arteri brachialis atau nervus medianus.
Pergeseran anterior (tipe fleksi) jarang terjadi, diperkirakan akibat
benturan langsung saat siku dalam keadaan fleksi.
Fraktur terlihat paling jelas dalam foto lateral.pada fraktur yang
bergeser ke posterior, garis fraktur berjalan secara oblik ke bawah dan ke
depan dan fragmen distal bergeser ke belakang dan miring ke belakang.
Klasifikasi
o Tipe 1
Terdapat fraktur tanpa adanya pergeseran dan hanya retak berupa
garis.
o Tipe 2
Tidak ada pergeseran fragmen, hanya terjadi perubahan sudut antara
humerus dan kondilus lateralis.
o Tipe 3

14

Terdapat pergeseran fragmen tetapi segmen posterior masih utiuh serta


masih kontak antara dua fragmen.
o Tipe 4
Pergeseran kedua fragmen dan tidak ada kontak sama sekali.

II. 4

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Radiologis
Dilakukan foto rontgen sinar X pada posisi AP, ataupun lateral.
Untuk melihat adanya fraktur naviculare dilakukan foto oblik khusus 45 dan
135 atau foto ulang 1 minggu setelah kejadian karena mungkin retak tidak
terlihat pada cedera baru.
Untuk fraktur-fraktur dengan tanda-tanda klasik, diagnosis

dapat

dibuat secara klinis sedangkan pemeriksaan radiologis tetap diperlukan untuk


melengkapi deskripsi fraktur dan dasar untuk tindakan selanjutnya.
Untuk fraktur-fraktur

yang tidak memberikan tanda-tanda klasik

memang diagnosanya harus dibantu pemeriksaan radiologis baik rontgen


biasa

ataupun pemeriksaan canggih seperti MRI, misalnya untuk fraktur

tulang belakang dengan komplikasi neurologis. Foto rontgen minimal harus


2 proyeksi yaitu AP dan lateral. AP dan lateral harus benar-benar AP dan
lateral. Posisi yang salah akan memberikan interpretasi yang salah. Untuk
pergelangan tangan atau sendi panggul diperlukan posisi axial pengganti
lateral. Untuk acetabulum diperlukan proyeksi khusus alar dan obturator.
Pada investigasi fraktur humerus distal dengan foto rontgen x-ray
dilihat adakah soft tissue swelling, kemudian dicari adakah fraktur pada os
humerus dimanakah tempatnya, apakah di diafisis, metafisis, atau epifisis,
apakah

komplit

atau

inkomplit,

bagaimana

konfigurasinya,

apakah

transversal, oblik, spiral, atau kominutif, apakah hubungan antar fragmennya


displaced atau undisplaced, lalu adakah dislokasi pada pertautan tulang-tulang
tersebut

15

Pada pemeriksaaan sendi siku dapat dilakukan dengan foto polos dan foto
lateral.
a. Foto polos
Sudut Baumann
Pada tulang immatur, kondilus humerus lateral mengalami
angulasi ke arah metafisis. Sudut antara garis epifiseal dan garis yang
tegak lurus terhadap aksis longitudinal humerus disebut sudut
baumann, yang normalnya 8-20 derajat. Biasanya sudut ini
dibandingkan antara siku kiri dan siku kanan apabila ada kecurigaan
fraktur di daerah itu.
Sudut angkat
Merupakan sudut yang dibentuk antara aksis longitudinal
humerus dan lengan bawah pada proyeksi AP. Normalnya 15 derajat
pada anak-anak dibawah atau sama dengan 4 tahun dan pada orang
dewasa 17,8 derajat.
b. foto lateral
Sudut kondilohumeral lateral
digunakan pada tulang immatur, dibentuk antara aksis
longitudinal humerus dan aksis kondilus lateralis. Normalnya 40
derajat dan simetris kanan dan kiri
Garis anterior humeral
Adalah garis lurus yang dibuat dari bagian depan korteks
diafisis humerus ke kondilus lateralis.
Pada foto rontgen fraktur epifisis humerus, ditemukan adanya
pemisahan epifisis dan metafisis, dimana epifisis bersama-sama dengan
sebagian metafisis yang tetap terletak dalam ruang sendi, sedang bagian distal
tertarik ke proksimal.

