Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pada zaman sekarang ini, televisi merupakan media eletronik yang mampu menyebarkan
berita secara cepat dan memiliki kemampuan mencapai khalayak dalam jumlah tak terhingga
pada waktu bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditayngkannya telah mampu
menarik minat pemirsanya dan membuat pemirsanya ketagihan untuk selalu menyaksikan acaraacara yang ditayangkan. Bahkan bagi anak-anak sekaipun sudah menjadi agenda wajib bagi
sebagian besar anak.
Dengan berbagai acara yang ditayangkanmulai dari infotainment, entertainment, iklan,
sampai pada snetron dan film yang berbau kekerasan. Televisi telah mampu membius para
pemirsanya terutama anak-anak untuk terus menyaksikan acara demi acara yang dikemas
sedemikian rupa.
Tidak jarang sekarang ini banya anak-anak lebih suka berlama-lama di depan televisi
dari pada belajar atau bahkan banyak anak yang hamper lupa akan waktu makannya karena
televise ini merupakan suatu masalah yang terjadi di llingkungan kita sekarang dan perlu
diperhatian khusus bagi setiap orang ua untuk selalu mengawasi aktivitas anaknya. Sebagian
besar tayangan televise adalah sinetron, dimana terandung begitu banyak adegan-adegan
kekerasan baik fisik maupun mental. Dengan demikian terutama bagi anak-anak yang pada
umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat, tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap
anak tersebut akan mengikuti acara TV yang ia tonton. Dalam karya tulis ilmiah ini akan dibahas
lebih banyak pengaruh positif dan negatif menonton televise terhadap perilaku anak usia dini.
1.2 Tujuan Penelitian
Adapun penulisan karya ilmiah ini bertujuan sebagai berikut :
1.2.1

Mengetahui penyebab kebiasaan menonton televise pada anak

1.2.2

Mengetahui pengaruh negative dan positif dari ebiasaan menonton televise

1.2.3

Mendorong para orang tua untuk mengatasi pengaruh negative yang muncul dari kebiasaan
menonton televise.
1.3 Manfaat Penelitian
Karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi saya sendiri selaku penulis
serta bagi para pembacanya. Adapun harapan itu agar karya tulis ilmiah ini ditujukan kepada
setiap orang tua agar lebih berhati-hati terhadap acara- acara yang disiarkan ditelevisi dan bisa
mengantisipasi dampak-dampak yang bisa ditimbulkan dari acara-acara televisi, serta orang tua

lebih selektif dalam memilih acara-acara televisi yang cocok untuk perkembangan anaknya dan
acara yang mana tidak cocok untuk perkembangan anaknya. Sehingga fungsi televisi sebagai
sarana informatif, edukatif, rekreatif dan sebagai sarana mensosialisasikan nilai-nilai atau
pemahaman-pemahaman baik yang lama maupun yang baru, dapat berjalan sebagaimana
mestinya.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah penelitian tersebut, maka penulisan merumuskan
masalah sebagai berikut :
1.4.1.

Apakah dampak-dampak yang ditimbulkan dari menonton televisi pada anak?

1.4.2.

Faktor apa sajakah yang ditimbulkan dari kebiasaan menonton televis?

1.4.3.

Bagaimana peran orang tua dalam mengatasi dampak negatif menonton televisi terhadap

anak ?
1.5 Metode Penulisan
Pada karya tulis ilmiah ini, metode yang digunakan adalah :
1.5.1

Metode Angket atau kuesioner, metode dengan cara ini banyak kelebihannya dengan cara yang lain
dan dengan metode angket. Maka dapat dikumlpulkan keteranga yang jelas diketahui oleh para
responden, terhadap masalh yang sedang diteliti dengan cara mengajkan pertanyaan dan secara
langsung dsebarkan kepada responden.

1.5.2

Metode Literatur, metode dengan mencari data-data dari berbagai sumber seperti internet, majalah,
elektronik, dan buku.

