Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

DNA berperan penting dalam menentukan sifat individu. Di dalam benang DNA
terkandung blue print (cetak biru) kehidupan. Karena itu sel harus mempertahankan agar
DNA tetap stabil dan tetap berada dalam inti.
Untuk melaksanakan fungsinya, DNA dikopi terlebih dahulu dan hasil kopiannya
itulah yang melakukan sintesis polipeptida. Jadi, DNA tidak langsung terlibat dalam
proses sintesis polipeptida. DNA hanya mengontrolnya. Selain itu, DNA memiliki
kemampuan untuk mereparasi diri sendiri, jika mengalami kerusakan. Itu semua
merupakan beberapa cara sel mempertahankan kemantapan DNA-nya. Perubahan
susunan DNA tersebut disebut mutasi. Demikian pula kesalahan dalam penerjemahan
kode-kode genetika merupakan suatu mutasi.

1.2 PERUMUSAN MASALAH

Pada perubahan susunan DNA, perubahan satu basa saja pada DNA
“mengacaukan” pesan-pesan genetika yang akan disampaikannya. Misalkan satu basa G
pada gen terlepas maka akan mengubah seluruh kodon yang dibawa oleh dRNA.
Peristiwa perubahan DNA ini disebut mutasi. Terjadinya mutasi dapat menyebabkan
terjadinya perubahan sifat yang diwariskan secara turun-temurun.
Pada salah penerjemahan, selain karena perubahan pada DNA, mutasi dapat juga
terjadi karena “kesalahan penerjemahan” kode-kode genetika. Dalam peristiwa ini, DNA
tidak berubah, tetapi tRNA salah dalam menerjemahkan kodon. Missal kodon GAA yang
seharusnya diterjemahkan menjadi asam glutamate, oleh tRNA dibaca sebagai GUA yang
diterjemahkan menjadi valin atau dibaca AAA yang diterjemahkan menjadi lisin.
Akibatnya, polipeptida yang dihasilkan tidak sesuai dengan pesanan DNA.

1
1.3 TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah memahami mekanisme terjadinya mutasi
pada bekteri, sehingga kita dapat memanfaatkan proses tersebut untuk sesuatu yang
berguna bagi kehidupan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Istilah mutasi petama kali digunakan oleh Hugo de Vries, untuk mengemukakan
adanya perubahan fenotipe yang mendadak pada bunga Oenothera lamarckiana dan
bersifat menurun. Ternyata perubahan tersebut terjadi karena adanya penyimpangan dari
kromosomnya. Seth wright juga melaporkan peristiwa mutasi pada domba jenis Ancon
yang berkaki pendek dan bersifat menurun. Penelitian ilmiah tentang mutasi dilakukan
pula oleh Morgan (1910) dengan menggunakan Drosophila melanogaster (lalat buah).
Akhirnya murid Morgan yang bernama Herman Yoseph Muller berhasil dalam
percobaannya terhadap lalat buah, yaitu menemukan mutasi buatan dengan menggunakan
sinarXAnonim,2009).
Mutasi adalah perubahan pada materi genetik suatu makhluk yang terjadi secara
tiba-tiba, acak, dan merupakan dasar bagi sumber variasi organisme hidup yang bersifat
terwariskan (heritable). Mutasi juga dapat diartikan sebagai perubahan struktural atau
komposisi genom suatu jasad yang dapat terjadi karena faktor luar (mutagen) atau karena
kesalahan replikasi. Peristiwa terjadinya mutasi disebut mutagenesis. Makhluk hidup
yang mengalami mutasi disebut mutan dan factor penyebab mutasi disebut mutagen
(mutagenic agent). Perubahan urutan nukleotida yang menyebabkan protein yang
dihasilkan tidak dapat berfungsi baik dalam sel dan sel tidak mampu mentolerir
inaktifnya protein tersebut, maka akan menyebabkan kematian (lethal mutation).

