Anda di halaman 1dari 14

CONTOH KASUS POSISI SERTA LEGAL QUESTION

DAN LEGAL AUDIT

Ditujukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penalaran


Hukum

Disusun Oleh:
Raden Zulfikar Soepinarko Putra
2011 200 206

UNIVERSITAS KATOLIK
PARAHYANGAN
Jl. Ciumbuleuit 94, Bandung 40141

Kasus Posisi I (Wanprestasi)


PT. MEET MEAT adalah sebuah perusahaan penyedia daging mentah
yang berkedudukan hukum di Jalan Ir. Juanda No 77, Bandung. Pada
16 Oktober 2014, PT. MEET MEAT melakukan perjanjian kontrak jualbeli dengan sebuah restoran yang bernama KARNIVOR yang
berkedudukan hukum di Jalan Riau No 45, Bandung. Klausula dalam
kontrak menyebutkan bahwa pihak KARNIVOR tidak boleh menutup
kontrak jual-beli daging dengan penyuplai daging lainnya selain dari
pihak PT. MEET MEAT sehingga satu-satunya penyuplai daging
mentah untuk restoran KARNIVOR hanyalah PT. MEET MEAT saja.
Dalam kontrak tersebut ada juga klausula dimana PT. MEET MEAT
harus mengirimkan 250kg daging sapi mentah kepada pihak
restoran setiap tanggal 10 di tiap bulannya dengan rincian sebagai
berikut:

100kg bagian Iga Sapi


100kg bagian Paha Sapi
50kg bagian Dada Sapi

Pada 10 Januari 2015, pihak PT. MEET MEAT belum mengirimkan


daging sapi sehingga pihak KARNIVOR kekurangan stok daging sapi
mentah. Hingga pada tanggal 17 Januari 2015, pihak KARNIVOR
harus menutup restorannya sementara, dikarenakan kehabisan stok
daging sapi metah. Akibat dari penutupan restoran sementara
tersebut, pihak restoran mengalami kerugian hingga puluhan juta
dalam 1 harinya. Hingga akhirnya pada tanggal 20 Januari 2014, PT.
MEET MEAT baru mengirimkan stok daging mentah tersebut.
Menurut

PT.

MEET

MEAT,

keterlambatan

pengiriman

terjadi

dikarenakan adanya keterlambatan pengiriman juga yang dilakukan


pihak eksportir dari Australia.
Legal Question:
1. Apakah perbuatan yang dilakukan oleh PT. MEET MEAT dapat
dianggap sebagai perbuatan wanprestasi?

Legal Audit:
Pasal 1238 KUHPerdata berbunyi, Debitur dinyatakan lalai
dengan

surat

perintah,

atau

dengan

akta

sejenis

itu,

atau

berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri, yaitu bila perikatan ini


mengakibatkan debitur harus dianggap lalai dengan lewatnya
waktu yang ditentukan.
Adapun bentuk-bentuk dari wanprestasi antara lain:

Tidak melaksanakan prestasi sama sekali;


Melaksanakan tetapi tidak tepat waktu (terlambat);
Melaksanakan tetapi tidak seperti yang diperjanjikan; dan
Debitur melaksanakan yang menurut perjanjian tidak boleh
dilakukan.

Maka dalam kasus posisi diatas, seperti yang termaktub dalam


pasal 1238 KUHPerdata, perbuatan terlambat mengirimkan stok
daging yang dilakukan oleh PT. MEET MEAT terhadap KARNIVOR
merupakan tergolong dalam unsur wanprestasi. Hal tersebut juga
memenuhi salah satu dari keempat unsur wanprestasi tersebut
yaitu melaksanakan tetapi tidak tepat waktu.
Legal Question:
2. Sanksi apa saja yang dapat di kenakan terhadap PT. MEET
MEAT?
Legal Audit:
Sanksi yang dapat dikenakan kepada PT. MEET MEAT atas perbuatan
wanprestasinya, menurut Pasal 1243 KUHPerdata, Penggantian
biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan
mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan lalai,
tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang
harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau
dilakukannya dalam waktu yang melampaui tenggang waktu yang
telah ditentukan. Sehingga atas keterlambatan pengiriman stok
daging tersebut dapat membuat PT. MEET MEAT dikenakan sanksi

