Anda di halaman 1dari 12

Nama : I Putu Bandem Arista Putra

NIM : P07134013045
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hemoglobin
1. Definisi
Sel darah merah (SDM) umumnya berbentuk cakram kecil bikonkaf,
cekung pada kedua sisinya, sehingga jika dilihat dari samping tampak seperti
dua bulan sabit yang saling bertolak belakang. Dalam setiap milimeter kubik
darah terdapat 5.000.000 sel darah (Pearce, 2010).
Sel darah merah dibentuk dalam sumsum tulang, terutama dari tulang
pendek, pipih, dan tak beraturan, dari jaringan kanselus pada ujung tulang pipa,
dari sumsum dalam batang iga-iga, dan dari sternum. Perkembangan sel darah
dalam sumsum tulang melalui berbagai tahap: mula-mula besar dan berisi
nukleus, tetapi tidak ada hemoglobin; kemudian SDM tersebut terisi hemoglobin
dan akhirnya kehilangan nukleusnya, kemudian baru diedarkan ke sirkulasi
darah. Rata-rata panjang hidup SDM adalah 115 hari (Pearce, 2010).
Fungsi utama eritrosit adalah membawa O2 ke jaringan

dan

mengembalikan karbondioksida (CO2) dari jaringan ke paru. Untuk mencapai


pertukaran gas ini, eritrosit mengandung protein khusus yaitu hemoglobin. Tiap
eritrosit mengandung sekitar 640 juta molekul hemoglobin. Tiap molekul
hemogobin (Hb) A pada orang dewasa normal (hemoglobin yang dominan dalam
darah setelah usia 3-6 bulan) terdiri atas empat rantai polipetida 22 , masingmasing dengan gugus hemenya sendiri. Berat molekul HbA adalah 68.000.

Darah orang dewasa normal juga mengandung dua hemoglobin ain dalam
jumlah kecil yaitu HbF dan HbA2 (Hoffard, Pettit, dan Moss, 2005).
2. Fungsi hemoglobin
Eritrosit dalam darah arteri sistemik mengangkut O2 dari paru ke jaringan
dan kembali dalam darah vena dengan membawa CO2 ke paru. Pada saat
molekul hemoglobin mengangkut dan melepas O 2, masing-masing rantai globin
dalam molekul hemoglobin bergerak pada satu sama lain.
Hemoglobin yang berada dalam sel darah merah berfungsi mengangkut
oksigen dari organ respirasi ke seluruh bagian tubuh karena adanya molekul
hemoglobin yang mengandung senyawa porifrin besi yaitu heme. Hemoglobin
juga berfungsi mengangkut karbon dioksida dan proton dari jaringan ke organ
respirasi. Bila tiap heme mampu mengikat satu molekul oksigen, maka empat
molekul heme dalam tetramer hemoglobin mampu mengikat empat molekul
hemoglobin. Khusus untuk karbon dioksida dan proton, hemoglobin tidak
mengangkut lewat heme, tetapi langsung lewat protein globinnya sebagai
karbamat (Salam dan Abdul, 2012).
Pengikat oksigen pada hemoglobin bersifat koordinatif. Pengikatan satu
molekul oksigen pada heme pertama akan segera diikuti pengikatan molekul
oksigen kedua, selanjutnya molekul oksigen ketiga dan akhirnya molekul
oksigen keempat pada molekul heme tetramer yang tersisa. Demikian pula
pelepasan satu molekul oksigen dari molekul heme pertama akan segera diikuti
lepasnya molekul oksigen kedua, ketiga, keempat dari heme kedua, ketiga, dan
keempat (Salam dan Abdul, 2012).
Peran dan fungsi normal sel darah merah sangat bergantung pada
normalnya hemoglobin di dalamya baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Mengingat hemoglobin mengandung dua unsur penyusun yaitu heme dan globin,
maka normalnya molekul hemoglobin juga dipengaruhi oleh sintesis normal

heme dan globin yang melibatkan bahan buku dan normalnnya jalur reaksi yang
dilaluinya. Gangguan pada sintesis salah satu unsur akan berakibat terbentuknya
molekul hemoglobin yang kurang atau tidak mampu berfungsi optimal (Salam
dan Abdul, 2012).
Menurut Depkes RI pada tahun 2006 (dalam Purwanthi, 2013) guna
hemoglobin adalah sebagai berikut :
a. Mengatur pertukaran oksigen dengan karbon dioksida di dalam jaringanjaringan tubuh.
b. Mengambil oksigen dari paru-paru kemudian dibawa ke suluruh jaringanjaringan tubuh untuk dipakai sebagai bahan bakar.
c. Membawa karbon dioksida dari jaringan-jaringan tubuh sebagai hasil
metabolisme ke paru-paru untuk dibuang.
3. Kadar hemoglobin dan anemia
Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa
eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk
membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan
oxygen carrying capacity) (Bakta, 2006).

