Anda di halaman 1dari 21

Pemeriksaan Diatom pada Korban Diduga

Tenggelam (Review)
Warih Wilianto
Dept./Inst. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Unair RSUD Dr.
Soetomo Surabaya
Abstrak
Tenggelam adalah suatu bentuk sufokasi berupa korban terbenam dalam cairan dan
cairan
tersebut terhisap masuk ke jalan napas sampai alveoli paru-paru
Diatom (tumbuhan air) pada air yang terhirup ketika korban tenggelam
masuk melalui alveoli dan pembuluh darah tersebar keseluruh tubuh.
Adanya diatom pada jenasah yang diduga mati
tenggelam menunjukkan bahwa korban masih sempat bernafas saat masih didalam air.
Pemeriksaan diatome pada korban diduga tenggelam merupakan
prosedur rutin yang harus dilakukan Hasil pemeriksaan yang positif
pada pemeriksaan diatom sangat membantu, tetapi hasil
yang negatif tidak memastikan bahwa korban tidak meninggal dikarenakan tenggelam
Terdapat beberapa cara pemeriksaan diatom, dari yang paling
sederhana menggunakan sediaan basah mikroskopis, hingga tingkat
molekuler (DNA), tiap tiap jenis pemeriksaan memeiliki akurasi dan
tingkat keberhasilan yang berbeda beda.
Kata kunci: diatom, tenggelam
Pendahuluan
adanya sebab kematian wajar atau keracunan,
Tenggelam adalah suatu bentuk sufokasi
dan terakhir yaitu sebab kematiannya.
berupa korban terbenam dalam cairan dan cairan
Dalam hal ini bantuan dokter pada peradilan
tersebut terhisap masuk ke jalan napas
untuk membuat terang suatu perkara jenasah
sampai alveoli paru-paru. Pada umumnya
yang diduga meninggal karena tenggelam
tenggelam merupakan kasus kecelakaan, baik
memerlukan pemeriksaan luar dan dalam
secara langsung maupun karena ada faktorpada tubuh korban serta pemeriksaan
faktor lain seperti korban dalam keadaan
tambahan lain seperti percobaan getah paru,
mabuk atau dibawah pengaruh obat, atau bisa
pemeriksaan darah secara kimia (Gettler test),
saja dikarenakan akibat dari suatu peristiwa
destruction test & analisa isi lambung,
pembunuhan.
pemeriksaan histopatologi jaringan paru,dan
Setiap tahun, sekitar 150.000 kematian
penentuan berat jenis plasma. Diatom
dilaporkan di seluruh dunia akibat
(tumbuhan air) pada air yang terhirup ketika
tenggelam, dengan kejadian tahunan mungkin
korban tenggelam masuk melalui alveoli dan
lebih dekat ke 500.000. Beberapa negara
pembuluh darah tersebar keseluruh tubuh.
terpadat di dunia gagal untuk melaporkan
Adanya diatom pada jenasah yang diduga mati
insiden hampir tenggelam. Ini, menyatakan
tenggelam menunjukkan bahwa korban masih
bahwa banyak kasus tidak pernah dibawa ke
sempat bernafas saat masih didalam air. Sampai
perhatian medis, kejadian di seluruh dunia
saat ini pemeriksaan diatom pada kasus
membuat pendekatan akurat yang hampir
tenggelam masih jarang digunakan meskipun
mustahil (Shepherd, 2009).
pemeriksaan tersebut berguna untuk diagnosa
Sedangkan pada data yang diperoleh dari RS.
kematian pada kasus tenggelam. Tulisan ini
Dr. Soetomo Surabaya didapatkan 23 orang
akan menjelaskan peran pemeriksaan diatom
meninggal karena tenggelam mulai bulan
dalam pemeriksaan korban tenggelam.
Januari 2011 hingga September 2011.
sedangkan pada 4 tahun terakhir didapatkan
Definisi dan Morfologi Diatom
93 kasus meninggal sejak Januari 2007 hingga
Diatom kelompok besar dari alga plankton yang
Desember 2010.
termasuk paling sering ditemui (Wikipedia,
Pada pemeriksaan jenazah yang diduga
2012). Diatom sendiri merupakan
tenggelam perlu juga diketahui kondisi
fitoplankton yang termasuk dalam kelas
korban meninggal sebelum atau sesudah
Bacillariophyceae (Anugrah, 2008). Ia terdapat
masuk air, tempat jenasah ditemukan
dimana saja, dari tepi pantai hingga ke tengah
meninggal berada di air tawar atau asin,
samudra. Diatom
adanya ante mortem injury,

