Anda di halaman 1dari 54

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dengan tulus serta hidmat kami panjatkan ke hadirat
Alloh SWT atas limpahan dan karunia-Nya yang tak pernah hilang bahkan
berkurang. Sholawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita
Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabatnya, tabi`ut tabi`in dan kita selaku
umatnya yang senantiasa mengikuti sunnahnya.
Alhamdulillah berkat rahmat dan inayah-Nya kami dapat membuat
makalah yang berjudul Formulasi Tablet Parasetamol dengan Menggunakan
Metode Granulasi Basah yang walaupun masih jauh dari kesempurnaan.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah praktikum
teknologi formulasi sediaan solid.
Dengan penuh rasa hormat dan tulus hati, kami mengucapkan terimakasih
yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dosen pengampu mata kuliah Praktikum Teknologi Formulasi Sediaan
Solid yang telah memberikan arahan untuk menyelesaikan makalah ini.
2. Rekan-rekan yang telah ikhlas memberi dukungan dan motivasi kepada
praktikan.
3. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah
membantu dalam penyeleseian makalah ini, baik secara langsung
maupun tidak langsung.
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih memiliki banyak
kekurangan. Oleh karena itu, kami akan menerima kritik dan saran yang
sifatnyamembangun dari pembaca dengan kesenangan hati, demi kesempurnaan
penyusunan.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sediaan tablet merupakan sediaan yang paling banyak diproduksi dan
juga banyak mengalami perkembangan dalam formulasinya. Beberapa
keuntungan sediaan tablet adalah sediaan lebih kompak, dosisnya tepat, mudah
pengemasannya dan penggunaannya lebih praktis dibanding sediaan yang lain
(Lachman dkk., 1994).
Parasetamol merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik
ditimbulkan oleh gugus aminobenzen. Asetaminofen di Indonesia lebih dikenal
dengan nama parasetamol, dan tersedia sebagai obat bebas. Efek analgetik
parasetamol dapat menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang.
Parasetamol menghilangkan nyeri, baik secara sentral maupun secara perifer.
Secara sentral parasetamol bekerja pada hipotalamus sedangkan secara perifer,
menghambat pembentukan prostaglandin di tempat inflamasi, mencegah
sensitisasi reseptor rasa sakit terhadap rangsang mekanik atau kimiawi. Efek
antipiretik dapat menurunkan suhu demam.
Parasetamol sebagai bahan aktif obat pada praktikum kali ini
diformulasikan untuk dibuat tablet dengan metode granulasi basah. Metode
granulasi basah dipilih karena menurut beberapa jurnal penelitian menunjukan
bahwa struktur intrinsik parasetamol membuat parasetamol memiliki daya alir
yang kurang baik sehingga daya alirnya harus ditingkatkan ketika akan dijadikan
tablet. Selain dapat meningkatkan daya alir, metode granulasi basah dapat
meningkatkan sifat kompresibilitas suatu sediaan,Granul yang dihasilkan lebih
spheris sehingga tablet yang dihasilkan biasanya lebih kompakdan efektif untuk
sediaan zat aktif dengan dosis yang kecil. Alasan pendukung lainya yaitu bahwa
parasetamol dapat tahan terhadap pemanasan sehingga bisa digranulasi basah dan
melewati proses pemanasan.

Selain mengandung bahan aktif, tablet biasanya mengandung bahan


tambahan yang mempunyai fungsi tertentu. Bahan tambahan yang umum
digunakan adalah bahan pengisi, bahan pengikat, bahan pengembang, bahan
pelicin atau zat lain yang cocok. Bahan tambahan yang digunakan pada
pembuatan tablet harus inert, tidak toksik dan mampu melepaskan obat dalam
keadaan relatif konstan pada jangka waktu tertentu.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan

masalah

dari

percobaan

ini

adalah

bagaimana

cara

memformulasikan dan mengevaluasi granul maupun tablet pada pembuatan


tablet parasetamol yang dibuat dengan metode granulasi basah supaya daya alir
dan kompresibilitasnya baik saat pencetakan?

1.3 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah untuk melakukan preformulasi,
memformulasikan dan mengevalusi granul maupun tablet parasetamol dengan
menggunakan metode granulasi basah.
Formulasi sediaan yang kami buat bertujuan:.
1. Dapat menyusun hasil pengkajian praformulasi bahan aktif untuk
sediaan.
2. Dapat menyusun desain formula pembuatan dan evaluasi larutan dari
hasil pengkajian praformulasi.
3. Dapat menganalisis sifat fisiko kimia, khasiat, stabilitas zat aktif
(parasetamol) yang digunakan dalam sediaan tablet.
4. Dapat menganalisis sifat fisiko kimia zat-zat tambahan yang digunakan
dalam sediaan tablet.

1.4 Manfaat Percobaan


Manfaat dari percobaan ini adalah untuk menginformasikan cara
preformulasi, formulasi, dan evaluasi dari granul maupun tablet parasetamol.
Serta untuk mengetahui pengaruh pembuatan tablet dengan metode granulasi
basah terutama terhadap sifat alir dan kompresibilitasnya. Selin itu percobaan ini
dapat dijadikan sebagai permodelan untuk pembuatan tablet lain yang zat
aktifnya memiliki sifat alir yang buruk seperti parasetamol namun dapat tahan
terhadap pemanasan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Tablet
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam

bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung,
mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat
tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang,
zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok ( menurut FI
III). Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa
bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet
cetak dan tablet kempa (menurut FI IV).
Tablet dibuat terutama dengan cara kompresi. Sejumlah tertentu dari
tablet dibuat dengan mencetak. Tablet yang dibuat secara kompresi
menggunakan mesin yang mampu menekan bahan bentuk serbuk atau granul
dengan menggunakan berbagai bentuk punch dan die. Alat kompresi tablet
merupakan alat berat dari berbagai kapasitas dipilih sesuai dengan dasar dari
jenis tablet yang akan dibuat serta produksi rata-rata yang diinginkan. Tablet
yang dicetak dibuat dengan tangan atau dengan alat mesin tangan, dengan cara
menekan bahan tablet ke dalam cetakan, kemudian bahan tablet yang telah
terbentuk dikeluarkan dari cetakan dan dibiarkan sampai kering.
2.1.1

Kriteria Tablet
Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi
persyaratan.
2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil.
3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik.
4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan.
5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan.
6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan.
7. Bebas dari kerusakan fisik.

8. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan.


9. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu
tertentu.
10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.
2.1.2

Keuntungan dan kerugian Tablet


Sediaan tablet banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan,

yaitu :
1. Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih.
2. Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis.
3. Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang kecil
sehingga memudahkan proses pembuatan, pengemasan, pengangkutan,
dan penyimpanan.
4. Bebas dari air, sehingga potensi hidrolisis dapat dicegah/diperkecil.
Dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, sediaan tablet mempunyai
keuntungan, antara lain :
1. Volume sediaan cukup kecil dan wujudnya padat (merupakan bentuk
sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak), memudahkan
pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan.
2. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh (mengandung dosis zat aktif
yang tepat/teliti) dan menawarkan kemampuan terbaik dari semua
bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan
yang paling rendah.
3. Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah besar dengan volume yang
kecil.
4. Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih stabil.
5. Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam air.
6. Zat aktif yang rasanya tidak enak akan berkurang rasanya dalam tablet.
7. Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah.
tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila menggunakan
permukaan pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul.
8. Pelepasan zat aktif dapat diatur (tablet lepas tunda, lepas lambat, lepas
terkendali).

9. Tablet dapat disalut untuk melindungi zat aktif, menutupi rasa dan bau
yang tidak enak, dan untuk terapi lokal (salut enterik);
10. Dapat diproduksi besar-besaran, sederhana, cepat, sehingga biaya
produksinya lebih rendah.
11. Pemakaian oleh penderita lebih mudah.
12. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran
kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik.
(The Theory & Practice of Industrial Pharmacy, Lachman Hal 294 dan
Proceeding Seminar Validasi, Hal 26)
Di samping keuntungan di atas, sediaan tablet juga mempunya beberapa
kerugian, antara lain :
1. Ada orang tertentu yang tidak dapat menelan tablet (dalam keadaan
tidak sadar/pingsan);
2. Formulasi tablet cukup rumit, antara lain :

Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat, karena sifat
amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis;

Zat aktif yang sulit terbasahi (hidrofob), lambat melarut, dosisnya


cukup besar atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran
cerna, atau kombinasi dari sifat tersebut, akan sulit untuk diformulasi
(harus diformulasi sedemikian rupa);

Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang tidak
disenangi, atau zat aktif yang peka terhadap oksigen, atmosfer, dan
kelembaban udara, memerlukan enkapsulasi sebelum dikempa.
Dalam hal ini sediaan kapsul menjadi lebih baik daripada tablet.
(The Theory & Practice of Industrial Pharmacy, Lachman Hal 294)

Tetapi jika dibandingkan dengan keuntungannya, kerugian sediaan tablet


jauh lebih sedikit sehingga sediaan tablet merupakan sediaan yang paling banyak
dijumpai di perdagangan.

