Anda di halaman 1dari 13

BAB I

STATUS PASIEN

1.1

Identitas
Nama
Usia
Jenis Kelamin
Alamat
Pekerjaan
Status
Tanggal berobat

:
:
:
:
:
:
:

Tn. D
38 tahun
laki-laki
Langen sari
pekerja bangunan
Menikah
19 Mei 2015

Bercak merah kehitaman yang gatal di seluruh tubuh sejak

1.2 Anamnesa
Keluhan utama
4 hari yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang laki-laki berusia 38 tahun datang ke poli kulit RSUD Banjar dengan keluhan
bercak merah kehitaman yang disertai rasa gatal. Pasien mengeluh bercak mulai timbul
setelah beberapa hari setelah mengkonsumsi obat dari klinik, yang sebelumnya pasien
mengeluhkan tangan nya timbul bercak merah dan mengelupas akibat terkena semen. bercak
muncul di seluruh bagian tubuh, yaitu pada bagian perut, dada, punggung, leher, tangan,
pantat, paha, kaki.
Tidak ada keluhan pada saat pasien mencuci dengan menggunakan deterjen, pada saat
berkeringat pun pasien tidak pernah merasa gatal, namun setelah mengkonsumsi obat dari
klinik, keluhan ini muncul dan baru pertama kali di derita pasien, pasien mengaku keluhanya
semakin bertambah berat, keluhan bercak yang awalnya gatal sekarang di perberat dengan
munculnya rasa panas dan perih, pasien juga merasa pusing, batuk, penglihatan silau dan
nyeri saat menelan.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat keluhan yang sama sebelumnya disangkal.


Riwayat alergi makanan atau obat-obatan tidak di ketahui oleh pasien
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat alergi makanan atau obat-obatan tidak diketahui.
Riwayat Pengobatan
Sebelumnya pasien berobat ke klinik karena dermatitis kontak iritan akibat semen
Obat : neobiotik (tetrasiklin HCL 500mg )
CTM
1.3 PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Kesadaran

Composmentis

Keadaan umum

Tampak sakit sedang

Status Dermatologikus
Distribusi

Generalisata

A/R

Muka, Leher, dada, perut, punggung, kedua tangan, pantat, paha, dan kedua
kaki.

Lesi

Multipel, diskret, bentuk sebagian bulat, dan sebagian irreguler, permukaan


sebagian menimbul sebagian tidak menimbul, ukuran terkecil 2x1 cm
terbesar 8x10 cm, berbatas tegas, lesi kering

Efluroesensi

eritema makula, urtikaria, macula hiperpigmentasi, erosi

1.4 Pemeriksaan penunjang


Laboratorium
1. Biopsi tidak dilakukan.
2. Uji tempel tidak dilakukan
1.5 Resume
Seorang laki-laki berusia 38 tahun datang ke poli kulit RSUD Banjar dengan keluhan
bercak merah kehitaman yang disertai rasa gatal. Pasien mengeluh bercak mulai timbul
setelah beberapa hari setelah mengkonsumsi obat dari klinik, yang sebelumnya pasien
mengeluhkan tangan nya timbul bercak merah dan mengelupas akibat terkena semen. bercak
muncul di seluruh bagian tubuh, yaitu pada bagian perut, dada, punggung, leher, tangan,
pantat, paha, kaki.

Tidak ada keluhan pada saat pasien mencuci dengan menggunakan deterjen, pada saat
berkeringat pun pasien tidak pernah merasa gatal, namun setelah mengkonsumsi obat dari
klinik, keluhan ini muncul dan baru pertama kali di derita pasien, pasien mengaku keluhanya
semakin bertambah berat, keluhan bercak yang awalnya gatal sekarang di perberat dengan
munculnya rasa panas dan perih, pasien juga merasa pusing, batuk, penglihatan silau dan
nyeri saat menelan. Obat : neobiotik (tetrasiklin HCL 500mg ), CTM
Status Dermatologikus
Distribusi

Generalisata

A/R

Muka, Leher, dada, perut, punggung, kedua tangan, pantat, paha, dan kedua
kaki.

