Anda di halaman 1dari 5

Filsafat Ilmu dalam Perspektif Studi Islam

Oleh: Maman Suratman

Berbicara mengenai filsafat, yang perlu diketahui terlebih dahulu bahwa filsafat
adalah induk dari segala disiplin ilmu pengetahuan yang kini berkembang sebagai bahan
acuan/ajar, terutama di kalangan mahasiswa serta pelajar-pelajar meski banyak pendangan
kontradiktif mengenai hal itu. Dikatakan sebagai induk ilmu pengetahuan, karena salah satu
sumber ilmu pengetahuan pada masa pra-disiplin ilmu, pemikiran secara filsafati menjadi
acuan berpikir para pemikir visioner, yang saat ini disebut sebagai filosof atau filsuf, seperti
Plato, Socrates, Aristoteles, Phytagoras, dan lain sebagainya yang memiliki pemikiran yang
tentunya berbeda-beda.
Berpikir secara filsafati atau filosofis tak lepas dengan cara berpikir yang kini
berkembang di sebagian kalangan mahasiswa, yakni kritis, analis, sertamenuntut pemikiran
yang visioner. M. Dimyathi juga menuturkan bahwa kegiatan penalaran secara filosofis dapat
dikategorikan sebagai kegiatan analisis, pemahaman, diskripsi, penilaian, penafsiran, dan
perekaan.1
Phytagoras2 dengan pemikirannya yang sangat termasyur tentang bilangan matematik,
sebagai seorang ahli matematika abadi, yang telah membuahkan dalil-dalil yang abadi pula,
seperti jumlah dari luas dua sisi sebuah segitiga siku-siku adalah sama dengan luas sisi
miringnya (a2 + b2 = c2), tak lepas dengan pemikiran filsafati yang selama hidupnya diamini
sebagai pemikiran yang universal untuk berbagai macam fenomena serta rahasia alam ini.
Olehnya itu, menjadi sebuah keharusan dalam memposisikan filsafat sebagai disiplin
ilmu tersendiri yang harus dan tetap harus eksis dalam kehidupan pemikiran setiap manusia
tanpa terkecuali. Akan tetapi, perlu diketahui juga bahwa filsafat tidak akan pernah menjawab
segala persoalan dari fenomena-fenomena serta rahasia-rahasia di balik alam yang fana ini
(ketuhanan, kemanusiaan, dan alam). Orang yang menggeluti filsafat atau bisa dikatakan
berpikir secara filsafati terhadap segala hal, hanya akan mengetahui seperti apa jalan yang
harus ditempuh, cara melangkahkan kaki, dalam menjawab segala persoalan dari fenomenafenomena tersebut.
Sebagai induk ilmu, berarti segala disiplin ilmu yang kini mandiri serta berkembang,
masih sangat erat kaitannya dengan filsafat, bahkan tidak akan pernah putus dari apa yang
dinamakan filsafat. Seperti yang telah dipahami bahwa disiplin ilmu apapun, yang kini
mandiri serta berkembang, pasti mempunyai asal-usul tersendiri dalam eksistensinya. Tak ada
disiplin ilmu yang berdiri hingga perkembangannya begitu saja tanpa ada yang melatarbelakangi.3 Olehnya, setiap disiplin ilmu pasti memiliki filosofi tersendiri (asal-usul
eksistensinya).
Dengan menilik tema penulisan ini, yang menjadi pertanyaan kemudian ialah
mengapa filsafat ilmu kemudian harus ditarik ke ranah perspektif studi Islam? Ini yang
kemudian akan menjadi salah satu inti pembahasan dalam makalah ini. Karena pada

Tugas Akhir Semester Mata Kuliah Epistemologi yang diampuh oleh Drs. Muzairi; dikumpulkan pada
saat Ujian Akhir Semester.