Walaupun nilai normal dapat

bervariasi antar laboratorium, kadar hemoglobin biasanya kurang dari 13,5g/dl


pada pria dewasa dan kurang dari 11,5g/dl pada wanita dewasa. Sejak usia 3
bulan sampai pubertas, kadar hemoglobin yang kurang dari 11,0g/dl
menunjukkan anemia. Tingginya kadar hemoglobin pada bayi baru lahir
menyebabkan ditentukannya 15,0g/dl sebagai batas bawah pada waktu lahir
(Hoffard, Pettit, dan Moss, 2005).
Secara praktis anemia ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin,
hematokrit atau hitung eritrosit (red cell count). Harus diingat bahwa terdapat
keadaan-keadaan tertentu dimana ketiga parameter tersebut tidak sejalan dengan
massa eritrosit, seperti pada dehidrasi, perdarahan akut, dan kehamilan (Bakta,
2006). Perubahan volume plasma sirkulasi total dan massa hemoglobin sirkulasi

total menentukan konsentrasi hemoglobin. Berkurangnya volume plasma


(seperti pada dehidrasi) dapat menutupi kondisi anemia, atau bahkan
menyebabkan (pseudo) polisitemia, sebaliknya peningkatan volume plasma
(seperti pada splenomegaly atau kehamilan) dapat menyebabkan terjadinya
anemia bahkan dengan jumlah eritrosit sirkulasi total dan massa hemoglobin
yang normal (Hoffard, Pettit, dan Moss, 2005).
Setelah kehilangan darah dalam jumlah banyak yang akut, tidak segera
terjadi anemia karena volume darah total berkurang. Memakan waktu sampai
sehari untuk menggantikan volume plasma dan sampai derajat anemia terlihat.
Regenerasi massa hemoglobin memakan waktu yang lebih lama. Dengan
demikian, gambaran klinis awal perdarahan berat terjadi akibat berkurangnya
volume darah dan bukan anemia (Hoffard, Pettit, dan Moss, 2005).
B. Pengaruh Pb terhadap Hemoglobin
1. Definisi
Timbal merupakan salah satu jenis logam berat alamiah yang tersedia
dalam bentuk bijih logam, percikan gunung berapi, dan bisa diperoleh di alam.
Peningkatan aktivitas manusia, seperti pertambangan, peleburan, penggunaan
dalam bahan bakar minyak dan pemakaian timbal untuk kebutuhan komersial
yang meluas telah menyebabkan timbal menyebar di lingkungan (Markowitz,
2010).
Timbal atau timah hitam dengan nama kimia plumbum (Pb) merupakan
logam yang mempunyai empat bentuk isotop, berwarna kebiru-biruan atau abuabu keperakan dengan titik leleh pada 327,5 C dan titik didih pada 1740 C di
atmosfer. Secara kimiawi, timbal mempunyai titik uap yang rendah dan dapat
menstabilkan senyawa lain sehingga berguna pada ratusan produk industri.
Secara klinis, timbal merupakan bahan toksik murni, tidak ada organisme yang