2.2 Metode pembuatan tablet


Sediaan tablet ini dapat dibuat melalui tiga macam metode, yaitu
granulasi basah, granulasi kering, dan kempa langsung. Pemilihan metode
pembuatan sediaan tablet ini biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat aktif
yang akan dibuat tablet, apakah zat tersebut tahan terhadap panas atau lembab,
kestabilannya, besar kecilnya dosis, dan lain sebagainya. Berikut merupakan
penjelasan singkat dari ketiga macam metode tersebut :
2.2.1

Granulasi Basah
Granulasi Basah yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan

eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat
dalam jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi.
Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap lembab dan
panas. Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak langsung karena sifat aliran
dan kompresibilitasnya tidak baik. Prinsip dari metode granulasi basah adalah
membasahi masa tablet dengan larutan pengikat teretentu sampai mendapat
tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian masa basah tersebut digranulasi.
Metode ini membentuk granul dengan cara mengikat serbuk dengan suatu
perekat sebagai pengganti pengompakan, tehnik ini membutuhkan larutan,
suspensi atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke
campuran serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukan kering ke dalam
campuran serbuk dan cairan dimasukan terpisah. Cairan yang ditambahkan
memiliki peranan yang cukup penting dimana jembatan cair yang terbentuk di
antara partikel dan kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah cairan yang
ditambahkan meningkat, gaya tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling
penting pada awal pembentukan granul, bila cairan sudah ditambahkan
pencampuran dilanjutkan sampai tercapai dispersi yang merata dan semua bahan
pengikat sudah bekerja, jika sudah diperoleh massa basah atau lembab maka
massa dilewatkan pada ayakan dan diberi tekanan dengan alat penggiling atau
oscillating granulator tujuannya agar terbentuk granul sehingga luas permukaan
meningkat dan proses pengeringan menjadi lebih cepat, setelah pengeringan
granul diayak kembali ukuran ayakan tergantung pada alat penghancur yang
dugunakan dan ukuran tablet yang akan dibuat.

Keuntungan metode granulasi basah :


1. Memperoleh aliran yang baik
2. Meningkatkan kompresibilitas
3. Untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai
4. Mengontrol pelepasan
5. Mencegah pemisahan komponen campuran selama proses
6. Distribusi keseragaman kandungan
7. Meningkatkan kecepatan disolusi
Kekurangan metode granulasi basah:
1. Banyak tahap dalam proses produksi yang harus divalidasi
2. Biaya cukup tinggi
3. Zat aktif yang sensitif terhadap lembab dan panas tidak dapat dikerjakan
dengan cara ini. Untuk zat termolabil dilakukan dengan pelarut non air
2.2.2

Granulasi Kering
Granulasi Kering disebut juga slugging, yaitu memproses partikel zat

aktif dan eksipien dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa
padat yang selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran
lebih besar dari serbuk semula (granul). Prinsip dari metode ini adalah membuat
granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan pengikat dan pelarut, ikatannya
didapat melalui gaya. Teknik ini yang cukup baik, digunakan untuk zat aktif
yang memiliki dosis efektif yang terlalu tinggi untuk dikempa langsung atau zat
aktif yang sensitif terhadap pemanasan dan kelembaban.
Pada proses ini komponenkomponen tablet dikompakan dengan mesin
cetak tablet lalu ditekan ke dalam die dan dikompakan dengan punch sehingga
diperoleh massa yang disebut slug, prosesnya disebut slugging, pada proses
selanjutnya slug kemudian diayak dan diaduk untuk mendapatkan granul yang
daya mengalirnya lebih baik dari campuran awal bila slug yang didapat belum
memuaskan maka proses diatas dapat diulang. Dalam jumlah besar granulasi
kering dapat juga dilakukan pada mesin khusus yang disebut roller compactor
yang memiliki kemampuan memuat bahan sekitar 500 kg, roller compactor
memakai dua penggiling yang putarannya saling berlawanan satu dengan yang
lainnya, dan dengan bantuan tehnik hidrolik pada salah satu penggiling mesin ini

mampu menghasilkan tekanan tertentu pada bahan serbuk yang mengalir dintara
penggiling.
Metode ini digunakan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut :
Kandungan zat aktif dalam tablet tinggi
Zat aktif susah mengalir
Zat aktif sensitif terhadap panas dan lembab
Keuntungan cara granulasi kering adalah:

Peralatan lebih sedikit karena tidak menggunakan larutan pengikat, mesin


pengaduk berat dan pengeringan yang memakan waktu

Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembab

Mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh pengikat

Kekurangan cara granulasi kering adalah:

Memerlukan mesin tablet khusus untuk membuat slug

Tidak dapat mendistribusikan zat warna seragam

Proses banyak menghasilkan debu sehingga memungkinkan terjadinya


kontaminasi silang

2.2.3

Metode Kempa Langsung


Metode Kempa Langsung, yaitu pembuatan tablet dengan mengempa

langsung campuran zat aktif dan eksipien kering.tanpa melalui perlakuan awal
terlebih dahulu. Metode ini merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan
cepat pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif yang
kecil dosisnya, serta zat aktif tersebut tidak tahan terhadap panas dan lembab.
Ada beberapa zat berbentuk kristal seperti NaCl, NaBr dan KCl yang mungkin
langsung dikempa, tetapi sebagian besar zat aktik tidak mudah untuk langsung
dikempa, selain itu zat aktif tunggal yang langsung dikempa untuk dijadikan
tablet kebanyakan sulit untuk pecah jika terkena air (cairan tubuh). secara umum
sifat zat aktif yang cocok untuk metode kempa langsung adalah; alirannya baik,
kompresibilitasnya baik, bentuknya kristal, dan mampu menciptakan adhesifitas

dan kohesifitas dalam massa tablet. Sedangkan keuntungan metode kempa


langsung yaitu :

Lebih ekonomis karena validasi proses lebih sedikit

Lebih singkat prosesnya. Karena proses yang dilakukan lebih sedikit,


maka waktu yang diperlukan untuk menggunakan metode ini lebih
singkat, tenaga dan mesin yang dipergunakan juga lebih sedikit.

Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak tahan
lembab

Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melewati proses
granul, tetapi langsung menjadi partikel. tablet kempa langsung berisi
partikel halus, sehingga tidak melalui proses dari granul ke partikel halus
terlebih dahulu.

Kerugian metode kempa langsung :

Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara zat aktif dengan
pengisi dapat menimbulkan stratifikasi di antara granul yang selanjutnya
dapat menyebabkan kurang seragamnya kandungan zat aktif di dalam
tablet.

Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah untuk dikempa langsung
karena itu biasanya digunakan 30% dari formula agar memudahkan
proses pengempaan sehingga pengisi yang dibutuhkanpun makin banyak
dan mahal. Dalam beberapa kondisi pengisi dapat berinteraksi dengan
obat seperti senyawa amin dan laktosa spray dried dan menghasilkan
warna kuning. Pada kempa langsung mungkin terjadi aliran statik yang
terjadi

selama

pencampuran

dan

pemeriksaan

rutin

sehingga

keseragaman zat aktif dalam granul terganggu.


Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan harus
bersifat; mudah mengalir; kompresibilitas yang baik; kohesifitas dan
adhesifitas yang baik.
2.3 Masalah dalam pembuatan tablet
1. Capping

Tablet terpisah sebagian atau seluruhnya atas dan bawah, yang


disebabkan terlalu banyak tekanan saat pencetakan, adanya udara yang
terperangkap saat granulasi, granulasi terlalu kering, terlalu banyak fines,
pemasangan punch dan dies yang tidak pas.
2. Lamination
Tablet pecah menjadi beberapa lapisan. Pecahnya tablet terjadi segera
setelah kompressi atau beberapa hari kemudian. Penyebabnya adalah
udara yang terjerat dalam granul yang tidak dapat keluar selama
kompressi atau overlubrikasi dengan stearat.
3. Sticking
Keadaan dimana granul menempel pada dinding die sehingga punch
bawah tidak bebas bergerak. Penyebabnya adalah punch kurang bersih,
tablet dikompressi pada kelembapan tinggi.
4. Picking
Perpindahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada
permukaan punch. Penyebabnya adalah pengeringan granul belum cukup,
jumlah glidan kurang bahan yang dikompresi berminyak/lengket.
5. Filming
Adanya kelembapan yang tinggi dan suhu tinggi akan melelehkan bahan
dengan titik lebur rendah seperti lemak/wax. Bisa juga karena punch
kehilangan pelicin. Hal ini dapat diatasi dengan mengencerkan bahan
yang bertitik leleh rendah dengan bahan yang titik lelehnya tinggi
sehingga mengurangi penempelan.
6. Chipping dan Cracking
Pecahnya tablet disebabkan karena alat dan tablet retak di bagian atas
karena tekanan yang berlebih.
7. Binding
Kesulitan mengeluarkan tablet karena lubrikan yang tidak cukup.
8. Molting
Distribusi zat warna yang tidak homogen. Penyebabnya adalah migrasi
zat warna yang tidak seragam (atas kering duluan yang bawah masih
basah).