3
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 PERUBAHAN GENOTIPE

Genotipe suatu sel ditentukan oleh informasi genetis yang dikandung dalam
kromosomnya. Kromosom terdiri dari gen-gen. Gen ialah suatu satuan fungsional yang
temurun, menentukan pembentukan suatu polypeptide tertentu dan juga berbagai tipe
RNA. Setiap gen terdiri dari beratus-ratus pasangan nucleotide.
Misalnya, bila sebuah rantai polypeptide mangandung 300 asam amino maka gen
yang menyandikan polypeptide harus mengandung 900 pasang basa (3 basa untuk setiap
asam amino). Ini adalah dasar bagi hubungan satu gen - satu polipeptide. Telah
diperkirakan bahwa kromosom bakteri mempunyai kapasitas untuk menyandikan kira-
kira 3000 protein yang berbeda-beda.
Tetapi, gen manapun dapat berubah atau bermutasi menjadi bentuk lain sehingga
akan memerintahkan pembentukan suatu protein yang berubah atau baru yang pada
gilirannya dapat merusak kekhasan selnya (kadang-kadang menyebabkan kematian).
Sebagai contoh, substitusi hanya satu asam amino sekalipun di antara beberapa ratus di
dalam sebuah rantai polypeptide dapat menyebabkan protein tersebut tidak berfungsi.
Mutasi ialah perubahan di dalam rangkain nucleotide suatu gen. Ini menimbulkan
ciri genetis yang baru, atau genotipe yang berubah. Suatu sel atau organisme yang
memperlihatkan efek suatu mutasi disebut mutan. Jadi kita sewaktu-waktu melihat
perubahan mendadak pada tumbuhan dan hewan yang kita kenal. Sekali-sekali seekor
kucing albino muncul di antara saudara-saudara seperindukannya yang berwarna hitam,
atau sebiji kacang polong yang berwarna kuning di antara kacang-kacang polong
berwarna hijau. Fenomena yang serupa terjadi di antara mikroorganisme.
Mutasi adalah peristiwa yang jarang, terjadi secara acak dan timbul secara
spontan tanpa memperhatikan persyaratan lingkungan. Mutasi bakteri secara spontan
dapat terjadi pada laju 1 mutasi saja di dalam 1juta sel bakteri sampai kepada laju 1
mutasi di dalam 10 milyar sel bakteri. Biasanya mutan-mutan di dalam suatu populasi sel

4
tertutupi (tersembunyikan) oleh sel-sel yang tidak mengalami mutasi yang jumlahnya
lebih besar. Mengisolasi sebuah sel mutan ialah seperti kata pepatah mencari jarum
dalam setumpuk jerami. Namun, para mikrobiologiwan mengembangkan teknik-teknik
yang mempermudah isolasi mutan yang hanya sedikit saja jumlahnya itu dari suatu
populasi besar sel-sel yang tidak bermutasi (tipe liar). Sebagai contoh, sejenis antibiotic
dapat dicampurkan dalam medium pertumbuhan untuk mendapat mutan yang resisten
terhadap antibiotic tersebut.

3.2 TIPE-TIPE MUTASI

1. Mutasi titik
Mutasi titik terjadi sebagai akibat tersubstitusinya satu nucleotide oleh yang lain
di dalam rangkaian nucleotide tertentu suatu gen. Substitusi satu purin oleh purin yang
lain atau satu pirimidin oleh pirimidin yang lain disebut mutasi titik tipe transisi.
Sedangkan penggantian suatu purin oleh pirimidin atau sebaliknya disebut transversi.

Gambar 1. Mutasi titik tipe transisi

Gambar 2. Mutasi titik tipe transversi

5
Secara skema kedua macam substitusi basa tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.
A

T C

G
Gambar 3. Skema substitusi basa nukleotida
transisi , transversi

Substitusi pasangan basa ini dapat mengakibatkan salah satu dari 3 macam mutasi
yang mempengaruhi proses translasi :
1. Triplet gen yang berubah itu menghasilkan sebuah kodon pada mRNA yang
menetapkan asam amino yang berbeda dari yang ada di dalam protein yang
normal. Mutasi ini disebut mutasi salah arti (missense mutation). Perubahan
suatu kode genetic (umumnya pada posisi 1 dan 2 pada kodon) sehingga
menyebabkan asam amino terkait (pada polipeptida) berubah. Perubahan pada
asam amino dapat menghasilkan fenotip mutan apabila asam amino yang berubah
merupakan asam amino esensial bagi protein tersebut. Jenis mutasi ini dapat
disebabkan oleh peristiwa transisi dan tranversi.