berupa penggantirugian, ganti rugi tersebut dapat berupa biaya,


rugi atau bunga.
Legal Question:
3. Apakah perjanjian jual-beli yang dilakukan oleh pihak PT. MEET
MEAT dengan pihak KARNIVOR adalah merupakan perjanjian
yang sah?
Legal Audit:
Menurut KUHPerdata Indonesia, syarat sahnya perjanjian haruslah
terpenuhinya

hal

yang

tercantum

dalam

Pasal

1320

KUHPerdata. Adapun 4 hal tersebut antara lain:

Kesepakatan para pihak (KUHPerd. 28, 1312 dst);


Kecakapan para pihak (KUHPerd. 1329 dst);
Adanya suatu hal tertentu (KUHPerd. 1332 dst);
Causa atau sebab yang halal (KUHPerd. 1335 dst).

Menimbang bahwa semua unsur yang terkandung dalam 1320


KUHPerdata tersebut telah terpenuhi dalam perjanjian antara PT.
MEET MEAT dengan pihak KARNIVOR, maka dapat dikatakan bahwa
perjanjian tersebut merupakan suatu perjanjian yang sah menurut
hukum.
Kasus Posisi II (Perbuatan Melawan Hukum)
Menurut kesaksian dari Nicko Pratama (21 tahun), pada 2 Juni 2014
terjadi kecelakaan di jalan Setiabudi Bandung. Peristiwa tersebut
terjadi pada pukul 01:24 WIB tepatnya. Menurut Nicko Pratama
sebagai saksi mata, ada sebuah mobil Honda Jazz Hitam bernomor
polisi B 1873 GM yang sedang melaju dari arah Setiabudi menuju ke
arah Cihampelas dengan kecepatan normal sekitar 40 Km/Jam.
Mobil Honda Jazz Hitam tersebut dikemudikan oleh Wira Ditya (21
Tahun) yang bertempat kediaman di Jalan Ciumbuleuit Nomer 118,
Bandung.
Pada lampu merah perempatan Jalan Setiabudi-Gegerkalong, Wira

Ditya dari jarak sekitar 10 meter sudah menurunkan kecepatannya


dan menghentikan kendaraannya dikarenakan lampu merah sudah
menyala. Ketika Wira Ditya sedang berhenti di lampu merah
perempatan Setiabudi-Gegerkalong, tiba-tiba terlihat dari arah yang
sama (Setiabudi menuju Cihampelas) ada mobil Mazda Merah
bernomor polisi B 2345 AA melaju cukup kencang dengan estimasi
kecepatan sekitar 60 Km/Jam. Mobil Mazda berwarna Merah tersebut
di kemudikan oleh Adellia Anggita (21 Tahun) berkediaman di Jalan
Rancabentang Nomer 5A, Ciumbuleuit, Bandung. Adellia Anggita
terlihat tidak dapat mengendalikan kendaraannya dengan baik
sehingga ia baru menurunkan kecepatannya dari jarak sekitar 7
meter dari mobil Wira Ditya. Akibatnya, Adellia Anggita tidak dapat
menghentikan

mobilnya

dengan

baik

dan

menabrak

bagian

belakang mobil Wira Ditya.