2.4

Monografi zat aktif dan zat tambahan

a.

Zat Aktif :
Paracetamol/acetaminophen
Sifat Kimia
Nama Lain

: Acetaminofen,

Nama kimia

: 4-hidroksiasetanilida [103-90-2]

Rumus Molekul

: C8H9NO2

rumus bangun

Berat Molekul

: 151

Kemurniaan

: Mengandung tidak kurang dari 98,0 %


dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2
dihitung terhadapzat anhidrat.

Sifat Fisika
Organoleptis
Bentuk

: Serbuk

Bau

: Tidak berbau

Warna

: Putih

Rasa

: Pahit

Kelarutan

Larut dalam 70 bagian air, larut dalam air panas, 7 bagian etanol P,
13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol, dan dalam 9 bagian
propilenglikol
Stabilitas

: Paracetamol sangat stabil dalam air

Terhadap pelarut

Terhadap PH

: Waktu paruh dalam larutan terdapat pada

PH 6 diperkirakan selama 21,8 tahun, penurunannya dikatalisis


oleh asam dan basah dan waktu paruhnya 0,73 tahun pada PH
2,28 tahun pada PH 9.

Terhadap cahaya : -

Terhadap oksigen : -

Sifat Farmakologi

Khasiat

Analgetikum dan Antipiretikum. Efektif pada padaberbagai jenis


keadaan artritis dan rematik termasuk nyeri otot rangka

juga

dada, nyeri kepala, dysmenore, myralgia, dan neuralgia.

Efek Samping

Reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah.

Tempat absorpsi :
Diabsorpsi cepat dan sempurna di saluran cerna.

Waktu paruh

Konsentrasi tertinggi dalam plasma antara 1 sampai 3 jam.

Interaksi obat
1. Aspirin

Konsentrasi parasetamol dalam darah akan meningkat dengan


adanya aspirin.
2. Kloramfenikol

Parasetamol meningkatkan waktu paruh kloramfenikol.

Dosis
Dosis Lazim

5-10 Tahun (1XP)

: 100-200 mg

(1XHP )

: 400-800 mg

>10 Tahun (1XP)


(1XHP)
Dewasa

(1XP)
(1XHP)

: 250 mg
:1g
: 500 mg
: 500 mg 2 g

Wadah dan Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, tak tembus


cahaya.

b.
1.

Zat tambahan
Amprotab / Amylum manihot (penghancur) ( FI III hal 93)
Sinonim
: Amylum manihot, pati singkong
Pemerian
: serbuk sangat halus, putih.
pH
: 4,5-7,0
BJ
: 1 : 478
Kecepatan alir = 10,8 - 11,7%
Stabilitas
: Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat
Kelarutan
: Praktis tidak larut dalam air dan etanol
Pemerian
:
Serbuk halus, kadang-kadang berupa gumpalan kecil, putih tidak
berbau , tidak berasa.
2. PVP (Polivinil Prolidon) (pengikat) (Hope edisi 2009 hal 581)
BJ
: 1,180 gram/cm3
pH
: 3,0 7,0
Titik lebur
: 160 1860C
Kegunaan
: Pengikat
Pemerian
:
Serbuk putih / hablur putih kekuningan; berbau lemah atau tidak
berbau, higroskopis.

Kelarutan

mudah larut dalam air, etanol (95%)p dan dalam CHCl 3P


kelarutan tergantung dari bobot molekul rata-rata, praktis tidak
larut eter.

Stabilitas

Stabil pada suhu 110 1300C, gelap pada pemanasan suhu 1500C.

Inkompatibilitas

Dalam larutan dengan garam dan anorganik resin natural.

3.

Laktosa (pengisi)
:

Pemerian

Serbuk atau masa hablur, keras putih/ putih krem, tidak berbau,
rasa sedikit manis, stabil diudara tetapi mudahmenyerap debu.

Kelarutan

Larut dalam 6 bagian air, larut dalam 1 bagian air mendidih, sukar
larut dalam etanol 95%, praktis tidak larut dalam kloroform p dan
eter p.

pH
Fungsi

: 2,54
:

Pengikat tablet, pemgencer kapsul, pengisi kapsul dan tablet.

Stabilitas

Harus disimpan dalam wadah tertutup baik ditempat kering dan


sejuk, tidak stabil pada kondisi lembab dapat menyebabkan
pertumbuhan jamur.

Inkompatibiltas :
Terjadi reaksi kondensasi antara laktosa dan senyawa gugus amin
primer,

inkompatibilitas

dengan

asam

amino,aminopilin,

amfetamin, lisinopril.

4.

Titik Leleh
BM
Pemerian

: 1050C
Etanol (pelarut) (FI III hal 65)
: 46,07
:

Jernih, tidak berwarna, sebagai fase gerak, menguap, agak licin,


memiliki sedikit rasa.

Khasiat
Titik didih
Kelarutan
BJ
Stabilisator

: Pelarut, antimikroba
: 78,150C
: Larut dalam kloroform, eter, gliserin, dan air
: 0,8119 0,8139
:

Larutan etanol sterilisasi dengan autoklaf, metode ekstraksi,


kedap udara.

Inkompatibilitas :
Dalam keadaan asam, larutan etanol bereaksi dengan agent
pengoksidasi. Larutan etanol inkompatibilitas dengan alumunium
berinteraksi dengan beberapa obat.

5. Bahan Pelincir (glidant, antiadherent) : Talk


-

Sinonim

Magnesi osmanthus; powdered talc; purified French chalk.


-

CAS

Rumus Empiris : Mg6(Si2O5)4(OH)4

BM

pH

Fungsi

Aplikasi dalam formula farmasetik dan teknologi :

Pemerian

: Talk [14807-96-6]
:0
: 7-10 untuk 20% b/v
: Anti cracking,glidant, diluent, lubricant
Penggunaan

Konsentrasi

Dusting powder
Glidant dan tablet lubricant
Tablet dan capsule diluent

(%)
90 99
1 10
53

:
Talk sangat halus, putih keabu-abuan, tidak berbau, tidak berasa,
serbuk kristal menempel / melekat pada kulit, lembut jika disentuh,
bebas dari pasir (hidrofobik).

Kelarutan

:
Praktis tidak larut dalam asam encer dan alkali, pelarut organic
dan air

OTT

: Dengan ammonium

Kekerasan

: 1,0 1,5

Wadah

:
Dalam wadah tertutup baik, tempat yang dingin dan kering.

Stabilitas dan penyimpanan :

Bahan stabil dan dapat disterilkan dengan pemanasan pada suhu


160% selama lebih dari satu jam. Juga dapat disterilkan dengan
diekspos pada etylen OH, atau irradasi sama. Talk harus disimpan
dalam wadah tertutup, baik ditempat yang sejuk dan dingin.
.
-

Mg Stearat (pelicin) ( FI III hal 354)


BM : 591,34
Fungsi
: Lubrikan dalam tablet
Pemerian :
Hablur, putih, mudah mengendap atau dicampurkan, serbuk hablur
memiliki kerapatan yang rendah, memiliki bau samar asam stearat
dan rasa yang khas. Serbuk hablur mudah disentuh dan mudah
melekat pada kulit.

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam etanol,etanol (95%) eter dan air larut
dalam benzen hangat dan etanol (95%) hangat.

Luas Permukaan spesifik


Stabilitas
:

: 1,6 14,8 m2/g

Stabil dan harus dismpan dalam wadah tertutup baik ditempat yang
sejuk dan kering.

Inkompatibilitas

Dengan asam kuat, alkali, garam besi,. Hindari pencampuran


dengan pengoksidasi kuat. Mg Stearat tidak dapat digunakan
bersama produk yang mengandung aspirin, beberapa vitamin dan
kebanyakan garam alkaloid. (Rowe, 354 - 355).