16

II. 5

Diagnosis
Menegakkan diagnosis fraktur dapat secara klinis meliputi anamnesis
lengkap dan melakukan pemeriksaan fisik yang baik, namun sangat penting
untuk dikonfirmasikan dengan melakukan pemeriksaan penunjang berupa foto
rontgen untuk membantu mengarahkan dan menilai secara objektif keadaan
yang sebenarnya.
1. Anamnesa : ada trauma
Bilamana tidak ada riwayat trauma berarti fraktur patologis. Trauma
harus diperinci jenisnya, besar-ringannya trauma, arah trauma dan posisi
penderita atau ekstremitas yang bersangkutan (mekanisme trauma).
Dari anamnesa saja dapat diduga :
- Kemungkinan politrauma
- Kemungkinan fraktur multipel
- Kemungkinan fraktur-fraktur tertentu, misalnya : fraktur colles, fraktur
supracondylair humerus, fraktur collum femur.
- Pada anamnesa ada nyeri tetapi tidak jelas pada fraktur inkomplit
- Ada gangguan fungsi, misalnya : fraktur femur, penderita tidak dapat
berjalan. Kadang-kadang fungsi masih dapat bertahan pada fraktur
inkomplit dan fraktur impacted ( impaksi tulang kortikal ke dalam
tulang spongiosa).
2. Pemeriksaan umum
Dicari kemungkinan kompikasi umum, misalnya : shock pada fraktur
multipel, fraktur pelvis atau fraktur terbuka, tanda-tanda sepsis pada
fraktur terbuka terinfeksi.
3. Pemeriksaan status lokalis
Tanda-tanda fraktur yang klasik adalah untuk tulang panjang. Fraktur
tulang-tulang kecil misalnya: naviculare manus, fraktur avulsi, fraktur
intraartikuler, fraktur epifisis. Fraktur tulang-tulang yang dalam misalnya
odontoid-cervical, cervical, dan acetabulum mempunyai tanda-tanda
tersendiri.

17

II. 6

Penatalaksanaan
Secara umum prinsip pengobatan fraktur ada 4:
1. Recognition, diagnosis dan penilaian fraktur
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur
dengan anamnesis, pemeriksan klinis dan radiologis. Pada awal
pengobatan perlu diperhatikan:
# Lokalisasi fraktur
# Bentuk fraktur
# Menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan
# Komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan
2. Reduction; reduksi fraktur apabila perlu
Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang
dapat diterima. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi anatomis
dan sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah
komplikasi seperti kekakuan, deformitas, serta perubahan osteoartritis
di kemudian hari.
Posisi yang baik adalah :
-alignment yang sempurna
-aposisi yang sempurna
3.

Retention; imobilisasi fraktur

4. Rehabilitation; mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal


mungkin
Pilihan Terapi
Ada 2 terapi, pilihan berdasarkan banyak faktor seperti bentuk fraktur, usia
penderita, level aktivitas, dan pilihan dokter sendiri.
a. Terapi pada fraktur tertutup
Pilihannya adalah terapi konservatif atau operatif .

18

Terapi konservatif
1. Proteksi saja
Untuk penanganan fraktur dengan dislokasi fragen yang minimal
atau dengan dislokasi yang tidak akan menyebabkan

cacat di

kemudian hari.
2. Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan
fraktur dengan kedudukan yang baik.
3. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips

Ini dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang berarti.


Fragen distal dikembalikan ke kedudukan semula terhadap fragen
proksimal dan dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam
gips.
4. Traksi
Ini dilakukan pada fraktur yang akan terdislokasi kembali di dalam
gips. Cara ini dilakukan pada fraktur dengan otot yang kuat. Traksi
dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau
dipasang gips estela tidak sakit lagi. Pada anak-anak dipakai kulit
(traksi Hamilton Russel/traksi Bryant). Traksi kulit terbatas untuk 4
minggu dan beban < 5 kg, untuk anak-anak waktu dan beban

19

tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai traksi definitif, bilamana


tidak maka diteruskan dengan immobilisasi gips. Untuk orang
dewasa traksi definitif harus traksi skeletal berupa balanced traction.

Terapi operatif
Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan
radiologis.
1. reposisi tertutup fiksasi externa
Setelah reposisi berdasarkan control radiologis intraoperatif maka
dipasang fiksasi externa. Untuk fiksasi fragmen patahan tulang,
digunakan pin baja yang ditusukkan pada fragmen tulang, kemudian
pin baja tadi disatukan secara kokoh dengan batangan logam di luar
kulit.

20

2. reposisi tertutup dengan control radiologis diikuti fiksasi interna.


Fragmen direposisi secara non operatif dengan meja traksi. Setelah
tereposisi dilakukan pemasangan pen secara operatif.
Terapi operatif dengan membuka frakturnya
1. Reposisi terbuka dan fikasasi interna /ORIF (Open Reduction and
Internal Fixation)
fiksasi interna yang dipakai bisa berupa pen di dalam sumsum
tulang panjang, bisa juga berupa plat dengan skrup di permukaan
tulang. Keuntungan ORIF adalah bisa dicapai reposisi sempurna
dan bila dipasang fiksasi interna yang kokoh, sesudah operasi tidak
perlu lagi dipasang gips dan segera bisa dilakukan immobilisasi.
Kerugiannya adalah reposisi secara operatif ini mengundang resiko
infeksi tulang.

Indikasi ORIF:

21

a) fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis


tinggi.
b) Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup
c) Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan.
d) Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih
baik dengan operasi, misalnya fraktur femur.
2. Excisional arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi.
3. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis
dilakukan pada fraktur kolum femur.
b. Terapi pada fraktur terbuka
Fraktur terbuka adalah suatu keadaan darurat yang memerlukan
penanganan segera. Tindakan harus sudah dimulai dari fase pra rumah
sakit:
-

pembidaian

menghentikan perdarahan dengan perban tekan

menghentikan perdarahan dengan perban klem.