1.6 Sistematika Penulisan


ABSTRAKSI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Penelitian
1.3 Manfaat Penelitian
1.4 Rumusan Masalah
1.5 Metode Penelitian
1.6 Sistematika Penulisan
BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Gambaran Umum Tayangan Televisi


2.1.1 Pengertian
2.1.2 Tujuan dan Fungsi
2.1.3 Manfaat dan Kerugian
BAB III PEMBAHASAN DAN ANALISIS
3.1 Pengaruh Menonton Televisi pada Anak
3.2 Kebiasaan Menonton Televisi pada Anak
3.3 Cara Mengatasi Dampak Negatif Menonton Televisi pada Anak
3.4 Hasil Angket
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Gambaran Umum Tayangan Televisi
2.1.1 Pengertian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), televisi adalah peawat system
penyiaran gambar objek yang bergerak yang disertai bunyi, suara melalui kabel /angkasa
dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi
gelombang listrik dapat mengubahnya kembali menjadi bekas cahaya yang dapat dilihat dan
bunyi yang dapat didengar. Televisi sama halnya dengan media massa lainnya yang mudah
kita jumpai dan dimiliki oleh manusia dimana-dimana seperti surat kabar, radio ,dan komputer.
Dewasa ini televisi dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan dengan mudah dapat dijangkau
melalui siaran dari udara ke udara dan dapat dihubungkan melalui satelit. Apa yang kita
saksikan pada layar televisi ,semuanya merupakan gambar dan suara.

2.1.2 Tujuan dan Fungsi Televisi


2.1.2.1 Tujuan
Sesuai dengan UU penyiaran No.24 Tahun 1997, Bab II pasal 43, bahwa penyiaran
bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap mental mayarakat Indonesia yang

beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa
dan membangun masyarakat adil dan makmur.
2.1.2.2 Fungsi
Pada dasarnya televisi sebagai alat atau media massa elektronik yang dipergunakan
oleh pemilik untuk memperoleh sejumlah informasi, hiburan, pendidikan tersebut. Sesuai
dengan UU penyiaran No. 24 Tahun 1997 Bab II pasal 54 berbunyi Penyiaran mempunyai
fungsi sebagai media informasi dan penerangan pendidikan dan hiburan yang memperkuat
ideologi, politik, ekonomo, sosial, budaya, serta pertahanan dan keamanan. Dari uraian diatas
mengenai fungsi televisi secara umum menurut UU penyiaran dapat kita deskripsikan bahwa
fungsi televisi sangat baik karena memiliki fungsi sebagai berikut :

Fungsi rekreatif, memberikan hiburan yang sehat kepada pemirsanya karena manusia adalah
makhluk yang membutuhkan hiburan.

Fungsi edukatif, berperan memberikan pengetahuan kepada pemirsanya lewat tayangan yang
ditampilkan.

Fungsi informatif.
2.1.3 Manfaat dan Kerugian Televisi
2.1.3.1 Manfaat
Televisi memang tidak dapat difungsikan mempunyai manfaat dan unsur positif yang
berguna bagi pemirsanya, baik manfaat yang bersifat ognitif, afektif maupun psikomotor.
Namun tergantung pada acara yang ditayangkan di televisi. Manfaat yang bersifat kognitif,
yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan atau informasi dan keterampilan (beirta, dialog,
wawancara dsb). Manfaat yang kedua adalah manfaat afektif, yaitu berkaitan dengan sikap dan
emosi (yang mendorong pemirsa agar memiliki kepekaan sosial, kepedulian sesama dsb).
Adapun manfaat yang ketiga manfaat yang bersifat psikomotor, yaitu yang berkaitan dengan
tindakan dan perilaku yang positif (film, sinetron, drama, dan acara lainnya).
2.1.3.2 Kerugian
Kerugian yang dimunculkan televise memang tidak sedikit, baik yang disebabkan
karena terapan kesannya, maupun klehadiranya sebagai media fisik terutama bagi pengguna
televise tanpa dibarengi dengan sikap selektif dalam memilih berbgai acara yang disajikan.
Dalam konteks semacam ini maka kita dapat melihat beberapa kerugian sebagai berikut :

Menyia-nyiakan waktu , mengingat waktu itu terbatas juga umur kita , maka menonton televise
dapat di kategorikan membuang-buang waktu , bila acara yang di tontonnya terus menerus

bersifat hiburan yang dii dalamnya (di tinjau secara hakiki) merusak atau menggerogoti aqidah
kita, khususnya anak.