Bagian belakang mobil Wira Ditya mengalami kerusakan cukup
parah, tetapi Wira Ditya hanya mengalami luka ringan. Mobil Jazz
Hitam milik Wira Ditya mengalami kerusakan di bagian bemper
bagian belakang mobil yang hancur, kaca bagian belakang pecah,
lampu rem dan lampu sign bagian belakang juga pecah. Menurut
perkiraan, total kerugian materiil yang di alami oleh Wira Ditya
adalah sekitar 10 juta rupiah. Setelah dilakukan pemeriksaan,
ternyata Adellia Anggita sedang dalam pengaruh alcohol saat itu.
Sehingga ia tidak bisa mengendalikan kendaraannya dengan baik.
Legal Question:
1. Apakah

perbuatan

yang dilakukan

oleh

Adellia

Anggita

tersebut dapat di golongkan kepada perbuatan melawan


hukum?
Legal Audit:
Unsur-unsur yang termasuk dalam Perbuatan Melawan Hukum
(PMH) yang diatur dalam pasal 1365 KUHPerdata antara lain:

Adanya suatu perbuatan;

Perbuatan tersebut melawan hukum;


Adanya kesalahan dari pihak pelaku;
Adanya kerugian bagi korban;
Adanya hubungan kausal antara perbuatan perbuatan
dengan kerugian.

Perbuatan yang dilakukan oleh Adellia Anggita dalam kasus tersebut


terbukti mengandung beberapa unsur PMH yang dijabarkan di atas.
antara lain: Adanya perbuatan yaitu perbuatan menabrak dari
belakang mobil milik Wira Ditya, perbuatan tersebut pun melawan
hukum, perbuatan tersebut murni merupakan kesalahan dari Adellia
Anggita sebagai pelaku, Wira Ditya sebagai korban mendapatkan
kerugian atas perbuatan tersebut, dan adanya kausalitas antara
perbuatan tertabraknya mobil Wira Ditya oleh Adellia Anggita
dengan kerugian yang di alami Wira Ditya.
Maka dapat disimpulkan bahwa perbuatan Adellia Anggita termasuk
dalam Perbuatan Melawan Hukum seperti yang tercantum dalam
1365 KUHPerdata.
Legal Question:
2. Sanksi apa saja yang dapat diberikan kepada Adellia Anggita?
Legal Audit:
Seperti yang termaktub dalam pasal 1365 KUHPerdata, sanksi
yang berlaku adalah .mewajibkan orang yang menimbulkan
kerugian itu karena kesalahannya untuk mengganti kerugian
tersebut.
Legal Question:
3. Apakah ada unsur kesalahan yang dilakukan oleh Adellia
Anggita?
Legal Audit:
Seperti yang sudah dijelasakan sebelumnya, jelas adanya unsur
kesalahan yang dilakukan oleh Adellia Anggita yaitu mengendarai

kendaraan dengan keadaan dibawah pengaruh alcohol sehingga


tidak dapat

mengendalikan mobil miliknya yang kemudian

berakibat terjadinya tabrakan dengan mobil milik Wira Ditya.


Legal Question:
4. Apakah perbuatan menabrak mobil Wira Ditya yang dilakukan
oleh Adellia Anggita dapat dikategorikan ke dalam culpa
dalam hukum Pidana?
Legal Audit:
Dalam ilmu pengetahuan hukum, Culpa mempunyai arti teknis,
yaitu suatu macam kesalahan si pelaku tindak pidana yang tidak
seberat seperti kesengajaan, yaitu kurang berhati-hati sehingga
akibat

yang

tidak

disengaja

perbuatan Adellia Anggita yakni

terjadi.

Dalam

kasus

tersebut,

ia lalai atau tidak berhati-hati

dalam mengendarai mobilnya dikarenakan

dibawah

pengaruh

alcohol sehingga menabrak mobil milik Wira Ditya.

