Anda di halaman 1dari 17

Napak Tilas dan Wacana

Kembalinya Dinar dan Dirham

Oleh :
1. Ayu Novitasari
2. Laste Fenny
3. Mega DariYuntiana Sari
4. Zulfahmi Alawiyah

Latar Belakang
Sistem moneter dalam perekonomian
Kesenjangan sosial akibat krisis
moneter
Pilar Setan three pilars of evil
Dinar dan Dirham

Sejarah Dinar dan Dirham


Kata Dinar bukanlah berasal dari
bahasa Arab, tetapi berasal dari
bahasa Yunani dan Latin atau
mungkin merupakan versi lain dari
bahasa Aramaic-Persia, Denarius.
Sementara itu, Dirham diambil dari
uang perak, Drahms, yang digunakan
orang-orang Sassan di Persia.
Drahms telah diambil dari nama
uang perak Drachma yang digunakan

Dirham memang sudah ada sejak sebelum


Islam lahir. Bahkan, mata uang perak telah
digunakan sejak lama di Yunani. Dalam
sejarah, istilah dirham sebetulnya berasal dari
koin Yunani, Drachma. Saat itu, Kekaisaran
Romawi menggunakan drachma sebagai alat
perdagangan dengan pedagang Arab sebelum
masa Islam. Penggunaan drachma sebagai
alat tukar memiliki alasan serupa dengan
dinar emas. Hal itu karena drachma memiliki
nilai instrinsik karena terbuat dari perak.

Pengertian Dinar dan


Dirham
Koin Dinar emas adalah koin emas 22
karat (91,7%) dengan berat 4,25
gram yang dapat berfungsi sebagai
alat investasi dan proteksi nilai
kekayaan.
Koin Dirham perak adalah merupakan
mata uang yang digunakan sejak
awal
Islam
hingga
berakhirnya
Kekhalifahan Usmaniah Turki tahun
1924. berat 1 Dirham adalah 2.975

Perjalanan uang dari waktu ke


waktu
Pada zaman Rasulullah SAW dikenal dua jenis uang yaitu
uang yang berupa komoditi logam dan koin yang berasal
dari kekaisaran Roma (Byzantine). Dua jenis uang logam
yang digunakan adalah emas (Dinar) dan perak (Dirham).
Logam tembaga juga digunakan secara terbatas dan tidak
sepenuhnya dihukumi sebagai uang, disebut fulus. Dinar
dicetak pertama kali pada zaman Kekalifahan Muawiya
bin Abu Sufyan (41-60H), meskipun juga koin emas dan
perak dari Byzantine tetap dipakai sampai sekitar thaun
75H-76 H pada zaman Kekhalifahan Abdul Malik bin
Marwan, ketika yang terakhir ini melakukan reformasi
finansialnya dan mulai saat itu hanya Dinar dan Dirham
yang dicetak sendiri oleh Kekhalifan Islam yang berlaku.

Abad berikutnya tepatnya mulai abad ke 19 uang


kertas mulai diperkenalkan lagi ke dunia Islam
(tentu juga dunia di luar Islam) melalui dua tahap.
Tahap pertama masih didukung penuh dengan
cadangan emas yang dikenal dengan Gold
Standard atau Gold Exchange Standard. Tahap
kedua adalah uang kertas atau uang fiat yang kita
kenal sampai sekarang yang tidak didukung
dengan cadangan emas.
Uang kertas terakhir ini sebenarnya mengandung
ketidak pastian yang sangat tinggi terhadap
nilainya (gharar)

Keuntungan pemakaian Dinar dan


Dirham versi Shyakh Umar Vadillo.
Uang Dinar dan Dirham berlaku dimana saja.
Menurut Shyakh Umar, uang ini tak terbatas oleh
tempat, kemanapun seseorang pergi ke luar
negeri, mereka tidak perlu menukarkan uang .
Tak seperti mata uang biasa, Dinar ini nilainya
akan terus merangkak naik.
Dengan diberlakukannya uang dinar dan dirham,
inflasi di suatu negara menjadi nol.

Manfaat Dinar dan Dirham


1. Dinar dan Dirham adalah mata uang yang stabil
sepanjang zaman, tidak menimbulkan inflasi dari
proses penciptaan uang atau money creation dan
juga bebas dari proses penghancuran uang atau
yang dikenal dengan money destruction.
2. Dinar dan Dirham adalah alat tukar yang sempurna
kerena nilai tukarnya terbawa (inherent) oleh uang
Dinar dan Dirham itu sendiri bukan karena paksaan
legal seperti mata uang kertas yang nilainya
dipaksakan oleh keputusan yang berwenang (maka
dari itu disebut legal tender).
3. Penggunaan Dinar dan Dirham dapat mengiliminir
penurunan ekonomi atau economic downturn dan
resesi karena dalam sistem Dinar dan Dirham setiap
transaksi akan di dasari oleh transaksi di sektor riil.

4. Dinar dan Dirham adalah mata uang yang stabil


sepanjang zaman, tidak menimbulkan inflasi dari
proses penciptaan uang atau money creation dan juga
bebas dari proses penghancuran uang atau yang
dikenal dengan money destruction.
5.Penggunaan Dinar dan Dirham akan menciptakan
sistem moneter yang adil yang berjalan secara
harmonis dengan sektor riil. Sektor riil yang tumbuh
bersamaan dengan perputaran uang Dinar dan
Dirham, akan menjamin ketersediaan kebutuhan
masyarakat pada harga yang terjangkau.
6.Berbagai masalah sosial seperti kemiskinan dan
kesenjangan akan dengan sendirinya menurun atau
bahkan menghilang.