Mahasiswa Angkatan 2011; Jurusan Aqidah dan Filsafat Fak.Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran
Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; NIM: 11510008
1
M. Dimyati. 2001. Dilema Pendidikan Ilmu Pengetahuan. Malang : IPTI. Hal. 1
2
Pemikirannya tentang bilangan diutarakan dalam Filsafat Umum (Muzairi : 2009) hal. 48
3
Hukum ini biasa dikatakan sebagai hukum kausalitas (sebab-akibat). Adanya suatu akibat, karena
ada yang menyebabkan atau sebab yang menyebabkan akibat itu terjadi.

dasarnya, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Prof. Dr. Einstein, Filsafat tanpa
agama4 = lumpuh, sedangkan agama tanpa filsafat = pincang.5
Jadi, untuk memahami pembahasan mengenai filsafat ilmu dalam perspektif studi
Islam, dapat didekati dari permasalahan pokok tentang apa itu filsafat, filsafat ilmu, serta
studi Islam itu sendiri. Telah diketahui bahwa filsafat merupakan disiplin dan sistem
pemikiran tentang enam jenis persoalan yang saling berhubungan satu sama lain, yakni
berhubungan dengan yang ada, pengetahuan, metode, penyimpulan, moralitas dan
keindahan, yang di dalam studi filsafat dikenal dengan metafisika, epistemologi, metodologi,
logika, etika dan estetika.6 Secara keseluruhan, filsafat mempelajari keenam jenis persoalan
tersebut berdasarkan kegiatan penalaran reflektif dan hasil refleksinya terwujud dalam
pengetahuan filsafati.
Perlu diketahui pula bahwa pengetahuan filsafati yaitu kebenarannya hanya bisa
dipertanggungjawabkan secara logis. Metodenya disebut metode rasional yang mengandalkan
pemikiran akal. Cara kerja metode ini ialah dengan cara mencari kebenaran terhadap sesuatu
dengan cara memikirkannya secara logis. Olehnya itu, dapat dikatakan bahwa filsafat adalah
sejenis pengetahuan manusia yang logis saja, tentang objek-objek yang abstrak. Objek
penelitiannya memanglah konkret, tetapi yang ingin diketahuinya, hanyalah bagian
abstraknya saja. Sekali lagi, suatu teori filsafat bisa dikatakan benar, jika ia dapat
dipertanggungjawabkan secara logis dan sampai kapanpun atau untuk selama-lamanya tidak
akan pernah dapat dibuktikan dalam pemahaman secara empiris.

A. Apa Itu Filsafat Ilmu?


Secara bahasa, filsafat adalah philosophy (dalam bahasa Inggrisnya). Adapun secara
istilah, berasal dari bahasa Yunani, yakni philosophia. Philosophia terdiri dari dua kata,
yakni philo (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shophia (hikmah,
kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, intelegensi). Jadi secara
etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran.
Dalam hal ini, Plato menyebut Socrates sebagai philosophos (filosof) dalam
pengertian pencinta kebijaksanaan. Kata falsafah merupakan arabisasi yang berarti
pencarian yang dilakukan oleh para filosof. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata
filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu pengetahuan dan penyelidikan
dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya. Manusia
folosofis adalah manusia yang memiliki kesadaran diri dan akal sebagaimana ia juga
memiliki jiwa yang independen (mandiri) dan bersifat spritual (agamawi).
Dengan begitu, secara historis filsafat telah menjadi induk segala ilmu pengetahuan,
sebagaimana yang telah dipaparkan di pembahasan sebelumnya, yang berkembang sejak
zaman Yunani Kuno sampai zaman modern sekarang ini.7
Filsafat mengambil peran yang sangat strategis serta penting karena di dalam filsafat,
kita bisa menemukan pandangan-pandangan tentang apa saja (kompleks) dalam hal
pemikiran serta gagasan-gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan
intelektual.
Sedangkan ilmu sendiri, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilmu diartikan
sebagai suatu ilmu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem
4
5

Islam di sini diyakini sebagai agama.