Lesi

Multipel, diskret, bentuk sebagian bulat, dan sebagian irreguler, permukaan


sebagian menimbul sebagian tidak menimbul, ukuran terkecil 2x1 cm
terbesar 8x10 cm, berbatas tegas, lesi kering

Efluroesensi
1.6 Diagnosa klinis
Diagnosa banding

eritema makula, urtikaria, macula hiperpigmentasi, erosi

: Drug eruption
Steven-johnson syndrome
Eritem Multiformis
Dermatitis kontak alergi

Diagnosa Kerja

: Drug Eruption

1.7 Penatalaksanaan
1. Hentikan pengobatan yang di duga sebagai penyebab
2. Pengobatan sistemik

Pemberian kortikosteroid, tablet prednisone 3x10 mg/hr, antihistamin diberikan jika ada
keluhan gatal.
3. Pengobatan topikal
Lesi kering di berikan bedak salisilat 2% di tambah mentol 1/2 1% untuk
mengurangi rasa gatal, atau bisa di berikan krim kortikosteroid (hidrokortison 1%

atau 2,5%)
Lesi basah, kompres dengan larutan asam salisilat 1%, krim hidrokortison 1%
atau 2,5%.

1.8 Prognosis
1

Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam

: ad bonam

Quo ad sanationam

: ad bonam

BAB II
ANALISA KASUS
2.1 Pembahasan

Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan seoarang laki-laki datang ke
poliklinik kulit RSUD banjar dengan keluhan bercak merah kehitaman pada seluruh tubuh (leher,
dada, perut, punggung, tangan, paha, kaki) setelah Pasien mengkonsumsi obat dari klinik.
Teori: erupsi obat alergi atau allergic drug eruption ialah reaksi alergi pada kulit atau
daerah mukokutan yang terjadi sebagai akibat pemberian obat dengan cara sistemik. Pemberian
dengan cara sistemik di sini berarti obat tersebut masuk melalui mulut, hidung, rektum, vagina,
dan dengan suntikan atau infus. Sedangkan reaksi alergi yang disebabkan oleh penggunaan obat
dengan cara topikal, yaitu obat yang digunakan pada permukaan tubuh mempunyai istilah sendiri
yang disebut dermatitis kontak alergi. (1,2,3)
Dasar diagnosis erupsi obat alergik sebagai berikut:
1.

Anamnesis teliti mengenai

Obat-obat yang di dapat, jangan lupa menanyakan tentang obat yang di


konsumsi

Kelainan yang timbul secara akut atau dapat juga beberapa hari sesudah
masuknya obat.

Adapun faktor resiko drug eruption ini ialah sebagai berikut:


1. Jenis kelamin
laki-laki mempunyai risiko untuk mengalami gangguan ini jauh lebih tinggi jika
dibandingkan dengan wanita. Walaupun demikian, belum ada satupun ahli yang mampu
menjelaskan mekanisme ini. (1,4,6)
2. Dosis
Pemberian obat yang intermitten dengan dosis tinggi akan memudahkan timbulnya
sensitisasi. Tetapi jika sudah melalui fase induksi, dosis yang sangat kecil sekalipun
sudah dapat menimbulkan reaksi alergi. Semakin sering obat digunakan, Semakin besar
pula kemungkinan timbulnya reaksi alergi pada penderita yang peka. (1,4,6)
pada status dermotologikus pasien ditemukan distribusi generalisata. A/R bawah leher,
perut, punggung, tangan, pantat, paha, dan kaki. Lesi Multipel, diskret, bentuk sebagian bulat,
dan sebagian irreguler, permukaan sebagian menimbul sebagian tidak menimbul, berbatas tegas,
kering. Dengan efluroesensi eritema makulapapular, urtikaria, hiperpigmentasi.
Teori: Manifestasi Klinik drug eruption

1. Morfologi dan Distribusi


Perlu diketahui bahwa erupsi alergi obat yang timbul akan mempunyai kemiripan dengan
gangguan kulit lain pada umumnya, gangguan itu diantaranya;
a. Urtikaria
Kelainan kulit terdiri atas urtika yang tampak eritem disertai edema akibat tertimbunnya
serum dan disertai rasa gatal. Bila dermis bagian dalam dan jaringan subkutan mengalami
edema, maka timbul reaksi yang disebut angioedema.Reaksi ini dapat bertahan selama
dua sampai lima hari. Pelepasan mediator inflamasi dari suatu aktifasi yang bersifat non
imunologis juga dapat menimbulkan reaksi urtikaria. Urtikaria dan angioedema sangat
berhubungan dengan Ig-E sebagai suatu respon cepat terhadap berbagai antibiotik.