Gambar 4. Mutasi Salah Arti

2. Triplet gen yang berubah itu menghasilkan sebuah kodon pada mRNA yang
mengakhiri rantai (perubahan kodon asam amino tertentu menjadi kodon stop).
Mengakibatkan berakhirnya pembentukan protein sebelum waktunya selama

6
masa translasi. Ini disebut mutasi nonsense. Hasilnya ialah suatu polypeptide tak
lengkap yang tak berfungsi. Hampir semua mutasi tanpa arti mengarah pada
inaktifnya suatu protein sehingga menghasilkan fenotip mutan. Mutasi ini dapat
terjadi baik oleh tranversi, transisi, delesi, maupun insersi.

Gambar 5. Mutasi nonsense

3. Triplet gen yang berubah itu menghasilkan sebuah kodon mRNA yang
menetapkan asam amino yang sama karena kodon yang dihasilkan dari mutasi
merupakan sinonim dari kodon aslinya. Ini adalah mutasi netral (silent
mutation). Terjadi perubahan suatu pasangan basa dalam gen (pada posisi 3
kodon) yang menimbulkan perubahan satu kode genetik tetapi tidak
mengakibatkan perubahan atau pergantian asam amino yang dikode. Mutasi
diam/netral biasanya disebabkan karena terjadinya mutasi transisi dan tranversi.

Gambar 6. Silent mutation

7
2. Mutasi pergeseran kerangka.
Mutasi ini merupakan akibat penambahan atau kehilangan satu atau lebih
nukleotide di dalam suatu gen. Selama berlangsungnya sintesis protein, pembacaan sandi
genetis dimulai dari satu ujung acuan protein yaitu mRNA, dan dibaca sebagai satuan 3
basa secara berurutan. Karena itu mutasi pergeseran kerangka pada umumnya
menyebabkan terbentuknya protein yang tidak berfungsi sebagai akibat disintesisnya
rangkaian asam amino yang sama sekali baru dari pembacaan rangkaian nukleotide
mRNA yang telah bergeser kerangkanya (yang ditranskripsikan dari mutasi pada DNA
sel).
Penyisipan satu nukleotide pada suatu gen mengakibatkan transkripsi satu
nukleotide tambahan pada mRNA. Ini mengakibatkan pergeseran kerangka ketika kodon-
kodon dibaca selama berlangsungnya translasi sehingga semua kodon setelah penyisipan
menjadi berubah dan semua asam amino yang disandikan menjadi berubah pula. Mutasi
pergeseran kerangka sebagai akibat delesi (hilangnya) satu nukleotide pada pokoknya
akan mempunyai efek yang sama.
Mutasi ini terjadi karena delesi atau insersi satu atau lebih pasang basa dalam satu
gen sehingga ribosom membaca kodon tidak lengkap. Akibatnya akan menghasilkan
fenotip mutan. Insersi, yaitu penambahan satu atau lebih pasangan nukleotida pada suatu
gen. Delesi, yaitu pengurangan satu atau lebih pasangan nukleotida pada suatu gen.

Gambar 7. Mutasi pergeseran kerangka tipe insersi

8
Gambar 8. Mutasi pergeseran kerangka tipe delesi

3.3 PENYEBAB MUTASI (MUTAGEN)


Penyebab mutasi dalam lingkungan dapat bersifat fisik, kimia, dan biologis.

Mutagen Fisik
Penyebab mutasi dalam lingkungan yang bersifat fisik adalah radiasi dan suhu.
Radiasi sebagai penyebab mutasi dibedakan menjadi radiasi pengion dan radiasi bukan
pengion. Radiasi pengion adalah radiasi berenergi tinggi sedangkan radiasi bukan
pengion adalah radiasi berenergi rendah. Contoh radiasi pengion adalah radiasi sinar X,
sinar gamma, radiasi sinar kosmik. Contoh radiasi bukan pengion adalah radiasi sinar
UV. Radiasi pengion mampu menembus jaringan atau tubuh makhluk hidup karena
berenergi tinggi.
Sementara radiasi bukan pengion hanya dapat menembus lapisan sel-sel
permukaan karena berenergi rendah. Radiasi sinar tersebut akan menyebabkan
perpindahan elektron-elektron ke tingkat energi yang lebih tinggi. Atom-atom yang
memiliki elektron-elektron sedemikian dinyatakan tereksitasi atau tergiatkan. Molekul-
molekul yang mengandung atom yang berada dalam keadaan tereksitasi maupun
terionisasi secara kimiawi lebih reaktif daripada molekul yang memiliki atom-atom yang
berada dalam kondisi stabil. Raktivitas yang meningkat tersebut mengundang terjadinya
sejumlah reaksi kimia, terutama mutasi. Radiasi pengion dapat menyebabkan terjadinya
mutasi gen dan pemutusan kromosom yang berakibat delesi, duplikasi, insersi,
translokasi serta fragmentasi kromosom umumnya.