Melalaian tugas dan kewajiban. Televisi dengan acaranya yang menarik dan memikat, sering
kali membawa anak-anak pada kelalaian. Televisi dalam konteks ini bukan hanya membuat
anak terbius oleh acaranya, namun pula menyeret kita dalam kelalaian tugas sehari-hari.

Mengganggu kesehatan, terlalu sering menonton televisi akan merusak kesehatan kita, baik
yang di sebabkan karena radiasi yang bersumber dari layer televise maupun di sebabkan
karena kelelahan akibat menonton terlalu lama. Secara logis dari menurunnya kesehatan maka
akan menurun pula semangat kerja.

Korban mode. Korban mode juga termasuk kerugian dari televisi karena sekarang ini sudah
merakyat korban mode dari acara televisi tersebut.Dikatakan korban mode itu karena setiap
kita telah melihat tayangan tersebut (melihat idola kita) kita ingin meniru gaya-gaya yang
muncul di acara tersebut.

BAB III
PEMBAHASAN DAN ANALISIS
3.1. Pengaruh Menonton Televisi Pada Anak
3.1.1. Pengaruh Positif
Seperti yang telah penulis bahas di BAB II mengenai fungsi televisi, sebenarnya televisi
mempunyai fungsi dan manfaat yang baik apabila dalam penggunaannya pun baik. Berdasarkan
data yang bersumber dari angket dan wawancara kepada murid dan orang tua murid di Kp.
Galumpit Rt 01/Rw 24, baik anak-anak yang gemar menonton televisi dan orang tua sebagian
besar menyadari bahwa pengaruh positif yang paling menonjol dari menonton televisi adalah
sebagai salah satu media belajar anak dan sebagai sumber informasi yang dapat membantu
anak untuk mengenal dunia luar lebih luas.
3.1.1.1 Sebagai salah satu media belajar anak.
Televisi bisa menjadi salah satu media belajar anak apabila tayangan yang ditonton
merupakan tayangan yang bersifat edukatif. Dari data angket menyatakan bahwa, anak-anak
yang gemar menonton televisi tersebut memperoleh cukup banyak pengetahuan dari acara yang
mereka saksikan di televisi. Acara kuis, program bimbingan rohani, talk show pendidikan
atau bidang pengetahuan lain sangat berguna bagi anak-anak. Bagi sebagian anak yang