Saduran dari Prof. Dr. Einstein dalam Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Ahmad D. Marimba :

1962) V.
6

The Liang Gie. 1998. Suatu Konsepsi Kearah Penertiban Bidang Filsafat. Yogyakarta: Karya Kencana.
11 dalam http://nursalimrembang.wordpress.com/2011
7
Dijelaskan dalam Filsafat Pendidikan Islam (Arifin : 1993) BUMI AKSARA; hal. 1

menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala


tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan, ilmu
ekonomi, dan sebagainya. Dan juga bisa diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian
tentang soal duniawi, akhirat, lahir, bathin, dan sebagainya, seperti ilmu akhlak, ilmu
akhirat, ilmu sihir, dan lain sebagainya.8
Dari pengertian ilmu di atas, pengertian ilmu di atas kemudian dapat disimpulkan
sebagai suatu kumpulan pengetahuan (bahan ajar) yang disusun secara sistematis,
bersistem, menurut metode-metode tertentu.
lmu hanyalah merupakan salah satu jenis pengetahuan yang dimiliki manusia di
antara berbagai pengetahuan yang lain. Namun sejauh ini, kiranya ilmulah yang
merupakan pengetahuan yang paling dapat diandalkan berkaitan dengan fakta empiris.
Penjelasan ilmiah, tentang fenomena gerhana bulan, misalnya, yang paling dapat
memberikan kepuasan pada rasa ingin tahu manusia dibandingkan dengan penjelasan
yang lain. Selain itu, tradisi akademis yang dikembangkan di sekolah maupun perguruan
tinggi membuat setiap orang yang pernah belajar menjadi terbiasa dengan ilmu, meskipun
sejauh ini sumber pengetahuan yang paling berkembang baru sampai tahapan otoritas.
Tradisi akademis membuat orang menjadi semakin rasional, sadar ataupun tidak, orang
yang pernah menuntut ilmu tertentu hanya akan puas apabila setiap persoalan yang
dihadapi dapat diberikan eksplanasi secara ilmiah: dalam arti didukung data dan fakta
yang dapat dilakukan verifikasi secara empiris.
Dengan pengertian ilmu di atas, dari situ dapat dicermati letak perbedaan dari ilmu itu
sendiri dengan filsafat. Tapi pembahasan ini kemudian tidak menjelaskan perbedaanperbedaan itu. Meski mempunyai perbedaan-perbedaan dalam hal pengertian atau
orientasi, arah dan tujuannya tetap tak bisa terbedakan, dalam hal ini mengarah
kepencarian yang reflektif sebagaimana yang telah dibahasakan pada pembahasan
sebelumnya.
Kaitannya antara filsafat dan ilmu, dapat disimak, yakni filsafat ilmu merupakan
bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang
ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di
dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat
dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan
masalah-masalah seperti apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut
sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat
menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi, cara
menentukan validitas dari sebuah informasi, formulasi dan penggunaan metode ilmiah,
macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan, serta
implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan
itu sendiri.
Dengan begitu, filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga
disebut epistemologi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar
yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini
berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak ilmiah. Adapun yang tergolong
ilmiah ialah yang disebut ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi
pengetahuan yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa, sehingga
memenuhi asas pengeturaan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis.
Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya sehingga memenuhi kesahihan atau
validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana yang telah
dibahas sebelumnya dalam pembahasa makalah di atas.
8