22

Tiba di UGD rumah sakit harus segera diperiksa menyeluruh oleh


karena 40% dari fraktur terbuka merupakan polytrauma. Tindakan lifesaving harus selalu di dahulukan dalam kerangka kerja terpadu.
Tindakan terhadap fraktur terbuka:
1. Nilai derajat luka, kemudian tutup luka dengan kassa steril serta
pembidaian anggota gerak, kemudian anggota gerak ditinggikan.
2. Kirim ke radiologi untuk menilai jenis dan kedudukan fraktur serta
tindakan reposisi terbuka, usahakan agar dapat dikerjakan dalam waktu
kurang dari 6 jam (golden period 4 jam)
3. penderita diberi toksoid, ATS atau tetanus human globulin.
Tindakan reposisi terbuka:
1. Pemasangan torniquet di kamar operasi dalam pembiusan yang baik.
2. Ambil swab untuk pemeriksaan mikroorganisme dan kultur/ sensitifity
test.
3. Dalam keadaan narkose, seluruh ekstremitas dicuci selama 5-10 menit
dan dicukur.
4. Luka diirigasi dengan cairan Naci steril atau air matang 5-10 liter. Luka
derajat 3 harus disemprot hingga bebas dari kontaminasi.
5. Tutup luka dengan doek steril
6. Ahli bedah cuci tangan dan seterusnya
7. Desinfeksi anggota gerak
8. Drapping
9. Debridement luka (semua kotoran dan jaringan nekrosis kecuali
neirovascular vital termasuk fragmen tulang lepas dan kecil) dan diikuti
reposisi terbuka, kalau perlu perpanjang luka dan membuat incisi baru
untuk reposisi tebuka dengan baik.
10. Fiksasi:
a. fiksasi interna untuk fraktur yang sudah dipertahankan reposisinya
(unstable fracture) minimal dengan Kischner wire

23

b. Intra medular nailing atau plate screw sesuai dengan indikasinya


seperti pada operasi elektif, terutama yang dapat dilakukan dalam
masa golden period untuk fraktur terbuka grade 1-2
c. Tes stabilitas pada tiap tindakan. Apabila fiksasi interna tidak
memadai (karena sifatnya hanya adaptasi) buat fiksasi luar (dengan
gips spalk atau sirkular)
d. Setiap luka yang tidak bisa dijahit, karena akan menimbulkan
ketegangan, biarkan terbuka dan luka ditutup dengan dressing biasa
atau dibuat sayatan kontra lateral.
Untuk grade 3 kalau perlu:
Pasang fikasasi externa dengan fixator externa (pin/screw dengan K
nail/wire dan acrylic cement). Usahakan agar alignment dan panjang
anggota gerak sebaik-baiknya. Apabila hanya dipasang gips,
pasanglah gips sirkuler dan kemudian gips dibelah langsung (split)
setelah selesai operasi.
e. Buat x-ray setelah tindakan
Penatalaksanaan fraktur epifisis humerus
Fraktur yang masih baru terutama grade I tidak memerlukan reposisi.
Pada grade II reposisi dapat dilakukan dengan mudah dalam pembiusan
umum dan setelah itu dipasang mitela.
Pada fraktur epifisis humerus grade III dan IV harus dilakukan reposisi
dengan pembiusan umum dan apabila tidak berhasil dilakukan operasi terbuka
dengan fiksasi interna dengan menggunakan pin kecil.
Fraktur supracondyler humerus
> Terapi fraktur yang bergeser ke posterior
Tipe 1

24

Jika tidak ada pergeseran, tidak diperlukan reduksi, anak hanya


memakai kain gendongan atau mitela. Sembuh dalam 10 hari sampai 2
minggu.
Tipe 2
Perlu dilakukan reposisi tertutup untuk mengembalikan posisi
humerus distal karenaakan dapat mengakibatkan gangguan pergerakan fleksi
dan ekstensi di kemudian hari.
Tipe 3 dan 4
Fraktur yang disertai pergeseran harus direduksi secepat mungkin,di
bawah anestesi umum. Ini dilakukan dengan manuver secara metodik dan
hati-hati. (reposisi tertutup)
1. traksi selama 2-3 menit disepanjang lengan itu dengan traksi lawan di atas
siku
2. koreksi terhadap kemiringan, pergeseran dan pemuntiran ke samping
(bandingkandengan lengan di sebelahnya.
3. siku difleksikan perlahan-lahan, sementara traksidipertahankan.
4. tekanan jari di belakang fragmen distal untukmengoreksikemiringan
posterior.
5. nadi diraba, jika tidakada kendurkan fleksi siku hingga nadi muncul lagi.
Sinar-X diambil lagi untuk memastikan reduksi, sambil memeriksa
dengan cermat untuk memeastikan bahwa tidak terjadi angulasi varus atau
valgus dan tidak ada deformitas rotasional (McNicol, 1987).
Setelah direduksi lengan dipertahankan dalam suatu collar dan manset
terus-menerus selama 3 minggu.stelah itu diperbolehkan melakukan fleksi
siku aktif tetapi lengan disangga dalam kain gendongan dan ekstensi dihindari
selama 3 minggu lagi.
Pilihan lain dengan menggunakan traksi kulit. Siku pada posisi hampir
lurus dan lengan dalam bebat thomas yang kecil (traksi Dunlop) (Piggot,
Graham, McCoy, 1986).