memiliki pola belajar audio visual, menonton televisi bisa dijadikan sebagai alternatif
pembelajaran. Tentunya program televisi itu haruslah benar-benar mendidik dan tidak ada unsurunsur di dalamnya yang dapat merugikan pemirsa.
Pengaruh positif televisi sebagai media pembelajaran ini juga tidak lepas dari peran orang tua.
Contoh acara yang bersifat mendidik tersebut antara lain Barney and friends, Sesame Streetata
u Jalan sesama, Dora the explorer, Laptop si Unyil, Upin dan Ipin, Surat Sahabat, Are You
Smarter than a 5th grader dsb
3.1.1.2 Sebagai sumber informasi untuk mengenal dunia luar
Sebenarnya fungsi ini tidak terlalu jauh berbeda dengan fungsi televisi sebagai media
pembelajaran. Sumber informasi disini juga dapat diartikan dengan informasi yang didapat dari
menyaksikan tayangan televisi yang bersifat mendidik dan informative. Televisi dapat
mengerutkan dunia dan menyebarkan berita sangat cepat. Hal tersebut membuktikan bahwa
fungsi televisi sebagai sumber informasi untuk mengenal dunia luar cukup berhasil. Namun hal
ini perlu didukung dengan adanya pengawasan dari orang tua agar informasi yang diterima oleh
anak sesuai dengan usia mereka.
3.1.2. Pengaruh Negatif
Selain pengaruh positif, pengaruh negatif dari menonton televisi juga tidak kalah banyak..
Pengaruh negatif dari menonton televisi banyak jenisnya baik di lihat dari segi perilaku maupun
jika dilihat dari segi lain seperti dari segi kesehatan.
3.1.2.1. Dilihat dari segi perilaku anak
a) Mengurangi semangat belajar.
Bahasa televise, simpel, memikat, dan membuat ketagihan sehingga mungkin anak
menjadi malas belajar. Anak-anak yang terbiasa menghabiskan waktu nya dengan menonton
televisi akan sangat sulit saat diajak beralih untuk belajar. Mereka akan lebih senang
menyaksikan acara favorit nya dibandingkan harus membuka buku dan mengerjakan tugas.
b) Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga
Kebanyakan anak kita menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk
bercengkrama bersama keluarga biasanya terpotong atau terkalahkan dengan TV. Sehingga bila
ada waktu dengan keluarga pun, kita menghabiskannya dengan mendiskusikan apa yang kita
tonton di TV. Yang lebih memprihatinkan adalah terkadang masing-masing anggota keluarga
menonton acara yang berbeda di ruangan rumah yang berbeda.
3.1.2.2. Dilihat dari segi kesehatan fisik
a) Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan).

Kita biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena kita biasa menggunakan waktu
senggang untuk menonton TV padahal TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Dari data
hasil angket, menyatakan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka
mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung
memengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Anak yang tidak
mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi
potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak
banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan
akhirnya menimbulkan kegemukan.
b) Memperbesar kemungkinan terjangkit penyakit rabun. Seperti kita ketahui bahwa sebagian
besar anak tidak mau beranjak dari depan televisi apabila ia sudah jatuh hati dengan acara yang
disiarkan. Selain itu, jarak pandang mereka dengan televisi juga biasanya tidak sesuai dengan
jarak pandang yang baik. Hal ini tentu saja terjadi berulang- ulang dan terus-menerus apabila si
anak telah menjadikan kegiatan menonton televisi sebagai kebiasaan.

3.2. Kebiasaan Menonton Televisi Pada Anak


3.2.1. Penyebab timbulnya kebiasaan menonton televisi
3.2.1.1 Faktor Internal
Timbulnya kebiasaan menonton televisi sebenarnya bisa saja datang dari dalam anak itu
sendiri. Menurut data angket, faktor internal penyebab timbulnya kebiasaan yang terbesar adalah
iseng dan rasa ingin tahu dari anak itu sendiri. Iseng dan rasa ingin tahu sebenarnya saling
berkaitan erat dalam penyebab timbulnya kebiasaan menonton televisi pada anak. Rasa ingin
tahu yang besar yang memang lazim terdapat pada anak-anak mendorong mereka untuk melihat
dan menyaksikan apa yang ada dalam acara-acara televisi yang di siarkan. Mereka penasaran
mengenai tokoh ataupun cerita yang ada di dalamnya. Kemudian alasan iseng sebagai
penyebab timbulnya kebiasaan juga sering digunakan. Anak-anak pada awalnya hanya ingin
mencoba hal baru yang belum pernah mereka coba sebelumnya, dalam hal ini menonton televisi.
Saat di waktu luang dimana tidak ada yang ingin mereka kerjakan, mereka iseng menyalakan
televisi, mencari saluran televisi yang menurut mereka menarik dan kemudian menyaksikannya.
Dari awal iseng tersebut kemudian berkembang menjadi kebiasaan yang tanpa disadari sudah
menjadi bagian dari kegiatan mereka sehari-hari.
3.2.2.1 Faktor Eksternal