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Formulasi

Formula B
(Pengikat PVP dengan cara kering)
Fasa Dalam (92%)
Paracetamol 250 mg
Amprotab
10%
PVP
5%
Etanol 95% qs
Laktosa
qs
Fasa Luar 8%
Mg stearat
1%
Talk
2%
Amprotab
5%
Perhitungan penimbangan

(zat aktif)
(penghancur)
(pengikat)
(pelarut)
(pengisi)
(pelicin)
(pelicin)
(penghancur)

Fase dalam 92%


-

parasetamol=250 mg x 3000 tablet =


amprotab 10 =

PVP 5 =

75000 mg
=75 g/75000 mg
1000

10
35 mg x 300
x 350=
=10,5 g /10500 mg
100
1000

5
17,5 X 300
x 350=
=5,25 g/5250 mg
100
1000

laktosa=96,6(75+10,5+5,25)

= 96,6 90,75 = 5,85 g


92
x 350=322mg x 300 tablet
total FD = 100

= 96600 mg/ 96,6 g/ 300 tablet


Fase luar 8%
-

Mg stearat 1% =
Talk 2%

1
x 90 gram=0,978 g
92

2
x 90 gram=1,956 g
92

Amprotab 5% =

5
x 90 gram=4,891 g
92

Bobot tablet yang diperoleh


90 g+ 0,978 g+ 1,956+4,891
=0,35 g
/ tablet / 350 mg/ tablet
279,50tablet

3.2 Analisis formula

Parasetamol sebagai zat aktif dengan efek farmakologis sebagai


analgetik dan antipiretik. Parasetamol dimasukan ke fasa dalam karena
stabil dalam pemanasan lama.

Amprotab, merupakan zat tambahan fase dalam yang digunakan sebagai


pengisi dan pengikat. Fungsi sebagai pengisi untuk menambah massa
tablet yang akan dicetak dan fungsinya sebagai pengikat untuk mengikat
zat aktif dan zat pengisi sehingga dapat tercampur dengan homogen.

PVP, merupakan zat tambahan yang digunakan sebagai pengikat yang


membantu pengikatan fasa luar dengan granul fasa dalam, selain itu juga
berfungsi sebagai desintegran yang membantu penghancuran tablet
sehingga meningkatkan kelarutan obat dalam cairan tubuh.

Talkum dan Magnesium stearat, adalah zat tambahan fasa luar yang
berfungsi sebagai pelican yang meningkatkan aliran granul sehingga
tersebar ke seluruh tempat cetakan pada pengempaan dan agar tidak
menyumbat dicetakan. Selain itu pelincir dapat memperpanjang waktu
penghancuran obat sehingga pada saat dilakukan uji friabilitas masa
tablet tidak berkurang banyak.

Proses granulisasi dilakukan karena sebagian besar serbuk tidak dapat


dibentuk menjadi tablet secara langsung karena kohesivitasnya rendah,
tidak memiliki sifat lubrikan dan desentregasi yang diperlukan dalam
proses tabletasi.

3.3 Prosedur pembuatan


a.

Pembuatan larutan pengikat PVP


-

Ditimbang sejumlah PVP yang diperlukan, dilarutkan dalam sejumlah


pelarut pengikat, berdasarkan hasil orientasi ataupun berdasarkan data
kelarutan PVP dalam pelarut tersebut.

Aduk larutan hingga homogen, jika digunakan dapat dilarutkan dalam


larutan

b.

Granulasi dengan cara kering


-

Parasetamol, amprotab, PVP dan laktoasa dicampur sampai homogen,


kemudian ditambah pelarut pengikat sedikit demi sedikit hingga
diperoleh massa yang basah

Massa basah kemudian diayak dengan ayakan mesh 10 atau 20

Granul basah dikeringkan dalam oven dengan suhu 400C atau dianginanginkan di udara terbuka sampai kandungan lembab kurang dari 3%

Granul yang telah kering diayak kembali dengan ayakan mesh 14 atau
16

Granul kering kemudian ditimbang dan dievaluasi

Granul yang telah memenuhi syarat dapat dicampur dengan fasa luar
(talk dan amprotab). Aduk sekitar 10 menit hingga homogen,
kemudian tambahkan Mg Stearat, aduk selama 2 menit

Massa

siap

cetak

dievaluasi

kemudian

ditabletasi

dengan

menggunakan punch diameter 13 nm dengan bobot yang telah di


tentukan (dari hasil perolehan granul).
-

3.3.1

Tablet di evaluasi menurut persyaratan yang berlaku.

Evaluasi Granul
1. Kecepatan aliran
a. Metode corong
-

Sejumlah 10 gram granul dimasukan kedalam corong dengan ukuran


tertentu.

Corong digetarkan sampai seluruh granul mengalir keluar dari lubang


corong

Baca waktu yang diperlukan untuk mengalirkan seluruh granul keluar


dari corong

Kecepatan aliran dihitung dengan membagi bobot granul 10 gram


dengan waktu yang diperlukan granul untuk melewati corong
(g/detik).
Penafsiran hasil :
Aliran granul baik jika waktu yang diperlukan untuk mengalirkan 10 g
granul < 10 detik.

b. Metode sudut istirahat


-

Timbang sejumlah granul, masukan kedalam corong

Granul dibiarkan mengalir bebas dari lubang corong / silinder dan


ditampung pada suatu bidang datar hingga timbunan granul tersebut
membentuk kerucut.

Dari timbunan ini diukur sudut istirahat (sudut antara lereng granul
dengan bidang datar).
Penafsiran hasil :
Jika : = 25-30o = Granul sangat mudah mengalir
= 30-38o = Granul mudah mengalir
> 38o

= Granul kurang mengalir

2. Kelembaban / penentuan kadar air


-

Timbang cawan kosong yang telah konstan (W0)

Lalu timbang sampel sebanyak 1 gram

Kemudian krus yang telah konstan ditambah sampel lalu ditimbang


diamati hasil krus sebelum pengovenan (W1).

Kemudian krus konstan + sampel di oven pad shu 105 o C selama 10


menit

Lalu dimasukan kedalam desikator selama 15 menit

Timbang hasil krus konstan + sampel setelah pengovenan (W2)

Penafsran hasil :
Kadar air yang baik 1 2 %
3. Bobot jenis dan kerapatan
a.

BJ nyata
-

Timbang 10 g granul dan masukan dalam glas ukur, dicatat


volumenya.
P=

W
V

P= BJ nyata, W= Bobot granul, V= Volume granul tanpa pemampatan.


b.

BJ mampat
-

Timbang 10 g granul dan masukan kedalam gelas ukur lalu catat


volumenya (V0)

Gelas ukur diketuk sebanyak 10 kali dan 500 kali. Catat volumenya
( V10 dan V500 ).
P n=

W
Vn

Pn = BJ pada n ketukan, W= bobot granul, Vn = volume granul pada n


ketukan.
c. BJ sejati
BJ sejati merupakan massa granul dbagi volume granul yang tidak
termasuk pori granul
BJ sejati=

( ba ) x BJ cairan pendispersi
( b+d )(a+ c)

Keterangan :
a = bobot piknometer kosong
b = bobot piknometer + 1 g granul
c = bobot piknometer + 1g granul + cairan pendispersi (parafin cair )
d = bobot piknometer + cairan pendispersi
d.

Kadar pemampatan

Prosedur : Sama dengan BJ mampat


Kp=

VoV 500
Vo

= 100 %

Kp = Kadar pemampatan, Vo = Volume granul sebelum pemampatan,


V500 = volume granul pada 500 kali ketukan.
Penafsiran hasil : granul memenuhi syarat jika Kp <20%.
e.

Perbandingan Haussner
Sama dengn pada prosedur BJ mampat
Angka haussner=

BJ setelah pemampatan
BJ sebelum pemampatan

Penafsiran hasil : Granul memenuhi syarat jika angka haussner = 1


f.

Persen kompresibilitas (%K)


Sama pada prosedur BJ mampat dan BJ nyata
%K =

BJ mampatBJ nyata
BJ mampat

x 100 %

Penafsiran hasil :
Jika %K = 5 15 % aliran sangat baik
= 16 25 % aliran baik
= > 26% aliran buruk
e. Kadar zat aktif
Zat aktif dalam granul ditentukan sesuai pada metode yang tercantum
pada masing masing monografi zat di farmakope.

3.3.2

Evaluasi tablet
1. Visual / Organoleptik
a. Rupa
b. Bau

c. Rasa
2.