25

Menurut

sumber

lain,

reposisi

tertutup

sebaiknya

dengan

menggunakan image intensifier dan dapat difiksasi dengan K-wire


perkutaneus atau tanpa fiksasi dan dipasang gips.
Reduksi terbuka kadang-kadang dipilih untuk mengatasi fraktur yang
tidak dapat direduksi. Fraktur dibuka,hematoma dievakuasi, fraktur dirduksi
dan dipertahankan dengan dua kawat Kirschner. Hal ini juga dilakukan pada
penderita yang datang setelah beberapa hari fraktur.
> Terapi pada fraktur pergeseran anterior
Cedera ini jarang terjadi, tapi kadang-kadang fraktur posterior berubah
menjadi fraktur anterior akibat terlalu banyak traksi dan manipulasi. Fraktur
direduksi dengan menarik lengan bawah dan siku pada posisi semi fleksi,
dilakukan penekanan pada bagian depan fragmen distal kemudian
mengekstensikan siku sepenuhnya, suatu slab posterior

dipasang dan

dipertahankan selama 3 minggu. Setelah itu,anak dibiarkan untuk memperoleh


fleksinya kembali secara berangsur-angsur.
II. 7

Penanganan Fraktur Kruris

1. Konservatif
Pengobatan standar dengan cara konservatif berupa reduksi fraktur
dengan manipulasi tertutup dengan pembiusan umum. Pemasangan gips sirkuler
untuk imobilisasi, dipasang di atas lutut.
Prinsip reposisi:
-

Fraktur tertutup

Ada kontak 70% atau lebih

Tidak ada angulasi

Tidak ada rotasi


Apabila ada angulasi, dapat dilakukan koraksi setelah 3 minggu (union

secara fibrosa). Pada fraktur oblique atau spiral imobilisasi dengan gips
biasanya sulit dipertahankan, sehingga mungkin diperlukan tindakan operasi.

26

Cast bracing adalah teknik pemasangan gips sirkuler dengan tumpuan


pada tendo patela (gips sarmiento) yang biasanya dipergunakan setelah
pembengkakan mereda atau telah terjadi union secara fibrosa.
2. Operatif
Terapi Operatif dilakukan pada:
-Fraktur Terbuka
-Kegagalan dalam terapi konservatif
-Fraktur tidak stabil
-Adanya nonunion
Metode pengobatan operatif:
-Pemasangan plate dan screw
-Nail intrameduler
-Pemasangan screw semata-mata
-Pemasangan fiksasi eksterna
Indikasi pemasangan fiksasi eksterna pada fraktur tibia:
-Fraktur tibia grade II dan III terutama apabila terdapat kerusakan jaringan
yang hebat atau hilangnya fragmen tulang.
-Pseudoartrosis yang mengalami infeksi (infected pseudoarthrosis)

II. 8

Prognosis
Prognosis dari fraktur humerus, radius dan ulna untuk kehidupan
adalah bonam. Pada sisi fungsi dari lengan yang cedera, kebanyakan pasien
kembali ke performa semula, namun hal ini sangat tergantung dari gambaran
frakturnya, macam terapi yang dipilih, dan bagaimana respon tubuh terhadap
pengobatan. Hampir semua penderita akan merasakan kaku dan nyeri di
pergelangan tangan pada satu atau dua bulan setelah gips dilepas atau
pembedahan, hal ini dapat berlanjut sampai dua tahun bahkan lebih terutama
pada trauma kecepatan tinggi, pasien di atas 50 tahun, atau pasien yang