7. Kedaulatan negara akan terjaga melalui kestabilan


ekonomi yang tidak terganggu oleh krisis moneter
atau krisis mata uang yang menjadi pintu masuknya
kapitalis-kapitalis
asing
untuk
menguasai
perekonomian negara dn akhirnya juga menguasai
politik keamanan sampai kedaulatan negara.
8. Hanya uang emas (Dinar) dan perak (Dirham),
yang bisa menjalankan fungsi uang modern dengan
sempurna yaitu fungsi alat tukar (medium of
exchange) fungsi satuan pembukuan (unit of
account), dan fungsi penyimpanan nilai (store of
value). Ketiga fungsi ini sebenarnya telah gagal
diperankan oleh uang fiat.

Kenapa uang Fiat Tidak dapat


memenuhi 3 fungsi Uang?
1.Uang fiat tidak bisa memerankan secara sempurna fungsi sebagai
alat tukar yang adil karena nilainya yang berubah-ubah. Jumlah
uang sama tidak bisa dipakai untuk menukar benda riil yang sama
pada waktu yang berbeda
2.Sebagai satuan pembukuan uang kertas juga gagal karena nilainya
yang tidak konsisten, nilai uang yang sama tahun ini akan berbeda
dengan tahun depan, dua tahun lagi dan seterusnya. Catatan
Pembukuan yang mengandalkan uang fiat justru melanggar salah
satu prinsip dasar pembukuan itu sendiri yaitu konsistensi.
3.Sebagai fungsi penyimpanan nilai, jelas uang fiat sudah
membuktikan kegagalannya, kita tidak dapat mengandalkan uang
kertas kita sendiri untuk mempertahankan nilai kekayaan kita, di
Amerika Serikat-pun masyarakatnya yang cerdas mulai tidak
mempercayai uang Dollar-nya karena nilainya turun tinggal kurang
dari separuh selama enam tahun terakhir.

three pilars of evil dari sistem


perbankan
konvensional modern
Fiat Money(uang kertas)
Fractional Reserve Requirement(cadangan
minimal uang di Bank)
Interest(Bunga atau Riba)

Tahapan Implementasi Dinar dan


Dirham Dimasa Depan
Pada bahasan sebelumnya sudah diketahui
bagaimana permasalahan yang dihadapi oleh
uang kertas yang sudah terjadi di berbagai
belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun kita
juga menyadari bahwa kembali ke Dinar dan
Dirham tidak semudah yang kita kira. Meskipun
demikian apabila kita memiliki niat untuk
mencari solusi dari masalah ekonomi saat ini,
insyaallah umat Islam akan kembali Berjaya
sama seperti 14 abad yang lalu dari zaman
kenabian hingga kekhalifahan Usmaniah di Turki.

Ketika dinar dan dirham sudah mulai dikenal luas, maka


penggunaannya untuk kepentingan transaksi dapat
dioptimalkan. Saat ini ada mobile dinar untuk saling
bertransaksi antar pengguna dinar. Kemudian di Dubai ada
juga E-Dinar yang memfasilitasi antara pemegang akun EDinar dengan pedagang atau penjual jasa yang juga sudah
melayani pembayaran dengan menggunakan E-Dinar.
Diharapkan penggunaan dinar dan dirham dalam transaksi
akan siap untuk bersaing dengan mata uang masa depan.
Karena pada saat ini banyak perusahaan yang telah
melahirkan berbagai uang di zaman cyber ini seperti ECash, Cyber Cash dan Mondex. Uang-uang cyber ini telah
menemukan pasarnya sendiri namun belum dikenal luas
oleh masyarakat.

Kesimpulan
Dilihat dari manfaat dinar dan dirham, mata uang ini
memang sangat cocok untuk menjadi alat tukar yang
sah karena mempunyai nilai intrinsik uang sama dengan
nilai riilnya, penerapannya di Indonesia sebenarnya
mempunyai kesempatan yang besar karena Indonesia
adalah salah satu Negara dengan penduduk muslim
terbesar di dunia, namun pasti masih perlu proses untuk
implementasi kedua mata uang Islam ini.
Dengan
segala
keunggulan
yang
melebihi
kekurangannya, dinar dan dirham diharapkan dapat
diimplementasikan secara riil di masyarakat. Karena era
uang kertas pasti akan berakhir. Semua akan berkiblat
pada uang yang berfisikkan emas dan perak.

Saran
Sudah saatnya kita bersama-sama membuka mata
dan hati (sadar) untuk melihat betapa banyaknya
masalah pada tatanan perekonomian bangsa. Tentu ini
bukan hanya tugas pemerintah, namun kita sebagai
kaum elit intelektual sudah menjadi sebuah
keniscayaan untuk mewujudkan visi dan misi bangsa,
dan bersinergi bersama masyarakat guna mewujudkan
Indonesia makmur dan sejahtera dengan penggunaan
mata uang yang mempunyai nilai riil sehingga tidak
ada masalah mengenai nilai mata uang seperti inflasi
yang benar-benar merugikan masyarakat terutama
masyarakat menengah ke bawah.