Sifat fisika kimia


a. Keseragaman ukuran

Keseragaman tebal

Keseragaman diameter

Diambil secara acak 20 tablet, lalu diukur diameter dan tebalnya


menggunakan jangka sorong menurut FI edisi 3 diameter tablet tidak
lebih dari 3 kali dan tidak kurang 1 1/3 tebal tablet.
b. Kekerasan
Dilakukan terhadap 20 tablet secara acak. Kekerasan diukur berdasarkan
luas permukaan tablet dengan menggunakan beban yang dinyatakan dalam
kg/cm2 . ditentukan kekerasan rata- rata dan standar deviasinya.
Syarat : tablet besar 7-10 kg/cm2 . tablet kecil 4 kg/cm2 .
c. Friabilitas
Dilakukan terhadap 20 tablet (jika bobot tablet > 250 mg) atau 40 tablet
(jika bobot < 250 mg) yang diambil secara acak. Dibersihkan satu persatu
dengan sikat hlus lalu ditimbang. (a). masukan semua tablet kedalam alat,
lalu putar sebanyak 100 putaran. Lalu tablet dibersihkan lagi dan
ditimbang.
f=

ab
a

x 100%

Syarat : tablet yang baik memiliki friabilitas < 1%.


d. Keragaman bobot
Diambil 20 tablet secara acak, lalu ditimbang masing masing tablet.
Hitung bobotrata rata dan penyimpangan bobot rata rata. Tidak boleh ada
dua tablet yang masing masing menyimpang dari bobot rata rata lebih
besar dari harga yang ditetapkan pada kolom A, dan tidak boeh ada
satupun tablet yang menyimpang dari bobot rata rata lebih dari harga
kolom B.

3. Uji waktu hancur


Bejana diiisi dengan HCL 0,1 N volume diatur pada kedudukan tertiggi,
lempeng kasa tepat pada permukaan larutan dan pada kedudukan terendah
mulut tabung tetap diatas permukaan. Suhu pelarut 36-38o C. 6 tablet
dimsukan satu persatu pada masing masing tung. Kemudian alat
dinyalakan dan atur naik turun keranjang 30 kali tiap menit. Tablet hancur
jika tidak ada bagian tablet yang tertinggal diatas kasa kecuali fragmen
fragmen bahan pembantu. Waktu hancur dicatat sejak pertama kali alat
dinyalakan sehingga tidak ada bagian tablet yang tertinggal diatas kasa.
4. Uji Disolusi (farmakope 4, hal 1085)
-

Masukan voluma media disolusi dengan buffer fospat pH 5,8

Pasang alat, biarkan media disolusi hingga suhu 370 dan angkat
termometer

Masukan 1 tablet ke dalam alat segera jalankan alat pada laju kecepatan

Pada laju kecepatan (dalam interval waktu) ambil cuplikan pada tiap 5
menit

Cuplikan diambil pada pertengahan media disolusi dengan bagian atas


keranjang berputar (alat) tidak kurang 1cm

Pengambilan sampel sebanyak 10 ml menggunakan srynge filter.

Ukur absorban menggunakan spektrofotometer dengan panjang


gelombang 244 nm

5. Kadar zat aktif dalam tablet


-

Timbang tablet kurang lebih 150 mg

Masukan kedalam labu ukur 100 ml ad dengan aquades

Ukur absorban menggunakan spektrofotometer dengan panjang


gelombang 245 nm dan diulangi kembali prosedur, hanya saja
dilarutkan dengan dapar fosfat dengan panjang gelombang 244 nm.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

.1 Data hasil dan evaluasi granul


1. Perhitungan Fasa Luar (8%)
a. Berat granul yang diperoleh
Jumlah tablet yang di peroleh

: 78,2 gram
:

78,2
96,6 x 300 tablet

: 242,857 tablet
b. Fasa Luar
Mg stearat 1 %

1
92 x 78,2 = 0,85 gram

Talk 2 %

2
92 x 78,2 = 1,7 gram

5
92 x 78,2 = 4,25 gram

78,2+0,85+ 1,7+4,25
242,857

Amprotab 1 %

Bobot tablet yang di peroleh


gram/

= 350 mg
2. Penentuan kadar air granul
a. Krus Konstan yang telah dioven : 33, 5432 gram (W0)
b. Krus + sampel sebelum di oven : 34,5432 gram (W1)
c. Krus + sampel setelah dioven

: 34,5220 gram (W2)


34,5217 gram
34,5212 gram

Berat Sampel 1 gram


Rumus

W 1W 2
W 1Wo x 100 %

% Kadar Sampel

34,543234,5220
34,543233,5432 x 100 %

0,212
x 100 %
1

% Kadar Sampel

= 2,12 %
34,543234,5217
= 34,543233,5432 x 100 %
=

% Kadar Sampel

0,215
x 100 %
1

= 2,15 %
34,543234,5215
= 34,543233,5432 x 100 %

= 0,350

% kadar air total

0,217
x 100 %
1

= 2,17 %
2,12+2,15+ 2,17
=
3

= 2,15 %

Penafsiran hasil :
Kadar air yang baik 1 3 %
Kesimpulan :
kadar air pada granul baik karena ada pada rentang kadar yang ditentukan
yaitu 2,15.

3. Kecepatan Aliran
10 gram = 2,23 detik
10
2,23 = 4,48 g/detik
Penafsiran hasil :
Aliran granul baik jika waktu yang diperlukan untuk mengalirkan 10 g
granul < 10 detik yaitu 4,48 g/detik.
Kesimpulan :
Jadi aliran granul baik jika waktu yang diperlukan untuk mengalirkan 10
g granul < 10 detik yaitu 4,48 g/detik.
4. Metode Sudut Istirahat
Hasil Pengamatan : 7 cm
5. Bobot Jenis atau Kerapatan
a. Bj Nyata
=

W
V

10 gram
23 ml

= 0,4347 g/mL

b. Bj Mampat
Hasil Pengamatan
W
= 10 gram
Vn 10 kali = 23 mL
Vn 500 kali
= 20 mL
W
= Vn
Vn 10 kali =

10 gram
23 ml

= 0,4347 g/mL

Vn 500 kali =

10 gram
20 ml

= 0,5 g/mL

c. Bj Sejati
Hasil Pengamatan
a) Bobot pikno kosong

= 9,76 gram

b) Bobot pikno + 1 gram granul

= 10,74 gram

c) Bobot pikno + 1 gram granul+ cairan pendisfersi = 12,62 gram


d) Bobot pikno + cairan pendisfersi

Bj sejati

= 12,26 gram

( b+ d )( a+ c )

( ba ) x bj cairan pendisfersi

( 10,7412,26 )( 9,7610,74 )

=
( 10,749,76 ) x 12,26

12,0148
2,5

= 4,80592 g/ml

d. Kadar Pemampatan
Hasil Pengamatan : Vo = 23 mL
: V500 = 20 mL
VoV 500
Kp =
x 100 %
Vo
=

2320
x 100 %
23
= 13, 043 %

Penafsiran hasil : granul memenuhi syarat jika Kp <20%.


Kesimpulan :
Granul memenuhi syarat jika Kp <20% jadi Kp memenuhi syarat
karena hasil Kp 13,043%.

e. Perbandingan Hausner
Hasil Pengamatan
:
Bj Setelah Pemampatan
Bj Sebelum Pemampatan

: 0,5 gram/ mL
: 0,4347 gram / mL

Angka Hausner

:=

Bj setelah pemampatan
Bj sebelum Pemampatan
0,5
0,4347

: 1,1 gram/ml
Penafsiran hasil : Granul memenuhi syarat jika angka haussner = 1
Kesimpulan :
Granul memenuhi syarat karena angka hausner dihasilkan 1,1 g/ml

f. Persen Kompresibilitas

Hasil Pengamatan
Bj mampat
Bj Nyata
% kompresibilitas

:
: 0,5
: 0,4347
Bj mampat Bj nyata
:
x 100 %
Bj Mampat
:

0,50,4347
x 100 %
0,5

: 13,6 %
Penafsiran hasil :
Jika % K

= 5 15 % aliran sangat baik


= 16 25 % aliran baik
= > 26% aliran buruk

Kesimpulan :
Jadi % kompresibilitas mempunyai aliran sangat baik yaitu 13,6 %.

4.2

Data hasil evaluasi tablet


1. Visual/Organoleptik
a. Rupa = Baik,halus,rata,mengikat
b.Bau = Khas Obat
c. Rasa =Pahit

2. Sifat Fisika kimia


a. Keseragaman Ukuran
-

Keseragaman Tebal
Tablet ke
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Ukuran (mm)
0,62
0,64
0,64
0,62
0,63
0,66
0,65
0,63
0,64
0,64

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
x=

0,65
0,65
0,62
0,66
0,64
0,63
0,63
0,62
0,62
0,63

12,72
=0,636 mm
20

-Keseragaman Diameter

Tablet ke
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
x=

Ukuran (mm)
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81
0,81

16,2
=0,81mm
20
Tidak boleh lebih dari = 3x 6,15 = 18,45 mm Tidak boleh kurang dari = 1
1/3 x 6,15 = 8,2 mm
Syarat : Menurut F1 III diameter tablet tidak boleh dari 3 kali dan tidak
kurang dari 1 1/3 tebal tablet.