biasanya terapung bebas di dalam badan air dan


juga kebanyakan dari mereka melekat pada
substrat yang lebih keras. Pelekatan diatom
biasanya karena tumbuhan ini mempunyai
semacam gelatin (Gelatinous extrusion) yang
memberikan daya lekat pada benda atau
substrat. Kadang ditemukan beberapa diatom
yang walau sangat lambat tetapi punya daya
untuk bergerak. Diatom akan sangat tergantung
pada pola arus dan pergerakan massa air baik
itu secara horizontal
maupun vertical (Kasim, 2008).
Diperkirakan di
dunia ada sekitar 1400-1800 jenis diatom, tetapi
tidak
semua
hidup
sebagai
plankton
(Anugrah, 2008). Ada juga yang hidup
sebagai bentos (didasar laut) atau yang
kehidupan normalnya didasar laut tetapi oleh
gerakan adukan air dapat membuatnya lepas
dari dasar dan terbawa hanyut sebagai plankton
(disebut
sebagai
tikoplankton) (Anugrah,
2008).
Dari bentuknya, diatom itu sendiri dikenal
dengan cell diatom melingkar (Centric
diatom) dan cell diatom memanjang (pennate
diatom) (Kasim, 2008). Diatom sentrik (centric)
bercirikan bentuk sel yang mempunyai
simetri radial atau konsentrik dengan satu
titik pusat. Selnya bisa berbentuk bulat,
lonjong, silindris, dengan penampang bulat,
segitiga atau segiempat. Sebaliknya diatom
penat (pinnate) mempunyai simetri bilateral,
yang bentuknya umumnya memanjang atau
berbentuk sigmoid seperti huruf S. Sepanjang
median sel diatom penat ada jalur tengah yang
disebut rafe (raphe) (Anugrah, 2008). Struktur
umum sel diatom dapat dijelaskan secara
sederhana dengan model dari diatom sentrik.
Sel dengan kerangka silikanya yang disebut
frustul. Morfologi frustul terdiri dari dua valvula
setangkup, bagaikan cawan petri (petri dish),
atau bagaikan kotak obat (pill box). Valvula
bagian atas disebut epiteka yang menutupi
sebagian valvula bagian bawah yang disebut
hipoteka. Bagian tumpang tindih yang
melingkar pinggangnya disebut girdle.
Seluruh permukaan valvula boleh dikatakan
penuh dengan berbagai ornamentasi yang
simetris dan indah dan pori-pori yang
menghubungkan sitoplasma dalam sel dengan
ligkungan diluarnya. Ciri ornamentasi pada
valvula ini merupakan hal penting untuk
identifikasi jenis. Di dalam frustul terdapat
sitoplasma yang mengandung inti sel dan
vakuola yang besar. Di dalam sitoplasma
terdapat pula kromatofor yang umumnya
berwarna kuning- coklat karena adanya pigmen
karotenoid. Populasi diatom banyak

ditentukan oleh

Gambar 2: Citra Scanning Electron


Microscope
(SEM) menunjukkaan diatom Cyclotella
Steligera
dengan ornamentasi berpola simetris radial
Pada kasus tenggelam di air tawar, keberadaan
diatom di sumsum tulang dapat digunakan
untuk mendiagnosis 30% dari kasus tenggelam
di air tawar, hasil diagnose tersebut

sangat bergantung oleh dinamika populasi


diatom yang dipengaruhi oleh musim, selain
juga faktor ukuran dari diatom tersebut.
Musim dingin adalah musim dengan
frekuensi tertinggi tidak ditemukan
diatom pada sampel, (Pollanen, 1997)
Diatom yang biasa ditemukan pada
kasus tenggelam pada air tawar seperti
kolam, danau,
sungai dan kanal adalah: Navicula pupula, N.
cryptocephara, N. graciloides, N. meniscus N.
bacillum N. radiosa, N. simplex, N. pusilla,
Pinnularia mesolepta, P. gibba, P. braunii,
Nitzscia mesplepta, Mastoglia smithioi,
Cymbella
cistula, Camera lucida, Cymbella cymbiformi,
dan
Cocconeis diminuta
Pinnularia boreali ditemukan pada air
tawar
yang

dingin,
Pinnularia capsoleta
ditemukan pada air tawar yang dangkal.