9
Gambar 9. Radiasi sinar X

Mutagen Kimiawi
Penyebab mutasi dalam lingkungan yang bersifat kimiawi disebut juga mutagen
kimiawi. Mutagen-mutagen kimiawi tersebut dapat dipilah menjadi 3 kelompok, yaitu
analog basa, agen pengubah basa dan agen penyela. Senyawa yang merupakan contoh
analog basa adalah 5-Bromourasil (5 BU). 5-BU adalah analog timin. Dalam hubungan
ini posisi karbon ke-5 ditempati oleh gugus brom padahal posisi itu sebelumnya ditempati
oleh gugus metil. Keberadaan gugus brom mengubah distribusi muatan serta
meningkatkan peluang terjadinya tautomerik. Senyawa yang tergolong agen pengubah
basa adalah mutagen yang secara langsung mengubah struktur maupun sifat kimia dari
basa, yang termasuk kelompok ini adalah agen deaminasi, agen hidroksilasi serta agen
alkilasi. Perlakuan dengan asam nitrit, misalnya, terhadap sitosin akan menghasilkan
urasil yang berpasangan dengan adenin sehingga terjadi mutasi dari pasangan basa S-G
menjadi T-A. Agen hidroksilasi adalah mutagen hydroxammin yang bereaksi khusus
dengan sitosin dan menguabhnya sehingga sitosisn hanya dapat berpasangan dengan
adenin. Sebagai akibatnya terjadi mutasi dari SG menjadi TA.agen alkilasi
mengintroduksi gugus alkil ke dalam basa pada sejumlah posisi sehingga menyebabkan
perubahan basa yang akibatnya akan terbentuk pasangan basa yang tidak lazim. Senyawa
yang tergolong agen interkalasi akan melakukan insersi antara basa-basa yang berdekatan

10
pada sati atau kedua unting DNA. Contoh agen interkalasi adalah proflavin, aeridine,
ethidium bromide, dioxin dan ICR-70.

Mutagen Biologis
Penyebab mutasi gen yang disebabkan oleh faktor biologis adalah fag. Efek
mutagenik yang ditimbulkan oleh fag terutama berkaitan dengan integrasi DNA fag,
pemutusan dan delesi DNA inang. Mutagenesis fag dapat terjadi karena kerusakan DNA
akibat pemutusan dan delesi yang mungkin timbul oleh efek nuklease atau karena
gangguan perbaikan DNA.

3.4 TERJADINYA MUTASI


Mutasi dapat terjadi secara spontan (spontaneous mutation) dan juga dapat terjadi
melalui induksi (induced mutation). Mutasi spontan adalah mutasi (perubahan materi
genetik) yang terjadi akibat adanya sesuatu pengaruh yang tidak jelas, baik dari
lingkungan luar maupun dari internal organisme itu sendiri. Sedangkan mutasi terinduksi
adalah mutasi yang terjadi akibat paparan dari sesuatu yang jelas, misalnya paparan sinar
UV. Secara mendasar tidak terdapat perbedaan antara mutasi yang terjadi secara alami
dan mutasi hasil induksi.
Mutasi paling umum terjadi selama replikasi DNA. Beberapa mutasi terjadi
sebagai akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh cahaya ultraviolet atau sinar X. Karena
unsur-unsur ini merupakan bagian yang tak terhindarkan dari lingkunagn (misalnya,
cahaya UV adalah komponen cahaya matahari), maka mungkin inilah yang menyebabkan
banyaknya mutasi spontan. Namun, laju mutasi dapat ditingkatkan secara nyata dengan
cara menyinari biakan dengan sinar-sinar tersebut. Unsur mana saja yang dapat
mempertingi laju mutasi disebut mutagen. Mutasi yang diperoleh dengan mutagen
dikatakan terinduksi, dan bukan spontan, sekalipun bedanya mungkin hanya pada
frekuensinya, bukan pada macamnya. Sebagai contoh, cahaya UV menyebabkan mutasi
pada kondisi-kondisi baik alamiah maupun laboratoris. Tetapi, jumlah mutan yang
diperoleh dengan kondisi-kondisi laboratoris lebih tinggi, karena tingginya dosis UV
yang digunakan.