27

memiliki osteoartritis. Namun kekakuan yang terjadi hanya ringan dan tidak
mempengaruhi keseluruhan fungsi lengan.
Bahaya besar pada fraktur suprakondilus adalah cedera pada arteri
brachialis, iskemia perifer dapat terjadi dengan segera dan hebat. Sering
disertai edema lengan bawah dan kompartemen sindrom yang makin
menghebat yang mengakibatkan nekrosis otot dan saraf tanpamenyebabkan
gangren perifer. Nyeri hebat ditambah satu tanda positif (nyari saat ekstensi
jarisecar pasif, lenganbawah yang nyeri tekan dan tegang, tak ada nadi dan
tumpulnya sensasi) membutuhkan tindakan yang cepat. Jika tidak tertangani
dengan cepat dan baik maka prognosisnya dapat menjadi jelek.
Lesi saraf jarang terjadi pada fraktur tertutup. Apabila terjadi, bisa
mengenai saraf radialis, ulnaris, maupun medianus atau cabangnya. Cedera
saraf radialis ditemukan pada fraktur Monteggia, sedangkan cedera saraf
medianus sering terjadi pada fraktur radius distal.
Malunion sering terjadi, humerus tumbuh lurus miring ke belakang
atau ke samping. Kemiringan ke arah depan atau belakang akan membatasi
fleksi dan ekstensi. Kemiringan ke arah samping atau rotasi tidak dikoreksi
akan mengarah terjadinya deformitas varus, yang tampak buruk dan kadang
membutuhkan osterotomi. Jika mengarah ke deformitas valgus dapat
menyebabkan kelumpuhan nervus ulnaris.
Komplikasi infeksi yang

menyebabkan osteomielitis

biasanya

merupakan akibat dari fraktur terbuka meskipun tidak jarang terjadi setelah
reposisi terbuka.
Prognosis dari fraktur tibia fibula untuk kehidupan adalah bonam.
Pada sisi fungsi dari kaki yang cedera, kebanyakan pasien kembali ke
performa semula, namun hal ini sangat tergantung dari gambaran frakturnya,
macam terapi yang dipilih, dan bagaimana respon tubuh terhadap pengobatan.
Komplikasi infeksi yang

menyebabkan osteomielitis

biasanya

merupakan akibat dari fraktur terbuka meskipun tidak jarang terjadi setelah
reposisi terbuka.

28

II. 8 Penyembuhan fraktur


Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang
menakjubkan. Tidak seperti jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur
dapat sembuh tanpa jaringan parut. Proses penyembuhan pada fraktur mulai
terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan apabila lingkungan untuk
penyembuhan memadai sampai terjadi konsolidasi.

Faktor mekanis yang

penting seperti imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting dalam
penyembuhan, selain faktor biologis yang juga merupakan suatu faktor yang
sangat esensial dalam penyembuhan fraktur. Proses penyembuhan fraktur
berbeda pada tulang kortikal pada tulang panjang serta tulang kanselosa pada
metafisis tulang panjang atau tulang-tulang pendek, sehingga kedua jenis
penyembuhan fraktur ini harus dibedakan.
1. Penyembuhan fraktur pada tulang kortikal
Proses penyembuhan pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu:
a. Fase Hematoma
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah
kecil yang melewati kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami
robekan pada daerah fraktur dan akan membentuk hematoma di antara
kedua sisi fraktur.

Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum.

Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami robekan akibat tekanan


hematoma sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah ke dalam jaringan
lunak.
Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari
daerah fraktur akan kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan
suatu daerah cincin avaskuler tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur segera
setelah trauma.
b. Radang dan proliferasi seluler

29

Dalam delapan jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut disertai
proliferasi sel di bawah periosteum dan di dalam saluran medulla yang
tertembus.

Ujung

fragmen

dikelilingi

oleh

jaringan

sel,

yang

menghubungkan tempat fraktur. Hematoma yang membeku perlahanlahan diabsorpsi dan kapiler baru yang halus berkembang ke daerah itu.
c. Fase pembentukan kalus
Sel yang berkembang biak memiliki potensi krondrogenik dan
osteogenik. Apabila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai
membentuk tulang dan dalam beberapa keadaan juga kartilago. Populasi
sel sekarang juga mencakup osteoklas (mungkin dihasilkan pembuluh
darah baru) yang mulai membersihkan tulang yang mati. Massa sel yang
tebal, dengan pulau-pulau tulang yang immatur dan kartilago, membentuk
kalus atau bebat pada permukaan periosteal dan endosteal. Sementara
tulang fibrosa yang immature (atau anyaman tulang) menjadi lebih padat,
gerakan pada tempat fraktur semakin berkurang dan pada empat minggu
setelah cedera, fraktur menyatu.
d. Fase konsolidasi
Bila aktivitas osteoklastik dan osteoblastik berlanjut, anyaman tulang
berubah menjadi tulang lamelar. Sistem itu sekarang cukup kaku untuk
memungkinkan osteoklas menerobos melalui reruntuhan pada garis
fraktur, dan dekat dibelakangnya osteoblas mengisi celah-celah yang
tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang
lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang cukup kuat
untuk membawa beban yang normal.
e. Fase remodeling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat.
Selama beberapa bulan, atau bahkan beberapa tahun, pengelasan kasar ini
dibentuk ulang oleh proses resorpsi dan pembentukan tulang yang terus
menerus.lamela yang lebih tebal diletakkan pada tempat yang tekanannya
tinggi, dinding-dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum

30

dibentuk.

Akhirnya, dan terutama pada anak-anak tulang akan

memperoleh bentuk yang mirip bentuk normalnya.

2. Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa


Tulang kanselosa yang berlokasi pada metafisis tulang panjang, tulang
pendek serta tulang pipih diliputi oleh korteks yang tipis. Penyembuhan
fraktur pada daerah tulang kanselosa melalui proses pembentukan kalus
internal atau endosteal, walaupun eksternal kalus atau periosteal juga
memiliki peranan yang penting. Trabekula dari tulang kanselosa memiliki
vaskularisasi yang baik sehingga nekrosis yang terjadi pada permukaan daerah
fraktur berlangsung minimal. Proses osteogenik penyembuhan sel dari bagian
endosteal yang menutupi trabekula, berproliferasi untuk membentuk woven
bone primer di dalam derah fraktur yang disertai hematoma. Pembentukan
kalus interna mengisi ruangan pada daerah fraktur. Penyembuhan fraktur
pada tulang kanselosa terjadi pada daerah dimana terjadi kontak lansung
diantara kedua permukaan fraktur yang berarti satu kalus endosteal. Apabila
terjadi kontak dari kedua fraktur maka terjadi union secara klinis. Selanjutnya
woven bone diganti oleh tulang lamelar dan tulang mengalami konsolidasi.
Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa terjadi secara cepat karena
beberapa faktor, yaitu :
1) Vaskularisasi yang baik
2) Terdapat permukaan yang lebih luas

31

3) Kontak yang baik memberikan kemudahan vaskularisasi yang cepat


4) Hematoma memegang peranan dalam penyembuhan fraktur
3. Penyembuhan fraktur pada tulang rawan persendian
Tulang rawan hialin permukaan sendi sangat terbatas kemampuannya
untuk regenerasi.

Pada fraktur intraartikuler penyembuhan tidak terjadi

melalui tulang rawan hialin, tetapi terbentuk melaui fibrokartilago.


II. 9

Komplikasi penyembuhan fraktur


1. Malunion
Malunion adalah keadaan dimana fraktur menyembuh pada saatnya,
tetapi terdapat deformitas yang berbentuk angulasi, varus/valgus, rotasi,
kependekan atau union secara menyilang misalnya pada fraktur radius dan
ulna.
Etiologi
Fraktur tanpa pengobatan, pengobatan yang tidak adekuat, reduksi dan
imobilisasi yang tidak baik, pengambilan keputusan serta teknik yang
salah pada awal pengobatan, osifikasi premature pada lempeng epifisis
karena adanya trauma.
Gambaran Klinis
Deformitas dengan bentuk yang bervariasi, gangguan fungsi anggota
gerak, nyeri dan keterbatasan pergerakan sendi, ditemukan komplikasi
seperti paralysis tardi nervus ulnaris, Osteoartritis apabila terjadi pada
daerah sendi, bursitis atau nekrosis kulit pada tulang yang mengalami
deformitas.
Radiologis
Pada foto roentgen terdapat penyambungan fraktur tetapi dalam posisi
yang tidak sesuai dengan keadaan yang normal.
Pengobatan
Konservatif dilakukan refrakturisasi dengan pembiusan umum dan
diimobilisasi sesuai dengan fraktur yang baru, apabila ada kependekan

32

anggota gerak dapat dipergunakan sepatu ortopedi. Operatif dilakukan


osteotomi koreksi (osteotomi Z) dan bone graft disertai dengan fiksasi
interna, atau dengan osteotomi dengan pemanjangan bertahap misalnya
pada anak-anak, atau dengan osteotomi yang bersifat baji.
2. Delayed Union
Delayed Union adalah fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3-5
bulan (3 bulan untuk anggota gerak atas dan 5 bulan untuk anggota gerak
bawah).
Etiologi
Sama dengan nonunion.
Gambaran Klinis
Nyeri anggota gerak dan pergerakan pada waktu berjalan, terdapat
pembengkakan, nyeri tekan, terdapat gerakan yang abnormal pada daerah
fraktur, pertambahan deformitas.
Radiologis
Tidak ada gambaran tulang baru pada ujung daerah fraktur, gambaran
kista pada ujung-ujung tulang karena adanya dekalsifikasi tulang,
gambaran kalus yang kurang disekitar fraktur.
Pengobatan
Konservatif dilakukan pemasangan plesteruntuk imobilisasi tambahan
selama 2-3 bulan. Operatif dilakukan bila union diperkirakan tidak akan
terjadi maka segera dilakukan fiksasi interna dan pemberian bone graft.
3. Non union
Disebut nonunion apabila fraktur tidak menyembuh antara 6-8 bulan
dan tidak didapatkan konsolidasi sehingga terdapat pseudoartrosis (sendi
palsu). Pseudoartrosis dapat terjadi tanpa infeksi tetapi dapat juga terjadi
bersama-sama infeksi disebut infected pseudoartrosis. Beberapa jenis
nonunion terjadi menurut keadaan ujung-ujung fragmen tulang yaitu :