Selain faktor yang berasal dari dalam diri anak itu sendiri, tentu saja faktor yang berasal dari
luar atau eksternal juga berpengaruh dalam pembentukan kebiasaan. Menurut data yang
bersumber dari angket, faktor eksternal yang cukup berpengaruh diantaranya adalah kebiasaan
orang tua, teman, waktu luang dan acara televisi yang ditayangkan. Dari beberapa anak
menyatakan bahwa orang tua mereka hanya menasihati untuk tidak terlalu sering menonton
televisi namun orang tua mereka tetap menjadikan menonton televisi sebagai kebiasaan.
Faktor teman juga membentuk kebiasaan tidak jauh berbeda dengan faktor sebelumnya yaitu
orang

tua.

Teman

seringkali

mempengaruhi

anak

untuk

menonton

televisi

dengan

mensugestikan acara-acara yang menurut teman tersebut tergolong acara yang menarik.
3.2.2. Pengetahuan para orang tua mengenai pengaruh negatif dari kebiasaan menonton
Banyak orang tua yang pengetahuan mengenai pengaruh negatif dari kebiasaan
menonton televisi nya dapat dikatakan cukup minim. Kebanyakan dari orang tua menganggap
bahwa pengaruh negatif dari kebiasaan menonton televisi pada anak hanya berupa kerugian
secara fisik seperti sakit mata atau penurunan semangat belajar. Jika dibandingkan dengan
pengaruh negative sesungguhnya yang ditimbulkan dari kebiasaan menonton televisi, tentu saja
hal tersebut tergolong terlalu sempit. Untuk mengatasi hal ini para orang tua baiknya banyak
membaca dari buku ataupun media lain mengenai dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari
kebiasaan menonton televisi sehingga dapat membantu mengurangi kebiasaan menonton
televisi pada anak.

3.3. Cara Mengatasi Dampak Negatif Menonton Televisi Pada Anak


3.3.1. Pengawasan tayangan televisi yang baik untuk anak
Orang tua harus dapat memilih acara yang sesuai dengan usia anak. Jangan biarkan anak
menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya. Selain itu juga orang tua sebaiknya
mendampingi anak saat menonton televisi. Tujuannya adalah agar acara televisi yang ditonton
oleh anak dapat terkontrol dan orangtua dapat memperhatikan apakah acara tersebut layak
ditonton atau tidak. Orangtua juga dapat mengajak anak membahas apa yang ada di televisi dan
membuatnya mengerti bahwa apa yang ada di televisi tidak tentu sama dengan kehidupan yang
sebenarnya.Orang tua juga harus mengetahui acara favorit anak dan bantu anak memahami
pantas tidaknya cara tersebut mereka tonton , ajak mereka menilai karakter dalam acar tersebut
secara bijaksana dan positif.
3.3.2. Pengontrolan waktu menonton televisi yang tepat

Orang tua baiknya memberi kesepakatan dengan jadwal kepada anak tentang mana acara
yang boleh ditonton atau tidak, kapan boleh menonton, waktu beribadah, waktu belajar, waktu
tidur, bahkan waktu membantu orang tua di rumah dan berikan sanksi bila melanggar. Periksalah
jadwal acara televisi, sehingga orangtua dapat mengatur acara apa yang akan ditonton bersama
anak. Dengan mencari dan melihat resensi atau ulasan mengenai film atau acara tersebut
orangtua akan tahu garis besar isi acara tersebut sehingga dapat menentukan pantas tidak
acara tersebut disaksikan. Orangtua juga harus membiasakan anak tidak menonton televisi di
hari-hari sekolah. Ini dimaksudkan untuk menghindari kurangnya waktu belajar anak karena
terlalu banyak menonton acara televisi. Di sini orangtua harus memberi contoh dengan tidak
banyak menonton televisi.
3.3.3. Pemilihan kegiatan alternatif lain yang baik untuk anak
Orang tua dapat mengajak anak untuk melekukan banyak aktivitas lain selain hanya
menonton televisi. Orangtua dapat mengajak anak keluar rumah untuk menikmati alam dan
lingkungan,

