Anda di halaman 1dari 2

FILM 2+2=5 (TWO AND TWO)

Sebuah Film yang menceritakan tentang anak-anak sekolah yang


disuap paksa untuk menelan suatu fakta yang tidak lagi dianggap
benar oleh otoritas yang berkuasa. Sebuah film yang
menggambarkan bagaimana pemerintahan rezim yang keras yang
mungkin masih ada hingga saat ini.
Ceritanya ada sebuah guru yang sedang mengajar,dia menulis di papan
tulis 2+2=5. Anak-anak pun pada kebingungan,tetapi dengan sikap
kasarnya si guru membentak dan memerintahkan untuk mengikuti dia.
ketika ada salah satu anak yang tidak mengikuti dia langsung menjadi
musuhnya dan diperintahkan untuk dibunuh.
Rupanya si pembuat film ingin menjelaskan bahwa sekarang sedang
marak muncul pemahaman dalam Islam yang seperti itu, yang tidak
ikut dengan dia maka adalah musuh dan boleh dibunuh walaupun
pemahamannya itu salah.
Lihatlah di sekitar kita. Di jejaring sosial, selama 2-3 tahun
terakhir ini, kita menyaksikan satu kelompok yang tenggelam
dalam lumpur kebohongan. Mereka menyebarluaskan foto dan
video melalui media sosial dengan cara berbohong. Mereka
menyebut foto korban gempa bumi di Azebaijan atau korban
Israel di Gaza sebagai foto korban kekejaman rezim Assad. Foto
para pengedar narkoba Iran yang dihukum gantung karena
kejahatan mereka disebut sebagai foto orang Sunni yang
digantung pemerintah Syiah dengan alasan perbedaan mazhab.
Orang-orang yang mengatakan kebenaran dituduh sesat dan
kafir.
Sungguh luar biasa kebohongan mereka itu. Mereka
melakukannya secara berulang, tanpa rasa malu atau khawatir
bahwa kebohongan mereka itu akan terungkap. Mungkin
mereka terlalu percaya diri. Pasalnya, sebagian pasukan
militan mereka telah tercuci otaknya sedemikian rupa hingga
selalu membenarkan apapun yang mereka kabarkan. Atau,
ketika kebohongan itu terungkap, para simpatisan militan itu
akan memaklumi kebohongan apapun yang tersaji.
Hal ini bisa dilihat dari sangat banyaknya simpatisan fanpagefanpage takfiri yang selalu menyebarluaskan kebohongan.
Ketika ada yang berusaha meluruskan informasi yang ditulis
oleh fanpage itu, para simpatisan akan segera menindas-nya
dengan kata-kata kasar, atau admin akan membungkamnya
dengan cara mem-ban (dikeluarkan dari keanggotaan fanpage,
sehingga tidak bisa berkomentar lagi), atau, bahkan memberi
justifikasi Biar sajalah foto ini palsu, tak penting. Yang penting

kan memang benar Assad menindas rakyat Sunni Suriah!


Luar biasa, bukan? Pantas saja para pembohong itu tetap
percaya diri untuk terus-menerus berbohong. Itu karena
mereka merasa bahwa kebohongan-kebohongan mereka itu
tetap dipercaya. Atau mungkin mereka meneladani Hiltler yang
berkata, Sampaikanlah kebohongan secara berulang-ulang,
maka kebohongan itu akan jadi kebenaran.