Kesimpulan : Tablet tidak memenuhi syarat karena diameter tablet 0,81


mm,kurang dari 8,2 mm (tebal tablet).
b. Kekerasan
Beban (kg/cm 2
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm
6 cm

Tablet ke
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
x=

120
=6 kg /cm
20

Syarat : tablet besar 7-10 kg/cm2 . tablet kecil 4 kg/cm2 .


Kesimpulan:
Pada hasil kekerasan tablet dinyatakan bahwa tablet tidak memenuhi
syarat karena tablet kecil syaratnya 4 kg/cm2, sedangkan hasil kekerasan
adalah 6 kg/ cm2.
c. Friabilitas
a. 6,7437
b.6,7064
F=

ab
x 100
a

6,74376,7064
x 100
6,7347

= 0,5531 % = Tablet memenuhi syarat.


Syarat : tablet yang baik memiliki friabilitas < 1%.
d. Keseragaman Bobot
Hasil Evaluasi Tablet
Tablet ke
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
x=

Bobot (g)
0,3555
0,3627
0,3439
0,3618
0,3361
0,3003
0,3554
0,3339
0,3137
0,3036
0,3479
0,3476
0,3454
0,3392
0,3488
0,3623
0,3247
0,3312
0,3343
0,3191

6,8174
=0,33796 g
20

T 1=

0,3550,33796
x 100 = 0,05042 %
0,33796

T 2=

0,3620,33796
x 100 =0,07113
0,33796

T 3=

0,3430,33796
x 100 =0,01491
033796

T 4=

0,3610,33796
x 100 =6,817
0,33796

T 5=

0,3360,33796
x 100 =0,0236 %
0,33796

T 6=

0,3030,33796
x 100 =0,0203 %
033796

T 7=

0,3550,33796
x 100 = 0,0255 %
0,33796

T 8=

0,3330,33796
x 100 =0,0233 %
0,33796

T 9=

0,3130,33796
x 100 =0,0213 %
0,33796

T 10=

0,3030,33796
x 100 = 0,0203 %
0,33796

T 11=

0,3470,33796
x 100 = 0,0247 %
0,33796

T 12=

0,3470,33796
x 100 = 0,0247 %
0,33796

T 13=

0,3450,33796
x 100 = 0,0245 %
0,33796

T 14=

0,3390,33796
x 100 = 0,0307 %
0,33796

T 15=

0,3480,33796
x 100 =0,02970 %
0,337,96

T 16=

0,3620,33796
x 100 =
0,337,96

T 17=

0,3240,33796
x 100 =0,04130
0,337,96

T 18=

0,3310,33796
x 100 =0,02059 %
0,33796

T 19=

0,3340,33796
x 100 =0,01171 %
0,33796

T 20=

319337,96
x 100 =0,0610 %
337,96

0,07113 %

Syarat :
Tidak boleh ada 2 tablet yang masing-masing menyimpang dari bobot ratarata lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom A, dan tidak boleh ada
satupun yang menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga pada kolom
B.
Bobot rata-rata
< 25 mg
26 mg-150 mg
151 mg-300 mg
>300 mg
Kesimpulan

Penyimpangan bobot rata-rata (%)


A
B
15
30
10
20
7,5
15
5
10

Dari 20 tablet tidak ada dua tablet yang masing-masing menyimpang dari
harga yang ditetapkan pada kolom A, dan tidak ada satupun yang menyimpang
dari bobot rata-rata lebih besar dari harga pada kolom B.
Keseragaman Bobot
Tablet ke
1
2
3
4
5
6

Bobot (g)
0,3555
0,3627
0,3439
0,3618
0,3361
0,3003

7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
T 1=

355
x 100 = 101,42 %
350

T 2=

362
x 100 =103,42
350

T 3=

343
x 100 =98
350

T 4=

361
x 100 =103,14 %
350

T 5=

336
x 100 =96 %
350

T 6=

303
x 100 =87 %
350

T 7=

355
x 100 = 101,42%
350

T 8=

333
x 100 =95 %
350

T 9=

313
x 100 =89 %
350

0,3554
0,3339
0,3137
0,3036
0,3479
0,3476
0,3454
0,3392
0,3488
0,3623
0,3247
0,3312
0,3343
0,3191

T 10=

303
x 100 = 87 %
350

T 11=

347
x 100 = 99 %
350

T 12=

347
x 100 = 99 %
350

T 13=

345
x 100 = 98 %
350

T 14=

339
x 100 = 96 %
350

T 15=

348
x 100 =99 %
350

T 16=

362
x 100 =
350

T 17=

324
x 100 =92,57 %
350

T 18=

331
x 100 =94,57 %
350

T 19=

334
x 100 =95
350

T 20=

319
x 100 =91 %
350

103,42 %

Syarat :
Tidak boleh ada 2 tablet yang masing-masing menyimpang dari % yang
ditetapkan dar 85-115%

e. Penetapan kadar zat aktif Paracetamol dengan alat Spektrofotometer


c (ppm) Abs
2
0.199
4
0.365
6
0.496
8
0.588
10
0.765
12
0.876
Kurva standar zat aktif dengan air
1
f(x) = 0.07x + 0.08
R = 0.99

0.8
0.6
0.4

Linear ()

0.2
0
0

10

12

14

Paracetamol dalam etanol ditambah aquadest


y= b x +a
y = 0,074 x + 0,013
R2 = 0,964
Abs sampel = 0,654
0,654= 0,074 x+ 0,013
0,654 - 0,013 = 0,074x
x=

0,641
=8,6622
ppm
0,074

8,6622 ppm x 250ml =

2165,55 108,2775
=
1000
50 ml

Kadar zat aktif dalam 150mg

150 mg
350 mg

x 250mg = 107,1428mg

kadar =

108,2775mg
x 100 =101,0590
107,1428mg

Paracetamol dalam etanol ditambah dapar fosfat


c(ppm) Abs
2
0.18
4
0.248
6
0.52
8
0.599
10
0.747
12
0.859

Kurva standar zat aktif dengan Dafar Posfat


1
0.8

f(x) = 0.07x + 0.03


R = 0.97

0.6
0.4

Linear ()

0.2
0
0

10

12

14

y= b x +a
y = 0,067 x + 0,076
R2 = 0,990
Abs sampel = 0,742
0,742= 0,067 x + 0,076
0,742 + 0,076 = 0,067 x
0,666 = 0,067 x
X=

0,666
=
9,9403 ppm
0,067

9,9403 ppm x 250ml =

2485,075 mg 124,25375 mg
=
1000 ml
50 ml

Kadar zat aktif dalam 150mg


kadar =

150 mg
350 mg

x 250mg = 107,1428mg

124,25375mg
x 100 =115,97
107,1428mg

f. Uji disolusi dengan penetapan kadar menggunakan spektrofometer


1. 5 menit
Pengenceran 50x
Abs. = 0,239
y = bx + a
0,239= 0,067 x + 0,076
0,239 0,076 = 0,067x
0,163 = 0,067x
0,163
x=
0,067 = 2,4328 ppm
2,4328 ppm x 50 =

% Terdisolusi=

121,64 mg
1000mg

x 900 ml = 109,476 mg

109,476 mg
x 100 =43,7904
250 mg

2. 10 menit
(pengenceran 50x , Abs= 0,251)
Y = 0,067x + 0,076
0,251 0,076 = 0,067x
0,251 = 0,067x + 0,076
x=

0,175
=2,6119 ppm
0,067

2,6119 ppm x 50 =

130,595
1000 ml

Terdisolusi dalam 900ml =

x 900 ml = 117,5355

47,595 mg
1000

10
x 900 ml = 117, 3355 + ( 900

x 109,476)
=117,5355 + 1,2164 mg
% Terdisolusi=

118,7519 mg
x 100 =47,50076
250

3. 15 menit
( Pengenceran 50x, Abs. 0,275)
y= 0,067x + 0,076
0,275 = 0,067x + -,076
0,275 0,076 = 0,067x
X=

0,199
0,067

X = 2,9701
2,9701 ppm x 50 =

148,305
1000

x 900 = 133,6545 mg

10
Terdisolusi dalam 900 ml = 133,6545 + ( 900
10
= 133,6545 + ( 900

x 109,476 + 117,5355)

x 227,0115 )

= 136,17685 mg
% terdisolusi =

136,17685
250

x 100 % = 54,47074 %

4. 30 menit
( Pengenceran 50x, Abs. 0,442)
y= 0,067x + 0,076
0,442 0,076 = 0,067x
0,366
=x
0,067
5,4626= x
5,4626 ppm x 50 =

273,13
1000

x 900 = 245,817 mg

10
Terdisolusi dalam 900 ml = 245,817 + ( 900
10
= 245,817 + ( 900
= 249,8244 mg

x 109,476 + 133,6545)

x 227,0115 )

% terdisolusi =

249,8244
x 100 =99,9297
250

Kesimpulan
Jadi % kadar terdisolusi tidak boleh melebihi 100 % kadar zat aktif, dan % kadar
harus memenuhi FI edisi III dimana % kadar terdisolusi tidak boleh kurang dari
90 % dan tidak boleh kurang dari 110%.
g. Uji waktu hancur
Syarat : Waktu yang diperlukan untuk menghancurkan ke 6 tablet tidak
lebih dari 15 menit untuk tablet yang tidak bersolut.
Kesimpulan : Waktu hancur tablet 2 menit 15 detik.