bersosialisasi secara positif dengan orang lain. Orang tua juga dapat

memperkenalkan dan mengajarkannya suatu hobi baru. Kegiatan alternatif tersebut antara lain :
3.3.3.1 Jalan-jalan. Jalan-jalan itu sebenarnya merupakan kegiatan yang bisa dilakukan dengan
mudah dan murah. Tidak perlu banyak mengeluarkan uang. Jalan-jalan ke rumah teman atau
sekadar berkeliling lingkungan rumah saja untuk menyapa tetangga. Kita juga bisa berjalan-jalan
ke taman kota dan membuat piknik atau sekadar bermain di sana. Jalan-jalan itu baik untuk
tubuh karena bisa menurunkan tekanan darah dan resiko terkena penyakit jantung. Dan yang
lebih menguntungkan, jalan-jalan juga bisa mengurangi berat badan. Jalan-jalan juga bisa
menenangkan pikiran dan melepaskan stres. Karena dengan berjalan, otak melepaskan zat
yang bisa meringankan tekanan pada otot serta mengurangi kecemasan.
3.3.3.2 Mendengarkan radio atau membaca koran. Anak sekarang sudah jarang sekali
mendengarkan radio, apalagi membaca koran. Padahal mungin mereka bisa mendapatkan
informasi yang tidak kalah banyaknya dibanding mendengarkan berita di televisi. Radio bisa
melatih anak untuk mendengarkan dengan baik dan koran bisa mengajak anak untuk menambah
wawasannya tentang dunia
3.3.3.3 Berolahraga. Kadang kata olahraga terdengar berat, tapi setelah dilakukan biasanya
menyenangkan. Selain jalan-jalan, bersepeda dan berenang, masih banyak lagi olahraga yang
bisa dilakukan bersama keluarga.
3.3.3.4 Bakti sosial. Orang tua sering lupa mengajak anak untuk memerhatikan orang- orang di
lingkungan sekitar yang tidak seberuntung mereka. Dengan mengajak anak untuk bersama-

sama membersihkan rumah dan lemari pakaian dari barang-barang yang tidak lagi digunakan
tapi masih bagus dan layak pakai untuk disumbangkan ke panti-panti asuhan di sekitar rumah
dapat meningkatkan rasa social yang tinggi pada anak

3.4. Hasil Angket


1.

Apakah anak anda suka menonton acara acara di televise ?


Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Suka

10

67%

Tidak Suka

0%

Kadang-kadang

33%

Jawaban

2.

Apakah anak anda suka menonton acara/ tayangan pendidikan di televise ?


Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Suka

33%

Tidak Suka

20%

Kadang-kadang

47%

Jawaban

3. Apakah anda suka mendampingi anak anda waktu menonton tayangan televise ?
Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Suka

20%

Tidak Suka

7%

Kadang-kadang

11

73%

Jawaban

4. Apakah anda suka memberikan nasehat kepada anak anda waktu menonton acara yang di
tayangkan di televise ?
Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Suka

27%

Tidak Suka

40%

Kadang-kadang

33%

Jawaban

5.

Apakah tayangan di televise suka di tiru oleh anak anda ?


Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Suka

10

67%

Tidak Suka

0%

Kadang-kadang

33%

Jawaban

6.

Apakah anda suka mengawasi saat anak anda menonton televisi ?


Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Suka

27%

Tidak Suka

13%

Kadang-kadang

60%

Jawaban

7. Apakah semua tayangan ditelevisi baik untuk anak - anak anda ?


Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Suka

60%

Tidak Suka

7%

Kadang-kadang

33%

Jawaban

8. Apakah anda suka melarang anak anda untuk tidak sering menonton televisi terlalu terlalu
lama ?
Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Suka

10

67%

Tidak Suka

7%

Kadang-kadang

26%

Jawaban

9. Apakah anak anda lebih suka belajar dari pada menonton televise ?
Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Suka

27%

Tidak Suka

0%

Kadang-kadang

11

73%

Jawaban

10. Apakah anak anda suka menonton televise sampai larut malam ?
Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Suka

7%

Tidak Suka

10

67%

Kadang-kadang

26%

Jawaban

11. Menurut anda ,apa sebenarnya tujuan anak anda menonton tayangan televisi ?
Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Sarana Hiburan

20%

Sebagai kreativitas

13%

Pengisi waktu luang

27%

Ketiga-tiganya

40%

Jawaban

12. Menurut anda, tayangan yang bagaimanakah yang sebaiknya ditonton oleh anak-anak ?
Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Pendidikan

12

80%

Bukan pendidikan

0%

Kedua-duanya

20%

Jawaban

13. Menurut anda, lebih banyak menonton televisi atau belajar yang dilakukan anak anda ?
Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Belajar

13%

Menonton

13%

Kedua-duanya

11

74%

Jawaban

14. Apakah dengan menonton televisi itu memberi pengaruh terhadap prestasi belajar anak anda ?
Hasil Responden
(orang)

Persentase (%)

Ya

27%

Tidak

13%

Ragu-ragu

60%

Jawaban

15. Bagaimana cara anda membimbing anak anda dalam menonton televisi ?
Jawaban

Hasil
Responden
(orang)

Persentase (%)

Memberi pengertian manfaat


TV

7%

Memberi
petunjuk
tayangan TV

7%

Membatasi waktu menonton TV

7%

Ketiga-tiganya

12

79%

tentang

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian sebagaimana telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya,
dapat ditarik beberapa kesimpulan, diantaranya :
1

Kebiasaan menonton televisi pada anak usia dini merupakan kebiasaan yang dapat

ditimbulkan oleh beberapa faktor antara lain faktor internal meliputi rasa ingin tahu dan iseng,
serta faktor eksternal meliputi orang tua, teman dan acara televisi itu sendiri.

2.

Disamping memberikan dampak positif, televisi juga dapat memberikan dampak negative

bagi pemirsannya khususnya anak-anak. Bahkan apabila dikaji lebih jauh, dampak negatifnya
jauh lebih besar dibandingan dampak positifnya.Dampak negatif tersebut antara lain ,mendorong
anak menjadi berperilakukonsumtif, mengurangi semangat belajar, merenggangkan hubungan
antara anak dengan orang tua dan menonjolkan perilaku imitatif.
3. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengawasi tayangan dan jam menonton televisi
yang baik untuk anak, memilihkan kegiatan alternatif untuk anak selain menonton televisi dan
membina hubungan komunikasi yang baik antara anak dan orang tua di rumah.
B. Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan berdasarkan uraian diatas yaitu :
1. Setiap Orangtua harus bisa mengontrol tontonan anaknya. Disamping itu orang tua juga harus
bisa menjadi kontrol bagi pihak penyiar televisiuntuk memberikan saran ataupun kritikan bahkan
menentang acara televisi yang bisa berdampak negatif bagi pemirsannya.
2. Bagi Pemerintah harus melakukan penyaringan terhadap setiap acara televisi, serta harus
adanya standarisasi film yang layang untuk ditayangkan atau tidak layak.
3. Bagi pihak yang berwajib hendaknya menggiatkan peraturan yang telah ada dalam melindungi
anak-anak dari kekeliruan dan kesalahan persepsi tentang tayangan yang tidak sesuai mereka
tonton
4. Bagi pihak penyiar televisi, seharusnya tidak hanya mementingkankeuntungan tetapi harus
mempertimbngkan dampaka dari acara tersebut.Pihak penyiar juga harus mengatur acara
televisi agar fungsi dari televisisebagai sarana informatif, edukatif, rekreatif dan sebagai sarana
mensosialisasikan nilai-nilai atau pemahaman-pemahaman baik yang lama maupun yang baru,
dapat berjalan sebagaimana fungsinya.

http://m.republika.co.id/berita/regional/jawa-barat/11/12/16/lwaarv-hanya-separuhwilayah-di-bandung-pengelolaan-limbahnya-baik
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Baru sekitar 58 persen rumah di Kota Bandung memiliki
sistem pembuangan limbah yang benar. Sisanya masih membuang limbah langsung ke
sungai.