Kamus Besar Bahasa Indonesia; Depdikbud 1988

B. Pendekatannya dalam Perspektif Studi Islam


Mempelajari filsafat, terkhusus dengan metode pendekatannya terhadap perspektif
studi Islam saat ini, berarti memasuki nuansa khasanah pemikiran yang bisa dikatakan
mendasar, sistematis, logis, dan menyeluruh (universal) tentang studi yang tidak hanya
dilatarbelakangi oleh ilmu pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kepada
siapa yang mempelajarinya untuk mempelajari serta memahami ilmu-ilmu lain di luar
pemahaman tersebut, tentunya yang lebih relevan pula bagi kehidupan dewasa ini.
Bahwa melakukan pemikiran secara filsafati, pada hakikatnya adalah usaha
menggerakkan segala potensi psikologis manusia, seperti pikiran, kecerdasan, kemauan,
perasaan, ingatan, serta pengamatan panca indera tentang gejala dari fenomena-fenomena
kehidupan ini, terutama tentang tauhid, manusia, alam, dan alam sekitarnya sebagai
ciptaan sebagaimana yang diyakini. Tentunya, keseluruhan dari hasil proses pemikiran
tersebut, didasari dengan teori-teori dari berbagai disiplin ilmu dan dengan pengalamanpengalaman yang mendalam serta luas tentang masalah kehidupan dan kenyataan dalam
alam raya ini.
C. Hubungan: Filsafat Ilmu dan Studi Islam
Mengenai hubungan di antara keduanya (filsafat ilmu dan studi Islam), terdapat satu
keterkaitan yang tak terpisahkan. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas dengan
mengutarakan pendapat dari Prof. Dr. Einstein, di situ bisa kita lihat bahwa hubungan di
antaranya sangat erat kaitannya.
Mengaitkan studi Islam dengan kategori keilmuan, dalam hal ini filsafat ilmu,
umumnya berhadapan dengan pengertian Islam sebagai sesuatu yang final. Dalam
kategori ini, Islam dilihat sebagai kekuatan iman dan taqwa, sesuatu yang sudah final.
Sedangkan kategori keilmuannya, memiliki ciri khas berupa perubahan, perkembangan
dan tidak mengenal kebenaran absolut. Semua kebenarannya adalah relatif.
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa iman dan ilmu pengetahuan dalam Islam
merupakan dua asas hidup manusia muslim yang saling pengaruh-mempengaruhi dalam
pribadinya, sehingga ia terangkat dari keterbelakangan dan kebodohan menjadi pribadi
yang bermartabat tinggi di mata Tuhan dan sesama manusia.
Dalam kaitannya dengan esensi pendidikan Islam yang dilandasi oleh filsafat ilmu
yang benar dan yang mengarahkan proses keilmuan Islam. Sebagaimana yang diutarakan
oleh Dr. Muhammad Fadil Al-Djamaly, mengungkapkan cita-citanya bahwa pendidikan
yang harus dilaksanakan oleh umat Islam adalah pendidikan keberagamaan yang
berlandaskan keimanan yang terdiri di atas filsafat pendidikan yang bersifat menyeluruh
berlandaskan iman pula.9
Olehnya itu, setelah mencermati pemaparan di atas tentunya dengan landasan
referensi-referensi pustaka yang ada, bisa disimpulkan bahwa filsafat tidak bertentangan
dengan Islam sebagaimana banyak dari kalangan atau sekelompok orang menganggap
bahwa Islam dan filsafat atau ilmu pengetahuan sangat bertolak belakang. Tapi dengan
pembahasan ini dapat sedikit memberi pembuktian serta pencerahan bahwa hal tersebut
sangatlah keliru. Bahkan, umat Islam wajib atau sekurang-kurangnya dianjurkan
mempelajarinya. Sebab, tugas filsafat tidak lain adalah berpikir secara mendalam tentang
wujud untuk mengetahui pencipta segala yang ada.

Dr. Muhammad Fadil Al-Djamaly, Guru Besar Pendidikan di Universitas Tunisia dalam Filsafat
Pendidikan Islam (Arifin : 1993) hal. 16

DAFTAR PUSTAKA

M. Dimyati, Dilema Pendidikan Ilmu Pengetahuan, Malang: IPTI, 2001.

Muzairi, Filsafat Umum, Yogyakarta: Teras, 2009.

Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1993.

Marimba, Ahmad, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT. ALMARIF, 1962.

The Liang Gie. 1998. Suatu Konsepsi Kearah Penertiban Bidang Filsafat. Yogyakarta: Karya
Kencana. 11 dalam http://nursalimrembang.wordpress.com/2011

Kamus Besar Bahasa Indonesia, DEPDIKBUD, 1988.