.3

Pembahasan
Percobaan kali ini yaitu pembuatan tablet parasetamol dengan metode

granulasi dengan PVP dengan cara kering, maka digunakan formula standar
(yang ada di Praformulasi). Parasetamol memiliki sifat higroskopis maka dipilih
cara granulasi basah dengan pengikat PVP dengan cara kering dan etanol sebagai
pengembang PVP sehingga tidak terlalu bermasalah dalam pengeringan granul.
Pencampuran dan peracikan fase dalam harus benar-benar homogen karena akan
mengakibatkan tidak meratanya kandungan zat aktif pada granul dan tablet yang
dihasilkan. Massa yang telah bisa dikepal kemudian diseragamkan Ukuran
granulnya dengan ayakan Mesh No. 12. Pada proses pengeringan granul
disimpan pada suhu 500C selama 15 menit.
Pada formula diatas, PCT atau parasetamol sebagai zat aktif dengan
efek farmakologis sebagai zat antipiretik dan analgesic. PCT dimasukkan ke fase
dalam karena stabil dalam pemanasan yang lama. Amprotab merupakan zat
tambahan fase dalam yang digunakan sebagai pengisi dan pengikat karena harga
ekonomis sehingga mengurangi biaya produksi. Fungsi sebagai pengisi untuk
menambah massa tablet yang akan dicetak dan fungsi sebagai pengikat untuk
mengikat zat aktif dan zat pengisi sehingga dapat tercampur dengan homogen.
Amprotab dapat digunakan sebagai zat pengikat dengan pencampuran amprotab
dan aquadest hangat dengan konsentrasi 3-20 % b/b untuk mendapatkan

amprotab pro pasta segar (HOPE, 2009). Pada praktikum ini dibuat amprotab
propasta dengan konsentrasi 15% yang ditambahkan secukupnya.
PVP merupakan zat tambahan fase luar digunakan sebagai pengikat
yang membantu pengikatan fase luar dengan granul fase dalam. PVP walaupun
berfungsi sebagai pengikat dimasukkan ke fase luar karena tidak tahan dengan
pemanasan yang lama (HOPE, 2009). Selain itu juga berfungsi sebagai
disintegrant yang membantu penghancuran tablet sehingga meningkatkan
kelarutan obat dalam cairan tubuh. PVP sebagai pengikat dan disintegrant
digunakan sebanyak 0.5- 5% (HOPE, 2009). Pada praktikum ini digunakan PVP
sebanyak 5 % agar tablet lebih mudah hancur dan larut dalam tubuh.
Talkum dan magnesium stearat adalah zat tambahan fase luar yang
berfungsi sebagai pelincir yang meningkatkan aliran granul sehingga tersebar ke
seluruh tempat cetakan pada saat pengempaan dan agar tidak meyumbat di
cetakan. Selain itu pelincir dapat memperpanjang waktu penghancuran obat,
sehingga pada saat dilakukan uji friabilitas, massa tablet tidak berkurang banyak.
Kedua zat ini ditambahkan sebagai fase luar untuk memberikan hasil yang lebih
baik pada kekerasan tablet dibandingkan ditambahkan sebagai fase dalam. Pada
formulasi tablet, talcum ditambahkan sebanyak 1- 10% dan magnesium stearat
ditambahkan sebanyak 0.25- 5% (HOPE, 2009). Pada praktikum ini digunakan
talcum 2% dan magnesium stearat 1%, penambahan hanya sedikit karena pelincir
yang banyak dapat menyebabkan tablet terlalu keras sehingga sulit hancur dan
sulit terlarut serta sulit dimetabolisme didalam tubuh.
Untuk pembuatan tablet dengan metode granulasi basah, hal yang
pertama yang harus dilakukan adalah menggranulasi fase dalam dari formula
diatas. Fase dalam biasanya terdiri dari zat aktif, pengisi dan pengikat. Amprotab
pro paste yang digunakan sebagai pengikat dibuat dalam konsentrasi 15%
dengan cara 15gr amprotab ditimbang dan dilarutkan dalam 100ml air dan
dipanaskan hingga terbentuk suatu mucilago yang bening. Untuk pemakaian
terbaik, konsentrasi maksimum amprotab yang digunakan sebagai pasta ini
biasanya 30%, tablet yang mengandung amilum dengan konsentrasi tinggi tidak
dapat dicetak dikarenakan kompresibilitas nya yang tidak baik.
Selanjutnya, parasetamol sebagai zat aktif dan amprotab dicampurkan
hingga terbentuk suatu campuran yang homogen. Amprotab merupakan
disintregan yang paling umum digunakan. Mekanisme kerja nya adalah dengan

membentuk ikatan hidrogen saat pengempaan dan pecah atau mengembang saat
cairan masuk ke dalam pori-pori tablet (kapiler). Amprotab pro pasta yang telah
dibuat sebelum nya dicampurkan sedikit demi sedikit hingga terbentuk suatu
massa yang dapat dikepal. Penambahan amprotab pro pasta harus dilakukan
dengan hati-hati dan secara perlahan, karena apabila amprotab pro pasta yang
digunakan terlalu banyak akan menyulitkan proses granulasi dan pada akhirnya
tablet yang dihasilkan akan sangat keras dan waktu hancur nya akan sangat lama.
Selanjutnya, massa campuran tadi dimasukkan ke dalam alat granulasi
yang disebut granulator. Pada alat granulator ini, massa dilewatkan pada mesh
atau ayakan dan diberi tekanan agar terbentuk suatu granul sehingga luas
permukaannya meningkat dan proses pengeringan berjalan dengan lebih cepat.
Ukuran mesh yang digunakan biasanya mesh no.16. Granul yang terbentuk,
selanjutnya dikeringkan dengan cara dimasukan ke dalam oven pada suhu 50-60
0C selama 18-24 jam. Setelah proses pengeringan selesai, granul kemudian di
masukan kembali ke dalam granulator dan diayak dengan menggunakan ayakan
yang ukuran nya lebih kecil, biasa nya digunakan ayakan no.18 agar ukuran
granul menjadi lebih homogen.
Setelah itu, granul yang diperoleh kemudian ditimbang, dan dievaluasi.
Evaluasi terhadap granul ini dilakukan dengan menentukan laju alir,
kompresibilitas, dan susut pengeringan atau lost of drying (LOD). Laju alir
granul memegang peranan penting dalam pembuatan tablet. Apabila granul
mudah mengalir, tablet yang dihasilkan mempunyai keseragaman bobot yang
baik. Laju alir ini dapat ditentukan dengan menentukan sudut istirahat dari granul
dengan menggunakan metode corong, Sudut istirahat ini merupakan sudut yang
dibentuk oleh tumpukan serbuk terhadap bidang datar setelah serbuk atau granul
tersebut mengalir secara bebas melalui suatu celah sempit dalam hal ini adalah
corong. Jadi, sudut istirahat diperoleh dengan memasukan sekitar 15gr serbuk ke
dalam corong yang ditutup, kemudian tutup tersebut dibuka, dan dihitung waktu
alir serta tinggi dan diameter dari tumpukan granul yang dihasilkan. Dari hasil
uji terhadap granul yang dihasilkan, diperoleh sudut istirahat granul sebesar
17,008 0C dengan waktu alir selama 2,41 detik. Nilai ini menunjukkan bahwa
granul yang dihasilkan memiliki sifat laju alir yang baik karena pada umumnya
granul dikatakan mengalir baik (free flowing) apabila sudut diamnya lebih kecil
dari 30 0C, sehingga granul dapat dicetak menghasilkan tablet yang homogen.