11
Tidak ada satu pun mekanisme tertentu yang diusulkan untuk menerangkan
pengaruh mutagenik sinar X. Karena sinar X dapat menyebabkan pecahnya banyak ikatan
kimiawi yang berbeda-beda macamnya, maka mungkin merusak DNA dengan berbagai
cara. Pengaruh utama cahaya UV adalah menyebabkan pembentukan dimer dengan
ikatan silang antara pirimidin-pirimidin yang bersebelahan, terutama timin. Dimer ini
mengacaukan proses replikasi yang normal.
Penemuan yang paling banyak membuka rahasia mutasi pada tahun-tahun
belakangan datang dari penelitian mengenai pengaruh mutagenik berbagai bahan kimia.
Ada dua tipe senyawa kimia yang mutagenik. Yang pertama terdiri dari senyawa-
senyawa yang dapat bereaksi secara kimiawi dengan DNA. Karena kekhususan replikasi
DNA bergantung pada ikatan purin-pirimidin, yang diakibatkan oleh ikatan hidrogen
antara gugus-gugus amino dan hidroksil pada purin dan pirimidin, maka modifikasi
kimiawi gugus-gugus amino dan hidroksil ini dapat menyebabkan mutasi. Asam nitrous,
yang dapat membuang gugusan amino dari purin dan pirimidin, adalah mutagen semacam
itu.
Tipe zat mutagenik yang kedua terdiri dari analog-analog basa. Ini adalah zat-zat
kimia yang strukturnya cukup menyamai basa-basa pada DNA yang normal, sehingga
dapat menggantikannya selama berlangsung replikasi DNA. Meskipun strukturnya mirip,
analog basa tidak mempunyai sifat ikatan hidrogen yang sama seperti basa normal.
Karena itu dapat menyebabkan terjadinya kesalahan dalam replikasi yang mengakibatkan
mutasi.

3.5 REPARASI MUTASI

Kerusakan DNA dapat disebabkan oleh radiasi UV, sinar X, dan zat-zat kimia
tertentu. Untungnya, sel mengandung enzim-enzim khusus yang dapat mereparasi DNA
yang rusak. Dengan cara ini beberapa sel yang terpengaruh dapat melanjutkan fungsinya
dengan normal.
Banyak macam sel bakteri telah diperlihatkan memiliki mekanisme fotoreaktivasi
yang efisien untuk mereparasi kerusakan yang disebabkan oleh sinar UV. Fotoreaktivasi
ini terjadi ketika sel-sel terkena dosis cahaya UV yang mematikan segera dikenai cahaya

12
kasat mata, memotong atau menguraikan ikatan di antara dimer-dimer yang terbentuk
akibat terkenai cahaya UV dan memulihkan aktivitas normal sel-sel yang rusak itu.
Beberapa bakteri mempunyai enzim yang disebut endonuklease dan
eksonuklease, yang memotong segmen DNA yang rusak. Kemudian enzim-enzim yang
lain, polimerase dan ligase, memperbaiki bagian yang pecah itu dengan cara mengisi
celeh-celah itu dan menggabung-gabungkan potongan-potongan tersebut menjadi satu.
Jika bakteri dikenai sinar ultraviolet, dapat terjadi penggabungan kovalen dan
residu pirimidin pada untai DNA, (seringkali dua residu timin) membentuk suatu basa
dimer. Jika tidak dilepaskan dan diperbaiki, dimer timin ini menghalangi proses replikasi
oleh DNA polimerase terhadap untai di belakang daerah kerusakan ini. Dimer timin
dikeluarkan dan tempat kosong yang ditinggalkan disambung kembali oleh kerja empat
enzim secara berurutan.
1. Enzim pertama dinamakan ultraviolet endonuklease atau endonuklease UV.
Enzim ini memotong untaian DNA yang mengalami kerusakan pada tempat 5’
dimer timin.
2. Pada tahap kedua, DNA polimerase I menambahkan deoksiribonukleotida yang
benar ke ujung 3’ untai rusak yang terbuka, membuat potongan pendek DNA
yang bersifat komplementer dengan untai cetakan. Selama proses ini, baik DNA
yang mengandung dimer timin akan terlepas.
3. Pada tahap ketiga, endonuklease memotong bagian yang rusak ini. Pada tahap
terakhir potongan DNA baru dengan pasangan basa yang benar disisipkan ke
dalam untaian keseluruhan oleh DNA ligase.