Gambar 5: Cosconodius sp, salah satu contoh


diatom di perairan air tawar.
Dari beberapa literature yang ada dapat
disimpulkan macam-macam spesies dari
diatom yang paling sering ditemukan pada
organ-organ tubuh manusia yang diduga
meninggal karena tenggelam. Berikut adalah
rangkuman dari spesies diatom yang sering di
temukan di dalam organ tubuh:
Tabel 1: spesies diatom yang sering
ditemukan berdasar sampel organ
Organ
Spesies Diatom yang sering
tubuh
ditemukan

Gambar 3: Achnanthes sp. (kiri) Amphipleura sp.


contoh diatom di perairan air tawar.

Paru
2
3.
4.

5.U
s

Achnanthes minutissima,

Sum sum Stephanodicus parvus,


tulang
Navicula,
Diatoma
andminutissima,
fragments of
Hepar
Achnanthes
Cocconeis
placentula, Fragilaria
Ginjal
Achnanthes
biasolettiana,
N.

6.

Gambar 4: Anomoeneis
sp.
(atas) Biddulphia
sp. (bawah) contoh diatom di perairan
air tawar
.

Studi lebih lanjut mengenai morfologi dan


eksistensi diatom pada zona perairan
tertentu sangat membantu dalam
menyelesaikan penyebab
kematian
pada
korban
yang
meninggal karena tenggelam

diduga

peningkatan viskositas darah akan


menyebabkan payah jantung.
d;
Tidak terjadi hemolisis melainkan
hemokonsentrasi,
tekanan
sistolik
akan menetap dalam beberapa menit.
Temuan Makroskopis pada korban tenggelam
Pemeriksaan luar:
Gambar 6: Cyclotella sp. contoh diatom di
Tidak ada yang patognomonis untuk
perairan air tawar.
drowning, fungsinya hanya menguatkan.
Hanya beberapa penemuan memperkuat
diagnosa drowning antara lain: kulit
basah, dingin dan pucat.
Lebam jenazah biasanya sianotik, kecuali
bila air sangat dingin maka lebam
jenazah akan berwarna pink.
Kadang terdapat cutis anserina pada lengan,
paha dan bahu. Ini disebabkan suhu air
dingin yang menyebabkan kontraksi m.
Gambar 7: Surirella sp. contoh diatom di
Erector pilorum.
perairan air tawar.
Buih putih halus pada mulut dan hidung,
sifatnya lekat (cairan kental dan berbuih).
Kadang terdapat cadaveric spasme pada
Mekanisme Tenggelam
tangan dan kotoran dapat tergenggam.
Mekanisme tenggelam dalam air tawar:
Bila berada cukup lama pada air, kulit
a;
Air tawar akan dengan cepat diserap
telapak tangan dan kaki akan mengeriput
dalam
dan pucat.
jumlah besar sehingga terjadi hemodilusi
Kadang terdapat luka berbagai jenis pada
yang hebat sampai 72% yang berakibat
yang tenggelam di pemandian atau yang
terjadinya hemolisis.
meloncat dari tempat tinggi yang dapat
b;
Oleh karena terjadi perubahan
merobek paru, hati, otak atau iga.
biokimiawi
yang serius, dimana kalium dalam
Pemeriksaan dalam:
plasma meningkat dan natrium berkurang,
juga terjadi anoksia dalam miokardium.
Jalan nafas berisi buih, kadang ditemukan
c;
Hemodilusi menyebabkan cairan dalam
lumpur, pasir, rumput air, diatom, dll.
pembuluh darah dan sirkulasi berlebihan,
Terjadi karena adanya kompresi terhadap
terjadi penurunan tekanan sistole dan dalam
septum interalveoler atau oleh karena
beberapa menit terjadi fibrilasi ventrikel.
terjadinya
fase
konvulsi
akibat
d;
Jantung untuk beberapa saat masih
kekurangan oksigen.
berdenyut
Paru-paru membesar, mengalami kongesti
dengan lemah, terjadi anoksia cerebri
dan
mempunyai
gambaran
seperti
yang hebat,
hal
ini
menerangkan
marmer sehingga jantung kanan dan venamengapa kematian terjadi dengan cepat.
vena besar dilatasi. Bila paru masih fresh,
kadang dapat dibedakan
apakah
ini
Mekanisme tenggelam dalam air asin:
tenggelam dalam air tawar atau asin.
a;
Terjadi hemokonsentrasi, cairan dari
Banyak cairan dalam lambung.
sirkulasi
Perdarahan telinga bagian tengah (dapat
tertarik keluar sampai 42% dan masuk
ditemukan pada kasus asfiksia lain).
kedalam jaringan paru sehingga terjadi
edema pulmonum yang hebat dalam
Pemeriksaan Khusus Pada Tenggelam
waktu relatif singkat.
Pemeriksaan khusus yang dapat dilakukan pada
b;
Pertukaran elektrolit dari asin kedalam
kasus tenggelam adalah: Percobaan getah
darah
mengakibatkan meningkatnya hematokrit
dan peningkatan kadar natrium plasma.
c;
Vibrilasi ventrikel tidak terjadi, tetapi
terjadi
anoksia pada miokardium dan disertai