Kasus Posisi I (Pasal 3 UU Tipikor)


Dalam rangka menjalankan salah satu gerakan menuju Bandung
Juara yang di canangkan oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil,
pada 7 Januari 2014 Pemerintah Daerah Kota Bandung melakukan
pembelian Bus Tingkat sebanyak 7 unit kepada perusahaan swasta
produsen Bus Tingkat. Perusahaan tersebut ialah PT. Busline
Angkasa Putra. Pembelian Bus Tingkat ini dilakukan melalui Dinas
Perhubungan. Yang menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan
Kota Bandung saat itu adalah Bujana Kuswandi (48). Sehingga
semua transaksi mengenai pembelian bus tersebut ialah melalui
keputusan dari Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung. Anggaran
guna pengadaan pembelian Bus Tingkat ini adalah sebanyak Rp 6,5
Miliar. Anggaran tersebut telah tercantum juga dalam APBD Kota
Bandung tahun 2014-2015. Kepala Dinas Perhubungan juga lah

yang menentukan PT. Busline Angkasa Putra sebagai kontraktor


untuk proyek pengadaan Bus Tingkat ini.
Pada 2 Februari 2014, atas perintah dari Walikota Bandung, Ridwan
Kamil, proyek pengadaan Bus Tingkat ini diusut perhitungannya
secara terpetinci. Sampai didapatkan pada angka Rp 5 Miliar untuk
7 unit Bus Tingkat. Sehingga hal tersebut berakibat kerugian
terhadap keuangan negara sebesar Rp 1,5 Miliar rupiah. Pada 5
Februari 2014 dilakukan juga pengusutan melalui rekening bank
pribadi Bujana Kuswandi di Bank BJB. Dimana terdapat transaksi
besar dan secara bertahap dari

Rekening atas nama Kreshna

Bagyautama yang merupakan orang perwakilan dari PT. Busline


Angkasa Putra. Nilai dari transaksi secara berkesinambungan
tersebut hingga mencapai Rp. 500 Juta yang berlangsung dari bulan
November hingga bulan Desember 2013 dimana tanggal tersebut
adalah beberapa bulan sebelum ditentukannya pemenang tender
guna proyek pengadaan bus tingkat.
Legal Question:
1. Apakah perbuatan dari Bujana Kuswandi dapat di golongkan
kepada unsur-unsur yang terdapat pada pasal 3 UU Nomor 31
tahun 1999?
Legal Audit:
Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam Pasal 3 UU Nomor 31
Tahun 1999, antara lain:

Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri

atau orang lain atau suatu korporasi;


Dengan cara menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau

sarana;
Yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan;
Yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian
negara.

Dari unsur di atas, bila di kaitkan dengan fakta-fakta yang di dapat


dari kasus posisi yang ada, maka dapat di simpulkan bahwa
perbuatan dari Bujana Kuswandi dapat di golongkan kepada unsurunsur yang terdapat pada pasal 3 UU Nomor 31 tahun 1999, berikut
penjelasannya:

Pada saat terjadinya kasus tersebut, Bujana Kuswandi menerima


sejumlah uang dari Kreshna Bagyautama sehingga hal tersebut

menguntungkan dirinya sendiri;


Atas kewenangan yang dimiliki atas jabatannya tersebut, ia pun
memilih PT. Busline Angkasa Putra sebagai pemenang tender

proyek pengadaan bus tingkat Kota Bandung;


Saat itu, ia sedang menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan

Kota Bandung;
Atas perbuatannya

tersebut,

negara

mengalami

kerugian

sebesar Rp 1,5 Miliar.


Legal Question:
2. Sanksi apa saja yang dapat di kenakan terhadap Bujana
Kuswandi?
Legal Audit:
Sanksi

yang

dapat

di

kenakan

terhadap

Bujana

Kuswandi

berdasarkan bunyinya Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999


Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, antara lain:
dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana
penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua
puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00
(lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00
(satu milyar rupiah).
Legal Question:
3. Apakah perbuatan yang dilakukan Krehsna Bagyautama dapat
di kenakan dengan pasal tentang Penyuapan?

