Anda di halaman 1dari 2

DISPEPSIA FUNGSIONAL

PENDAHULUAN
Dispepsia nonulkus diperkenalkan oleh Thompson (1984) untuk menggambarkan keadaan yang
kronik berupa rasa tidak enak pada daerah epigastrium yang sering berhubungan dengan
makanan, gejalanya seperti ulkus tapi pada pemeriksaan tidak ditemukan adanya ulkus.
Lagarde dan Spiro (1984) menyebutnya sebagai dyspepsia fungsional untuk keluhan tidak enak
pada perut bagian atas yang bersifat intermitten sedangkan pada pemeriksaan tidak didapatkan
kelainan organic.
Gejala yang dikeluhkan: rasa penuh pada ulu hati sesudah makan, kembung, sering bersendawa,
cepat kenyang, anoreksia, nausea, vomitus, rasa terbakar pada daerah ulu hati, regurgitasi.
Dispepsia fungsional ini umumnya bersifat kronik dan sering kambuh
Patofisiologi
Masih diperdebatkan, penyebabnya bersifat multifaktorial. Namun yang tidak dapat disangkal
lagi bahwa factor psikis/ emosi memegang peran penting baik untuk timbulnya gangguan
maupun pengaruh terhadap perjalanan penyakitnya.
Peran factor psikososial pada dyspepsia fungsional sangat penting karena dapat menyebabkan
hal-hal di bawah ini:
1. menimbulkan perubahan fisiologi saluran cerna
2. perubahan penyesuaian terhadap gejala-gejala yang timbul
3. mempengaruhi karakter dan perjalanan penyakit
4. mempengaruhi prognosis
Factor-faktor yang diduga menyebabkan sindrom dyspepsia ialah:
1. peningkatan asam lambung
2. dismotilitas lambung
3. gastritis dan duodenitis kronik (peran Helicobacter pylori)
4. stress psikososial
5. factor lingkungan dan lain-lain (makanan, genetik)
Rangsangan psikis/ emosi sendiri secara fisiologis dapat mempengaruhi lambung dengan 2
cara, yaitu:
1. Jalur neuron: rangsangan konflik emosi pada korteks serebri mempengaruhi kerja hipotalamus
anterior dan selanjutnya ke nucleus vagus, nervus vagus dan selanjutnya ke lambung.
2. Jalur neurohumoral: rangsangan pada korteks serebri hipotalamus anterior hipofisis
anterior (mengeluarkan kortikotropin) hormon merangsang korteks adrenal (menghasilkan
hormon adrenal) merangsang produksi asam lambung
Faktor psikis dan emosi (seperti pada anksietas dan depresi) dapat mempengaruhi fungsi saluran
cerna dan mengakibatkan perubahan sekresi asam lambung, mempengaruhi motilitas dan
vaskularisasi mukosa lambung serta menurunkan ambang rangsang nyeri.Pasien dyspepsia
umumnya menderita anksietas, depresi dan neurotik lebih jelas dibandingkan orang normal.

Data-data hasil endoskopi:


1. Fisher dkk: dari 3367 pasien dengan dyspepsia, 33,6 % hasil endoskopinya normal
2. Djaya Pranata (1988): dari 351 pasien dyspepsia non ulkus, 162 pasien mengalami
gastroduodenitis, 199 normal
3. Harsal A (1991): dari 52 pasien dyspepsia non ulkus, 44% endoskopinya normal
Dari data-data di atas jelas bahwa keluhan-keluhan saluran cerna bagian atas tidak selalu
berdasarkan adanya kelainan organic, tapi mungkin saja karena factor psikososial (anksietas dan
depresi).
Hasil penelitian kejadian anksietas dan depresi pada pasien dyspepsia non ulkus:
- Harsal A (1991) di RSCM: 80,7 % anksietas, 57,7 % anksietas depresi pada pasien dyspepsia
non ulkus.
- Rychter (1991): 60% anksietas
- Rose (1986): 50% depresi

PENGOBATAN
Dilakukan melalui pendekatan psikosomatik yaitu dengan memperhatikan aspek-aspek fisis,
psikososial dan lingkungan.
erhadap keluhan-keluhan dyspepsia dapat dihentikan dengan:
- pengobatan simtomatik seperti antasida, obat-obat antagonis H2 seperti simetidin, raditidin,
farmotidin
- obat-obat prokinetik seperti cisaprid maupun obat inhibitor pompa proton seperti omeprazol,
lansoprazol, dan sebagainya.
Pengaturan diet, untuk menghindari makanan yang dapat mencetuskan gejala-gejalanya.
Melakukan psikoterapi dengan beberapa edukasi dan saran agar dapat mengatasi atau
menurunkan stress dan konflik psikososialnya. Pada keadaan yang jelas terdapat anksietas/
depresi, psikofarmaka perlu diberikan. Contoh obatnya: anksiolitik atau anti depresan yang
sesuai.