paru (Longsap proof), Pemeriksaan darah secara


kimia (Gettler test), Tes Destruksi & analisa
isi lambung, Pemeriksaan histopatolgi jaringan
paru, Menentukan berat jenis plasma (BJ
plasma). (Apuranto, 2010).
Pemeriksaan Diatom (Destruction Test)
Keseluruhan prosedur dalam persiapan bahan
untuk analisa diatom meliputi contoh air dari
dugaan lokasi tenggelam, contoh jaringan dari
hasil otopsi korban, jaringan yang
dihancurkan untuk mengumpulkan diatom,
konsentrasi diatom, dan analisa mikroskopis.
Pengumpulan bahan dari media tenggelam yang
diduga harus dilakukan semenjak penemuan
jenazah, dari air permukaan dan dalam,
menggunakan 1 hingga 1,5 L tempat steril untuk
disimpan pada suhu 4C, di dalamnya disimpan
bahan-bahan dari korban dugaan tenggelam
yang diambil dengan cara steril., kebanyakan
berasal dari paru-paru, ginjal, otak, dan sumsum
tulang. Usaha untuk mencari diatome
(binatang bersel satu) dalam tubuh korban.
Karena adanya anggapan bahwa bila orang
masih hidup pada waktu tenggelam, maka akan
terjadi aspirasi, dan karena terjadi adanya usaha
untuk tetap bernafas maka terjadi kerusakan
bronkioli/bronkus sehingga terdapat jalan dari
diatome untuk masuk ke dalam tubuh.
Syaratnya paru-paru harus masih dalam
keadaan segar, yang diperiksa bagian kanan
perifer paru-paru, dan jenis diatome harus sama
dengan diatome di perairan tersebut. Cara
melakukan pemeriksaan diatome yaitu:
1;
Ambil potongan jaringan sebesar 2-5
gram
(hati, ginjal, limpa dan sumsum tulang).
2;
Potongan jaringan tersebut dimasukkan
10
mL asam nitrat jenuh, 0,5 ml asam
sulfat jenuh.
3;
Kemudian dimasukkan lemari asam
sampai
semua jaringan hancur.
4;
Warna jaringan menjadi hitam oleh
karena
karbonnya.
5;
Ditambahkan natrium nitrat tetes demi
tetes
sampai warna menjadi jernih.
6;
Kadang-kadang sifat cairan asam
sehingga
sukar untuk melakukan pemeriksaan,
oleh karena itu ditambahkan sedikit NaOH
lemah (sering tidak dilakukan oleh karena
bila berlebihan akan menghancurkan
chitine).
7;
Kemudian dicuci dengan aquadest.
Lalu
dikonsentrasikan (seperti telur cacing),