fungsinya bergantung pada timbal (Gao W, Li Z, Kaufmann RB, Jones RL,


Wang Z, 2001).
2. Sumber
Sumber-sumber yang menyebabkan timbal terdapat dalam udara ada
bermacam-macam. Di antara sumber alternatif ini yang tergolong besar adalah
pembakaran batu bara, asap dari pabrik-pabrik yang mengolah senyawa timbal
alkil, timbal oksida, peleburan biji timbal dan transfer bahan bakar kendaraan
bermotor, karena senyawa timbal alkil yang terdapat dalam bahan bakar tersebut
dengan sangat mudah menguap. Kadar timbal dari sumber alamiah sangat
rendah dibandingkan dengan timbal yang berasal dari pembuangan gas
kendaraan bermotor (Palar, 2004).
3. Distribusi Pb dalam tubuh
Timbal yang diabsorpsi dari saluran pernapasan, pencernaan atau kulit
akan diangkut oleh darah ke organ-organ lain. Sekitar 95% timbal dalam darah
diikat oleh sel darah merah, 5% dalam plasma darah. Sebagian timbal plasma
dalam bentuk yang dapat berdifusi, diperkirakan dalam keseimbangan dengan
pool timbal tubuh lainnya, yang dapat dibagi menjadi dua yaitu : jaringan keras
(tulang, rambut, kuku dan gigi); dan jaringan lunak (sumsum tulang, sistim saraf,
paru-paru, otak, otot jantung,limpa, ginjal, hati). Diperkirakan bahwa hanya
timbal dalam jaringan lunak saja yang toksik secara langsung, sedangkan timbal
di jaringan keras tetap terikat erat pada jaringan dan baru bersifat toksik jika
pool tersebut bertindak sebagai sumber timbal jaringan lunak (Anies, 2005).
4. Efek Pb pada sistem hematopoeietik
Pada gangguan awal dari biosintesis hem belum terlihat adanya gangguan
klinis, gangguan hanya dapat terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium. Pada
kadar timbal darah 10g/dL timbal menghambat aktivitas enzim aminolevulinat dehidratase (ALAD) dalam eritroblas sumsum tulang dan

eritrosit. Hal ini mengakibatkan peningkatan kadar -aminolevulinat (-ALA)


dalam serum dan kemih. Kelompok-kelompok ribosom dapat dilihat pada sel
berbintik basofilik sebagai basofil pungtata meskipun tidak ada anemia. Kadar
ALAD yang tinggi dapat menimbulkan aksi neurotoksik (Adnan, S. 2001).
Timbal menyebabkan 2 macam anemia, yang sering disertai dengan
eritrosit berbintik basofilik. Dalam keadaan keracunan timbal akut terjadi anemia
hemolitik, sedangkan pada keracunan timbal yang kronis terjadi anemia
makrositik hipokromik, hal ini karena menurunnya masa hidup eritrosit akibat
interfensi logam timbal dalam sintesis hemoglobin dan juga terjadi peningkatan
corproporfirin dalam urin (ATSDR, 2003).
Menurut Adnan, kadar timbal dalam darah yang dapat menyebabkan
anemia klinis adalah sebesar 70 g/dL atau 0,7 mg/L. Sedangkan menurut US
Department of Health and Human Services kadar timbal dalam darah yang dapat
menimbulkan gangguan terhadap hemoglobin adalah sebesar 50 g/dL atau
sebesar 0,5 mg/L.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penurunan kadar hemoglobin
akibat toksisitas timbal adalah sebagai berikut :
a. Faktor lingkungan
1) Dosis dan lama pemaparan
Dosis (konsentrasi) yang besar dan pemaparan yang lama dapat menimbulkan
efek yang berat dan bisa berbahaya.
2) Kelangsungan pemaparan
Berat ringan efek timbal tergantung pada proses

pemaparan timbal yaitu

pemaparan secara terus menerus (kontinyu) atau terputus-putus (intermitten).


Pemaparan terus menerus akan memberikan efek yang lebih berat dibandingkan
pemaparan secara terputus-putus.
3) Jalur pemaparan (cara kontak)
Timbal akan memberikan efek yang berbahaya terhadap kesehatan bila masuk
melalui jalur yang tepat. Orang-orang dengan sumbatan hidung mungkin juga

berisiko lebih tinggi, karena pernapasan lewat mulut mempermudah inhalasi


partikel debu yang lebih besar (Joko S, 1995).
b. Faktor manusia, meliputi :
1) Umur
Usia muda pada umumnya lebih peka terhadap aktivitas timbal, hal ini
berhubungan dengan perkembangan organ dan fungsinya yang belum sempurna.
Sedangkan pada usia tua kepekaannya lebih tinggi dari rata-rata orang dewasa,
biasanya karena aktivitas enzim biotransformase berkurang dengan bertambahnya
umur dan daya tahan organ tertentu berkurang terhadap efek timbal. Semakin tua
umur seseorang, akan semakin tinggi pula konsentrasi timbal yang terakumulasi
pada jaringan tubuh.
2) Status kesehatan, status gizi dan tingkat kekebalan (imunologi)
Keadaan sakit atau disfungsi dapat mempertinggi tingkat toksisitas timbal atau
dapat mempermudah terjadinya kerusakan organ. Malnutrisi, hemoglobinopati
dan enzimopati seperti anemia dan defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase juga
meningkatkan

kerentanan

terhadap

paparan

timbal.