2,7

b. Eritema
Kemerahan pada kulit akibat melebarnya pembuluh darah. Warna merah akan hilang pada
penekanan. Ukuran eritema dapat bermacam-macam. Jika besarnya lentikuler maka

disebut

eritema

skarlatiniformis.

morbiliformis,

dan

bila

besarnya

numular

disebut

eritema

c. Dermatitis medikamentosa
Gambaran klinisnya memberikan gambaran serupa dermatitis akut, yaitu efloresensi yang
polimorf, membasah, berbatas tegas. Kelainan kulit menyeluruh dan simetris.

d. Purpura
Purpura ialah perdarahan di dalam kulit berupa kemerahan pada kulit yang tidak hilang
bila ditekan. Purpura dapat timbul bersama-sama dengan eritem dan biasanya disebabkan
oleh permeabilitas kapiler yang meningkat.

e. Erupsi eksantematosa
Lebih dari 90% erupsi obat yang ditemukan berbentuk erupsi eksantematosa. Erupsi yang
muncul dapat berbentuk morbiliformis atau makulopapuler. Pada mulanya akan terjadi
perubahan yang bersifat eksantematosa pada kulit tanpa didahului blister ataupun
pustulasi. Erupsi bermula pada daerah leher dan menyebar ke bagian perifer tubuh secara
simetris dan hampir selalu disertai pruritus.

2,7

f. Eritema nodosum
Kelainan kulit berupa eritema dan nodus-nodus yang nyeri disertai gejala umum berupa
demam, dan malaise.

g. Eritroderma

Eritroderma adalah terdapatnya eritema universal yang biasanya disertai skuama.


Eritroderma karena alergi obat terlihat eritema tanpa skuama, skuama baru muncul pada
stadium penyembuhan, obat-obat yang biasa menyebabkan ialah sulfonamide, penisilin,
dan fenilbutazon
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilaksanakan untuk memastikan penyebab erupsi obat alergi
adalah:

9
1. Pemeriksaan laboratorium

Uji tempel (patch test)

Uji tusuk (prick/scratch test)

Uji provokasi (exposure test)

Diagnosa banding (1,3,5,6,9)


1. Stevens johnson syndrome
merupakan kumpulan reaksi mukokutaneus akut yang desebabkan oleh obatobatan dan kadang-kadang infeksi, terjadi di seluruh dunia dan wanita terkena lebih
banyak daripada pria. Penyakit ini lebih sering terjadi pada dewasa dibandingkan
anak-anak.
Penyebabnya adalah multifaktorial dengan obat-obatan merupakan penyebab
utama (50% pada SJS). Gejala klinisnya berupa makula berbentuk morbili yang
awalnya muncul pada wajah, leher, dagu dan daerah tengah tubuh dan selanjutnya
akan menyebar ke ekstrimitas dan seluruh tubuh.
Kelainan pada mukosa 40% terjadi pada mukosa oral, konjunctiva bulbar, dan
mukosa anogenital. Kelainan nya dapat berupa sensasi terbakar pada konjunctiva,
bibir dan mukosa bukal, eritema, serta edema. Selain itu juga terdapat blister yang
dapat pecah dan berubah menjadi erosi yang dilapisi oleh pseudomembran berwarna
putih keabuan.