disimpan/diambil
diperiksa,

sedikit

untuk

Setelah pencampuran selesai diatom dapat


diisolasi dengan metode sentrifuse atau
membrane
filtration.
Siklus sentrifuse
mengkonsentrasikan
diatom dan menyingkirkan semua sisa asam
dengan pencucian berulang, supernatant
diganti
tiap beberapa kali dengan air
distilled.
Penggunaan saring nitroselulose adalah bagi
bahan dengan jumlah diatom yang rendah
dan diikuti dengan analisa LM.
Interpretasi Hasil Pemeriksaan
False Positif
Kritik utama pada pemeriksaan diatom adalah
penemuan diatom pada paru-paru dan organorgan lain pada jenasah yang meninggal
bukan karena tenggelam. Hal tersebut
dibuktikan oleh adanya penelitian yang
dilakukan oleh beberapa peneliti seperti
Pachar dan Cameron menemukan 5-25
diatom/100g dan mencapain 10 diatom/100g
pada organ tertutup. Selain itu ada pula
penelitian yang dilakukan oleh Foged
menunjukkan bahwa terdapat diatom hingga
54 diatom pada hepar, 51 diatom pada ginjal,
dan 17 diatom pada bone marrow (seperti tulang
panjang atau tulang punggung). Spesies
diatom yang ditemukan pada jaringan yang
tidak cocok dengan spesies diatom yang ada
pada air tempat jenasah tersebut ditemukan,
menurut Ludes dan Coste dapat
diklasifikasikan sebagai kontaminasi diatom.
Kontaminasi Antemortem
Penyerapan diatom pada gastrointestinal
mungkin terjadi sebagai akibat dari makan
makanan seperti salad dll yang masih
terdapat diatom didalamnya atau pada
minuman, karena pada beberapa negara
penduduknya minum air yang berasal dari
sungai maupun sumur. Berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh Splitz, Koseki dan
Foged menyebutkan bahwa diatom dapat juga
terhirup saat merokok apabila daun tembakau
masih terdapat diatom.
Komtaminasi Postmortem
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Ludes dan Coste menyatakan bahwa
penetrasi diatom pada post mortem mungkin
terjadi selama adanya perendaman tubuh
jenasah pada tekanan hidrostatik yang tinggi.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Koseki
menyatakan bahwa tulang yang direndam
dalam jangka waktu lama dapat membuat
suatu kesalahan dalam menentukan sebab
kematian karena diatom dapat masuk melalui
foramen nutricium atau pori-pori yang lain.

Kontaminasi lain
Kemungkinan lain adanya kontaminasi diatom
yaitu selama pembuatan preparat, mulai dari
pengambilan sampel saat otopsi hingga
kontaminasi pada slide preparat (Lunetta et
all, 2005)
False Negatif
Ada beberapa faktor yang memungkinkan
terjadinya false positif pada pemeriksaan diatom
pada jenasah mati tenggelam yaitu
rendahnya jumlah diatom pada tempat
tenggelam, jumlah air yang terhirup sedikit
dan berkurangnya jumlah diatom selama
pembuatan preparat. Beberapa peneliti juga
berusaha menentukan batas minimum diatom
pada media tenggelam untuk bisa membuat
adanya diatom pada organ tertutup. Data yang
didapat dari penelitian yang dilakukan oleh
Muller ditetapkan bahwa batas minimal yaitu
20.000/100ml pada percobaan dengan
menggunakan tikus dan 13.500/100ml pada
percobaan dengan menggunakan kelinci.
Jumlah dari false negatif pada kasus dugaan
mati tenggelam sangat ervariasi. Beberapa
peneliti seperti Rota yang melakukan penelitian
dengan 48 korban mati tenggelam, terdapat
24% tidak ditemukan ada diatom pada paruparu maupun organ-organ tertutup lainnya.
Peneliti lain seperti Timperman melaporkan
10% dari 40 kasus tidak ditemukan adanya
diatom. Oleh karena itu, meskipun
pemeriksaan diatom pada korban diduga mati
tenggelam mempunyai hasil yang negatif,
tidak semata-mata mencoret kemungkinan
sebab kematian korban tersebut dikarenakan
tenggelam.
Tingkat Keberhasilan Pemeriksaan Diatom
Diatom dapat ditemukan di dalam korban
tenggelam untuk memperjelas diagnosis
penyebab kematian. Hal ini dapat
menjelaskan apakah korban tenggelam pada
saat ante-mortem ataukah post-mortem. Diatom
tidak selalu ditemukan di semua kasus
tenggelam, tetapi jika didapatkan pada organorgan dalam jumlah banyak, hal ini dapat
mempertegas diagnose tenggelam antemortem (Singh, 2006). Ada banyak
kontroversi mengenai tes diatom. Banyak
penulis yang tidak memperhitungkan tes
diatom sebagai metode yang berharga. Akan
tetapi dalam berbagai ajaran lampau tes diatom
sangat berguna dalam penentuan tenggelam
ante-mortem atau post- mortem dengan
memperhitungkan tiap aspek dengan penuh
ketelitian.