33

hipertrofik ujung-ujung tulang bersifat sklerotik dan lebih besar dari


normal yang disebut gambaran elephants foot, garis fraktur tampak
dengan jelas, ruangan antar tulang diisi dengan tulang rawan dan jaringan
ikat fibrosa, pada jenis ini vaskularisasi baik sehingga biasanya hanya
diperlukan fiksasi yang rigid tanpa pemasangan bone graft.
Atrofik/oligotrofik tidak ada tanda-tanda aktivitas seluler pada ujung
fraktur, ujung tulang lebih kecil dan bulat serta osteoporotik dan
avaskuler, pada jenis ini disamping dilakukan fiksasi rigid juga diperlukan
pemasangan bone graft.
Etiologi
Vaskularisasi yang kurang pada ujung-ujung fragmen, reduksi yang tidak
adekuat, imobilisasi yang tidak adekut sehingga terjadi pada kedua
fragmen, waktu imobilisasi yang tidak cukup, infeksi, distraksi pada kedua
ujung karena adanya traksi yang berlebihan, interposisi jaringan lunak di
antara kedua fragmen, terdapat jarak yang cukup besar antara kedua
fragmen, destruksi tulang misalnya oleh karena tumor atau osteomielitis
(fraktur patologis), disolusi hematoma fraktur oleh jaringan sinovia
(fraktur intrakapsuler), kerusakan periosteum yang hebat sewaktu terjadi
fraktur atau operasi, fiksasi interna yang tidak sempurna, delayed union
yang tidak diobati, pengobatan yang salah atau sama sekali tidak
dilakukan pengobatan, terdapat benda asing diantara kedua fraktur
misalnya pemasangan screw diantara kedua fragmen.
Gambaran Klinis
Nyeri ringan atau sama sekali tidak ada, gerakan abnormal pada daerah
fraktur yang membentuk sendi palsu yang disebut pseudoartrosis, nyeri
tekan sedikit atau sama sekali tidak ada, pembengkakan bisa ditemukan
dan bisa juga tidak terdapat pembengkakan sama sekali, pada perabaan
ditemukan rongga diantara kedua fragmen.
Radiologis

34

Terdapat gambaran sklerotik pada ujung-ujung tulang, ujung-ujung tulang


berbentuk bulat dan halus, hilangnya ruangan meduler pada ujung-ujung
tulang, salah satu ujung tulang dapat berbentuk cembung dan sisi lainnya
cekung (pseudoartrosis).
Pengobatan
Fiksasi interna rigid dengan atau tanpa bone graft, eksisi fragmen kecil
dekat sendi misalnya kepala radius dan prossesus styloideus ulna,
pemasangan protesis misalnya pada fraktur leher femur, stimulasi elektrik
untuk mempercepat osteogenesis.
II. 10 Komplikasi fraktur
a. Komplikasi umum
1. Komplikasi dini
- rudapaksa multiple
- syok: hemoragik, nuerogenik
2. Komplikasi lama
- batu ginjal (akibat immobilisasi lama di tempat tidur)
b. Komplikasi lokal
1. Komplikasi dini tulang (selama beberapa minggu pertama setelah
cedera)
- infeksi
Fraktur terbuka dapat terinfeksi. Infeksi luka pasca trauma paling sering
menyebabkan osteitis kronis. Keadaan ini tidak mencegah penyatuan
fraktur, tetapi penyatuan akan berjalan lambat dan kesempatan
mengalami fraktur ulang meningkat.
Gambaran klinik:
Terdapat riwayat fraktur terbuka atau operasi pada fraktur tertutup.
Luka akan meradang dan mulai mengeluarkan cairan seropurulen.
Pemeriksaan contoh cairan ini dapat menghasilkan stafilokokus atau
kuman campuran.

35

2. Komplikasi dini selain tulang


- kulit: abrasi, laserasi, penetrasi
- pembuluh darah: robek
- sistem saraf: sumsum tulang belakang, saraf tepi motorik dan
sensorik
- otot
- organ dalam: jantung, paru, hepar, limpa (pada fraktur costae),
kandung kemih (pada fraktur pelvis)
3. Komplikasi lama
- sendi: ankilosis fibrosis, ankilosis osal
- tulang: nonunion/ malunion/ delayed union, distrofi reflek,
osteoporosis trauma, gangguan pertumbuhan, osteomielitis, patah
tulang-tulang
- otot/tendo: penulangan otot, ruptur tendo
- saraf: kelumpuhan saraf lambat
II.10.1 Komplikasi Fraktur Humeri
Dini
1. Cedera pembuluh darah
Bahaya besar pada fraktur suprakondilus adalah cedera pada arteri
brachialis, iskemia perifer dapat terjadi dengan segera dan hebat. Sering
disertai edema lengan bawah dan kompartemen sindrom yang makin
menghebat

yang

mengakibatkan

nekrosis

otot

dan

saraf

tanpamenyebabkan gangren perifer. Nyeri hebat ditambah satu tanda


positif (nyari saat ekstensi jarisecar pasif, lenganbawah yang nyeri tekan
dan tegang, tak ada nadi dan tumpulnya sensasi) membutuhkan tindakan
yang cepat.