Legal Audit:
Perbuatan mengenai penyuapan, di atur dalam Pasal 2 UU Nomor
11 Tahun 1980

Tentang Tindak Pidana Suap. Adapun unsur-

unsur dari perbuatan yang diatur dalam pasal tersebut antara lain:

Barangsiapa

seseorang;
dengan maksud untuk membujuk supaya orang itu berbuat

sesuatu atau tidak berbuat sesuatu;


dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau

memberi

atau

menjanjikan

sesuatu

kepada

kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum.


Kreshna

Bagyautama

dalam

kasus

tersebut

terbukti

telah

memberikan sejumlah uang kepada Bujana Kuswandi dengan


maksud agar Bujana Kuswandi memenangkan tender proyek
pengadaan bus tingkat. Sehingga dapat di simpulkan bahwa
perbuatan

Kreshna

Bagyautama

tersebut

dapat

di

kenakan

mengenai pasal penyuapan karena telah memenuhi unsur-unsur


pasal penyuapan.
Legal Question:
4. Sanksi apa saja yang dapat di kenakan terhadap Kreshna
Bagyautama?
Legal Audit:
Di

karenakan

perbuatan

Kreshna

Bagyautama

tersebut

di

kategorikan dalam perbuatan penyuapan, maka menurut Pasal 2


UU Nomor 11 Tahun 1980

Tentang Tindak Pidana Suap,

Kreshna Bagyautama dapat dipidana karena memberi suap dengan


pidana

penjara

selama-lamanya

(lima)

tahun

dan

sebanyak-banyaknya Rp.15.000.000,- (lima belasjuta rupiah).


Kasus Posisi II (Pasal 11 UU Tipikor)

denda

Andika Budirekso (51 tahun), Gubernur Jawa Barat periode 19952000 bertempat tinggal di Jalan Dago Pakar Blok A No 7 Bandung.
Pada tanggal 25 Mei 1997, Andika Budirekso memberikan izin
kepada PT. Agra Jaya yang berkedudukan hukum di Jalan Gandapura
nomer 37, Bandung. Izin yang diberikan oleh Andika Budireksko
tersebut mencakup Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Surat Izin
Usaha Perdagangan (SIUP), serta izin-izin lingkungan terhadap PT.
Agra Jaya. Bangunan yang akan didirikan oleh PT. Agra Jaya adalah
berupa rumah makan keluarga berkonsep alam terbuka. Rumah
makan tersebut terletak tepat di dalam Taman Hutan Raya Ir.
Djuanda dimana lokasi tersebut adalah termasuk kedalam Taman
Hutan Kota dan juga Daerah Resapan Air untuk Kota Bandung.
Pada 28 Juli 1997, LSM dan WALHI menemukan fakta atas izin yang
diberikan Andika Budirekso kepada PT. Agra Jaya, bahwa izin
tersebut tidak melalui Dinas Kehutanan Kota Bandung. Selain itu
setelah diusut lebih lanjut, ternyata rekening Bank BJB, atas nama
Tuan Andika Budirekso telah menerima sejumlah uang dengan
nominal Rp 300.000.000,00 (terbilang; tiga ratus juta rupiah) dari
nomer rekening Bank Mandiri atas nama PT. Agra Jaya. Transaksi
mencurigakan tersebut terjadi pada tanggal 27 April 1997 dari PT.
Agra Jaya kepada Andika Budirekso guna memperlancar izin yang
akan dikeluarkan.
Pada 7 Agustus 1997, masyarakat Bandung berserta LSM dan
Wahana lingkungan Hidup Jawa Barat (WALHI-JABAR) melakukan
pembuatan

petisi

pembangunan

secara

yang

telah

analog

dan

digital

direncanakan

oleh

untuk
PT.