"Baru setengah wilayah yang sudah mengelola pembuangan dengan baik, yaitu ke Bojong
Soang," tutur Kepala Dinas Kesehatan, Ahyani Raksanagara, kepada wartawan, Jumat

(16/12).

Sungai, lanjut Ahyani, merupakan sumber kehidupan. Banyak orang yang menggantungkan
hidupnya di sungai. Apabila tercemar, hal tersebut akan sangat berpengaruh pada
kesehatan

pengguna

sungai

tersebut.

Masalah pengolahan limbah ini merupakan satu dari empat hal yang menjadi permasalahan
dalam sanitasi. Pengolahan limbah yang masih buruk akan berakibat sanitasi yang buruk
pula.

Optimalisasi pengolahan limbah pun juga masih terkendala. "Kadang ada yang saluran
pengolahan limbahnya sudah bagus tapi tersumbat oleh sampah," tutur Ahyani.

Untuk masalah sampah, Kota Bandung masih mengelolanya secara konvensional. Ahyani
menyebutkan, pengelolaan sampah belum memiliki sentuhan teknologi seperti pengolahan
sampah

basah

menjadi

pupuk.

Di hulunya, sampah masih dikelola serabutan oleh masyarakat, yang merupakan sumber
sampah. Artinya, masyarakat hanya tahu dan peduli soal sampah di rumahnya. "Warga
tidak memikirkan kebersihan lingkungannya, yang penting rumahnya tidak kotor," kata
Ahyani.

Pola pikir seperti ini, lanjutnya, harus diubah. Meskipun rumah bersih dari sampah tetapi
lingkungan

sekitarnya

kotor,

maka

sumber

penyakit

tetap

tidak

hilang.

Ahyani mengungkapkan, masyarakat perlu menumbuhkan kesadaran terhadap hidup sehat


tidak hanya di rumah. Masyarakat pun sebetulnya bertanggung jawab untuk menjaga
kebersihan

lingkungan.

Air bersih juga menjadi tolak ukur sanitasi di Kota Bandung. Perusahaan daerah air minum
(PDAM) Kota Bandung baru mampu menyediakan pasokan air untuk 65 persen wilayah di
Kota Bandung. Sisanya,

ujar Ahyani, banyak

yang

mengambil dari air

tanah.

Hal tersebut, ujar Ahyani, harus kembali dilakukan perencanaan yang baik agar pasokan air
tanah tidak habis. Misalnya dengan menanam tanaman di rumah atau membuat sumur
resapan.

Sanitasi, ujarnya, tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi harus dari hulu ke hilir dan
secara berkesinambungan. "Hal ini berawal dari kesadaran masing-masing individu untuk
menjaga

kesehatan

tidak

hanya

untuk

diri

sendiri,"

tegasnya.

Senada dengan Ahyani, Wakil Wali Kota Bandung, Ayi Vivananda, mengungkapkan
masyarakat Kota Bandung harus menghilangkan sifat egois dalam diri masing-masing.
Membuang sampah di sungai, kata dia, tidak akan dirasakan dampaknya bila rumahnya
berada di hulu. "Yang merasakan adalah masyarakat yang tinggal di hilir," ujarnya.

Masyarakat harus membangun perilaku yang sehat untuk menciptakan lingkungan yang
sehat. Kalau sudah seperti itu, kata dia, perbaikan dan dan pengelolaan sanitasi pun akan
lebih mudah.