13
Gambar 10. Reparasi eksisi pada DNA yang rusak karena cahaya UV yang mengandung
dimer timin-timin

Perlu diperhatikan bahwa bila DNA yang mengandung dimer-dimer primidin


bereplikasi pada bakteri dangan kemampuan reparasi eksisi yang cacat, maka sintetis
utasan baru akan berhenti pada posisi dimer tersebut tetapi berlanjut pada jarak tertentu
setelah itu. Jadi terbentuk celah pada utasan DNA yang baru disintesis itu. Celah tersebut
dapat teriisi dengan cara menukar dan menggabungkan fragmen-fragmen yang
mengandung utasan-utasan DNA yang menumpuk yang celah-celahnya tidak berimpit.
Selanjutnya, karena replikasi terinterupsi dan dengan demikian terhalangi pada celah ini,
maka utasan-utasan dengan celah yang jumlahnya lebih sedikit bereplikasi dengan lebih
cepat dan pada akhirnyadapat mempersedikit jumlah DNA yang rusak.

14
3.6 LAJU MUTASI
Laju mutasi ialah peluang bagi suatu sel bermutasi ketika terjadi pembelahan sel.
Jadi laju mutasi pada umumnya didefinisikan sebagai jumlah rata-rata mutasi per sel per
pembelahan, dan dinyatakan pangkat negatif per pembelahan sel. Sebagai contoh, bila
ada satu peluang dalam sejuta bahwa suatu gen akan bermutasi ketika selnya akan
membelah. Maka laju mutasi bagi satu gen mana pun sama dengan 10-6 per pembelahan
sel. Pada umumnya, laju mutasi pada satu gen tunggal berkisar antara 10-3 dan 10-9 per
pembelahan sel.
Laju mutasi mempunyai implikasi praktis. Karena gen bermutasi secara acak dan
tidak bergantung satu dengan lainya, maka peluang terjadinya dua mutasi di dalam sel
yang sama merupakan produk dan laju mutasi masing-masing tunggalnya. Jadi, misalnya,
bila laju mutasi untuk resistensi terhadap penisilin ialah 10-8 per pembelahan sel dan
untuk resistensi terhadap streptomisin ialah 10-6 per pembelahan sel. Maka peluang
terjadinya kedua mutasi tersebut di dalam sel yang sama ialah 10-6 x 10-8 atau 10-14. Laju
mutasi ini sangat rendah. Karena alasan inilah maka umum sekali pemberian obat
antibiotik sekaligus dalam pengobatan beberapa penyakit. Sebagai contoh, kombinasi
penisilin G dan streptomisin telah terbukti ampuh untuk mengobati infeksi oleh
streptokokus. Sel yang telah menjadi resisten terhadap satu antibiotik masih bisa
dihambat atau dibunuh oleh antibiotik yang lain.

3.7 TIPE-TIPE MUTAN BAKTERI


Karena semua sifat sel-sel hidup pada akhirnya dikendalikan oleh gen, maka ciri
sel yang mana pun dapat berubah karena mutasi. Berbagai mutan bakteri telah diisolasi
dan dipelajari secara intensif. Beberapa dari tipe-tipe utama mutan adalah sebagai
berikut:
1. Mutan yang memperlihatkan toleransi yang meningkat terhadap unsur-
unsur penghambat, terutama antibiotik (mutan yang resisten terhadap
antibiotik atau obat-obatan).
2. Mutan yang menunjukan kemampuan fermentasi yang berubah, atau
meningkatnya atau berkurangnya kapasitas untuk menghasilkan beberapa
produk akhir.