36

2. Cedera saraf
Nervus medianus dapat cedera,tapi hilangnya fungsi biasanya
sementara dan penyembuhan dapat diharapkan dalam 6-8 minggu.
Lanjut
1. Miositis osifikans
Jarang terjadi, jika pada 3-4 minggu gerakan menurun dan bukan
meningkat, siku harus distirahatkan dalm talang gips.
2. Kekakuan siku
Sering terjadi dan luas, dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan
untuk dapat normal. Gerakan pasif (termasuk mengangkat barang) atau
gerakan yang dipaksakan dilarang.
3. Malunion
Sering terjadi, humerus tumbuh lurus miring ke belakang atau ke
samping. Kemiringan ke arah depan atau belakan g akan membatasi
fleksi dan ekstensi, tapi umumnya ketidakmampuannya ringan.
Kemiringan ke arah samping atau rotasi tidak dikoreksi lebih penting.
Akan mengarah terjadinya deformitas varus, yang tampak buruk dan
kadang membutuhkan osterotomi. Jika mengarah ke deformitas valgus
dapat menyebabkan kelumpuhan nervus ulnaris.

37

BAB III
ANALISIS KASUS
Pada anamnesis didapatkan data bahwa penderita berusia 15 tahun beralamat
di Pendopo datang berobat ke RSMH dengan keluhan nyeri dan sukar menggerakkan
lengan kanan dan tungkai kanan setelah terjatuh. Dari anamnesis lebih lanjut
diketahui bahwa 2 jam SMRS penderita ditabrak mobil dari arah samping.
Penderita terjatuh dengan lengan kanan dan tungkai kanan membentur benda keras.
Penderita kemudian merasa nyeri dan sulit menggerakkan lengan kanan dan tungkai
kanan. Jari-jari tangan kanan penderita masih dapat digerakkan.Pada pemeriksaan
fisik, status generalis didapatkan pernafasan, nadi, tekanan darah dan suhu dalam
batas normal. Dari hasil pemeriksaan fisik, pada status lokalis didapatkan pada regio
brachii dekstra tampak adanya deformitas yang menyingkirkan trauma jaringan lunak
tanpa luka robek yang menunjukkan fraktur tertutup, palpasi nyeri tekan (+), NVD
baik dan ROM aktif pasif terbatas, yaitu penderita kesulitan menggerakkan secara
aktif dan pasif sendi proksimal dan distal region brachii dekstra. Pada regio cruris
dekstra

tampak adanya deformitas yang menyingkirkan trauma jaringan lunak,

palpasi nyeri tekan (+), krepitasi (+), NVD baik dan ROM aktif pasif terbatas, yaitu
penderita kesulitan menggerakkan secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal
regio cruris dekstra.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan berupa pemeriksaan radiologis
dengan hasil rontgen R. Brachii dekstra AP/Lateral menunjukkan adanya Fraktur
humerus 1/3 tengh dekstra displaced dan R. Cruris dekstra AP/ Lateral menunjukkan
adanya fraktur tibia distal kominutif dan fraktur fibula 1/3 distal transverse
undisplaced tertutup.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang
telah dilakukan disimpulkan bahwa pasien ini didiagnosa dengan Fraktur humerus 1/3
tengah transverse displaced tertutup, Fraktur tibia 1/3 distal kominutif dan fraktur
fibula 1/3 distal transverse undisplaced tertutup.

38

Penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien ini ada yaitu terapi konservatif.
Jika secara konservatif, dilakukan reduksi dan reposisi tertutup dan diimobilisasi
dengan pemakaian U slab pada fraktur humerus dan long leg cast pada fraktur tibia
fibula selama 6 minggu. Terapi operatif sebagai pilihan lain dapat dilakukan dengan
fiksasi interna di kamar operasi. Prognosis pasien ini adalah Quo ad vitam bonam dan
quo ad fungtionam dubia ad bonam. Hal ini dikarenakan fraktur yang terjadi
merupakan fraktur kominutif sehingga kemungkinan terjadi komplikasi lebih besar,
namun bila dilakukan terapi yang adequat masih dapat memberikan hasil yang baik.

39

DAFTAR PUSTAKA
Reksoprodjo, Soelarto. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Fakultas Kedoktran
Universitas Indonesia. Jakarta: Binarupa Aksara. 1995
Apley AG, Solomon L. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta:
Widya Medika. 1995.
Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar: Bintang
Lamumpatue. 2003.
Bergman, Ronald, Ph.D. Anatomy of First Aid: A Case Study Approach.
Available from: http://www.anatomyatlases.org/firstaid/ThighInjury.shtml
Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakarta: EGC.
2004.
John
L.
Triplane
fracture.
http://www.emedicine.com/sports-/TOPIC38.HTM

Available

from:

Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi ketiga. Jakarta: Media
Aesculapius. 2000.
Snell, Anatomi Klinik. Bagian 2. Edisi ketiga. Jakarta: EGC. 1998

40