Beberapa topik dalam patologi forensik

pertolongan/bantuan indikatif dan tidak


sebagai

bukti yang sah dari mati tenggelam (Anton,


2006). Oleh karena itu, pemeriksaan diatom
memang salah satu tanda yang patognomonis
untuk mendiagnosis kasus tenggelam.
Keberadaan diatom di organ-organ tubuh yang
dianalisis baik secara kualitatif maupun
kuantitatif, bukan hanya dapat menentukan
penyebab kematian tetapi juga dapat digunakan
untuk menentukan tempat kejadian yang
dicurigai sebagai tempat tenggelamnya korban
(Rohn, 2006). Sementara hasil pemeriksaan
yang positif pada pemeriksaan diatom sangat
membantu, tetapi hasil yang negatif juga tidak
dapat mengindikasikan bahwa korban tidak
meninggal dikarenakan tenggelam
(Dimaio, 2010).
Beberapa pemikiran yang lebih kritis
mengenai pemeriksaan diatom dapat
dikembangkan dengan metode yang lebih
baru. Pemikiran atau ide-ide yang lebih terkini
sangat dibutuhkan untuk mengaplikasikan
teknik ini untuk investigasi medikolegal.
Kesimpulan
Pemeriksaan diatome pada korban diduga
tenggelam merupakan prosedur rutin yang harus
dilakukan. Adanya diatom pada jenasah yang
diduga mati tenggelam menunjukkan bahwa
korban masih sempat bernafas saat masih
didalam air
Hasil pemeriksaan yang positif pada
pemeriksaan diatom sangat membantu, tetapi
hasil yang negatif tidak memastikan bahwa
korban
tidak meninggal dikarenakan tenggelam
Daftar Pustaka
Apuranto H. 2010. Buku Ajar Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal, edisi ketujuh.
Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga. Surabaya. Editor Hoediyanto. Hal
86-94.
Azparren JE, Vallejo G, Reyes E, Herranz A,
Sancho M. Study of the diagnostic value of
strontium, chloride, haemoglobin and
diatoms in immersion cases. Forensic
Sci
Int. 1998; 91(2): 123-32.
Dimaio V, Dimaio D. Death by drowning in
Forensic Pathology. 2010. Second edition.
CRC press LLC. 2001. Hal 410- 417.

Hendey N.I. 1980. Diatom and drowning- a


review. Letter to editor.
Medicine
Science
and Law; 20(4): 289.
Merriam Webster. 2012. Drowning. Di unduh
dari:
http://www.merriamwebster.com/
medical/drown
Nontji, Anugerah. 2008. Plankton Laut., LIPI
Press. Jakarta. hal
Oxford University Press. 2012. Drowning.
Diunduh dari: http://oxforddictionaries.com
/definition/english/drown
Pollanen MS, Cheung C, Chiasson DA. The
diagnostic value of the diatom test for
drowning, I. Utility: a retrospective analysis of
771 cases of drowning in Ontario,
Canada.
J. Forensic Sci .
1997; 42 (2): 2815.
Rohn EJ, Frade PD. The role of diatoms in
medico legal investigations I: The history
contemporary science and application of the

diatom test for drowning. Forensic


Examiner; 2006: 10-15
Singh R, Singh R, Kumar S, Thakar MK.
Drowning Associated Diatoms. 2005.
Diunduh dari: http://www.iijfmt.co.cc/
vol3no3/publication.htm
Singh R, Singh R, Kumar S, Thakar MK.
Forensic Analysis of Diatoms- A Review.
Anil Aggrawal's Internet Journal of Forensic
Medicine and Toxicology [serial online], 2006;
Vol. 7, No. 2. Di Sitthiwong N, Ruangyuttikarn
W, Vongvivach S, Peerapornpisal Y. The study
of Diatoms in Drowning Corpses. 2011.
Journal of The Microscopy Society of Thailand
4 (2), pg 84-88.
Timperman J. The detection of diatoms in
the marrow of sternum as evidence of Death by
Drowning.
J. Forensic Med
. 1962; 9;13436.