2. Eritem multiformis
Merupakan reaksi pembuluh darah pada dermis dengan perubahan sekunder pada
epidermis yang manifestasi klinisnya berupa gambaran khas berbentuk popular
eritematus berbentuk iris dan lesi vesikobulosa dengan predileksi pada ekstrimitas
(terutama telapak tangan dan telapak kaki) dan membran mukosa.
Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Onset 50% pada usia
20 tahun. Penyebab eritema multiforme adalah reaksi kulit terhadap berbagai macam
stimulus antigen, diantaranya obat-obatan seperti sulfonamide, fenitoin, barbiturate,
fenilbutazon, penisilin dan alopurinol.
Lesi kulit dapat berkembnag sampai lebih dari 10 hari. Macula terjadi dalam 48
jam pertama, yang kemudian diikuti oleh pembentukan papula (1 2 cm) dengan
vesikel atau bula di tengahnya, sehingga membentuk gambaran lesi target/iris.
Predileksi di tangan bagian dorsal, telapak tangan dan telapak kaki, lengan bawah,
kaki, wajah, siku, lutut, panis (50%) dan vulva. Lesi bisa terlokalisasi atau
generalisasi, bilateral dan sering simetris.
3. Dermatitis kontak alergi
Peradangan kulit ( epidermis dan dermis ) sebagai respons terhadap pengaruh
eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi
polimorfik (eritema, edema, papul,vesikel, skuama, likenifikasi) dan keluhan gatal
Penyebab dermatitis dapat berasal dari luar (eksogen), misalnya bahan kimia
(contoh: detergen, asam basa, oli, semen), fisik (contoh : sinar, suhu),
mikroorganisme (bakteri, jamur).

Penatalaksanaan (1,4)
1.

Hentikan pengobatan yang di duga sebagai penyebab

2. Pengobatan sistemik

Pemberian kortikosteroid, tablet prednisone 3x10 mg/hr, antihistamin diberikan jika


ada keluhan gatal.
3. Pengobatan topikal
Lesi kering di berikan bedak salisilat 2% di tambah mentol 1/2 1% untuk
mengurangi rasa gatal, atau bisa di berikan krim kortikosteroid (hidrokortison 1%

atau 2,5%)
Lesi basah, kompres dengan larutan asam salisilat 1%, krim hidrokortison 1%
atau 2,5%.

Prognosis
Pada dasarnya erupsi kulit karena obat akan menyembuh bila obat penyebabnya dapat diketahui
dan segera disingkirkan. 2,4,9

Quo ad vitam
Quo ad functionam
Quo ad sanationam

:ad bonam
: ad bonam
: ad bonam

DAFTAR PUSTAKA
1. Revus J, Allanore AV. Drugs Reaction. In: Bolognia Dermatology. Volume One. 2nd
edition. Elserve limited, Philadelphia. United States of America. 2003. p: 333-352
2. Hamzah M. Erupsi Obat Alergik. In: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 3rd edition.
Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2002. p:139-142
3. Andrew J.M, Sun. Cutaneous Drugs Eruption.In: Hong Kong Practitioner. Volume 15.
Department of Dermatology University of Wales College of Medicine. Cardiff CF4 4XN.
U.K.. 1993. Access on: June 3, 2007. Available at:
http://sunzi1.lib.hku.hk/hkjo/view/23/2301319.pdf
4. Lee A, Thomson J. Drug-induced skin. In: Adverse Drug Reactions, 2

nd

ed.

Pharmaceutical Press. 2006. Access on: June 3, 2007. Available at:


http://drugsafety.adisonline.com/pt/re/drs/pdf
5. Riedl MA, Casillas AM, Adverse Drug Reactions; Types and Treatment Options. In:
American Family Physician. Volume 68, Number 9. 2003. Access on: June 3, 2007.
Available at: www.aafp.org/afp
6. Shear NH, Knowles SR, Sullivan JR, Shapiro L. Cutaneus Reactions to Drugs. In:
Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. 6

th

ed. USA: The Mc Graw Hill

Companies, Inc. 2003. p: 1330-1337


7. Docrat ME. Fixed Drug Eruption.In: Current Allergy & Clinical Immunology. No.1.
Volume 18. Wale Street Chambers. Cape Town. 2005. Access on : June 3, 2007. Available
at: www.allergysa.org/journals/2005/march/skin_focus.pdf
8. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Erupsi Alergi Obat. In: Kapita
Selekta Kedokteran. Volume 2. 3rd edition. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Media Aesculapius. Jakarta. 2002. p:133-139
9. Adithan C. Stevens-Johnson Syndrome. In: Drug Alert. Volume 2. Issue 1. Departement
of Pharmacology. JIPMER. India. 2006. Access on: June 3, 2007. Available at:
www.jipmer.edu

TUTORIAL

DRUG ERUPTION

Disusun oleh :
Raditya rezha
Tika nurfadilah
Bunga kartika
Pembimbing klinis:

dr.Bowo Wahyudi, Sp.KK


Kepaniteraan Klinik
Stase Kulit RSUD Banjar
Fakultas Kedokteran dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2015