menolak

Agra

Jaya

sebelumnya. Tetapi berselang 1 minggu setelah petisi dikumpulkan,


pembangunan rumah makan masih tetap dilakukan. PT. Agra Jaya
bahkan sudah mulai menebangi pohon besar dan juga membabat
habis tanaman-tanaman di daerah yang hendak didirikan bangunan
tersebut. Setelah itu, PT. Agra Jaya juga mulai menancapkan tiangtiang fondasi untuk bangunan. Hingga pada 17 Agustus 1997,

masyarakat

Kota

Bandung

berserta

LSM

dan

WALHI

JABAR

melakukan long march secara masiv, sebagai bentuk penolakan


atas pembangunan rumah makan di daerah Taman Hutan Kota Ir.
Djuanda.
Legal Question:
1. Apakah perbuatan yang dilakukan oleh Andika Budirekso
dapat di golongkan sebagai perbuatan yang tercantum dalam
Pasal 11 UU No 31 Tahun 1999 jo. Pasal 418 Kitab UndangUndang Hukum Pidana?
Legal Audit:
Unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun
1999 jo. Pasal 418 KUHP, antara lain:

Seorang pejabat yang menerima hadiah atau janji;


padahal diketahui atau sepatutnya harus diduganya bahwa
hadiah

atau

janji

itu

diberikan

karena

kekuasaan

atau

kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya;


atau yang menurut pikiran orang yang memberi hadiah atau
janji itu ada hubungan dengan jabatannya.

Apabila unsur-unsur diatas dikaitkan dengan fakta-fakta yang ada


dalam kasus posisi, maka perbuatan yang dilakukan oleh Andika
Budirekso dapat di golongkan sebagai perbuatan yang tercantum
dalam Pasal 418 KUHPidana tersebut, dikarenakan Andika Budirekso
merupakan seorang pejabat (Gubernur Jawa Barat periode 19952000) yang kemudian menerima hadiah (menerima sejumlah uang
dengan nominal tiga ratus juta rupiah dari nomer rekening Bank
Mandiri atas nama PT. Agra Jaya), dan sepatutnya harus diduga
bahwa hadiah tersebut diberikan berhubungan dengan izin guna
pembangunan proyek yang di ajukan oleh PT. Agra Jaya.
Legal Question:
2. Sanksi apa yang dapat dijatuhkan terhadap Andika Budirekso?

Legal Audit:
Menurut

Pasal

11

UU

Nomor

31

Tahun

1999

Tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, maka sanksi yang


dapat dikenakan terhadap orang yang melakukan perbuatan yang
tercantum dalam pasal tersebut adalah pidana penjara paling
singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau
denda paling sedikit Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan
paling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta
rupiah).
Legal Question:
3. Pasal apakah yang paling tepat untuk dikenakan terhadap
pihak PT. Agra Jaya dalam kasus ini?
Legal Audit:
Menurut kasus posisi yang ada, maka perbuatan dari PT. Agra Jaya
merupakan perbuatan yang dapat dikategorikan dengan perbuatan
yang termaktub dalam Pasal 3 UU Nomor 11 Tahun 1980
Tentang Tindak Pidana Suap. Adapun bunyi dari pasal tersebut
adalah:
Barangsiapa
mengetahui

menerima
atau

patut

sesuatu

atau

janji,

dapat menduga

sedangkan

bahwa

ia

pemberian

sesuatu atau janji itu dimaksudkan supaya ia berbuat sesuatu


atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan
dengan

kewenangan

atau

kewajibannya

yang

menyangkut

kepentingan umum, dipidana karena menerima suap dengan


pidana penjara selama-lamanya 3 (tiga) tahun atau denda
sebanyak-banyaknya Rp.15.000.000.- (lima belas juta rupiah).
Hal tersebut dikarenakan ada relevansinya antara unsur dalam
pasal di atas dengan fakta yang ada seperti terjadinya transaksi
yang mencurigakan seperti pengiriman uang dengan nominal
sebesar 300 juta rupiah dari PT. Agra Jaya kepada Andika Budirekso

dimana

pada

saat

itu

PT.

Agra

Jaya

sedang

permohonan izin guna pembangunan proyeknya.

mengajukan