Selanjutnya dilakukan evaluasi, uji evaluasi ini meliputi 2 tahap yakni


granul dan evaluasi tablet, kedua evaluasi harus dilakukan guna untuk
mengetahui apakah sediaan kita buat sudah standart peraturan, parameter yang
digunakan adalah parameter dari sumber seperti farmakope.
Evaluasi granul yang pertama adalah distribusi ukuran partikel data
yang diperoleh rata rata adalah 2,15 %. Nilai ini menunjukan bahwa granul
memiliki nilai yang cukup baik. Uji selanjutnya kecepatan Aliran10 gram = 2,23
detik 10/2,23 = 4,48 gram / detik. Selanjutnya untuk bobot jenis dilakukan
dengan beberapa metode sesuai apa yang kami lakukan pada hasil pengamatan
diatas.
Evaluasi terhadap granul yang berikutnya adalah penentuan nilai
kompresibilitas dari granul dengan menggunakan alat tap density. Sebanyak 15gr
granul dimasukan ke dalam gelas ukur yang ada pada alat, kemudian dicatat
volume awal nya. Selanjutnya alat dinyalakan selama 4 menit dan kemudian
volume akhir nya dicatat. Suatu granul yang baik memiliki nilai %
kompresibilitas dibawah 20 %. Dari hasil pengujian dan perhitungan, diperoleh
nilai % kompresibilitas dari granul sebesar 13,6 %. Nilai ini menunjukan bahwa
granul memiliki nilai kompresibilitas yang baik.
Selanjutnya setelah evaluasi granul ini lolos kualifikasi standar granul
dilanjutkan dengan pncetakan tablet. Pertama, granul dicampurkan dengan fase
luar yang terdiri dari PVP, talcum, dan Mg Stearat. Fase luar dan granul
dicampurkan dan diaduk hingga homogen supaya distribusi fase luar merata dan
homogen. PVP berfungsi sebagai zat pengikat fase luar, talcum berfungsi sebagai
glidan dan lubrikan, sedangkan Mg Stearat digunakan sebagai glidan dan
lubrikan. Pengikat digunakan untuk mengikat fase luar dengan fase dalam
supaya dapat menyatu dan tercampur homogen. Lubrikan digunakan untuk
menghilangkan gesekan/friksi saat pengempaan dan penarikan kaplet ke luar
cetakan. Glidan digunakan untuk memperbaiki laju alir hasil campuran fase luar
dengan granul (fase dalam) supaya memudahkan pengaliran granul saat
pencetakan taplet. Hasil pencampuran cukup homogen.
Langkah selanjutnya tentunya dilakukan evaluasi tablet, dengan
procedur atau tahapan seperti yang dapat dilihat pada tabel pengamatan di atas.
Pada uji keseragaman ukuran tidak boleh lebih dari = 3x 6,15 = 18,45 mmt idak
boleh kurang dari = 1 1/3 x 6,15 = 8,2 mm. Syarat : Menurut F1 III diameter

tablet tidak boleh dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet. Pada uji ini
tablet tidak memenuhi syarat karena diameter tablet 0,81 mm,kurang dari 8,2
mm (tebal tablet). Lalu kemudian uji kekerasan, syarat :Tablet besar 7-10 kg/cm
Kesimpulan tablet tidak memenuhi syarat karena pada uji kekerasan 6 kg/cm2
dengan kriteria tablet besar (7-10 kg/cm 2).
Uji selanjutnya friabilitas, syaratnya tablet yang baik memenuhi
friabilitas 1 %. Disini tablet memenuhi syarat karena ukuran friabilitas kurang
dari 1% 0,5531 %.. Untuk ujik keseragaman bobot, syarat : tidak boleh ada 2
tablet yang masing-masing menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari
harga yang ditetapkan pada kolom A. tidak boleh ada satupun tablet yang
menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari harga pada kolom B. Uji waktu
hancur, syarat : waktu yang diperlukan untuk menghancurkan ke 6 tablet tidak
lebih dari 15 menit untuk tablet yang tidak bersolut. Hasil yang diperoleh: waktu
hancur tablet 2 menit 15 detik.
Selanjutnya pengujian waktu hancur dilakukan untuk melihat seberapa
lama tablet akan hancur pada kondisi yang menyerupai tubuh manusia.
Berdasarkan FI III, waktu hancur yang baik tidak lebih dari 15 menit. Pada
pengujian ini, dilakukan dengan alat disintregration taster didapatkan waktu
hancur 2 menit 12 detik. Hal ini menunjukan tablet terlalu lunak sehingga waktu
yang diperlukan sangat sebentar. Waktu hancur yang tidak baik ini dikarenakan
proses granulasi yang kurang baik dan efek Mg Stearat yang bisa jadi kurang
atau kehilangan. Saat pencampuran fase luar dengan fase dalam, bila pengocokan
kurang baik dan terlalu lama, maka Mg stearat akan menghilang pada tablet dan
Padahal dengan sifatnya yang tidak larut air akan memperlama waktu hancur
tablet.
Kemudian uji disolusi, disini bertujuan agar diperoleh kadar obat yang
tinggi di dalam darah, maka kecepatan obat dan tablet melarut menjadi sangat
menentukan. Karena itu, laju larut dapat berhubungan langsung dengan efikasi
(kemanjuran) dan perbedaan bioavaibilitas dari berbagai formula. Karena itu,
dilakukannya evaluasi mengenai apakah suatu tablet melepas kandungan zat
aktifnya atau tidak bila berada di saluran cerna.
Perlakuan pertama adalah dicari panjang gelombang serapan maksimum
untuk baku pembanding Paracetamol. Langkah selanjutnya adalah tablet

dicelupkan ke dalam medium pelarut sampai ke dasar yang terdapat dalam labu
sebanyak 900mL, suhu dipertahankan pada 37oC, motor diatur pada kecepatan
konstan 50 rpm. Kemudian cairan sample diambil pada selang waktu menit ke 5,
menit ke 10 , menit ke 15, dan menit ke 30 untuk menentukan jumlah obat dalam
cairan itu. Kemudian diencerkan 1 mL dari setiap cuplikan menjadi 10 mL
dengan medium dan tentukan absorbansinya pada panjang gelombang
maksimum yang didapat pada percobaan. Untuk menentukan kadar obat maka
digunakan alat spektrophotometri dengan mengukur tingkat absorbansi-nya.
Hasilnya adalah pada menit ke 5 persen terdisolusi adalah

43,7904 , menit ke

10 = 47,50076 , menit ke 15 = 54,47074 dan menit ke 30 = 99,92


Menurut US Farmakope, tablet parasetamol dinyatakan lolos uji disolusi
jika dalam waktu 30 menit harus larut tidak kurang dari 80%. Dari hasil
percobaan disolusi tablet parasetamol yang telah dilakukan, dapat dikatakan uji
disolusi tidak memenuhi syarat uji disolusi yang ada pada literatur hal ini dapat
dikarenakan faktor formulasi dan juga adanya sifat fisika kimia obat. Jadi pada
percobaan ini dinyatakan tidak lolos uji disolusi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kecepatan pelarutan suatu zat yaitu temperatur, viskositas, pH
pelarut, pengadukan, ukuran partikel, polimorfisa, dan sifat permukaan zat.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan pembuatan tablet parasetamol dengan metode
granulasi basah dapat disimpulkan :
Tiap tablet mengandung :
1.

Formula yang digunakan adalah


Fase dalam ( 92% )
Parasetamol

250 mg

PVP

5%

Amprotab

10 %

Laktosa

qs.

Etanol 95%

qs.

Fase luar ( 8% )
Magnesium stearat

1%

Talk

2%

Amprotab

5%

2. Evaluasi granul meliputi : laju alir, bobot jenis nyata, kadar mampat, BJ
sejati, Kadar pemapatan, Persen kompresibilitas, dan penentuan kadar zat
aktif dalam granul secara keseluruhan dengan menggunakan formula diatas
menunjukkan hasil yang diperoleh cukup baik.
3. Evaluasi tablet meliputi : Organoleptis, sifat fisiko kimia, kekerasan,
friabilitas, keseragaman bobot keseragaman sediaan dan penentuan kadar zat
aktif, uji waktu hancr dan uji disolusi dalam tablet secara keseluruhan
menunjukkan hasil yang kurang baik dikarnakan banyak yang melenceng
dari standar. Disini menjadi bahan evaluasi bahwa tablet yang dibuat belum
cukup maksimal. Adapun letak keslahan lebih pada kesalahan proceduran
ataupun human eror.

DAFTAR PUSTAKA

Anas. 2008. Obat-obatan Tablet Yang Perlu Dikritisi. Erlangga : Jakarta


Ansel, H.C., 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Penerjemah : F. Ibrahim.
Edisi ke-4. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta..
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi keempat.
Departemen Kesehatan. Jakarta.
Lachman, L., A. L. Herbert, & L. K. Joseph. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Universitas Indonesis Press. Jakarta.
Royal Pharmaceutical Society of Great Britain. 2009. Handbook of
Pharmaceutical
Pharmaceutical Press. London

Dokumentasi

Excipient.

6th

Edition.

Piknometer kosong

Piknometer kosong

Proses Pencetakan tablet

Piknometer+gliserin

Piknometer + granul 1 gram

Tablet yang sudah jadi

Penimbangan tablet

Proses Friabilitas

Hasil Absorbansi sampel pct

Penimbangan 20 tablet

waktu hancur tablet

Hasil Absorbansi dapar posfat