15
3. Mutan yang mempunyai defisiensi atau nutrisi, yaitu membutuhkan
medium yang lebih kompleks untuk tumbuhnya ketimbang biakan
aslinya.
4. Mutan yang memperlihatkan perubahan dalam bentuk koloni atau
kemampuan menghasilkan pigmen.
5. Mutan yang menunjukkan perubahan pada struktur permukaan dan
komposisi selnya (muatan antigenik ).
6. Mutan yang resisten terhadap aksi bakteriofage.
7. Mutan yang memperlihatkan beberapa perubahan pada ciri-ciri
morfologis, misalnya hilangnya kemampuan untuk menghasilkan spora,
kapsul, atau flagela.
Dari daftar ini jelaslah bahwa semua ciri khas bakteri dapat berubah melalui
proses mutasi. Juga jelas bahwa beberapa dari perubahan-perubahan khusus yang
disebabkan oleh mutasi ternyata serupa atau sama dengan yang disebabkan oleh
perubahan kondisi. Maka dari itu perlu dipastikan secara eksperimental bahwa suatu
perubahan itu benar-benar disebabkan oleh mutasi dan bukanlah merupakan tanggapan
terhadap lingkungan.
Banyak mutan, mungkin sebagian besar, dapat balik ke kondisi liar melalui
mutasi balik, yaitu kembalinya sel-sel mutan ke fenotipe asalnya. Akan tetapi, hal ini
tidak mesti disebabkan oleh pembalikan mutasi aslinya secara cepat. Kadang-kadang,
pengaruh mutasi asli dapar ditekan sebagian atau seluruhnya oleh mutasi kedua pada situs
yang berbeda pada kromosom.

16
BAB IV
KESIMPULAN

Mutasi adalah perubahan yang terjadi pada bahan genetik (DNA maupun RNA),
baik pada taraf urutan gen (disebut mutasi titik) maupun pada taraf kromosom. Mutasi
pada tingkat kromosomal biasanya disebut aberasi. Mutasi pada gen dapat mengarah pada
munculnya alel baru dan menjadi dasar bagi kalangan pendukung evolusi mengenai
munculnya variasi-variasi baru pada spesies.
Mutasi terjadi pada frekuensi rendah di alam, biasanya lebih rendah daripada
1:10.000 individu. Mutasi di alam dapat terjadi akibat zat pembangkit mutasi (mutagen,
termasuk karsinogen), radiasi surya maupun radioaktif, serta loncatan energi listrik
seperti petir.
Individu yang memperlihatkan perubahan sifat (fenotipe) akibat mutasi disebut
mutan. Dalam kajian genetik, mutan biasa dibandingkan dengan individu yang tidak
mengalami perubahan sifat (individu tipe liar atau "wild type").

17
DAFTAR PUSTAKA

http://18bios1unsoed.files.wordpress.com/2008/03/buku-ajar-gen-11.doc
http://4.bp.blogspot.com/
http://anisaromadiana.blogspot.com/2008/05/reparasi-mutasi.html
http://blog.unila.ac.id/haffash/
http://fabio.unsoed.net/mod/glossary/view.php?
id=11&mode=letter&hook=M&sortkey=&sortorder=&fullsearch=0&page=-1
http://faktaevolusi.blogspot.com/2008/02/mutasi-adalah-mendasar-bagi-teori.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Mutasi
http://iptek-akdinbemfaperi.blogspot.com/2009/06/mikrodas-genetika.html
http://iqbalali.com/2008/10/07/soal-jawab-seputar-mutasi/
http://members.cox.net/
http://staff.unud.ac.id/~mahatmi/?page_id=11
http://wongsukses.blog.friendster.com/2008/12/04/
http://www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Mikrobiologi/GENETIKA
%20MIKROBA.pdf
http://www.iiitmk.ac.in/wiki/index.php/Gene_Mutation
http://www.sith.itb.ac.id/mgbm/bm405p-11.pdf
Pelczar, Michael J. dan E.C.S Chan. 2006. Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas
Indonesia : Jakarta

18