Kurang

gizi

akan

meningkatkan kadar timbal yang bebas dalam darah. Diet rendah kalsium
menyebabkan peningkatan kadar timbal dalam jaringan lunak dan efek racun pada
sistim hematopoeitik. Diet rendah kalsium dan fosfor juga akan meningkatkan
absorpsi timbal di usus. Defisiensi besi, diet rendah protein dan diet tinggi lemak
akan meningkatkan absorpsi timbal, sedangkan pemberian zinc dan vitamin C
secara terus menerus akan menurunkan kadar timbal dalam darah, walaupun
pajanan timbal terus berlangsung.
3) Jenis kelamin
Efek toksik pada laki-laki dan perempuan mempunyai pengaruh yang berbeda.
Wanita lebih rentan daripada pria. Hal ini disebabkan oleh perbedaan faktor
ukuran tubuh (fisiologi), keseimbangan hormonal dan perbedaan metabolisme.
4) Jenis jaringan

Kadar timbal dalam jaringan otak tidak sama dengan kadar timbal dalam jaringan
paru ataupun dalam jaringan lain (Joko S, 1995).
C. Cara Mengukur Hemoglobin
1. Cara fotoelektrik (Cyanmethemoglobin)
Metode
Cyanmethemoglobin
didasarkan

pada

pembentukan

Cyanmethemoglobin yang intesitas warnanya diukur secara fotometri. Reagen


yang digunakan adalah larutan Drabkin yang mengandung Kalium ferisianida
(K3Fe[CN]6) dan kalium sianida (KCN). Ferisianida mengubah besi pada
hemoglobin dari bentuk ferro ke bentuk ferri menjadi methemoglobin yang
kemudian bereaksi dengan KCN membentuk pigmen yang stabil yaitu
Cyanmethemoglobin. Intensitas warna yang terbentuk diukur secara fotometri
pada panjang gelombang 540 nm (Riswanto, 2009).
Metode ini sangat bagus dilakukan untuk laboratorium rutin dan
dianjurkan untuk penetapan kadar hemoglobin dengan teliti. Hal ini dikarenakan
standard Cyanmethemoglobin yang ditanggung kadarnya bersifat stabil dan dapat
dibeli. Kesalah cara ini dapat mencapai 2 % (Gandasoebrata, 2010).
2. Cara Sahli
Penetapan Hb metode Sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam
setelah darah ditambah dengan larutan hidrogen klorida (HCl) 0,1 N kemudian
diencerkan dengan aquadest. Pengukuran secara visual dengan mencocokkan
warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar. Metode ini memiliki
keselahan sebesar 10-15%. Sehingga tidak dapat untuk menghitung indeks
eritrosit (Riswanto, 2009).
3. Metode oksihemoglobin
Penetapan kadar Hb metode oksihemoglobin didasarkan atas pembentukan
oksihemglobin setelah sampel darah ditambah larutan Natrium karbonat (Na2CO3)
0,1% atau Ammonium hidroksida (NH4OH). Kadar Hb ditentukan dengan
mengukur intensitas warna yang terbentuk secara spektrofotometri pada panjang

gelombang 540 nm. Metode ini tidak dipengaruhi oleh kadar bilirubin tetapi
standar oksihemoglobin tidak stabil (Riswanto, 2009).
4. Hemoglobinometer
Menurut Gandasoebrata dalam Mahayanti (2013), hemoglobinometer
adalah suatu alat untuk mengkur konsentrasi hemoglobin dalam darah.
Hemoglobinometer ini menggunakan metode induksi enzimatik. Menyediakan
pengukuran yang mudah dan terpercaya terhadap konsentrasi hemoglobin yang
dapat digunakan khususnya di daerah yang tidak memiliki laboratorium. Hal ini
juga berguna dalam keadaan darurat karena hasil cepat diketahui. Intensitas
elektron yang terbentuk dalam alat sebanding dengan konsentrasi hemoglobin
dalam darah, hasil akan ditampilkan lewat monitor.

BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep

Konsentrasi Timbal
di Udara
APD

Lama bekerja
Tukang parkir
terpapar timbal

Timbal dalam darah

Penurunan sintesis
globin

Peningkatan kadar aminolevulinat (-ALA)


dalam serum dan kemih

Kadar hemoglobin
Anemia darah

Dosis dan lama


pemaparan, kelangsungan
pemaparan, jalur
pemaparan (cara kontak),
umur, status kesehatan,
status gizi dan tingkat
kekebalan (imunologi),
jenis kelamin, jenis
jaringan

Keterangan :
: Diteliti
: Tidak diteliti

Gambar 1
Kerangka Konsep
Kadar hemoglobin dalam darah manusia menyesuaikan dengan konsidisi
tubuh ataupun pekerjaan manusia tersebut. Paparan timbal merupakan satu faktor
yang mempengaruhi kadar hemoglobin pada tukang parkir. Paparan timbal dapat
menimbulkan terjadinya keracunan pada tukang parkir. Keracunan tersebut timbul
akibat adanya beberapa faktor. Salah satunya adalah penggunaan APD yang tidak
lengkap (alat pelindung pernapsan) sehingga mudahnya timbal terhirup ke dalam
tubuh. Hal ini mengakibatkan kandungan timbal di dalam tubuh akan menumpuk
sehingga akan mengakibatkan penurunan sintesis globin dan peningkatan kadar aminolevulinat (-ALA) dalam serum dan kemih, ini menyebabkan menurunnya
kadar hemoglobin pada tubuh. Penurunan kadar hemoglobin ini dikenal dengan
sebutan anemia. Anemia ditunjukkan dengan adanya gejala pusing, sakit kepala,
mengantuk, sulit berkonsentrasi, mata berkunang-kunang, dan lelah.

DAFTAR PUSTAKA
Adnan, S., 2001, Pengaruh Pajanan Timbal Terhadap Kesehatan dan Kualitas
Semen Pekerja Laki-Laki, Majalah Kedokteran Indonesia Volume 51 No 5.
Jakarta, p 168-174.
Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR)., 2003, Lead
toxicity, Case Study in Environmental Medicine, US Department of Health
and Human Services, Toronto. p. 84-223.
Anies., 2005, Penyakit akibat kerja, Jakarta: Elexmedia Komputindo p. 55- 57.
Bakta, I.M., 2006, Hematologi Klinik Ringkas, Jakarta: EGC.
Gandasoebrata, R., 2009, Penuntun Labororium Klinik, Jakarta: Dian Rakyat.
Gao W, Li Z, Kaufmann RB, Jones RL, Wang Z. Blood Lead Level among
Children

Aged

to

Years

in

Wuxi

City,

China.

Doi:10.1006/enrs.2001.4281.
Hoffbrand, A. V., J.E. Pettit, dan P.A.H. Moss, 2005, Hematologi (Essetial
Haematology) Edisi 4, Jakarta: EGC

Joko Suyono., 1995, Deteksi dini penyakit akibat

kerja (World Health

Organization), Editor : Caroline Wijaya, Jakarta: EGC Penerbit Buku


Kedokteran, p 86-92.
Mahayanti, M.R.M., 2013, Gambaran Kadar Hemoglobin saat Menstruasi pada
Mahasiswa, KTI tidak diterbitkan, Denpasar: Jurusan Analis Kesehatan
Poltekkes Denpasar.
Markowitz M. Lead Poisoning. In: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB.,
editors. Nelson textbook of Pediatrics. 18th edition. Philadelphia:
Saunders; 2010.p.2913-7.
Palar. H., 2004. Pencemaran dan toksikologi logam berat, Jakarta: Rineka cipta.
p. 78-86.
Purwanthi, P., 2013, Hubungan Kadar Hemoglobin dan Perilaku Sarapan
terhadap Prestasi Belajar Siswa di SMPN 2 Sukawati, KTI tidak
diterbitkan, Denpasar: Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Denpasar.
Pearce, E,C., 2010, Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, Diterjemahkan oleh :
Handoyo, S. Y., Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Riswanto, 2009, Penetapan Kadar Hemoglobin, Laboratorium Kesehatan,
(online), Available: http://labkesehatan.blogspot.com/2009/11/penetapankadar-hemoglobin.html, (25 September 2015).
Salam, M.S., dan Abdul, 2012, Darah, Yogyakarta: Pustaka Belajar.